Isi Autisme

download Isi Autisme

of 29

  • date post

    21-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    17
  • download

    2

Embed Size (px)

description

autisme

Transcript of Isi Autisme

BAB I

PENDAHULUAN

Autisme adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan gangguan perkembangan pervasive pada anak, yang mengakibatkan gangguan pada bidang bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.1Dewasa ini terdapat kecenderungan peningkatan kasus-kasus autisme pada anak (autisme infantil). Umumnya keluhan utama yang disampaikan oleh orang tua adalah keterlambatan bicara, perilaku aneh dan acuh tak acuh, atau cemas apakah anaknya tuli.2Mencoba memahami anak yang mengidap autisme berarti harus membayangkan anak yang terisolir dari dunianya. Anak yang tidak bisa membentuk ikatan emosional dengan orang-orang disekitarnya, sehingga tampak beda, aneh dan seakan terasing. Walau gejala autisme sangat beragam, namun kebanyakan dari mereka tidak mampu untuk mengerti apa yang dipikirkan, dirasakan dan diinginkan orang lain. Bahkan seringkali karena kecerdasan dan kemampuan bahasanya tidak berkembang sempurna, maka komunikasi dan hubungan sosialnya menjadi semakin sulit. Disamping itu tanda yang cukup menonjol adalah umumnya mereka melakukan aktivitas yang berulang-ulang (obsesif, stereotipik) seperti bicara dengan kalimat yang diulang-ulang, gerakan seperti menepuk-nepuk, memukul-mukul, bahkan kadang membenturkan kepalanya ke tembok.2

Gangguan ini ditemukan oleh Leo Kanner pada tahun 1943. Autisme terdapat pada semua negara di dunia, serta tidak memandang ras, etnis, agama maupun latar belakang sosial ekonomi.1,2 Secara global prevalensinya berkisar 4 per 10.000 penduduk, dan pengidap autisme laki-laki lebih banyak dibandingkan wanita ( 4 kalinya). Pada wanita seringkali lebih berat dan ditemukan adanya riwayat keluarga dengan gangguan kognitif. Dalam klasifikasi penyakit, gangguan ini termasuk kelompok PPD (Pervasive Developmental Disorders) dan Autistic Spectum Disorders. Di Indonesia belum ada angka yang tepat mengenai angka kejadian autisme.3 Banyak penyandang autisme terutama yang ringan tidak terdiagnosis atau bahkan mendapat diagnosis yang salah. Hal ini tentu saja merugikan anak tersebut. Di sisi lain, ada kekuatiran bahwa terjadi overdiagnosis dari autisme.4Autisme bukanlah gangguan fungsional semata, namun didasari oleh gangguan organik dalam perkembangan otak.2 Beberapa studi mengemukakan terjadi gangguan neurobiologik yang meliputi tanda dan gejala neurologik yang samar, adanya perubahan neurokimiawi, kelainan neuroanatomi, faktor genetik dan kemungkinan berhubungan dengan beberapa penyakit atau keadaan seperti fenilketonuria, rubella, tuberosklerosis, sindroma Fragile-X dan sindroma Rett. Namun penyebab spesifik dari autisme pada 90-95% adalah tidak diketahui.1 Sehingga penanganan maupun riset autisme ini melibatkan banyak bidang, baik kedokteran, pendidikan, psikologi, sosial dan sebagainya.2 BAB II

AUTISME

II.1. DEFINISI

Autisme berasal dari bahasa Yunani, auto yang berarti sendiri merupakan suatu gangguan perkembangan fungsi otak yang mencakup bidang sosial dan afek, komunikasi verbal dan non-verbal, imajinasi, fleksibilitas, lingkup interest (minat), kognisi dan atensi, ini merupakan suatu kelainan dengan ciri perkembangan yang terlambat atau yang abnormal dari hubungan sosial dan bahasa.1,2

Autisme secara tipikal ditandai sebagai bagian dari kelompok gangguan yang terdiri dari sindrom Asperger (AS) dan gangguan menetap / pervasive developmental disorders (PDD) lainnya. AS dibedakan dari gangguan autistik oleh keterlambatan yang bermakna secara klinik dalam perkembangan bahasa (1 kata pada umur 2 tahun), selain gejala-gejala kegagalan interaksi sosial dan tingkah laku, perhatian/aktifitas yang terbatas dan berulang yang menandai autism-spectrum disorders (ASDs). PDD digunakan untuk mengkategorikan anak-anak yang kriterianya kurang sesuai untuk autisme tetapi mereka sangat mendekati diagnosis autisme dengan 2-3 gejala autisme. Autisme infantil (autisme pada masa anak-anak) adalah PDD yang awitannya muncul sebelum umur 30-36 bulan dan kegagalan pada interaksi sosial dan komunikasi berhubungan dengan pola tingkah laku yang terbatas, berulang (repetisi) dan stereotipi.5

Adapun gangguan-gangguan yang timbul pada penderita autisme dapat meliputi berbagai bidang, diantaranya:41. Gangguan dalam bidang komunikasi verbal maupun non verbal.

Terlambat bicara atau tidak dapat bicara. Mengeluarkan kata-kata yang tak dapat dimengerti oleh orang lain yang sering

disebut sebagai bahasa planet. Tidak mengerti dan tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai. Meniru (ekolalia) tanpa mengerti artinya. Kadang bicaranya monoton seperti robot dan mimik datar.2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial. Menolak atau menghindar untuk bertatap mata. Tidak menoleh bila dipanggil, sehingga sering dikira mengalami ketulian. Merasa tidak senang bila dipeluk. Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang. Bila menginginkan sesuatu maka ia menarik lengan orang yang terdekat dan mengharapkan tangan tersebut melakukan sesuatu untuknya. Bila didekati untuk bermain justru menjauh. Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain.

3. Gangguan dalam bidang perilaku dan bermain. Umumnya seperti tidak mengerti cara bermain. Anak dapat terlihat hiperaktif (tidak bisa diam, melompat, berputar), sehingga

sering salah diagnosis dengan ADHD (attention deficit hyperactivity disorder). Kadang anak terlalu diam (duduk diam dengan tatapan mata yang kosong).

4. Gangguan dalam bidang perasaan/emosi. Tidak ada atau kurangnya rasa empati. Tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah tanpa sebab yang nyata. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum), terutama bila tidak bisa

mendapatkan apa yang diinginkan, bahkan bisa menjadi agresif dan destruktif.5. Gangguan dalam persepsi sensoris. Mencium-cium, menggigit atau menjilat mainan atau benda apa saja. Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga. Tidak menyukai rabaan atau pelukan. Bila digendong cenderung merosot untuk melepaskan diri dari pelukan. Merasa sangat tidak nyaman bila memakai pakaian dari bahan tertentu.II.2. PREVALENSI

Autisme terdapat pada semua negara di dunia, serta tidak memandang ras, etnis, agama, maupun latar belakang sosial ekonomi.2 Secara global prevalensinya berkisar 4 per 10.000 penduduk, dan pengidap autisme laki-laki lebih banyak dibandingkan wanita (lebih kurang 4 kalinya). Pada wanita seringkali lebih berat dan ditemukan adanya riwayat keluarga dengan gangguan kognitif. Di Indonesia belum ada angka yang tepat mengenai angka kejadian autisme.3II.3. ETIOLOGI

Autisme bukanlah gangguan fungsional semata, namun didasari oleh gangguan organik dalam perkembangan otak.2 penyebab spesifik dari autisme pada 90-95% adalah tidak diketahui.1 Sehingga penanganan maupun riset autisme ini melibatkan banyak bidang, baik kedokteran, pendidikan, psikologi, sosial dan sebagainya.2 Ada beberapa bukti yang sudah terkumpul untuk mendukung penyebab autisme:61. Faktor psikodinamik dan keluarga.

2. Kelainan organik-neurologik-biologik.

3. Faktor genetik.

4. Faktor imunologik.

5. Faktor perinatal.

6. Faktor neuroanatomi.

7. Faktor biokimia.Secara umum autisme disebabkan adanya gangguan perkembangan neurobiologik yang mengakibatkan adanya gangguan struktur maupun fungsi otak. Beberapa bagian otak yang diduga terlibat dalam autisme adalah amigdala, yaitu pusat pengendalian emosional terhadap rangsangan dari luar dan hipokampus yang penting dalam fungsi memori. sel-sel saraf yang terdapat di amigdala ditemukan bentuknya kecil, abnormal dan tampak lebih padat dibanding sel normal. Dari hasil penelitian juga ditemukan adanya sirkulasi darah yang lebih lambat pada beberapa bagian lapisan luar otak (korteks), dan menurunnya jumlah sel yang bertugas meneruskan sinyal-sinyal penghambat gerakan tubuh yang berpusat di otak kecil (serebelum) ke korteks. Dengan foto MRI didapat gambaran pengisutan (hipoplasi) serebelum dan sisterna limbik. Tanda-tanda ini mengarahkan para ahli pada suatu hipotesis, bahwa awal terjadinya autisme infantil adalah sebelum lahir.7Akhir-akhir ini ditemukan bahwa pada otak penderita autisme, secara makroskopis ukuran otaknya lebih besar dibanding normal. Dicurigai pembesaran ini karena kegagalan proses perampingan/pemangkasan sel-sel saraf (apoptosis) yang tidak diperlukan lagi pada saat perkembangan otak berlangsung. Jawaban yang lebih pasti dan rinci atas pertanyaan dimana dan bagaimana bentuk gangguan otak anak autisme sampai sekarang belumlah diketahui secara pasti.7

Pada pemeriksaan menggunakan PET ditemukan penurunan sintesis 5-HT di korteks dan thalamus. Namun di plasma maupun di platelet ditemukan peningkatan kadar serotonin yang bisa mencapai 25%. Diperkirakan bahwa gangguan metabolisme serotonin sangat berperan dalam patologi autisme. Menurunkan triptofan dengan menginhibisi pengambilan kembali 5-HT adalah salah satu usaha untuk memperbaiki simptom autisme.3

Peningkatan opioid endogen ada kaitannya dengan perilaku melukai sendiri dan ini akan berkontribusi ke simptom lain dari autisme melalui serotoninergik dan aksis hypothalamicpituitary adrenal (HPA) secara tidak langsung sehingga terjadi sekresi proopiomelanokortin,kortisol dan oksitosin. Defisiensi melatonin menyebabkan gangguan tidur.3II.4 DIAGNOSIS AUTISME.

Diagnostic and Statistical Manual IV atau DSM-IV merupakan suatu system diagnosis yang dibuat oleh perhimpunan psikiater Amerika, sedangkan International Classification of Diseases-10 atau ICD-10 merupakan suatu sistem diagnosis yang dibuat oleh WHO. Kedua sistem ini menyebutkan tentang Pervasive Developmental Disorder. Seorang anak dapat disebut mengalami Gangguan Autistik harus memenuhi kriteria dibawah ini : A. Klasifikasi AutismeEnam atau Lebih Gejala dari (1),(2),dan (3) dengan paling sedikit 2 dari (1) dan 1 dari masing-masing (2) dan (3) 1. Ganggu