Implementasi Akhlak

download Implementasi Akhlak

of 21

  • date post

    08-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    16
  • download

    0

Embed Size (px)

description

IA

Transcript of Implementasi Akhlak

Implementasi AkhlakOleh Nadya Ayu Anindita, 1406533144

Akhlak merupakan perilaku yang dibangun berbasis hati nurani. Meski ada yang mengklasifikasikannya menjadi akhlak mulia dan akhlak tercela, tetapi pada alazimnya akhlak adalah suatu sebutan bagi perilaku terpuji yang berakar dari iman. Malah dasar pijakan akhlak adalah Al-Quran dan Al-Sunnah, sehingga perilaku yang tidak berdasar keduanya tidak ada jaminan sebagai akhlak mulia. Sumber pijakan inilah yang merupakan perbedaan prinsip dari akhlak dengan etika, budi pekerti, moral, dan sebagainya.Penerapan nila-nilai karakter keagamaan seperti kedisiplinan sangat penting bagi kehidupan manusia. Kedisiplinan itu sendiri merupakan bagian dari aktifitas manusia untuk meraih kesuksesan hidup dengan teratur sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Tentu hal ini dengan melalui tahapan proses setelah memperoleh pengetahuan dari pelaksanaan pendidikan Islam dan pelatihan-pelatihan lainnya. Sedangkan nilai kedisiplinan ibadah shalat dalam al-Qur'an yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam ialah :

1. Disiplin waktuWaktu merupakan rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Waktu juga sebagai saat yang tertentu untuk melakukan sesuatu. Juga, waktu sebagai satu rentetan saat yang bergerak secara berurutan dalam rentang tertentu. Dalam hal ini, waktu sebagai saat yang terus bergerak tanpa dapat dibendung atau ditahan oleh manusia. Apabila manusia berdiam, ia akan ditinggal oleh waktu.Bila dihubungkan dengan hidup manusia, waktu merupakan karunia Allah. Karena itu, manusia bertanggung jawab untuk mengelola, mengatur dan memakai waktu secara baik atau dengan kata lain setiap kali berbuat untuk memperhatikan disiplin waktu. Waktu harus diatur, ditata, dibagi agar dapat diisi dengan baik dan berguna. Apabila tidak disiplin, tidak diatur dan diisi dengan baik, waktu akan terus bergulir meninggalkan orang yang mengabaikan dan lalai dengan waktunya. Hal itu membawa akibat yang kurang baik baginya.Dengan demikian manusia yang mempunyai jiwa disiplin dalam dirinya sadar bahwa begitu pentingnya disiplin waktu. Mereka tidak akan menghambur- hamburkan waktu artinya disiplin menggunakan waktu.Dalam kaitannya disiplin waktu, Islam menuntunkan akan pentingnya perhatian terhadap makna kedisiplinan waktu dalam kehidupan manusia dan tidak membiarkan waktu berlalu tanpa ada manfaat yang diperoleh, tanpa ada produk positif yang nyata. Dengan demikian perlu perlu ada perencanaan dan menejemen waktu (time management) secara cermat proporsional.Dalam Al-Quran sendiri, surat Al-Ashr, Allah mengingatkan umat manusia untuk selalu memperhatikan disiplin waktu agar tidak termasuk orang yang merugi dalam hidup. Sebagaimana firman Allah sebagai berikut :Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya selalu sabar.(Q.S. al-Ashr : 1-3).Dalam surat ini Allah mulai membuka surat dengan menggunakan nama waktu ashr, yaitu waktu di penghujung hari terang yang hampir habis, karena sebentar lagi akan gelap, matahari akan terbenam. Ini memberikan pengertian bahwa waktu itu terus berjalan, tidak pernah berhenti dan kadang tidak disadari waktu itu begitu cepat habis tanpa suatu manfaat yang diperoleh. Untuk itu dalam mencermati displin waktu, agar tidak termasuk orang yang merugi, Tuhan sudah menuntunkan agar manusia memiliki iman yaitu sikap hidup yang benar itu dalam bentuk perilaku yang bermanfaat (amal shalih). Di samping itu secara bersama-sama tetap menjaga kerjasama dalam arti saling mengingatkan agar selalu dalam langkah hidup yang benar dan saling mengingatkan untuk berlaku sabar dalam kebenaran.Dalam kaitannya dengan disiplin waktu, dalam arti upaya untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan untuk berprestasi, menuju ke kualitas hidup yang lebih baik, aspek disiplin waktu ini memberi makna pendidikan yang lebih dinamis. Kedisiplinan shalat dalam kaitannya dengan disiplin waktu ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan kontinyu, agar hidup ini tidak tercela.

2. Ketepatan waktuKetepatan waktu sebagaimana ajaran al- Quaran tentang kedisiplinan shalat adalah hal yang diutamakan untuk menjadi manusia yang terpuji, unggul, berprestasi, disiplin dan sukses hidup, baik dunia maupun akhirat.Tujuan ini tidak mudah untuk diwujudkan, salah satu upaya untuk terwujudnya hal itu adalah dengan membuat sebuah perencanaan kegiatan dengan tepat, teratur dan proporsional. Sementara kegiatan yang sudah direncanakan itu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab secara ikhlas dan kontinyu. Sehingga perencanaan kegiatan yang sudah tersusun dengan benar dan baik, akan terpatri dalam hati dan dan akan menjadi sebuah kebiasaan yang sewajarnya dilakukan sesuai dengan tepat waktu.Satu contoh sebuah jadwal perencanaan kegiatan dalam rangka untuk mewujudkan tepat waktu adalah dengan mengatur dan menenetapkan jadwal kegiatan sejak bangun tidur sampai sehari, seperti bangun tidur pukul empat pagi, shalat shubuh pukul lima pagi, olahraga pagi pukul enam pagi dan seterusnya.Jika hal ini sudah menjadi sebuah kebiasaan dalam setiap hari, maka hal ini lama-lama akan menjadi sebuah kebiasaan dalam hidup. Karena ia sadar bahwa, dengan disiplin tepat waktu merupakan sebuah moto dalam hidup. Lagi pula, hal ini adalah sebuah nilai ajaran Islam yang harus dikerjakan dalam rangka merealisasikan nilai ajaran shalat. Segaimana shalat harus dikerjakan dengan tepat waktu. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah haditsnya sebagai berikut : Tiga sesuatu yang tidak boleh diakhirkan yaitu ketika shalat datang, ketika ada janazah dan kamu menjumpai janda yang sederajat. (HR. Tirmidzi).Mengerjakan sesuatu dengan tepat waktu merupakan bagian dalam hidupnya. Karena dengan seperti itu, ia akan mendapatkan kepuasan diri karena yang demikian membawa pada kesuksesan hidup.

3. Kebiasaan DisiplinTujuan utama dari pembiasaan disiplin adalah membentuk aspek kejasmanian dari kepribadian atau penanaman kecakapan-kecakapan berbuat dan mengucapakan sesuatu, agar cara yang tepat dapat dikuasai oleh si terdidik. Dalam pendidikan, bagi manusia pembiasaan disiplin mempunyai implikasi yang lebih mendalam dari pada sekedar penanaman cara-cara berbuat dan mengucapkan (melafalkan). Dengan demikian bahwa pendidikan Islam yang merupakan pendidikan tingkah laku praktis, jangan merasa cukup dengan kata-kata atau hafalan, tetapi juga harus memperhatikan aspek perbuatan yang dijadikan kebiasaan dalam aktivitas sehari-hari. Rukun Islam yang lima, misalnya menuntut tingkah laku verbal dan praktis secara simultan.Alat-alat yang digunakan dalam tarap pembiasan disiplin ini adalah teladan, anjuran-anjuran,suruhan,perintah,latihan-latihan,hadiah kompetisi dan koperasi. Dapat juga menggunakan alat-alat seperti koreksi (pemeriksaan), pengawasan,larangan-larangan, hukuman dan sebagainya.Selanjutnya bahwa cara-cara yang dapat ditempuh dalam tarap-tarap pembiasaan disiplin ini adalah dengan mengontrol dan mempergunakan tenaga-tenaga kejasmanian (terutama) dan dengan bantuan tenaga-tenaga kejiwaan. Tujuan yang akan dicapai disini adalah membiasakan displin siterdidik dengan amalan-amalan yang dikerjakan dan yang diucapkan sesuai dengan kerangka pembisaan disiplin yang baik.Kebiasaan disiplin mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia,karena kebiasaan disiplin akan menghemat kekuatan pada manusia. Pembiasaan disiplin ini setidaknya mengarah kepada kebiasaan yang baik. Perlu disadari oleh orang tua dan pendidik (guru) bahwa kebiasaan disiplin yang diterapkan akan membentuk dan mempengaruhi kebiasaan disiplin anaknya.Islam sendiri mengajarkan kepada umatnya agar orang tua menerapkan kebiasaan disiplin shalat kepada anaknya, ketika anak usia tujuh tahun, kemudian diperkeras setelah anak usia sepuluh tahun. Anjuran ini disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. sampai beliau memberi peluang dan kewenangan untuk menggunakan alat pendidikan kebiasaan disiplin shalat dengan upaya yang maksimal, yaitu pukulan.Sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits sebagai berikut : Perintahlah anak-anakmu untuk shalat apabila sampai umur tujuh tahun, dan pukullah (apabila membangkang) apabila anak-anakmu berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah antara tempat tidurnya. (H.R. Abu Daud)Dalam kondisi orang tua yang memungkinkan menerapkan kebiasaan disiplin shalat anaknya dikala usia anak masih dini,maka kebiasaan disiplin shalat anaknya kelak ketika anak dewasa akan terbiasa mengerjakannya dengan penuh disiplin. Karena yang demikian sudah menjadi kebiasaan yang terpatri dalam kehidupannya.Lagi pula, membiasakan menanamkan kebiasaan disiplin shalat anak ketika usia dini akan lebih kuat tertanam pada diri anak. Selain itu pula, akan lama berkesan dan tertanam dalam jiwanya secara baku (menjadi kebiasaan). Dengan kebiasaan tersebut anak tidak hanya terlibat dalam aktivitas fisik. Akan tetapi di dalamnya ada proses mental untuk mengambil makna dari aktivitas tersebut. Sehingga anak akan mampu mendalami dan menghayati nilai kedisiplinan shalat dan akan benar-benar dapat terbentuk terhadap kebiasaan disiplin.Penerapan nilai karakter keagamaan selanjutnya adalah kejujuran. Kata jujur adalah kata yang digunakan untuk menyatakan sebuah kebenaran atau bisa dikatakan sebuah pengakuan akan sesuatu yang benar. Semisal apabila ada seseorang yang menceritakan informasi tentang gambaran suatu kejadian atau peristiwa kepada orang lain tanpa ada perubahan (sesuai dengan realitasnya ) maka sikap yang seperti itulah yang disebut dengan jujur.Menurut al-Raghib, jumhur ulama berkata : kebenaran atau kejujuran adalah bila sesuai dengan realitas, sedangkan kedustaan adalah ketika berbeda dengan realitas. Ulama lain berkata : kebenaran adalah apa yang sesuai dengan keyakinan, sedangkan kedustaan adalah apa yang berbeda dengan keyakinan. Kejujuran (kebenaran) ialah nilai dari keutamaan yang utama-utama dan pusat akhlak, dimana dengan kejujuran maka suatu bangsa menjadi teratur,segala urusan menjadi tertib dan perjalananya adalah perjalanan yang mulia. Kejujuran akan mengangkat harkat pelakunya di tengah manusia, maka ia menjadi orang terpercaya, pembicaraanya disukai, ia dicintai orang-orang, ucapanya diperhitungkan oleh para penguasa, dan persaksianya diterima di pengadilan. Dengan ini Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk berlaku jujur, sebagaimana juga Al-Quran memerintahkan kepada kita dalam firmanyaArtinya:Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kalian dengan orang-orang yang benar atau jujur. (9/Al-Taubah 119.)

Kebenaran (kejujuran) berada pada ucapan, akidah dan perbuatan. Kebenaran dalam ucapan adalah ketika sinergi dengan isi hati atau realitas. Kebenaran akan membawa anda berkeberanian bicara dan berkehati-hatian sebelumnya dan tidak mengatakan tanpa dasar pengetahuan. Ketika membicarakan tentang niatan maka jadikanlah pembicaraan itu sejalan dengan niatan kita. Dan jika berjanji maka jadikanlah niatan memenuhinya sebagai kawan setia kemauan. Janganlah meminta pemahaman tentang sesuatu ketika anda sudah mengetahui dengan maksud membujuk orang-orang yang mendengarkan.Kejujuran adalah ketepatan antara ucapan, isi hati dan realitas yang diberitakan, dimana apabila syarat ini tidak terpenuhi maka bukanlah kejujuran, tetapi kedustaan atau diantara kejujuran dan kedustaan seperti ucapan orang munafik. Istilah yang biasa muncul adalah As Shidiq. As Shidiq ialah orang yang dikenal berkejujuran. Terkadang kata shidiq ini juga digunakan untuk kebenaran dalam keyakinan.Kita ketahui bahwa sikap jujur merupakan sebagai sumber keutamaan dan sikap dusta sebagai sumber kehinaan, karena dusta menjadikan bangunan hubungan manusia menjadi retak, perjalanan kehiduan jadi tidak stabil, para kawan berguguran jauh dari pandangan mata, dimana mereka tidak lagi membenarkan ucapanya, tidak bertanya terhadap langkah perilakunya dan tidak betah ketika dekat denganya. Disisi lain adalah pembicaraanya dibuang dan persaksianya tidak diterima. Dengan itu nabi melarang untuk berdusta. Di dalam Al-Quran terdapat sejumlah ayat yang mengancam terhadap pendustaan. Maka dari itu, pertahankanlah pola kejujuran, dan berkedudukan luhur ditengah masyarakat dan bermartabat luhur disisi Allah. Janganlah berbohong, supaya tidak termasuk orang jahat dan berdusta. Jadikanlah catatan dan amal perbuatan yang putih bersih agar berpendidikan luhur serta diridloi oleh Allah SWT. Jadi sebenarnya kita bisa membedakan lebih baik mana antara sikap jujur dengan bohong, karena kalau kita lebih memilih untuk bersikap bohong maka keburukan lah yang nantinya akan kita dapatkan.Penulis kitab al-Manazil mengatakan bahwa jujur adalah istilah untuk mengungkapkan hakikat sesuatu yang berwujud dan kejadian yang sesuai dengan kenyataannya. Makna lain kejujuran adalah tercapainya sesuatu dengan sempurna, berikut kekuatan dan seluruh elemennya.

1. Jujur dalam berbicara.Jujur dalam perkataan adalah bentuk kejmasyhur.Setiap hamba berkewajiban menjaga lisannya , yakni berbicara jujur dan dianjurkan menghindari kata-kata sindiran karena hal itu sepadan dengan kebohongan, kecuali jika sangat dibutuhkan dan demi kemaslahatan pada saat-saat tertentu.Ketika hendak pergi berperang, Rasulullah saw. selalu menyembunyikan maksudnya agar tidak terdengar oleh pihak musuh karena dikhawatirkan mereka akan siaga untuk memerangi beliau. Rasulullah saw. bersabda,"Tidaklah 9dikatakan) pendusta orang yang mendamaikan manusia, berkata baik, dan menyampaikan (berita) baik." (HR Bukhari dan Muslim)Seorang hamba wajib jujur ketika dia bermunajat kepada Tuhannya. Misalkan jika dia berikrar, "Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi," tetapi ternyata hatinya tidak pernah mengingat Allah swt. dan sibuk dengan kepentingan dunia. Itu berarti dia telah berbohong. Ini adalah perkara yang berkaitan dengan niat yang tulus adalah fondasi setiap amal.Setiap muslim dituntut untuk selalu berkata jujur, walau pun bercanda. Rasulullah saw. bersabda,

"Aku akan menjamin rumah dipinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walau pun (dalam posisi) benar, dan (aku akan menjamin) rumah di tengah-tengah surga bagi orang yang meninggalkan kata dusta dalam keadaan bercanda, dan (aku akan menjamin) rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang berbudi pekerti tinggi bagi orang yang berbudi pekerti mulia." (HR Abu Dawud; hadits hasan)Setiap muslim wajib jujur ketika berjual beli. Dengan kata lain, dia harus berkata jujur, tidak menyuap dan tidak menipu. Tersebarnya Islam di seluruh belahan negara Afrika, bahkan di seluruh pelosok dunia, disebabkan oleh kejujuran orang-orang muslim dalam praktik jual-beli mereka. Orang-orang non muslim takjub dengan kejujuran dan toleransi yang ada pada tubuh umat Islam. Itulah yang menyebabkan mereka berbondong-bondong memeluk Islam. Kini, umat Islam. Kini umat Islam sangat membutuhkan etika dan transaksi yang telah diatur oleh Islam demi mewujudkan kebahagiaan seluruh umat manusia.Kekasih Allah swt. Ibrahim a.s., telah memohon Allah swt. agar menganugerahinya lisan yang jujur. Sebagaimana firman-Nya,"Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." (asy-Syu'ara[26]:84) Allah swt. pun memuliakannya sebagaimana diceritakan di dalam Al-Qur'an,"Maka ketika dia (Ibrahim) sudah menjauhkan diri dari merek dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya'acub. Dan masing-masing Kami angkat menjadi nabi. Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik dan mulia." (Maryam [19]:49-50)Nabi Ibrahim a.s. memohon kepada Allah swt. dengan doa tadi agar bisa mendapatkan keampunan-Nya dan perantara yang dapat membantu seorang hamba untuk beramal saleh. Allah swt. berfirman:"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung." al-Ahzab [33]:70-71)Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa kitab tafsir, maksud dari 'perkataan yang benar' adalah perkataan yang jujur atau kalimat la ilaha illallah.

2. Jujur dalam niat dan kehendak.Kejujuran bergantung pada keikhlasan seseorang. Jika amalnya tidak murni untuk Allah swt., tetapi demi kepentingan nafsunya berarti dia tidak jujur dalam berniat, bahkan bisa dikatakan telah berbohong, seperti kisah tiga orang yang terdapat di dalam hadits berikut ini.Rasulullah saw. bersabda,"Sesungguhnya orang yang pertama kali akan dimasukkan ke neraka adalah orang yang mati syahid. (pada hari Kiamat kelak), dia akan dihadapakan (kepada Allah untuk dihisab), lalu nikmat-nikmat (yang telah diberikan kepadanya ketika di dunia) akan diperlihatkan kepadanya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat ini?' Orang terebut menjawab, 'Hamba berperang di jalan-Mu (untuk menegakkan agama-Mu) hingga hamba gugur sebagai syahid." Allah berfirman, 'Kamu bohong, sebenarnya tujuan kamu berperang agar kamu dikatakan sebagai pemberani (pahlawan) dan kamu sudah mendapat gelar itu.' Kemudian Allah memerintahkan (malaikat-Nya) untuk memasukkannya (ke neraka). Kemudian diseretlah wajahnya (kepalanya) dan dilemparkan ke dalam api neraka. Berikutnya, seorang laki-laki penuntut ilmu, lalu dia mengajarkan ilmunya kepada orang lain, dan dia pun gemar membaca Al-Quran. (Pada hari Kiamat kelak, dia akan dihadapkan (kepada Allah untuk dihisab), lalu nikmat-nikmat 9yang telah diberikan kepadanya ketika di dunia) akan diperlihatkan kepadanya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya kepadanya, "Apa yang kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat ini?' Orang tersebut menjawab , '(Hamba gunakan nikmat tersebut) untuk menuntut ilmu, lalu hamba mengajarkan ilmu (yang hamba peroleh kepada orang lain), dan hamba juga gemar membaca Al-Qu'ran ikhlas kerana engkau.' Allah berfirman, 'Kamu bohong, sebenarnya tujuanmu menuntut ilmu agar kamu dikatakan orang alim, dan tujuanmu membaca Al-Qu'ran agar kamu dikatakan qari, dan kamu sudah mendapatkan (gelar itu).' Kemudian Allah memerintahkan (malaikat-Nya) untuk memasukkannya ( ke neraka), lalu diseretlah wajahnya (kepalanya) dan dilemparkanlah dia ke dalam api neraka. Selanjutnya, seorang laki-laki yang dilapang-kan rezekinya oleh Allah dan Ia memberinya semua jenisharta. (Pada hari Kiamat kelak), dia akan dihadapkan (kepada Allah untuk dihisab), lalu nikmat-nikmat (yang telah diberikan kepadanya ketika di dunia) akan diperlihatkan kepadanya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya kepadanya, 'Apa yang kamu lakukan terhadap nikmat-nikmat ini?' Orang tersebut menjawab, 'Ham-ba tidak pernah meninggalkan satu jalan (jihad) pun yang Tuhan kehendaki agar (hamba) berinfak di jalantersebut, kecuali hamba berinfak dengan ikhlas karena engkau. Allah befirman kepadanya, 'Kamu bohong, sebenarnya tujuan kamu berinfak agar kamu disebut sebagai dermawan, dan kamu sudah mendapatkan gelar itu.' Kemudian Allah memerintahkan (malaikat-Nya) untuk memasukkan (ke neraka) lalu diseretlah wajahnya (kepalanya) dan dilemparkan dia ke dalam api neraja." (HR Muslim)Hadis di atas mengisahkan tentang tiga mecam orang, yaitu orang yang gemar mengajarkan Al-Qur'an, bersedekah, dan berjihad di jalan allah swt. Akan tetapi, Allah swt. mendakwa merekatelah berbohong pada niat dan kehendaknya, bukan pada malannya sebab merekabenar-benar melakukan apa yang mereka akui.Oleh kerana itu, Allah swt. mengingatkan orang-orang yang berjihad di jalan-Nya bahwa jika mereka berniat untuk mendapat-kan ridha-Nya, mengorbankan harta dan jiwanya demi tegakkan Islam berarti dia telah mempersembahkan yang terbaik bagi agama, dunia, dan akhirat mereka. Allah swt.berfirman tentang hal ini,"...Sebab apabila perintahlah (perang) ditetapkan (mereka tidak menyukainya). Padahal jika mereka benar-benar (beriman) kepada Allah, nescaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka." (Muhammad [47]:21)

3. Jujur dalam berkeinginan dan dalam meralisaikannya.Keinginan atau tekad yang dimaksudkan adalah seperti perkataan seseorang, "Jika Allah memberiku harta, akau akan menginfakkan semuanya." Keinginan seperti ini ada kalanya benar-benar jujur dan da kalanya pula masih diselimuti kebimbangan. Kejujuran dalam merialisasikan keinginan, seperti apabila seseorang bertekad dengan jujur untuk bersedekah. Tekas tersebut bisa terlaksana bisa juga tidak. Penyebab tidak terealisainya tekad tersebut bisa saja karena dia memiliki kebuntuan yang mendesak, tekadnya hilang, atau lebih mengedepankan kepentingan nafsunya. Berkaitan dengan hal ini Allah swt. berfirman,"Di antara orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara nya yang gugur, dan di ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak sedikit pun tidak mngubah (janjinya)." (al-Ahzab [33]: 23)Berkaitan dengan sifat jujur dalam menepati janji, Allah swt. memuji Nabi Ismail a.s. dan memerintahkan kita agar meneladaninya. Sebagaimana firman-Nya,"Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ismail di dalam Kitab (Al-Qur'an). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi." (Maryam [19]:54)

4. Jujur dalam bertindakKejujuran dalam bertindak berarti tidak ada perbedaan antara niat dan perbuatan. Jujur dalam hal ini juga bisa berarti tidak berpura-pura khusyu dalam beramal sedangkan hatinya tidaklah demikian.Salah seorang sahabat pernah berkata, "Aku berlindung kepda Allah swt. dari khusyu munafik." Para sahabat yang lain bertanya, "Apa yang kamu maksud dengan khusyu yang munafik?' Sahabat itu menjawab, "Itu adalah jika kalian melihat gerakan tubuh khusyu, padahal tidak demikian dengan hatinya."Muthraf berkata, "Apabila niat dan amalan seorang hamba tidak berbeda, Allah swt. akan berfirman, 'Inilah hamba-Ku yang sebenarnya.' Kejujuran adalah dasar keimanan dan syarat diterima amal dan ketaatan. Allah swt. menjanjikan pahala dan kedudukan khusus bagi orang-orang yang senantiasa bersikap jujur. Kejujuran adalah dasar keimanan dan syarat diterimanya amal dan ketaatan Allah swt. menjanjikan pahala dan kedudukan khusus bagi oprang-orang yang senantiasa bersikap jujur. Kejujuran adalah kunci setiap kebaikan, pembeda antara orang yang beriman dan orang munafik, serta pintu dan jalan untuk sampai ke derajat orang-orang yang jujur, yaitu derajat yang paling bagi makhluk setelah derajat para nabi dan rasul."

5. Jujur dalam hal keagamaan.Jujur dalam agama adalah derajat kejujuran tertinggi, seperti jujur dalam rasa takut kepada Allah swt., mengharap ridha-Nya, zuhud, rela dengan pemberi-Nya, cinta dan tawakal. Semua perkara tadi memiliki fondasi yang menjadi tolok ukur kejujuran seseorang dalam menyikapinya. kejujuran juga memiliki tujuan dan hakikat. Orang yang jujur adalah mereka yang mampu mencapai hakikat semua perkara tadi dan mampu mengalahkan keinginan nafsunya. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah swt. di dalam firman-Nya,"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, nak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."(al-Baqarah [2]:177).Penerapan nilai-nilai karakter keagamaan yang ketiga adalah kerjasama. Kerukunan umat beragama dalam islam yakni Ukhuwah Islamiah. Ukhuah islamiah berasl dari kata dasar Akhu yang berarti saudara, teman, sahabat, Kata Ukhuwah sebagai kata jadian dan mempunyai pengertian atau menjadi kata benda abstrak persaudaraan, persahabatan, dan dapat pula berarti pergaulan. Sedangkan Islaiyah berasal dari kata Islam yang dalam hal ini menjadi atau memberi sifat Ukhuwah, sehingga jika dipadukan antara kata Ukhuwah dan Islamiyah akan berarti persaudaraan islam atau pergaulan menurut islam. Dapat dikatakan bahwa pengertian Ukhuah Islamiyah adalah gambaran tentang hubungan antara orang-orang islam sebagai satu persaudaraan, dimana antara yang satu dengan yang lain seakan akan berada dalam satu ikatan. Ada hadits yang mengatakan bahwa hubungan persahabatan antara sesame islam dalam menjamin Ukhuwah Islamuah yang berarti bahwa antara umat islam itu laksana satu tubuh, apabila sakit salah satu anggota badan itu, maka seluruh badan akan merasakan sakitnya. Dikatakan juga bahwa umat muslim itu bagaikan sutu bangunan yang saling menunjang satu sama lain. Pelaksanaan Ukhuwah Islamiyah menjadi actual, bila dihubungkan dengan masalah solidaritas social. Bagi umat Islam, Ukhuwah Islamiyah adalah suatu yang masyru artinya diperintahkan oleh agama. Kata persatuan, kesatuan, dan solidaritas akan terasa lebih tinggi bobotnya bila disebut dengan Ukhuwah. Apabila bila kata Ukhuwah dirangkaikan dengan kata Islamiyah, maka ia akan menggambarkan satu bentuk dasar yakni Persaudaraan Islam merupakan potensi yang obyektif. Ibadah seperti zakat, sedekah, dan lain-lain mempunyai hubungan konseptual dengan cita ukhuwah islamiyah. Ukhuwah islamiyah itu sendiri bukanlah tujuan, Ukhuwah Islamiyah adalah kesatuan yang menjelmakan kerukunan hidup umat dan bangs, juga untuk kemajuan agama, Negara, dan kemanusiaan. Janganlah bermusuh- musuhan, maka Allah menjinakan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara (QS. Ali Imran: 103) Artinya: Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai dan berselisih sesudah dating keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (QS. Ali Imran 105).Penerapan nilai-nilai karakter keagamaan yang keempat dan kelima adalah transparansi dan toleransi. Transparansi dan toleransi adalah nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Tanpa transparansi, seorang muslim tidak dapat diberi sebuah amanah dan tidak dapat dipercaya. Sementara tanpa toleransi, seorang muslim dapat dijauhi dan bahkan dimusuhi karena tidakdapat bertoleransi dengan orang lain yang tentu memiliki perbedaan dari dirinya sendiri. Transparansi adalah sikap tidak menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Menurut Kamus Webster, transparansi adalah bebas dari kepura-puraan atau kebohongan; terus terang. Perbedaan antara transparansi dan keujuran adalah kejujuran merupakan tindakan dengan alasan tertentu, sementara transparansi tidak dimunculkan dengan sengaja atau dengan alasan tertentu. Banyakorang yang menghindari transparansi karena mereka takut untuk bersikap terbuka dan jujurkepada orang lain. Mereka takut bahwa akan ada orang yang tahu bahwa mereka tidak sepertiyang mereka katakan. Sebenarnya, transparansi dapat membuat orang lain memahami diri kita dengan lebih baik. Trasparansi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun kepercayaan orang lain terhadap diri kita, sehingga transparansi sangat penting terlebih bagi seorang pemimpin. Dengan sifat transparan, anggota masyarakat dan rekan kerjasama akan memberikan apresiasi yang tinggi kepada kepemimpinan kita. Dengan begitu, perjalanan sebuah organisasi akan berjalan lebih lancar, serta mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak. Nilai-nilai transparansidapat diterapkan dengan cara selalu berlaku jujur dan adil dan tidak menutup-nutupi fakta yang kita ketahui. Toleransi juga merupakan suatu nilai yang harus dimiliki seorang muslim. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, toleran adalah bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Toleransi tidak selalu berhubungan dengan agama lain. Toleransi juga dibutuhkan dalamberinteraksi dengan orang lain, karena tidak semua orang memiliki pendapat atau pandangan yang sama dengan diri kita. Toleransi juga berhubungan erat dengan kebebasan beragama. Rasulullah SAW bersabda "Seutama-utama keimanan adalah sabar dan toleransi" [Shahih Al-Jami' As-Shaghir 1108]. Salah satu bentuk toleransi dalam Islam adalah tidak membeda-bedakan orang dari ras, suku, agama, dan lain-lain. Seorang muslim tidak boleh mengganggu umat agama lain yang sedang beribadah. Dalam QS Al Baqarah: 257 Allah SWT berfirman Tidak boleh ada paksaan dalam agama. Penerapan toleransi dalam akhlak yaitu dengan menerimadan menghargai pendapat atau pandangan orang lain walaupun pendapat atau pandangan tersebut bertentangan dengan kita, tidak membeda-bedakan orang berdasarkan SARA, dan tidak mengganggu umat agama lain dalam hal ibadah. Toleransi dan transparansi adalah nilai-nilai yang harus diterapkan oleh seorang muslim. Contohpenerapan toleransi dan transparensi seperti tidak menutup-nutupi fakta dan menerima dan menghargai pendapat orang lain.Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan utama penciptaannya adalah untuk beribadah. Ibadah secara umum yaitu melaksanakan segala perintahnya dan manjauhkan segala larangannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Manusia diperintahkanNya untuk menjaga dan memlihara semua yang ada untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Namun sebagai manusia kadang kita lupa tugas kita berada di dunia itu apa sehingga kebanyakan tidak bisa mengontrol akhlaknya sendiri. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern, tantangan akhlak juga semakin banyak, tak sedikit manusia menjadi lupa diri dan berada diluar garis batas ajaran agama. Sehingga kita butuh aqidah yang kokoh dan akhlak yang terpuji untuk mengahadapi tantangan tersebut. Seperti kita tahu tantangan yang sering kita hadapi namun jarang kita sadari yaitu Kemajuan teknologi yang semakin mutakhir, gaya hidup, dan orientasi hidup yang materialistis.Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dialami oleh manusia sekarang ini tidak sedikit dampak negatifnya terhadap sikap hidup dan perilakunya, baik sebagai manusia beragama maupun sebagai makhluk individual dan sosial. Dampak negatif yang paling berbahaya terhadap kehidupan manusia atas kemajuan itu ditandai dengan adanya kecenderungan menganggap bahwa satu-satunya yang dapat membahagiakan hidup adalah material. Sehingga manusia terlampau mengejar materi, tanpa menghiraukan nilai-nilai spiritual yang sebenarnya berfungsi untuk memelihara dan mengendalikan akhlak manusia. Nilai nilai spiritual yang dimaksudkan dalam Islam adalah ajaran agama yang berwujud perintah, larangan dan anjuran, yang semuanya berfungsi untuk membina kepribadian manusia dalam kaitannya sebagai Hamba Allah dan anggota masyarakat.Gaya hidup-pun menjadi tantangan agar lebih dapat mengontrol diri. Gaya hidup yang dimaksud disini adalah gaya hidup hedonis atau foya-foya, dan kebarat-baratan. Seperti kita tahu selain tidak baik, Allah sangat membenci segala sesuatu yang berlebihan. Gaya hidup ini cenderung hanya mementingkan kesenangan semata, menghambur-hamburkan materi dalam jumlah banyak secara sia-sia karena sebenarnya tidak ada keuntungan yang bisa didapat dari itu melainkan hanya kesenangan sesaat. Padahal kalau kita memiliki aqidah yang kokoh dan akhlak yang terpuji, tidak seharusnya kita berlaku seperti itu melainkan lebih memilih untuk berbagi terhadap sesama karena akan lebih terasa manfaatnya.Orientasi hidup yang hanya mengejar nilai-nilai material saja tidak bisa dijadikan sarana untuk mencapai kebahagiaan, bahkan hal ini juga dapat menimbulkan bencana yang hebat ketika hidup hanya berorientasi pada sesuatu yang merial (metrialistis) sehingga ada persaingan hidup yang tidak sehat. Sementara manusia tidak memerlukan agama lagi untuk mengendalikan semua perbuatannya, karena mereka menganggap agama tidak lagi dapat memecahkan persoalan hidup. Disinilah kita akan tahu betapa pentingnya peranan aqidah dan akhlak dalam kehidupan modern seperti sekarang. Aqidah dan akhlak akan menjadi benteng yang sangat kuat dalam menghadapi segala dampak negatif kehidupan modern. Aqidah dapat menyelamatkan diri kita dari segala bentuk dosa kecil yang jarang kita sadari, aqidah juga dapat membuat kita selalu berbuat baik terhadap pencipta dan sesama. Disamping aqidah yang kuat, akhlak yang terpuji akan menyelamatkan manusia dari segala macam perbuatan dan tindakan yang bisa menjerumuskan manusia dalam kesesatan.Oleh karena itu, kita sebagai manusia yang hidup didunia harus memiliki aqidah dan akhlak sehingga kita tidak tersesat dan apa-apa yang kita lakukan tidak melanggar ajaran agama yang telah ditentukan. Sebagai upaya peningkatan kualitas akhlak dapat ditempuh dengan berbagai cara. Yang pertama adalah dengan penjagaan diri. Alasan harus menjaga diri:1. Upaya penjagaan seorang muslim terhadap dirinya tidak lain adalah upaya melindunginya dari siksa Allah taala dan neraka-Nya. Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (QS. At-Tahrim : 6)2. Jika ia tidak menjaga diri sendiri, ia kehilangan waktu-waktu ketaatan dan moment-moment kebaikan.3. Hisab kelak bersifat individualDan setiap mereka datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri (QS. Maryam : 95)4. Penjagaan diri lebih mampu mengadakan perubahanSeseorang lebih tau akan dirinya sendiri, maka upaya penjagaan diri merupakan hal yang bagus dan sekaligus menimbulkan perubahan pada diri seseorang tersebut.Cara-cara yang dapat ditempuh untuk menjaga diri adalah sebagai berikut:1. Musahabah diriMelakukan muhasabah (evaluasi) terhadap dirinya atas kebaikan dan keburukan yang telah ia kerjakan, meneliti kebaikan dan keburukan yang ia miliki, agar ia tidak terperanjat kaget dengan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya pada hari kiamat.Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). (QS. Al-Hasyr : 18)2. Taubat dari segala dosa3. Mencari ilmu dan memperluas wawasanSeseorang dapat menjaga dirinya dengan mencari ilmu agama. Dengan ilmu agama ia akan tahu perbuatan apa saja yang seharusnya ia lakukan dan yang seharusnya tidak ia lakukan sebagai seorang muslim.4. Mengerjakan amalan-amalan imanAntara lain :a.Mengerjakan ibadah-ibadah wajib seoptimal mungkinb.Meningkatkan porsi ibadah-ibadah sunnahc.Peduli dengan ibadah dzikir seperti membaca al-quran dan berdzikir.Dengan mengerjakan amalan-amalan iman insya Allah seseorang dapat mengingat Allah dalam hari-harinya sehingga ia akan menjaga perbuatannya.5. Bergaul dengan orang-orang shalehLingkungan sangat berpengaruh terhadap pribadi seseorang. Maka untuk menjaga akhlak, kita harus bergaul dengan orang-orang shaleh. Tidak hanya kita yang terjaga tetapi kita juga dapat saling mengingatkan satu sama lainnnya.6. Berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguhDengan berdoa secara sungguh-sungguh kepada Allah, insya Allah kita dapat terhindar dari perbuatan yang tidak bermanfaat.Dalam meningkatkan kualitas akhlak kita bisa melakukan penjagaan sesama muslim, karena dengan menjaga sesama muslim, kita dapat meningkatkan kesadaran akan akhlak di lingkungan kita. Salah satu cara dari penjagaan muslim adalah dengan cara dakwah.Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da'a yad'u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan.Kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata "Ilmu" dan kata "Islam", sehingga menjadi "Ilmu dakwah" dan Ilmu Islam" atau ad-dakwah al-Islamiyah.Makna etimologis Dakwah dapat dilihat dari kata dakwah dalam Al-Quran yang memiliki banyak arti, antra lain : Menyampaikan dan menjelaskan (lihat QS Fushilat:24, Yusuf : 108 dll) Berdoa dan berharap (lihat QS Al-Araf : 55) Mengajak dan mengundang (lihat QS Yusuf : 33)Ilmu dakwah adalah suatu ilmu yang berisi cara-cara dan tuntunan untuk menarik perhatian orang lain supaya menganut, mengikuti, menyetujui atau melaksanakan suatu ideologi, agama, pendapat atau pekerjaan tertentu. Orang yang menyampaikan dakwah disebut "Da'i" sedangkan yang menjadi obyek dakwah disebut "Mad'u". Setiap Muslim yang menjalankan fungsi dakwah Islam adalah "Da'i".Para ulama dan pemikir muslim memberi makna dakwah secara terminologis dengan definisi yang variatif seperti :1. Ibnu Taimiyah : "Dakwah ke jalan Allah adalah dakwah untuk beriman kepada Allah dan kepada apa yang dibawa nabi Muhammad SAW, yang mencakup keyakinan kepada rukun iman dan rukun Islam (Lihat Al Fatawa al-Kubro 15/158, cet 1, Mathobial-Riyadh)2. Al-Ustadz Al bahi-al-Khuli : "Dakwah Islam yaitu menghantarkan umat dari satu tempat/ kondisi ke tempat/ kondisi yang lain (Tadzkiroh ad-Duat hal:35,th.1379H, Daarul Qalam).3. Rauf Syalabi : "Dakwah Islam adalah gerakan revitalisasi sistem Illahi yang diturunkan Allah kepada Nabi terakhir" (Ad-Dakwah al Islamiyah Fi 'Ahdiha al-Makky, Manahijuha wa Ghoyatuha, hal : 32)4. Abu Bakar Dzikri : "Dakwah ialah bangkitnya para ulama Islam untuk mengajarkan Islam kepada umat Islam, agar mereka faham tentang agamanya dan tentang kehidupan, sesuai kemampuan setiap ulama (ad-Dakwah ila al-Islam, hal:8 Maktabah Darul Arubah Mesir).Penulis memahami definisi-definisi tersebut diatas secara utuh dan lengkap dengan menyimpulkan, bahwa "Dakwah Islam ialah menyampaikan Islam kepada umat manusia seluruhnya dan mengajak mereka untuk komitmen dengan Islam pada setiap kondisi dan dimana serta kapan saja, dengan metodologi dan sarana tertentu, untuk tujuan tertentu".

Tujuan utama dakwah ialah mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridai oleh Allah. Nabi Muhammad SAW mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan dan perbuatan.Aqidah, syariah, dan akhlak mempunyai hubungan yang sangat erat, bahkan merupakan satu kesatuan yang tidak dapt dipisah-pisahkan. Meskipun demikian, ketiganya dapat dibedakan satu sama lain. Aqidah sebagai konsep atau sistem keyakinan yang bermuatan elemen-elemen dasar iman, menggambarkan sumber dan hakikat keberadaan agama. Syariah sebagai konsep atau sistem hukum berisi peraturan yang menggambarkan fungsi agama. Sedangkan akhlak sebagai sistem nilai etika menggambarkan arah dan tujuan yang hendak dicapai oleh agama. Oleh karena itu, ketiga kerangka dasar tersebut harus terintegrasi dalam diri seorang Muslim. Integrasi ketiga komponen tersebut dalam ajaran Islam ibarat sebuah pohon, akarnya adalah aqidah, sementara batang, dahan, dan daunya adalah syariah, sedangkan buahnya adalah akhlak.Muslim yang baik adalah orang yang memiliki aqidah yang lurus dan kuat yang mendorongnya untuk melaksanakan syariah yang hanya ditujukan kepada Allah sehingga tergambar akhlak yang mulia dalam dirinya. Atas dasar hubungan ini pula maka seorang yang melakukan suatu perbuatan baik, tetapi tidak dilandasi oleh aqidah atau iman, maka ia termasuk ke dalam kategori kafir. Seorang yang mengaku beriman, tetapi tidak mau melaksanakan syariah, maka ia disebut orang fasik. Sedangkan orang yang mengaku beriman dan melaksanakan syariah tetapi tidak dilandasi aqidah atau iman yang lurus disebut orang munafik.Demikianlah, ketiga konsep atau kerangka dasar Islam ini memiliki hubungan yang begitu erat dan tidak dapat dipisahkan. Al-Quran selalu menyebutkan ketiganya dalam waktu yang bersamaan. Hal ini bisa dilihat dalam berbagai ayat, seperti surat al-Nur (24): 55: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. al-Nur [24]: 55).Dalam QS. al-Tin (95): 6 Allah Swt. berfirman: Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (QS. al-Tin [95]: 6).Ketiga kerangka dasar ajaran Islam tersebut dalam al-Quran disebut iman dan amal shalih. Iman menunjukkan konsep aqidah, sedangkan amal shalih menunjukkan adanya konsep syariah dan akhlak. Kombinasi ketiganya dibutuhkan untuk membentuk manusia yang takwa. Manusia yang yang takwa adalah manusia yang melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhkan diri dari segala yang haram serta ridho dengan hukum dan ketentuan Allah. Fungsi akidah, syariah dan akhlak dalam membentuk manusia yang demikian adalah untuk mendidiknya dengan segala ajaran dari Allah.

Daftar Pustaka

Kaelany HD. 2010. Islam Agama Universal Edisi Revisi. Jakarta: Midada Rahma Press.Hamzah Yaqub. 1988. Etika Islam: Pembinaan Akhlaqulkarimah (Suatu Pengantar). Bandung: CV Diponegoro. Cet. IV.Rachmat Djatnika. 1996. Sistem Etika Islami (Akhlak Mulia). Jakarta: Pustaka Panjimas.Marzuki. 2009. Prinsip Dasar Akhlak Mulia: Pengantar Studi Konsep-konsep Dasar Etika dalam Islam. Yogyakarta: Debut Wahana Press-FISE UNY.Tim Dosen Agama Islam. 2002.Pendidikan Agama Islam. UB: Malang.Wahyudin, dkk. 2009. Pendidikan Agama Islam. Grasindo: Jakarta.

1