Hipoglikemia Neonatus

Click here to load reader

  • date post

    21-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    481
  • download

    6

Embed Size (px)

description

Referat hipoglikemia neonatus

Transcript of Hipoglikemia Neonatus

BAB IPENDAHULUAN

Glukosa merupakan sumber energi untuk fungsi organ tubuh. Walaupun semua organ dapat menggunakan glukosa, otak adalah bagian tubuh yang paling eksklusif memerlukan glukosa sebagai substrat yang berfungsi sebagai metabolisme energi. Karena penyimpanan glikogen serebral terbatas, menjaga kecukupan asupan glukosa ke otak merupakan fungsi fisiologis utama. Tingginya brain-to-body-weight ratio pada neonatus mengakibatkan kebutuhan glukosa neonatus yang secara proporsional lebih tinggi dibandingkan dengan kapasitas produksi glukosa daripada yang kebutuhan pad aorang dewasa, dengan penggunaan glukosa serebral yang mencakup 90% dari total konsumsi glukosa tuuh. Walaupun bahan alternatif seperti laktat dan badan keton dapat digunakan sebagai substrat untu produksi energi, respon kontraregulatorik neonatus yang imatur membatasi kketersediaan molekul glukosa. Jadi, neonatus sangat rawan terhadap berbagai kondisi yang mengganggu keseimbangan homeostasis glukosa normal selama transisi dari intrauterine ke kehidupan extrauterin yang independen (McGowen, 2003).Estimasi insidensi hipoglikemia pada neonatus tergantung baik pada definisi kondisi dan metode pengukuran glukosa darah. Keseluruhan insidensi diestimasikan sebanya 5 kejadian dari tiap 1000 kelahiran hidup. Jumlah ini dapat lebih tinggi pada populasi dengan risiko tinggi. Sebagai contoh, 8% neonatus BMK umumnya berasal dari ibu diabetik (IDM) dan 15% bayi preterm dan bayi IUGR dilaporkan mengalami hipoglikemia; insidensi pada seluruh populasi risiko tinggi diperkirakan sebesar 30%. (McGowen, 2003).Beberapa kondisi neonatus tertentu dapat diserai dengan adanya hipoglikemia, seperti : nutrisi maternal yang tidak adekuat selama kehamilan, kelebihan produksi insulin pada bayi dengan ibu diabetik, penyakit hemolitik berat pada neonatus, defek kongenital dan penyakit metabolik kogenital, asfiksia, serta penyakit liver (Lucile Packard Children Hospital, 2013).

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1DefinisiHipoglikemia terjadi ketika kadar glukosa serum secara signifikan lebih rendah daripada rentang pada bayi normal dengan usia postnatal yang sesuai. Walaupun hipoglikemia dapat terjadi dengan gejala neurologis, seperti letargi, koma, apnea, seizure atau simpatomimetik, seperti pucat, palpitasi, diaforesis, yang merupakan manifestasi dari respon terhadap glukosa, banyak neonatus dengan serum glukosa rendah menunjukkan tanda hipoglikemia nonspesifik (Kliegman et al, 2011). Serum glukosa pada neonatus menurun segera setelah lahir sampai 1-3 hari pertama kehidupan. Pada bayi aterm yang sehat, serum glukosa jarang beradadi bawah nilai 35 mg/dL dalam 1 - 3 jam pertama kehidupan, di bawah 40 mg/dL dalam 3-24 jam, dan kurang dari 45 mg/dL (2.5 mmol/L) setelah 24 jam (Kliegman et al, 2011). Hipoglikemia pada neonatus didefinisikan sebagai kondisi dimana glukosa plasma di bawah 30 mg/dL (1.65 mmol/L) dalam 24 jam pertama kehidupan dan kurang dari 45 mg/dL (2.5 mmol/L) setelahnya (Cranmer,2013). Estimasi rata-rata kadar glukosa darah pada fetus adalah 15 mg/dL lebih rendah daripada konsentrasi glukosa maternal. Konsentrasi glukosa akan kemudian berangsur-angsur menurun pada periode postnatal. Konsentrasi di bawah 45 mg/dL didefinisikan sebagai hipoglikemia. Dalam 3 jam, konsentrasi glukosa pada bayi aterm normal akan stabil, berada di antara 50-80 mg/dL. Terdapat dua kelompok neonatus dengan risiko tinggi mengalami hipoglikemia, yaitu bayi lahir dari ibu diabetik (IDM) dan bayi IUGR (Hay et al, 2007).Dalam jurnal American Acssociation of Pediatrics, McGowen (2003) menyatakan pada survei terakhir yang dilakukan oleh para ahli pediatric di Inggris menunjukkan bahwa tidak ada konsensus untuk nilai kadar glukosa darah yang didefinisikan sebagai hipoglikemia. Dengan catatan, konsentrasi yang berada pada nilai 1 mmol/L (20 mg/dL) sampai 4 mmol/L (70 mg/dL) merupakan batas bawah normal. Definisi hipoglikemia yang selama ini digunakan dibuat berdasarkan populasi penelitian pada konsentrasi glukosa darah selama 48-72 jam pertama kehidupan, dengan hipoglikemia didefinisikan sebagai kadar glukosa darah kurang dari 2 standar deviasi di bawah rata-rata normal. Secara fisiologis, hipoglikemia terjadi ketika ambilan glukosa tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan glukosa dan dapat terjadi melebihi rentang kadar glukosa normal. Sebagai contoh, bayi aterm sehat berusia 2 jam dengan kadar glukosa darah 30 mg/dL dapat tidak mengalami gangguan fungsi organ, tetapi pada stressed infant dapat menunjukkan gejala fisiologis hipoglikemia pada kadar glukosa darah 50 mg/dL jika laju hantaran glukosa pada organ spesifik, seprti otwak, kurang dari kecepatan metabolisme glukosa. Belum ada penelitian yang menyatakan kosentrasi glukosa absolut yang mengakibatkan adanya disfungsi organ baik jangka pendek maupun panjang. Pada eksperimen dengan hewan percobaan, konsentrasi glukosa kurang dari 1 mmol/L (1:10,000) Fatty acid oxidation disorders (1:10,000) Hereditary fructose intolerance (1:20,000 to 1:50,000) Glycogen storage diseases (1:25,000) Galactosemia (1:40,000) Organic acidemias (1:50,000) Phosphoenolpyruvate carboxykinase deficiency (rare) Primary lactic acidosis (rare)Penelitian di Jepang, menunjukkan bahwa lebih dari 80% neonatus yang masuk ke NICU, penyebabnya adalah apnea atau hipoglikemia pada neonatus yang lahir pada usia kehamilan 35-36 minggu (Cranmer, 2013).2.3Manifestasi Klinis Walaupun hipoglikemia sering diklasifikasikan dalam simtomasis dan asimtomatis, penggolongan tersebut sebenarnya merefleksikan ada atau tidaknya tanda-tanda fisik yang menyertai kadar glukosa darah yang rendah. Berbagai tanda dapat terlihat pada kasus hipoglikemia berat atau berkepanjangan dan pada bayi yang mengalami hipoglikemia ringan sampai sedang yang berkepanjangan serta pada bayi yang mengalami stres fisiologis. Tanda-tanda klinis yang ditemukan merupakan tanda nonspesifik dan merupakan akibat dari gangguan pada lebih dari satu aspek fungsi sistem saraf pusat. Meliputi pola pernapasan abnormal, seperti takipnea, apnea, atau distress napas; tanda-tanda kardiovaskuler, seperti takikardia atau bradikardia, dan manifestasi neurologis seperti jitteriness, letargis, kemampuan mengisap yang lemah, instabilitas suhu tubuh, dan kejang. Banyak dari tanda-tanda tersebut merupakan akibat dari gangguan neonatus yang lain, seperti sepsis, hypokalemia, dan pendarahan intracranial. Hipoglikemia harus dipertimbangkan pada bayi yang menunjukkan satu atau lebih dari gejala-gejala tersebut, karena hipoglikemia yang tak segera diatasi dapat mengakibatkan konsekuensi serius, dan penatalaksanaan hipoglikemia pun cepat, relatif mudah, dan memiliki efek samping minimal. Tetapi, pada standar penatalaksanaan neonatus yang ada saat ini, sebagian besar kasus hipiglikemia terdiagnosis selama pemeriksaan rutin pada bayi yang dipertimbangkan berisiko namun dalam evaluasi tampak normal secara fisiologis (McGowen, 2003).Lucile Packard Childrens Hospital, 2013, memaparkan bahwa tanda-tanda hipoglikemia pada neonatus meliputi : jitteriness cyanosis (blue coloring) apnea (stopping breathing) hypothermia (low body temperature) poor body tone poor feeding lethargy seizures2.4 EtiologiPenyebab hipoglikemia pada neonatus, meliputi :1.Persistent Hyperinsulinemic Hypoglicemia of Infancy.2.Penyimpanan glikogen yang terbatas ( misalnya pada prematur dan IUGR)3.Peningkatan penggunaan glukosa ( seperti pada kasus hipotermia, polisitemia, sepsis, defisiensi hormon pertumbuhan ).4.Penurunan glikogenolisis, gluokoneogenesis, atau penggunaan substrat alternatif ( misalnya pada gangguan metabolisme dan insufisiensi adrenal).5.Penurunan penyimpanan glikogen ( seperti pada stress akibat asfiksia perinatal, dan starvation).Pada hipoglikemia ketotik, penyimpanan glikogen mudah berkurang, dan dikombinasi dengan produksi glukosa melalui gluconeogenesis yang tidak adekuat, berakibat pada terjadinya hipoglikemia. Jadi, oksigenasi asam lemak diperlukan dalam menyediakan substrat untuk gluconeogenesis dan ketogenesis. Keton, yang merupakan hasil samping dari metabolisme asam lemak, diekskresikan melalui urin dan menunjukkan kondisi kelaparan (starved state) (Cranmer, 2013).2.5Patogenesis 2.5.1Prematuritas dan IUGRPenyebab hipoglikemia pada neonatus dapat dikategorikan berdasarkan gangguan yang menyertai pada satu atau lebih proses yang diperlukan untuk produksi glukosa hepatic normal. Penyimpanan glikogen hepatik jumlahnya terbatas baik pada bayi preterm yang belum mengalami periode akumulasi glikogen cepat selama masa akhir gestasi, dan bayi kecil masa kehamilan (KMK/SGA) yang belum memiliki suplai persediaan substrat yang adekuat untuk sintesis glikogen, yang akan berakibat pada timbulnya risiko hipoglikemia. IUGR yang disebabkan oleh insufisiensi plasenta dengan ukuran lingkar kepala bayi yang normal menyebabkan peningkatan kebutuhan glukosa pada bayi yang sudah dalam kondisi penyimpanan glikogen rendah karena tingginya brain-to-bidyweight ratio. Bayi postterm dan gestasi ganda juga berisiko hipoglikemia karena adanya insufisiensi plasenta relatif. Penelitian yang dilakukan pada kelompok bayi preterm dan IUGR menemukan adanya perubahan pola sekresi insulin, metabolisme substrat, dan respons hormonal terhadap perubahan konsentrasi glukosa darah dibandingkan dengan bayi yang sesuai masa kehamilan (SMK/AGA) (McGowen, 2003).Bayi yang mengalami stress perinatal karena asfiksia atau hipotermia atau mengalami peningkatan kerja otot pernapasan disebabkan oleh distress napas mungkin memiliki penyimpanan glikogen normal, tetapi jumpah glikogen yang tersedia tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan tinggi dengan adanya tingkat penggunaan glukosa yang lebih tinggi dari normal. Hipoglikemia dapat terjadi pada bayi dalam kondisi ini ketika glikogen yang tersedia telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan metabolik postnatal inisial, terutama jika telah ada periode hipoksemia dengan disertai konsumsi glukosa cepat melalui metabolisme anaerob(McGowen, 2003).K