GANGGUAN PENYAKIT KEJIWAAN SKIZOFRENIA · PDF fileSkizofrenia merupakan salah satu jenis...

Click here to load reader

  • date post

    03-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    241
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of GANGGUAN PENYAKIT KEJIWAAN SKIZOFRENIA · PDF fileSkizofrenia merupakan salah satu jenis...

GANGGUAN PENYAKIT KEJIWAAN SKIZOFRENIA

Schizophrenia

2

Skema Titik-titik syaraf di kepala yang terganggu sehingga menyebabkan SKIZOFRENIA

3

Skema Masalah Skizofernia

Ada 2 (dua) orang temanku terkena penyakit ini. Sungguh sedih saya melihatnya, karena teman saya ini harus selalu ke dokter dan meminum obat. Karenanya saya tertarik untuk menulis tentang Gangguan Skizofrenia ini dengan mencari di

berbagai sumber, semoga bermanfaat.

A. Pengertian Skizofrenia adalah satu istilah untuk beberapa gangguan yang ditandai dengan kekacauan kepribadian, distorsi terhadap realitas, ketidakmampuan untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari (Atkinson Dkk.,1992), perasaan dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya, waham atau delusi, dan gangguan persepsi (PPDGJ, 1983).

Umumnya gangguan ini muncul pada usia yang sangat muda, dan memuncak pada usia antara 25-35 tahun. Gangguan yang muncul dapat terjadi secara lambat atau datang secara tiba-tiba pada penderita yang cenderung suka menyendiri yang mengalami stres (Atkinson Dkk., 1992).

Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Kondisi yang biasanya berlangsung lama ini sering diartikan sebagai gangguan mental

4

mengingat sulitnya penderita membedakan antara kenyataan dengan pikiran sendiri.

Penyakit skizofrenia bisa diidap siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan.

Skizofrenia merupakan salah satu jenis gangguan mental, maka pemeriksaan harus dilakukan oleh dokter spesialis kejiwaan atau psikiater.

B. Ciri-ciri Skizofrenia Ciri utama penderita Skizofrenia: 1. Kekacauan Pikiran dan Perhatian 2. Kekacauan Persepsi 3. Kekacauan Afektif 4. Penarikan Diri dari Realita 5. Delusi dan Halusinasi

Add 1. Kekacauan Pikiran dan Perhatian

Menurut Atkinson Dkk. (1992) kekacauan di sini merupakan kesulitan umum untuk menyaring stimulus yang relevan. Pada penderita skizofrenia jika ia menghadapi banyak stimulus pada waktu yang bersamaan, maka ia sulit untuk mengambil makna dan menyeleksi masukan-masukan yang beragam tersebut. Ketidakmampuan menyaring stimulus ini ditandai dengan pembicaraan yang tidak berujung pangkal.

Add 2. Kekacauan Persepsi

Pada penderita skizofrenia akut seringkali mengalami bahwa dunia tampak berbeda baginya. Suara terdengar lebih keras, warna terlihat lebih mencolok, dan tubuhnya terlihat tidak sama. Beberapa penderita sudah tidak dapat mengenali dirinya sendiri di dalam cermin atau melihat bayangannya sendiri seperti bayangan rangkap tiga (Atkinson., 1992).

Add 3. Kekacauan Afektif

Penderita skizofrenia pada umumnya tidak dapat memberikan respons emosional yang normal dan wajar. Kadang kadang mereka mengungkapkan perasaan yang tidak sesuai dengan situasi atau pikiran yang diungkapkan.

Add 4. Penarikan Diri dari Realita

Penderita skizofrenia cenderung menarik diri dari pergaulan dengan orang lain dan cenderung asyik dengan dunianya sendiri. Keasyikan dengan diri sendiri tersebut seringkali disebut dengan autisme. Penarikan diri dari realita ini pada penderita akut dapat bersifat sementara. Sedangkan pada penderita kronis, penarikan diri dapat bertahan dan berkembang sedemikian rupa, sehingga penderita menjadi tidak responsif pada peristiwa eksternal, tetap diam dan tidak bergerak selama berhari-hari, serta harus dirawat seperti bayi.

5

Add 5. Delusi dan Halusinasi

Delusi adalah suatu perasaan keyakinan atau kepercayaan yang keliru, yang tidak dapat diubah lewat penalaran atau dengan disajikannya fakta-fakta. Delusi yang sifatnya menetap dan sistematis akan berakibat menjadi abnormal.

C. Gejala Skizofrenia Gejala skizofrenia dibagi menjadi dua kategori, yaitu negatif dan positif. Gejala negatif skizofrenia menggambarkan hilangnya sifat dan kemampuan tertentu yang biasanya ada di dalam diri orang yang normal. Sebagai contoh:

Keengganan untuk bersosialisasi dan tidak nyaman berada dekat dengan orang lain sehingga lebih memilih untuk berdiam di rumah.

Kehilangan konsentrasi. Pola tidur yang berubah. Kehilangan minat dan motivasi dalam segala aspek hidup, termasuk minat

dalam menjalin hubungan

Perubahan pola tidur, sikap tidak responsif terhadap keadaan, dan kecenderungan untuk mengucilkan diri merupakan gejala-gejala awal skizofrenia. Terkadang gejala tersebut sulit dikenali orang lain karena biasanya berkembang di masa remaja sehingga orang lain hanya menganggapnya sebagai fase remaja.

Ketika penderita sedang mengalami gejala negatif, dia akan terlihat apatis dan datar secara emosi (misalnya bicara monoton tanpa intonasi, bicara tanpa ekspresi wajah, dan tidak melakukan kontak mata). Mereka juga menjadi tidak peduli terhadap penampilan dan kebersihan diri, serta makin menarik diri dari pergaulan. Sikap tidak peduli akan penampilan dan apatis tersebut bisa disalahartikan orang lain sebagai sikap malas dan tidak sopan. Hal ini sering kali memicu rusaknya hubungan penderita dengan keluarga ataupun dengan teman-temannya.

Gejala negatif skizofrenia bisa berlangsung beberapa tahun sebelum penderita mengalami episode akut pertama, yaitu ketika gejala menjadi parah dan kadang-kadang diikuti beberapa gejala positif.

Gejala positif skizofrenia terdiri dari:

1. Halusinasi. Terjadi pada saat panca indera seseorang terangsang oleh sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Fenomena halusinasi terasa sangat nyata bagi penderita. Contoh gejala halusinasi yang biasanya dialami oleh penderita skizofrenia adalah mendengar suara-suara.

2. Delusi. Yaitu kepercayaan kuat yang tidak didasari logika atau kenyataan yang sebenarnya. Contoh gejala delusi bisa bermacam-macam. Ada penderita yang merasa diawasi, diikuti, atau khawatir disakiti oleh orang lain. Ada juga yang merasa mendapat pesan rahasia dari tayangan televisi. Gejala-

6

gejala delusi semacam ini bisa berdampak kepada perilaku penderita skizofrenia.

3. Pikiran kacau dan perubahan perilaku. Penderita sulit berkonsentrasi dan pikirannya seperti melayang-layang tidak tentu arah sehingga kata-kata mereka menjadi membingungkan. Penderita juga bisa merasa kehilangan kendali atas pikirannya sendiri. Perilaku penderita skizofrenia juga menjadi tidak terduga dan bahkan di luar normal. Misalnya, mereka menjadi sangat gelisah atau mulai berteriak-teriak dan memaki tanpa alasan.

D. Penyebab skizofrenia Sebenarnya para ahli belum mengetahui apa yang menjadi penyebab skizofrenia secara pasti. Kondisi ini diduga berisiko terbentuk oleh kombinasi dari faktor psikologis, fisik, genetik, dan lingkungan.

Sebenarnya penyebab penyakit skizofrenia belum diketahui secara pasti oleh para ahli kesehatan. Namun ada beberapa faktor yang diduga berpengaruh dalam pembentukan kondisi ini, di antaranya:

1. Ketidakseimbangan kadar serotonin dan dopamine (zat neurotransmiter yang bertugas membawa pesan antar sel-sel otak).

2. Bentuk struktur otak dan sistem saraf pusat yang tidak normal. 3. Genetik yang diturunkan dari orangtua (penyakit keturunan). 4. Kekurangan oksigen, kekurangan nutrisi, dan terpapar racun atau virus

saat masih di dalam kandungan ibu. 5. Lahir prematur dan lahir dengan berat badan di bawah normal. 6. Peningkatan aktivasi pada sistem kekebalan tubuh akibat penyakit

autoimun dan peradangan. 7. Penyalahgunaan obat-obatan terlarang, seperti amfetamin, kokain, dan

ganja.Tiga penelitian besar menunjukkan bahwa remaja pecandu ganja yang masih berusia di bawah 15 tahun memiliki risiko empat kali lipat untuk terkena skizofrenia sebelum usia 26 tahun dibandingkan remaja seumuran yang tidak memakai ganja. Di lain sisi, penggunaan kokain dan amfetamin bisa menyebabkan kumatnya gejala skizofrenia pada penderita yang sudah sembuh dan memicu gejala psikosis. Psikosis bisa dikenali dari perubahan drastis pada perilaku penderita skizofrenia, misalnya tiba-tiba bingung, cemas, marah, atau curiga pada orang-orang di sekitar.

E. Pemicu Skizofrenia Yang dimaksud pemicu di sini adalah sesuatu yang dapat memunculkan gejala skizofrenia pada orang-orang yang berisiko terkena skizofrenia akibat faktor-faktor pembentuk kondisi seperti yang sudah disebutkan di atas. Pada kasus skizofrenia, stres merupakan pemicu utama. Banyak hal yang dapat menjadikan seseorang mengalami stres, di antaranya karena kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, kehilangan orang yang dicintai, perceraian, pelecehan seksual, dan sebagainya.

7

F. Penyakit skizofrenia akan terdeteksi pada diri pasien jika:

Mengalami halusinasi, delusi, bicara meracau, dan terlihat datar secara emosi.

Mengalami penurunan secara signifikan dalam melakukan tugas sehari-hari, termasuk penurunan dalam produktivitas kerja dan prestasi di sekolah akibat gejala-gejala di atas.

Gejala-gejala di atas bukan disebabkan oleh kondisi lain, seperti gangguan bipolar atau efek samping penyalahgunaan obat-obatan.

Delusi atau waham adalah suatu keyakinan yang salah karena bertentangan dengan kenyataan. Gangguan delusi merupakan salah satu jenis penyakit mental psikosis. Psikosis sendiri ditandai dengan ketidaksinambungan antara pemikiran dan emosi sehingga penderitanya kehilangan kontak dengan realitas sebenarnya. Pada gangguan delusi, penderitanya memiliki kesadaran palsu dari pemaknaan kenyataan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Walau sudah jelas terbukti bahwa apa yang diyakini penderita berbeda dengan kenyataan, penderita tetap berpegang teguh pada pemikirannya. Penderita umumnya tidak mau membicarakan delusinya kepada orang lain karena mereka yakin bahwa apa yang menjadi delusinya merupakan sesuatu yang unik dan mungkin tidak dapat diterima atau