HADIS TENTANG ANJURAN MENIKAHI GADIS (PERAWAN)

of 64 /64
i HADIS TENTANG ANJURAN MENIKAHI GADIS (PERAWAN) (Kajian ) SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Theologi Islam (S Th.I) Disusun Oleh: SEPTIAN HUDAYA NIM: 09530033 JURUSAN TAFSIR HADIS FAKULTAS USHULUDDIN, STUDI AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALI JAGA YOGYAKARTA 2013

Embed Size (px)

Transcript of HADIS TENTANG ANJURAN MENIKAHI GADIS (PERAWAN)

Microsoft Word - 0. Halaman Judul(Kajian )
SKRIPSI
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
untuk Memenuhi Sebagian Syarat
Disusun Oleh:
SEPTIAN HUDAYA
NIM: 09530033
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALI JAGA
YOGYAKARTA
2013
vi
Maha Penyayang.”
vii
pedoman Arab-Latin yang diangkat dari Keputusan Bersama Menteri Agama dan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nomor 158 Tahun 1987 dan
Nomor 0543 b/U/1987, selengkapnya adalah sebagai berikut :
1. Konsonan
Fonem konsonan bahasa Arab, yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan
dengan huruf, dalam tulisan transliterasi ini sebagian dilambangkan dengan huruf,
sebagian dengan tanda, dan sebagian dengan huruf dan tanda sekaligus, sebagai
berikut :
alif Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan
ba’ be
ta’ te
jim je
kha ka dan ha
ra er
ta Te (dengan titik dibawah)
za zet (dengan titik di bawah)
‘ain koma terbalik (di atas)
ghain ge
fa ef
qaf qi
kaf ka
lam el
mim em
nun en
wau we
ha ha
hamzah apostrof
ya’ ya
Fathah A A
Kasrah I I
Dammah U U
b. Vokal Rangkap :
Contoh :
Fathah dan alif A A dengan garis di atas
Fathah dan ya A A dengan garis di atas
' Kasrah dan ya I I dengan garis di atas
Dammah dan wau u U dengan garis di atas
xi
Contoh :
c. Jika " #$ diikuti kata yang menggunakan kata sandang $/$/ ("al-/), dan
bacaannya terpisah, maka " #$ tersebut ditransliterasikan dengan "h".
Contoh :
Transliterasi )%% atau $)%% dilambangkan dengan huruf yang sama, baik
ketika berada di awal atau di akhir kata .
Contoh :
Contoh :
Meskipun tulisan Arab tidak mengenal huruf kapital, tetapi dalam transliterasi huruf
kapital digunakan untuk awal kalimat, nama diri, dan sebagainya seperti ketentuan
dalam EYD. Awal kata sandang pada nama diri tidak ditulis dengan huruf kapital,
kecuali jika terletak pada permulaan kalimat.
Contoh :
$ $
$ $
Dalam pernikahan, sudah sewajarnya bila seorang suami mengharapkan
kepada calon istri yang akan dinikahinya masih dalam kondisi virgin atau perawan.
Bagi sebagian orang, keperawanan merupakan lambang kesucian yang harus dijaga
dan dipelihara. Karena keperawanan merupakan cerminan sebagai bentuk
kehormatan diri dan keluarga. Oleh sebab itu, menjaga keperawanan sama dengan
menjaga kehormatan diri dan keluarga.
Sampai sekarang ini, status perawan sebelum menikah bisa berujung pada
hidup mati seorang wanita di beberapa negara. Seperti yang terjadi di Mesir, al-
Jazair, Maroko bahkan di Indonesia. Seorang wanita dituntut harus bisa membuktikan
bahwa dia masih perawan hingga malam pengantin, pembuktiaannya ialah melalui
secarik kain yang ternoda darah perawan. Jika ia tidak dapat membuktikannya maka
ia dianggap telah mencoreng kehormatan keluarganya. Adapun konsekuensinya, ia
akan diceraikan oleh suaminya atau bahkan hidupnya bisa diakhiri oleh kerabat pria
dalam keluarganya.
anjuran menikahi gadis (perawan) terkait dengan konteks kekinian, sehingga kaum
lelaki khususnya mengetahui manfaat menikahi gadis (perawan) yang tidak hanya
terpaku dan terjebak dengan paradigma robek tidaknya selaput dara, akan tetapi juga
mengetahui makna yang tersirat dibalik anjuran menikahi gadis (perawan), tanpa
harus menempatkan perempuan hanya sebagai obyek seks semata dalam rumah
tangga. Akan tetapi, dibutuhkan relasi (hubungan) dan kerjasama yang baik antara
suami istri dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang ada, dengan saling
menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan dan saling melengkapi
satu sama lain, sehingga tujuan untuk meraih kehidupan rumah tangga yang sakinah,
mawaddah wa rahmah dari pernikahan itu sendiri dapat terpenuhi.
Tujuan dari penelitian ini selain mengetahui makna hadis tentang anjuran
menikahi gadis (perawan) jika dikaitkan dengan problema sekarang ini diharapkan
dapat bermanfaat bagi kajian hadis tentang menikahi gadis (perawan) lebih lanjut dan
dapat menambah khazanah keilmuan serta literature studi hadis.
Setelah dikaji dengan menggunakan metode . Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pemaknaan hadis tentang anjuran menikahi gadis (perawan) dari
riwayat no. 1752 tidak bisa dimaknai secara tekstual. Beberapa alasan
yang menjadi dasar adalah 1) pernikahan adalah relasi suami istri yang diikat dengan
, sehingga proses mulai dari memilih pasangan sampai dengan
menjaga pernikahan harus melibatkan dua subyek yaitu memilih pasangan suami dan
istri. 2) hadis tentang anjuran menikahi gadis (perawan) tidak bisa dimaknai secara
fisik (perjaka/perawan) semata, tetapi dinilai dari kebersihan dan kebaikan pribadinya
yang bisa dijadikan titik acuan memilih pasangan suami atau istri.
xiv


!"#$%&'&(
)!*
Segala puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai
syarat mengajukan gelar Strata Satu. Shalawat serta salam semoga senantiasa
terlimpahkan kepada junjungan alam Nabi Muhammad SAW yang telah menuntun
manusia menuju jalan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Skripsi ini membahasa hadis-hadis tentang anjuran menikahi gadis (perawan)
(kajian . Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini
tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan, bimbingan, dan dorongan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, pada kesempatan ini penyusun
mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Dekan Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta.
xv
2. Ketua dan Sekretaris Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan
Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
3. Ibu Dr. Nurun Najwah, M.Ag., selaku Pembimbing Skripsi yang selalu
memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis.
4. Bapak Drs. Indal Abror, M.Ag., selaku Penasehat Akademik yang selalu
memberikan motivasi dan spirit kepada penulis.
5. Segenap Dosen dan Karyawan Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran
Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
6. Pimpinan dan Karyawan Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
7. Ayahanda tercinta (Arwidi) dan Ibunda (Zainar) tercinta yang selalu mendo’akan
dimanapun aku berada dan selalu mencurahkan kasih sayang, kesabaran serta
dorongan moril maupun materil yang tiada henti-hentinya kepada penulis.
8. Abangku (Sahid Arjanggi) mohon maaf ya karena tidak bisa menghadiri acara
wisudanya, semoga cepet dapat kerja yang layak dan cepet nikah dan buat Adik-
adikku tersayang (Nahrasiah Kumala dan Ichramsyah Sufihara) belajar yang
sungguh-sungguh ya dan terus semangat semoga kalian menjadi orang-orang
yang sukses baik dunia maupun akhirat.
9. Teman-teman TH ’09, terima kasih buat kebersamaannya selama ini, semoga kita
bisa bertemu lagi di lain hari dengan membawa kesuksesan masing-masing
sebagaimana yang kita cita-citakan selama ini.
xvi
10. Temen-temen Formasy (Forum Mahasiswa Alumni Ar-Rasyid), terima kasih atas
kebersamaannya, mudah-mudahan kegiatan diskusi dan baca qur’annya bisa lebih
aktif lagi kedepannya.
11. Tak lupa pula kepada sahabat-sahabatku khususnya Poso, Fajri (terima kasih buat
pinjaman uangnya) dan sahabat-sahabatku yang lainnya yang tidak mungkin
disebutkan satu persatu terima kasih atas motivasi, dukungan serta do’a yang
kalian berikan hingga akhirnya penulis menyelesaikan skripsi ini.
12. Semua pihak yang telah ikut berjasa dalam penyusunan skripsi ini yang tidak
mungkin disebutkan satu persatu.
Akhirnya, hanya kepada Allah SWT penulis berharap dan berdoa semoga
skripsi ini dapat memberikan banyak manfaat bagi penulis maupun para pembaca
serta dapat memberikan sumbangan bagi khazanah ilmu pengetahuan khususnya di
bidang ilmu hadis dalam rangka mengembangkan penelitian yang berkaitan dengan
judul skripsi ini.
HALAMAN NOTA DINAS ........................................................................... iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................. iv
B. Rumusan Masalah ................................................................... 10
D. Telaah Pustaka ........................................................................ 11
E. Metode Penelitian ................................................................... 14
F. Sistematika Pembahasan ......................................................... 19
(PERAWAN)
2. Persambungan Sanad .......................................... 41
BAB III : PEMAKNAAN HADIS TENTANG ANJURAN MENIKAHI GADIS
(PERAWAN)
D. Kajian Konfirmatif .................................................................. 69
E. Analisis Generalisasi ............................................................... 72
(PERAWAN) DALAM KONTEKS KEKINIAN
Dengan Perkawinan Rasulullah SAW .................................... 83
BAB V : PENUTUP
C. Kesimpulan ............................................................................. 90
D. Saran ....................................................................................... 91
E. Penutup ................................................................................... 92
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 93
merupakan sumber hukum kedua dalam Islam setelah al-
Qur’an. Tanpa menggunakan hadis, syari’at Islam tidak dapat dimengerti
secara utuh dan tidak dapat dilaksanakan dengan baik dan benar. 2 Pesan yang
terkandung dalam sebuah hadis itu adakalanya secara lahiriah bermakna
umum dan adapula yang bersifat khusus. Akan tetapi, bila dilakukan
pengkajian yang mendalam terhadapnya, akan tampak bahwa hadis tersebut
berorientasikan kepada suatu kausalitas. Apabila kausalitas itu hilang, hukum
yang ada pada hadis akan sulit dipahami atau bahkan menjadi tidak berlaku,
begitu pula halnya jika kausalitasnya ada, maka hukum hadis itu masih tetap
berlaku. 3
terjadinya sebuah hadis ( ) memiliki peranan utama
Dalam ilmu hadis, adalah pembicaraan yang diriwayatkan atau diasosiasikan
kepada Nabi Muhammad saw. Ringkasnya segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw, baik
berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir Nabi Muhammad saw. Baca H.Mudasir, Ilmu Hadis
(Bandung:Pustaka Setia, 2005), hlm. 15.
Menurut bahasa, artinya (baru), al-khabar (berita), pesan keagamaan,
pembicaraan. Lihat Muh.Zuhri, Hadis Nabi Telaah Historis dan Metodologis (Yogyakarta: PT Tiara
Wacana Yogya, 2003) , hlm. 1.




dalam pemahaman hadis. Adakalanya sebuah hadis tertentu lebih tepat
dipahami secara tersurat (tekstual), sedang untuk kasus yang lain lebih tepat
dipahami secara tersirat (kontekstual). Penerapan hadis secara tekstual dapat
dilakukan setelah dihubungkan dengan faktor yang berkaitan dengannya,
seperti latar belakang terjadinya tetap memiliki kandungan pemahaman yang
sesuai dengan apa tertulis dalam teks hadis. Sedangkan penerapan hadis
secara kontekstual dapat dilakukan bila dibalik teks suatu hadis, ada indikasi
kuat yang mengharuskan hadis tersebut dipahami secara tersirat
(kontekstual). 4 Karenanya penting sekali mendudukkan pemahaman hadis
pada tempat yang proporsional, kapan dipahami secara tekstual, kontekstual,
universal, temporal maupun situasional. 5
Penelitian terhadap hadis menjadi penting dilakukan karena
dilatarbelakangi oleh enam faktor yaitu: a) hadis Nabi sebagai salah satu
sumber ajaran Islam, b) tidak semua hadis tertulis di zaman Nabi, c) telah
terjadi kasus manipulasi dan pemalsuan hadis, d) proses penghimpunan hadis
yang memakan waktu demikian lama, e) jumlah kitab hadis yang demikian
Adanya problematika pemahaman hadis tersebut berimplikasi terhadap perbedaan dalam
menangkap kebenaran maksud kandungan suatu hadis, dan pemaknaan hadis merupakan problematika
tersendiri dalam diskursus hadis. Sebab pemaknaan hadis dapat dilakukan terhadap hadis yang sudah
teruji validitas dan kualitas keshahihannya, minimal hadis yang dikategorikan sebagai hadis .
Lihat M. Syuhudi Ismail. Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah Ma’anil Hadis tentang
Ajaran Islam yang Universal, Temporal dan Lokal (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), hlm. 89.
Suryadi, Metode Kontemporer Memahami Hadis Nabi Perspektif Muhammad al-Ghazali
dan Yusuf al-Qardhawi, hlm. 4.




banyak jumlahnya, dengan metode penyusunan yang berbeda, f) telah terjadi
periwayatan hadis secara makna. 6
Terkait dengan pentingnya dilakukan kajian penelitian hadis, dalam
diskursus kali ini, penulis akan mencoba meneliti hadis-hadis yang berkaitan
dengan “Anjuran menikahi gadis (perawan)”. Ketertarikan penulis dengan
problematik ini, karena mengingat seringkali ajaran Islam (al-Qur’an dan
Hadis) dijadikan legitimasi sebuah kepentingan. padahal bukan ajaran agama
itu sendiri yang menjadi penyebab utamanya, akan tetapi justru berasal dari
pemahaman (interpretasi) yang tidak mustahil dipengaruhi oleh tradisi
ataupun budaya, sehingga pemahaman atau interpretasi yang dihasilkan pun
seringkali tidak sejalan dengan petunjuk al-Qur’an dan hadis itu sendiri.
Berbicara tentang pernikahan, 7 banyak hadis-hadis Nabi saw yang
telah menjelaskan kriteria-kriteria calon istri yang baik untuk dinikahi oleh
laki-laki baik dari segi fisik maupun non fisik. Diantaranya ialah bahwa Nabi
sangat menganjurkan kepada para pemuda untuk lebih mengutamakan
Umi Sumbullah, Kritik Hadis Pendekatan Historis Metodologis, hal. 4. lihat juga M.
Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm. 7.
Pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan perempuan yang terjadi
berdasarkan kesepakatan keduanya dan sesuai dengan aturan yang berlaku, demi mencapai sebuah
keluarga yang rukun tenteram, penuh cinta dan kasih sayang. Karenya pernikahan adalah media untuk
meraih ketentraman jiwa, dan membebaskan individu-individu maupun masyarakat dari pergaulan
bebas yang dapat memberikan dampak negatif baik dari segi kesehatan maupun kehidupan sosial. lihat
Muhammad Muhyidin, Dilarang Melajang Raihlah Berkah Menikah (Semarang: Qudsi Media, 2006),
hlm 16. Lihat juga Abu Ahmad Wajih, Kado Indah Pernikahan dari Meminang hingga Malam
Pengantin (Yogyakarta: Ad-Dawa’, 2005), hlm 16.




memberikan perhatian khusus terhadap keperawanan perempuan yang akan
dinikahi.
Kata gadis atau perawan (dalam kamus bahasa Indonesia), atau virgin
(dalam bahasa Inggris), maupun bikr (dalam bahasa Arab) mempunyai arti
seseorang yang belum pernah disentuh atau belum pernah menikah dan belum
pernah berhubungan intim dengan lawan jenis maupun sesama jenis. 8
Keperawanan merupakan petunjuk anatomis yang memperlihatkan
keutuhan selaput dara (hymen). Karena selaput ini biasanya terobek begitu
organ laki-laki masuk ke dalam vagina untuk pertama kalinya (robeknya
selaput dara ini disebut sebagai deflorasi). Selaput dara yang utuh diharapkan
terdapat pada gadis yang belum melakukan hubungan seksual. 9
Sampai sekarang, status perawan sebelum menikah bisa berujung pada
hidup mati seorang wanita di Timur Tengah. Seorang wanita yang melakukan
seks diluar nikah bisa dianggap mencoreng kehormatan keluarga dan
konsekuensinya, hidupnya bisa diakhiri oleh kerabat pria dalam keluarganya.
Abdul Rahim Sitorus dan Gugun el-Guyanie, Mitos Keperawanan Perspektif Agama dan
Budaya (Yogyakarta: Madina Press, 2009), hlm. 3.
Hassan Hathout, Revolusi Seksual Perempuan: Obstetri dan Ginekologi dalam Tinjauan
Islam (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 82.




Di Mesir, keperawanan benar-benar dijadikan sebagai lambang
kesucian dari seorang wanita, tidak heran jika banyak wanita di Mesir yang
diceraikan pada malam pertama. Biasanya dan sudah menjadi adat orang-
orang Mesir, setelah melangsungkan aqad dan resepsi perkawinan, sebelum
memasuki kamar, kedua mempelai ditemani oleh 2 orang saksi yang setia
menunggu di depan pintu. Bilamana sang pria tiba-tiba keluar dan melaporkan
ketidak-perawanan sang istri, hal itu kemudian diperiksa oleh saksi, dan jika
terbukti benar, maka si wanita diceraikan pada saat itu juga dan lebih
menyedihkan lagi, sang wanita harus mengembalikan semua mahar yang telah
diberikan. 10
Hal yang sama juga terjadi di sebuah desa di Al-Jazair, jika mempelai
wanita tidak dapat dibuktikan bahwa dia masih perawan pada malam itu,
maka dia akan dibunuh oleh ayah atau saudara-saudara lelakinya. Bukti
keperawanannya adalah secarik kain yang terkena noda darahnya. 11
Demikian juga di Maroko, pada malam pengantin, mempelai pria
harus merobek selaput dara istrinya dan kemudian segera menariknya tanpa
Abdul Rahim Sitorus dan Gugun el-Guyanie, Mitos Keperawanan Perspektif Agama dan
Budaya, hlm. 18.
11 Pada malam pertamanya. Dia (mempelai wanita) dibawa ke kamar pengantin, sementara
keluarga dari pihaknya dan keluarga dari pihak suaminya berdiri di luar. Orang-orang sedesa
berkumpul di luar rumah, memukul gendang dan menyanyikan lagu-lagu untuk kehormatan kedua
keluarga itu. Lihat Munawar Ahmad Aness, Islam dan Masa Depan Biologis Umat Manusia: Etika,
Gender, Teknologi (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 46.




mengalami ejakulasi. Akan merupakan aib bagi pasangan dan kedua keluarga
pengantin, jika secarik kain yang seharusnya ternoda darah perawan – sebagai
bukti kesucian – justru menunjukkan adanya sperma suaminya. 12
Di Irak, tes keperawanan sebelum menikah sudah menjadi hukum
resmi negara, perempuan yang hendak menikah harus menjalani tes
keperawanan. Pengetesan keperawanan dilakukan di Institut Legal Medikal
(MLI) Baghdad. Tujuan tes itu demi memastikan mereka masih perawan
hingga sebelum menikah. 13
mitos darah keperawanan perempuan telah mengakar sangat kuat sekali dalam
lapisan masyarakat. Meskipun tidak adanya sanksi atau hukuman yang berat
dalam undang-undang apalagi pembunuhan bagi wanita yang tidak mampu
membuktikan keperawanannya pada malam pertama pengantin, namun masih
banyak kaum lelaki yang masih mengukur perawan atau tidaknya seorang
wanita melalui darah yang keluar pada saat deflorasi. Oleh karena itu,
perceraian dengan alasan karena sudah tidak perawan lagi merupakan kasus
yang tidak sulit ditemukan di beberapa daerah. Seperti yang baru-baru ini
Munawar Ahmad Aness, Islam dan Masa Depan, hlm. 47.

Ajeng Ritzki Pitakasari, “Irak Wajibkan Wanita Jalani Tes Keperawanan” dalam
www.republika.co.id, diakses tanggal 24 Desember 2012.




terjadi di Garut. Kasus ini melibatkan Bupati Garut yaitu Aceng Fikri (40
tahun) setelah 4 hari menikah, kemudian ia menceraikan istrinya yang
bernama Fanny Octora (18 tahun) dengan beberapa alasan dan salah satu
alasannya bahwa istrinya sudah tidak perawan lagi. 14
Fenomena di atas menunjukkan bagaimana keperawanan perempuan
menjadi hal yang sangat disakralkan dan hanya diukur sebatas perspektif
medis, yakni robek tidaknya selaput dara, ini sangat bersifat kultural sekali
tanpa mengetahui secara luas tujuan pernikahan dan terkesan
mengesampingkan hak-hak perempuan dalam pernikahan tentu ini bukanlah
hal diharapkan dalam Islam.
makna anjuran menikahi gadis (perawan) dan relevansinya dengan konteks
perkawinan kekinian.
metode untuk dapat dimaknai secara proporsional serta
14 Prima Mulia, “Tiga Alasan Bupati Garut Ceraikan Fanny Octora” dalam www.tempo.co.,
diakses tanggal 17 Januari 2013.




mencari nilai idea moral yang terkandung di dalamnya. Dalam hadis yang
diriwayatkan oleh dari disebutkan:
Artinya:
kepada kami dari dari , ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata
kepadaku: "Apakah engkau telah menikah?" Aku katakan; Iya. Beliau
bertanya: "Gadis atau janda?" Aku katakan; janda. Beliau berkata:
"Mengapa engkau tidak menikah dengan seorang gadis, sehingga
engkau dapat bercanda dengannya dan dia bercanda denganmu?"
Kemudian dalam kitab dengan redaksi yang
berbeda juga diriwayatkan dari !"
disebutkan:
Dari penelusuran # $ dengan kata kunci “4:- ! 5:-”
dalam Sunan % kitab &' bab( ) ' *+ ,-./+ lihat juga dalam 0 ' no: 1955, 2143, 2745, 3746, 4689, 4690, 4844, 4846, 4948, 5908. Muslim no: 2662,
2663, 2664, 2665, 2666, 2667, 2998. Sunan at-)1 no: 1019. Sunan Nasa’i no: 3167, 3168, 3174.
no: 1850. no: 13618, 13720, 13786, 13857, 14367, 14433, 14482,
14495, 14460. no: 2119.
;B 2C D # < 0+1 .+(#2()() E8 ./
/ 0F 2!&" 2G< !&@# 7H? 5 I7 2' ' /++! . /+.+ / J16
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami 1 1 berkata, telah menceritakan kepada kami ) ) berkata, telah menceritakan kepadaku !" ! dari Bapaknya dari
Kakeknya ia berkata, "Rasulullah saw bersabda: "Hendaklah kalian
memilih yang masih perawan. Sungguh, mulut mereka lebih segar,
rahimnya lebih luas (banyak anak), dan lebih menerima dengan yang
sedikit."
pergaulannya pertama. Kemudian apa yang menyebabkan Rasulullah untuk
menganjurkan kepada laki-laki untuk lebih mengutamakan menikahi gadis
(perawan) daripada janda. Padahal kita ketahui bahwa Nabi sendiri memiliki
sebelas orang istri dan hanya seorang istri saja yang masih perawan yakni
Aisyah r.a. Hal ini tentu menarik ketika dikaitkan dengan kehidupan
perkawinan Rasulullah SAW.




Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah dikemukakan diatas,
agar supaya pembahasan ini lebih fokus dan terarah, maka dapat dirumuskan
permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana pemaknaan hadis tentang anjuran menikahi gadis
(perawan)?
dalam konteks kekinian?
Adapun Penelitian ini bertujuan:
tekstual maupun kontekstual.
gadis (perawan) dalam konteks kekinian.
Adapun kegunaan penelitian ini adalah :
1. Diharapkan dapat memberikan kontribusi khazanah keilmuan dalam
bidang literatur hadis dan pemaknaan hadis baik lingkup akademik
maupun pemahaman teks-teks keagamaan, khususnya hadis tentang
anjuran menikahi gadis (perawan).
permasalahan - permasalahan yang berkembang di masyarakat yang
terkait dengan keperawanan perempuan dalam pernikahan.
D. Telaah Pustaka
sebelumnya, dapat penyusun paparkan sebagai berikut:
Buku “Mitos Keperawanan perspektif Agama dan Budaya” karya
Abdul Rahim Sitorus dan Gugun el-Guyanie. Buku ini menjelaskan secara
umum pandangan orang-orang timur, mesir dan negeri Arab serta perspektif
Islam tentang keperawanan, yang intinya masih sangat mensakralkan
keperawanan perempuan. Secara umum, kajian ini lebih menitikberatkan
pembahasan keperawanan dari perspektif budaya dan sedikit menyinggung
agama.
Kemudian buku “Islam dan Masa Depan Biologis Umat Manusia:
Etika, Gender, Teknologi” karya Munawar Ahmad Aness. Buku ini dalam sub
babnya juga telah membahas keperawanan, akan tetapi dalam perspektif
budaya dan medis, sehingga penekanannya lebih bersifat antropologis.




Kemudian buku “Revolusi Seksual Perempuan: Obstetri dan
Ginekologi dalam Tinjauan Islam” karya Hassan Hathout. Buku ini dalam sub
babnya juga telah menyinggung sedikit tentang keperawanan. hanya saja
masih sebatas pengertian keperawanan yang dinilai dalam perspektif medis,
sehingga sama sekali tidak menyinggung tentang hadis.
Selanjutnya buku yang berjudul “Memaknai Perkawinan dalam
Perspektif Kesetaraan (Studi Kritis Hadis-hadis tentang Perkawinan) karya
Marhumah. Secara umum buku ini menjelaskan orientasi kaum hawa dalam
ruang lingkup perkawinan yang cenderung direndahkan dan terpojokkan.
Mulai dari proses pemilihan jodoh, kesaksian dalam pernikahan, penafkahan
dalam rumah tangga, dan nikah mut’ah. Dan disini penulis buku berkeinginan
untuk membongkar pemahaman itu semua dengan menggunakan pendekatan
hermeneutika. dan buku ini lebih fokus pada kajian gender (kesetaraan).
Berikutnya buku “Memilih Jodoh dan Tatacara Meminang dalam
Islam” karya Husein Muhammad Yusuf. Dalam buku ini dijelaskan kriteria-
kriteria memilih pasangan yang baik. Mulai dari kepribadian perempuan
hingga kondisi fisiknya. Dalam buku ini juga dijelaskan sekilas alasan
menikahi gadis (perawan). Akan tetapi masih bersifat global dan dibutuhkan
pemahaman lebih lanjut. Secara umum aspek yang ditawarkan buku ini lebih
pada kriteria memilih jodoh dalam perspektif hadis.




Perceraian dalam Perspektif Hukum Islam. Namun skripsi ini telah rusak
(disebabkan peristiwa gempa bumi 2006 silam yang menimpa Yogyakarta dan
daerah sekitarnya) dan tidak menjadi koleksi perpustakaan UIN Sunan
Kalijaga lagi.
Jawziyyah dalam karyanya Zad al- bahwa orang tua wajib meminta
persetujuan kepada anak gadis (perawan) ketika akan menikahkannya. Hukum
ini juga mewajibkan agar gadis yang sudah dewasa tidak dipaksa untuk
dinikahkan, dan ia tidak boleh dinikahkan kecuali dengan persetujuannya.
Berdasarkan penelusuran literatur yang penulis lakukan, penelitian
khusus mengenai studi terhadap hadis anjuran menikahi gadis
(perawan), sejauh penelusuran penulis belum pernah dilakukan. Dengan
demikian, rencana penelitian ini memenuhi syarat kebaruan karena akan
membahas secara ekslusif hadis tentang anjuran menikahi gadis (perawan)
dan relevansinya dengan konteks kekinian.




research) yaitu penelitian yang dilakukan dengan menggunakan beragam
informasi kepustakaan baik itu buku, jurnal, artikel, majalah, ensiklopedi, dan
lain-lain. Adapun kitab yang dijadikan sumber primer adalah kitab-kitab hadis
> " )+Yaitu: 0 '% % %
mencakup kitab-kitab Syarah hadis serta literatur lain yang mendukung dan
terkait dengan penelitian ini.
Adapun teknik pengumpulan data dalam skripsi ini, peneliti tidak
$> " )%'"$
Sedangkan teknik pengelolahan data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah teknik analitis-deskriptif yakni meneliti, menganalisa yang
kemudian mengklarifikasi. 17
(Bandung: Tarsito, 1990), hlm. 139.




Ma’anil Hadis: Metode Pemahaman Hadis Nabi (Teori dan Aplikasi)”.
Karena menurut penulis, dalam kajian metode yang
ditawarkan lebih lengkap dan lebih sistematis dibanding dengan teori lainnya.
Adapun langkah-langkah yang akan ditempuh sebagai berikut:
A. Metode Historis
(teks-teks hadis), sebagai peninggalan masa lampau yang dijadikan rujukan.
Metode historis disini dalam pengertian khusus, yakni adanya proses analisa
secara kritis terhadap peninggalan masa lampu. Yakni, mengupas otentisitas
teks-teks hadis, dari aspek sanad (kritik eksternal) maupun matan (kritik
internal). 18
Dalam prakteknya, metode historis ini lebih diarahkan kepada semua
orang yang terlibat dalam transmisi hadis tidak terkecuali rawi 1 (sahabat),
karena sahabat merupakan saksi kunci yang memegang peranan penting
dalam menjaga orisinalitas hadis. Maka dari itu, sahabat haruslah merupakan
orang yang secara langsung mendapat berita dari Nabi serta harus memiliki
intelektual (kuat ingatan) maupun kepribadian yang dapat dipercaya. Tidak
adanya indikasi negatif yang menjadikan sahabat mengeluarkan hadis tersebut
untuk kepentingan pribadinya maupun adanya tekanan dari pihak lain.
18 Nurun Najwah, Ilmu Ma’anil Hadis: Metode Pemahaman Hadis Nabi (Teori dan Aplikasi)
(Yogyakarta: Cahaya Pustaka, 2008), hlm. 13.




Meneliti sejauhmana keorisinalitasan hadis yang harus memenuhi
standar ke--an hadis, 19
bersambung, rawi bersifat ‘, ", dan hadis terhindar dari 1, dan
terhindar dari ". sebagai langkah awal, hadis harus sudah terlebih dahulu
di-"' dan di-". )' dilakukan guna mengetahui sumber
asli hadis yang lengkap dengan periwayatan sanad dan matan hadis yang
diteliti. 20
dengan jelas seluruh jalur sanad yang diteliti, nama-nama seluruh
periwayatnya dan metode periwayatan yang digunakan. 21
.
keabsahan kandungan matan hadis secara historis, yakni dengan dua kriteria:
Pertama, matan hadis tersebut secara historis dapat dibuktikan sebagai hadis
Nabi, atau bersumber dari Nabi atau terjadi pada masa Nabi atau disampaikan
Nabi. Kedua, tidak ada bukti historis yang menolak hal tersebut sebagai hadis
Nabi.
19M. Syuhudi Ismail, Kaidah Keshahihan Sanad Hadis: telaah kritis dan tinjauan pendekatan
ilmu sejarah (Jakarta: Bulan Bintang, 2005), hlm. 131.
20 M. Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, hlm. 43.
21 Suryadi (dkk.), Metodologi Penelitian Hadis (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta, 2006), hlm. 67. Baca juga Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi,
hlm. 52.
Setelah melakukan langkah-langkah kajian historis terhadap hadis,
guna memastikan bahwa hadis yang diteliti otentik berasal dari Nabi. Maka
langkah selanjutnya adalah bagaimana memahami dan mengaplikasikan hadis
Nabi yang ideal dalam dataran realitas.
B. Metode Hermeneutika 22
umat Islam khususnya dewasa ini.
Dalam prakteknya, metode hermeneutika ini akan berupaya
membedakan antara makna teks dan signifikansi konteks dengan
mendialogkan 3 unsur utama (Teks-Pensyarah-Audiens).
Adapun langkah-langkah konkritnya adalah sebagai berikut:
Hermeneutika, secara etimologi, hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, hermenia yang
disetarakan dengan exegesis, penafsiran atau hermeneuein yang berarti menafsirkan. Hermeneutika
dalam kajian hadis, telah mewujudkan diri dalam wadah kajian asbab wurud al-hadis. Meski
disinonimkan dengan kata exegesis, tetapi hermeneutika lebih mengarah kepada penafsiran teoritisnya,
sedang exegesis, penafsiran pada aspek praksisnya. Secara terminology, berarti penafsiran terhadap
ungkapan yang memiliki rentang sejarah atau penafsiran terhadap teks tertulis yang memiliki rentang
waktu yang panjang dengan audiensnya. Lihat Nurun Najwah, Ilmu Ma’anil Hadis: Metode
Pemahaman Hadis Nabi (Teori dan Aplikasi), hlm. 17.




Dalam kajian terhadap bahasa ini, setidaknya ada tiga kupasan yang
dikaji, yakni (1) perbedaan redaksi masing-masing periwayat hadis (2) makna
leksikal/harfiah terhadap lafad-lafad yang dianggap penting (3) pemahaman
tekstual matan hadis tersebut, dengan merujuk kamus bahasa Arab maupun
kitab-kitab hadis terkait.
Konteks historis dalam pengertian, kajian diarahkan pada kompilasi
dan rekonstruksi sejarah dari data makro bangsa Arab masa Nabi dan kondisi
mikro ( ) secara eksplisit dan implisit, serta konteks
ketika hadis tersebut dimunculkan, yakni dengan merujuk pada kitab-kitab
dan sejarah.
Yakni mengkorelasikan teks hadis terkait dengan nas al-Qur’an, teks
hadis yang berkualitas (setema dalam arti sealur maupun kontradiktif),
maupun data-data lain, baik realitas historis empiris, logika, maupun teori
ilmu pengetahuan yang berkualitas.
tekstual dan kontekstual), dengan mempertimbangkan data-data
sebelumnya.
dengan menentukan yang tertuang secara tekstual dalam teks, sebagai suatu
yang historis untuk kemudian menentukan tujuan/gayah, yang berada tersirat
di balik teks dengan berbagai data yang dikorelasikan secara komprehensif.
Ide dasar bersifat absolut, universal, fundamental, yang bervisi keadilan,
kesetaraan, demokrasi yang menyangkut relasi langsung dan spesifik manusia
dengan tuhan itulah yang normatif. 23
F. Sistematika Pembahasan
pembahasan dalam penelitian ini akan disusun dalam beberapa bab, yakni
sebagai berikut:
akan memaparkan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan
kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika
pembahasan.
Nurun Najwah, Ilmu Ma’anil Hadis: Metode Pemahaman Hadis Nabi (Teori dan Aplikasi)
hlm. 18-20.
(perawan). Yang kemudian dilakukannya proses "' dan "
serta melakukan Penelitian sanad hadis yang mencakup: penelitian
kualitas periwayat, persambungan sanad dan hasil penelitian sanad, kemudian
penelitian matan hadis yang berimplikasi pada kualitas hadis yang diteliti.
Bab ketiga ini akan membahas pemaknaan terhadap hadis-hadis
tentang anjuran menikahi gadis (perawan) dari isi kandungan hadis, dengan
melakukan beberapa kajian diantaranya: kajian linguistik, konteks historis,
tematik-komprehensif, konfirmatif dan analisis generalisasi.
Bab keempat akan membahas relevansi hadis tentang anjuran
menikahi gadis (perawan) dengan Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975
dan relevansi hadis tentang anjuran menikahi gadis (perawan) dengan
perkawinan Rasulullah SAW.
penutup, kesimpulan dan saran-saran.
terhadap hadis-hadis tentang anjuran menikahi gadis (perawan), dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
tentang anjuran menikahi gadis (perawan) dari riwayat no.
1752 tidaklah bisa dimaknai secara tekstual. Beberapa alasan yang
menjadi dasar adalah (a) pernikahan adalah relasi suami istri yang diikat
dengan , sehingga proses mulai dari memilih pasangan
sampai dengan menjaga pernikahan harus melibatkan dua subyek yaitu
memilih pasangan suami dan istri. (b) hadis tentang anjuran menikahi
gadis (perawan) tidak bisa dimaknai secara fisik (perjaka/perawan)
semata, tetapi dinilai dari kebersihan dan kebaikan pribadinya yang bisa
dijadikan titik acuan dalam memilih pasangan suami atau istri.
2. Terdapat perbedaan yang signifikan secara psikologis antara seorang yang
belum menikah (gadis/perjaka) dengan orang yang sudah menikah
(janda/duda). Seseorang yang masih gadis/perjaka, tidak hanya perawan




secara fisik semata, akan tetapi juga memiliki sifat keperawanan yang
menonjol dalam hal psikologisnya.
berlanjut pada permasalahan atau persoalan yang lebih kompleks lagi, karena
penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Guna
menghasilkan pemahaman hadis yang lebih sempurna, penelitian ini masih
memerlukan pendekatan dengan perangkat-perangkat keilmuan lainnya
seperti, fiqh, budaya-antropologis, serta isu-isu wacana gender yang sedang
berkembang saat ini, sehingga segala bentuk problematika yang muncul
ditengah-tengah masyarakat terkait dengan keperawanan perempuan dalam
pernikahan dapat terpecahkan. Semakin banyak pemahaman yang muncul,
akan semakin memperluas wacana keilmuan hadis dalam khazanah pemikiran
hadis. Penelitian terhadap hadis-hadis lain yang ada kaitannya dengan hadis
ini juga perlu dilakukan untuk menambah wawasan dan tentunya akan sangat
bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Yang
pada akhirnya sesuai dengan janji Islam, bahwa Islam diturunkan tidak lain
sebagai agama yang
Segala puji dan syukur penulis persembahkan kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya yang
tak pernah henti, yang telah memberikan kekuatan, kemampuan dan
kesabaran bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Penulis telah
berusaha mengerahkan segala usaha dan kemampuan untuk meyelesaikan
skripsi ini, meskipun masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan di
sana sini. Untuk lebih menyempurnakannya, dengan segala kerendahan hati
maka di sini penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya konstruktif
dari berbagai pihak. Semoga skripsi ini bermanfaat dalam khazanah
perkembangan pemikiran hadis.
Abdul Karim, Khalil. Relasi Gender pada Masa Muhammad dan Khulafaurrasyidin. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.
‘Abdurrahman Alu Syaik, ‘Abdullah ibn Muhammad ibn. Tafsir Ibnu Kasir terj. M. Abdul Ghaffar. Jakarta: Pustaka Imam Al-
Syafi’i, 2008.
1997.
Aness, Munawar Ahmad. Islam dan Masa Depan Biologis Umat Manusia: Etika, Gender, Teknologi. Bandung: Mizan, 1994.
!+( %& + , !$& $%& !- " %&"&%& %& !-% - !. )%/012
Syari’at. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2008.
!+3& %& " !,(+ !.. - ! !+5 %//6




! + % + %& %& " ! - ! !+ /1
Press, 2007.
HAM, Musahadi. Evolusi Konsep Sunnah (Implikasinya pada Hukum Islam). Semarang: Aneka Ilmu, 2000.
Hathout, Hassan. Revolusi Seksual Perempuan: Obstetri dan Ginekologi dalam Tinjauan Islam. Bandung: Mizan, 1994.
al-Husaini, Al-Hamid. Baitun Nubuwwaah: Rumah Tangga Nabi Muhammad SAW.
Jakarta: Yayasan al-Hamidiy, 1993.
Ismail, Syuhudi. Kaidah Keshahihan Sanad Hadis: telaah kritis dan tinjauan pendekatan ilmu sejarah. Jakarta: Bulan Bintang, 2005.
Ismail, Syuhudi. Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Jakarta: Bulan
Bintang, 1992.
Ismail, Syuhudi. Hadis Nabi yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah Ma’anil Hadis tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal dan Lokal. Jakarta: Bulan Bintang, 1994.
!*3 !". ! %& !' %%) 9% !# - % !5 %/212
dalam nasional.kompas.com
Pelecehan Seksual”, Makalah Jurusan Antropologi, FISIP
Universitas Airlangga.
!7 !5 !) 3& ; + !8) $ & !< . & !
Sukses Offset, 2009.
! ) %& + %& + %& %&)% !%73& - ! !+5 %%
Muhammad Yusuf, Husein. Memilih Jodoh dan Tatacara Meminang dalam Islam. Jakarta: Gema Insani Press, 1999.
Muhyidin, Muhammad. Dilarang Melajang Raihlah Berkah Menikah. Semarang:
Qudsi Media, 2006.
Munawwir, Achmad Warson dan Muhammad Fairuz. Kamus Al-Munawwir Indonesia – Arab Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progressif, 2007.
Mustaqim, Abdul. 5 . & ? 5 . Yogyakarta: Idea
Press Yogyakarta, 2008.
Mustaqim, Abdul dkk. Studi al-Qur’an Kontemporer Wacana baru berbagai Metodologi Tafsir. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002.
!' !, !, !< "%& %& - 5%& ! # !+ %
Najwah, Nurun. Ilmu Ma’anil Hadis Metode Pemahaman Hadis Nabi: Teori & Aplikasi. Yogyakarta: Cahaya Pustaka, 2008.
!'. + %& %& ". + !% " ! '. , !& !5 %/24=
www.republika.co.id
Nasution, Khairuddin. Status wanita di Asia Tenggara: Studi terhadap perundang- undangan Perkawinan Muslim Kontemporer di Indonesia dan Malaysia. Jakarta: INIS, 2002.
!'77 ; %& " ) " %& !'77 + "%& %& . - 5%& ! # !+ /02
Pitakasari, Ajeng Ritzki. “Irak Wajibkan Wanita Jalani Tes Keperawanan” dalam
www.republika.co.id.
Bandung: Karisma, 1997.
Kautsar, 1996.
1995.
Agama dan Budaya. Yogyakarta: Madina Press, 2009.
Sumbullah, Umi. Kritik Hadis Pendekatan Historis Metodologis. Malang: UIN
Malang Press, 2008.
Tarsito, 1990.
(ed.), Studi Kitab Hadis. Yogyakarta: Teras, 2009.
Suryadi dkk. Metodologi Penelitian Hadis. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta, 2006.




Suryadilaga, M. Alfatih. Aplikasi Penelitian Hadis dari Teks ke Konteks. Yogyakarta:
Teras, 2009.
! 3& %& [email protected] " % !&%% [email protected]@ " ! 3& - 5%& ! # ! + %
Wajih, Abu Ahmad. Kado Indah Pernikahan dari Meminang hingga Malam Pengantin. Yogyakarta: Ad-Dawa’, 2005.
Wensinck, A.J. !. !)% )3# !, # !'7 terj. M. $. + !-( . Leiden: E.J. Brill, 1965.
Zuhri, Muh. Hadis Nabi Telaah Historis dan Metodologis. Yogyakarta: PT Tiara
Wacana Yogya, 2003.
Nama Ayah : Arwidi
Nama Ibu : Zainar
Alamat Asal : PTPN III (tiga) Sei Meranti, Bagan Batu, Riau
Alamat Kos : Jl. Tridarma, Gendeng GK 1 RT 78 RW 18
No. Hp : 082135224868
(lulus tahun 2003)
(lulus tahun 2006)
(lulus tahun 2009)
Agama dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta
no. hadis. 1955.
%&'()*&+, -./*0"1 23 4*5* $*%6
378%9"23+:81;&<#$2;&+, -.=**->%& ?*%6?1
#& 23 + @! @!A 2(& 1BCD& ?* $2, =B ? DA? ;& 1
3E/ F13E/ G?E#H23 +:8131$(>23+, -. 2EIA$&?
7>4>%&JK?*L134 G;>46 >4: @>E'?#"M(>??1
N#D9&+:8137 $0 >?23+O HO H&1"3PQ&<GR378L"?23+I 3%*/"
2,G3->$&@ [email protected]&'T1"3*3+, -.
1 U&1K& D: /FU& FKR& 7 $V& 23 +:813 1"3 W? 23 @ "%&#
;&1 -D1;68&( *&*X$%&<2*Y&EI 3?(A?E*VR2
7 $ZK23"*L[T?<\*9HA+F @*=R#AW13E#$ 7
2. kitab , bab ! ! ""#", no.
4]:A(AN# ) *?\6_A#$+ #L=*/H -+
3 4*5#$+4"<<F$+4= T/A+[:0"1 2
# &G;#K`*& 8L2BF $-1H&#B,*&+, -./*=**
"23#$13Z"2;&+, -.2BF $-*/8L137
( " ) * ( " "
)+, -".#/012'
F232,A7F1;& :23G;N#4a7# 88RI:%>ZK?3 :
E'?#"1$(>13A#>A?23F!>?JZK?IA "88R &IA -L4"K3
23> 4> EIA$ 4&73 E'?#" XH8? ? JR%& J b#> */&> *? L 13
:? N6%& NRY ]3 2 A 23 IA "3 & 7Z& 23 4" K 1#$# 88R I
3 Ec# 3 NRYd# ; HA +& +, -. 2, 'RAY*3B> <#$ 2
#$#$eBA
$1%3'
423J()0"2,-. +,23fD&*=*-.
+,8?-X583 ?&RHA# A2;&*"b# :2313* 23
gCD&2,-. +,N#$(&R &2Y hAFQ4"3# A
2;&*g i#>b# :2313# C3D.?7D #23 : D&?231 !D,&+
HA<X58N# )231;&+:823 :&D:&NAL-?*;&N#4a-Dj?
IA 231;&A2,*/8L<k#D8P%D,&P%&*1";D&k-LIA -D
1 >?IA * ;&*K*%&# :>#K%& 1:. &*"&233
2,-. +,23* D8P%D,F1$(>E#HG?E/ 1;&1$(>
E/ 2;&1$(>E#H4>7>13A2,*/&>h?4D,*
<JK?<T.1#H&?M(>?4l"&4/Rm>G;>4 1$(D&E/ G;D4
4/Rm>23 &G32,-. +,IA J) # :*86%&
NR*23'# T Z*&n]3<i#8E,%
4. kitab (4, bab 5"" "5, no.
hadis. &1%6'
I D3 B,8#K?<# #$2323*2,-. +,
F1!H8A#$13+:823P"E#H?G?E/ 13FE/ 234&EIA$7>13A
2,L*?FD3GA?b#>0>J *0>JK?1#H&?0 $?4 L
EIA$\3#K4l"HE'?#"46 >G;>4 231.?
5. kitab 7 , bab 8!9, no. hadis. %60/'
? :=<+ < ,/*:#$23B30"
/*-. +,"'()[email protected]:D&-# :*o63*;!&< "*BK
OC&h# :'(:18 :"f68&h# :R$% "18?\"FQPQ&=*-.
+,2;&"[email protected]:A131 pA4k#:23E#H?G?E/ 13E/ 234&
EIA$4>7>23 &PFK234"?-DK>E h?E\*H
qD >Il:!D>I T
6. kitab 7 , bab 8!9, no. hadis. %6/:'
4 *5 #$ 1: , 23 <!" I:9 GR` 2;A
&E/ 1$(>1;&1$(>"+, -.2,*2;&1$(>7"2;
A #$ 1: ,<# 2;& AR # : 7P J# Z& 4:iZ:2;
+, -.2,*237>4>EIA$
7. kitab 7 , bab 8, no. hadis. %0%%'
<R"+ ,/*:#$231 0"2,-.
+,*&'() &[email protected]:>-# :o63*;!&< "*BK=1BD&PQ&
8?2,#-. +,23"[email protected]:A13*/8LpA4k#:23E#H&
1$(>G?E/ 13FE/ 234&EIA$4>7>23 &"3PFK2;&
4"?-DK>E h?E\*HqD >Il:!D>I T 23*I;/l8?
23*&ZpA!O HO HA#$*:A
8. kitab 7 , bab 8 ( 48 , no. hadis. %0%6'
*;:A+ #L<+ 8#K?< ,/*:#$23
0"/*-. +,*&'() &B3 EA#3"IA [email protected]:>-# :*
o63*;!&< "*BKC&Oh# :'(:18 :"&h# :% "18?
\"FQ=1BD&PQ&8?2,#-. +,1;&A2,*/8LpA
4k#:231$(>?13+:823E#H?G?E/ 2313FE/ 234&E#H4>
7>23 &"3PFK2;&4"?-DK>E h?E\*HqD >Il:
!D>I T
%/%0'
<R"R AY# #$*5 4237
*?b#>0,J?0>J1$(D&E'?#"E/ 2;&*2,-.
+,1$(>A#$1;&+:82;&E#HG?E/ 13FE/ 234&EIA$4>7>
4H]>7H]>231;&L7b#>J*/8L1# ?4S $?
4l 1$(D&E'?#"G;>4 4!U>2;&b7?23E# K
10. kitab , bab ( !, no. hadis. 3/:0'
? :=R AY# #$*5237*?
b#>0,?0>J1$(D&E'?#"2;&=*-. +,1$(>A#$
13+:823E#HG?E/ 13E/ 23EIA$4>7>?4H]>7H]>
137*?b#D&0,?0>J1#H&?4S $?4l 1$(D&E'?#"G;>4
23b&7 +F;AI !"+"# b7
b. Dalam ( ( ( ( $$$$
( "!!! "= 7 ( +, -
*8#K?#$231$(>E'?#"*&42,-. +,1 ;&
*-. +,2;&A#$1$(>13+:823<#HG?< / 13< / 234&
E#H4>13A2,L*JK?1 C&?FK>* 4 23bZ&PLL
'?# XH>-4AR4"4 $7 :&JZA/1#>bA
$' ( kitab , bab 7 , no. hadis.$66&'
P:"*?I:9!"#$23
1$(>E'?#"2;&*2,-. +,F1$(>13+:823E#H?G?
E/ 13E/ 23A%&18?"iZ:4:23I:9># Z&# :AR2;&3
D: ,"#$ 8L234&EIA$4>7>
&' ( kitab , bab 7 , no. hadis.$66%'
- !A- !A?0 #=*8#(23- !A8#K?R AY#
AR#$?7b#>0>J?230,1$(D&E'?#"E/
2;&*2,.- +,A#$1$(>2313+:823<#H&G?< / 23
13F< / A2,234&EIA$4>7>?234H]>7H]>23
13L7b#>0>J?0,*/8L1# ?4 >`?4S $?4l
1%&?\*$?'?#"G;>4 4!U>23b&7?23*E# K*&
IA*?0 #4>7>4H]>7H]>NI D3 :,
B,# #$2323*2,-. +,F
1!H8A#$e,pA!-L3E'?#"G;>4 46 >231.?+# ZA"
N:
- !A- !A8#K?<+ ,/*:#$23 0"
2,-. +,*&'() &[email protected]:>-# :*o63*;!&
< *BKOC&h# :'(:18 :"f68&h# :R$% "18?\"FQ
=1BD&PQ&8?2,#-. +,2;&"[email protected]:AA#$13A2,
*/8LpA4k#:2;&E#H?4D$(>G?E/ 2313FE/ 23EIA$4>
7>23 &"3IA PFK2;&4"?-DFK8E h?E\* qD >
Il:!D>I T 2323PL1"3O H&O H
3' ( kitab , bab 7 , no. hadis.$666'
!"-l *:A @ *B;l
'()%6%&** $->%&*2,-. +,2;&*A#$13+:8
23"78%913%6?** $ ?1BCD&2(&@!&@! +23 1 #&
;&*DA?=B ?2,-. +,2;&1$(>?1;&+:82;&E#H?G?
E/ 1;&F< / 234&EIA$4>7>13L*JK?1%&?M(>?E'?#"
4: @>46 >G;>4 23"?78L<GR3PQ&1"3O H&O H+230 >?
7 $13+:8N#D9&*/"I 3%+G32,-. +,1"3'T
[email protected]&@ >$&[email protected] 2;&W 1"313+:823V&7 $FKR
/FU& D: 231K&1 U&+1:$#"%&E?(A*EI 3?Y&*<2
X$%&*&( 231;68& &1 23VR*E#$1 &1;&W=R#A*
F @+HA<\*9[T?*L"2;&ZK7 $7
6' ( kitab , bab 7 , no. hadis.$661'
!"-%# D: 231: ,*??'#]8#$
23 *&# "0"2,-. +,8?-X58 8L*&
JA#K?k23#]&2,-. +,?23C8N?23\*
:"23F:@&:7PG;DAk*YA-D*/8L=B %232;&2,-.
+, : >?ZHZ #BTA723137A*823 : >?ZHZ
#BTA723137A*82323*1$(>?:7 ?13+:823E/ G?
E#H2313E/ 234&1$(>E#H7H]>4H]>7>4>23?
'#]818H&EI 4;A F:&Z Z #BTA7
1' ( kitab ( ;, bab " , no. hadis.$//0'
l*?I 9f!,L+ #LrB l:23f!,L8#K?23 l
<#A#$'# T"/*:#$23J()0"2,-.
+,fD&**D!><X58*3 ?RHA# A232;&*"b# :23
13<F 23gCD&2,-. +,N#$(&R &2Y hA
FQ4"3# A232;&*g i#>b# :2313# C3D.?7D #23
: D&?1 !D,&+HA<X58N# )231;&+:8D:&NAL-?*;&N#4a
-Dj?IA 231;&A2,*/8L<k#D8P%D,&P%&*1";D&k-L
IA -D1 4D8&* ;*K*%&# :>#K%& 1:. &*"& &23
3 2,-. +,23* D8P%D,"1$(>E#H?G?E/ 1;&
1$(>E/ 23&?1$(>E#H7>4>1;&A2,*/&>h?
4D,*<JK?<T.1#H&?M(>?4 L4l"&4/Rm>G;>4
1$(D&E/ G;D4 4/Rm>23 &G32,-. +,IA
J) L# :*86%& NR* l*?I 9<#A#$
s %+,*?:@#$233?"IH"-LIA 0"2,-.
+,FD&* $e,pA!DU; &+23**:7 $Z2313
F723F :2313F7A2,23F :2313Q&
F$#*I 3? P4&74233>ZK?jD& -LIA 23 &1"3IA
232,-. +,26?EI 3?" PNRY23*86%&EI 3?"
P *8RYEc# 3231;&*3B>'RAY2,-. +,23H&
*&O *NZK%&F?GGA'#!?F" [email protected]
=h#A#@*?'#]8#$23 0"/*-. +,
*&#B,gCD&*!58e,pA!23 &C&2,-. +,+

hadis.&60'
eY#8#K? B, !"H #$23232,
-. +,1$(>?1;&+:82;&E#H?G?E/ 1;&FE/ *<JK?
<J 1#H&?+5?4 L\3#K4l"23&?E#H4>23+H<d 8?13A
2,-8?2;&gK"?48LHD,+H<d 8?8%&G 23?*>?#"*/!8*/
7c 8?2;D&+:8+?F;A2,-. +,48LHD,+H<d 8?4 #>%&
2. kitab ; ( " ( ", bab ( " * " ) , no.
- !A :,7 ^e!,Lg,AeY%7
\6#$231$(>E'?#"-42,-. +,2;&A#$
1$(>?2313+:823E#H?E/ 2313E/ 23?E#H4>2313A2,
*<JK?1 C&?FK>* 4 2;&L'?# XH>4A4"4 $
7 :&JZA/1#>bA
3. kitab ; ( " ( ", bab ( " * " ) , no.
hadis.&106'
B,23<# 1: ,E#$2;A23*2,-. +,F
1!H813+:823E#H?G?E/ 13E/ 234&E#H4>7>13A2,
FD3*?GA?b#>0,J1# ?0 $?+4 L\3#K4l"HE'?#"46/ >
+ ;>4 231.?
4. kitab ; ( " ( ", bab ( " * " ) , no.
?IA:"s %+,*?:@#$231 0"
/*-. +,*&#B, &88R"IA 2313A2,*/8LpA
4k#:P%&**&[email protected]:>?-L*?231$(D&?2313+:823E#HG?E/ 23
13E/ 234&E#H4>7>2313L7b#>*h$1#H&
?+5?4 L4l"2;&J%>7?E3#c231 -F $FD&23*;!&2,
-. +,8?*&#K`k232;&"7A#$2313FDh# :
23ZK%&8Z+N#$Y23 &1Y 8L8?*&2?k*= 4A,? &88R"
IA 2323*2,-. +,"F:&F @13P23 :&13
F723 :23137233>ZK?I 3% PQ&1"3>%&23
&1"3IA 1S$2;&A2YEI 3NRYEc# 32313Z<d# 3 8RY
2,-. +,*3BAE?-D"?J23D:@&*&O +&2(A
h-D\$F?GGA'#!NZK%& &ZK?
5. kitab ; ( " ( ", bab ( " * " ) , no.
R,?#"8#K??#Hs %*? B,#$23
0"/*-. +,*&'()2318P%D,&[email protected]:>?13*/8L1$(>23E/ G?
E#H2313E/ 23%&18 E#H4>7>23f68F E E/ 23?
#H*:A43#6>E
6. kitab ; ( " ( ", bab ( " * " ) , no.
hadis.%%&&'
!"#B:$I:9# AR231: ,#$2;A23
*2,-. +,?<IA$4>7>
7. kitab ; ( " ( ", bab ( " * " ) , no.
!"*?th ,*:A* D*?'#]8#$231 # ,?
-X58**&JA#K? /##]&2,-. +,EI#5?23
C&EIC823H&:7PHA*&2? /#L"DBB 23*8>%&=*-.
+,2;& : >?ZHZ #BTA723137A2,23*8R(&
23 : >?ZHZ #BTA723137A2,23 ,&hR?+
"'#"23 : >?ZHZ +23F1$(>:7 ?2313+:823E#H?G?E/ 23
13E/ 23?4D$(>E#H7>4>7H]>4H]>
8. kitab ; ( " ( ", bab ( " * " ) , no.
;:A*? !"e!,L* #$
231$#K0"2,-. +,*&'()JPV3/#E!>#"-F $*
g :5 &FB32,-. +,1:$e&/#*] >1:$gC>?-D
* R?2,-. +,2;&"7A#$2313A2,%6?*
* $Z23C8%&u8?2,-. +,+23*6?NZU:"
bA?23063*EU"'#@9231:B&23ZK%&2,-. +,
C&4JC8+23 1 #&M#C&hZl:/f!fAD38EI;"23
v!>*:"2,-. +,2;&*: >?7 $ZA#$2313A
2,F?723H :2313* &23313>ZK?+23
13EPL*TA2,-. +,23 &231323+&2(A
0&#A*2,-. +,-DjI 3%2313;&1 5233
1 513+:8137233>ZK?23+23*A#$F1$(>:2313
+:8A2,23E/ ?G?E#H2313FE/ 23&?EIA$4>7>2313A
2,L*? .?GA?b#>JE:,1!H&E'?#"EI:"$0 @>4,\
G;>4 231.?L\923"?8L3S$E#.8#"?(@J#!&
3?4 "A7P1: ,1]B&43 82313A2,""
e 82348LHD,PQ&18?1"3F &E E/ 23 &S$E#.#"?2,
-. +,(@J#!& 3%&4 7PG &-"?2,-.
+,FKRKR23J#K%&'?# pA!"23*2,-.
+,1378&E: &EIc23 &1!.?JZK?k?#F @13%&-D
DC8?-2,-. +,+1$*&@ EA#3"23M#K
2,-. +,i?#&F @2;&"Z3A2,Z<F $\$
<#$23A%&<#$1 &232:>h?A*K?ZKk?#7 $4&723&
E2;& P#@6%&EI 3?1Z&:"*86%&EI 3?*8RYES 9E# A23&
2Y"* A8i#88H""D -D .?O"? & .?k*:AGA'#!
9. kitab ; ( " ( ", bab ; ( " ;, no.
+9+,;I:9!"R231: ,#$
hU8%231$(>2;&*=*-. +,"1$(>23131$(>E/
2;&"7iZ:4:23I:9J# Z&7P# :AR2;&1: ,E#$2;A
23=*-. +,4&?EIA$4>7> R,?#"*:A
P9-:

8#K?I D323<R # #$231$(>1 >%&*-.
+,2;&1$(>?A#$13+:823E#HG?E/ 1;&E/ 234&E#H>47>
$' 7 kitab 7 , bab 7 , no. hadis. &60'
8#K?!I(323 B, _A#$\6#$
23* ;2,-. +,2;&A#$F1.?E'?#"h:13+:8A
2,23E#H?G?E /A?13E /A?234&E#H7>
) " " ") . "7 ""7+-
&' 7 kitab 7 , bab ) 8 " ( no. hadis. &1%'
8#K?F : ,LR:"23<K7 \6#$8?M(>E'?#"
-42,-. +, ;&=*-. +,2;&1$(>?A
#$2313+:823E#HG?E/ 2313FE/ 234&E#H7>2313A2,
*<JK?1 C&?FK>* 4 23bZ&EPLL'?# XH>-4AR
4"4 $7 :&JZA/1#>bA
,,,,'''' Dalam "" "" "" ""8888 3333 8kitab 7 , bab (!58!! no. hadis. :/'
I D3R AY# AR#$231$(>E'?#"
1 >%&*-. +,2;&1$(>?A#$1;&+:82;&E#HG?E/ 1;&F
E/ 2;&EIA$4>7>1;&A2,LJ"b#>0,J?
E:>[email protected]& G;A4 23&*23*&/*? : : '#@
23?- pA#$<pA<<X !.
f. Dalam """ ( """ ( """ ( """ (!!!!6666 " (! kitab 7 , bab 8!! , no. hadis. 03:'
R/h#' ,7 \6#$
231$(>E'?#"-42,-. +,1 ;&2,-.
+,2;&1$(>?A#$13+:823E#H??E/ 13E/ 234&E#H4>
13 *<JK?1 C&?FK>* 4 23bZ&PL
g. Dalam "" "" "" "" 1111
?F?IA:"8#K?s %+,*?:@#$
2323*2,-. +,1$(>?13+:823E#HG?E/ 1;&
E/ 23&?<#H4>7>
h. Dalam "" "" "" "" 0000 kitab 7 , bab <8!! , no. hadis. $/'
8#K?0 6"<+ 8#K?< ,/*:#$23
0"2,-. +,*&#B, &[email protected]:>*;!&< 23=1BD&
PQ&8?2,#-. +,2;&*"[email protected]?A#$23*/8LpA4
k#:23E#H&?4D$(>G?E/ 2313FE/ 234&E#H4>7>23+23
*PL1"3O H&O H23 &"3PFK8234"?-DFK8E h?E\
*HqD >Il:!D>I T

) " ) " ( "" +, -






! "#
$%
&'(


)*
)+, % '(

(

(
SKEMA SANAD HADIS RIWAYAT NASA’I TENTANG ANJURAN MENIKAHI GADIS
(PERAWAN)
SKEMA SANAD HADIS RIWAYAT TIRMIDZI, IBNU MAJAH, ABU DAUD, DARIMI
TENTANG ANJURAN MENIKAHI GADIS (PERAWAN)

















!"#! $




%&
#'(
$
'!"



( ) *!
+ ,$-
.,!
/ &























D. Telaah Pustaka
E. Metode Penelitian
F. Sistematika Pembahasan
BAB V
A. Kesimpulan
B. Saran-saran
C. Penutup
Daftar Pustaka
Curriculum Vitae
Lampiran-lampiran Hadis-hadis