IKM wonolopo

of 96 /96
63 BAB I PENDAHULUAN

Embed Size (px)

description

dada

Transcript of IKM wonolopo

63

BAB I

PENDAHULUANA. Latar Belakang

Derajat kesehatan merupakan salah satu unsure penting dalam upaya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bangsa Indonesia. Sementara itu, derajat kesehatan tidak hanya ditentukan oleh pelayanan kesehatan, tetapi yang lebih dominan justru adalah kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat yang juga dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan masyarakat.1,2

Berdasarkan Teori H.L.Blum, derajat kesehatan masyarakat dengan indikatornya angka kematian (mortalitas) dan angka kesakitan (morbiditas) sangat dipengaruhi oleh empat faktor yaitu factor lingkungan, factor perilaku, factor pelayanan kesehatan dan faktor kependudukan. Oleh karena itu upaya yang harus dilakukan adalah mengedepankan upaya promotif dan preventif tanpa meninggalkan upaya kuratif dan rehabilitatif.3

Menurut data 10 besar penyakit di Puskesmas Mijen tahun 2013 penyakit hipertensi menduduki peringkat ketiga yaitu sebanyak 804 kasus. Penyakit influenza oleh virus influenza sebanyak 987 kasus, Infeksi Saluran Pernapasan Akut 2580 kasus, penyakit pulpa dan periophical jaringan sekitar akar gigi yaitu 669, karies gigi 356 kasus, gastritis dan duodenitis 327 kasus, faringitis akut 296 kasus, gangguan perkembangan dan erupsi gigi 256 kasus, diare dan gasroenteritris 216 kasus, penyakit gusi dan jaringan periodontal 199 kasus.4

Penyakit kardiovaskuler merupakan 4.5% dari beban penyakit secara global dan penyebab kematian nomor satu sehingga menjadi masalah, baik di Negara maju maupun negara berkembang. Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskuler yang paling sering terjadi. Di seluruhdunia, jumlah penderita penyakit ini terus bertambah dan tidak lepas dari gaya hidup yang kurang sehat, yang banyak dilakukan seiring dengan berubahnya pola hidup.1,2.

Indonesia saat ini menghadapi masalah kesehatan yang kompleks dan beragam. Tentu saja mulai dari infeksi klasik dan moderen, penyakit degenerative serta penyakit psikososial yang menjadikan Indonesia saat ini yang menghadapi" threeple burden diseases". Namun tetap saja penyebab angka kematian terbesar adalah akibat penyakit hipertensi karena hipertensi arteri yang berkepanjangan dapat merusak pembuluh-pembuluh darah jantung sehingga meningkatkan insiden penyakit jantung koroner "the silence killer".2,5

Berdasarkan data dari The National Health and Nutrition Examination Survei (NHNES) menunjukkan bahwa dari tahun 1999 - 2000, insiden hipertensi pada orang dewasa adalah sekitar 29-31%, yang berarti terdapat 58- 65 juta orang hipertensi di Amerika dan terjadi peningkatan 15 juta dari data The National Health and Nutrition Examination Survey (NHNES III) tahun 1988 - 1991. Data yang didapat di Thailand sebanyak 17%, Vietnam 34,6%, Singapura 24,9%, Malaysia 29,9% sedagkan prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar 6 - 15%. Prevalensi bervariasimenurut umur, ras, pendidikan, dan banyak variabel lain. 2,5

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional tahun 2007 prevalensi hipertansi pada penduduk usia >18 tahun berdasarkan pengukuran sebesar 29,8%. Sebanyak 10 provinsi mempunyai prevalensi hipertensi pada penduduk usia >18 tahun diatas prevalensi Nasional, diantaranya Riau, Bangka Belitung, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat. 6

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Provinsi Jawa Tengah tahun 2007 prevalensi hipertensi menurut hasil wawancara di Provinsi Jawa Tengah sebesar 8,2%, sedangkan menurut hasil pengukuran tekanan darah sebesar 37%, prevalensi tertinggi hipertensi menurut hasil pengukuran terdapat di Kabupaten Wonogiri (49,5%) dan terendah hasil pengukuran terdapat di Demak (26,5%).6

Dari hasil survei di RW VII kelurahan Mijen yaitu RT 1, RT 2, RT 3, dan RT 4 didapatkan beberapa jenis penyakit yaitu hipertensi 61,9%, Infeksi Saluran Pernapasan Akut 19%, diare 14,3%, dan penyakit lainnya 4,8% dimana proporsi penyakit hipertensi menempati urutan tertinggi yaitu 61,9% dari 21 orang yang sakit.B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas maka dalam laporan ini kami kelompok kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang menyimpulkan suatu rumusan masalah sebagai berikut: tingginya jumlah kejadian penyakit hipertensi di RW VII yaitu RT 1, RT 2, RT 3, RT 4 Kelurahan Mijen dan diduga ada hubungan dengan faktor risiko yang berupa keturunan, perilaku, lingkungan dan pelayanan kesehatan.C. Tujuan Penelitian1. Tujuan UmumMeningkatkan kesadaran dan masyarakat dapat mengenal penyakit hipertensi dan bersepakat untuk menanggulanginya di RW VII yaitu RT 1, RT 2, RT 3, RT 4 di Kelurahan Mijen.2. Tujuan Khususa. Mengidentifikasi, mengumpulkan, dan menganalisis data masalah kesehatan komunitas di RW VII yaitu RT 1, RT 2, RT 3, RT 4 Kelurahan Mijen.b. Menetapkan prioritas masalah kesehatan masyarakat.c. Menetapkan alternatif pemecahan masalah kesehatan masyarakat.d. Melakukan intervensi kegiatan yang dapat memotivasi masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatannya (promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan rujukan).e. Mengetahui faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadiannya di RW VII yaitu RT 1, RT 2, RT 3, RT 4 Kelurahan Mijen.f. Melakukan kegiatan promosi kesehatan masyarakat denganmenggunakan bahasa dan media yang efektif dan dipahami oleh masyarakat.

D. Manfaat Penelitian1. Manfaat Teoritis

a. Menambah pengetahuan mahasiswa mengenai Ilmu Kesehatan Masyarakat dengan melakukan survei secara langsung di masyarakat.

b. Menambah pengetahuan masyarakat mengenai penyakit hipertensi dan faktor risikonya.2. Manfaat Praktis

a. Mahasiswa mampu mengelola masalah kesehatan pada individu sebagai bagian dari masalah kesehatan masyarakat secara komprehensif, holistik, berkesinambungan, koordinatif, dan kolaboratif dalam konteks pelayanan kesehatan tingkat primer.

b. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal.BAB IITINJAUAN PUSTAKAA. Hipertensi1. Definisi

Hipertensi merupakan silent killer (pembunuh diam-diam) yang secara luas dikenal sebagai penyakit kardiovaskular yang sangat umum. Dengan meningkatnya tekanan darah dan gaya hidup yang tidak seimbang dapat meningkatkan faktor risiko munculnya berbagai penyakit seperti arteri koroner, gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal.Salah satu studi menyatakan pasien yang menghentikan terapi anti hipertensi maka lima kali lebih besar kemungkinannya terkena stroke.7

Hipertensi dianggap sebagai faktor risiko utama stroke, dimana stroke merupakan penyakit yang sulit disembuhkan dan mempunyai dampak yang sangat luas terhadap kelangsungan hidup penderita dan keluarganya.Hipertensi sistolik dan distolik terbukti berpengaruh pada stroke. Dikemukakan bahwa penderita dengan tekanan diastolik di atas 95 mmHg mempunyai risiko dua kali lebih besar untuk terjadinya infark otak dibanding dengan tekanan diastolik kurang dari 80 mmHg, sedangkan kenaikan sistolik lebih dari 180 mmHg mempunyai risiko tiga kali terserang stroke iskemik dibandingkan dengan dengan tekanan darah kurang 140 mmHg. Akan tetapi pada penderita usia lebih 65 tahun risiko stroke hanya 1,5 kali daripada normotensi.8,9Sasaran pengobatan hipertensi untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler dan ginjal.Dengan menurunkan tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg, diharapkan komplikasi akibat hipertensi berkurang. Klasifikasi prehipertensi bukan suatu penyakit, tetapi hanya dimaksudkan akan risiko terjadinya hipertensi. Terapi non farmakologi antara lain mengurangi asupan garam, olah raga, menghentikan rokok dan mengurangi berat badan, dapat dimulai sebelum atau bersama-sama obat farmakologi.92. Etiologi

Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis yang beragam. Pada kebanyakan pasien etiologi patofisiologi-nya tidak diketahui (essensial atau hipertensi primer). Hipertensi primer ini tidak dapat disembuhkan tetapi dapat di kontrol. Kelompok lain dari populasi dengan persentase rendah mempunyai penyebab yang khusus, dikenal sebagai hipertensi sekunder. Banyak penyebab hipertensi sekunder; endogen maupun eksogen. Bila penyebab hipertensi sekunder dapat diidentifikasi, hipertensi pada pasien pasien ini dapat disembuhkan secara potensial.10a) Hipertensi primer (essensial)Lebih dari 90% pasien dengan hipertensi merupakan hipertensi essensial (hipertensi primer). Literatur lain mengatakan, hipertensi essensial merupakan 95% dari seluruh kasus hipertensi. Beberapa mekanisme yang mungkin berkontribusi untuk terjadinya hipertensi ini telah diidentifikasi, namun belum satupun teori yang tegas menyatakan patogenesis hipertensi primer tersebut.Hipertensi sering turun temurun dalam suatu keluarga, hal ini setidaknya menunjukkan bahwa faktor genetik memegang peranan penting pada patogenesis hipertensi primer.Menurut data, bila ditemukan gambaran bentuk disregulasi tekanan darah yang monogenik dan poligenik mempunyai kecenderungan timbulnya hipertensi essensial. Banyak karakteristik genetik dari gen gen ini yang mempengaruhi keseimbangan natrium, tetapi juga di dokumentasikan adanya mutasi mutasi genetik yang merubah ekskresi kallikrein urine, pelepasan nitric oxide, ekskresi aldosteron, steroid adrenal, dan angiotensinogen.7b) Hipertensi sekunderKurang dari 10% penderita hipertensi merupakan sekunder dari penyakit komorbid atau obat obat tertentu yang dapat meningkatkan tekanan darah (lihat tabel 2.1). Pada kebanyakan kasus, disfungsi renal akibat penyakit ginjal kronis atau penyakit renovaskular adalah penyebab sekunder yang paling sering.7 Obat-obat tertentu, baik secara langsung ataupun tidak, dapat menyebabkan hipertensi atau memperberat hipertensi dengan menaikkan tekanan darah. Obat-obat ini dapat dilihat pada tabel 2.1. Apabila penyebab sekunder dapat diidentifikasi, maka dengan menghentikan obat yang bersangkutan atau mengobati / mengoreksi kondisi komorbid yang menyertainya sudah merupakan tahap pertama dalam penanganan hipertensi sekunder.8Tabel 2.1 Penyebab hipertensi yang dapat diidentifikasi.PenyakitObat

1. Penyakit ginjal kronis

2. Hiperaldosteronisme primer

3. Penyakit renovaskular

4. Sindroma cushing

5. Pheochromocytoma

6. Koarktasi aorta

7. Penyakit tiroid atau paratiroid

1. Kortikosteroid, ACTH

2. Estrogen (biasanya pil KB kadar estrogen tinggi)

3. NSAID, cox-2 inhibitor4. Fenilpropanolamine dan analog

5. Cyclosporin dan tacrolimus6. Eritropoetin

7. Sibutramin

8. Antidepresan (terutama venlafaxine)

Sumber : Soegondo S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4.Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006.

ACTH :Adrenocorticotropic Hormone

NSAID : Non Steroid Anti Inflammatory Drugs

KB

: Keluarga Berencana3. Klasifikasi HipertensiAda beberapa klasifikasi dari hipertensi, diantaranya menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection, Eveluation, and Tretment of High Blood Pressure (JNC7) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok normal, prehipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2 (dilihat tabel 2.2). 8Tabel 2.2 Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC 7

Klasifikasi Tekanan DarahTDS (mmHg)TDD (mmHg)

Normal< 120Dan< 80

Prehipertensi120 139Atau80 89

Hipertensi stadium 1140 159Atau90 99

Hipertensi stadium 2 160Atau 100

Sumber : Soegondo S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4.Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006.TDS: Tekanan Darah Sistolik

TDD: Tekanan Darah Diastolik4. Faktor Risiko Hipertensi

a. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi1) UsiaHipertensi erat kaitannya dengan usia, semakin tua seseorang semakin besar risiko terserang hipertensi. Usia lebih dari 40 tahun mempunyai risiko terkena hipertensi. Dengan bertambahnya usia, risiko terkena hipertensi lebih besar sehingga prevalensi hipertensi dikalangan usia lanjut cukup tinggi yaitu sekitar 40 % dengan kematian sekitar 50 % diatas usia 60 tahun. Arteri kehilangan elastisitasnya atau kelenturannya dan tekanan darah seiring bertambahnya usia, kebanyakan orang hipertensi meningkat ketika usia 50.8Dengan bertambahnya usia, risiko terjadinya hipertensi meningkat. Meskipun hipertensi bisa terjadi pada segala usia, namun paling sering dijumpai pada orang berusia 35 tahun atau lebih. Sebenarnya wajar bila tekanan darah sedikit meningkat dengan bertambahnya usia. Hal ini disebabkan oleh perubahan alami pada jantung, pembuluh darah dan hormon. Tetapi bila perubahan tersebut disertai faktor-faktor lain maka bisa memicu terjadinya hipertensi.92) Jenis Kelamin Bila ditinjau perbandingan antara wanita dan pria, ternyata terdapat angka yang cukup bervariasi. Dari laporan Sugiri di Jawa Tengah didapatkan angka prevalensi 6,0% untuk pria dan 11,6% untuk wanita. Prevalensi di Sumatera Barat 18,6% pria dan 17,4% perempuan, sedangkan daerah perkotaan di Jakarta (Petukangan) didapatkan 14,6% pria dan 13,7% wanita.103) Riwayat KeluargaMenurut Nurkhalida, orang-orang dengan sejarah keluarga yang mempunyai hipertensi lebih sering menderita hipertensi. Riwayat keluarga dekat yang menderita hipertensi (faktor keturunan) juga mempertinggi risiko terkena hipertensi terutama pada hipertensi primer.Keluarga yang memiliki hipertensi dan penyakit jantung meningkatkan risiko hipertensi 2-5 kali lipat. Jika kedua orang tua kita mempunyai hipertensi, kemungkunan kita mendapatkan penyakit tersebut 60%.114) GenetikPeran faktor genetik terhadap timbulnya hipertensi terbukti dengan ditemukannya kejadian bahwa hipertensi lebih banyak pada kembar monozigot (satu sel telur) daripada heterozigot (berbeda sel telur). Seorang penderita yang mempunyai sifat genetik hipertensi primer (esensial) apabila dibiarkan secara alamiah tanpa intervensi terapi, bersama lingkungannya akan menyebabkan hipertensinya berkembang dan dalam waktu sekitar 30-50 tahun akan timbul tanda dan gejala.12b. Faktor yang dapat dimodifikasi1) Kebiasaan MerokokRokok juga dihubungkan dengan hipertensi. Hubungan antara rokok dengan peningkatan risiko kardiovaskuler telah banyak dibuktikan. Selain dari lamanya, risiko merokok terbesar tergantung pada jumlah rokok yang dihisap perhari. Seseorang lebih dari satu pak rokok sehari menjadi 2 kali lebih rentan hipertensi dari pada mereka yang tidak merokok.4Zat-zat kimia beracun, seperti nikotin dan karbon monoksida yang diisap melalui rokok, yang masuk kedalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri dan mengakibatkan proses aterosklerosis dan hipertensi.112) Konsumsi GaramGaram merupakan faktor yang sangat penting dalam patogenesis hipertensi.Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan pada suku bangsa dengan asupan garam yang minimal. Asupan garam kurang dari 3 gram tiap hari menyebabkan prevalensi hipertensi yang rendah, sedangkan jika asupan garam antara 5-15 gram perhari prevalensi hipertensi meningkat menjadi 15-20 %. Pengaruh asupan terhadap timbulnya hipertensi terjadi melalui peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah.13Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh, karena menarik cairan diluar sel agar tidak keluar, sehingga akan meningkatkan volume dan tekanan darah. Pada manusia yang mengkonsumsi garam 3 gram atau kurang ditemukan tekanan darah rata-rata rendah, sedangkan asupan garam sekitar 7-8 gram tekanan darahnya rata-rata lebih tinggi. Konsumsi garam yang dianjurkan tidak lebih dari 6 gram/hari setara dengan 110 mmol natrium atau 2400 mg/hari.11Menurut Alison Hull, penelitian menunjukkan adanya kaitan antara asupan natrium dengan hipertensi pada beberapa individu. Asupan natrium akan meningkat menyebabkan tubuh meretensi cairan yang meningkatkan volume darah.113) Konsumsi Lemak JenuhKebiasaan konsumsi lemak jenuh erat kaitannya dengan peningkatan berat badan yang berisiko terjadinya hipertensi.Konsumsi lemak jenuh juga meningkatkan risiko aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan darah. Penurunan konsumsi lemak jenuh, terutama lemak dalam makanan yang bersumber dari hewan dan peningkatan konsumsi lemak tidak jenuh secukupnya yang berasal dari minyak sayuran, biji-bijian dan makanan lain yang bersumber dari tanaman dapat menurunkan tekanan darah.114) Penggunaan JelantahJelantah adalah minyak goreng yang sudah lebih dari satu kali dipakai untuk menggoreng, dan minyak goreng ini merupakan minyak yang telah rusak.Bahan dasar minyak goreng bisa bermacam-macam seperti kelapa, sawit, kedelai, jagung dan lain-lain.Meskipun beragam, secara kimia isi kendungannya sebetulnya tidak jauh berbeda, yakni terdiri dari beraneka Asam Lemak Jenuh (ALJ) dan Asam Lemak Tidak Jenuh (ALTJ).Dalam jumlah kecil terdapat lesitin, cephalin, fosfatida, sterol, asam lemak bebas, lilin, pigmen larut lemak, karbohidrat dan protein. Hal yang menyebabkan berbeda adalah komposisinya, minyak sawit mengandung sekitar 45,5% Asam Lemak Jenuh yang didominasi oleh lemak palmitat dan 54,1% Asam Lemak Tidak Jenuhyang didominasi asam lemak oleat sering juga disebut omega-9. minyak kelapa mengadung 80% Asam Lemak Jenuh dan 20% Asam Lemak Tidak Jenuh, sementara minyak zaitun dan minyak biji bunga matahari hampir 90% komposisinya adalah Asam Lemak Tidak Jenuh.105) Kebiasaan Konsumsi Minum Minuman BeralkoholAlkohol juga dihubungkan dengan hipertensi.Peminum alkohol berat cenderung hipertensi meskipun mekanisme timbulnya hipertensi belum diketahui secara pasti. Orang-orang yang minum alkohol terlalu sering atau yang terlalu banyak memiliki tekanan yang lebih tinggi dari pada individu yang tidak minum atau minum sedikit.11Menurut Ali Khomsan konsumsi alkohol harus diwaspadai karena survei menunjukkan bahwa 10 % kasus hipertensi berkaitan dengan konsumsi alkohol.Mekanisme peningkatan tekanan darah akibat alkohol masih belum jelas. Namun diduga, peningkatan kadar kortisol dan peningkatan volume sel darah merah serta kekentalan darah merah berperan dalam menaikkan tekanan darah.116) ObesitasObesitas erat kaitannya dengan kegemaran mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi lemak.Obesitas meningkatkan risiko terjadinya hipertensi karena beberapa sebab. Makin besar massa tubuh, makin banyak darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. Ini berarti volume darah yang beredar melalui pembuluh darah menjadi meningkat sehingga memberi tekanan lebih besar pada dinding arteri. Kelebihan berat badan juga meningkatkan frekuensi denyut jantung dan kadar insulin dalam darah. Peningkatan insulin menyebabkan tubuh menahan natrium dan air.10Berat badan dan Indeks Massa Tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik.Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang obes 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang berat badannya normal. Pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-30 % memiliki berat badan lebih.117) OlahragaKurangnya aktifitas fisik meningkatkan risiko menderita hipertensi karena meningkatkan risiko kelebihan berat badan.Orang yang tidak aktif juga cenderung mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi sehingga otot jantungnya harus bekerja lebih keras pada setiap kontraksi.Makin keras dan sering otot jantung harus memompa, makin besar tekanan yang dibebankan pada arteri.158) StresStres dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu dan bila stres sudah hilang tekanan darah bisa normal kembali.Peristiwa mendadak menyebabkan stres dapat meningkatkan tekanan darah, namun akibat stres berkelanjutan yang dapat menimbulkan hipertensi belum dapat dipastikan.119) Penggunaan EstrogenEstrogen meningkatkan risiko hipertensi tetapi secara epidemiologi belum ada data apakah peningkatan tekanan darah tersebut disebabkan karena estrogen dari dalam tubuh atau dari penggunaan kontrasepsi hormonal estrogen.MN Bustan menyatakan bahwa dengan lamanya pemakaian kontrasepsi estrogen ( 12 tahun berturut-turut), akan meningkatkan tekanan darah perempuan.165. Patogenesis HipertensiTekanan yang dibutuhkan untuk mengalirkan darah melalui sistem sirkulasi dilakukan oleh aksi memompa dari jantung (Cardiac Output) dan dukungan dari arteri (Peripheral Resistance).Fungsi kerja masing-masing penentu tekanan darah ini dipengaruhi oleh interaksi dari berbagai faktor yang kompleks. Hipertensi sesungguhnya merupakan abnormalitas dari faktor faktortersebut, yang ditandai dengan peningkatan curah jantung dan atau ketahanan periferal.17

Sumber : Soegondo S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4 Jilid 2.Jakarta: Perhimpunan Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2005.Gambar 2.1 Faktor-Faktor yang mempengaruhi tekanan darah.116. Gejala Klinis Hipertensi

Menurut Elizabeth J. Corwin, sebagian besar tanpa disertai gejala yang mencolok dan manifestasi klinis timbul setelah mengetahui hipertensi bertahun tahun berupa:8a) Nyeri kepala saat terjaga, kadang kadang disertai mual dan muntah, akibat tekanan darah intrakranium.

b) Penglihatan kabur akibat kerusakan retina karena hipertensi.c) Ayunan langkah tidak mantap karena kerusakan susunan saraf.d) Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus.e) Edema dependen akibat peningkatan tekanan kapiler.7. Diagnosis Hipertensi

Menurut Slamet Suyono, evaluasi pasien hipertensi mempunyai tiga tujuan :7a) Mengidentifikasi penyebab hipertensi.

b) Menilai adanya kerusakan organ target dan penyakit kardiovaskuler, beratnya penyakit, serta respon terhadap pengobatan.

c) Mengidentifikasi adanya faktor risiko kardiovaskuler yang lain atau penyakit penyerta, yang ikut menentukan prognosis dan ikut menentukan panduan pengobatan.Data yang diperlukan untuk evaluasi tersebut diperoleh dengan cara anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang. Peninggian tekanan darah kadang sering merupakan satu-satunya tanda klinis hipertensi sehingga diperlukan pengukuran tekanan darah yang akurat. Berbagai faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran seperti faktor pasien, faktor alat dan tempat pengukuran.7

Anamnesis yang dilakukan meliputi tingkat hipertensi dan lama menderitanya, riwayat dan gejala-gejala penyakit yang berkaitan seperti penyakit jantung koroner, penyakit serebrovaskuler dan lainnya.Apakah terdapat riwayat penyakit dalam keluarga, gejala yang berkaitan dengan penyakit hipertensi, perubahan aktifitas atau kebiasaan (seperti merokok, konsumsi makanan, riwayat dan faktor psikososial lingkungan keluarga, pekerjaan, dan lain-lain). Dalam pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah dua kali atau lebih dengan jarak dua menit, kemudian diperiksa ulang dengan kontralateral.118. Pengukuran Tekanan Darah

Menurut Roger Watson, tekanan darah diukur berdasarkan berat kolum air raksa yang harus ditanggungnya. Tingginya dinyatakan dalam millimeter.Tekanan darah arteri yang normal adalah 110 120 (sistolik) dan 65 80 mm (diastolik).Alat untuk mengukur tekanan darah disebut sphygmomanometer.Ada beberapa jenis sphygmomanometer, tetapi yang paling umum terdiri dari sebuah manset karet, yang dibalut dengan bahan yang difiksasi disekitarnya secara merata tanpa menimbulkan konstriksi.Sebuah tangan kecil dihubungkan dengan manset karet ini.Dengan alat ini, udara dapat dipompakan kedalamnya, mengembangkan manset karet tersebut dan menekan ekstremitas dan pembuluh darah yang ada didalamnya. Bantalan ini juga dihubungkan juga dengan sebuah manometer yang mengandung air raksa sehingga tekanan udara didalamnya dapat dibaca sesuai skala yang ada.13Untuk mengukur tekanan darah, manset karet difiksasi melingkari lengan dan denyut pada pergelangan tangan diraba dengan satu tangan, sementara tangan yang lain digunakan untuk mengembangkan manset sampai suatu tekanan, dimana denyut arteri radialis tidak lagi teraba. Sebuah stetoskop diletakkan diatas denyut arteri brakialis pada fosa kubiti dan tekanan pada manset karet diturunkan perlahan dengan melonggarkan katupnya.Ketika tekanan diturunkan, mula-mula tidak terdengar suara, namun ketika mencapai tekanan darah sistolik terdengar suara ketukan (tapping sound) pada stetoskop (Korotkoff fase I).Pada saat itu tinggi air raksa didalam namometer harus dicatat.Ketika tekanan didalam manset diturunkan, suara semakin keras sampai saat tekanan darah diastolik tercapai, karakter bunyi tersebut berubah dan meredup (Korotkoff fase IV). Penurunan tekanan manset lebih lanjut akan menyebabkan bunyi menghilang sama sekali (Korotkoff fase V). Tekanan diastolik dicatat pada saat menghilangnya karakter bunyi tersebut.13Menurut Lany Gunawan, dalam pengukuran tekanan darah ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:13a) Pengukuran tekanan darah boleh dilaksanakan pada posisi duduk ataupun berbaring. Namun yang penting, lengan tangan harus dapat diletakkan dengan santai.

b) Pengukuran tekanan darah dalam posisi duduk, akan memberikan angka yang agak lebih tinggi dibandingkan dengan posisi berbaring meskipun selisihnya relatif kecil.

c) Tekanan darah juga dipengaruhi kondisi saat pengukuran. Pada orang yang bangun tidur, akan didapatkan tekanan darah paling rendah. Tekanan darah yang diukur setelah berjalan kaki atau aktifitas fisik lain akan memberi angka yang lebih tinggi. Di samping itu, juga tidak boleh merokok atau minum kopi karena merokok atau minum kopi akan menyebabkan tekanan darah sedikit naik.

d) Pada pemeriksaan kesehatan, sebaiknya tekanan darah diukur 2 atau 3 kali berturut-turut, dan pada detakan yang terdengar tegas pertama kali mulai dihitung. Jika hasilnya berbeda maka nilai yang dipakai adalah nilai yang terendah.

e) Ukuran manset harus sesuai dengan lingkar lengan, bagian yang mengembang harus melingkari 80 % lengan dan mencakup dua pertiga dari panjang lengan atas.Standard Operational Procedure ( SOP) Pengukuran Tekanan Darah

Pemeriksaan tekanan darah diperoleh dari pengkuran pada sirkulasi arteri. Aliran darah akibat pemompaan jantung menimbulkangelombang yaitu gelombang tinggi yang disebuttekanan sistolikdan gelombang pada titik terendah yang disebuttekanan diastolik.Satuan tekanan darah dinyatakandalam millimeter air raksa (mm hg).Persiapan alat :Sphygmomanometer aneroid / air raksa, stetoskop, APD (Alat Pelindung Diri), buku catatan., alat tulis12Prosedur :121. Mintalah pasien untukmembuka bagian lengan atas yang akan diperiksa, sehingga tidak ada penekanan pada arteri brachialis.

2. Posisi pasien bisa berbaring, setengah duduk atau duduk yang nyaman dengan lengan bagian volar diatas.

3. Gunakan manset yang sesuai dengan ukuran lengan pasien

4. Pasanglah manset melingkar pada lengan tempat pemeriksaan setinggi jantung, dengan bagian bawah manset 2 3 cm diatas fossa kubiti dan bagian balon karet yg menekan tepat diatas arteri brachialis.

5. Pastikan pipa karet tidak terlipat atau terjepit manset.

6. Hubungkan manset dengan sphymomanometer air raksa , posisi tegak danlevel air raksasetinggi jantung

7. Raba denyut arteri Brachialis pada fossa kubiti dan arteri Radialis dengan jari telunjuk dan jari tengah ( untuk memastikan tidak ada penekanan )

8. Pastikan mata pemeriksa harus sejajar dengan permukaan air raksa ( agar pembacaan hasil pengukuran tepat )

9. Tutup katup pengontrol pada pompa manset

10. Pastikan stetoskop masuk tepat kedalam telinga pemeriksa, palpasi denyut arteri radialis

11. Pompa manset sampai denyut arteri radialis tak teraba lagi

12. Kemudian pompa lagi sampai 20 30 mm hg (jangan lebih tinggi, sebab akan menimbulkan rasa sakit pada pasien, rasa sakit akan meningkatkantensi)

13. Letakkan kepala stetoskop diatas arteri brachialis

14. Lepaskan katup pengontrol secara pelan-pelan sehingga air raksa turun dengan kecepatan 2 3 mm hg per detik atau 1 skala perdetik

15. Pastikan tinggi air raksa saat terdengar detakan pertama arteri brachialis adalahtekanan sistolik16. Pastikan tinggi air raksa pada saat terjadi perubahan suara yang tiba-tiba melemah Denyutan terakhir disebuttekanan diastolik17. Lepaskan stetoskop dari telinga pemeriksa dan manset dari lengan pasien.

18. Bersihkan earpiece dan diafragma stestokop dengan disinfektan.

19. Apabila ingin diulang tungguminimal 30 detik.9. Penatalaksanaan Hipertensi

a. Penatalaksanaan Non FarmakologisPendekatan nonfarmakologis merupakan penanganan awal sebelum penambahan obat-obatan hipertensi, disamping perlu diperhatikan oleh seorang yang sedang dalam terapi obat.Sedangkan pasien hipertensi yang terkontrol, pendekatan nonfarmakologis ini dapat membantu pengurangan dosis obat pada sebagian penderita. Oleh karena itu, modifikasi gaya hidup merupakan hal yang penting diperhatikan, karena berperan dalam keberhasilan penanganan hipertensi.11Pendekatan nonfarmakologis dibedakan menjadi beberapa hal:1) Menurunkan faktor risiko yang menyebabkan aterosklerosis.Menurut Corwin berhenti merokok penting untuk mengurangi efek jangka panjang hipertensi karena asap rokok diketahui menurunkan aliran darah ke berbagai organ dan dapat meningkatkan beban kerja jantung. Selain itu pengurangan makanan berlemak dapat menurunkan risiko aterosklerosis.8

Penderita hipertensi dianjurkan untuk berhenti merokok dan mengurangi asupan alkohol. Berdasarkan hasil penelitian eksperimental, sampai pengurangan sekitar 10 kg berat badan berhubungan langsung dengan penurunan tekanan darah rata-rata 2-3 mmHg per kg berat badan.112) Olahraga dan aktifitas fisikSelain untuk menjaga berat badan tetap normal, olahraga dan aktifitas fisik teratur bermanfaat untuk mengatur tekanan darah, dan menjaga kebugaran tubuh.Olahraga seperti jogging, berenang baik dilakukan untuk penderita hipertensi. Dianjurkan untuk olahraga teratur, minimal 3 kali seminggu, dengan demikian dapat menurunkan tekanan darah walaupun berat badan belum tentu turun.11

Olahraga yang teratur dibuktikan dapat menurunkan tekanan perifer sehingga dapat menurunkan tekanan darah.Olahraga dapat menimbulkan perasaan santai dan mengurangi berat badan sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Yang perlu diingat adalah bahwa olahraga saja tidak dapat digunakan sebagai pengobatan hipertensi.13

Menurut Dede Kusmana, beberapa patokan berikut ini perlu dipenuhi sebelum memutuskan berolahraga, antara lain:

Penderita hipertensi sebaiknya dikontrol atau dikendalikan tanpa atau dengan obat terlebih dahulu tekanan darahnya, sehingga tekanan darah sistolik tidak melebihi 160 mmHg dan tekanan darah diastolik tidak melebihi 100 mmHg.

Alangkah tepat jika sebelum berolahraga terlebih dahulu mendapat informasi mengenai penyebab hipertensi yang sedang diderita.

Sebelum melakukan latihan sebaiknya telah dilakukan uji latih jantung dengan beban (treadmill/ergometer) agar dapat dinilai reaksi tekanan darah serta perubahan aktifitas listrik jantung (ECG)Elektrocardiography, sekaligus menilai tingkat kapasitas fisik.

Pada saat uji latih sebaiknya obat yang sedang diminum tetap diteruskan sehingga dapat diketahui efektifitas obat terhadap kenaikan beban.

Latihan yang diberikan ditujukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan tidak menambah peningkatan darah.

Olahraga yang bersifat kompetisi tidak diperbolehkan.

Olahraga peningkatan kekuatan tidak diperbolehkan.

Secara teratur memeriksakan tekanan darah sebelum dan sesudah latihan.

Salah satu dari olahraga hipertensi adalah timbulnya penurunan tekanan darah sehingga olahraga dapat menjadi salah satu obat hipertensi.

Umumnya penderita hipertensi mempunyai kecenderungan ada kaitannya dengan beban emosi (stres). Oleh karena itu disamping olahraga yang bersifat fisik dilakukan pula olahraga pengendalian emosi, artinya berusaha mengatasi ketegangan emosional yang ada.

Jika hasil latihan menunjukkan penurunan tekanan darah, maka dosis/takaran obat yang sedang digunakan sebaiknya dilakukan penyesuaian (pengurangan).113) Perubahan pola makan

Mengurangi asupan garam

Pada hipertensi derajat I, pengurangan asupan garam dan upaya penurunan berat badan dapat digunakan sebagai langkah awal pengobatan hipertensi.Nasihat pengurangan asupan garam harus memperhatikan kebiasaan makan pasien, dengan memperhitungkan jenis makanan tertentu yang banyak mengandung garam.Pembatasan asupan garam sampai 60 mmol per hari, berarti tidak menambahkan garam pada waktu makan, memasak tanpa garam, menghindari makanan yang sudah diasinkan, dan menggunakan mentega yang bebas garam. Cara tersebut diatas akan sulit dilaksanakan karena akan mengurangi asupan garam secara ketat dan akan mengurangi kebiasaan makan pasien secara drastis.11 Diet rendah lemak jenuh

Lemak dalam diet meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis yang berkaitan dengan kenaikan tekanan darah. Penurunan konsumsi lemak jenuh, terutama lemak dalam makanan yang bersumber dari hewan dan peningkatan konsumsi lemak tidak jenuh secukupnya yang berasal dari minyak sayuran, biji-bijian dan makanan lain yang bersumber dari tanaman dapat menurunkan tekanan darah.11 Memperbanyak konsumsi sayuran, buah-buahan dan susu rendah lemak.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa beberapa mineral bermanfaat mengatasi hipertensi.Kalium dibuktikan erat kaitannya dengan penurunan tekanan darah arteri dan mengurangi risiko terjadinya stroke.Selain itu, mengkonsumsi kalsium dan magnesium bermanfaat dalam penurunan tekanan darah.Banyak konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan mengandung banyak mineral, seperti seledri, kol, jamur (banyak mengandung kalium), kacang-kacangan (banyak mengandung magnesium). Sedangkan susu dan produk susu mengandung banyak kalsium.114) Menghilangkan stresStres menjadi masalah bila tuntutan dari lingkungan hampir atau bahkan sudah melebihi kemampuan kita untuk mengatasinya.Cara untuk menghilangkan stres yaitu perubahan pola hidup dengan membuat perubahan dalam kehidupan rutin sehari-hari dapat meringankan beban stres. Perubahan-perubahan itu ialah:11 Rencanakan semua dengan baik. Buatlah jadwal tertulis untuk kegiatan setiap hari sehingga tidak akan terjadi bentrokan acara atau kita terpaksa harus terburu-buru untuk tepat waktu memenuhi suatu janji atau aktifitas.

Sederhanakan jadwal. Cobalah bekerja dengan lebih santai.

Bebaskan diri dari stres yang berhubungan dengan pekerjaan.

Siapkan cadangan untuk keuangan

Berolahraga.

Makanlah yang benar.

Tidur yang cukup.

Ubahlah gaya. Amati sikap tubuh dan perilaku saat sedang dilanda stres.

Sediakan waktu untuk keluar dari kegiatan rutin.

Binalah hubungan sosial yang baik.

Ubalah pola pikir. Perhatikan pola pikir agar dapat menekan perasaan kritis atau negatif terhadap diri sendiri.

Sediakan waktu untuk hal-hal yang memerlukan perhatian khusus.

Carilah humor.

Berserah diri pada Yang Maha Kuasa.b. Penatalaksanaan FarmakologisJenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmakologis hipertensi yang dianjurkan oleh Joint National Committee7 (JNC 7):81) Diuretic, terutama jenis Thiazide (Thiaz),Aldosteron Antagonist (Ald Ant)

2) Beta Blocker (BB)3) Calcium Channel Blocker atau Calcium Antagonist (CCB)4) Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI)5) Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 Angiotensint Receptor Blocker (ARB).Tabel 2.3 Indikasi dan Kontraindikasi Kelas-kelas utama Obat AntihipertensiKelas obatIndikasiKontraindikasi

MutlakTidak mutlak

Diuretika (Thiazide)Gagal jantung kongestif, usia lanjut, isolated systolic hypertension, ras afrika

GoutKehamilan

Diuretika (loop)

Diuretika (anti aldosteron) penyekat Insufisiensi ginjal, gagal jantung kongestif

Gagal jantung kongestif, pasca infark miokardium

Angina pectoris, pasca infark myocardium gagal jantung kongestif, kehamilan, takiaritmia

Gagal ginjal, hiperkalemia

Asma, penyakit paru obstruktif menahun, A-V blockPenyakit pembuluh darah perifer, intoleransi glukosa, atlit atau pasien yang aktif secara fisik

Calcium Antagonist (dihydropiridine)

Calcium Antagonist (verapamil, diltiazem)

Usia lanjut, isolated systolic hypertension, angina pectoris, penyakit pembuluh darah perifer, aterosklerosis karotis, kehamilan

Angina pectoris, aterosklerosis karotis, takikardia supraventrikulerA-V block, gagal jantung kongestifTakiaritmia, gagal jantung kongestif

Penghambat ACE

(Angiotensin Converting Enzyme)

Angiotensi II reseptor antagonist (AT1-blocker)Gagal jantung kongestif, disfungsi ventrikel kiri, pasca infark myocardium, non-diabetik nefropati, nefropati Diabetes Mellitus tipe 1, proteinuria

Nefropati DM tipe 2, mikroalbumiuria diabetic, proteinuria, hipertrofi ventrikel kiri, batuk karena Angiotensin Converting Enzyme

Inhibitor

Kehamilan, hiperkalimea, stenosis arteri renalis bilateral

Kehamilan, hiperkalemia, stenosis arteri renalis bilateral

-BlockerBenigna Prostat Hyperplasia (BPH), hiperlipidemia

Hipotensi ortostatisGagal jantung kongestif

Sumber : Soegondo S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4.Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006.Tabel 2.4 Tatalaksana hipertensi menurut Joint National Committee 7 (JNC-7)Klasifikasi Tekanan DarahTDS (mmHg)TDD (mmHg)Perbaikan Pola HidupTanpa indikasi yang memaksaDengan indikasi yang memaksa

Normal

< 120

Dan 0.05) artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara paparan asap rokok dengan kejadian hipertensi. Menurut teori paparan asap rokok juga dihubungkan dengan hipertensi. Hubungan antara paparan asap asap rokok dengan peningkatan risiko kardiovaskuler telah banyak dibuktikan. Orang yang tidak merokok tetapi menghirup langsung asap rokok disebut dengan perokok pasif. Perokok pasif memiliki risiko tinggi terkena hipertensi. Didalam rokok terdapat ribuan zat kimia yang berbahaya bagi tubuh, yang paling berbahaya adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida, yang masuk kedalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri dan mengakibatkan proses aterosklerosis dan hipertensi.4,11Berdasarkan hasil analisis secara statistik hanya variabel usia yang memiliki hubungan dengan kejadian hipertensi. Namun secara teori variabel pengetahuan dan paparan asap rokok di atas memiliki hubungan, hasil ini mungkin disebabkan karena keterbatasan penelitian. Beberapa keterbatasan dan kelemahan yang terdapat dalam penelitian ini adalah keterbatasan waktu dalam melaksanakan survei dan pembuatan laporan, keterbatasan kepustakaan yang menyebabkan kurang dalamnya pembahasan materi, keterbatasan instrumen pengukuran yang digunakan dan keterbasan jumlah responden.14BAB VPEMECAHAN MASALAH DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

A. Identifikasi MasalahTabel 5.1.Jumlah kesakitandi RT 1, 2, 3, dan 4 RW VII Kelurahan MijenNo.Proporsi PenyakitJumlah (jiwa)Persentase

a.Tidak Sakit3965 %

b.Hipertensi1321,7 %

c. ISPA46,7 %

d.Diare35,0%

e.Lainya11,7 %

Jumlah60100%

ISPA = Infeksi Saluran Pernapasan AkutLain-lain = DismenoreaB. Prioritas MasalahDaftar masalah

AHipertensi

BInfeksi Saluran Pernapasan Akut

CDiare

DLain-lain (Dismenorea)

Tabel 5.2 Kriteria urgency

KRITERIA URGENCY (MENDESAK)

ABCDTotal Horizontal

AACA2

BCB1

CC1

D0

Total Vertikal0020

Total Horizontal2110

TOTAL2130

Tabel 5.3 Kriteria Seriousness (kegawatan)

KRITERIA SERIOUSNESS (KEGAWATAN) ABCDTotal Horizontal

AAAA3

BCB1

CC1

D0

Total Vertikal0010

Total Horizontal3110

TOTAL3120

Tabel 5.4 Kriteria Growth (perkembangan)

KRITERIA GROWTH (PERKEMBANGAN)

ABCDTotal Horizontal

AAAA3

BCB1

CC1

D0

Total Vertikal0010

Total Horizontal3110

TOTAL3120

Tabel 5.5. Prioritas MasalahMASALAHUSGJUMLAHPRIORITAS

A2439I

B1113III

C3328II

D0000V

Urutan Prioritas Masalah1Hipertensi

2Diare

3ISPA

4Lain-lain (Dismenorea)

C. ANALISIS PENYEBAB MASALAHTabel 5.6. Analisis Penyebab MasalahMASALAHPENYEBAB mASALAH

LING-KUNGANPERILAKUYANKESKEPENDU-DUKANFAKTOR PREDISPOSISI

Hipertensi

Ada sebagian responden yang menjadi perokok pasif (terkena paparan asap rokok di dalam rumah) 41,7%

- - Sebagian besar responden berusia 40 tahun sebanyak 65% Masih ada responden yang pengetahuannya rendah mengenai pentingnya pemeriksaan tekanan darah dan minum obat anti hipertensi secara teratur 63,3 % Masih ada responden yang pengetahuannya rendah mengenai komplikasi pada penyakit hipertensi seperti stroke, gangguan jantung, dan ginjal sebesar 60%

Daftar Penyebab Masalah: Sebagian besar responden berusia 40 tahun , sebanyak 65% Masih ada responden yang pengetahuannya rendah mengenai pentingnya pemeriksaan tekanan darah dan minum obat anti hipertensi secara teratur sebanyak 63,3% Masih ada responden yang pengetahuannya rendah mengenai komplikasi pada penyakit hipertensi, seperti stroke, gangguan jantung dan gangguan ginjal sebanyak 60% Ada sebagian responden yang menjadi perokok pasif (terkena paparan asap rokok didalam rumah) sebanyak 41,7%Urutan penyebab masalah berdasarkan brain storming Masih ada responden yang pengetahuannya rendah mengenai pentingnya pemeriksaan tekanan darah dan minum obat anti hipertensi secara teratur Masih ada responden yang pengetahuannya rendah mengenai komplikasi pada penyakit hipertensi, seperti stroke, gangguan jantung dan gangguan ginjal Ada sebagian responden yang menjadi perokok pasif (terkena paparan asap rokok didalam rumah) Sebagian besar responden berusia 40 tahun Ada anggota keluarga yang merokok.Untuk menyelesaikan suatu masalah yang berupa penyakit Hipertensi, cukup menyelesaikan tiga penyebab saja berdasarkan brainstorming, yaitu:1. Masih ada responden yang pengetahuannya rendah mengenai pentingnya pemeriksaan tekanan darah dan minum obat anti hipertensi secara teratur 2. Masih ada responden yang pengetahuannya rendah mengenai komplikasi pada penyakit hipertensi, seperti stroke, gangguan jantung dan gangguan ginjal 3. Ada sebagian responden yang menjadi perokok pasif (terkena paparan asap rokok didalam rumah) D. Alternatif Pemecahan Masalah Tabel 5.7. Alternatif Pemecahan MasalahMASALAHTUJUANSASARANALTERNATIF

HipertensiMengendalikan angka kesakitan hipertensi

Seluruh warga masyarakat RT 1, 2, 3, dan 4 RW VII Kelurahan Mijen Memberikan penyuluhan penyakit hipertensi, definisi, penyebab, factor resiko, pengendalian, pengobatan dan komplikasi.

Memberikan penyuluhan tentang bahaya merokok Pembagian leaflet tentang faktor penyebab, gaya hidup yang mendukung hipertensi dan komplikasi hipertensi dan pemeriksaan tekanan darah gratis.

E. Pengambilan KeputusanDalam pengambilan keputusan kami menggunakan metode berdasarkan kriteria mutlak dan kriteria keinginan, yang nanti akan diambil 1 (satu) kegiatan yang akan dilaksanakan.Tabel 5.8. Kriteria mutlak

KegiatanInputOutputKeterangan

ManMoneyMaterialMethodMarketing

I111111

II111111

III111111

Table 5.9. Kriteria Keinginan

Mudah (60)Berkembang (40)Berkelanjutan (20)

I5x 60 =3005x 40 = 2006 x 20 = 120620

II5 x 60 = 3005 x 40 = 2005 x 20 = 100500

III6 x 60 =3606x 40 = 2406 x 20 = 120720

Berdasarkan kriteria mutlak dan kriteria keingingan yang diambil dari suara tujuh anggota kelompok kami sepakat dengan alternatif pemecahan masalah yang akan diambil adalah Pembagian leaflet tentang faktor penyebab, gejala, pengobatan, pencegahan, komplikasi, serta diet makanan yang dianjurkan untuk penderita penyakit hipertensi dan pemeriksaan tekanan darah gratis. yang kemudian akan disusun Plan of Action (POA).

F. Plan of Action

Tabel 5.10. Plan of ActionNoKegiatanWhat(Uraian)SasaranWho(Pelaksana)When(Waktu)Where(Tempat)How Much(Biaya)Indikator

1Persiapan

(Perencanaan)1. Perizinan ketua RW dan RT2. Mempersiapkan materi dan desain leaflet

3. Mempersiapkan alat kesehatan yang di butuhkan4. mencari waktu dan tempat pelaksanaanWarga RT 1, 2, 3, dan 4 RW VII Kelurahan MijenMahasiswa kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat FK Unimus (pemegang program).Sabtu-Minggu ,7-8 Desember 2013

Labkesmas UNIMUS

Iuran mahasiswa : leaflet @500 x 100 = Rp. 50.000Persiapan dapat diselesaikan tepat waktu sebelum hari pelaksanaan

2Pelaksanaan1. Perizinan kepada RT dan RW.

2. Pelaksanaan pembagian leaflet dan pemeriksaan tekanan darah gratisWarga RT 1, 2, 3, dan 4 RW VII Kelurahan MijenMahasiswa kepaniteraan klinik IKM FK Unimus (pemegang program).Senin, 9

Desember

2013

Balai pertemuan RW VII Iuran mahasiswa :

Transportasi

Rp 10.000,00

Terlaksananya pembagian leaflet dan pemeriksaan tekanan darah gratis di acara pertemuan RW VII

3PengawasanPengendalian

PenilaianEvaluasi langsung oleh Mahasiswa pelaksana

Warga RT 1, 2, 3, dan 4 RW VII Kelurahan MijenMahasiswa kepaniteraan klinik IKM FK Unimus (pemegang program).Senin, 9

Desember

2013

Balai pertemuan RW VII-

Terlaksananya pembagian leaflet dan pemeriksaan tekanan darah gratis di acara pertemuan RW VII

BAB VI

INTERVENSI KEGIATAN DAN PEMBAHASANA. Pelaksanaan Intervensi KegiatanIntervensi dilakukan dalam bentuk pembagian leaflet tentang Hipertensi meliputi penyebab, gejala, pengobatan, pencegahan, komplikasi, serta diet makanan yang dianjurkan untuk penderita penyakit hipertensi dan pemeriksaan tekanan darah gratis kepada ibu-ibu PKK RW VII di Balai Pertemuan warga RW VII Kelurahan Mijen, yang dilakukan pada hari Senin, 9 Desember 2013 dari pukul 16.00 WIB. Kegiatan selanjutnya dilakukan pada hari Rabu tanggal 11 Desember 2013 pukul 16.00 WIB dengan membagikan leaflet ke warga RW VII terutama RT 1, 2, 3, dan 4 secara door to door disertai penyuluhan singkat mengenai isi leaflet dan dilakukan pemeriksaan tekanan darah gratis.B. Hasil Intervensi Kegiatan

Intervensi pada tanggal 9 Desember 2013 dilaksanakan di Balai Pertemuan Warga RW VII Kelurahan Mijen yang diikuti oleh 12 RT. Intervensi kegiatan ini diikuti oleh ibu-ibu PKK RW VII sebanyak 39 orang. Indikator dari kegiatan ini adalah terlaksananya pembagian leaflet dan pemeriksaan tekanan darah gratis di acara pertemuan ibu-ibu PKK RW VII.

Pembagian leaflet dan pemeriksaan tekanan darah gratis disertai dengan penyuluhan singkat kepada ibu-ibu PKK mengenai isi dari leaflet. Ibu-ibu PKK yang dikunjungi memberikan respon cukup baik dari permulaan kegiatan sampai akhirnya Ibu-ibu PKK yang hadir mengerti dan berusaha untuk melakukan seperti apa yang dijelaskan selama proses acara. Respon ibu-ibu PKK diwujudkan dengan adanya pertanyaan seputar masalah kesehatan. Dengan kegiatan ini diharapkan masyarakat mengerti cara mengatasi permasalahan kesehatan yang ada, sehingga dapat mencegah dan mengendalikan penyakit hipertensi.

Intervensi kegiatan tanggal 11 Desember 2013 dilaksanakan di wilayah RW VII terutama Ibu rumah Tangga RT 1, 2, 3, dan 4 Kelurahan Mijen secara door to door dengan leaflet yang tersisa dari kegiatan sebelumnya serta dilakukan pemeriksaan tekanan darah secara gratis. Pembagian leaflet dan pemeriksaan tekanan darah gratis kepada warga RT 1, 2, 3, dan 4 berjalan secara lancar dan baik.C. Pembahasan

Intervensi kegiatan diselenggarakan setelah disetujui dalam Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) pada hari jumat 6 Desember 2013. Kegiatan intervensi berdasarkan hasil survey dan penelitian berupa Pembagian leaflet tentang faktor penyebab, gaya hidup yang mendukung hipertensi dan komplikasi hipertensi, dan pemeriksaan tekanan darah gratis. telah terlaksana. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk menambah pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan hipertensi sehingga diharapkan dapat mengendalikan dan menurunkan angka kesakitan hipertensi di RW VII kelurahan Mijen. Kegiatan intervensi dilaksanakan pada hari Senin 9 Desember 2013 di RW VII kelurahan Mijen. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan adalah pembagian leaflet sekaligus pemeriksaan tekanan darah gratis dan leaflet yang tersisa dibagikan pada warga door to door disertai penyuluhan singkat mengenai isi leaflet dan dilakukan pemeriksaan tekanan darah gratis pada hari Rabu, 11 Desember 2013 pukul 16.00 WIB.Media yang digunakan untuk kegiatan intervensi adalah leaflet yang berisi tentang penyebab, gejala, pengobatan, pencegahan, komplikasi, serta diet makanan yang dianjurkan untuk penderita penyakit hipertensi. Leaflet tersebut merupakan pesan yang diharapkan dapat dipahami oleh warga dan akhirnya dapat menambah pengetahuan serta merubah gaya hidup warga sehingga dapat mengendalikan, mengurangi dan mencegah bertambahnya jumlah warga yang menderita hipertensi. Pemilihan media menggunakan leaflet didasarkan karena tingkat pendidikan dari responden rata-rata berpendidikan tinggi sebesar 98,3% ( > SLTP) dan dilakukan pemeriksaan tekanan darah gratis karena disesuaikan dengan masalah yang ditemukan pada RW VII yaitu hipertensi, sehingga kami melakukan kegiatan sederhana seperti pemeriksaan tekanan darah gratis.BAB VII

PENUTUP

A. Kesimpulan1. Berdasarkan data hasil survei kesehatan di RW VII, Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, didapatkan masalah kesehatan antara lain : Hipertensi (61,9%), Infeksi Saluran Pernafasan Akut (19,04%), Diare (14,28%) dan Lain-lain (4,76%). Berdasarkan hasil survei kesehatan distribusi penduduk menurut umur RW VII terbanyak pada usia 40 tahun sebanyak 65 %, rata-rata memiliki pendidikan tinggi (>SLTP) sebanyak 98,3%, pekerjaan rata-rata adalah non PNS 88,3%, penghasilan rata-rata perbulan diatas UMK 1.200.000 sebanyak 100%. Penderita hipertensi terbanyak pada usia 40 tahun sejumlah 30,8%. Pengetahuan tentang hipertensi pada warga RW VII disimpulkan bahwa ibu rumah tangga yang menderita Hipertensi mempunyai pengetahuan yang kurang mengenai hipertensi sebanyak 26%. Warga RW VII yang hipertensi dan terkena paparan asap rokok sebanyak 17,1%.2. Hipertensi merupakan penyakit yang menduduki peringkat ketiga di Puskesmas Mijen pada tahun 2013 sebanyak 804 kasus. Berdasarkan hasil survei kesehatan masyarakat didapatkan bahwa hipertensi merupakan penyakit yang paling banyak diderita oleh warga di RT 1, 2, 3 dan 4 di RW VII Kelurahan Mijen sebesar 61,9%. Setelah konfirmasi dengan dosen pembimbing lapangan, maka kami memutuskan untuk mengambil penyakit hipertensi sebagai prioritas masalah. Penyebab masalah berdasarkan brain storming adalah Pengetahuan masyarakat tentang hipertensi masih kurang.3. Berdasarkan kriteria mutlak dan kriteria keingingan yang diambil dari suara enam anggota kelompok kami sepakat dengan alternatif pemecahan masalah yang akan diambil adalah Pembagian leaflet tentang faktor penyebab, gejala, pengobatan, pencegahan, komplikasi, serta diet makanan yang dianjurkan untuk penderita penyakit hipertensi dan pemeriksaan tekanan darah gratis. yang kemudian akan disusun Plan of Action (POA).4. Telah dilakukan intervensi dalam bentuk pembagian leaflet tentang faktor penyebab, gejala, pengobatan, pencegahan, komplikasi, serta diet makanan yang dianjurkan untuk penderita penyakit hipertensi dan pemeriksaan tekanan darah gratis. Pada kegiatan intervensi ini target dapat tercapai, yaitu terlaksananya pembagian leaflet dan pemeriksaan tekanan darah gratis di acara pertemuan ibu-ibu PKK RW VII dan warga RW VII terutama RT 1, 2, 3, dan 4 Kelurahan Mijen.B. SaranBagi peneliti selanjutnya agar dapat mempersiapkan penelitian dengan kuesioner yang lebih lengkap dan jumlah responden yang lebih banyak agar hasilnya lebih baik. Perlu adanya upaya upaya peningkatan kesehatan dengan cara meningkatkan pembangunan kesehatan masyarakat desa (PKMD) oleh pihak yang terkait (kader kesehatan, Forum Kesehatan Desa, Tenaga Kesehatan) berkaitan dengan Hipertensi dalam hal meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta memberikan motivasi untuk hidup sehat kepada masyarakat RW VII Kelurahan Mijen, Kecamatan Mijen Kota Semarang sehingga perilaku hidup sehat dapat diterapkan dan meningkatkan derajat kesehatan.DAFTAR PUSTAKA

1. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Visi dan Misi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia 2010 2014. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Available from : www.depkes.go.id/index.php/profil.visi-misi.html2. Bustan, MN. 2000. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka Cipta

3. Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

4. Puskesmas Mijen. 2013. Data 10 Besar Penyakit. Semarang: Puskesmas Mijen

5. Sudoyo, Aru. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV Jilid III. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

6. Riset Kesehatan Dasar. 2007. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar. Semarang: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Available from: www.riskesdas.litbang.depkes.go.id7. Subekti, I. 2004. Penegakkan Diagnosis Pasien Hipertensi Terpadu. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

8. Soegondo, S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

9. Gustaviani, Reno. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

10. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 2006. Kondensus Pengelolaan Hipertensi Di Indonesia. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

11. Soegondo, S. 2005. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4. Jakarta: Perhimpunan Spesialis Penyakit Dalam Indonesia

12. Bickley, LS. 2007. Buku Saku Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan Bates: Pemeriksaan Tekanan Darah. Jakarta: EGC

13. Aaronson, PI. 2010. At A Glance Sistem Kardiovaskular: Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik Kardiovaskular. Jakarta: EGC

14. Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan Edisi 1. Jakarta: Rineka Cipta

15. Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2004. Pengembangan Media Promosi Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Available from : www.depkes.go.id/index.php/promosi-kesehatan.html.

16. Tjokoadmidjojo. 1996. Perencanaan Pembangunan Kesehatan. Jakarta: Gunung Agung

Exces sodium intake

Genetic alteration

Reduce nephrone number

Endotelium derived factors

stress

Renal sodium retention

Functional

constriction

Cell

membrane

alteration

Renin -

angiotensin

excess

Sympathetic

nervous

overactivity

Decreased

Filtration surface

Fluid

volume

obesity

Hyper

insulinemia

Contractability

Structural

hypertrophy

Autoregulation

BLOOD PRESURE = CARDIAC OUTPUT

Hypertension = Increased CO

Preload

Venous

constiction

PERIPHERAL RESISTANCE

Increased PR

X

And/or

Diuretika

CCB

ARB

Bloker

Bloker

ACEI

Perilaku:

Olah raga

Merokok

Sikap

Keturunan:

Usia

Jenis Kelamin

Lingkungan:

Tingkat Pendidikan

Tingkat Ekonomi

Pengetahuan

Dukungan sosial

HIPERTENSI

Pelayanan Kesehatan:

Fasilitas kesehatan

Sikap dan perilaku petugas kesehatan

Jaminan kesehatan

HIPERTENSI

Lingkungan:

Pengetahuan

Perilaku:

Merokok

Keturunan:

Usia

Koordinasi dan perijinan dengan pihak kelurahan Mijen, khususnya RW VII

Observasi lapangan (batas wilayah RT 1, RT 2, RT 3, RT 4 di RW VII Kelurahan Mijen)

Survey kesehatan, pengumpulan data dengan panduan kuesioner

Analisa data (deskriptif)

Tabulasi data (statistika)

Analisa penyebab masalah

Prioritas masalah (penyakit)

Alternatif pemecahan masalah

Analisa data (analitik)

Penyusunan Plan of Action