Hubungan Kesejahteraan Psikologis dan Distres Psikologis ... 802009085_Full...  tingkat...

Click here to load reader

  • date post

    06-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    216
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Hubungan Kesejahteraan Psikologis dan Distres Psikologis ... 802009085_Full...  tingkat...

i

HUBUNGAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS DAN DISTRES

PSIKOLOGIS PADA MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI UKSW

TINGKAT AKHIR

OLEH

MARIO VALENTINO TANDJING

802009085

TUGAS AKHIR

Ditujukan Kepada Fakultas Psikologi Guna Memenuhi Sebagian Dari Persyaratan Untuk

Mencapai Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2015

ii

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesejahteraan psikologis dan

distres psikologis pada mahasiwa fakultas psikologi UKSW tingkat akhir. Populasi pada

penelitian ini adalah mahasiswa fakultas psikologi UKSW tingkat akhir dalam rentang usia

21-26 tahun. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah simple random

sampling dengan partisipan sebanyak 65 mahasiswa. Alat ukur yang digunakan pada

penelitian ini mengacu pada Scale of Psychological Well-Being (Ryff, 1989) dan Distress

Anxiety Stress Scale (Lovibond & Lovibond, 1995). Untuk menghitung korelasi antara

kesejahteraan psikologis serta tiap dimensi dan distres psikologis digunakan Pearsons

Product Moment. Hasil dari penelitian ini mendapati bahwa terdapat hubungan yang negatif

dan signifikan antara kesejahteraan psikologis dan distres psikologis dengan koefisien

korelasi sebesar -0,364 dan signifikansi 0,001 (p < 0,01); hubungan yang negatif dan

signifikan antara dimensi hubungan positif dengan orang lain dan distres psikologis dengan

koefisien korelasi sebesar -0,393 dan signifikansi 0,001 (p < 0,01); hubungan yang negatif

dan signifikan antara dimensi otonomi / kemandirian dan distres psikologis dengan koefisien

korelasi sebesar -0,432 dan signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,01); hubungan yang negatif dan

signifikan antara dimensi penguasaan lingkungan dan distres psikologis dengan koefisien

korelasi sebesar -0,292 dan signifikansi sebesar 0,009 (p < 0,01); hubungan yang negatif dan

signifikan antara dimensi penerimaan diri dan distres psikologis dengan koefisien korelasi

sebesar -0,401 dan signifikansi 0,000 (p < 0,01); sedangkan untuk dimensi pertumbuhan

pribadi dan dimensi tujuan hidup tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan distres

psikologis.

Kata kunci: Kesejahteraan Psikologis, Distres Psikologis, Mahasiswa

iii

ABSTRACT

This study aims to determine the relationship between psychological well-being and

psychological distress on final-year students of psychology faculty UKSW. Population in this

study is final-year students of psychology faculty UKSW in the age range between 21 26

years old. The sampling technique used in this study is a simple random sampling with 65

participants. Measuring instruments used in this study are reference to the Scale of

Psychological Well-Being (Ryff, 1989) and Distress Anxiety Stress Scale (Lovibond &

Lovibond, 1995). The correlation between psychological well-being and psychological

distress are measured using Pearsons Product Moment calculations. The result of this study

found that there is a significant negative relationship between psychological well-being and

psychological distress with a correlation coefficient -0,364 and significance 0,001 (p < 0,01);

a significant negative relationship between positive relationship with others and

psychological distress with a correlation coefficient -0,393 and significance 0,001 (p < 0,01);

a significant negative relationship between autonomy and psychological distress with a

correlation coefficient -0,432 and significance 0,000 (p < 0,01); a significant negative

relationship between environmental mastery and psychological distress with a correlation

coefficient -0,292 and significance 0,009 (p < 0,01); a significant negative relationship

between self-acceptance and psychological distress with a correlation coefficient 0,401 and

significance 0,000 (p < 0,01); whereas for personal growth and purposes in life there is no

significance relationship between both of them and psychological distress.

Keyword: Psychological Well-Being, Psychological Distress, College Students

1

PENDAHULUAN

Utama (2010) mengatakan mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk dapat

bermanfaat bagi masyarakat dengan mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan

yang telah dipelajarinya di bangku perkuliahan. Di samping tuntutan-tuntutan yang bersifat

akademis, mahasiswa juga dituntut untuk dapat bersosialisasi dengan orang lain dari

berbagai status dan latar belakang. Belum lagi ditambah dengan tuntutan-tuntutan dari

lingkungan terdekat seperti keluarga, teman dekat, suami atau istri untuk bisa cepat lulus

dengan nilai akademisi yang memuaskan bahkan tinggi. Ender & Newton (2000)

menyatakan bahwa mahasiswa dituntut untuk belajar bagaimana mengontrol dan

menyesuaikan diri dengan harapan akademis yang dapat memicu terjadinya krisis dalam

diri mereka. Menurut Taylor (2006) hal tersebut dapat menjadi sumber yang berpotensi

menimbulkan munculnya distres psikologis dalam diri mahasiswa.

Distres psikologis oleh Mirowsky & Ross (2003) digambarkan sebagai penderitaan

emosional yang dialami oleh individu yang terdiri dari kecemasan dan depresi. Lovibond &

Lovibond (1995) menggambarkan distres psikologis secara konsep merujuk kepada

kombinasi dari gejala emosional negatif seperti depresi (gelisah, ketidakberdayaan,

penurunan makna hidup, kurangnya ketertarikan, tidak bisa merasakan kesenangan, tidak

ingin melakukan apa-apa), kecemasan (kecemasan situasional pengalaman subjektif akan

efek kecemasan, efek kecemasan pada fisik, gairah otonom), dan stres (sulit bersantai,

gampang kesal / marah, tidak sabar, reaksi berlebihan). Distres psikologis juga bisa

diartikan sebagai penderitaan emosional yang dialami oleh individu. Oleh Chalfant et al.

(dalam Mabitsela, 2003), distres psikologis digambarkan sebagai suatu pengalaman

berkelanjutan yang bersumber dari perasaan tidak bahagia, rasa gugup, rasa kesal, serta

masalah dalam hubungan interpersonal.

2

Distres psikologis dapat berdampak pada kondisi fisik seperti keadaan tanpa gairah

(kelesuan), serta distraksi pada depresi atau kegelisahan dan penyakitpenyakit ringan

(seperti sakit kepala, sakit perut, dan pusing) pada kecemasan (Mirowsky & Ross, 2003).

Selain itu, mahasiswa dengan tingkat distres psikologis yang lebih tinggi akan memiliki

tingkat kecemasan yang lebih tinggi, self-efficacy akademis yang lebih rendah, dan

memiliki manajemen waktu serta penggunaan sumber belajar yang lebih tidak efektif

(Kitzrow, 2003).

Pada penelitian ini lebih difokuskan kepada mahasiswa yang berada dalam rentang

usia 21-26 tahun. Dalam fase perkembangan yang diungkapkan oleh Levinson (dalam

Dariyo, 2008), individu yang termasuk dalam rentang usia tersebut masuk ke dalam fase

dewasa muda yang telah dianggap memasuki tahap peralihan masa dewasa. Tugas

perkembangan dewasa muda menurut Turner & Helms (dalam Dariyo) yang sesuai dengan

yang dialami oleh mahasiswa adalah mencari dan memilih pasangan hidup, memikul

tanggung jawab, mengembangkan karir atau melanjutkan pendidikan, memenuhi tanggung

jawab sebagai warga negara, dan menemukan kelompok sosial yang sesuai. Menurut Kim-

Cohen et al (dalam Stallman, 2008), 27% individu yang berada dalam fase dewasa muda

mengalami masalah-masalah psikologis seperti kecemasan dan stres yang dapat

menimbulkan distres psikologis, persentase ini adalah yang tertinggi jika dibandingkan

dengan fase perkembangan lainnya. Hal tersebut karena tugas-tugas perkembangan yang

berbeda di tiap fase dan pada fase dewasa muda adalah masa peralihan yang memiliki tugas

perkembangan lebih berat daripada fase perkembangan yang lain. Meskipun stres terkadang

memiliki dampak yang positif atau dikenal dengan istilah eustress (Matthews, 2000),

namun pada kenyataannya respons yang dialami dari stressor lebih sering ditandai dengan

kesulitan menyesuaikan diri terhadap stressor tersebut yang bersifat destruktif serta dapat

juga mengganggu kesehatan (Lazarus, 1999).

3

Matthews (2000) mengatakan terdapat dua faktor yang dapat memunculkan distres

psikologis, yaitu faktor intrapersonal dan faktor situasional. Faktor intrapersonal lebih

kepada trait kepribadian, khususnya neuroticism dan ekstraversi. Faktor situasional terbagi

menjadi tiga faktor yaitu, faktor fisiologis, faktor kognitif, dan faktor sosial. Kesejahteraan

psikologis dapat dihubungkan dengan faktor intrapersonal dan faktor situasional khususnya

faktor kognitif dan faktor sosial dalam kaitannya dengan distres psikologis. Uher dan

Goodman (2009) mengatakan bahwa kesejahteraan psikologis dan distres psikologis dapat

diukur dalam satu konstruk yang terdistribusi normal dalam populasi umum. Kesejahteraan

psikologis seringkali dikaitkan dengan distres psikologis dalam beberapa penelitian

sebelumnya dikarenakan kesejahteraan psikologis yang merujuk pada positive well-being

dan distres psikologis pada negative well-being, meskipun begitu hubungan ke