HPT jagung

download HPT jagung

of 16

  • date post

    04-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    358
  • download

    6

Embed Size (px)

Transcript of HPT jagung

Hama utama pada jagung yang sering menimbulkan kerusakan berat di Indonesia adalah penggerek batang, lalat bibit, semut, dan hama kumbang bubuk. Penelitian tentang komponen pengendalian penggerek batang jagung Ostrinia furnacalis telah dilakukan sampai sekarang. Trichogramma evanessen dapat mengendalikan hama penggerek batang apabila dilepas dengan populasi 500.000 ekor/ha tanaman jagung. Komponen pengendalian penggerek batang jagung lainnya yang telah dan sedang diteliti yaitu penggunaan cendawan parasit Beauveria bassiana. Pengujian beberapa isolat memperoleh B. bassiana yang virulen dan telah dibuat formulasi dalam bentuk pellet alginat. Daya tahan simpannya sedang diteliti pada 2004 dan efektivitasnya di lapangan masih perlu diuji. Pengendalian lalat bibit yang efektif yaitu dengan memberikan pestisida carbofuran bersama benih pada lubang tanam. Komponen pengendalian semut yang efektif selain menggunakan carbofuran dapat pula dilakukan dengan perlakuan benih menggunakan insektisida indovin. Hama kumbang bubuk Sitophillus zeamays masih merupakan kendala dalam penyimpanan biji jagung di masyarakat. Kehilangan hasil dapat mencapai 30% dan kerusakan biji dapat mencapai 100%. Pengendalian yang biasa dilakukan untuk hama kumbang bubuk pada penyimpanan skala besar adalah dengan fumigasi methylbromida. Cara pengendalian lain yaitu dengan menyimpan jagung pada ruang/tempat kedap udara. Namun kedua cara ini tidak mudah diadopsi oleh petani. Perlakuan benih dengan zat kimia sangat membahayakan sehingga perlu dicari teknologi pengendalian lain yang ramah lingkungan. Penelitian tentang penggunaan bahan nabati dan hayati mulai dilakukan tahun 2003. Tanaman liar Ageratum conyzoides dan tanaman rempah Andropogon nardus dalam skala kecil di laboratorium mampu menekan Sitophillus sp. Dalam skala yang lebih besar masih perlu pengujiannya.Penyakit bulai (Peronosclerospora sp.) merupakan penyakit yang paling berbahaya karena penyebarannya yang luas dan sering menimbulkan kerusakan sampai 100%. Penelitian mengenai komponen pengendaliaannya telah banyak dilakukan dan telah tersedia seperti varietas jagung tahan bulai, kultur praktis (rotasi tanaman, menanam serempak, dan periode bebas jagung) dan perlakuan benih dengan fungisida berbahan aktif metalaksil. Penyakit hawar daun oleh Helminthosporium sp. juga sering menimbulkan kerusakan berat dan penyebarannya sangat luas. Serangan yang meluas di Sumatera Utara akhirakhir ini telah menyebabkan ratusan hektar puso dan ribuan hektar mengalami serangan berat. Pengujian ketahanan varietas jagung telah dilakukan di Berastagi dan diketahui 11 varietas/galur jagung yang memiliki ketahanan terhadap penyakit hawar daun Helminthosporium turcicum yaitu Kenia-1, Kenia-2, Kenia-3, Pioneer-8, C10, IPB-4, MK11, Exp.9702, Exp.9703, FPC-9923, dan Trop Late White. Varietas unggul hasil Balisereal yang tergolong agak tahan yaitu Sukmaraga, Wisanggeni, dan Kresna. Varietas/galur tahan tersebut akan dikoleksi Balitsereal sebagai sumber ketahanan dalam persilangan untuk pembentukan varietas unggul baru tahan hawar daun.Penyakit busuk batang disebabkan oleh beberapa patogen diantaranya yaitu Fusarium sp., Diplodia sp., dan Gibberella sp. Penyakit ini sering menimbulkan kerusakan berat pada tanaman jagung terutama di musim hujan. Komponen pengendaliannya yang telah diteliti di Balitsereal adalah pengujian ketahanan varietas jagung terhadap busuk batang Fusarium sp. Beberapa varietas unggul baru (bersari bebas dan hibrida) dan galur-galur jagung koleksi Balitsereal diketahui memiliki sifat ketahanan terhadap penyakit busuk batang seperti Antasena, Bisma, Lagaligo, Surya, dan Wisanggeni. Namun varietas-varietas jagung tersebut belum tersebar luas di masayarakat. Komponen lain pengendalian busuk batang jagung yang telah diteliti adalah penggunaan pestisida kimia. Fungisida Mancozeb dan Carbendazim diketahui efektif mengendalikan Fusarium sp. tanpa

menimbulkan resistensi. Dalam mengacu pada pengendalian secara terpadu (PHT), penggunaan bahan kimia harus dihindari. Sehubungan dengan itu mulai diteliti penggunaan bahan nabati dan hayati yang ramah lingkungan. Bahan hayati yang berhasil diidentifikasi mampu menekan penyebab penyakit busuk batang Fusarium adalah cendawan antagonis Trichoderma sp., dan bahan nabati yang efektif menekan Fusarium sp. yaitu tepung daun cengkeh, namun masih dalam skala laboratorium. Pengujian lama penyimpanan dan efektivitasnya di lapangan serta formulasi dan cara aplikasinya masih perlu dilakukan penelitian. Adanya bahan nabati dan hayati yang efektif, akan mengurangi resiko terhadap kesehatan dan diharapkan mengurangi input dalam budidaya jagung.

I. PENDAHULUAN Di Indonesia jagung merupakan komoditi tanaman pangan penting, namun tingkat produksi belum optimal. PT. Natural Nusantara berupaya meningkatkan produksi tanaman jagung secara kuantitas, kualitas dan ramah lingkungan /berkelanjutan ( Aspek K-3). II. SYARAT PERTUMBUHAN Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 10001800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl

III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA A. Syarat benih Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam POC NASA (dosis 2-4 cc/lt air semalam). B. Pengolahan Lahan Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam. Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung. C. Pemupukan Dosis Pupuk Makro (per ha) Waktu Urea TSP (kg) (kg) Perendaman benih 120 Pupuk dasar 80 25 20 - 40 tutup/tangki ( siram merata ) 2 minggu 115 Susulan I (3 minggu) 4 minggu 115 Susulan II (6minggu) 4 - 8 tutup/tangki ( semprot/siram ) 4 - 8 tutup/tangki ( semprot/siram ) 55 4 - 8 tutup/tangki ( semprot/siram) KCl (kg) 2 - 4 cc/ lt air Dosis POC NASA

Catatan : akan lebih baik pupuk dasar menggunakan SUPER NASA dosis 1

botol/1000 m2 dengan cara : - alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 lt air (jadi larutan induk). Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan. - alternatif 2 : 1 gembor (10-15 lt) beri 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 m bedengan. D. Teknik Penanaman 1. Penentuan Pola Tanaman Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan : a. Tumpang sari ( intercropping ), melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo. b. Tumpang gilir ( Multiple Cropping ), dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktorfaktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll. c. Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ): pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang. d. Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ) : penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu. 2. Lubang Tanam dan Cara Tanam Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang). Panen E. Pengelolaan Tanaman 1. Penjarangan dan Penyulaman Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman. 2. Penyiangan Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang

masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari. 3. Pembumbunan Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saa