GANGGUAN DEPRESIF

download GANGGUAN DEPRESIF

of 33

  • date post

    27-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    86
  • download

    4

Embed Size (px)

description

GANGGUAN DEPRESIF

Transcript of GANGGUAN DEPRESIF

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Gangguan depresi berat merupakan suatu gangguan mood yang paling sering dijumpai dan paling parah. Menurut DSM IV TR suatu gangguan depresif berat didefinisikan sebagai satu atau lebih episode depresif berat tanpa adanya riwayat episode manik, campuran, atau hipomanik. Kebanyakan dari kita pasti pernah mengalami keadaan seperti ini sepanjang perjalanan hidup kita sebagai seorang manusia.1,2,3Namun begitu, gangguan depresi berat secara klinis yang sebenarnya adalah suatu gangguan mood dimana perasaan sedih, marah, kehilangan, atau frustasi mengganggu kehidupan seharian seseorang untuk suatu jangka masa yang lama. 2.2 Epidemiologi

2.2.1 Insiden dan prevalensi

Gangguan depresi berat, paling sering terjadi, dengan prevalensi seumur hidup sekitar 15%. Prevalensi depresi mayor selama dua belas bulan di Amerika Serikat adalah sekitar 7%, perbedaan berdasarkan kelompok usia 18 sampai 29 tahun tiga kali lipat lebih tinggi dari pada usia 60 tahun atau lebih. Wanita mengalami 1,5 sampai 3 kali lipat tingkat yang lebih tinggi dan laki-laki dimulai pada awal masa remaja. Perempuan dapat mencapai 25%. Sekitar 10% di perawatan primer dan 15% dirawat rumah sakit. Pada anak sekolah di dapatkan prevalensi sekitar 2%. Pada usia remaja didapatkan prevalensi sekitar 2%. Pada usia remaja di dapatkan prevalensi 5% dari komunitas memiliki gangguan depresif berat.32.2.2 Jenis kelamin

Perempuan dua kali lipat lebih besar dibanding laki-laki. Di duga adanya perbedaan hormon, pengaruh melahirkan, perbedaan stressor psikososial antara laki-laki dan perempuan, dan model perilaku yang dipelajari tentang ketidak berdayaan. 32.2.3 Usia

Rata-rata usia sekitar 40 tahunan. Hampir 50% awitan diantara usia 20-50 tahun. Gangguan depresi berat dapat timbul pada masa anak atau lanjut usia. Data terkini menunjukkan, gangguan depresi berat diusia kurang dari 20 tahun. Mungkin berhubungan dengan meningkatnya pengguna alkohol dan penyalah gunaan zat dalam kelompok usia tersebut. 32.2.4 Status perkawinan

Paling sering terjadi pada orang yang tidak mempunyai hubungan interpersonal yang erat atau pada mereka yang bercerai atau berpisah. Wanita yang tidak menikah memiliki kecenderungan lebih rendah untuk menderita depresi di bandingkan dengan yang menikah namun hal ini berbanding terbalik untuk laki-laki. 32.2.5 Faktor Sosioekonomi dan Budaya

Tidak ditemukan korelasi antara status sosioekonomi dan gangguan depresi berat. Depresi lebih sering terjadi di daerah perdesaan dibandingkan daerah perkotaan. Sementara temuan ini menunjukkan perbedaan budaya substansial dalam ekspresi penyakit depresi, mereka tidak mengizinkan hubungan sederhana antara budaya tertentu dan kemungkinan gejala spesifik. Sebaliknya, dokter harus menyadari bahwa di sebagian besar negara mayoritas kasus depresi tidak diketahui dalam perawatan primer dan bahwa dalam banyak kebudayaan, gejala somatik sangat mungkin merupakan presentasi keluhan. Di antara Kriteria gejala A, insomnia dan kehilangan energi yang paling sering dilaporkan. 32.3 ETIOLOGI

2.3.1 Faktor organobiologi

Dilaporkan terdapat kelainan metabolit amin biogenik seperti asam 5-hydroxyindoleacetic (5-HIAA), asam homovanilic (HVA), dan 3-methoxy-4-hydroxyphenyl-glycol (MHPG)- di dalam darah, urin dan cairan serebrospinal pasien dengan gangguan mood. Paling konsisten adalah hipotesis gangguan mood berhubungan dengan disregulasi heterogen pada amin biogenik. 3

Amin biogenik. Norepinephrine dan serotonin adalah dua neurotransmitters yang paling terlibat dalam patofisiologi gangguan mood. Norepinefrine. Penurunan regulasi reseptor beta adrenergik dan respon klinik anti depresan mungkin merupakan peran langsung sistem noradrenergik dalam depresi. Bukti lain yang juga melibatkan reseptor B2-presipnatik pada depresi, telah mengaktifkan reseptor yang mengakibatkan pengurangan jumlah pelepasan norepinefrin. Reseptor B2-presinaptik juga terletak pada neuron serotonergik dan mengatur jumlah pelepasan serotonin. 3

Dopamin. Aktivitas dopamin mungkin berkurang pada depresi. Penemuan subtipe baru reseptor dopamin dan meningkatnya pengertian fungsi regulasi presinaptik dan pascasinaptik dopamin memperkaya hubungan antara dopamin dan gangguan mood. Dua teori terbaru tentang dopamin dan depresi adalah jalur dopamin mesolimbik mungkin mengalami disfungsi pada depresi dan reseptor dopamin D1 mungkin hipoaktif pada depresi. 3

Serotonin. Aktivitas serotonin berkurang pada depresi. Serotonin bertanggung jawab untuk kontrol regulasi afek, agresi, idur, dan nafsu makan. Pada beberapa penelitian ditemukan jumlah serotonin yang berkurang di celah sinap dikatakan bertanggung jawab untuk terjadinya depresi. 32.3.2 Faktor genetik

Genetik merupakan faktor penting dalam perkembangan gangguan mood, tetapi jalur penurunan sangat komplek. Tidak hanya sulit untuk mengabaikan efek psikososial, tetapi juga faktor nongenetik yang kemungkinan juga berpengaruh sebagai penyebab berkembangnya gangguan mood setidak-tidaknya pada beberapa orang. 3

Penelitian dalam keluarga. Generasi pertama, lebih sering 2-10 kali mengalami depresi berat. Penelitian yang berkaitan dengan adopsi. Dua dari tiga studi menemukan gangguan depresi berat diturunkan secara genetik. Studi meunjukkan, anak biologis dari orang tua yang terkena gangguan mood beresiko untuk mengalami gangguan mood walaupun anak tersebut dibesarkan oleh keluarga angkat. Penelitian yang berhubungan dengan anak kembar. Kembar monozigot sebesar 50% dan kembar dizigot sebesar 10-25%. Pada anak kembar dizigot gangguan depresi berat terdapat sebanyak 13-28% sedangkan pada kembar monozigot 53-69%.32.3.3 Faktor Psikososial

Peristiwa kehidupan dan stress lingkugan

Peristiwa kehidupan dengan stressful sering mendahului episode pertama dibandingkan episode berikutnya. Ada teori yang mengemukakan adanya stres sebelum episode pertama menyebabkan perubahan biologi otak yang bertahan lama. Perubahan ini menyebabkan perubahan berbagai neurotransmitter dan sistem sinyal intraneuron. Termasuk hilangnya beberapa neuron dan penurunan kontak sinap. Dampaknya, seorang individu berisiko tinggi mengalami episode berulang gangguan mood, sekalipun tanpa stresor dari luar. 3

Data paling mendukung berhubungan dengan peristiwa kehidupan yang paling sering berhubungan dengan depresi adalah kehilangan orang tua sebelum berusia 11 tahun. Stresor lingkungan paling sering berhubungan dengan kejadian episode depresi adalah kehilangan pekerjaan dimana orang yang keluar dari pekerjaannya berisiko tiga kali lebih besar untuk timbulnya gejala dibandikan yang bekerja. Kehilangan objek cinta pada masa perkembangan walaupun tidak secara langsung menimbulkan gangguan depresi, namun berpengaruh pada ekspresi dari penyakit, misalnya onset timbulnya gangguan, episode yang lebih parah, adanya gangguan kepribadian dan keinginan untuk bunuh diri. 32.3.4 Faktor kepribadian

Semua orang, apapu pola kepribadiannya, dapat mengalami depresi sesuai dengan situasinya. Orang dengan gangguan kepribadin obsesi-konpulsi, histrionik, dan ambang, berisiko tinggi untuk mengalami depresi dibandingkan dengan gangguan kepribadian paranoid atau antisosial. Pasien dengan gangguan distimik dan siklotimik berisiko menjadi gangguan depresi berat. Peristiwa stresful merupakan prediktor terkuat untuk kejadian episode depresi. Riset menunjukkan bahwa pasien yang mengalami stresor akibat tidak adanya kepercayaan diri lebih sering mengalami depresi. 32.3.5 Faktor psikodinamik pada depresi

Pemahaman psikodinamik depresii yang ditemukan oleh Sigmon Freud dan dilanjutkan dengan Karl Abraham dikenal sebagai pandangan klasik dari depresi. Teori tersebut termasuk empat hal utama : 31. Gangguan hubungan ibu-anak selama fase oral (10-18 bulan), menjadi faktor predisposisi untuk rentan terhadap episode depresi berulang.

2. Depresi dapat dihubungkan dengan kenyataan atau bayangan kehilangan objek

3. Introjeksi merupakan terbangkitnya mekanisme pertahanan untuk mengatasi penderitaan yang berkaitan dengan kehilangan objek

4. Akibat kehilangan objek cinta, diperlihatkan dalam bentuk campuran antara benci dan cinta, perasaan marah yang diarahkan pada diri sendiri.

Melanie Klein menjelaskna bahwa depresi termasuk agresi kearah mencintai, seperti yang dijelaskan freud. Edward bibring menyatakan bahwa depresi adalah suatu fenomena yang terjadi ketika seseorang menyadari terdapat perbedaan antara ideal yang tinggi dengan ketidakmampuan untuk mewujudkan cita-ita tersebut. Edith jacobson melihat depresi sebagai berkurangnya kekuatan, misalnya pada anak tidak berdaya yang menjadi korban penyiksaan orang tua. Silvano arieti mengamati banyak pasien depresi hidup untuk orang lain dibandingkan untuk dirinya sendiri. Dia merujuk kepada orang yang menderita depresi, hidup dalam dominasi orang lain, dalam prinsip, ideal, atau institusi, secara individual. Heinz kohuts mengkonseptualisasikan depresi, dimulai dari teori self psychological, bahwa perkembangan jiwa mempunyai kebutuhan spesifik yang harus dipenuhi oleh orang tua terhadap anaknya untuk memberikan rasa positif, percaya diri dan self-cohesion. Jika orang yang diharapkan tidak memenuhi kebutuhan ini akan terjadi kehilangan kepercayaan diri yang besar yang muncu sebagai depresi.32.4 PERJALANAN PENYAKIT

Secara umum disimpulkan gangguan mood merupakan suatu gangguan yang berlangsung lama dan cenderung kambuh. Gangguan ini dikatakan ringan dibandingkan dengan skizofrenia. Hal lain yang dikemukakan lebih sering ditemukan adanya stressor di episode awal dibandingkan episode berikutnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa stress psikososial berperan sebagai penyebab awal gangguan mood. Meskipun episode awal dapat diatasi, namun perubahan biologi yang menetap diotak menimbulkan resiko besar untuk timbul episode berikutnya.