ISOLASI DAN ELUSIDASI STRUKTUR SENYAWA TURUNAN ...
Embed Size (px)
Transcript of ISOLASI DAN ELUSIDASI STRUKTUR SENYAWA TURUNAN ...

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
ISOLASI DAN ELUSIDASI STRUKTUR SENYAWA
TURUNAN TERPENOID DARI KULIT BATANG SLATRI
(Calophyllum soulattri Burm.f)
Disusun oleh :
ISNAINI DIAN N
M0306040
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi sebagian
persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Sains Kimia
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
Juni, 2011

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
2
ii

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
3
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul ”ISOLASI
DAN ELUSIDASI STRUKTUR SENYAWA TURUNAN TERPENOID DARI
KULIT BATANG SLATRI (Calophyllum soulattri Burm.f)” adalah benar-benar
hasil penelitian sendiri dan tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk
memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang
pengetahuan saya juga tidak terdapat kerja atau pendapat yang pernah ditulis atau
diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan
disebutkan dalam daftar pustaka.
Surakarta, Juni 2011
ISNAINI DIAN N
iii

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
4
ISOLASI DAN ELUSIDASI STRUKTUR SENYAWA
TURUNAN TERPENOID DARI KULIT BATANG SLATRI
(Calophyllum soulattri Burm.f)
ISNAINI DIAN N
Jurusan Kimia. Fakultas MIPA. Universitas Sebelas Maret
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengelusidasi struktur
senyawa kimia dari kulit batang Slatri (Calophyllum soulattri) yang berasal dari
Magelang. Proses isolasi dilakukan dengan metode maserasi dengan pelarut
MeOH dan proses fraksinasi dilakukan dengan kromatografi vakum cair (silika
gel 60 GF254) menggunakan eluen n-heksan:EtOAc dengan perbandingan v/v
untuk menambah kepolaran. Proses pemurnian fraksi dilakukan dengan
kromatografi flash (silika gel 60 (0,04-0,063 mm)) dengan eluen n-heksan:EtOAc,
diikuti pemurnian lebih lanjut dengan kromatografi flash dengan eluen n-
heksan:CHCl3. Dari hasil pemurnian diperoleh 24 mg padatan kuning berminyak.
Senyawa hasil isolasi diidentifikasi dengan spektroskopi UV, IR, 1H NMR,
13C
NMR, HMQC dan HMBC. Dari hasil analisa data, diketahui bahwa struktur
senyawa hasil isolasi yang disarankan adalah turunan terpenoid.
Kata Kunci : Calophyllum soulattri, kulit batang dan turunan terpenoid
iv

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
5
ISOLATION AND ELUCIDATION STRUCTURE
OF TERPENOID DERIVATIVES FROM STEM BARK OF SLATRI
(Calophyllum soulattri Burm.f)
ISNAINI DIAN N
Department of Chemistry. Faculty of Mathematics and Natural Sciences
Sebelas Maret University
ABSTRACT
This study is aimed to isolate and elucidate structure of chemical
constituent of stem bark Slatri (Calophyllum soulattri) from Magelang. Isolation
was done by maceration method with MeOH as solvent and fractination by
vacuum liquid chromatography (silica gel 60 GF254) using the n-hexane:EtOAc as
eluent with different v/v composition to increase polarity. The purification of the
fraction was carried out by flash chromatography (silica gel 60 (0.04 to 0.063
mm)) with n-hexane:EtOAc as eluent followed with further purification by flash
chromatography with n-hexane:CHCl3 as eluent. Twenty four milligrams of
yellow oily solid was obtained from the purification. The isolated compounds
were identified by UV, IR, 1H NMR,
13C NMR, HMQC and HMBC. From spectra
obtained, the isolated compound is suggested as terpenoid derivatives.
Keywords : Calophyllum soulattri, stem bark and terpenoid derivatives
v

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
6
MOTTO
Berpikirlah dulu sebelum berbuat. Banyak-banyak menimbang sebelum
bertindak. bagaimana resikonya, apa akibatnya, pikirkan positif dan negatifnya.
Dan diatas semuanya, ingatlah selalu akan adanya Zat Yang Mahatau. Zat
yang mengawasi segala gerak-gerik kita, manusia ciptaan-Nya. Bermain api
terbakar, bermain air basah. Siksa Allah itu bukan main beratnya, takkan ada
yang sanggup menolak, takkan ada yang sanggup memikul (Ust. Yusuf Mansur)
Ketika kamu merasa orang-orang membencimu tanpa alasan yang jelas,
ingatlah, Allah mencintaimu tanpa syarat (NN)
Untuk mencapai hal-hal besar, kita bukan hanya harus bertindak, tetapi juga bermimpi,
bukan hanya rencana, tetapi percaya
(Anatole France)
Waktu memang tak terbatas, tapi waktu kita terbatas (Mario Teguh)
Kita tak dapat mengubah masa lalu. Kita tak dapat mengubah tingkah laku
orang. Kita tak dapat mengubah apa yang pasti terjadi. Satu hal yang dapat
kita ubah adalah satu hal yang dapat kita kontrol, dan itu adalah sikap kita.
Saya yakin bahwa hidup adalah 10 persen dari apa yang sebenarnya terjadi
pada diri kita, dan 90 persen adalah bagaimana sikap kita menghadapinya (Opie)
vi

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
7
PERSEMBAHAN
Karya ini saya persembahkan untuk,
Orangtuaku tersayang “Bapak & Mama”, maaf kalau tidak bisa menyelesaikan ini semua tepat waktu dan mungkin sudah sangat terlambat.
Terimakasih atas kasih sayang dan do’a yang selalu tercurah untukku.
Kakak dan Adikku tercinta “Mita & Ismi” , yang selalu menjadi inspirasi untukku.
Teman-teman kimia 2006, terutama untuk “Marseh, Anne, Idul dan Mas Yanu”, atas persahabatan dan
kebersamaannya selama ini.
Galih Surya Taruma, thanks for everything you have given to me, you still the best.
Untuk semua pembaca, semoga dapat lebih bermanfaat.
vii

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
8
KATA PENGANTAR
Untaian syukur terlantun kehadirat Allah SWT atas segala limpahan
nikmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi
ini. Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi yang berjudul “Isolasi
dan Elusidasi Struktur Senyawa Turunan Terpenoid dari Kulit Batang Slatri
(Calophyllum soulattri Burm.f)” ini banyak pihak yang telah membantu. Untuk
itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dr. Eddy Heraldy, M.Si selaku ketua jurusan Kimia Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
2. M. Widyo Wartono, M.Si selaku pembimbing I yang telah memberikan
bimbingan dan arahan selama menyelesaikan skripsi.
3. Dr. rer. nat. Atmanto Heru Wibowo, M.Si selaku pembimbing akademik
dan pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama
skripsi.
4. I.F. Nurcahyo, M.Si selaku Ketua Laboratorium Kimia Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sebelas Maret.
5. Seluruh Dosen di Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Sebelas Maret atas ilmu yang berguna
dalam menyusun skripsi ini.
6. Para Laboran di Laboratorium Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Sebelas Maret atas bantuan dan kerjasama
yang baik.
7. Untuk Bapak dan Mama, Mbak Mita dan Ismi dirumah, terimakasih atas
dukungan dan motivasi yang diberikan untuk segera menyelesaikan karya
ini. Untuk mas Galih, terimakasih telah menjadi tempat berkeluh kesah
serta memberikan motivasi kepada saya. Untuk saudara-saudara saya
tersayang (Uti, Bu Tatik, Bu Ninik, De Li, Tante Nina, Tante Uci, Nessy,
Kembar “Rafi & Dafa”, Aisyha, Astin dan yg tidak bisa disebutkan satu
persatu) terimaksih atas segala bantuan dan dukungannya.
viii

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
9
8. Untuk teman seperjuangan saya “Sum-sum”, terimakasih atas segala
bantuan dan kebersamaanya. Untuk para penghuni “Kos Orange” (Anne,
Koko, Mbak Esmi, Eva) serta “Idul, mas Yanu, Ester” terimakasih atas
tumpangan berteduh, nasehat, persahabatan kita selama ini dan menjadi
penghibur saat duka. Semangat, kita pasti bisa.
9. Teman-teman Kimia’06 yang tidak mungkin disebutkan satu persatu,
kakak dan adik tingkat atas semua dukungan dan persahabatannya selama
ini.
10. Semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat disebutkan satu
persatu.
Semoga Allah SWT membalas jerih payah dan pengorbanan yang telah diberikan
dengan balasan yang lebih baik.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua
pihak dalam rangka untuk menyempurnakan skripsi ini. Akhirnya penulis
berharap, semoga karya kecil ini dapat memberikan manfaat bagi ilmu
pengetahuan dan bagi pembaca.
Surakarta, Juni 2011
Isnaini Dian N
ix

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
10
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.....................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN.......................................................................
HALAMAN PERNYATAAN.......................................................................
HALAMAN ABSTRAK...............................................................................
HALAMAN ABSTRACT.............................................................................
HALAMAN MOTTO....................................................................................
PERSEMBAHAN.........................................................................................
KATA PENGANTAR...................................................................................
DAFTAR ISI.................................................................................................
DAFTAR TABEL.........................................................................................
DAFTAR GAMBAR.....................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................
BAB I. PENDAHULUAN............................................................................
A. Latar Belakang Masalah............................................................
B. Perumusan Masalah...................................................................
1. Identifikasi masalah..............................................................
2. Batasan masalah...................................................................
3. Rumusan masalah.................................................................
C. Tujuan Penelitian......................................................................
D. Manfaat Penelitian....................................................................
BAB II. LANDASAN TEORI.......................................................................
A. Tinjauan Pustaka................................................................................
1. Tumbuhan genus Calophyllum...............................................
2. Tumbuhan Calophyllum soulattri.................................................
a. Diskripsi tumbuhan Calophyllum soulattri...........................
b.Manfaat Calophyllum soulattri................................................
c. Kandungan tumbuhan Calophyllum soulattri.....................
3. Metode Isolasi dan Pemurnian Tumbuhan...................................
i
ii
iii
iv
v
vi
vii
viii
x
xii
xiii
xv
1
1
3
3
3
4
4
4
5
5
5
10
10
11
12
13
x

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
11
a. Ekstraksi...........................................................................
b. Kromaografi lapis tipis.....................................................
c. Kromatografi vakum cair.................................................
d. Kromatografi flash...........................................................
3. Spektroskopi.........................................................................
a. Spektrofotometer Ultra Violet (UV)................................
b. Spektrofotometer Inframerah (IR)...................................
c. NMR.................................................................................
1). 13
C NMR........................................................................
2). 1
H NMR.........................................................................
3). HMQC...........................................................................
4). HMBC...........................................................................
B. Kerangka Pemikiran..................................................................
C. Hipotesis...................................................................................
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN.....................................................
A. Metodologi Penelitian...............................................................
B. Tempat dan Waktu Penelitian...................................................
C. Alat dan Bahan..........................................................................
1. Alat yang digunakan.............................................................
2. Bahan yang digunakan.........................................................
D. Prosedur Penelitian....................................................................
1. Determinasi sampel..............................................................
2. Persiapan sampel..................................................................
3. Isolasi dan pemurniaan senyawa dari kulit batang Calophyllum
soulattri.........................................................................................
F. Teknik Analisis Data…………………………………………..
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN…………………………………
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………...
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………
13
14
16
17
17
18
18
19
20
21
22
22
23
23
24
24
24
24
24
25
25
25
25
26
27
29
45
46
xi

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
12
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Serapan khas beberapa gugus fungsi pada spektroskopi IR. . . 19
Tabel 2. Pergeseran kimia beberapa jenis inti 13
C. . . . . . . . . . . . . . . . . . 20
Tabel 3. Pergeseran kimia beberapa jenis inti 1H. . . . . . . . . . . . . . . . . . 21
Tabel 4. Tetapan kopling untuk beberapa jenis inti 1H. . . . . . . . . . . . . . 22
Tabel 5. Jenis proton pada data 1H NMR senyawa hasil isolasi fraksi
C1d. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
35
Tabel 6. Korelasi proton dan karbon dari data HMQC dan jenis atom
karbon senyawa hasil isolasi fraksi C1d. . . . . . . . . . . . . . . . . . .
36
Tabel 7. Korelasi proton dan karbon pada jarak 2-3 ikatan dari data
HMBC senyawa hasil isolasi fraksi C1d. . . . . . . . . . . . . . . . . . .
37
xii

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
13
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Kerangka dasar senyawa. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
Gambar 2. Struktur senyawa santon yang diisolasi dari bagian kulit
batang C. apetalum, C. caledonicum, dan C. brasiliensis. . .
7
Gambar 3. Struktur senyawa kumarin yang diisolasi dari bagian kulit
batang spesies C. lanigerum, C. teysmanni, C. brasiliensis
dan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
8
Gambar 4.
Struktur senyawa kromanon dari kulit batang C.
panciflorum. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
8
Gambar 5. Struktur senyawa flavonoid dari kulit akar dan bunga C.
inophyllum. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
9
Gambar 6. Struktur senyawa triterpenoid dari C. brasiliense, C.
gracilipes, C. apetalum, C. lankaensis dan C. inophyllum. .
9
Gambar 7. Struktur senyawa steroid dari C. inophyllum. . . . . . . . . . . . 10
Gambar 8.
Struktur senyawa asilploroglusinol dari C. sundaicum dan
C. enervosum. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
10
Gambar 9. Gambar pohon dan kulit batang C. soulattri. . . . . . . . . . . . . 11
Gambar 10 Struktur senyawa terpenoid yang diisolasi dari tumbuhan
C. soulattri. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
13
Gambar 11. Hasil KLT penggabungan fraksi dari KVC I, II dan III
dengan eluen n-heksan : EtOAc (8,5:0,5). . . . . . . . . . . . . . .
29
Gambar 12. Hasil KLT penggabungan kromatografi flash fraksi C
dengan eluen n-heksan : EtOAc (8,5:0,5). . . . . . . . . . . . . . .
30
Gambar 13. Hasil KLT penggabungan kromatografi flash fraksi C1
dengan eluen n-heksan : CHCl3 (9,5:0,5). . . . . . . . . . . . . . .
30
Gambar 14. Kromatogram uji kemurnian senyawa fraksi C1. . . . . . . . . . 31
Gambar 15. Spektrum UV senyawa hasil isolasi fraksi C1d. . . . . . . . . . . 32
Gambar 16. Spektrum IR senyawa hasil isolasi fraksi C1d. . . . . . . . . . . . 32
Gambar 17. Spektra 13
C NMR dari senyawa hasil isolasi fraksi C1d. . . . 34
xiii

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
14
Gambar 18. Spektra 1H NMR dari senyawa hasil isolasi fraksi C1d. . . . . 34
Gambar 19. Spektra HMBC pada senyawa hasil isolasi fraksi C1d. . . . . 37
Gambar 20.
Korelasi proton metil dengan karbon pada δH 0,86 dan 0,89
ppm. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
38
Gambar 21a. Hubungan HMBC perbesaran δH 1,1-0,8 ppm dan δC 225-
199 ppm. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
38
Gambar 21b. Hubungan HMBC perbesaran δH 1,2-0,8 ppm dan δC 50-36
ppm. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
39
Gambar 21c. Hubungan HMBC perbesaran δH 1,3-0,8 ppm dan δC 33-15
ppm. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
39
Gambar 22. Korelasi proton metil dengan karbon pada δH 1,22 dan 0,92
ppm. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
40
Gambar 23a. Korelasi proton metil isoprenil dengan karbon pada δH 1,63
dan 1,66 ppm serta proton metilen dengan karbon pada δH
2,48 dan 2,78 ppm. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
41
Gambar 23b. Korelasi proton metil isoprenil dengan karbon pada δH 1,68
dan 1,53 ppm serta proton metilen dengan karbon δH 2,38
ppm. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
41
Gambar 24a. Hubungan HMBC perbesaran δH 2,7-1,3 ppm dan δC 140-
120 ppm. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
41
Gambar 24b. Hubungan HMBC perbesaran δH 1,7-1,5 ppm dan δC 140-
110 ppm. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
42
Gambar 24c. Hubungan HMBC perbesaran δH 1,8-1,4 ppm dan δC 30-15
ppm. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
42
Gambar 25. Kemungkinan posisi karbon pada kerangka (a dan b). . . . . 43
Gambar 26. Dua kemungkinan struktur senyawa isolat fraksi C1d pada
posisi geseran kimia karbon dan proton (a dan b). . . . . . . . .
46
xiv

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
15
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Hasil Determinasi Calophyllum soulattri. . . . . . . . . . . . . . . . . . 50
Lampiran 2. Perbesaran spektra 13
C NMR pada δC 217,59-133,53 ppm. . . . . 51
Lampiran 3. Perbesaran spektra 13
C NMR pada δC 122,32-70,5 ppm. . . . . . 51
Lampiran 4. Perbesaran spektra 13
C NMR pada δC 54.92-29,54 ppm. . . . . . 51
Lampiran 5. Perbesaran spektra 13
C NMR pada δC 27,85-19,01 ppm. . . . . . 52
Lampiran 6. Perbesaran spektra 13
C NMR pada δC 18,26-11,79 ppm. . . . . . . 52
Lampiran 7. Perbesaran spektra 1H NMR pada δH 5,26-3,65 ppm. . . . . . . . . 52
Lampiran 8. Perbesaran spektra 1H NMR pada δH 3,2-2,04 ppm. . . . . . . . . . 53
Lampiran 9. Perbesaran spektra 1H NMR pada δH 2,17-1,43 ppm. . . . . . . . . 53
Lampiran 10. Perbesaran spektra 1H NMR pada δH 1,45-1,04 ppm. . . . . . . . . 53
Lampiran 11. Perbesaran spektra 1H NMR pada δH 0,93-0,77 ppm. . . . . . . . . 54
Lampiran 12. Spektra HMQC pada senyawa hasil isolasi fraksi C1d. . . . . . . . 54
Lampiran 13. Perbesaran spektra HMQC pada δH 7,3-4,8 ppm dan δC 120-80
ppm. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
54
Lampiran 14. Perbesaran spektra HMQC pada δH 3,6-2,3 ppm dan δC 50-20
ppm. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
55
Lampiran 15. Perbesaran spektra HMQC pada δH 1,8-1,1 ppm dan δC 32-22
ppm. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
55
Lampiran 16. Perbesaran spektra HMQC pada δH 1,7-0,8 ppm dan δC 21-10
ppm. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
55
xv

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
16
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di zona khatulistiwa
dan terkenal mempunyai kekayaan alam dengan beraneka ragam jenis tumbuhan.
Tumbuhan tersebut secara turun-temurun telah dimanfaatkan sebagai bahan obat
tradisional baik untuk tindakan pencegahan maupun pengobatan terhadap
berbagai jenis penyakit. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional pada
umumnya hanya didasarkan atas pengalaman/warisan tanpa mengetahui
kandungan kimianya secara pasti. Tumbuhan tersebut jika ditelaah lebih lanjut
mempunyai kandungan kimia aktif biologis. Penelusuran senyawa-senyawa
bioaktif dari tumbuhan dapat dilakukan dengan pendekatan fitofarmakologi. Salah
satunya dapat bersumber dari etnobotani, yaitu penelusuran senyawa aktif
tumbuhan yang didasarkan pada penggunaannya sebagai obat tradisional oleh
masyarakat. Salah satu tumbuhan tersebut berasal dari famili Clusiaceae dari
genus Calophyllum. Genus Calophyllum terdiri dari 180-200 spesies (Stevens,
1980), dimana sebagian besar tumbuh di Indonesia. Beberapa diantaranya telah
dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional. Hal ini tidak terlepas dari senyawa
kimia yang terkandung di dalamnya.
Kelompok senyawa bahan alam yang telah diisolasi dari genus
Calophyllum cukup beragam. Berdasarkan kerangka dasarnya, senyawa yang
diisolasi dari golongan aromatis meliputi turunan santon, kumarin, kromanon,
sedangkan dari golongan senyawa non aromatis yang diisolasi meliputi senyawa
turunan asilploroglusinol, terpenoid dan steroid (Su, et al., 2008). Dari hasil
penelitian mengenai aktivitas biologisnya, beberapa senyawa santon dilaporkan
dimanfaatkan sebagai obat antimalaria (Anne, et al., 2004), antikanker (Ito, et al.,
2002), antimikroba (Noldin, et al., 2006), antiHIV (Zou, et al., 2005) dan
antibakteri (Husni, 1995; Khan, et al., 2002). Senyawa kumarin dilaporkan
bermanfaat sebagai penghambat virus HIV (Patil, et al., 1993; McKee, et al.,
1996), cancer chemopreventive (Itoigawa, et al., 2002) dan memiliki aktivitas
1

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
17
sitotoksik (Guilet, et al., 2001). Senyawa turunan kromanon dilaporkan
mempunyai aktivitas sitotoksik dan antitumor (Ito, et al., 1999). Senyawa turunan
terpenoid bermanfaat sebagai antiinflamasi, insektisida, antibakteri dan memiliki
aktivitas sitotoksik (Nigam, et al., 1988; Putra, dkk., 2008). Salah satu spesies dari
genus Calophyllum tersebut adalah Calophyllum soulattri atau dikenal dengan
slatri.
Tumbuhan C. soulattri merupakan salah satu tumbuhan yang dapat
digunakan sebagai tumbuhan obat yang telah dimanfaatkan untuk pengobatan
tradisional. Seduhan daun dan akarnya dapat digunakan sebagai obat oles terhadap
nyeri encok. Minyak dari bijinya dapat dimanfaatkan sebagai minyak rambut,
penumbuh rambut, minyak urut untuk obat urut dan rematik (Heyne, 1987).
Belum banyak penelitian yang dilakukan terhadap kandungan senyawa kimia dari
C. soulattri. Isolasi senyawa kimia dari ekstrak metanol bagian daun tumbuhan C.
soulattri yang berasal dari daerah Sumatera Barat diperoleh senyawa turunan
triterpenoid yaitu friedelin, dimana senyawa ini memiliki aktivitas sitotoksik
(Putra, dkk., 2008). Penelitian lain yang pernah dilaporkan adalah isolasi dari
ekstrak benzen bagian kulit C. soulattri yang berasal dari daerah Andaman, India
diperoleh senyawa turunan terpenoid yaitu soulattron A yang bermanfaat sebagai
antiinflamasi (Nigam, et al., 1988). Uji aktifitas biologis ekstrak metanol dari
bagian kulit batang C. soulattri terhadap larva Crocidolomia pavonana
menunjukkan bahwa fraksi aktif dari tumbuhan ini bermanfaat sebagai insektisida
dan dilaporkan bahwa fraksi aktif tersebut berasal dari kelompok terpenoid
(Syahputra, dkk., 2006). Selain bermanfaat sebagai insektisida, memiliki aktivitas
sitotoksik dan antiinflamasi, ekstrak metanol dari tumbuhan C. soulattri juga
dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri (Khan, et al., 2002).
Perbedaan asal sampel, kondisi geografis, iklim dan metode isolasi
diduga mempengaruhi senyawa kimia yang berhasil diisolasi dari suatu tumbuhan,
sehingga senyawa yang diperoleh dapat berbeda walaupun tidak menutup
kemungkinan akan sama dengan senyawa yang pernah dilaporkan sebelumnya.
Untuk itu, berdasarkan pendekatan ilmu kemotaksonomi akan dilakukan
penelitian mengenai isolasi senyawa kimia dari kulit batang C. soulattri yang
2

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
18
berasal dari daerah Magelang, Jawa Tengah kemudian dilanjutkan dengan
elusidasi strukturnya untuk mengetahui senyawa kimia yang terkandung di dalam
tumbuhan tersebut.
B. Perumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Tumbuhan C. soulattri merupakan salah satu spesies dari genus
Calophyllum yang termasuk ke dalam famili Clusiaceae yang memiliki spesies
yang beragam dan jumlahnya sangat banyak. Sebagian besar tumbuhan C.
soulattri tumbuh subur di Indonesia, dengan sebaran di daerah Sumatera Barat,
Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan
Tengah, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara Timur dan Papua. Penelitian
yang pernah dilaporkan mengenai isolasi dari tumbuhan C. soulattri, sampel yang
berasal dari Sumatera Barat dan Andaman telah berhasil diisolasi senyawa kimia
dari golongan non aromatik yaitu turunan terpenoid. Berdasarkan penelitian
tersebut, masih sedikit sekali informasi yang diperoleh mengenai kandungan
senyawa kimia dari C. soulattri mengingat bahwa senyawa kimia yang berhasil
diisolasi dari spesies lain pada genus Calophyllum cukup beragam.
Setiap bagian dari tumbuhan C. soulattri seperti akar, batang, kulit, buah
dan daun memiliki khasiat yang berbeda-beda, hal ini tidak terlepas dari senyawa
yang terkandung dalam tumbuhan tersebut. Bagian tumbuhan yang berbeda dari
C. soulattri memungkinkan perbedaan hasil senyawa yang akan diperoleh.
Senyawa soulatron A berhasil diisolasi dari bagian kulit dan friedelin diisolasi dari
bagian daun tumbuhan C. soulattri.
2. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka masalah dalam penelitian
ini dibatasi oleh:
a. Tumbuhan C. soulattri yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari
daerah Magelang.
3

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
19
b. Bagian tumbuhan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kulit
batang C. soulattri.
3. Rumusan Masalah
Senyawa kimia apakah yang dapat diisolasi dari bagian kulit batang C.
soulattri yang berasal dari daerah Magelang?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa kimia
pada kulit batang C. soulattri yang berasal dari daerah Magelang.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Membuka wawasan baru mengenai kandungan senyawa kimia dari C.
soulattri.
2. Memberikan informasi dan menambah referensi mengenai senyawa kimia
yang terdapat pada kulit batang C. soulattri.
4

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
20
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1.Tumbuhan dari Genus Calophyllum
Genus Calophyllum terdiri dari 180-200 spesies dari familia Clusiaceae
(Su, et al., 2008). Kata Calophyllum berasal dari bahasa yunani, yaitu kalos yang
artinya cantik, dan phullon yang artinya daun. Tumbuhan dari genus Calophyllum
ini telah dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia dalam pengobatan tradisional
untuk berbagai macam penyakit. Tumbuhan yang termasuk dalam genus ini cukup
beragam, antara lain C. apetalum, C. caledonicum, C. brasiliensis, C. lanigerum,
C. dispar, C. venulosum, C. panciflorum, C. austroindicum, C. inophyllum, C.
gracilipes, C. lankaensis, C. lanigerum, C. cerasiferum, C. polyanthum, C.
recedens, C. blancoi, C. ramiflorum, C. scriblitifolium, C. tomentosum, C.
bracteatum, C. walkeri, C. zeylanicum, C. macrocarpum, C. mooni, C. sundaicum,
C. soulattri dan sebagainya. Dari berbagai macam spesies tersebut, C. inophyllum
merupakan spesies yang paling banyak dikenal, di masyarakat terkenal dengan
nama nyamplung. Manfaat dari tumbuhan ini juga cukup beragam, antara lain biji
buahnya dimanfaatkan untuk obat gatal, koreng, penumbuh rambut, dan setelah
diolah menjadi minyak, berkhasiat untuk minyak urut, urus-urus dan rematik.
Getahnya dapat disadap untuk mendapatkan minyak yang berkhasiat untuk
menekan pertumbuhan virus HIV. Daunnya berkhasiat sebagai obat oles untuk
sakit encok, bahan kosmetik untuk perawatan kulit, penyembuhan luka, seperti
luka bakar dan luka potong. Bunganya dapat digunakan sebagai campuran untuk
mengharumkan minyak rambut. Selain C. inophyllum, terdapat pula tumbuhan C.
soulattri yang dikenal dengan nama slatri. Manfaat tumbuhan dari spesies ini juga
cukup beragam, antara lain minyak dari biji, seduhan daun dan akarnya
dimanfaatkan untuk menyembuhkan penyakit kulit, menumbuhkan rambut, dan
sebagai obat oles untuk penyakit encok. Bagian bunga dari tumbuhan berbau
harum sehingga sering dipergunakan sebagai pengharum lemari pakaian (Heyne,
1987). Di daerah Jawa Tengah, bagian benang sari yang berwarna kuning
5

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
21
dipergunakan sebagai jamu bagi wanita setelah melahirkan (Syahputra, dkk.,
2004).
Berdasarkan penelitian yang pernah dilaporkan, senyawa yang
terkandung dalam genus Calophyllum cukup beragam. Dilihat dari kerangka
dasarnya, senyawa yang pernah berhasil diisolasi adalah golongan senyawa
aromatis dan non aromatis. Senyawa aromatis yang berhasil diisolasi antara lain
dari turunan santon (1), turunan kumarin (2), kromanon (3), sedangkan dari
golongan non aromatis antara lain triterpenoid (4), steroid (5) dan
asilploroglusinol (6) (Su, et al., 2008).
O
R
R
R
R R
R
R
RO
O
R
R
R
R
R
O
O
RR
R
R
R
O
1 2 3
O
R
O
R
R
O
R R
R
R
R
R
R
R
RR
4 5 6
Gambar 1. Kerangka dasar senyawa
Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilaporkan, senyawa santon
yang telah diisolasi dari tumbuhan Calophyllum cukup banyak. Senyawa santon
yang diisolasi dari kulit batang C. caledonicum yaitu 5-hidroksi-8-metoksisanton
(7); 3,5-dihidroksi-1,2 dimetoksisanton (8) (Morel et al., 2002), dari kulit batang
C. apetalum dapat diisolasi senyawa apetalinone C (9) dan apetalinone D (10)
6

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
22
(Iinuma, et al., 1994) dan senyawa brasisanton E (11) dan F (12) berhasil diisolasi
dari kulit batang C. brasiliensis (Ito, et al., 2003).
O
OCH3
H
H
OH H
H
H
HO
O
H
H
H
OH H
OH
OCH3
OCH3O
7 8
O
O
O OH
OH
R
O O O O
H3CO
HO
OH
HO
H3CO
OHOO
11 12
Gambar 2. Struktur senyawa santon yang diisolasi dari bagian kulit batang C.
apetalum, C. caledonicum, dan C. brasiliensis
Golongan kumarin juga banyak diisolasi dari tumbuhan genus
Calophyllum, antara lain dari kulit batang C. lanigerum berhasil diisolasi
calanolide A (13) (McKee, et al., 1996), dari kulit batang C. teysmannii berhasil
diisolasi teysmanon A (14) (Cao, et al., 1997) dan senyawa brasimarin A (15)
diisolasi dari C. brasiliensis (Ito, et al., 2003).
R
9 isoprenil
10 H
7

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
23
OO
O
O
OH
O O
O
O
OHO
OHO O
O
13 14 15
Gambar 3. Struktur senyawa kumarin yang diisolasi dari bagian kulit batang
spesies C. lanigerum, C. teysmanni dan C. brasiliensis
Senyawa yang termasuk kedalam golongan turunan kromanon adalah
flavonoid, biflavonoid, dan turunan kromanon itu sendiri. Dari kulit batang C.
panciflorum berhasil diisolasi senyawa garcinianin (16), pancibiflavonol (17),
talbotaflavon (18) (Ito, et al., 1999).
O
O
OH
HO
OH
R1
OH
OH
HO
O
O
R2
Gambar 4. Struktur senyawa kromanon dari kulit batang C. panciflorum
Senyawa flavonoid yang berhasil diisolasi dari kulit akar spesies C.
inophyllum adalah senyawa flavanol (katechin) yaitu (-)-epicatechin (19) (Iinuma,
et al., 1994). Senyawa flavonoid lain telah diisolasi dari bagian bunga C.
inophyllum adalah myricetin (20) (Subramanian, et al., 1971). Senyawa
epicatechin (19) juga pernah diisolasi dari tumbuhan C. enervosum dan C.
austroindicum (Su, et al., 2008).
R1 R
2
16 OH H
17 OH OH
18 H OH
8

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
24
O
OH
HO
OH
OH
OHO
OH
OH
OH
OH
OH
O
HO
19 20
Gambar 5. Struktur senyawa flavonoid dari kulit akar dan bunga C. inophyllum
Senyawa golongan triterpenoid yang telah berhasil diisolasi antara lain
dari C. brasiliense diperoleh senyawa friedelin (21) (Pretto, et al., 2004), dari C.
gracilipes diperoleh oleanan (22) (Cao, et al., 1997). Senyawa canophillal (23)
dan canophillol (24) berhasil disolasi dari C. lankaensis (Dharmaratne, et al.,
1986). Senyawa friedelin (21) dan canophillol (24) juga diisolasi dari dari daun
spesies C. inophyllum (Ali, et al., 1999; Govindanchari, et al., 1967). Friedelin
(21) juga diisolasi dari kulit akar C. inophyllum (Yimdjo, et al., 2004).
HO
H
H
HO
O
H RHH
21 22
Gambar 6. Struktur senyawa triterpenoid dari C. brasiliense, C. gracilipes, C.
lankaensis dan C. Inophyllum
Dari C. inophyllum jenis sterol yang telah diisolasi adalah sitosterol (25).
Sitosterol ini diisolasi dari bagian kayu (Kumar, et al., 1976; Goh, et al., 1991).
Sedangkan kolesterol (26) diisolasi dari bagian daun C. inophyllum (Ali, et al.,
1999). Sitosterol (25) juga pernah diisolasi dari bagian kulit batang C.
macrocarpum, bagian kulit C. apetalum, dari bagian daun C. gracilipes, dari
bagian daun dan kulit akar C. mooni (Su, et al., 2008).
R
23 CHO
24 CH2OH
9

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
25
HO
H
H
H
HO
H
H
H
25 26
Gambar 7. Struktur senyawa steroid dari C. Inophyllum
Dari spesies C. enervosum telah berhasil diisolasi senyawa turunan
asilploroglusinol yaitu dari bagian daun C. sundaicum berhasil diisolasi senyawa
sundaicumone A (27) dan sundaicumone B (28) (Cao, et al., 2005).
O
COOH
OO
O
HO
HO
O
COOH
OO
O
HO
OH
27 28
Gambar 8. Struktur senyawa asilploroglusinol dari C. sundaicum dan C.
enervosum
2. Tumbuhan Calophyllum soulattri
a. Deskripsi C. soulattri
Salah satu spesies dari genus Calophyllum adalah C. soulattri. Tumbuhan
ini memiliki nama khas masing-masing untuk setiap daerah. Didaerah Bangka
dikenal dengan sebutan bintangur bunut atau malang-malang, didaerah Belitung
terkenal dengan sebutan membalung, didaerah Sunda terkenal dengan nama
sulatri dan didaerah Jawa sering disebut dengan bintangur, slatri atau sletri.
Tumbuhan ini tumbuh liar di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat dibawah
ketinggian 300 m diatas permukaan laut. Pohon C. soulattri menjulang tinggi
10

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
26
hingga 28 m dan berdiameter sampai 50 cm. Bentuk batang bundar lurus tanpa
banir. Bunganya sangat harum dan buahnya terasa masam (gambar pohon dan
kulit batang tumbuhan C. soulattri ditunjukkan pada gambar 9) (Heyne,1987).
Klasifikasi dari tumbuhan C. soulattri :
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Sub-kelas : Dilleniidae
Ordo : Theales
Familia : Clusiaceae/Gutiferae
Genus : Calophyllum
Spesies : Calophyllum soulattri
a b
Gambar 9. Gambar pohon (a) dan kulit batang (b) C. soulattri
b. Manfaat C. soulattri
Tumbuhan C. soulattri merupakan salah satu tumbuhan yang dapat
digunakan sebagai tumbuhan obat terutama dimanfaatkan sebagai pengobatan
11

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
27
tradisional. Getah kayunya dapat dimanfaatkan sebagai jamu untuk kuda dan
dapat digunakan untuk meracuni anjing. Seduhan daun dan akar-akarnya
digunakan sebagai obat oles terhadap nyeri encok. Minyak dari bijinya dapat
dimanfaatkan untuk plitur, minyak rambut, minyak urut, berkhasiat juga untuk
obat urus-urus dan rematik (Heyne, 1987). Bagian bunga dari tumbuhan ini
berbau harum sehingga sering dipergunakan sebagai pengharum lemari pakaian.
Di daerah Jawa Tengah bagian benang sari yang berwarna kuning dipergunakan
sebagai jamu bagi wanita habis melahirkan (Syahputra, dkk., 2004). Senyawa
soulatron A (29) dari turunan terpenoid digunakan sebagai antiinflamasi (Nigam,
et al., 1988).
c. Kandungan Calophyllum soulattri
Dari penelitian yang pernah dilaporkan, belum banyak penelitian yang
melaporkan tentang kandungan senyawa kimia didalam C. soulattri. Dari hasil
penelitian yang pernah dilaporkan, telah berhasil diisolasi turunan terpenoid
(Nigam, et. al., 1988; Putra, dkk., 2008).
Triterpenoid adalah golongan terpenoid yang terdiri dari 30 atom karbon
atau 6 unit isopren. Dalam jaringan tumbuhan dapat dijumpai dalam bentuk
bebasnya, tetapi juga banyak dijumpai dalam bentuk glikosidanya. Triterpenoid
asiklik yang penting hanya skualen yang dianggap sebagai senyawa antara dalam
biosintesis steroid. Terpenoid tidak ditemukan dalam bentuk struktur monosiklik
atau bisiklik, juga jarang ditemukan dalam bentuk trisiklik, tetapi yang tetrasiklik
cukup dikenal (Kristanti, dkk., 2008). Senyawa triterpenoid yang diisolasi dari
genus Calophyllum dijumpai dalam bentuk pentasiklik. Kerangka dasar
triterpenoid ditunjukkan pada gambar 1 no (4).
Senyawa turunan terpenoid yang berhasil diisolasi dari kulit tumbuhan C.
soulattri adalah soulattrone A (29) (Nigam, et. al., 1988) dan dari daunnya adalah
friedelin (21) (Putra, dkk., 2008). Friedelin (21) juga pernah diisolasi dari bagian
daun C. cordato-oblongum, C. mooni, C. brasiliense, C. inophyllum, C. walkeri,
C. thwaitesii, C. calaba, C. lankaensis, C. gracilipes; dari bagian kulit batang C.
walkeri, C. verticillatum, C. tomentosum; dari bagian kulit akar C. inophyllum, C.
12

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
28
mooni, C. thwaitesii (Su, et. al., 2008). Struktur senyawa soulattrone A (29)
ditunjukkan pada gambar 10.
O
O
O
O
29
Gambar 10. Struktur senyawa turunan terpenoid yang diisolasi dari C. soulattri
3. Metode Isolasi dan Pemurnian Tumbuhan
a. Ekstraksi
Ekstraksi merupakan salah satu metode pemisahan kimia berdasarkan
atas kelarutan komponen dengan pelarut yang digunakan. Metode ekstraksi
tergantung dari tekstur, kandungan air dari bahan tumbuhan yang akan diekstraksi
dan jenis senyawa yang akan diisolasi (Padmawinata, 1996). Ekstraksi biasanya
dimulai dengan menggunakan pelarut organik secara berurutan dengan kepolaran
yang semakin meningkat. Pelarut heksan, eter, petroleum eter dan kloroform
digunakan untuk mengambil senyawa dengan kepolaran rendah. Pelarut yang
lebih polar seperti alkohol dan etil asetat dapat digunakan untuk mengambil
senyawa yang lebih polar (Rusdi, 1990). Pemilihan pelarut berdasarkan like
dissolved like yang berarti suatu senyawa polar akan larut dalam pelarut polar dan
senyawa nonpolar akan larut dalam pelarut non polar (Sastrohamidjojo, 1991).
Maserasi merupakan contoh metode ekstraksi padat-cair bertahap yang
dilakukan dengan jalan membiarkan padatan terendam dalam suatu pelarut. Proses
perendaman dalam usaha mengekstraksi dari bahan alam bisa dilakukan tanpa
pemanasan (temperatur kamar), dengan pemanasan atau bahkan pada suhu
pendidihan. Salah satu keuntungan metode maserasi adalah cepat, waktu rendam
bahan bervariasi antara 15-30 menit tetapi terkadang bisa sampai 24 jam, jumlah
13

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
29
pelarut yang digunakan cukup besar, berkisar antara 10-20 kali jumlah sampel
(Kristanti dkk, 2008). Pada maserasi perlu dilakukan pengadukan. Pengadukan
diperlukan untuk meratakan konsentrasi larutan di luar butir serbuk simplisia,
sehingga tetap terjaga konsentrasi antara larutan didalam sel dengan larutan diluar
sel. Pada proses maserasi, jika dilakukan dengan pelarut air, maka diperlukan
proses ekstraksi lebih lanjut, yaitu ekstraksi fasa air yang diperoleh dengan pelarut
organik (Padmawinata, 1987). Jika maserasi dilakukan dengan pelarut organik,
maka filtrat hasil ekstraksi dikumpulkan menjadi satu, kemudian dievaporasi atau
didestilasi. Selanjutnya, dapat langsung dilakukan proses pemisahan dengan
kromatografi atau rekristalisasi (Kristanti dkk, 2008).
Metode maserasi lebih banyak digunakan untuk isolasi bahan alam.
Penelitian yang pernah dilakukan dengan metode maserasi, diantaranya isolasi
dari C. soulattri yaitu senyawa friedelin dengan menggunakan pelarut MeOH dari
bagian daun (Putra, dkk., 2008) dan isolasi senyawa soulattron A dengan
menggunakan pelarut C6H6 dari bagian kulit C. soulattri (Nigam, et. al., 1988).
b. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi lapis tipis didasarkan pada distribusi fase cair-padat.
Sebagai fase diam atau adsorbennya berupa lapisan tipis alumina atau silika gel
yang menempel pada permukaan lempengan kaca atau plastik, sedang sebagai
fase gerak adalah eluen yang digunakan untuk membawa zat yang dianalisa
bergerak melalui fase diam padat. Fase diam harus mempunyai sifat tidak larut
dalam fase gerak maupun dalam komponen sampel. Fase diam dalam KLT berupa
padatan penyerap yang dihasilkan pada sebuah plat datar dari gelas, plastik atau
alumina sehingga membentuk lapisan tipis dengan ketebalan tertentu. Fase diam
atau penyerap yang bisa digunakan sebagai pelapis plat adalah silika gel (SiO2),
selulosa, alumina (Al2O3) dan kieselgur (tanah diatome). Kebanyakan penyerap
yang digunakan adalah silika gel, dimana telah tersedia plat yang siap pakai
(Gritter, 1991). Salah satu jenis silika gel yang banyak digunakan untuk KLT
adalah silika gel 60 GF254. Identifikasi senyawa pada hasil analisis KLT dengan
fasa diam silika gel 60 GF254 dapat dilkakukan dengan melihat warna noda di
14

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
30
bawah sinar UV. Senyawa akan tampak berupa spot gelap (tidak berfluoresence)
dengan background yang berpendar saat disinari dengan lampu UV λ254.
Identifikasi senyawa juga dapat dilakukan dengan menyemprotkan pereaksi warna
yang bersifat universal seperti Ce(SO4)2 (Kristanti dkk, 2008). Kromatografi jenis
ini sering dilakukan secara preparatif dengan berbagai tujuan, antara lain untuk
mencari sistem eluen saat dilakukan kromatografi kolom, mengatahui pola
pemisahan dari hasil kromatografi kolom atau untuk mengecek apakah senyawa
tersebut telah murni atau belum.
Prinsip dari KLT adalah adanya adsorbsi dan partisi, yang ditentukan oleh
fase diam (adsorben) dan fase gerak (eluen), komponen kimia akan bergerak naik
mengikuti fase gerak karena daya serap adsorben terhadap komponen-komponen
kimia tidak sama sehingga komponen kimia dapat bergerak dengan kecepatan
yang berbeda berdasarkan tingkat kepolarannya, hal inilah yang menyebabkan
terjadinya pemisahan (Rohman, 2007). Setelah sampel ditotolkan diatas fase
diam, senyawa-senyawa dalam sampel akan terelusi dengan kecepatan yang
sangat bergantung pada sifat senyawa-senyawa tersebut (kemampuan terikat pada
fasa diam dan kemampuan larut dalam fasa gerak), sifat fasa diam (kekuatan yang
menarik senyawa di atas fasa diam), dan sifat fasa gerak (kemampuan melarutkan
senyawa). Pada KLT, secara umum senyawa-senyawa yang memiliki kepolaran
rendah akan terelusi lebih cepat dari pada senyawa-senyawa yang lebih polar
(Padmawinata, 1986).
Pelarut sebagai fasa gerak atau eluen merupakan faktor yang menentukan
gerakan komponen-komponen dalam campuran. Pemilihan pelarut tergantung
pada sifat kelarutan komponen tersebut terhadap pelarut yang digunakan. Trappe
dalam Sastrohamidjojo (1991) mengatakan bahwa kekuatan elusi dari deret-deret
pelarut untuk senyawa-senyawa dalam KLT dengan menggunakan silika gel akan
turun dengan urutan sebagai berikut : air murni > metanol > etanol > propanol >
aseton > etilasetat > kloroform > metilklorida > benzen > toluen > trikloroetilen >
tetraklorida > sikloheksan > heksan. Fasa gerak yang bersifat lebih polar
digunakan untuk mengelusi senyawa-senyawa yang adsorbsinya kuat, sedangkan
fasa gerak yang kurang polar digunakan untuk mengelusi senyawa yang
15

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
31
adsorbsinya lemah (Sastrohamidjojo, 1992).
Analisis suatu senyawa dalam KLT biasanya dilakukan dengan
dibandingkan terhadap senyawa standarnya, yaitu berdasar pada kedudukan noda
relatif terhadap batas pelarut yang dikenal sebagai Rf (Retardation factor) yang
didefinisikan sebagai berikut :
Rf = Jarak komponen yang bergerak
Jarak pelarut yang bergerak
c. Kromatografi Vakum Cair (KVC)
Kromatografi vakum cair merupakan salah satu kromatografi kolom
khusus yang biasanya menggunakan silika gel sebagai adsorben (biasanya silika
gel 60 G) dan pompa vakum. Teknik kromatografi vakum cair menggunakan
sistem pengisapan (suction) untuk mempercepat proses elusi menggantikan sistem
penekanan dengan gas. Alat yang digunakan adalah corong Buchner berkaca
masir atau kolom pendek dengan diameter yang cukup besar.
Tahap pemisahan menggunakan KVC biasanya dilakukan pada awal
pemisahan (pemisahan terhadap ekstrak kasar yang diperoleh langsung dari
proses ekstraksi). Berbeda halnya dengan kromatografi kolom yang menggunakan
tekanan pada bagian atas kolom untuk meningkatkan laju alir, pada kromatografi
vakum cair, bagian atasnya terbuka sehingga untuk optimasi kolom atau untuk
penggantian pelarut mudah dilakukan. Cara pemisahan kolom adalah sebagai
berikut: pada kromatografi vakum cair, kolom dikemas kering dalam keadaan
vakum agar diperoleh kerapatan adsorben maksimum. Vakum dihentikan, pelarut
yang paling non polar yang akan dipakai dituang ke permukaan adsorben
kemudian divakum lagi. Kolom dihisap sampai kering dan siap dipakai jika
kolom tidak retak atau turunnya eluen sudah rata dengan kolom. Sampel
dilarutkan dalam pelarut yang sesuai atau sampel dibuat serbuk bersama adsorben
(impregnasi) dan dimasukkan ke dalam bagian atas kolom, kemudian dihisap
perlahan-lahan. Selanjutnya, kolom dielusi dengan pelarut yang sesuai, dimulai
dengan derajat polaritas yang paling rendah. Kolom dihisap sampai kering pada
setiap pengumpulan fraksi. Pada kromatografi vakum cair, fraksi-fraksi yang
16

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
32
ditampung biasanya bervolume jauh lebih besar dibandingkan dengan fraksi-
fraksi yang diperoleh dengan kolom biasa (Kristanti, dkk., 2008).
d. Kromatografi Flash
Kromatografi flash merupakan kromatografi dengan tekanan rendah
(pada umumnya <20 psi) yang digunakan sebagai kekuatan bagi elusi bahan
pelarut melalui suatu kolom yang lebih cepat. Kualitas pemisahan sedang, tetapi
dapat berlangsung cepat (10-15 menit). Pemilihan kolom disesuaikan dengan
jumlah cuplikan yang akan dipisahkan. Adsorben yang paling sering digunakan
adalah silika gel 60 ukuran 63-200 μm dan silika gel G60 ukuran 40-43 μm
(Kristanti dkk, 2008). Pelarut yang digunakan pada umumnya merupakan variasi
dua pelarut dimana salah satu pelarut memiliki kepolaran yang lebih tinggi dari
pelarut lainnya.
Pemilihan sistem eluen untuk kromatografi flash disesuaikan dengan Rf
senyawa yang akan dipisahkan. Rf dari senyawa dianjurkan berada pada daerah
0,15-0,2. Sistem pelarut biner dengan salah satu pelarut menpunyai kepolaran
yang lebih tinggi, sering digunakan dalam kromatografi ini. Sistem pelarut biner
yang sering digunakan diantaranya n-heksana/EtOAc, eter/n-heksana,
CH2Cl2/EtOAc dan CH2Cl2/MeOH. Jika Rf senyawa 0,2, jumlah eluen yang akan
digunakan 5x dari berat silika gel dalam kolom (Still, 1978).
4. Spektroskopi
Setelah diperoleh hasil dari isolasi dan pemurnian senyawa, selanjutnya
dilakukan analisa dengan spektroskopi. Metode spektroskopi mempunyai banyak
keuntungan. Biasanya hanya diperlukan sejumlah kecil untuk analisis, dan
kadang-kadang jumlah itu pun dapat diperoleh kembali (tidak musnah atau rusak).
Proses identifikasi untuk menentukan jenis senyawa kimia hasil isolasi dan
pemurnian dilakukan dengan elusidasi struktur menggunakan spektroskopi UV-
Vis, IR maupun NMR.
17

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
33
a. Spektroskopi UV-Vis
Spektroskopi UV-Vis adalah pengukuran absorpi radiasi elektromagnetik
suatu senyawa di daerah ultraviolet yang terentang dari panjang gelombang 100-
400 nm dan sinar tampak yang terentang dari 400 nm (ungu) sampai 750 nm
(merah). Absorbsi cahaya UV-Vis mengakibatkan transisi elektronik, yaitu
promosi elektron – elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke
orbital keadaan tereksitasi yang berenergi lebih tinggi. Panjang gelombang cahaya
UV bergantung pada mudahnya promosi elektron. Molekul-molekul yang
memerlukan lebih banyak energi untuk promosi elektron, akan menyerap pada
panjang gelombang yang lebih pendek, sedangkan molekul yang memerlukan
energi lebih sedikit akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih panjang
(Fessenden and Fessenden, 1986).
Prinsip dari spektroskopi UV-Vis adalah adanya transisi elektronik suatu
molekul yang disebabkan oleh peristiwa absorpsi (penyerapan) energi berupa
radiasi elektromagnetik pada frekuensi yang sesuai oleh molekul tersebut
(Rohman, 2007). Absorbansi radiasi oleh sampel diukur oleh detektor pada
berbagai dan diinformasikan ke perekam untuk menghasilkan spektrum.
Spektrum ini akan memberikan informasi penting untuk identifikasi adanya gugus
kromofor (Hendayana, 2004).
b. Spektroskopi Inframerah (IR)
Spektroskopi inframerah adalah teknik yang didasarkan adanya vibrasi
dari atom pada suatu molekul. Spektrumnya diperoleh dari sinar radiasi
inframerah yang diserap oleh sampel pada energi tertentu. Frekuensi inframerah
biasanya dinyatakan dalam satuan bilangan gelombang (wave number), yang
didefinisikan sebagai banyaknya gelombang persentimeter. Daerah IR mempunyai
jarak pengukuran dari 4000 cm-1
- 625 cm-1
. Spektrum IR yang berada pada daerah
di atas 1600-4000 cm-1
menunjukkan pita spektrum yang disebabkan adanya
vibrasi yang khas dari ikatan kimia gugus fungsi molekul yang ditentukan,
sedangkan spektrum IR yang berada pada daerah 1300-625 cm-1
menunjukkan
pita spektrum yang disebabkan oleh getaran seluruh molekul dan dikenal dengan
18

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
34
nama sidik jari (finger print) (Carey, 2000). Kisaran frekuensi pada bilangan
gelombang ini sama dengan energi sekitar 2 sampai 12 kkal/mol. Jumlah energi
ini cukup mempengaruhi vibrasi ikatan (gerakan uluran atau pembengkokan
ikatan) tetapi sangat kurang untuk memutus ikatan. Jenis ikatan tertentu biasanya
meregang pada kisaran sempit dengan frekuensi tertentu. Spektroskopi infra
merah terutama bermanfaat untuk menetapkan jenis ikatan yang ada dalam
molekul (dengan menggunakan daerah gugus fungsi) (Hart, 1983).
Tabel 1. Serapan khas beberapa gugus fungsi pada IR (Smith, 2006)
Gugus Daerah Serapan (cm-1
) Intensitas
O-H 3600 - 3200 kuat, lebar
N-H 3500 - 3200 medium
Csp3-H 3000 - 2850 kuat
Csp2-H 3150 -3000 medium
Csp-H 3300 medium
C=O 1800 - 1650 kuat
C C 2250 medium
C=C 1650 medium
1600 - 1500 medium
Dari penelitian yang pernah dilaporkan, daerah serapan IR dari senyawa
yang berhasil diisolasi dari tumbuhan C. soulattri antaralain :
Senyawa IR v (cm-1
)
Soulattrone A (29) 2930 (C-H alkana), 1670 (C=O keton),1130 (C-O eter)
Friedelin (21) 1777 (C=O keton), 2927 (C-H alkana)
c. Spektroskopi NMR
Spektroskopi Resonansi Magnetik Inti (NMR) merupakan salah satu
metode spekoskopi yang bermanfaat dalam penentuan struktur senyawa organik.
Dasar dari metode spektroskopi ini adalah kajian terhadap momen magnet dari inti
atom. Inti atom dalam molekul yang timbul akibat perputaran inti tersebut.
Momen magnet dari suatu inti atom dipengaruhi oleh atom-atom yang ada di
dekatnya, sehingga atom yang sama dapat mempunyai momen magnet yang
19

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
35
berbeda bergantung pada lingkungannya. Bila inti atom diletakkan diantara kutub
–kutub magnet yang sangat kuat, inti akan mensejajarkan medan magnetiknya
sejajar (pararel) atau mmelawan (antipararel) dengan medan magnet (Achmadi,
2003). Sifat inilah yang digunakan untuk menentukan struktur suatu molekul. Inti
yang paling penting dalam penetapan struktur senyawa organik yaitu 1H dan
13C.
1) 13C NMR
Spektroskopi 13
C NMR memberikan informasi tentang jumlah atom
karbon dari suatu struktur molekul. Pergeseran kimia 13
C terjadi pada daerah yang
lebih lebar dibandingkan daerah pergeseran kimia inti 1H. Keduanya diukur
terhadap senyawa standar yang sama, yaitu tetrametilsilen (TMS), yang semua
karbon metilnya ekuivalen dan memberikan sinyal yang tajam. Pergeseran kimia
untuk 13
C dinyatakan dalam satuan δ, tetapi pada umumnya dituliskan dengan
kisaran sekitar 0 sampai 200 ppm di bawah medan TMS (bukan kisaran yang
lebih kecil, yaitu dari 0 sampai 10 ppm untuk 1H). Kisaran kimia yang lebar
cenderung menyederhanakan spektrum 13
C relatif terhadap spektrum 1H
(Achmadi, 2003). Daerah pergeseran kimia untuk 13
C ditunjukkan dari pada tabel
dibawah ini.
Tabel 2. Pergeseran kimia beberapa jenis inti 13
C (Smith, 2006)
Jenis Karbon δ (ppm)
R─CH3 0 - 35
R2─CH2 15 - 20
R3─CH 25 - 50
R4─C 30 - 40
RC CR 65-90
R2C CR2 100-150
110-175
CR
O
OH CR
O
OR
160-185
CR
O
H CR
O
R
190-220
20

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
36
2) 1H NMR
Spektroskopi 1H NMR memberikan informasi mengenai banyaknya
sinyal dan pergeseran kimianya dapat digunakan untuk mengidentifikasi jenis inti
1H yang secara kimia berbeda di dalam molekul, luas puncak menginformasikan
banyaknya inti 1H dari setiap jenis yang ada, pola pembelahan spin-spin
menginformasikan tentang jumlah 1H tetangga terdekat yang dimiliki oleh inti
1H
tertentu. Pergeseran kimianya dapat dilihat dari tabel 2 berikut:
Tabel 3. Pergeseran kimia beberapa jenis inti 1H (Achmadi, 2003).
Jenis 1H δ (ppm) Jenis
1H δ (ppm)
C ─CH3 0,85-0,95 CH2 C 4,6-5,0
C─CH2─C 1,20-1,35 ─CH C 5,2-5,7
HC C
C
C
1,40-1,65
Ar─H
6,6-8,0
CH3─CH C 1,6-1,9 ─C C─H 2,4-2,7
CH3─Ar 2,2-2,5 C
O
H
9,5-9,7
C OCH3
2,1-2,6 C
O
OH
10-13
O─CH3 3,5-3,8 R─OH 0,5-5,5
Spektrum NMR 1H biasanya diperoleh dengan cara melarutkan sampel
senyawa yang sedang dikaji (biasanya hanya beberapa miligram) dalam sejenis
pelarut yang tidak memiliki inti 1H. Contoh pelarut seperti ini adalah CCl4 atau
pelarut dengan hidrogen yang digantikan oleh deuterium, seperti CDCl3
(deuteriokloroform) dan CD3COCD3 (heksadeutioaseton). Salah satu cara untuk
untuk menetapkan puncak dari spektra 1H NMR adalah dengan mengintegrasikan
luas di bawah setiap puncak. Luas puncak (peak area) berbanding lurus dengan
jumlah inti 1H yang menyebabkan terjadinya puncak tersebut. Cara yang lebih
umum untuk menetapkan puncak adalah dengan membandingkan pergeseran
kimia dengan proton yang serupa dengan senyawa rujukan yang diketahui.
Inti 1H yang membelah sinyal lain dikatakan terkopling (coupled).
Besarnya kopling atau hertz yang membelah sinyal disebut tetapan kopling
21

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
37
(coupling constant), disingkat dengan J. Sementara proton pada karbon yang
bersebelahan dapat menunjukkan pembelahan yang cukup besar (J=6-8 Hz),
proton yang berjauhan dapat dikatakan tidak merasakan adanya proton satu sama
lain (J=0-1 Hz). Tetapan kopling dapat digunakan untuk membedakan antara
posisi substituen pada cincin benzen. Inti 1H yang ekuivalen secara kimia tidak
saling membelah. Tabel 3 berikut memuat tetapan kopling untuk beberapa jenis
inti 1H yang lazim (Achmadi, 2003).
Tabel 4. Tetapan kopling untuk beberapa jenis inti 1H
Gugus J(Hz) Gugus J(Hz)
C C
HH
6-8 H
H
Orto : 6-10
Meta: 1-3
Para : 0-1
C C C
H H
0-1 C C
R1
R2
H
H
0-3
C C
R2
H
H
R1
12-18 C C
H
R2
H
R1
6-12
3) HMQC (Heteronuclear multiple quantum coherence)
HMQC merupakan salah satu jenis NMR dua dimensi yang dapat
digunakan untuk mengetahui jenis proton dalam satu ikatan, sehingga dari data ini
dapat ditentukan pula karbon yang mengikat proton dan mana karbon yang
kuartener. Dari data ini juga diketahui nilai geseran kimia dari karbon yang
memiliki proton (Breitmaier, 2002).
4) HMBC (Heteronuclear multiple bond correlation)
HMBC merupakan salah satu jenis NMR dua dimensi yang dapat
digunakan untuk mengetahui hubungan antara proton dengan karbon yang
berjarak 2 sampai 3 ikatan sehingga dapat diketahui atom karbon tetangga
(Breitmaier, 2002).
22

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
38
B. Kerangka Pemikiran
Tumbuhan C. soulattri merupakan salah satu spesies dari genus
Calophyllum yang dapat dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat terhadap beberapa
penyakit. Manfaat ini tidak terlepas dari kandungan senyawa kimia yang
terkandung di dalamnya. Penelitian mengenai kandungan senyawa kimia dari
tumbuhan C. soulattri masih sangat sedikit dilakukan, namun penelitian tentang
senyawa kimia dari genus Calophyllum sendiri sudah banyak dilakukan dan
diketahui bahwa senyawa kimia yang berhasil diisolasi cukup beragam.
Berdasarkan literatur, penelitian mengenai komponen kimia dari genus
Calophyllum telah berhasil diisolasi senyawa turunan santon (Morel et al., 2002;
Iinuma, et al., 1994; Ito, et al., 2003), kumarin (McKee, et al., 1996; Ito, et al.,
2003; Cao, et al., 1997), kromanon (Ito, et al., 1999; Iinuma, et al., 1994;
Subramanian, et al., 1971), asilploroglusinol (Cao, et al., 2005), terpenoid (Pretto,
et al., 2004; Cao, et al., 1997; Yimdjo, et al., 2004; Ali, et al., 1999;
Govindanchari, et al., 1967) dan steroid (Kumar, et al., 1976; Goh, et al., 1991;
Ali, et al., 1999). Sedangkan senyawa kimia yang pernah diisolasi dari C. soulattri
adalah dari turunan terpenoid yaitu senyawa soulatron A dan friedelin (Nigam, et
al., 1988; Putra, dkk., 2008). Berdasarkan pendekatan ilmu kemotaksonomi,
tumbuhan yang memiliki hubungan kekerabatan yang lebih dekat akan memiliki
senyawa yang hampir sama atau bahkan sama dengan yang lainnya, sehingga
senyawa yang diperoleh tidak akan jauh berbeda. Perbedaan penelitian tersebut
meliputi asal sampel yang digunakan, bagian tumbuhan, metode isolasi dan
purifikasi serta jenis pelarut.
C. Hipotesis
Senyawa kimia yang diisolasi dari kulit batang C. soulattri adalah dari
turunan golongan terpenoid, steroid, asilploroglusinol, santon, kumarin dan atau
kromanon.
23

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
39
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen laboratorium. Sampel
kulit batang tumbuhan C. soulattri dikumpulkan dari daerah Magelang, Jawa
Tengah. Isolasi senyawa bahan alam menggunakan metode ekstraksi. Ekstraksi
dilakukan dengan cara maserasi dengan menggunakan MeOH untuk mengambil
senyawa dari kulit batang tumbuhan C. soulattri. Pemisahan dan pemurnian
senyawa dilakukan dengan menggunakan teknik kromatografi yaitu vakum cair
(KVC) dan flash yang dipandu dengan kromatografi lapis tipis (KLT), lampu
UV254 dan reagen penampak noda Ce(SO4)2. Struktur senyawa yang diperoleh
dikarakterisasi dengan metode spektroskopi UV, IR, 1H NMR,
13C NMR dan
NMR dua dimensi meliputi HMQC dan HMBC.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Pada penelitian ini, isolasi dan pemurnian senyawa dilakukan di
Laboratorium Kimia Dasar Fakultas MIPA UNS dan Laboratorium Pusat MIPA
Sub Laboratorium Kimia Pusat UNS. Determinasi sampel tumbuhan dilakukan di
Laboratorium Bagian Biologi Fakultas Farmasi UGM. Analisis spektoskopi UV
dilakukan di Laboratorium Kimia Dasar Fakultas MIPA UNS, analisis IR di
Laboratorium Kimia Organik Fakultas MIPA UGM, analisis 1H NMR,
13C NMR,
dan NMR dua dimensi di LIPI Serpong. Penelitian dilakukan pada bulan
September 2010 – Januari 2011.
C. Alat dan Bahan
1. Alat yang digunakan
Ekstrak kering kulit batang C. soulattri disaring menggunakan penyaring
Buchner kemudian dipekatkan dengan rotary evaporator vacum (IKA-WERKE
HB4 basic). Isolasi dan pemurnian senyawa dari kulit batang C. soulattri
menggunakan kolom KVC berdiameter 9 cm dan kolom kromatografi flash
24

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
40
berdiameter 2 cm dan 1 cm. Analisis KLT dipandu dengan lampu UVλ254 serta
penyemprot penampak noda Ce(SO4)2. Senyawa yang diperoleh dianalisis dengan
metode spektroskopi UV (spektrofotometer UV-Vis Shimadzu UV mini 1240),
spektroskopi infra merah (spektrofotometer Shimadzu PRESTIGE 21) dengan
metode tetes dan metode spektroskopi 1H NMR,
13C NMR, HMQC dan HMBC
(spektrofotometer Jeol AS 500).
2. Bahan yang digunakan
Kulit batang C. soluattri diperoleh dari daerah Magelang, Jawa Tengah.
Pelarut yang digunakan untuk maserasi adalah MeOH. Sedangkan untuk
kromatografi adalah n-heksan, EtOAc dan CHCl3. MeOH, n-heksan, EtOAc yang
digunakan adalah pelarut teknis yang diredestilasi. Pelarut CHCl3 dan aseton yang
digunakan adalah grade pro analisis. Fasa diam pada KVC digunakan silika gel
Merck Si-gel 60 GF254, untuk kromatografi flash digunakan silika gel Merck
Kieselgel 60 (0,04-0,063 mm) 230-400 mesh. Analisis Kromatografi Lapis Tipis
(KLT) menggunakan plat alumunium berlapis silika (Merck Kieselgel 60 GF254
0,25 mm). Silika gel Merck Kiesel Gel 60 (0,2-0,5mm) digunakan sebagai silika
adsorb untuk impregnasi sampel pada saat KVC dan kromatografi flash. Untuk
pereaksi penampak noda digunakan Ce(SO4)2.
D. Prosedur Penelitian
1. Determinasi Sampel
Determinasi sampel dilakukan di laboratorium Bagian Biologi Fakultas
Farmasi Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Determinasi dilakukan berdasarkan
pengamatan ciri fisiologis tumbuhan. Dari hasil determinasi, diketahui bahwa
sampel tumbuhan yang diteliti merupakan Calophyllum soulattri Burm.f.
2. Persiapan Sampel
Kulit batang C. soluattri dipotong kecil-kecil, diangin-anginkan sampai
kering. Selanjutnya C. soluattri kering dibuat dalam bentuk serbuk.
25

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
41
3. Isolasi dan Purifikasi Senyawa dari Kulit Batang C. soluattri
a. Ekstraksi
Serbuk kering kulit batang C. Soluattri sebanyak 3 kg dimaserasi dalam
12 liter metanol pada suhu kamar selama 24 jam. Kemudian disaring dengan
menggunakan penyaring Buchner untuk memisahkan ekstrak metanol dari
residunya. Filtrat yang diperoleh dievaporasi dan didesikator sehingga dihasilkan
ekstrak kering metanol.
b. Kromatografi Vakum Cair (KVC)
Sebanyak 60 g ekstrak metanol difraksinasi menggunakan KVC dengan
diameter kolom 9 cm yang dilakukan 3 kali fraksinasi masing-masing fraksinasi
sebanyak 20 g sampel. Fasa diam yang digunakan adalah silika gel 60 GF254.
Silika gel di masukkan ke dalam kolom KVC kemudian dimampatkan dengan
bantuan pompa vakum sampai benar-benar mampat dan tidak terdapat rongga
pada silika tersebut. Setelah mampat, sampel diletakkan diatas fase diam dan
dielusi dengan eluen yang kepolarannya meningkat dengan perbandingan dari n-
heksana:EtOAc sebanyak 150ml. Sebelumnya, sampel diimpregnasi terlebih
dahulu dengan 20 g silika adsorb Merck Kieselgel 60 (0,2-0,5 mm).
Fraksi yang diperoleh dari hasil fraksinasi pada 3 kali KVC tersebut
kemudian diuapkan dengan rotary evaporator dan ditimbang sehingga diketahui
berat masing-masing fraksi. Fraksi tersebut kemudian dianalisis dengan KLT
menggunakan fasa diam silika gel Merck Kieselgel 60 GF254 (0,2 mm)
menggunakan eluen n-heksana:EtOAc dengan perbandingan tertentu. Hasil KLT
dilihat dengan lampu UV pada λ254 kemudian disemprot dengan penampak noda
Ce(SO4)2. Fraksi yang memiliki pola pemisahan spot yang sama kemudian
digabung. Fraksi yang memiliki berat yang mencukupi dan pola pemisahan yang
baik dimurnikan lebih lanjut dengan kromatografi flash.
c. Kromatografi flash
Pembuatan kolom dilakukan dengan cara basah menggunakan fasa diam
silika gel Merck Kieselgel 60 (0,04-0,063 mm). Silika gel dimasukkan ke dalam
26

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
42
gelas beker yang telah berisi eluen yang akan digunakan, kemudian di masukkan
kedalam kolom sambil diaduk sampai semua silika masuk ke dalam kolom. Proses
pembuatan kolom dibantu dengan air pump untuk memampatkan silika.
Kemudian sampel yang sudah dilarutkan dengan eluen yang digunakan,
dimasukkan kedalam kolom dengan bantuan pipet. Perbandingan sampel dan
silika gel yang digunakan adalah 30 sampai 100 kali berat sampel. Kemudian
sampel dielusi dengan eluen dan eluat yang diperoleh di KLT untuk mengetahui
pola pemisahannya.
d. Karakterisasi Hasil Isolasi
Fraksi yang menunjukkan satu spot kemudian diuji kemurniannya
menggunakan KLT dengan empat eluen yang berbeda, jika semua hasil KLT
menunjukkan satu spot maka senyawa hasil isolasi diduga sudah murni.
Kemudian dilakukan analisis menggunakan UV, IR, 1H NMR,
13C NMR, HMQC
dan HMBC.
E. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini akan dilakukan analisis untuk
mengelusidasi struktur senyawa murni yang telah diisolasi. Senyawa murni yang
diperoleh dari hasil isolasi menggunakan metode ekstraksi dengan maserasi, dan
proses pemisahan serta pemurnian dengan menggunakan teknik KVC dan
kromatografi flash, dianalisis dengan KLT sehingga diperoleh noda yang
berwarna. Proses KLT sendiri dipandu dengan lampu UV254 serta disemprot
dengan reagen spesifik Ce(SO4)2. Kemudian, senyawa hasil isolasi tersebut
dianalisa dengan spektroskopi UV, IR, 1H NMR,
13C NMR, dan NMR dua
dimensi HMQC dan HMBC untuk mendapatkan data yang akan digunakan untuk
elusidasi struktur senyawanya. Data UV yang diperoleh dapat digunakan untuk
mengetahui gugus kromofor yang ada pada senyawa, sedangkan data IR dapat
diketahui jenis gugus fungsi yang terdapat pada senyawa tersebut. Dari data 13
C
NMR dapat diketahui jumlah atom karbon yang terdapat pada senyawa serta
geseran kimia atom karbon. Untuk identifikasi struktur dengan data 1H NMR
27

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
43
dapat digunakan untuk mengetahui geseran kimia proton, pola pemisahan spin-
spin, luas puncak dan konstanta kopling (J). Banyaknya proton dari setiap jenis
proton dapat diketahui dari luas puncak masing-masing sinyal proton, sedangkan
posisi proton-proton yang berdekatan dapat diketahui dari kopling (J), sehingga
proton yang menyusun suatu senyawa dapat ditentukan. Untuk data HMQC dapat
ditentukan hubungan proton dengan karbon yang berjarak satu ikatan sehingga
dapat diketahui jenis atom karbon. Untuk data HMBC dapat ditentukan hubungan
proton dengan karbon yang berjarak 2 sampai 3 ikatan sehingga dapat diketahui
atom karbon tetangga. Data-data yang diperoleh dari analisa tersebut digunakan
untuk menentukan struktur senyawa yang disarankan.
28

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
44
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Isolasi dan Pemurnian Senyawa dari Kulit Batang C. soulattri
Dari hasil penyaringan dan evaporasi serbuk kulit batang C. soulattri
diperoleh ekstrak MeOH kering sebanyak 98 g. Ekstrak kering hasil maserasi ini
kemudian dipartisi dengan menggunakan KVC sebanyak 3 kali menggunakan
pelarut yang sama yaitu n-heksana:EtOAc (10:0); (9:1) (2x); (8,5:1,5) (4x); (8:2)
(4x); (7:3) (2x); (0:10) (2x). Masing-masing dari hasil KVC I, II dan III di KLT,
kemudian spot noda yang sama digabung sehingga diperoleh 7 fraksi utama
dengan berat : fraksi A (0,168 g), fraksi B (0,548 g), fraksi C (1,075 g), fraksi D
(0,798 g), fraksi E (0,64 g), fraki F (1,258 g) dan fraksi G (0,548 g). Kromatogram
hasil penggabungan KVC fraksi-fraksi tersebut ditunjukkan pada Gambar 11.
Gambar 11. Hasil KLT penggabungan fraksi dari KVC I, II dan III dengan
eluen n-heksan : EtOAc (8,5:0,5)
Dari hasil KLT pada Gambar 11, diketahui bahwa fraksi C memiliki pola
pemisahan spot yang lebih jelas dari fraksi yang lainnya dan beratnya pun
mencukupi untuk dimurnikan kembali sehingga dipilih fraksi C untuk dipisahkan
lebih lanjut dengan kromatografi flash berdiameter 2 cm. Fraksi C di KLT terlebih
dahulu untuk menentukan eluen yang akan digunakan. Dari hasil KLT, eluen yang
digunakan untuk kromatografi flash adalah n-heksan:EtOAc (9,5:0,5) dalam 200
ml, (9:1) dalam 200 ml dan (7:3) dalam 100 ml dan diperoleh 26 fraksi. Kemudian
fraksi–fraksi ini di KLT kembali dengan eluen n-heksan:EtOAc (8,5:1,5) sehingga
diperoleh pola pemisahan. Pola pemisahan yang sama digabung kembali dan
29

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
45
diperoleh 10 fraksi utama dengan berat : fraksi C1 (141 mg), C2 (60 mg), C3 (31
mg), C4 (50 mg), C5 (70 mg), C6 (84 mg), C7 (78 mg), C8 (205 mg), C9 (137 mg),
C10 (184 mg). Kromatogram hasil kromatografi flash fraksi C dan hasil
penggabungan fraksi C ditunjukkan pada Gambar 12.
Gambar 12. Hasil KLT penggabungan kromatografi flash fraksi C dengan eluen
n-heksan : EtOAc (8,5:0,5)
Berdasarkan hasil KLT pada Gambar 12, fraksi C1 memiliki spot yang
lebih bersih dari spot yang lainnya dan beratnya pun memungkinkan untuk
dipisahkan lebih lanjut sehingga akan dimurnikan lebih lanjut menggunakan
kromatografi flash berdiameter 1 cm dan dielusi menggunakan eluen n-
heksan:CHCl3 (98:2) dalam 200 ml, (95:5) dalam 100 ml dan (90:10) dalam 50
ml. Hasil dari fraksinasi ini kemudian di KLT dengan menggunakan pelarut n-
heksan:CHCl3 (9,5:0,5) sehingga diperoleh pola pemisahan. Spot yang sama
digabung sehingga diperoleh 7 fraksi utama yaitu : C1a (2 mg), C1b (3 mg), C1c (29
mg), C1d (24 mg), C1e (7 mg), C1f ( 19 mg) dan C1g ( 15 mg). Hasil penggabungan
dari fraksinasi fraksi C1 ditunjukkan pada Gambar 13.
Gambar 13. Hasil KLT penggabungan kromatografi flash fraksi C1 dengan eluen
n-heksan : CHCl3 (9,5:0,5)
30

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
46
Dari hasil KLT pada Gambar 13, diketahui bahwa fraksi C1d menunjukkan
noda yang lebih bersih dibandingkan dengan yang lain. Selanjutnya fraksi C1d di
KLT untuk mengetahui kemurnian senyawa dengan berbagai macam eluen, yaitu
n-heksan : CHCl3 (9,5:0,5), n-heksan : CHCl3 : EtOAc (8,5:1:0,5), n-heksan :
EtOAc (8,5:1,5) dan n-heksan : Aseton (9:1). Noda yang dihasilkan dari KLT
dengan berbagai macam eluen menunjukkan satu spot yang ditunjukkan pada
Gambar 14, sehingga senyawa hasil isolasi diduga sudah murni. Untuk itu, fraksi
C1d dilakukan analisis UV, IR, 1H NMR,
13 C NMR serta HMQC dan HMBC.
Gambar 14. Kromatogram uji kemurnian senyawa fraksi C1d
1. n-heksan : EtOAc (8,5:1,5)
2. n-heksan : CHCl3 : EtOAc (8,5:1:0,5)
3. n-heksan : Aseton (9:1)
4. n-heksan : CHCl3 (9,5:0,5)
B. Karakterisasi Senyawa Hasil Isolasi Fraksi C1d
1. Analisis Data UV
Data yang diperoleh dengan metode spektroskopi UV terhadap senyawa
isolat fraksi C1d dalam pelarut metanol tidak menunjukkan adanya serapan
maksimum dari suatu cincin aromatik, dimana serapan pada cincin aromatik
biasanya muncul pada λ 270-300 nm. Serapan maksimum pada λ 221 nm
menunjukkan adanya gugus kromofor yang khas untuk suatu sistem ikatan
rangkap dari cincin alifatik. Berdasarkan data UV, maka senyawa hasil isolasi
tersebut berasal dari golongan non aromatik yaitu terpenoid atau steroid yang
memiliki ikatan rangkap pada cincin alifatiknya. Spektrum UV senyawa isolat
1 2 3 4
31

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
47
fraksi C1d ditunjukkan pada Gambar 15.
Gambar 15. Spektrum UV senyawa fraksi C1d dalam pelarut metanol
2. Analisis Data IR
Spektrum IR yang muncul dari serapan senyawa hasil isolasi fraksi C1d
menunjukkan adanya serapan dari gugus hidroksil pada bilangan gelombang
3448,72 dan 3332,99 cm-1
. Munculnya vibrasi ulur C-H alifatik pada daerah
2924,09 cm-1
mengindikasikan adanya gugus prenil dan atau metoksi. Serapan
pada panjang gelombang 1774,51 dan 1735,93 cm-1
menunjukkan adanya gugus
karbonil. Munculnya serapan 1674,21 dan 1635,64 mengindikasikan adanya
vibrasi ulur C=C alkena. Gambar spektrum IR dari senyawa isolat fraksi C1d
ditunjukkan pada Gambar 16.
Gambar 16. Spektrum IR senyawa hasil isolasi fraksi C1d
C-H alifatik
C=O
keto
n
C=C alkena OH
221
32

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
48
Berdasarkan literatur mengenai senyawa kimia yang pernah diisolasi dari
genus Calophyllum, senyawa golongan steroid tidak mengandung gugus karbonil
pada kerangkanya (Su, et al., 2008), sehingga senyawa yang diisolasi merupakan
turunan dari golongan terpenoid. Berdasarkan hasil analisis dari data IR dan UV,
dapat disimpulkan bahwa senyawa hasil isolasi fraksi C1d merupakan turunan dari
golongan terpenoid yang tersubtitusi gugus hidroksil, C-H alifatik yang menyusun
gugus prenil, gugus karbonil serta gugus alkena.
3. Analisis Data NMR
Hasil analisis senyawa isolat fraksi C1d dalam pelarut CHCl3 dengan
menggunakan spektroskopi NMR meliputi 13
C NMR, 1H NMR, HMQC dan
HMBC. Dari data 13
C NMR ini akan diketahui jumlah karbon yang terdapat pada
senyawa isolat fraksi C1d. Dari data 1H NMR akan diketahui geseran kimia proton,
pola pemisahan spin-spin, luas puncak dan konstanta kopling (J). Banyaknya
proton dari setiap jenis proton dapat diketahui dari luas puncak masing-masing
sinyal proton, sedangkan posisi proton-proton yang berdekatan dapat diketahui
dari kopling (J), sehingga proton yang menyusun suatu senyawa dapat ditentukan.
Dari data hasil analisa HMQC dapat ditentukan hubungan antara proton dan
karbon satu ikatan sehingga dapat diketahui jenis karbonnya. Kemudian untuk
data hasil analisa HMBC akan dapat ditentukan hubungan proton dan karbon yang
berjarah dua sampai tiga ikatan sehingga dapat ditentukan karbon-karbon
tetangga.
Spektrum 13
C NMR senyawa fraksi C1d yang ditunjukkan pada Gambar
17, memperlihatkan adanya dua sinyal karbonil pada δC 217,59 dan 209,29 ppm,
sinyal karbon-karbon alkena ditunjukkan pada δC 135,95-116, 08 ppm, sedangkan
pada δC 45,92-11,78 ppm muncul dari karbon-karbon alkana. Sinyal pada δC
206,99 dan 32,1 ppm merupakan serapan karbon-karbon dari sisa pelarut yaitu
aseton. Serapan karbon yang muncul pada sebelah kiri pelarut, merupakan serapan
dari karbon pengotor yang masih tersisa pada senyawa isolat.
33

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
49
Gambar 17. Spektra 13
C NMR dari senyawa hasil isolasi fraksi C1d
Data spektrum 1H NMR menunjukkan adanya sinyal proton alkena pada
δH 5,2588-4,9278 ppm serta sinyal proton alkana ditunjukkan pada δH 3,7140-
0,8601 ppm. Spektrum 1H NMR ditunjukkan pada Gambar 18.
Gambar 18. Spektra 1H NMR dari senyawa hasil isolasi fraksi C1d
Dari spektrum 1H NMR pada Gambar 18 mengindikasikan adanya tiga
buah sinyal proton berasal dari proton metin (CH) yaitu pada δH 5,25; 5,00 serta
H alkana
H alkena
C karbonil
C alkena C kuartener
C alkana
34

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
50
4,86 yang biasanya terdapat pada proton isoprenil. Hal ini didukung dengan
adanya enam buah metil (CH3) pada δH 1,68; 1,63; 1,61 dan 1,53 ppm, sehingga
diketahui bahwa terdapat tiga buah gugus isoprenil. Proton metin lain ditunjukkan
pada δH 2,93 ppm. Empat buah sinyal proton metil (CH3) lain ditunjukkan pada δH
0,86; 0,89; 0,92 dan 1,22 ppm yang. Untuk proton metilen sendiri ditunjukkan
pada δH 2,39; 2,48; 2,74 dan 1,28 ppm.
Tabel 5. Jenis proton pada data 1H NMR senyawa hasil isolasi fraksi C1d
δH (ppm) Multiplisitas (J) ∑ H Jenis Proton
5,25 t (J=6,8) 1H
Metin (CH)
5,00 t 1H
4,86 t 1H
2,93 m 1H
2,74 dd (J=6,3) 1H
Metilen (CH2) 2,48 dd (J=7,2) 1H
2,38 dd (J=7,4) 2H
1,68 s 6H
Metil (CH3) 1,63 s 3H
1,61 s 3H
1,53 s 6H
1,28 m 2H Metilen (CH2)
1,22 s 3H
Metil (CH3) 0,92 s 3H
0,89 d (J=2,3) 3H
0,86 t 3H
∑ H = 40
Hubungan antara data proton dengan atom karbon yang berjarak satu
ikatan dapat dijelaskan melalui data HMQC sehingga dapat diketahui jenis atom
karbonnya. Data ini dapat dilihat pada Tabel 6 (Gambar spektrum HMQC
terlampir).
Tabel 6. Korelasi proton dan karbon dari data HMQC dan jenis atom karbon
senyawa hasil isolasi fraksi C1d
35

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
51
δC (ppm) δH HMQC (ppm) Jenis atom karbon
217,59 - C=O
209,30 - C=O
135,95 - = C
133,89 - = C
133,53 - = C
122,32 4,86 (t, IH) = CH
119,05 5,25 (t, 1H, J=6,8) = CH
116,08 5,00 (t, IH) = CH
98,37 - C kuartener
70,51 - C kuartener
54,94 - C kuartener
45,91 2,93 (m, 1H) = CH
44,22 - C kuartener
40,99 - C kuartener
31,08 2,39 (dd, 2H, J=7,4) CH2
25,98 1,68 (s, 6H) 2x CH3
1,63 (s, 3H) CH3
24,75 1,28 (m, 2H) CH2
23,9 2,48 (dd, 1H, J=7,2)
CH2 2,74 (dd, 1H, J=6,3)
22,87 1,22 (s, 3H) CH3
17,81 1,61 (s, 3H) CH3
1,53 (s, 6H) 2x CH3
0,92 (s, 3H) CH3
16,17 0,86 (t, 3H) CH3
11,78 0,89 (d, 3H, J=2,3) CH3
Adanya proton metin pada δH 4,86 (t, IH); 5,00 (t, IH); 5,25 (t, 1H, J=6,8)
yang berkorelasi satu ikatan dengan karbon pada δC 122,32; 119,05; 116,08 ppm
serta proton metil pada δH 1,68 (s, 6H); 1,63 (s, 3H); 1,53 (s, 6H); 1,61 (s, 3H)
yang berkorelasi satu ikatan dengan karbon pada δC 25,98 dan 17,81 ppm
menunjukkan adanya 3 buah gugus isoprenil yang tersubtisusi pada kerangka
dasar senyawa.
36

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
52
Hubungan antara proton dan karbon yang berjarak 2-3 ikatan dapat dilihat
dari data HMBC di bawah ini.
Gambar 19. Spektra HMBC senyawa hasil isolasi fraksi C1d
Dari Gambar 19, terlihat bahwa pada daerah alifatik terjadi banyak
overlaping, hal ini berpengaruh pada hubungan proton dan karbon pada jarak 2-3
ikatan sehingga dibutuhkan ketelitian untuk menentukan hubungan tersebut. Data
dari HMBC dari proton dan karbon dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Korelasi proton dan karbon pada jarak 2-3 ikatan dari data HMBC
senyawa hasil isolasi fraksi C1d
δH (ppm)
HMBC
Korelasi 1H -
13C NMR 2-3 ikatan (δC ppm)
5,25 25,98; 17,81
5,00 25,98; 17,81
4,86 -
2,93 -
2,74 135,95; 116,08; 98,37
2,48 135,95; 116,08; 98,37; 209,30
2,38 119,05; 54,94
1,68 133,53; 119,05; 122,32; 17,81
1,63 135,95; 116,08; 17,81
37

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
53
1,61 135,95; 116,08; 25,98
1,53 119,05; 122,32; 133,89; 25,98
1,28 -
1,22 70,51; 40,99; 44,22
0,92 70,51; 40,99
0,89 45,91
0,86 45,91; 217,59; 24,75
Berdasarkan data HMBC pada Gambar 21(a-c), nampak bahwa proton
metil δH 0,86 ppm berkorelasi dengan karbon pada δC 217,59; 45,91 serta 24,75
ppm yang berjarak 2-3 ikatan. Sedangkan pada karbon δC 45,91 ppm berkorelasi
dengan proton metil pada δH 0,89 ppm. Korelasi proton karbon tersebut
ditunjukkan pada Gambar 20.
H3C
H3C
O
217,59
45,91
24,75
0,89
0,86
11,78
16,17
Gambar 20. Korelasi proton metil dengan karbon pada δH 0,86 dan 0,89 ppm
Gambar 21a. Hubungan HMBC perbesaran δH 1,1-0,8 ppm dan δC 225-199 ppm
38

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
54
Gambar 21b. Hubungan HMBC perbesaran δH 1,2-0,8 ppm dan δC 50-36 ppm
Gambar 21c. Hubungan HMBC perbesaran δH 1,3-0,8 ppm dan δC 33-15 ppm
Berdasarkan data HMBC pada Gambar 21b diketahui bahwa proton metil
δH 1,22 ppm berkorelasi dengan karbon pada δC 40,9; 44,22 dan 70,51 ppm, serta
proton metil δH 0,92 ppm berkorelasi dengan karbon pada δC 70,51 dan 40,9 ppm.
Hal ini menunjukkan bahwa proton metil pada δH 1,22 dan 0,92 ppm tersubtitusi
pada kerangka senyawa yang terikat pada karbon kuartener dengan δC 40,9 ppm.
Korelasi proton karbon tersebut ditunjukkan pada Gambar 22.
39

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
55
H3C
H3C 44,22
70,51
40,99
1,22
0,92
22,87
17,81
Gambar 22. Korelasi proton metil dengan karbon pada δH 1,22 dan 0,92 ppm
Dari data HMBC pada Gambar 24(a-c) mengindikasikan adanya gugus
isoprenil yang tersubtitusi pada kerangka dasar senyawa. Hal ini ditunjukkan
dengan adanya korelasi proton metil pada δH 1,68 ppm berkorelasi dengan karbon
pada δC 133,53; 122,32; 119,05; 17,81 ppm serta korelasi proton metil pada δH
1,53 ppm berkorelasi dengan karbon pada δC 119,05; 122,32; 133,89; 25,98 ppm.
Proton metil pada δH 1,68 ppm dan 1,53 ppm mempunyai luasan 2x dari proton
metil lainnya yang menunjukkan bahwa metil-metil ini terikat pada dua isoprenil
yang terikat pada satu atom C kuatener (ditunjukkan dari data HMBC pada
gambar 24a,b,c). Dan dari korelasi proton metilen pada δH 2,39 ppm berkorelasi
satu ikatan dengan karbon pada δC 31,08 serta berkorelasi 2-3 ikatan denggan
karbon pada δC 119,05 dan 54,94 ppm. Dari data tersebut masih kurang satu
proton metilen yang terikat pada satu isoprenil lainnya, dimungkinkan proton
tersebut overlaping dengan proton lainnya atau proton tersebut tidak muncul dari
data HMBC. Sedangkan satu gugus isoprenil bebas lainnya ditunjukkan dari
korelasi proton metil pada δH 1,63 ppm dan proton metil pada δH 1,61 ppm
berkorelasi dengan karbon pada δC 135,95; 116,08 dan 25,98 ppm yang
menunjukkan adanya satu isoprenil. Proton metilen pada δH 2,74 dan 2,48 ppm
yang berkorelasi satu ikatan dengan karbon pada δC 23,9 ppm dan berkorelasi
dengan karbon yang berjarak 2-3 ikatan pada δC 135,95; 116,08; 98,37 dan
135,95; 116,08; 98,37; 209,30 ppm menunjukkan adanya metilen yang terikat
pada isoprenil (ditunjukkan dari data HMBC pada gambar 24a,b,c). Korelasi
antara proton dengan karbon yang terikat pada gugus isoprenil tersebut
ditunjukkan pada Dambar 23.
40

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
56
HH 2,482,78
23,9
116,08
135,95
H3C CH31,63 1,61 17,8125,98
H3C
CH3 H3C
CH3133,53
122,32
133,89
119,05
1,53
17,81
1,6825,98
1,5317,81
1,68 25,98
31,08
54,94
? 2,38
a b
Gambar 23. (a). Korelasi proton metil isoprenil dengan karbon pada δH 1,63 dan
1,66 ppm serta proton metilen dengan karbon pada δH 2,48 dan
2,78 ppm.
(b). Korelasi proton metil isoprenil dengan karbon pada δH 1,68 dan
1,53 ppm serta proton metilen dengan karbon δH 2,38 ppm.
Gambar 24a. Hubungan HMBC perbesaran δH 2,7-1,3 ppm dan δC 140-120 ppm
41

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
57
Gambar 24b. Hubungan HMBC perbesaran δH 1,7-1,5 ppm dan δC 140-110 ppm
Gambar 24c. Hubungan HMBC perbesaran δH 1,8-1,4 ppm dan δC 30-15 ppm
Dari gugus-gugus di atas, kemungkinan semuanya tersubtitusi langsung
pada kerangka dasar senyawa yang membentuk siklis. Proton metilen isoprenil
pada δH 2,48 ppm berkorelasi juga 2-3 ikatan dengan karbon pada δC 98,37 dan
209,30 ppm serta proton metilen pada δH 2,74 ppm berkorelasi dengan karbon
42

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
58
pada δC 98,37 ppm yang kedua proton metilen tersebut berkorelasi satu ikatan
dengan karbon pada δC 23,9 ppm. Proton metilen isopren lain pada δH 2,38 ppm
yang berkorelasi satu ikatan dengan karbon pada δC 31,08 ppm berkorelasi juga 2-
3 ikatan dengan karbon pada δC 54,94 ppm yang berada pada karbon siklis.
Kemudian proton lain yang berkorelasi dengan karbon siklis adalah proton metil
pada δH 1,22 ppm yang berkorelasi satu ikatan dengan karbon pada δC 22,87 serta
berkorelasi 2-3 ikatan dengan karbon pada δC 40,9; 44,22 dan 70,51 ppm, serta
proton metil δH 0,92 ppm berkorelasi dengan karbon pada δC 70,51 dan 40,9 ppm.
Kemungkinan posisi-posisi karbon pada kerangka siklis ditunjukkan pada Gambar
25.
H3C
HO
H3C
H3C
H3C
HO
O
O
CH3
CH3
H3C CH3
CH3
H3C
44,22
40,99 54,94
70,51 209,30
98,37
H
H2,48
2,74
0,9217,81
1,2222,87
?
?H22,39
119,05
31,08
H3C
HO
H3C
HO
O
O
CH3
CH3
H3C CH3
CH3
H3C
70,51 209,30
98,37
H
H2,48
2,74
?H22,39
119,05
31,08
H3C CH3
40,99
54,94
44,22?
0,921,2217,8122,87
a b
Gambar 25. Kemungkinan posisi karbon pada kerangka siklis (a dan b)
Dari Gambar 25, dapat diketahui bahwa letak perbedaannya adalah pada
kemungkinan posisi karbon pada δC 44,22 dan 40,99 ppm. Dimana pada Gambar
25(a), posisi karbon pada δC 44,22 ppm berada diantara karbon pada δC 40,99 dan
54,95 ppm, sedangkan pada Gambar 25(b) posisi karbon pada δC 44,22 ppm
berada diantara karbon pada δC 40,99 dan 70,51 ppm. Serapan proton pada gugus
OH tidak muncul pada spektra HNMR. Hal ini mungkin disebabkan karena gugus
OH tersebut mengadakan ikatan hidrogen dengan sisa pelarut yaitu aseton, dimana
serapan proton dari aseton muncul pada δH 2,16 (s) dan serapan karbon pada δC
206,99 ppm (C=O) dan 32,1 ppm (CH3). Berdasarkan analisis data dari hasil
karakterisasi menggunakan spektroskopi UV, IR, 13
C NMR, 1H NMR serta NMR
43

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
59
dua dimensi (HMQC dan HMBC), struktur senyawa hasil isolasi fraksi C1d yang
disarankan adalah merupakan turunan terpenoid yang tersubtiusi oleh gugus-
gugus alkil. Dua kemungkinan struktur senyawa yang disarankan dari hasil isolasi
fraksi C1d ditunjukkan pada Gambar 26.
17,81 22,87
217,59
45,91
24,75
23,9116,08
135,95
17,81
25,98
11,78
16,170,86
0,89
O
44,2254,94
70,51 209,30
98,37
?
119,05
31,08
122,32
133,53
25,9817,81
17,81
25,98
133,89
OH
HO
O1,63
1,61
5,00
4,86
1,53 1,68
1,53
1,68
5,252,38
1,282,93
2,48,2,74
40,99
1,220,92
(a)
217,59
45,91
24,75
23,9116,08
135,95
17,81
25,98
11,78
16,170,86
0,89
O
44,22
40,99 54,94
70,51 209,30
98,37
17,81
22,87?
119,05
31,08
122,32
133,53
25,9817,81
17,81
25,98
133,89
OH
HO
O1,63
1,61
5,00
0,92
1,224,86
1,53 1,68
1,53
1,68
5,252,38
1,282,93
2,48,2,74
(b)
Gambar 26. Dua kemungkinan struktur senyawa isolat fraksi C1d (a dan b)
44

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
60
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Dari hasil isolasi dan purifikasi ekstrak metanol kulit batang C. soulattri
yang berasal dari daerah Magelang, diperoleh padatan berminyak berwarna
kuning dengan berat 24 mg. Hasil elusidasi struktur dengan menggunakan
spektroskopi UV, IR, 1H NMR,
13C NMR, HMQC dan HMBC diketahui bahwa
senyawa yang berhasil diisolasi adalah turunan terpenoid dengan dua
kemungkinan struktur dibawah ini.
O
OH
HO
O
O
OH
HO
O
a b
B. SARAN
Berdasarkan data 1H NMR,
13C NMR diketahui bahwa senyawa yang
diperoleh belum cukup murni sehingga perlu dimurnikan lebih lanjut untuk
menentukan struktur senyawa yang pasti dari isolat tersebut. Perlu dilakukan juga
analisa menggunakan MS untuk mengetahui berat molekul dari senyawa yang
berhasil diisolasi sehingga dapat diketahui strukturnya dengan pasti. Selain itu,
perlu dilakukan uji aktifitas biologis dari senyawa yang berhasil diisolasi dari
ekstrak MeOH kulit batang C. soulattri tersebut untuk mengetahui aktifitas
biologisnya.
45

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
61
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, S.S., 2003. Kimia Organik. Edisi 11. Erlangga. Jakarta.
Ali, M.S., S. Mahmud, S. Parveen, V.U. Ahmad, and G.H. Rizani, 1999. Epimers
from Leaves of Calophyllum inophyllum, Phytochemistry, Vol. 50, 1385-
1389.
Anne, E.H., J. H. Jean, D. Olivier, L. Medhi, G. Philippe, and R. Pascal, 2004.
Antimalarial xanthones from Calophyllum caledonicum and Garcinia
vieillardii, Life Sciences, Vol. 75, 3077–3085.
Breitmaier, E, 2002. Structure Elucidation by NMR in Organic Chemistry, John
Wiley and Sons Ltd, England.
Cao, S.G., K.Y. Sim, J. Pereira, and S.H. Goh, 1997. Biflavanoids of Calophyllum
venulosum, Journal Natural Product, 1245-1250.
Cao, S.G., K. N. Low, R. P. Glover, S. Crasta, and S. B. Mark, 2005.
Sundaicumones A and B, Polyprenylated Acylphloroglucinol Derivatives
from Calophyllum sundaicum with Weak Activity against the
Glucocorticoid Receptor, Journal Natural Product, 707-709
Carey, F. A., 2000. Organic Chemistry Fourth Edition, McGraw-Hill Higher
Companies, Inc, New York.
Putra, D.P; Noveliandi, and Elidahanum Husni, 1998. Friedelin, a Triterpenoid
Pentacyclic from the Leaves of Calophyllum soulattri Burm.f. (Guttiferae),
Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, 13 (2). 1410 – 0177.
Dharmaratne, H.R.W., S. Sotheeswaran, S. Balasubramaniam, and J. Reisch,
1986. Xanthones from Roots of Three Calophyllum Spesies,
Phytochemistry, Vol 25, No 8, 1957-1959.
Fessenden and Fessenden. 1986. Kimia Organik, Edisi Ketiga, Jilid 1, Erlangga,
Jakarta.
Gritter, R.J., J. M. Bobbit, and A.E. Schawarting, I985. Pengantar Kromatografi
(terjemahan), Edisi Ke-2, ITB, Bandung.
Goh, S.H., and I. Jantan, 1991. A Xanthone from Calophyllum inophyllum,
Phytochemistry, Vol. 30, No. 1, 366-367.
46

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
62
Govindachari, T. R., N. Viswanathan, B. R. Pai, 1967 dalam Su, X. H., Man-Li
Zhang, Li-Geng-Li, Chang-Hong Huo, Yu-Cheng Gu, 2008. Chemical
Constituents of the plants of the Genus Calophyllum, Chemistry and
Biodiversity, Vol. 5, 2579-2608.
Hart, H., L.E. Craine, D.J. Hart, 1983. Kimia Organik, Edisi 11, Erlangga, Jakarta.
Hendayana, S., 2004. Kimia Analitik Instrumen, Edisi 1, IKIP Semarang Press,
Semarang.
Heyne, K., 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, Jilid 3, Badan Litbang
Kehutanan, Jakarta.
Iinuma, M., H. Tosa, T. Tanaka and S. Yonemori, 1994. Two Xanthones from
Root Bark of Calophyllum inophyllum, Phytochemistry, Vol. 35, No. 2,
527-532.
Ito, C., M. Itoigawa, Y. Mishina, V. C. Filho, T. Mukainaka, H. Tokuda, H.
Nishino, 2002. Cancer chemopreventive agents, 4-phenylcoumarins from
Calophyllum inophyllum, Cancer Letters, Journal Natural Product, Vol.
65, 267-272.
Ito, C., M. Itoigawa, Y. Mishina, V. C. Filho, and F. Enjo, 2003. Chemical
Constituents of Calophyllum brasiliense. 2. Structure of Three New
Coumarins and Cancer Chemopreventive Activity of 4-Substituted
Coumarins, Journal Natural Product, Vol. 66, 368-371.
Zou, Jian; Wenliang Chen, Jian Wang, Qunfang Liu, Xingzu Zhu, and Weimin
Zhao, 2005. Selective Cyclooxygenase-2 Inhibitors from Calophyllum
membranaceum, Journal Natural Product, Vol. 68, 1514 1518
Khan, M. R., M. Kihara, and A. D. Omoloso, 2002. Antimicrobial activity of
Calophyllum soulattri, Fitoterapia : 73 (7-8):741-3.
Kumar, V., S. Ramachandran, and M.U. Sultanbawa, 1976. Xanthones and
Triterpenoids from timber of Calophyllum inophyllum. Phytochemistry,
Vol. 15, 2016-2017.
Kristanti, Alfinda Novi, Nanik Siti Aminah, Mulyadi Tanjung, dan Bambang
Kurniadi, 2008. Buku Ajar Fitokimia, Airlangga University Press,
Surabaya.
47

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
63
Mc Kee, T.C., R. W. Fuller, C. D. Covington, J. H. Cardellina, R. J. Gulakowski,
1996 dalam Su, X.H., M. L. Zhang, L.G. Li, C.H. Huo, Y.C. Gu, et. al.
2008. Chemical Constituent of the Plants of the Genus Calophyllum,
Chemistry & Biodirversity, Vol. 5, 2579-2608.
Morel, C., D. Seraphin, A. Teyrouz, G. Larcher, J. P. Bouchara, M. Litaudon, P.
Richomme, J. Bruneton, 2002. Antimalarial xanthones from Calophyllum
caledonicum and Garcinia vieillardii, Planta Med, 68, 41.
Morel, C., A. Emmanuelle, M. Litaudon, T. Sévenet, D. Séraphin, J. Bruneton,
and P. Richomme, 2002. Thirteen New Xanthone Derivatives from
Calophyllum caledonicum (Clusiaceae), Planta Med, 68, 41.
Nigam, S.K., P. Banerji, S. Rebuffat, M. Cesario, M. Pawards, and B. Bernard,
1988. Soulattrone A, A C24 Terpenoid From Calophyllum Soulattri,
Phytochemistry, Vol. 27, No. 2, 527-530.
Noldin, Vania Floriani, Daniela Buffon Isaias and Valdir Cechinel Filho, 2006.
Calophyllum genus: chemical and pharmacological importance, Quim.
Nova, Vol.29, 549-554.
Padmawinata, K. Dan I. Soediro, 1987. Metode Fitokimia : Penuntun Cara
Modern Menganalisis Tumbuhan, Cetakan Kedua, Penerbit ITB, Bandung,
Terjemahan : Phytochemical Methods, Harborne, J.B, 1984. Chapman and
Hall Ltd, London.
Padmawinata, K., 1996, Pengantar Kromatografi, Edisi kedua, ITB, Bandung,
Terjemahan : Introduction to Chromatography, Gritter, R.J; 1985, Holden
Day Inc, USA.
Patil, D., A. J. Freyer, D. S. Eggleston, R. C. Haltiwanger, M. F. Bean, 1993. The
Inophyllums, Novel Inhibitors of HIV-1 Reverse Transcriptase Isolated
from the Malaysian Tree, Calophyllum inophyllum Linn, Journal Medical
Chemistry, Vol. 36, No. 26, 4130-4138.
Pretto, J. B, Valdir Cechinel-Filho,Vania F.Noldin, R. K. Mara, E. B. D. Isaias,
and Alexandre Bella Cruz, 2004. Antimicrobial Activity of Fractions and
Compounds from Calophyllum brasiliense (Clusiaceae / Guttiferae),
UNIVALI, Vol. 88.
48

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
64
Rohman, A., 2007. Kimia Farmasi Analisis. Cetakan Pertama. Pustaka Pelajar,
Yogykarta.
Rusdi. 1998. Tetumbuhan Sebagai Sumber Bahan Obat, Padang , Pusat Penelitian
Universitas Andalas.
Sastrohamidjojo, H, 1991. Spektroskopi, Liberty, Yogyakarta.
Sastrohamidjojo, H, 1992. Kromatografi, Liberty, Yogyakarta.
Smith, Janice Gorzynski, 2006. Organic Chemistry, McGraw-Hill Companies,
Inc, New York.
Stevens P.F, 1980. A revision of the old world species antibiotics, Plant Med. 68,
541-543, 117-699.
Still, W.C., M. Kahn, and A. Mitra, 1978. Rapid Chromatographic Technique for
Preparative Separations with Moderate Resolution, Journal Organic
Chemistry, Vol.43, No.14, 2923-2925.
Su, Xiao-Hui, Man-Li Zhang, Li-Geng-Li, Chang-Hong Huo, Yu-Cheng Gu, et
al., 2008. Chemical Constituents of the plants of the Genus Calophyllum,
Chemistry and Biodiversity, Vol. 5, 2579-2608.
Subramanian, S.S., and A.G.R. Nair, 1971. Myricetin-7-Glucoside from the
Andraecium of the Flowers of Calophyllum inophyllum, Phytochemistry,
Vol. 10, 1679-1680.
Syahputra E, 2005. Bioaktivitas insektisida botani Calophyllum soulattri Burm.
F. (Clusiaceae) sebagai pengendali hama alternatif, Bogor:Sekolah
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Syahputra E, Manuwoto S, Darusman LK, Dadang, Prijono D, 2004a. Aktivitas
insektisida bagian tumbuhan Calophyllum soulattri Burm.f. (Clusiaceae)
terhadap larva Lepidoptera, JHPT Trop, Vol 4, 23-31.
Syahputra E, Prijono D, 2006. Physiological Response of Crocidolomia pavonana
to the Calophyllum soulattri Active Fraction, Hayati, hlm. 7-12.
Yimdjo, M.C., A.G. Azebaze, A.E. Nkengfack, A.M. Meyer, et. al., 2004.
Antimicrobial and Cytotoxic Agents from Calophyllum inophyllum,
Phytochemistry, Vol. 65, 2789-2795.
49

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
65
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Hasil Determinasi Calophyllum soulattri
50

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
66
Lampiran 2. Perbesaran spektra 13
C NMR pada δC 217,59-133,53 ppm
Lampiran 3. Perbesaran spektra 13
C NMR pada δC 122,32-70,5 ppm
Lampiran 4. Perbesaran spektra 13
C NMR pada δC 54.92-29,54 ppm
51

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
67
Lampiran 5. Perbesaran spektra 13
C NMR pada δC 27,85-19,01 ppm
Lampiran 6. Perbesaran spektra 13
C NMR pada δC 18,26-11,79 ppm
Lampiran 7. Perbesaran spektra 1H NMR pada δH 5,26-3,65 ppm
52

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
68
Lampiran 8. Perbesaran spektra 1H NMR pada δH 3,2-2,04 ppm
Lampiran 9. Perbesaran spektra 1H NMR pada δH 2,17-1,43 ppm
Lampiran 10. Perbesaran spektra 1H NMR pada δH 1,45-1,04 ppm
53

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
69
Lampiran 11. Perbesaran spektra 1H NMR pada δH 0,93-0,77 ppm
Lampiran 12. Spektra HMQC pada senyawa hasil isolasi fraksi C1d
Lampiran 13.Perbesaran spektra HMQC pada δH 7,3-4,8 ppm dan δC 120-80 ppm
54

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
70
Lampiran 14. Perbesaran spektra HMQC pada δH 3,6-2,3 ppm dan δC 50-20 ppm
Lampiran 15. Perbesaran spektra HMQC pada δH 1,8-1,1 ppm dan δC 32-22 ppm
Lampiran 16. Perbesaran spektra HMQC pada δH 1,7-0,8 ppm dan δC 21-10 ppm
55