Imunnucompromise Pada Pasien Diabetes Mellitus

download Imunnucompromise Pada Pasien Diabetes Mellitus

of 18

  • date post

    29-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    317
  • download

    61

Embed Size (px)

description

Endokrin

Transcript of Imunnucompromise Pada Pasien Diabetes Mellitus

BAB I

BAB I

PENDAHULUAN

Prevalensi Diabetes Mellitus ( DM ) pada 2 dekade terakhir ini meningkat tajam di seluruh dunia. Demikian juga dengan IFG ( Impared Fasting Glucose ). DM tipe 1 dan 2 prevalensinya sama sama meningkat tetapi tipe 2 lebih tinggi peningkatannya, hal ini disebabkan oleh karena peningkatan kasus obesitas dan penurunan aktivitas fisik. Pada tahun 2000 prevalensi DM diperkirakan mencapai 0,19 % pada penduduk < 20 tahun dan 8,6 % pada penduduk > 20 tahun. Sedangkan individu dengan umur lebih 65 tahun prevalensinya 20,1 %.(1) Di USA diperkirakan mencapai 16 juta orang yang menderita DM, setiap tahunnya terdapat tambahan 800.000 individu yang menderita DM, dan 54.000 meninggal dunia disebabkan oleh karena diabetes (2). American Diabetes Association menyebutkan setiap tahunnya di Amerika terdapat 13.000 kasus baru diabetes pada anak (3) . Hashimoto dkk mengatakan di Jepang prevalensi diabetes sekarang ini lebih dari 6,8 juta, dan perkembangan prevalensi diabetes ini juga terjadi di kawasan negara negara Asia Tenggara. Bersamaan dengan perkembangan penyakit diabetes tentunya akan diikuti oleh komplikasi akibat diabetes (4) . Secara umum dipercaya bahwa kejadian infeksi banyak terjadi pada orang yang menderita diabetes mellitus dibandingkan dengan orang normal, dan infeksi yang terjadi menyebabkan kematian yang lebih tinggi dibandingkan orang sehat (5,6,7,8) . Shah dan Hux meneliti sebanyak 513.749 orang DM, didapatkan 46 % masuk rumah sakit atau berobat ke dokter oleh karena sakit infeksi, dan hanya 38 % hal itu terjadi pada kelompok non DM. Risiko terjadinya infeksi pada penderita DM 1,21 lebih banyak bila dibandingkan non DM (6) . Infeksi saluran kencing pada wanita DM lebih tinggi jika dibandingkan yang bukan DM, dan kejadian bakteriuria asimtomatis tiga kali lebih tinggi pada wanita DM jika dibandingkan yang bukan DM (9). Hubungan morbiditas dan mortalitas dengan infeksi pada pasien DM sangat jelas pada penelitian yang dilakukan pada pasien yang dirawat di ICU oleh karena ketoasidosis diabetika, 28 % dari pasien tersebut disebabkan oleh karena infeksi, sedangkan angka kematian dari pasien yang mengalami ketoasidosis mencapai 6 %. Dari yang meninggal dunia tersebut 43 % disebabkan oleh karena infeksi (10) .Studi yang dilakukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo ( RSCM ) Jakarta dan Rumah Sakit Dr. Moewardi ( RSDM ) Surakarta tahun 2004 kejadian sepsis paling banyak terjadi pada pasien DM mencapai 33,3 % RSCM (11) , dan 35,9 % ( RSDM ) (12). Mekanisme terjadinya infeksi yang cukup tinggi pada pasien DM diduga oleh karena terjadinya perubahan sistem imun dalam tubuh penderita diabetes mellitus diantaranya kelainan fungsi PMN dalam fagositosis, adherens, kemotaksis, fungsi monosit yang menurun, juga aktivitas bakterisidal yang menurun (5,10). Peran komplemen yang menurun, immunoglobulin menurun, juga produksi AGEP yang meningkat (13). BAB II

DEFINISIA. Diabetes mellitusDiabetes Mellitus ( DM ) merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh kadar gula darah melebihi nilai normal ( 14 ). Diabetes merupakan penyakit kronis yang membutuhkan perawatan medis terus menerus dan edukasi untuk mencegah komplikasi akut serta menurunkan risiko jangka panjang ( 3 ).Kriteria diagnosis DM menurut ADA 2005 ( 3 ):1. Terdapat gejala khas DM dan didapatkan GDS 200 mg/dl ( 11,1 mmol/l ). Gejala khas DM berupa poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. ATAU

2. FPG 126 mg/dl ( 7 mmol/l )ATAU3. 2 jam pasca pembebanan ( TTGO ) kadar gula 200 mg/dl ( 11,1 mmol/l ).

B.ImmunocompromiseImmunocompromise ( IC ) adalah keadaan dengan satu atau lebih ketidaknormalan fungsi pertahanan tubuh alami dan adaptif sehingga jika terkena infeksi cenderung membahayakan kehidupan penderita. Gangguan pada keseimbangan sistem imun dapat terjadi pada keadaan (13) :

1. Defek sistem imun humoral : defisiensi komplemen dan antibodi yang mengakibatkan gangguan pada kemampuan opsonisasi dan bakterisidal.

2. Defek sistem imun seluler : gangguan sistem fagosit ( neutrofil dan makrofag ) dan sistem imun seluler spesifik.

3. Dasar status imun : perbedaan kemampuan alami memproduksi TNF ( high and low response ) 4. Pemberian obat immunosupresan.5. Penyakit kanker, otoimun, diabetes, sirosis hati dan gagal ginjal kronik. BAB IIIRESPONS IMUN PADA DIABETES MELLITUSA. Pengertian umum imunitasImunitas adalah resistensi terhadap penyakit terutama penyakit infeksi. Gabungan sel, molekul dan jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi disebut sistem imun dan reaksi yang dikoordinasi sel-sel dan molekul-molekul terhadap mikroba dan bahan lainnya disebut respon imun. Sistem imun diperlukan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup (15) .

Infeksi oleh mikroba pada host tergantung dari virulensi mikroba dan mekanisme pertahanan tubuh host tersebut. Respons host terhadap infeksi berupa pengenalan terhadap pathogen dan berusaha mengeliminasi pathogen tersebut ( 16 ).Sistem imun terdiri dari non spesifik ( natural/innate/native ) dan didapat atau spesifik ( adaptive/acquired ) (15,17) .

Sumber : Baratawidjaja, 2004 Terdapat 5 tahap mekanisme pertahanan tubuh terhadap serangan mikroba (17):

1. Migrasi leukosit ke tempat antigen.

2. Pengenalan antigen secara non spesifik yang dilakukan oleh makrofag dan sel innate.

3. Pengenalan antigen secara spesifik yang dilakukan oleh limfosit T dan limfosit B.

4. Peningkatan respons inflamasi dengan mengikat sel efektor spesifik dan non spesifik oleh komplemen, sitokin, kinin, asam arakidonat, dan produk mast sel.

5. Makrofag, neutrofil, dan limfosit mendestruksi partikel antigen.

Penderita diabetes mudah terkena infeksi dan bila sudah terinfeksi sering membahayakan jiwa penderita, karena pada pasien diabetes terdapat ketidaknormalan sistem imun .

B. Kelainan sistem imun pada diabetes B.1. Fungsi Polimorfonuklear ( PMN ) PMN atau polimorf atau granulosit dibentuk dalam sumsum tulang dengan kecepatan 8 juta/ menit dan hidup selama 2-3 hari, sedang monosit atau makrofag dapat hidup untuk beberapa bulan sampai tahun. Granulosit merupakan 60 70 % dari seluruh sel darah putih normal, tetapi ditemukan juga di luar pembuluh darah oleh karena dapat keluar dari pembuluh darah (15,18).

Granulosit dibagi menurut pewarnaan histologik menjadi neutrofil, eosinofil, dan basofil. Sel tersebut bersama dengan antibodi dan komplemen berperan pada inflamasi akut. Fungsi utama neutrofil adalah fagositosis. Jumlah polimorf yang menurun sering disertai dengan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi (15).Studi yang dilakukan Perllie et al, dengan 10 pasien DM terkontrol baik, 6 pasien ketoasidosis diabetika, 4 pasien non DM yang mengalami asidosis uremi, dan 10 kontrol sehat dibuat sayatan atau luka kecil pada sampel. Mobilisasi PMN ke area inflamasi ( luka ) pada semua pasien asidosis mengalami penurunan, dan 4 pasien DM yang telah dikoreksi asidosisnya kembali normal mobilisasi PMNnya. Studi yang dilakukan secara in vitro oleh Mowat dan Baum juga menunjukkan hasil yang sama, kemotatik indek PMN pasien diabetes mellitus menurun (5). Defek fagosit dalam menelan dan intracellular killing bakteri telah dilaporkan oleh beberapa penulis (9). Fagositosis adalah suatu proses ingesti mikroorganisme dan partikel oleh sel (16,18). Sel sel fagosit akan bergerak ke mikroba dan mengikatkan diri dengan mikroba pada permukaannya yang terdapat komplemen atau antibodi, selanjutnya terjadi internalisasi mikroba ke dalam fagosom dan fagosom akan melebur mikroba dengan oksigen radikal bebas, akhirnya mikroba dapat dihancurkan (16). Bybee dan Rogers meneliti pada 31 orang DM terkontrol baik, 7 pasien asidosis diabetika dibandingkan dengan kontrol. Hasilnya hanya pasien dengan asidosis diabetika yang mengalami penurunan fungsi fagositosis. Bagdade et al, juga menggunakan metode yang sama tetapi dilakukan pada pasien dengan DM terkontrol jelek, hasilnya penurunan fungsi fagositosis terjadi pada pasien dengan gula darah puasa lebih dari 250 mg/dl, setelah dilakukan koreksi kadar gulanya ternyata terjadi perbaikan dari fungsi fagositosis walaupun tidak sebaik kontrol (5). Tan et al, telah menunjukkan gangguan fagositosis 11 pasien dari 31 pasien DM dan gangguan intracellular killing 3 pasien dari 31 pasien DM terhadap S. Aureus (10). Fungsi Adherence PMN pada pasien diabetes juga mengalami penurunan(16,19) . Adherence adalah perlekatan PMN pada kompleks antigen-antibodi-komplemen (20). Perlekatan tersebut ( Adherence ) mengakibatkan antigen mudah untuk difagositosis (15). Peterson et al. Mendapatkan 6 dari 7 pasien diabetes yang terkontrol jelek mengalami gangguan dalam adherence. Bagdade et al, telah menunjukkan bahwa peningkatan fungsi adherence PMN mengikuti kontrol dari kadar gula plasma, dan studi yang lain Bagdade dan Walters menunjukkan hubungan langsung antara kadar glukosa plasma dengan fungsi adherence PMN (5). Beberapa studi menunjukkan adanya penurunan aktifitas bakterisidal PMN pasien diabetes dibandingkan dengan orang normal. Repine et al, pada penelitiannya menemukan bahwa kemampuan intracellular killing PMN terhadap bakteri S. aureus pada orang non DM yang tidak terinfeksi dan orang DM terkontrol baik yang tidak terinfeksi sebanding, tetapi pada orang DM terkontrol jelek mengalami penurunan. Sedangkan fungsi PMN pada pasien DM terkontrol baik yang mengalami infeksi sebanding dengan pasien non DM yang tidak mengalami infeksi. Fungsi PMN untuk killing activity tidak menunjukkan peningkatan pada orang DM terkontrol jelek yang mengalami infeksi. Fungsi bakterisidal dari orang DM yang terkontrol jelek pada penelitian ini menujukkan paling jelek (5,10). PMN yang ter