Intelegensi, sikap dan tingkah laku beragama

download Intelegensi, sikap dan tingkah laku beragama

of 32

  • date post

    30-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    258
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Intelegensi, sikap dan tingkah laku beragama

  • 1. INTELEGENSI BERAGAMA, SIKAP BERAGAMA, DAN TINGKAH LAKU BERAGAMA AI SITI NURHASANAH SRI HARDIATI PURNAMASARI L.

2. Intelegensi Beragama Intelegensi ( kecerdasan ) dalam bahasa Inggris disebut inttelligence dan dalam bahasa Arab disebut al- dzaka, menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti kemampuan ( al- qudrah ) dalam memahami sesuatu secara cepat dan sempurna. Crow dan Crow : inteligensi berarti kapasitas umum dari seorang individu yg dapat dilihat pd kesanggupan pikirannya dlm mengatasi tuntutan kebutuhan- kebutuhan baru, keadaan rohaniah secara umum yg dapat disesuaikan dg problem- problem dan kondisi- kondisi yg baru di dalam kehidupan. 3. Pada mulanya, kecerdasan hanya berkaitan dg kemampuan struktur akal ( intellect ) dlm menangkap suatu gejala, sehingga kecerdasan hanya bersentuhan dg aspek- aspek kognitif ( al- majal al- marifi ). Namun pada perkembangan berikutnya, disadari bahwa kehidupan manusia bukan semata- mata memenuhi struktur kalby yg perlu mendapat tempat tersendiri u/ menumbuhkan aspek- aspek afektif ( al- infiali ), seperti kehidupan emosional, moral, spiritual dan agama. 4. Macam- Macam Intelegensi A. Kecerdasan Intelektual ( IQ ) Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yg berhubungan dg proses kognitif seperti berpikir, daya menghubungkan dan menilai atau mempertimbangkan sesuatu. Atau kecerdasan yg berhubungan dg strategi pemecahan masalah dg menggunakan logika. Kecerdasan intelektual ini dari segi kuantitas tidak bisa dikembangkan karena merupakan pembawaan sejak lahir, namun kualitasnya dpt dikembangkan. 5. Menurut Kohnstam kualitas kecerdasan intelektual dpt dikembangkan dg beberapa syarat : 1) Pengembangan tsb hanya sampai batas kemampuan, dan tidak dpt melebihinya. Setiap orang mempunyai batas kemampuan yg berbeda. 2) Pengembangan tsb tergantung kepada cara berpikir yg metodis. 6. Tinggi rendahnya kecerdasan intelektual sso dipengaruhi oleh beberapa faktor : 1) Pembawaan, yaitu kesanggupan yg dibawa semenjak lahir dan setiap orang tdk ada yg sama. 2) Kematangan, yaitu saat munculnya daya intelek yg siap u/ dikembangkan mencapai puncaknya ( masa peka ). 3) Lingkungan, yaitu faktor luar yg mempengaruhi intelegensi pd masa perkembangannya. 4) Minat, yaitu motor penggerak dlm perkembangan intelegensi. 7. Klasifikasi IQ menurut Woodwort & Marquis NO IQ Tafsiran 1 140 keatas Genius 2 120 139 Very superior 3 110 119 Superior 4 90 109 Average 5 80 89 Dull average 6 70 79 Borderline 7 50 69 Debil/ morou 8 30 49 Ambicile 9 Dibawah 30 Idiot 8. B. Kecerdasan Emosional ( EQ ) Kecerdasan emosional mrp sebuah istilah baru yg pertama kali ditemukan oleh Salovey, psikolog dari Universitas Yale, dan Mayer dari Universitas New Hampeshire pada tahun 1990. namun istilah tsb menjadi populer ditengah- tengah masyarakat setelah Goleman menulis buku yg berjudul Emotional Intelegence. Salovey dan Mayer menggunakan istilah kecerdasan emosi u/ menggambarkan sejumlah kemampuan mengenali emosi diri sendiri, mengelola dan mengekspresikan emosi diri sendiri dg tepat, memotivasi diri sendiri, mengenali orang lain dan membina hubungan dg orang lain. 9. Fungsi dan Peranan Kedua belah Otak menurut De Porter dan Hernacke : Otak kiri ( left hemishphere ) Otak kanan ( right hemisphere ) Matematika, sejarah, bahasa Persepsi, intuisi, imajinasi Konvergen ( runtut ), sistematis Divergen Analitis Perasaan Perbandingan Terpadu, holistic Hubungan Perasaan Linier Non linier Logis Mistic, spiritual Scientific Kreatif Fragment Rasa, seni EQ : hasil kerja dari otak kanan IQ : hasil kerja dari otak kiri 10. Ari Ginanjar Agustian mengemukakan bahwa banyak orang yg memiliki kecerdasan otak saja, atau banyak memiliki gelar yg tinggi belum tentu sukses berkiprah di dunia pekerjaan. Mahmud al- Zaky mengemukakan bahwa kecerdasan emosional pd dasarnya mempunyai hub. Yang erat dg kecerdasan uluhiyah ( ketuhanan ). Jika sso tingkat pemahaman dan pengamalan nilai- nilai ketuhanan yg tinggi dlm hidupnya makaia telah memiliki kecerdasan emosional yg tinggi pula. Abdul Rahman al- Aisu mengatakan bahwa terdapat hubungan yg erat antara kecerdasan emosional dg kecerdasan ketuhanan. 11. Aspek-Aspek Kecerdasan Emosional Ari Ginanjar mengemukakan aspek-aspek yang berhubungan dengan kecerdasan emosional dan spiritual, seperti : a) Konsistensi ( istiqamah ) b) Kerendahan hati ( tawadhu ) c) Berusaha dan berserah diri (tawakkal) d) Ketulusan ( ikhlas ), dan totalitas (kaffah ) e) Keseimbangan ( tawazun ) f) Integritas dan penyempurnaan (ihsan) 12. Sedangkan Jalaluddin Rahmat mengemukakan bahwa untuk memperoleh kecerdasan emosional yang tinggi (matang), harus dilakukan hal-hal sebagai berikut : a) Musyarathah, berjanji pd diri sendiri u/ membiasakan perbuatan baik dan membuang perbuatan buruk. b) Muraqabah, memonitor reaksi dan perilaku sehari- hari. c) Muhasabah, melakukan perhitungan baik dan buruk yg pernah dilakukan d) Muatabah dan muaqabah, mengecam keburukan yg dikerjakan dan menghukum diri sendiri (sbg hakim sekaligus terdakwa) 13. Sementara itu Goleman menyatakan bahwa kecerdasan emosional pada dasarnya memiliki 5 aspek kemampuan, yaitu : a) Kemampuan mengenali emosi diri b) Kemampuan menguasai emosi diri c) Kemampuan memotivasi diri d) Kemampuan mengenali emosi orang lain e) Kemampuan mengembangkan hubungan dg orang lain 14. C. Kecerdasan Moral Kecerdasan moral ialah kemampuan untuk merenungkan mana yg benar dan mana yg salah, dengan menggunakan sumber emosional dan intelektual pikiran manusia. Indikator kecerdasan moral adalah bagaimana sso memiliki pengetahuan ttg moral yg benar dan yg buruk, kemudian ia mampu menginternalisasi moral yg benar ke dalam kehidupan nyata dan menghindarkan diri dari moral yg buruk. Menurut Abdul Mujib kecerdasan moral tdk bisa dicapai dg menghafal atau mengingat kaedah atau aturan yg dipelajari di dalam kelas melainkan membutuhkan interaksi dg lingkungan luar. 15. D. Kecerdasan Spiritual ( SQ ) Kecerdasan spiritual bukanlah doktrin agama yg mengajak manusia u/ cerdas memilih salah satu agama, ia mrp sebuah konsep yg berhubungan bagaimana sso mempunyai kecerdasan dlm mengelola makna- makna, nilai- nilai dan kualitas kehidupan spiritualnya. Kehidupan spiritual ini meliputi : hasrat untuk hidup bermakna, motivasi mencari makna hidup, dan mendambakan hidup bermakna. 16. Danah Zohar dan Ian Marshall : kecerdasan spiritual adalah kecerdasan u/ menghadapi persoalan makna atau valua, yaitu kecerdasan u/ menempatkan perilaku dan hidup kita dlm konteks makna yg lebih luas & kaya, kecerdasan u/ menilai bahwa tindakan atau jalan hidup sso lebih bermakna dibandingkan dg yg lain. SQ ( Spiritual Quotient ) adalah landasan diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. SQ mrp suatu kecerdasan yg memberi kita makna, yg melakukan kontekstualisasi, dan bersifat transformatif. 17. E. Kecerdasan Qalbiah Kecerdasan Qalbiyah adalah sejumlah kemampuan diri secara cepat & sempurna, u/ mengenal kalbu dan aktivitasnya, mengelola dan mengekspresikan jenis- jenis kalbu secara benar, memotivasi kalbu u/ membina hub. Moralitas dg orang lain dan hub. Ubudiyah dg Tuhan. Menurut Toro Tasmara, Qalbu adalah hati nurani yg menerima limpahan cahaya kebenaran Ilahiyah yaitu ruh. Dengan kalbu inilah Allah memanusiakan manusia & memuliakannya dari makhluk yg lain. Qalbu mrp suatu tempat di dalam wahana jiwa dan mrp titik sentral atau awal yg menggerakkan segala perbuatan manusia yg memiliki kecenderungan baik kepada kebenaran maupun pada keburukan. 18. Allah menjadikan kalbu manusia sbg titik sentral kesadaran manusia. Allah akan menghukum orang yg mengingkari-Nya dg kesadaran hati menerima bisikan syetan dan memaafkan jika kesalahan itu tdk disengaja disuarakan suara hati. Hal ini dinyatakan dlm firman Allah SWT : Panggilah mereka ( anak- anak angkat itu ) dengan ( memakai ) nama bapak- bapak mereka. Itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak- bapak mereka maka ( panggilah mereka sebagai ) saudara- saudaramu seagama dan maula- maulamu dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi ( yang ada dosanya ) apa yang disengaja oleh hatimu dan adalah Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. ( Q.S Al- Ahzab: 5 ) 19. Kalbu juga mempunyai potensi qalbiyah yg mampu melihat apa yg tidak dapat dilihat oleh mata kepala, sebab didalamnya terdapat ayn al- bashirah ( mata batin ). Sayyid Mujtaba Musawi Hari menamakan kalbu dengan hati nurani . Qalbu ( hati nurani ) selain memiliki fungsi indrawi juga memiliki nilai moral dan etika yg hanif. Nilai- nilai mrp hal yg inheren dengan yg tercerahkan. Firman Allah SWT : Kemudian Ia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalam tubuhnya ruh ( ciptaan )- Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, ( tetapi ) kamu sedikit sekali yg bersyukur. ( Q.S as- Sajadah: 9 ) 20. Kecerdasan kalbu menurut Abdul Mujib tumbuh melalui aktualisasi potensi- potensinya, sehingga menimbulkan perilaku qalbiah ( al- ahwal al- qalbiyah ) yg pada puncaknya memiliki beberapa kecerdasan pula. Kecerdasan kalbu yg dikembangkan tdk terbatas pada kecerdasan intelektual, emosi, moral, dan kecerdasan spiritual namun terdapat kecerdasan yg lebih esensial yaitu kecerdasan beragama atau bertuhan. Kecerdasan beragama yg memberi makna ibadah pd setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah- langkah dan pemikiran yg bersifat fitrah menuju manusia seutuhnya ( hanif ) dan memiliki pola pemikiran tauhid ( integralistik ) serta berprinsip hanya karena Allah. 21. Jenis Kecerdasan Qalbiyah menurut Abdul Mujib : 1. Kecerdasan intelektual ( intuitif ), yaitu kecerdasan kalbu yg berkaitan dengan penerimaan & pembenaran pengetahuan yg bersifat intuitif- ilahiah seperti wahyu ( u/ para rasul dan nabi ) dan ilham atau firasat ( u/ manusia biasa yg shaleh ). 2. Kecerdasan emosional, yaitu kecerdasan kalbu yg berkaitan dg pengenda