Guidelines Mediasi Direktorat Jenderal Kementerian Hukum ... penyelesaian sengketa (setelah...

download Guidelines Mediasi Direktorat Jenderal Kementerian Hukum ... penyelesaian sengketa (setelah negosiasi

of 38

  • date post

    21-Jun-2019
  • Category

    Documents

  • view

    214
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Guidelines Mediasi Direktorat Jenderal Kementerian Hukum ... penyelesaian sengketa (setelah...

  • 1

    Guidelines Mediasi

    Untuk Direktorat Jenderal

    Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI

  • 2

    Daftar Isi

    Ringkasan Eksekutif.................................................................................................3

    1. Pengantar Alternatif Penyelesaian Sengketa.....................................................5

    1.1. APS di Indonesia................................................................................................6

    1.2. APS di WIPO....................................................................................................10

    1.3. Keuntungan APS dalam Perselisihan Kekayaan Intelektual.............................11

    2. Pusat Mediasi Nasional (PMN)...........................................................................15

    2.1. Lembaga PMN.................................................................................................15

    2.2. Pelatihan Mediasi di PMN................................................................................16

    2.3. Materi Pelatihan...............................................................................................17

    2.3.1. Mindset Keadilan Pancasila dalam Bernegosiasi dan Bermediasi..................17

    2.3.2. Analisa Konflik..............................................................................................19

    2.3.3. Negosiasi.......................................................................................................19

    2.3.4. Mediasi..........................................................................................................20

    2.3.5. Keterampilan Mediator..................................................................................20

    2.3.6. Simulasi Mediasi...........................................................................................21

    2.3.7. Masalah-Masalah Kritis................................................................................21

    2.3.8. Ujian Tertulis................................................................................................21

    3. Prosedur Mediasi................................................................................................22

    3.1. Review Prosedur Mediasi di Ditjen HAKI.........................................................22

    3.1.1. Peraturan Terkait..........................................................................................22

    3.1.2. Referensi Manajemen Kasus Sengketa Merek Orchad...................................23

    3.1.2.1. Temuan-temuan..........................................................................................23

    3.1.3. Analisis Kebutuhan Petunjuk Pelaksaanan Mediasi Sengketa HAKI.............24

    3.1.4. Beberapa Hal Kritis.......................................................................................25

    3.1.5. Kesimpulan....................................................................................................28

    3.2. Prosedur APS (Mediasi) di WIPO.....................................................................29

    3.3. Prosedur Mediasi, Pusat Mediasi Nasional (PMN)...........................................34

    3.3.1. Pendaftaran Mediasi......................................................................................34

    3.3.2. Tahapan Mediasi...........................................................................................34

  • 3

    Ringkasan Eksekutif

    Pada umumnya para pihak yang sedang menghadapi sengketa, baik secara mandiri

    atau kelembagaan, selalu menginginkan agar permasalahan yang dihadapi dapat

    diselesaikan dengan baik. Beberapa model penyelesaian sengketa dibuat dan dijalankan

    seperti yang telah dipraktekkan pada badan peradilan. Badan peradilan

    merupakan lembaga tertua yang dianggap dapat memberikan putusan yang mendekati

    adil bagi para pencari keadilan. Peradilan menjadi tumpuan para pihak yang sedang

    bersengketa guna mencari penyelesaian yang adil dengan meminta putusan tentang siapa

    yang benar dan siapa yang salah dalam perkara mereka. Namun demikian, banyak dari

    putusan hakim dirasa masih belum memenuhi rasa keadilan para pihak. Hal ini dapat

    dilihat pada masih banyaknya pihak yang akhirnya mengajukan banding dan kasasi atas

    putusan yang diterima dari pengadilan tingkat pert`ama. Ketidakpuasan tersebut

    menyebabkan proses peradilan yang berkepanjangan dan menghabiskan banyak biaya.

    Keadaan ini yang akhirnya mendorong pihak yudikatif (Mahkamah Agung) dan lembaga

    serta instansi lainnya untuk mengedepankan dialog diantara para pihak yang

    berkepentingan dalam menyelesaikan permasalahan mereka, seperti negosiasi (kembali)

    dan mediasi.

    Proses mediasi menjadi suatu cara untuk membantu para pihak menegosiasikan

    (kembali) kepentingan-kepentingannya. Dalam mediasi, mediator berperan untuk

    membantu merumuskan masalah berdasarkan harapan, kebutuhan, dan kekhawatiran

    (interest) para pihak. Mediator mengajak para pihak untuk saling berempati, sehingga

    para pihak bisa saling memahami interest pihak lainnya, dengan harapan dapat

    menurunkan ego masing-masing. Mediator juga berperan memfasilitasi negosiasi serta

    membantu para pihak mengkaji resiko atas keputusan yang akan diambil. Proses mediasi

    dimulai dari itikad baik dan kesukarelaan para pihak untuk menyelesaikan

    permasalahannya. Dalam perkembangannya, pemanfaatan mediasi bahkan dapat

    digunakan sebagai upaya penghindaran sengketa, mencegah terjadinya atau

    membesarnya suatu sengketa.

    Pusat Mediasi Nasional mengkampanyekan pemanfaatan mediasi sebagai upaya

    awal penyelesaian sengketa (setelah negosiasi tidak berhasil mencapai kesepakatan),

    salah satunya, dengan mengadakan pelatihan-pelatihan mediasi. Pelatihan memberikan

  • 4

    perhatian pada keterampilan mendengar dan bertanya, sebagai soft-skill yang perlu

    dikuasai oleh seorang mediator. Selain itu peserta akan dilatih untuk dapat memandu

    jalannya negosiasi yang sistematis/terstruktur.

    Dalam guidelines ini dipaparkan pandangan PMN mengenai mediasi dalam

    kaitannya dengan Alternative Dispute Resolution (ADR). Selain itu, dipaparkan juga

    mengenai ADR di WIPO (World Intellectual Property Organization) dan tahapan mediasi

    yang diterapkan di PMN. Guidelines ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan

    Kementerian Hukum dan HAM khususnya Direktorat Jenderal Hak Kekayaan

    Intelektual, dalam menyusun suatu sistem penyelesaian sengketa.

  • 5

    1. Pengantar Alternatif Penyelesaian Sengketa

    Perselisihan (persengketaan atau konflik) merupakan keterberian manusia sebagai

    mahluk sosial yang senantiasa hidup berdampingan dalam suatu kedinamisan. Berbagai

    kepentingan dan kebutuhan dari subjek hukum baik perorangan maupun entitas seringkali

    bersinggungan dengan kepentingan dan kebutuhan dari subjek hukum lainnya.

    Persinggungan ini tentunya merupakan bagian dari kedinamisan hubungan manusia yang

    lumrah dan wajar, bahkan bila sampai menimbulkan perselisihan.

    Memang menjadi sangat tepat bila sedapat mungkin persinggungan karena

    perbedaan kepentingan dan kebutuhan itu diminimalisasi. Namun, ketika upaya itu sudah

    secara maksimal dilakukan, dan masih juga terjadi persinggungan yang menimbulkan

    perselisihan, maka yang perlu menjadi perhatian kita semua adalah bagaimana

    perselisihan atau persengketaan atau konflik itu diselesaikan dengan cara yang bijaksana

    oleh para pihak yang berkepentingan.

    Di dalam semua bidang kehidupan baik, perdagangan, bisnis, pemerintahan,

    keluarga dan berbagai interaksi sosial lainnya, setiap manusia senantiasa dihadapkan

    pada kesempatan untuk bernegosiasi. Aparatur Pemerintah dengan warga; perusahaan

    dengan masyarakat; penjual dan pembeli; produsen dan konsumen; customer service

    dengan pelanggan; divisi SDM dengan karyawan; bahkan dalam rumah tanggapun

    antara orang-tua dan anak seringkali bernegosiasi. Semakin konstruktif proses negosiasi

    dilakukan maka akan semakin efisien dan komprehensif kesepakatan yang dicapai dan

    tentunya semakin minimal pula potensi perselisihan yang akan terjadi.

    Dalam kenyataan di lapangan, proses negosiasi tidak selalu berjalan dengan baik.

    Beberapa faktor seperti pemahaman tentang negosiasi, keterampilan dalam bernegosiasi,

    sikap atau gaya para negosiator, serta masalah otoritas, untuk menyebut beberapa

    diantaranya, sering dianggap sebagai penyebab tidak konstruktifnya suatu proses

    negosiasi yang pada akhirnya menyebabkan para pihak tidak mendapatkan kesepakatan.

    Dalam perkembangan penyelesaian sengketa, kegagalan negosiasi masih akan

    mendapatkan peluang, atau pada beberapa kasus justru mendapatkan peluang lebih besar,

    mencapai suatu kesepakatan atau penyelesaian dengan adanya bantuan mediator.

  • 6

    Mediator pada dasarnya memfasilitasi para pihak dalam bernegosiasi secara

    konstruktif guna mencapai suatu kesepakatan. Seorang mediator sangat memahami

    bagaimana cara yang efektif dan efisien dalam bernegosiasi.

    Pemahaman dan kemampuan mediator dalam hal negosiasi selain berguna dalam

    memandu negosiasi diantara para pihak yang berselisih umumnya juga meningkatkan

    kapasitasnya untuk menjadi seorang negosiator yang handal.

    1.1. APS di Indonesia Di Indonesia, Alternative Dispute Resolution (ADR) yang padanannya dalam

    Bahasa Indonesia ada yang menyebut Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS) atau ada

    juga yang mengartikan sebaga