HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN PRESTASI BELAJAR Ike Trymas...¢  2015-10-18¢ ...

download HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN PRESTASI BELAJAR Ike Trymas...¢  2015-10-18¢  1 HUBUNGAN ANTARA KONSEP

of 16

  • date post

    26-Dec-2019
  • Category

    Documents

  • view

    2
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN PRESTASI BELAJAR Ike Trymas...¢  2015-10-18¢ ...

  • 1

    HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN PRESTASI BELAJAR FISIKA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 LUBUKLINGGAU TAHUN

    PELAJARAN 2014/2015

    Ike Trymas Ayulanda1, A. Budi Mulyanto2, Fitria Dewi Yanti3

    Alumni S1 STKIP-PGRI Lubuklinggau E-mail: iketrymasayulanda@yahoo.com

    ABSTRAK

    Skripsi ini berjudul ”Hubungan antara Konsep Diri dengan Pretasi Belajar Fisika Siswa

    Kelas XI SMA Negeri 1 Lubuklinggau Tahun Pelajaran 2014/2015”. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) Adakah hubungan antara konsep diri dengan prestasi belajar fisika siswa di kelas XI SMA Negeri 1 Lubuklinggau tahun pelajaran 2014/2015? (2) Seberapa besar pengaruh konsep diri terhadap prestasi belajar fisika siswa di kelas XI SMA Negeri 1 Lubuklinggau tahun pelajaran 2014/2015? Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasi dengan metode kuantitatif non eksperimen. Populasinya adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Lubuklinggau berjumlah 149 siswa. Penentuan sampel diambil secara simple random sampling dari empat kelas terpilih satu kelas yangberjumlah 35 orang. Pengumpulan data konsep diri menggunakan angket dan data prestasi belajar dengan teknik dokumentasi yaitu mengambil nilai raport. Berdasarkan hasil analisis diperoleh rxy = 0,3819 dan thitung = 2,374. Untuk taraf signifikan 5% ttabel = 2,042. Karena nilai thitung> ttabel, maka hipotesis diterima. Disimpulkan ada hubungan yang positif dan signifikan antara konsep diri dengan prestasi belajar fisika siswa kelas XI SMA Negeri 1 Lubuklinggau tahun pelajaran 2014/2015. Kemudian berdasarkan hasil perhitungan koefisien determinasi, konsep diri mempengaruhi prestasi belajar fisika siswa sebesar 14.59% melalui persamaan regresi Y’=59,43+0,28X.

    Kata Kunci : Konsep Diri, Prestasi Belajar Fisika.

    1 Mahasiswa STKIP-PGRI Lubuklinggau

    2,3 Dosen STKIP-PGRI Lubuklinggau

    mailto:iketrymasayulanda@yahoo.com

  • 2

    A. PENDAHULUAN

    Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Adanya pendidikan menjadikan manusia terus mengalami dinamisasi perubahan hidup, baik secara fisik, mental maupun spiritual. Perubahan ini merupakan hasil dari proses interaksi manusia dengan lingkungannya. Dalam proses interaksi tersebut, individu menemukan pribadinya masing-masing. Individu belajar mengidentifikasi dirinya sendiri. Individu mulai membangun konsep diri yaitu sebuah pemikiran atau pandangan terhadap dirinya sendiri.

    Konsep diri setiap individu terbentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh selama hidupnya (Agustiani, 2012:185). Pengalaman hidup yang berbeda dari setiap individu membentuk keragaman konsep diri. Konsep diri merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkah laku. Memiliki konsep diri yang positif akan membantu keberhasilan individu dalam menjalani proses kehidupan sebagaimana yang diharapkan, baik dilingkungan keluarga, sekolah maupun dimasyarakat.

    Keberhasilan pendidikan melalui proses belajar mengajar di sekolah dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain yaitu siswa, kurikulum, tenaga pendidik, sarana prasarana serta faktor lingkungan. Berbagai usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan memang sudah sering dilakukan, seperti perbaikan kurikulum, pelatihan guru, memvariasikan model dan metode pengajaran, pemberian jam tambahan, penggunaan media maupun alat peraga, dan lain-lain. Namun hasil belajar yang diperoleh siswa belum sesuai dengan yang diharapkan. Guru memang memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar, karena merupakan orang yang secara langsung memberikan materi pelajaran kepada siswa. Tetapi tidak sepenuhnya kita harus menyalahkan guru dalam proses belajar mengajar, karena masih ada faktor siswa itu sendiri yang sangat harus diperhatikan.

    Fisika merupakan salah satu bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang lahir dan berkembang lewat langkah-langkah observasi, perumusan masalah, penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis melalui eksperimen, penarikan kesimpulan, serta penemuan teori dan konsep (Trianto, 2010:137). Pencapaian keberhasilan pembelajaran fisika bergantung kepada siswa dalam menguasai pelajaran. Pada kenyataanya masih ada siswa yang tidak menyukai pelajaran fisika. Siswa beranggapan fisika adalah pelajaran yang sulit, banyak menggunakan rumus-rumus dan konsep yang membingungkan, sehingga membuat siswa merasa tidak mampu memahaminya. Persepsi negatif terhadap fisika dapat menimbulkan kesulitan dalam belajar fisika.

    Masyarakat awam kebanyakan berpendapat bahwa untuk meraih prestasi yang tinggi dalam belajar seseorang hanya harus memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi. Namun sebenarnya prestasi belajar merupakan hasil dari proses belajar yang bersifat kompleks dan menyeluruh. Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh banyak faktor. Jika ditinjau dari faktor internal, prestasi belajar juga bisa dipengaruhi oleh faktor psikologis siswa yaitu konsep diri. Menurut John dan Grieneeks (dalam Burns, 1993:359), konsep diri merupakan ukuran perkiraan yang paling baik untuk pencapaian prestasi belajar, bahkan berada di atas ukuran-ukuran kecerdasan.

    Demi keberhasilan proses belajar mengajar dan tercapainya tujuan pembelajaran, sudah menjadi tugas pendidik membentuk konsep diri positif pada siswa dengan membangun pola fikir siswa agar bisa memandang dirinya penting dan percaya diri pada kemampuannya. Konsep diri merupakan salah satu

  • 3

    aspek perkembangan psikososial peserta didik yang penting dipahami oleh seorang guru. Konsep diri merupakan salah satu variabel yang menentukan dalam proses pendidikan. Rendahnya prestasi dan motivasi belajar siswa, terjadinya penyimpangan- penyimpangan perilaku siswa, serta kesulitan belajar yang dialami siswa di kelas banyak disebabkan oleh persepsi negatif siswa terhadap diri sendiri (Desmita, 2012:163).

    Pada dasarnya anak tidak ada yang bodoh. Perbedaan yang berkaitan dengan prestasi akademis semata-mata hanya terletak pada seberapa jauh seorang anak menemukan konsep dirinya (Supandi, 2011:45). Siswa yang dengan konsep diri positif, memiliki kepercayaan diri tinggi terhadap kemampuannya. Mengakibatkan siswa memandang tuntutan disekolah mudah untuk diselesaikan. Dan berupaya menggunakan segala potensinya seoptimal mungkin dalam mengikuti kegiatan belajar. Karena itu siswa akan menetapkan standart prestasi yang harus dicapai Hal ini membuatnya memiliki motivasi berprestasi yang tinggi. Perilaku yang baik hasil dari konsep diri yang positif membuat prestasi belajarnya setara dengan kecerdasannya. Terhadap lingkungan disekitarnya juga juga, siswa merasa diterima dan diperlakukan dengan baik, sehingga memiliki hubungan baik dengan keluarga, guru dan teman sekelasnya.

    Kurangnya perasaan, persepsi dan penilaian yang baik terhadap diri sendiri merupakan gejala khas yang ditemui pada diri siswa yang memiliki prestasi rendah. Konsep diri negatif cenderung menempatkan individu pada penolakan terhadap lingkungan akibat perasaaan inferioritasnya. Pandangan siswa bahwa dirinya tidak kompeten membuat mereka tidak mempunyai minat belajar dan motivasi berprestasi. Walaupun sebenarnya siswa memiliki kecerdasan yang tinggi, namun jika tidak berfikir demikian tentang dirinya, kecerdasannya hanya menjadi potensi yang tidak dapat dikembangkan secara maksimal. Keraguan, ketakutan gagal, tidak percaya diri dan pemikiran sejenis ini akan menyebabkan kapasitas intelektual serta segala potensi siswa tidak sepenuhnya bekerja.

    Berdasarkan hasil pengamatan peneliti pada saat melaksanakan Penerapan Perangkat Pembelajaran (P3) di SMA Negeri 1 Lubuklinggau, dari tanggal 4 Agustus 2014 hingga 30 September 2014. Peneliti melihat bahwa dalam melaksanakan proses belajar mengajar, siswa yang memperoleh nilai tinggi sebagian besar memang siswa yang menyukai pelajaran fisika, mereka menunjukkan sikap bersungguh-sungguh dan lebih semangat belajar. Mereka optimis mampu menguasai pelajaran fisika, mau berusaha dan berkeinginan kuat untuk memperoleh nilai yang baik. Dapat dikatakan mereka memiliki konsep diri yang positif. Sementara sebaliknya ada beberapa siswa yang memperoleh nilai fisika rendah, mereka memang tidak menyukai pelajaran fisika, mereka beranggapan bahwa fisika adalah pelajaran yang cukup sulit jika dibandingkan dengan pelajaran lain. Mereka merasa kurang mampu menguasai pelajaran fisika dan kurangnya keinginan untuk memperoleh nilai yang tinggi. Kenyataan ini merupakan sebuah persepsi negatif terhadap fisika yang berakibat munculnya sikap acuh dan malas belajar. Mereka dapat dikriteriakan memiliki konsep diri negatif.

    Observasi awal yang telah dilakukan tersebut diperkuat dengan adanya lembar penilaian diri peserta didik yang telah diisi siswa pada saat peneliti masih melaksanakan Penerapan Perangkat Pembelajaran (P3) di SMA Negeri 1 Lubuklinggau. Diperoleh hasil penilaian diri peserta didik dengan kriteria sangat

  • 4

    baik sebesar 34,28%, kriteria baik sebesar 62,86% dan kriteria cukup sebesar 2,86%. Sementara itu diperoleh data dari pihak sekolah (Tata Usaha SMA Neger i 1 Lubuklinggau) ternyata nilai rata-rata raport mata pelajaran fisika kelas XI pada semester ganjil tahun pelajaran 2014/2015 adalah 81,95 dengan kriteria ketuntasan minimum (KKM) mata pelajaran fisika adalah 77.

    Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru fisika di SMA Negeri 1 Lubuklinggau pada tanggal 2 April 2015, disimpulkan bahwa prestasi belajar fisika dan konsep diri siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Lubuklinggau bisa dikatakan relatif baik dan ada kecenderungan terdapat hubungan yang positi f antara konsep diri dengan prestasi belajar fisika siswa. Pencapaian prestasi belajar fisika yang maksimal, s