Hak Hak Pasien

of 21 /21
HAK-HAK PASIEN HAK-HAK PASIEN Hak pasien merupakan bagian dari Hak pasien merupakan bagian dari hak manusia, mengingat hak hak manusia, mengingat hak merupakan tuntutan secara merupakan tuntutan secara rasional dalam situasi tertentu. rasional dalam situasi tertentu. Setiap manusia mempunyai hak Setiap manusia mempunyai hak untuk dihargai sebagai manusia. untuk dihargai sebagai manusia. Beberapa hak pasien dalam Beberapa hak pasien dalam pelayanan kesehatan, adalah pelayanan kesehatan, adalah sebagai berikut : sebagai berikut :

Embed Size (px)

description

kesehatan

Transcript of Hak Hak Pasien

  • HAK-HAK PASIEN Hak pasien merupakan bagian dari hak manusia, mengingat hak merupakan tuntutan secara rasional dalam situasi tertentu. Setiap manusia mempunyai hak untuk dihargai sebagai manusia. Beberapa hak pasien dalam pelayanan kesehatan, adalah sebagai berikut :

  • Hak mendapatkan, pelayanan kesehatan yang adil, memadai dan berkualitasHak untuk diberikan informasiHak untuk dilibatkan dalam pembuatan keputusan tentang pengobatan dan perawatanHak untuk diberikan informed consentHak untuk menolak suatu consentHak untuk mengetahui nama dan status tenaga kesehatan yang menolongHak untuk mempunyai pendapatHak untk diperlakukan secara hormatHak untuk konfidentilitas termasuk privasiHak untuk memilih integritas tubuhHak untuk kompensasi terhadap cedera yang tidak legalHak untuk mempertahankan kemuliaan (diginitas) (prihardjo, Robert, 1995)

  • KEBUTUHAN RASA NYAMAN (BEBAS NYERI)Pengertian Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan yang tidak menyenangkan, bersifat sangat subyektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya pada orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya. Berikut adalah pendapat beberapa ahli mengenai pengertian nyeri :

  • Mc. Coffery (1979), mendefinisikan nyeri sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang yang keberadaannya diketahui hanya luka orang tersebut pernah mengalaminya.Wolf Weifsel Feurest (1974), mengatakan nyeri merupakan suatu perasaan menderita secara fisik dan mental atau perasaan yang bisa menimbulkan ketegangan.Artur C. curton (1983), mentatakan bahwa nyeri merupakan suatu mekanisme bagi tubuh, timbul ketika jaringan sedang dirusak, dan menyebabkan individu tersebut bereaksi untuk menghilangkan rangsangan nyeriSerumum, mengartikan nyeri sebagai suatu keadaan yang tidak menyenakngkan akibat terjadinya rangsangan fisik maupun dari serabut saraf dalam tubuh akibat terjadinya rangsangan fisik maupun dari serabut saraf dalam tubuh ke otak dan diikuti oleh reaksi fisik. Fisiologis maupun emosional.

  • FISIOLOGI NYERI Munculnya nyeri sangat berkaitan erat dengan reseptor dan adanya rangsangan. Reseptor nyeri yang dimaksud adalah nociceptor, merupakan ujung-ujung sarag sangat bebas yang memiliki sedikit atau bahkan nyeri yang tersebar pada kulit dan mukosa, khususnya pada organ viseral, persendian, dinding arteri, hati dan kandung empedu.Selanjutnya, stimulasi yang diterima oleh reseptor tersebut ditransmisikan berupa implus-implus yang ditransmisikan oleh serabut delta A mempunyai sifat inhibitor yang ditransisikan ke serabut C.

  • Diantara lapisan dua dan tiga membentuk subrantia gelatinosa yang merupakan saluran utama impuls. Kemudian, implus nyeri menyebrangi sumsum tulang paling utama. Yaitu jalur spinothalamic tract (STT) atau jalus spinothalamus dan spinothenticular tract (SRT) yangmembawa informasi mengenai sifat dan lokasi nyeri.

  • KLASIFIKASI NYERI Klasifikasi nyeri secara umum dibagi menjadi dua, yakni nyeri akut dan kronis. Nyeri akut merupakan nyeri yang timbul secara mendadak dan cepat menghilang. Tidak melebihi 6 bulan dan ditandai adanya peningkatan tegangan otot. Nyeri kronis merupakan nyeri yang timbul secara perlahan-lahan, biasanya berlangsung dalam waktu cukup lama. Yaitu lebih dari 6 bulan. Yang termasuk dalam katagori nyeri kronis adalah nyeri terminal, sindrom nyeri kronis, dan nyeri psikosomatik. Ditinjau dari sifat terjadinya, nyeri dapat dibagi kedalam beberapa kategori di antaranya nyeri tertusuk, dan nyeri terbakar.

  • PERBEDAAN NYERI AKUT DAN KRONIS

  • Selain klasifikasi nyeri diatas, terdapat jenis nyeri yang spesifik, diantaranya nyeri somatik, nyeri visceral nyeri menjalar (referent pain), nyeri psikogenetik, nyeri phantom dari ekstremitas, nyeri neurilogis, dan lain-lain.Nyeri somatis dan nyeri visceral ini umumnya bersumber dari kulit dan jaringan dibawah kulit (superfisial) pada otot dan tulang. Perbedaan antara kedua nyeri ini dapat dilihat pada tabel berikut :

  • PERBEDAAN NYERI SOMATIK DAN VISERAL

  • Nyeri menjalar adalah nyeri yang terasa pada bagian tubuh yang lain, umumnya terjadi akibat kerusakan pada cedera organ visceral. Nyeri psikogenetik adalah nyeri yang tidak diketahui secara fisik biasanya timbul akibat psikologis. Nyeri phantom adalah nyeri yang disebabkan karena salah satu ekstremitas diamputasi. Nyeri neurologis adalah bentuk nyeri yang tajam karena adanya spasme di sepanjang atau dibeberapa jalur saraf.

  • STIMULUS NYERI Seseorang dapat menoleransi, menahan nyeri (pain toleranc), atau dapat mengenali jumlah stimulasi nyeri sebelum merasakan nyeri (pain threshold). Terdapat beberapa jenis stimulus nyeri, diantaranya :

  • Trauma pada jaringan tubuh, misalnya karena bedah, akibat terjadinya kerusakan jaringan dan iritasi secara langsung pada reseptor.Gangguan pada jaringan tubuh, misalnya karena edema, akibat terjadinya penekanan pada reseptor nyeriTumor, dapat juga menekan pada reseptor nyeriIskemia pada jaringan, misalnya terjadi blokade pada arteria koronaria yang menstrimulasi reseptor nyeri akibat tertumpuknya asam laktatSpasme otot, dapat menstimulasi mekanik.

  • TEORI NYERI Terdapat beberapa teori tentang terjadinya rangsangan nyeri, diantaranya : Teori Pemisahan : (specificity theory) Menurut teori ini rangsangan sakit masuk ke medula spinalis (spinal cord) melalui kornu dorsalis yang bersinaps di daerah posterior. Kemudian naik ke tractus lissur dan menyilang di garis median ke sisi lainnya dan berakhir di korteks sensoris tempat rangsangan nyeri tersebut diteruskan.

  • Teori Pola (pattern theory) Rangsangan nyeri masuk melalui akar ganglion dorsal ke medulla spinalis dan merangsang aktivitas sel T. hal ini mengakibatkan suatu respons yang merangsang ke bagian yang lebih tinggi, yaitu korteks serebri serta kontraksi menimbulkan persepsi dan otot berkontraksi sehingga menimbulkan nyeri. Persepsi dipengaruhi oleh modalitas respond dari reaksi sel T.

  • Teori Pengendalian Gerbang (gate control theory). Menurut teori ini, nyeri tergantung dari kerja serat saraf besar dan kecil. Keduanya berada dalam akar ganglion dorsalis. Rangsangan pada serat besar akan meningkatkan aktivitas subtansia gelatinosa yang mengakibatkan tertutupnya pintu mekanisme sehingga aktivitas sel T terhambat dan menyebabkan hantaran rangsangan terhambat. Rangsangan serat besar dapat langsung merangsang ke korteks serebri. Hasil persepsi ini akan dikembalikan ke dalam medulla spinalis melalui serat eferen dan reaksinya mempengaruhi aktifitas sel T.

  • Teori Tranmisi dan Inhibisi. Adanya stimulus pada nociceptor memulai transmisi impuls-impuls saraf, sehingga transmisi impuls nyeri menjadi efektif oleh neurotransmiter yang spesifik. Kemudian, inhibisi impuls nyeri menjadi efektif oleh implus-impuls pada serabut-serabut besar yang memblok impuls-impuls pada serabut lamban dan endogen opiete sistem supresif. (Barbara C Long 1989)

  • FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NYERI Pengalaman nyeri pada seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya adalah :Arti nyeri : arti nyeri bagi seseorang memiliki banyak perbedaan dan hampir sebagian arti nyeri merupakan arti yang negatif, seperti membahayakan, merusak, dan lain-lain. Keadaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia, jenis kelamin, latar belakang sosial kultural, lingkungan, dan pengalaman.

  • Persepsi nyeri : persepsi nyeri merupakan penilaian sangat subyektif tempatnya pada korteks (pada fungsi evaluatif kognitif). Persepsi ini dipengaruhi oleh faktor yang dapat memicu stimulasi nociceptor.

  • Toleransi Nyeri : toleransi ini erat hubungannya dengan adanya intensitas nyeri yang dapat mempengaruhi seseorang menahan nyeri. Faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan toleransi nyeri antara lain alkohol, obat-obatan, hipnosis, gesekan, pengalihan perhatian, kepercayaan yang kuat dan sebagainya, sedangkan faktor yang menurunkan toleransi antara lain kelelahan, rasa marah, bosan, cemas, nyeri yang tidak kunjung hilang, sakit dan lain-lain.

  • Reaksi terhadap nyeri : reaksi terhadap nyeri merupakan bentuk respons seseorang terhadap nyeri, seperti ketakutan, gelisah, cemas, menangis, dan menjerit. Semua ini merupakan bentuk respons nyeri yang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti : arti nyeri, tingkat persepsi nyeri, pengalaman masa lalu, nilai budaya, harapan sosial, kesehatan fisik dan mental, takut, cemas, usia dan lain-lain.