Inkontinensia Urine

download Inkontinensia Urine

of 22

  • date post

    01-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    112
  • download

    5

Embed Size (px)

description

Inkontinensia Urine

Transcript of Inkontinensia Urine

INKONTINENSIA URINE

I. PENDAHULUANInkontinensia urine didefinisikan oleh International Continence Society sebagai kehilangan urine secara involunter yang mewakili masalah higienis dan sosial pada tiap individu. Inkontinensia urine dapat dianggap sebagai gejala yang dilaporkan pasien, dapat juga sebagai suatu tanda yang ditemukan saat dilakukan pemeriksaan dan dapat juga berbentuk suatu gangguan.(1, 2) Inkontinensia urine tidak dianggap sebagai suatu penyakit karena tidak ada etiologi yang spesifik bagi kondisi ini, dan tiap kasus bersifat multifaktorial. Etiologi bagi inkontinensia urine ini dapat beragam dan dalam kebanyakan kasus tidak dapat difahami sepenuhnya. (1-3) Terdapat empat jenis inkontinensia urine yang didefiniskan dalam Clinical Practice Guideline yang dikeluarkan oleh Agency for Health Care Policy and Research, yaitu; stress, urge, mixed dan overflow. Inkontinensia urine tipe stress ditandai dengan kebocoran urine yang terjadi saat adanya peningkatan tekanan intra-abdominal, pada saat tertawa, bersin, batuk, menaiki tangga atau stres fisik lainnya. Inkontinensia tipe urge adalah kebocoran urine involunter yang disertai dengan urgensi. Inkontinensia urine tipe mixed adalah kombinasi dari stress dan urge yang ditandai dengan kebocoran terkait urgensi dan peningkatan tekanan intra-abdominal.(1, 3-5) II. EPIDEMIOLOGIPrevalensi kejadian inkontinensia urine yang tepat sukar untuk ditentukan. Antara kesulitan yang ditemukan adalah dalam menentukan derajat, kuantitas dan frekuensi kehilangan urine yang esensial dalam menentukan suatu kondisi patologis.(3, 4)Sebanyak 50-70% wanita dengan kondisi inkontinensia urine gagal untuk mendapatkan evaluasi dan rawatan akibat stigma sosial. Hanya 2-5% individu dengan inkontinensia yang mendapat perawatan yang sesuai. Rata-rata individu dengan kondisi inkontinensia urine ini menunggu 6-9 tahun sebelum mendapatkan konsultasi dan perawatan medis.(3, 4) Inkontinensia urine diperkirakan mengena 10-13 juta penduduk di Amerika Serikat dan sekitar 200 juta individu di seluruh dunia. Inkontinensia urine tipe stress merupakan kondisi yang paling umum ditemukan pada pasien rawat jalan, mewakili 29-75% dari keseluruhan kasus. Aktivitas yang berlebihan dari otot detrusor menyumbang hingga 33% kasus inkontinensia, sedangkan sisanya disebabkan oleh bentuk campuran.(1, 4) III. ANATOMI & FISIOLOGIDinding dari kandung kemih terdiri atas beberapa lapisan dan mengandung mukosa, submukosa, otot dan lapisan adventisia. Mukosa kandung kemih terdiri atas sel epitel transisional yang didukung oleh lamina propria. Dengan volume kandung kemih yang kecil, lapisan mukosa ini membentuk permukaan yang berlipat-lipat. Namun, pada saat kandung kemih diisi dengan urine, lipatan ini kemudian akan membentang dan menipis.(1, 4)

Gambar 1: Anatomi kandung kemih: Dinding kandung kemih mengandung lapisan mukosa, submukosa, muskuler dan adventisia. (1)

Gambar 2: Gambar mikrograf dari dinding kandung kemih. Mukosa kandung kemih yang kosong membentuk lipatan rugae.(1) Lapisan otot kandung kemih dikenal sebagai otot detrusor, yang terdiri atas tiga lapisan otot yang diatur dalam anyaman pleksiform. Susunan pleksiform ini dapat berekspansi dengan cepat pada saat kandung kemih terisi dengan urine dan menjadi komponen utama dalam kemampuan kandung kemih untuk mengakodomasi volume urine yang besar.(1, 2, 4)Ketika kandung kemih terisi, kontraksi sfingter urogenital merupakan bagian integral dari kontinensia. Komponen sfingter ini meliputi sfingter uretra, sfingter urethrovaginal (UVS) dan kompresor uretra (CU). Sfingter uretra adalah otot lurik yang membungkus urethra secara sirkumferential. Sebagai perbandingan, UVS dan CU adalah pita otot lurik yang melengkungkan ventral uretra dan masuk ke dalam jaringan fibromuskular dari dinding vagina anterior.(1, 4)

Gambar 3: Anatomi sfingter urogenital.(1) Ketiga otot ini berfungsi sebagai suatu kesatuan dan berkontraksi dengan efektif untuk menutup uretra. Sfingter uretra ini terdiri atas slow twitch muscle fiber dan tetap berkontraksi secara tonik, yang memberi kontribusi pada kontinensia pada saat istirehat. Sebaliknya UVS dan CU terdiri atas fast twitch muscle fiber yang memungkinkan kontraksi cepat dan menutup lumen uretra pada saat kontinensia ditantang oleh peningkatan mendadak dari tekanan intra-abdomen.(1, 4) Otot lurik sfingter urogenital menerima persarafan motorik melalui saraf pudendal. Serabut saraf somatik ini mengontrol otot lurik sfingter urogenital secara volunter. Dengan demikian, neuropati pudendal yang dapat terjadi setelah persalinan lama dapat mempengaruhi fungsi normal dari otot-otot ini. Selain itu, operasi panggul sebelumnya atau radioterapi panggul juga dapat merusak saraf, pembuluh darah dan jaringan lunak sekitarnya. Hal ini dapat menyebabkan fungsi sfingter urogenital yang tidak efektif dan selanjutnya menyebabkan inkontinensia.(1, 2, 4)

Gambar 4: Innervasi kandung kemih dan uretra.(1)Pada saat kandung kemih terisi, sinyal aferen sensorik akan diteruskan ke medulla spinalis melalui saraf pelvis dan hipogastrikus, yang kemudian akan diteruskan ke pusat berkemih di pons melalui traktus spinotalamikus lateral dan kolum dorsal. Stimulasi simpatis yang ditransmisikan melalui nervus hipogastrikus berperan mempertahankan aktivitas otot polos dari sfingter uretra dan membantu dalam relaksasi otot detrusor untuk penyimpanan urine. Pada waktu yang sama, sinyal somatik eferen ke otot lurik di dasar panggul yang ditransfer melalui saraf pudendal menyediakan aktivitas sfingter uretra secara volunter dan augmentasi pada resistensi urethra pada saat terjadinya peningkatan tekanan dalam kandung kemih. Ketika intensitas sinyal aferen meningkat pada saat pengisian kandung kemih, ambang batas kesadaran dicapai, dimana akan timbul sensasi untuk berkemih. Pada saat itu, sinyal dari pusat berkemih di pons akan dibawa ke bagian sakral medulla spinalis melalui traktus retikulospinal dan kortikospinal. Setelah itu akan terjadi stimulasi kolinergik parasimpatis pada detrusor dan refleks relaksasi otot lurik dasar panggul dan proses berkemih akan terjadi.(1, 2, 4) Serabut saraf simpatis akan melewati saraf pleksus hipogastrikus dan berkomunikasi dengan reseptor alfa dan beta yang terdapat didalam kandung kemih dan uretra. Stimulasi pada reseptor beta adrenergik akan menyebabkan relaksasi otot polos dalam kandung kemih dan membantu dalam penyimpanan urine. Sebaliknya reseptor adrenergik alfa terstimulasi oleh norepinefrin dan menyebabkan kontraksi urethra, akan membantu dalam penyimpanan urine dan kontinensia.(1, 2, 4) Pada saat pengosongan kandung kemih, stimulasi simpatis akan berkurang, dan stimulasi parasimpatis akan dipicu. Khususnya, impuls pada saraf panggul akan mengstimulasi pengeluaran asetilkolin dan menyebabkan kontraksi otot detrusor. Bersamaan dengan stimulasi detrusor, asetilkolin ini merangsang reseptor asetilkolin dalam uretra dan menyebabkan terjadinya relaksasi untuk berkemih.(1, 4, 6) Sel otot polos diantara detrusor bergabung antara satu sama lain sehingga jalur listrik yang keluar dari satu sel otot ke yang berikutnya bersifat rendah resistensi. Dengan demikian, aksi potensial dapat menyebar dengan cepat ke seluruh otot detrusor untuk menyebabkan kontraksi yang cepat dari seluruh kandung kemih. Selain itu, susunan pleksiform serabut detrusor kandung kemih memungkinkan kontraksi multiarah dan ideal untuk kontraksi konsentrik pada saat pengosongan kandung kemih. (1, 4, 6)

IV. ETIOLOGI & FAKTOR RESIKOPada keadaan normal, tekanan pada vesika urinaria lebih tinggi daripada tekanan di uretra, sehingga urine akan tertinggal di dalam vesika urinaria. Pada saat terjadi peningkatan tekanan intra-abdominal, maka tekanan ini akan diteruskan ke vesika urinaria dan uretra secara merata sehingga tidak terjadi perbedaan tekanan antara vesika urinaria dan uretra. Hal ini menyebabkan terjadinya inkontinensia.(1, 7)Faktor resiko terjadinya inkontinensia urine adalah kehamilan, umur lanjut, menopause, bedah pelvis, dan kondisi kesehatan pasien itu sendiri seperti gangguan neurologis dan penggunaan obat-obatan. (1, 7, 8)Tipe dari inkontinensia urine mungkin berbeda berdasarkan usia, dengan beberapa studi menunjukkan prevalensi inkontinensia tipe stres yang lebih tinggi pada wanita dengan usia kurang dari 60 tahun. Tidak semua penelitian mengkonfirmasi temuan ini dan penyebab dari kecenderungan ini juga masih belum diketahui dengan pasti. (1, 4)Prevalensi inkontinensia urine lebih banyak terjadi pada pasien multipara dibandingkan dengan pasien nullipara. Proses persalinan mungkin menyebabkan terjadinya trauma langsung pada otot dasar panggul dan jaringan pengikat disekitarnya. Persalinan juga dapat mengakibatkan kerusakan pada saraf-saraf yang selanjutnya menyebabkan disfungsi pada otot panggul.(1, 4, 9) Beberapa studi secara inkonsisten telah menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kejadian disfungsi urinearia setelah usia post-menopause. Menurut penelitian dari Iosif 1981, reseptor estrogen banyak ditemukan di uretra, otot pubokoksigeus dan trigonum kandung kemih. Dipercayai terjadinya perubahan pada kolagen akibat dari hipoestrogenik, berkurangnya vaskularisasi uretral dan penurunan volume otot skelet yang secara kolektif menyebabkan gangguan pada fungsi uretra dengan mekanisme penurunan tekanan pada uretra pada saat istirahat.(1, 4, 9)

V. PATOFISIOLOGIInkontinensia urine tipe stress disebabkan oleh tekanan luar dari kandung kemih yang melebihi tekanan penutupan sfingter uretra. Otot-otot detrusor vesika menjadi tidak aktif atau tidak berkontraksi. Pada kebanyakan kasus, relaksasi pelvis menyebabkan leher kandung kemih menjadi hipermobil sehingga pada saat terjadi peningkatan tekanan intra-abdominal, dalam waktu yang singkat akan diteruskan ke kandung kemih dan uretra. Ini akan meningkatkan tekanan intravesika dan intrauretra dan selanjutnya menyebabkan terjadinya inkontinensia urine.(1, 4)P