H. WWC OTK

of 17/17
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Perpindahan massa antar fase hampir dijumpai disetiap proses dalam teknik kimia, sebagai contoh: ekstraksi cair-cair, leaching, distilasi, absorbsi, pengeringan, dan pendinginan. Kontak antar fase gas dan cairan dapat terjadi dalam berbagai cara, misalnya: peristiwa dimana cairan dilewatkan kedalam bentuk lapisan film yang bergerak melalui cairan gas dilewatkan melalui tray tower. Dengan adanya kontak antar gas dan cairan, maka akan terjadi perpindahan massa antara gas dan cairan. Oleh karena itu diperlukan koefisien perpindahan massa dari fase gas ke cairan (kgg) atau sebaliknya (kgl). I.2. Rumusan Masalah Praktikum WWC (Wetted Wall Coloumn) merupakan praktikum yang membahas tentang perpindahan massa antar fasa, yaitu gas dan cairan. Pada praktikum ini akan didapatkan besarnya koefisien perpindahan massa (kgl), kondisi operasi (temperature, tekanan, laju alir udara dan laju alir air) yang mempengaruhi besarnya kgl dan nilai bilangan tak berdimensi yaitu pengaruh bilangan Reynold terhadap bilangan Sheerwood. I.3. Tujuan Instruksional Khusus 1. Menentukan besarnya kgl pada berbagai variabel operasi. 2. Menentukan pengaruh bilangan tak berdimensi NRe terhadap NSh. I.4. Manfaat Percobaan 1. Mengetahui kondisi operasi yang mempengaruhi kgl 2. Mengetahui fenomena yang terjadi pada saat praktikum Wetted Wall Column
  • date post

    22-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    157
  • download

    9

Embed Size (px)

Transcript of H. WWC OTK

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    I.1. Latar Belakang

    Perpindahan massa antar fase hampir dijumpai disetiap proses dalam teknik

    kimia, sebagai contoh: ekstraksi cair-cair, leaching, distilasi, absorbsi,

    pengeringan, dan pendinginan.

    Kontak antar fase gas dan cairan dapat terjadi dalam berbagai cara, misalnya:

    peristiwa dimana cairan dilewatkan kedalam bentuk lapisan film yang bergerak

    melalui cairan gas dilewatkan melalui tray tower.

    Dengan adanya kontak antar gas dan cairan, maka akan terjadi perpindahan

    massa antara gas dan cairan. Oleh karena itu diperlukan koefisien perpindahan

    massa dari fase gas ke cairan (kgg) atau sebaliknya (kgl).

    I.2. Rumusan Masalah

    Praktikum WWC (Wetted Wall Coloumn) merupakan praktikum yang

    membahas tentang perpindahan massa antar fasa, yaitu gas dan cairan. Pada

    praktikum ini akan didapatkan besarnya koefisien perpindahan massa (kgl),

    kondisi operasi (temperature, tekanan, laju alir udara dan laju alir air) yang

    mempengaruhi besarnya kgl dan nilai bilangan tak berdimensi yaitu pengaruh

    bilangan Reynold terhadap bilangan Sheerwood.

    I.3. Tujuan Instruksional Khusus

    1. Menentukan besarnya kgl pada berbagai variabel operasi.

    2. Menentukan pengaruh bilangan tak berdimensi NRe terhadap NSh.

    I.4. Manfaat Percobaan

    1. Mengetahui kondisi operasi yang mempengaruhi kgl

    2. Mengetahui fenomena yang terjadi pada saat praktikum Wetted Wall

    Column

  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    II.1. HUMIDIFIKASI

    Humidifikasi adalah proses perpindahan/penguapan air dari fase cair ke

    dalam campuran gas yang terdiri dari udara dan uap air karena adanya kontak

    antara cairan yang temperaturnya lebih tinggi dengan campurannya. Dalam proses

    humidifikasi, tergantung pada beberapa parameter, diantaranya:

    Temperature Dry Bulb

    Temperature dry bulb adalah temperatur yang terbaca pada termometer

    terkena udara bebas namun terlindung dari radiasi dan kelembapan.

    Temperatur dry bulb sering disebut sebagai temperatur udara, sehingga

    tidak menujukkan adanya jumlah uap air di udara.

    Temperature Wet Bulb

    Temperature wet bulb adalah temperatur kesetimbangan yang dicapai

    apabila sejumlah kecil cairan diuapkan ke dalam jumlah besar campuran

    uap gas yang tidak jenuh.

    Metode yang dapat digunakan untuk mengukur temperature wet bulb

    adalah dengan menggunakan termometer yang diselubungi kapas atau kain

    basah kemudian dialirkan gas yang mempunyai properties T dry dan

    humidity H. Pada keadaan steady state, air akan menguap ke dalam aliran

    gas. Kapas atau kain basah akan mengalami pendinginan hingga suhu

    konstan. Suhu inilah yang disebut T wet bulb. Dalam penerapannya, T wet

    bulb digunakan untuk menentukan humidity dari campuran air-udara.

    Dew point

    Dew point adalah temperatur udara saat saturasi atau temperatur dimana

    uap air mulai mengembun ketika campuran udara dan uap air didinginkan.

    Enthalpi

    Enthalpi adalah banyaknya kalor (energi) yang ada dalam udara setiap satu

    satuan massa.

  • Relative humidity

    Relative humidity adalah perbandingan antara fraksi mol uap dengan

    fraksi mol udara basah pada suhu dan tekanan yang sama (%).

    Persen humidity

    Persen humidity adalah besarnya kandungan uap air dalam udara kering.

    % humidity = berat uap air (basis kering) 100%

    berat campuran udara dan uap air

    Humidity dinyatakan dengan y. Nilai y dapat dicari dengan menggunakan

    diagram psikrometrik, dengan mengetahui nilai temperature dry bulb dan

    temperature wet bulb.

    II.2. Wetted Wall Column

    Gambar 2.1. Wetted Wall Column

    Ketika dinding kolom dibasahi dan terisolasi dari lingkungannya sehingga

    sistem operasi merupakan sistem adiabatik dan cairan diresirkulasi dari bagian

  • dasar kolom melalui reservoir ke puncak kolom, system operasi digambarkan

    sebagai humidifikasi adiabatik. Dalam keadaan ini, hubungan antara komposisi

    gas dan suhu gas dan cairan dapat dihitung dari termodinamika properti dan

    neraca massa dan energi. Berdasarkan pertimbangan, dinding kolom yang

    dibasahi sebagai humidifier adiabatik dengan ketentuan untuk kontrol suhu cairan

    di reservoir dan penambahan "make up" cairan ke reservoir pada suhu terkontrol.

    Asumsikan bahwa gas dan cairan seluruh sistem pada awalnya pada suhu yang

    sama. Massa dari cairan ditransfer sebagai proses penguapan, penurunan suhu

    yang diperlukan sebagai panas laten penguapan. Suhu cairan yang jatuh di bawah

    suhu gas, panas ditransfer dari gas ke cairan. Dengan cara ini gas didinginkan dan

    dilembabkan.

    Jika cairan masuk ke puncak kolom, harus dipertahankan pada suhu cairan

    keluar, tingkat suhu menurun cair, dan gradien suhu cairan melalui kolom

    menurun sedangkan suhu dan kelembaban gas yang masuk tetap konstan . Suhu

    gas yang keluar akan menurun karena suhu cairan berkurang karena kecepatan

    transfer panas yang lebih besar diperoleh dengan perbedaan besar dalam suhu

    antara gas dan cairan. Suhu gas buang akan selalu lebih tinggi dari cairan masuk.

    Proses pendinginan ini akan berlanjut sampai laju transfer panas dari gas ke cairan

    hanya setara dengan panas laten yang dibutuhkan untuk menguapkan cairan.

    II.3. BILANGAN TAK BERDIMENSI

    Terdapat beberapa faktor bilangan yang mempengaruhi koefisien

    perpindahan massa (kgl) diantaranya meliputi:

    Bilangan Reynold (NRe)

    Dalam mekanika fluida, bilangan Reynolds adalah rasio antara gaya inersia

    (vs) terhadap gaya viskos (/L) yang mengkuantifikasikan hubungan kedua

    gaya tersebut dengan suatu kondisi aliran tertentu. Bilangan ini digunakan

    untuk mengidentifikasikan jenis aliran yang berbeda, misalnya laminar dan

    turbulen. Dengan perumusan nilai bilangan sebagai berikut.

  • Dimana:

    vs = kecepatan fluida,

    L = panjang karakteristik,

    = viskositas absolut fluida dinamis,

    = viskositas kinematik fluida: = / ,

    = kerapatan (densitas) fluida.

    Bilangan Schmidt

    Bilangan Schmidt merupakan rasio dari momentum dan difusivitas massa.

    Bilangan ini digunakan untuk menentukan sifat aliran-aliran fluida dimana

    pada aliran tersebut proses konveksi-difusi momentum dan massa berlangsung

    secara simultan. Dengan perumusan sebagai berikut.

    Sc =

    Dimana V = viskositas kinematis (

    dalam satuan unit (m2/s)

    D = difusivitas massa (m2/s)

    viskositas dinamis dari aliran fluida (N.s/m2)

    = densitas dari fluida (kg/m3)

    Bilangan Sheerwood

    Bilangan Sheerwood (Nusselt) merupakan bilangan tak berdimensi yang

    digunakan untuk mengetahui besarnya koefisien transfer massa (kgl) dimana

    merupakan rasio dari koefisien konveksi transfer massa dengan difusivitas

    transfer massa.

    Sh =

    ; dimana L = panjang kolom perpindahan massa (m)

    D = difusivitas massa (m2.s

    -1)

    K=Koefisien transfer massa (m.s-1

    )

    II.4. PENGERTIAN TENTANG KOEFISIEN PERPINDAHAN MASSA

    Koefisien perpindahan massa adalah besaran empiris yang diciptakan untuk

    memudahkan persoalan-persoalan perpindahan massa antar fase, yang akan

    dibahas disini adalah koefisien perpindahan massa dari fase gas ke fase cair atau

  • sebaliknya dari sifat-sifat zat untuk menekan. Hal ini dapat diperhatikan pada

    gambar di dasar ini:

    Gambar 2.2. Pengaruh koefisien perpindahan massa dari fase gas ke fase cair

    atau dari fase cair ke fase gas

    Koefisien perpindahan massa dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya:

    1. Kondisi Operasi

    Kondisi operasi dapat berupa laju alir, temperatur dan tekanan.

    2. Kondisi Alat

    Kondisi alat meliputi diameter dan tinggi/panjang alat.

    3. Sifat Bahan

    Sifat bahan dapat berupa densitas, viskositas, diffusivitas.

    Bila terjadi perpindahan massa dari fase cair ke fase gas pada bidang

    selang film, gas cair dalam hal ini adalah penguapan dari permukaan cairan ke

    permukaan atau aliran udara.

    NAy = JAy + XA ( HAy + NBy) (1)

    Dimana :

    NAy = fluks massa komponen A (dalam hal ini air) dalam arah y karena

    terbawa aliran fluida (gr mole / cm2 det)

    NBy = fluks massa komponen B (dalam hal ini udara) dalam arah y karena

    dimana aliran fluida (gr mole / cm2 det)

    XA = fraksi mol uap air difase gas yang merupakan fungsi dari y dan z

    JAy = fluks massa komponen A dalam arah y karena difusi molekuler

    (gr mol / cm2 det)

  • Maka persamaan (1) dapat ditulis kembali sebagai berikut :

    NAy XA ( HAy + NBy ) = Jay..... (2)

    Menurut Hukum Fid pertama, maka

    JAy = C DAB XA

    / y.......(3)

    Pemecahan persamaan (3) untuk menentukan besarnya JAy memerlukan

    persyaratan bahwa XA/y diketahui lebih dulu. Untuk memecahkan persoalan yang

    rumit pada aliran, maka penggunaan persamaan (3) akan sangat menyulitkan.

    Oleh karena itu, didefinisikan koefisien perpindahan massa.

    JAy = kg. LoC ( XAo XA )..(4)

    Dimana ( XAo XA) adalah beda konsentrasi dan dinyatakan dengan

    fraksi mol dalam arah perpindahan massa y. Pendefinisian ( XAo XA) ini

    menentukan definisi yang tepat dari kg, LoC (tanda LoC dari fase gas diganti

    huruf g). pernyataan lokal disini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kg

    dapat berbeda-beda dari satu posisi lain pada permukaan bidang selang

    perpindahan terjadi.

    Agar lebih memudahkan pemakaian, maka didefinisikan kg rata-rata yang

    dinyatakan dengan KgL sebagai berikut :

    o

    o

    s

    ss

    s

    kg Loc dsKgL

    ds

    ....(5)

    Menurut definisi dipuncakmaka kgL = harga rata-rata kg . LoC untuk

    seluruh permukaan perpindahan massa J. Tentang ( XAo XA) pada umumnya

    dilakukan pendefinisian sebagai berikut :

    XAo = fraksi mol kompenan A pada fase gas tepat dipergunakan bidang selang

    XA = fraksi mol rata-rata komponen A, difase gas atau dengan rumus :

    AAo

    X Loc dAX

    dA

    ....(6)

    A = luas penampang aliran gas yang tegak lurus terhadap permukaan

    perpindahan massa

    XA = seperti didefinisikan dipuncakjuga sehingga cap-muxing arrage dari XA.

    LoC.

  • II.5. PERPINDAHAN MASSA PADA WETTED WALL COLUMN

    Guna menelaah perpindahan massa dalam wetted wall column, perhatikan

    gambar berikut ini:

    Gambar 2.3. Penampang membujur dari watted wall column untuk bagian

    dimana perpindahan massa fasa diukur/ditelaah.

    Kita tinjau sistem setinggi dz. Neraca material komponen A yang dilakukan

    terhadap segmen tersebut menghasilkan persamaan differensial sebagai berikut :

    d(W . XA) / dz = JAy D ......(7)

    dimana, W = laju alir massa gas dalam arah z (gr mole/det)

    Dengan menggunakan kenyataan bahwa penambahan laju alir massa

    dalam arah z hanyalah karena adanya fluks massa JAy maka dapat dituliskan

    hubungan sebagai berikut:

    . .AY

    dWJ D

    dz

    .....(8)

    Persamaan (7) dan (8) akan menghasilkan hubungan :

    (1 ) . .A A AY

    dXW X J D

    dz

    ....(9)

    Dengan menggunakan (4) maka persamaan (9) dapat diubah menjadi :

    0

    . . .

    (1 ) ( )A

    A A A

    dX kg loc Ddz

    X X X W

    ....(10)

    ..(10)

  • Dalam menyelesaikan persamaan (10) maka perlu penganggapan bahwa

    XA rata-rata (lihat persamaan (6)), maka anggapan tersebut dapat

    digunakan. Selanjutnya dengan mengabaikan perubahan total dari W sepanjang

    kolom, mka integrasi persamaan (10) untuk Z = 0 sampai Z = L menghasilkan :

    .(11)

    Ruas kiri adalah definisi kg,l sedang ekspansi parsiil, ruas kanan dapat dengan

    mudah diintegrasikan.

    ....(12)

    Dengan persamaan ini maka kgl dapat ditentukan dari data percobaan.

    Korelasi empiris dimensi dapat diketahui bahwa kg,l dipengaruhi oleh NRe,

    NSc, dan factor geometris kolom (L/D). Pengaruh faktor-faktor tersebut dapat

    dinyatakan sebagai berikut

    .(13)

    NRe = bilangan Reynold untuk aliran gas

    NSc = bilangan Schmidt untuk fasa gas

    L/D = perbandingan panjang kolom terhadap diameter kolom

    Suatu proses dimana terjadi suatu perpindahan suatu unsur pokok dari

    daerah yang berkonsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah dinamakan perpindahan

    massa, Perpindahan massa yang terjadi dari suatu unsur yang berkonsentrasi

    tinggi ke konsentrasi rendah dipengaruhi oleh ciri aliran liquid, seperti pada kasus

    heat transfer, mekanisme perpindahan massa terjadi dengan cepat. Jika sejumlah

    campuran gas yang terdiri dari dua jenis molekul atau lebih, dimana konsentrasi

    masing-masing berbeda, maka masing-masing molekul ini cenderung menuju ke

    komposisi yang sama seragam. Proses ini terjadi secara alami. Perpindahan massa

    makroskopis ini tidak tergantung pada konveksi dalam sistem. Proses ini

    didefinisikan sebagai difusi molekul.

    Pada persamaan perpindahan massa ditunjukkan hubungan antara flux

    dari substan yang terdifusi dengan gradient konsentrasi.

  • Dimana JA,Z merupakan molar flux pada Z, merupakan perubahan

    konsentrasi serta DAB adalah diffusivitas massa atau koefisien diffusivitas

    komponen A yang terdifusi melalui komponen B. Karena perpindahan masssa

    atau diffui hanya terjadi dalam campuran, maka pengaruh dari tiap komponen

    harus diperhitungkan. Misalnya, untuk mengetahui laju diffusi dari setiap

    komponen relative terhadap kecapatan campuran. Kecepatan campuran harus

    dihitung dari kecepatan rata-rata tiap komponen.

    Persamaan diatas dikenal dengan persamaan Hukum Freks, dimana DAB

    adalah koefisien diffusivitas. Koefisien diffusivitas tergantung pada:

    1. Tekanan

    2. Temperatur

    3. Komposisi Sistem

    Koefien diffusivitas masing-masing fase berbeda-beda. Koefien

    diffusivitas untuk gas lebih tinggi, yaitu antara 5.10-6

    10-5 m2/s , untuk liquid 10-

    10 10-9 m2/s dan untuk solid 10-14 -10-10 m2/s.

    Perpindahan massa konvektif termasuk perpindahan antara fluida yang

    bergerak atau dua fluyida yang bergerak yang tidak tercampur. Model ini

    tergantung pada mekanisme perpindahan dan karakteristik gerakan fluida.

    Persamaan laju perpindahan massa konvektif sebagai berikut:

    NA = k . A

    Dimana, NA = peprindahan massa molar zat A

    A = perbedaan konsentrasi antara permukaan dengan konsentrasi

    rata-rata fluida

    k = koefien perpindahan massa konvektif

    Mekanisme perpindahan massa antar permukaan dan fluida termasuk

    perpindahan massa molekul melalui lapisan tipis fluida stagnan dan aliran

    laminar.

    Beberapa operasi perpindahan massa yang termasuk difusi suatu

    komponen gas ke suatu komponen yang tidak berdifusi anatara lain adalah

  • absorbsi dan humidifikasi. Persamaan yang digunakan untuk menggambarkan

    koefisien perpindahan massa konvektif adalah:

    (

    Dimana:

    NAZ = laju perpindahan molar

    DAB = diffuisivitas

    P = tekanan

    R = konstanta gas

    T = temperature

    Z = jarak

    Persamaan ini diperoleh dari teori lapisan atau film theory, dimana gas

    melewati permukaan liquid. Teori lapisan ini didasarkan pada model dimana

    tahanan untuk berdifusi dari permukaan liquid ke aliran gas diasumsikan terjadi

    dalam suatu stagnan film atau laminar film tebal. Dengan kata lain, menunjukkan

    tebal lapisan liquid.

    1. Transfer massa dari gas ke film falling liquid

    2. Transfer massa dalam wetted wall column

    Kebanyakan data dari transfer massa antara perm pipa dan aliran fluida

    telah ditentukan dengan menggunakan wetted wall columns. Alasan mendasar

    untuk menggunakan kolom-kolom ini untuk penyelidikan transfer massa adalah

    untuk mengontakkan luas area antara 2 fase sehingga dapat dihitung dengan tepat.

    Koefisien transfer massa konvektif untuk jatuhnya liquid film

    dikorelasikan oleh Vivian dan pecamenet dengan korelasi:

    (

    1/6 (Re)0,4

    Dimana:

    Z = panjang

    DAB = diffuisivitas massa antara komponen A dan B

    = densitas liquid B

    = viskositas liquid B

    g = percepatan gravitasi

    Sc = schimdt number (dievaluasikan pada tempeartur film liquid)

  • Re = Reynold number

    II.6. TEORI PENETRASI

    Teori penetrasi yang dinyatakan oleh Trey Ball menyatakan kontak 2 fluida.

    Pada gambar (a) gelembung gas membesar melalui liquid yang mengabsorbsi gas.

    Partikel liquid mulamula berada di puncak gelembung dimana partikel liquid siap

    sepanjang permukaan gelembung. Pada gambar (b) terlihat dimana liquid dengan

    gerakan turbulen memperlihatkan arus eddy constant

    (a) (b)

    Gambar 2.4. Teori Penetrasi

    Mula-mula partikel gas terlarut tidak seragam dan mula-mula arus eddy

    dianggap diam, jika arus eddy dibiarkan berkontak dengan gas pada

    permukaannya, konsentrasi liquid permukaan gas Ca yang berada pada kelarutan

    keseimbangan gas dari liquid selama partikel liquid menjadi penentu difusi

    unsteady state atau penetrasi solute pada arah Z.

    Untuk waktu yang pendek dan difusinya berlangsung pelan di dalam molekul

    solute yang larut tidak pernah mencapai kedalaman Zp sesuai dengan ketebalan

    arus eddy. Keadaan puncak yang ada pada fenomena transfer massa dalam

    dinding kolom yang dibasahi adalah :

    CA0 pada 9 = 0 , untuk semua Z

    CA pada Z = 0 , 9 > 0

    CA0 pada Z = , untuk semua 9

  • TEORI FILM

    Gambar di dasar ini memperlihatkan cairan yang sedang jatuh pada lapisan

    (film) dengan aliran laminer ke dasar pada permukaan rotameter yang vertikal

    berkontak dengan gas A yang larut ke dalam cairan dengan konsentrasi A yang

    seragam C A0 dari pada A pada puncaknya.

    Gambar 2.5. Teori Film

    Pada permukaan cairan, konsentrasi gas terlarut CA , yang berada dalam

    keseimbangan dengan tekanan A pada fase gas karena CA > C A0 gas terlarut ke

    dalam cairan. Koefisien perpindahan massa Kgl dengan sejumlah gas terlarut

    setelah liquid terjenuh sejauh L dan dihitung.

    Masalah ini dapat dipecahkan dengan penyelesaian simultan persamaan

    kontinuitas. Untuk komponen A dengan persamaan yang menggambarkan liquid

    yaitu persamaan laminer.

    Persamaan simultan dan jumlah persamaan diferensial partikel menjadi

    lebih mudah dengan beberapa asumsi :

    1. Tidak ada reaksi kimia

    2. Pada arah A kondisinya tidak berubah

    3. Kondisinya steady state

    4. Kecepatan adsorbsi gas sangat kecil.

    5. Difusi A pada arah yang diabaikan dibandingkan dengan gerakan ke dasar.

    6. Sifat-sifat fisiknya constan

  • BAB III

    METODE PERCOBAAN

    III.1 Alat dan Bahan yang Digunakan

    Bahan:

    - Udara

    - Air

    Alat:

    - Stopwatch

    - Thermometer

    III.2 Variabel percobaan

    Variabel Tetap : Waktu Kalibrasi Air = 10 detik

    Volume Wet Test Meter = 4 L

    Laju Alir Udara Tetap = 1500

    Laju Alir Air Tetap = 20

    Variabel Berubah : Laju Alir Rotameter Udara =1000, 1200, 1400, 1600,

    1800

    Laju Alir Rotameter Air = 20, 40, 60, 80, 100

    III.3 Gambar Alat Utama

    Gambar 3.1. Alat Praktikum WWC

    2

    Va Aliran Air

  • Keterangan :

    1. Blower

    2. Rotameter udara

    3. Rotameter air

    4. Kolom perpindahan massa

    III.4 Respon

    1. Kalibrasi Rotameter Air

    Volume air yang ditampung (ml) dan waktu 10 detik pada setiap laju alir.

    2. Kalibrasi Rotameter Udara

    Waktu yang dibutuhkan (detik) untuk 1 kali putaran dengan volume wet test

    meter 4L.

    3. Tahap Operasi

    Suhu (0C) Wet Bulb dan Dry Bulb di dasar dan puncak kolom pada variabel

    laju alir air dan variabel laju alir udara pada waktu 10 menit.

    4. Analisa Data Hasil Percobaan

    Mahasiswa diharapakan dapat:

    a. Membuat kurva hubungan koefisien transfer massa (kgl) dengan

    laju alir dan dapat menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi

    b. Mengetahui pengaruh NRe terhadap NSh

    c. Mencari konstanta a dan b dari persamaan bilangan tak berdimensi

    yang telah disusun

    III. 5 Prosedur Percobaan

    Pelaksanaan pekerjaan dapat dibagi dalam dua tahap yaitu tahap persiapan

    dan tahap operasi.

    A. Tahap Persiapan

    1. Kalibrasi Rotameter Air

    Mengalirkan air dengan membuka kran pada jarak tertentu

    Membaca skala rotameter pada penunjuk tertentu

    Mengalirkan air selama 10 menit dan menampung airnya untuk

    mengetahui volumenya.

  • Mengukur volume air

    Mengulangi sampai 3x

    Mengulangi langkah diatas untuk skala rotameter yang lain

    2. Kalibrasi Rotameter Udara

    Menjalankan rotameter udara

    Mengisi wet test meter volume 4 liter dengan air sehingga putaran jarum

    konstan

    Memasang wet test meter dengan air sehingga putaran jarum konstan

    Mengatur skala rotameter pada penunjukkan waktu tertentu (use valve)

    Menghitung waktu yang diperlukan untuk jarum pada wet test meter

    melakukan satu putaran

    Ulangi langkah di atas untuk skala rotameter udara yang lain

    B. Tahap Operasi

    1. Mengalirkan air dari kran air pada penunjukkan skala rotameter tertentu

    2. Mengalirkan udara pada penunjukkan skala rotameter udara tertentu

    3. Mengukur suhu wet bulb (ujung termometer diselubungi kapas basah) dan

    dry bulb pada puncak dan dasar kolom

    4. Membaca dan mencatat suhu pada termometer

    5. Ulangi langkah 1-4 sebanyak 4 skala lainnya.

  • DAFTAR PUSTAKA

    Bird ,RB. Stewart, Wt and Light Foote, E.N. Transport Phenomena. John

    Willey and Jason. 1968.

    Mc Cabe, WL and J Smith. Unit Operation. Mc Graw Hill. New York.1956.

    Treybal, RE. .Mass Transfer Operation. 3rd ec. Mc Graw Hill Book Co. Book of

    Japan.1980.