Isi Lapsus Anestesi - 2

download Isi Lapsus Anestesi - 2

of 16

  • date post

    02-Feb-2016
  • Category

    Documents

  • view

    11
  • download

    0

Embed Size (px)

description

GA kraniotomi

Transcript of Isi Lapsus Anestesi - 2

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Massa intrakranial dapat berupa kongenital, neoplastik (benigna atau maligna),

    infeksi (abses atau kista), atau vaskular (hematom atau malformasi). Kraniotomi adalah

    prosedur yang paling sering digunakan untuk tatalaksana neoplasma otak. Tumor primer

    biasanya berasal dari sel glia (astrositoma, oligodendroma, atau glioblastoma), sel

    ependimal (ependimoma), atau jaringan penyokong (meningioma, schwannoma, atau

    papilloma koroid)

    Tanpa memperhatikan penyebabnya, massa intrakranial yang hadir ditentukan

    berdasarkan prtumbuhannya, lokasi, dan tekanan intrakranial. Massa yang tumbuh

    lambat biasanya tidak menimbulkan gejala dalam waktu lama, berbeda dengan massa

    yang tumbuh secara cepat biasanya akan menimbulkan gejala walaupun ukurannya

    tidak terlalu besar. Gejala yang sering muncul adalah nyeri kepala, kejang, gangguan

    fungsi kognitif dan neurologis secara umum, dan defisit neurologis fokal. Gejala yang

    mengarah ke massa supratentorial meliputi kejang, hemiplegi, atau afasia, dimana gejala

    yang muncul akibat massa infratentorial adalah disfungsi serebral (ataksia, nistagmus,

    dan disartria), atau kompresi batang otak (kelumpuhan nervus kranilais, penurunan

    kesadaran, atau respirasi abnormal). Jika tekanan intrakranial meningkat, maka tanda-

    tanda hipertensi intrakranial juga akan muncul.

    Evaluasi preoperative pada pasien yang akan menjalani kraniotomi harus

    dilakukan untuk menentukan ada tidaknya hipertensi intrakranial. Teknik anestesi yang

    digunakan pada pasien yang menjalani kraniotomi adalah anestesi umum dengan selalu

    memperhatikan tekanan darah.

  • 2

    BAB II

    LAPORAN KASUS

    II.1 Hasil Kunjungan

    1. Identitas

    Nama : Ny. R

    Usia : 24 Tahun

    Jenis Kelamin : Perempuan

    Alamat : Talang keramat, Palembang

    No. Rekam Medis : 315866

    Ruangan : Dahlia

    Diagnosa : SOL

    Tindakan : Kraniotomi

    2. Anamnesis

    a. Kebiasaan

    Pasien tidak memiliki kebiasaan merokok

    b. Alergi

    Pasien tidak memiliki riwayat alergi obat, makanan, maupun udara

    c. Riwayat Penyakit

    Pasien mengakui memiliki riwayat hipertensi sejak 3 tahun terakhir dan

    terkontrol dengan obat. Pasien tidak memiliki riwayat asma, penyakit

    jantung, ginjal, hepar, diabetes mellitus dan kecelakaan/trauma.

    d. Riwayat Operasi

    Pasien belum pernah dioperasi sebelumnya

    e. Keadaan Saat Ini

    Pasien tidak sedang demam, batuk maupun flu. Saat ini keluhan pasien

    berupa nyeri kepala.

    3. Pemeriksaan Fisik

    a. Keadaan Umum : tampak sakit sedang

    b. Kesadaran : compos mentis

  • 3

    c. Status Gizi : BB 58 kg

    d. Tanda Vital:

    TD : 150/87 mmHg

    RR : 20 x/menit

    N : 72 x/ menit

    S : 36,00C

    e. Kepala dan Leher: normochepal, konjungtiva anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-)

    f. Thorax

    Jantung

    Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak

    Palpasi : Ictus cordis teraba

    Perkusi :

    o Batas atas kiri: ICS II LPS sinistra o Batas atas kanan:ICS II LPS Dekstra o Batas bawah kiri : ICS V LMC Sinistra o Batas bawah kanan: ICS IV LPS Dextra

    Auskultasi : S1-S2 reguler, gallop (-), murmur (-)

    Paru

    Inspeksi : pergerakan simetris saat statis dan dinamis, retraksi (-)

    Palpasi : vokal fremitus kanan sama dengan kiri

    Perkusi : Sonor kedua lapang paru

    Auskultasi: vesikular breath sound (+), rhonkhi (-), wheezing (-)

    Abdomen

    Inspeksi : Perut datar, distensi (-)

    Auskultasi : BU (+)

    Perkusi : Timpani

    Palpasi : Nyeri tekan (-)

    Ekstremitas : jejas (-), bekas trauma (-), massa (-), sianosis (-), turgor

    kulit cukup, akral hangat

    Mallampati Skor : 1 (tampak pilar faring, palatum mole, dan uvula)

    Bukaan mulut : 3 jari pasien

    Jarak mento-hyoid : 2 jari pasien

  • 4

    Jarak tiro-hyoid : 2 jari pasien

    4. Pemeriksaan Penunjang

    a. Laboratorium

    Leukosit : 13,8 ribu/mm3

    Hb :12,7 g/dl

    Ht : 36 %

    Trombosit : 353 ribu/mm3

    PT : 10,8 detik

    APTT : 23,6 detik

    BT : 3 menit

    CT : 6 menit

    SGOT : 42 U/L

    SGPT : 37 U/L

    Ureum : 17 mg/dl

    Kreatinin : 0,7 mg/dl

    Na/Cl : 140/104

    Kalium : 3,4

    GDS : 254 mg/dl

    b. Rontgen Thorax

    Kesan : cor, pulmo, pleura, sinus dan diafragma, dalam batas normal

    c. CT Scan Kepala

    Kesan : Massa struktur inhomogen dengan tepi hemorrhage, lobulated,

    ukuran 6,5x6,3 cm pada region frontal kiri disertai peritumoral edema

    cerebri yang mendesak ventrikel lateral kiri kanan terutama kornu anterior,

    penyempitan sulkus kortikalis dan fissure silvii kanan kiri, pendesakan falk

    anterior ke kanan serta mid line shifting ke kanan.

    DD : Meningioma; astrocytoma.

  • 5

    5. Kesan ASA (The American Society of Anesthesiologist)

    ASA 2 (Pasien dengan penyakit sistemik sedang; hipertensi terkontrol,

    hiperglikemia)

    II.2 Status Anastesi

    Anastesi dilakukan pada posisi terlentang dengan posisi kepala dielevasikan 150.

    Lama anastesi 3 jam (pukul 08.30 11.30) dan lama operasi 2.5 jam (pukul 08.45-

    11.15).

    1. Rencana Anestesi : anestesi umum dengan intubasi

    a. Premedikasi

    Fentanyl (1-3 g/kgBB) = 58 mcg 174 mcg 100 mcg

    Sediaan 2cc : 50 g/cc 2 cc

    b. Induksi

    Propofol (2-3 mg/kgBB) = 116 mg 174 mg 150 mg

    Sediaan 20 cc: 10 mg/ml 15 cc

    c. Pelumpuh Otot

    Attracurium (0,5-0,6 mg/kgBB) = 29 mg 34.8 mg 30 mg

    Sediaan 2,5cc: 10 mg/ml 3 cc

    Rumatan (0,1 mg/kgBB) = 0,1 x 58 = 5,8 mg 5 mg = 0,5 cc

    d. Pemasangan ETT

    Dewasa wanita digunakan ETT biasa dengan cuff ukuran 7,0

    e. Maintenance

    N2O & O2 serta sevofluran 2 Vol%

    BMR O2 : 3-5 ml/kgBB

    : 174 290 ml 250 ml x 12 = 3000 ml = 3 L

    N2O : O2 = 1 : 1 = 2 L : 2 L

  • 6

    f. Monitoring :

    o Pemantauan adekuatnya jalan nafas dan ventilasi selama anestesia : pengamatan tanda klinis (kualitatif) seperti pergerakan dada, observasi

    reservoir breathing bag, serta pastikan stabilitas ETT tetap terjaga

    terutama karena akses jalan napas tidak didapatkan selama prosedur

    kraniotomi.

    o Pemantauan oksigenasi selama anestesia : pemantauan dibantu dengan pemasangan pulse oximetri untuk mengetahui saturasi O2

    o Pemantauan adekuat tidaknya fungsi sirkulasi pasien : o Pemantauan tekanan darah arterial dan denyut jantung

    o Pemantauan kebutuhan cairan pasien selama anestesia Input : berupa Infus (kristaloid dan solusi koloid)

    Output : Perdarahan, urin

    Perhitungan

    Maintenance : (4x10) + (2x10) + (1x38) = 98 ml

    Operasi (6 ml/kg/jam) : 348 ml

    Puasa (6 jam) : 6 x 98 = 588 ml

    Pemberian

    Jam I : puasa + Maintenance + Operasi = 294 + 98 + 348 = 740

    Jam II : puasa + Maintenance + Operasi = 294 + 98 + 348 = 740

    Jam III : Maintenance + Operasi = 98 + 348 = 446

    Kebutuhan cairan selama operasi 740 + 740 + 446 = 1656 ml

    Cairan yang diberikan selama anestesi RL jumlah 1500 cc, HES 6%

    jumlah 500 cc

    Cairan yang keluar selama operasi

    - Urin 700 ml

    - Perdarahan 500 cc

    - Total jumlah cairan keluar 1200 ml

  • 7

    Tabel 1. Pemantauan Tanda-Tanda Vital Selama Operasi

    Sistol Diastol Nadi MAP 08.30 150 87 98 108 08.45 122 88 80 99 09.00 98 62 72 74 09.15 96 58 69 70 09.30 98 60 69 72 09.45 94 54 63 70 10.00 94 49 63 64 10.15 96 48 61 64 10.30 98 53 59 68 10.45 101 56 60 71 11.00 113 63 65 79 11.15 108 64 65 78 11.30 114 68 60 83

    o Lain-lain : Inj. Furosemide 20 mg

    Inj. Ondancentron 8 mg

    Inj. Ketorolac 30 mg

    Inj. Asam Tranexamat 1 g

    Inj. Neostigmin 1,5 mg + Atropine 0.5 mg (3 : 2)

    g. Recovery Room (Aldrette Score)

    Kesadaran : 1 (bangun cepat namun kembali tertidur)

    Pernafasan : 2 (dapat nafas dalam, batuk)

    0 20 40 60 80 100 120

    MAP (Mean Arterial Pressure)

    MAP

  • 8

    Tekanan darah : 1 (TD berubah 20 - 50%)

    Aktivitas : 2 (4 ekstremitas dapat digerakkan)

    Warna kulit/SpO2 : 2 (merah muda (pink), tanpa O2, SaO2 > 92%)

    TOTAL : 8

    h. Tindak Lanjut

    o Observasi tanda-tanda vital post operasi o O2 nasal kanul 3 LPM o Ketorolac 3x30 mg (iv) o Ondansentron 2x4 mg (iv) o Diet bertahap

  • 9

    BAB III

    TINJAUAN PUSTAKA

    Teknik anestesi harus disesuaikan apabila terdapat peningkatan tekanan

    intrakranial (hipertensi intrakranial) dan perfusi marginal serebral. Sebagai

    tambahannya, banyak ahli bedah saraf membutuhkan posisi pasien (mis, duduk,

    tengkurap) yang dapat menimbulkan komplikasi dalam prosedur anestesi.

    III.1. Hipertensi Intrakranial

    Hipertensi intrakranial didefinisikan sebagai peningkatan tekanan intrakranial

    diatas 15 mmHg. Hipertensi intrakranial dapat disebabkan oleh bertambahnya massa

    jaringan atau cairan, penekanan pada fraktur tulang kepala, intervensi pada absorpsi

    cairan serebrospinal (CSS), volume darah serebral yang sangat banyak, atau edema

    otak. Peningkatan tekanan darah arterial periodik dengan penurunan refleks denyut

    jantung (respon Cushing) berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial yang

    berlangsung selama 1 15 menit.

    Tatalaksana hipertensi intrakranial secara ideal harus ditujukan pada penyebab

    utamanya. G