Indepth report konsumtivisme dan tergusurnya ruang publik di internet

download Indepth report konsumtivisme dan tergusurnya ruang publik di internet

of 24

  • date post

    21-Oct-2014
  • Category

    Documents

  • view

    892
  • download

    0

Embed Size (px)

description

 

Transcript of Indepth report konsumtivisme dan tergusurnya ruang publik di internet

Indepth Report

Konsumtivisme dan Tergusurnya Ruang Publik

di Internet

Copyleft 2011 by Yayasan Satudunia

oleh:

Firdaus Cahyadi,

Segala produksi ada disini Menggoda kita 'tuk memiliki Hari-hari kita berisi hasutan

Hingga kita tak tau diri sendiri (Iwan Fals, Mimpi yang Terbeli)

I. Konsumtivisme Digital, Uang Mengalir Sampai Jauh....

Sebuah berita di detik.com1 pada 25 November 2011. Dalam portal berita itu berjudul, 90

Orang Jadi Korban Antrean Blackberry 'Murah', 3 Patah Tulang. Fenomena ini seakan

membanarkan sinyalemen makin kuatnya sikap konsumtif masyarakat seiring dengan

berkembangnya teknologi telematika (Telekomunikasi dan Informatika).

Kita semua tentu paham bahwa Blackberry bukanlah kebutuhan dasar, sehingga

seharusnya tidak perlu diperebutkan dalam memperolehnya. Blackberry tidak terkait dengan

hidup dan mati kita sebagai manusia. Namun, mengapa kita rela berdesak-desakan bahkan

mengorbankan diri kita demi sebuah Blackbarry?

Memang benar Blackbarry tidak ada kaitannya dengan hidup dan mati. Namun

kepemilikan Blackbarry terkait dengan gengsi. Karena desakan gengsi itu pulalah, maka tidak

memiliki Blackbarry seakan menjadi hidup ini tidak berarti.

Sebelumnya seperti ditulis oleh harianberita.com2, seorang siswi Sekolah Menengah

Umum (SMU) di Bogor, Jawa Barat, terjun ke bisnis prostitusi untuk membiayai gaya hidupnya

yang suka jalan-jalan ke mall dan berganti-ganti handphone. Di era digital ini, akses terhadap

produk-produk telematika seperti internet, handphone dan perangkat teknologi informasi lainnya

seakan menjadi gaya hidup. Munculnya gaya hidup online itu telah menjadikan sebagian dari

kita menjadi sangat konsumtif.

Sebuah survei yang dilakukan oleh aktivis FAKTA (Forum Warga Kota) Jakarta, sebuah

LSM yang mendampingi warga miskin kota Jakarta pada tahun 2010 lalu menarik disimak.

Menurut FAKTA, masyarkat miskin dampingannya mengeluarkan uang rata-rata Rp

30.000/bulan/KK untuk mengakses internet di warnet dan sebesar Rp 160.000/bulan/KK untuk

membeli voucher handphone. Jika ditotal maka sekitar Rp. 190 ribu/bulan/KK pengeluaran

warga miskin kota untuk belanja produk telematika.

Pengeluaran warga miskin kota untuk produk ICT itu ternyata hampir sama dengan

pengeluaran per KK warga miskin untuk kebutuhan minimum makanan per kapita per bulan

atau menurut Badan Pusat Statistics (BPS) dikenal dengan Garis Kemiskinan Makanan (GKM).

1 http://us.detiknews.com/read/2011/11/25/140451/1775592/10/90-orang-jadi-korban-antrean-blackberry-murah-3-

patah-tulang?n990102mainnews 2 http://www.harianberita.com/siswi-smu-bogor-pasang-tarif-rp-300-ribu.html

Pada tahun 2010 GKM di Jakarta mencapai Rp 213.487. Bahkan pengeluaran untuk belanja

produk telematika warga miskin itu telah melebihi pengeluaran kebutuhan minimum untuk

perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan atau Garis Kemiskinan Non-Makanan

(GKNM). Pada tahun 2010 GKNM di Jakarta sebesar Rp 117.682.

Sebegitu pentingkah handphone bagi kehidupan mereka hingga mereka rela berjejalan

untuk antre mendapatkan handphone murah? Benarkah kepemilikan akan handphone

merupakan kebutuhan atau sekedar gaya hidup yang telah disihir oleh korporasi di bidang

telematika sebagai kebutuhan?

Fenomena di atas mungkin menandai bahwa kita sedang memasuki era konsumtivisme

digital. Konsumtivisme adalah paham untuk hidup secara konsumtif, sehingga orang yang

konsumtif dapat dikatakan tidak lagi mempertimbangkan fungsi atau kegunaan ketika membeli

barang melainkan mempertimbangkan prestise yang melekat pada barang tersebut3.

Pertanyaan berikutnya tentu saja adalah kemana uang dari masyarkat kita yang telah

menjadi konsumen loyak produk telematika itu? Seperti tersebut di atas bahwa jumlah

pengguna ponsel meningkat pesat dan juga mayoritas pengakses internet di Indonesia juga

menggunakan ponsel dalam mengaksesnya. Sekarang mari kita lihat jumlah impor ponsel di

Indonesia dari tahun ke tahun.

Menurut data dari Asosiasi Importir Selullar Indonesia, seperti ditulis salah satu media

massa di Jakarta, menyebutkan bahwa pada tahun 2009, Indonesia mengimpor ponsel buatan

China sebanyak 6,3 juta unit, sementara dari negara lain sebanyak 4,2 juta unit. Pada tahun

2010, impor ponsel dari China sebanyak 9,6 juta unit dan dari negara lain menurun menjadi 2,4

juta unit.

Nah, bagaimana dengan bisnis operator selular di Indonesia? Menurut data dari

Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, menyebutkan bahwa hingga kuartal I tahun 2010,

pelanggan telkomsel sebanyak 88.950.000. Sementara pelanggan Indosat sebesar 39.100.000,

XL Axiata 32.924.000, Hutchinson 7.311.000 dan Natrindo 4.105.156.

Untuk melihat ada atau tidaknya potensi uang mengalir ke luar negeri, tentu kita harus

melihat komposisi dari pemegang saham lima besar operator selullar di Indonesia tersebut.

Menurut data dari Litbang KOMPAS menyebutkan bahwa kepemilikan asing dalam Telkomsel

mencapai 35 persen, Hutchinson 60 persen, Indosat 70,14 persen, XL Axiata 80 persen dan

Natrindo 95 persen.

3 http://www.indowarta.com/index.php?view=article&catid=102%3Aopini&id=310%3Abudaya-

konsumerisme&option=com_content&Itemid=333

Hal yang sama juga terjadi pada produk laptop. Dari tahun ke tahun impor laptop di

Indonesia semakin meningkat. Seperti ditulis oleh Kompas.com, sampai November 2009, nilai

impor komputer jinjing telah menembus 461 juta dollar AS. Angka ini melonjak 30,4 persen

dibandingkan impor laptop seluruh tahun 2008 yang hanya 353,4 juta dollar AS. Dari nilai impor

itu, laptop China menguasai 90,4 persen atau 416,7 juta dollar.

Coretan di dinding membuat resah Resah hati pencoret mungkin ingin tampil

Tepi lebih resah pembaca coretannya Sebab coretan di dinding adalah pemberontakan

Kucing hitam yang terpojok di tiap tempat sampah Di tiap kota . . . . . . . .

(Coretan di Dinding, Iwan Fals)

II. Apa itu Ruang Publik?

Melintas di jalan raya Sudirman, Jakarta. Melihat kanan-kiri jalan penuh dengan iklan-

iklan perusahaan. Dari iklan makanan hingga produk finansial (keuangan). Sepertinya kita

dirayu untuk membelanjakan seluruh uang kita, bukan sekedar untuk membeli produk barang

dan jasa namun juga untuk membeli produk investasi.

Melaju terus di jalan raya Jakarta. Hingga suatu saat mata kita tertuju pada sebuah

coretan-coretan tangan di dinding. Orang menyebutnya ini sebagai mural. Mural adalah lukisan

atau tulisan di dinding atau bidang datar lainnya. Tulisan itu berbunyi, Demi Flyover, Pohon

Geme Over,

Sumber gambar Jalan Layang Jakarta4

Tulisan mural itu sebagai wujud protes dari proyek pembangunan flyover sepanjang

Antasari-Blok M. Pembangunan jalan layang non-tol itu dinilai telah mengorbankan pohon-

pohon di kawasan itu. Mural itu seperti hendak merebut perhatian masyarakat di tengah

4 http://jalanlayangjakarta.blogspot.com/2011/02/demi-fly-over-pohon-game-over.html

berjejalnya iklan-iklan produk di sepanjang jalan Jakarta. Namun mural itu seperti minoritas di

tengah mayoritas iklan-iklan produk di sepanjang jalan Jakarta.

Fenomena di atas menunjukan pertarungan dalam memperebutkan ruang publik.

Menurut Jurgen Habermas5 bahwa ruang publik merupakan media untuk mengomunikasikan

informasi dan juga pandangan6.

Pinggir jalan raya adalah bagian fasilitas yang dibangun untuk kepentingan publik.

Pinggir jalan raya yang tersisa kini telah jadi ajang perebutan berbagai pihak untuk

mengomunikasikan informasi dan pandangannya. Pihak yang berorentasi profit, korporasi,

merebut ruang publik melalui iklan-iklannya, untuk menginformasikan produknya. Sementara,

masyarakat merebut ruang publik melalui mural, untuk tujuan sosial. Dari sekedar

mengekspresikan diri hingga bentuk protes dari berbagai kebijakan publik.

Jika pinggir jalan raya disebut ruang publik maka, ruang publik itu hanya

mengomunikasikan informasi dan pandangan dari satu pihak, atau searah. Ruang publik

lainnya, ada yang justru memfasilitasi perdebatan antar berbagai pihak tentang sebuah isu.

Ruang publik itu adalah media massa.

Namun seiring dengan berubahnya waktu, penguasaan kepemilikan media massa oleh

segelintir orang, atau lebih sering disebut sebagai konglomerasi media, mulai mengancam

ruang publik. Kenapa demikian? Karena kontrol kepemilikan media pada segelintir konglomerat

itu menyebabkan konten (isi) yang ditampilkan tidak lagi beragam. Bahkan dalam kasus tertentu

bias terhadap kepentingan pemilik media.

Amerika Serikat adalah negara yang dapat dijadikan contoh dari konglomerasi media.

Pada era tahun 1980-an hinggga pertengahan tahun 1990-an, perusahaan media massa di

Amerika Serkat terus mengalami penurunan. Tahun 1996, perusahaan media di negeri itu

hanya menyisakan lima media, yaitu Time-Warner, Viacom, News Corp., Bertelsmann Inc., dan

Disney7. Hal yang sama nampaknya juga terjadi di Indonesia, namun dengan skala yang

berbeda.

Dalam s