Gangguan Bipolar Dan Obat

download Gangguan Bipolar Dan Obat

of 29

  • date post

    30-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    205
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of Gangguan Bipolar Dan Obat

Gangguan Bipolar dan Obat-Obatan Mood-Stabilizing8.1. Gangguan Bipolar 1. Gangguan Bipolar 1 Pada pasien yang memiliki satu atau lebih episode manik maupun campuran. a. Pasien dapat memiliki satu atau lebih episode depresif mayor b. Episode manik dapat disebabkan obat-obatan maupun diagnosis medis c. Gejala klinis gangguan bipolar I : - Biasanya merupakan penyakit seumur hidup dengan sebuah variabel maupun episode - Di antara 10-15% remaja dengan episode depresif mayor akan berkembang menjadi gangguan bipolar - Prevalensi antara pria dan wanita sama pada berbagai kebudayaan dan kelompok etnik - Wanita dengan gangguan bipolar memiliki risiko tinggi mengalami episode bipolar berikutnya selama masa postpartum - Gangguan bipolar I berhubungan kuat dengan komponen genetik, riwayat keluarga juga penting - Sekitar 10-15% pasien dengan gangguan bipolar I akhirnya melakukan bunuh diri - Gangguan bipolar I bersifat rekuren. Lebih dari 90% pasien dengan episode tunggal akan mengalami episode tambahan - Dari 50-60% episode manik terjadi sebelum atau sesudah episode depresif mayor - Interval antara episode manik cenderung menurun dengan bertambahnya usia - Prevalensi di komunitas yaitu 0,4-1,6%

2.

Gangguan Bipolar II Merupakan satu atau lebih episode depresif mayor dengan sedikitnya satu episode hipomanik.

a. Episode hipomanik disebabkan obat-obatan maupun diagnosis medis tidak dihitung sebagai diagnosi b. Gejala klinis gangguan bipolar II :Christian Melka (2011-061-011) Lidia Kellyani Dewi (2011-061-013) Winda Wijaya (2011-061-016)

- Sekitar 10-15% pasien dengan gangguan bipolar II akhirnya melakukan bunuh diri - Risiko bunuh diri lebih tinggi pada gangguan bipolar II dibandingkan gangguan bipolar I - Lebih sering pada wanita dibandingkan pria - Risiko rekurensi meningkat pada periode postpartum - Dari 60-70% episode manik terjadi sebelum atau sesudah episode depresif mayor - Dari 5-15% pasien bipolar II memiliki episode mood multipel pada tahun tertentu. Gejala ini didefinisikan sebagai rapid cycling - Komponen genetik kuat - Prevalensi seumur hidup gangguan bipolar II yaitu 0,5% - Dengan episode hipomanik ringan, riwayat klinis dapat menunjukkan depresi unipolar rekuren

3. Cyclothimia Pada pasien yang mengalami mood swings yang tidak terlalu parah seperti pada gangguan bipolar.

4. Rapid cycling Pada pasien yang mengalami frekuensi tinggi dan rendah bergantian (sedikitnya 4 kali dalam setahun) a. Sekitar 10% pasien dengan gangguan bipolar mengalami rapid cycling b. Rapid cycling lebih sering dialami wanita dibandingkan pria

8.2. Manik, Hipomanik, Campuran, Cyclothymic, dan Episode Rapid Cycling * DEFINISI 1. Episode Manik d. Episode manik adalah abnormalitas periode dan meningkatnya mood, atau mood irritable selama sedikitnya 1 minggu (atau berbagai durasi jika cukup berat dan perlu dibawa ke rumah sakit) e. Selama periode gangguan mood, sedikitnya terdapat 3 dari gejala yang menetap (atau 4 jika mood hanya irritable) :Christian Melka (2011-061-011) Lidia Kellyani Dewi (2011-061-013) Winda Wijaya (2011-061-016)

- Harga diri yang meningkat atau grandiosity (kebesaran) - Berkurangnya kebutuhan tidur - Lebih talkative (suka berbicara) atau menekankan pembicaraan - Flight of ideas - Distractibility - Agitasi fisik (atau meningkatnya pekerjaan, sosial, dan aktivitas sosial) - Tilikan tentang aktivitas buruk, misal : membeli kesenangan f. Gangguan mood harus cukup signifikan sehingga mengganggu pekerjaan dan aktivitas sosial. g. Pasien bipolar dapat mengalami delusi maupun halusinasi selama periode gangguan mood, tetapi tidak pada waktu yang lain.

2. Episode Hipomanik a. Episode hipomanik merupaka abnormalitas periode dan meningkatnya mood secara persisten dan mood yang irritable selama sedikitnya 4 hari. b. Selama periode gangguan mood, sedikitnya terdapat 3 dari gejala yang menetap (atau 4 jika mood hanya irritable) : - Harga diri yang meningkat atau grandiosity (kebesaran) - Berkurangnya kebutuhan tidur - Lebih talkative (suka berbicara) atau menekankan pembicaraan - Flight of ideas - Distractibility - Agitasi fisik (atau meningkatnya pekerjaan, sosial, dan aktivitas sosial) - Tilikan tentang aktivitas buruk, misal : membeli kesenangan c. Gangguan mood tidak cukup parah sampai mengganggu pekerjaan dan aktivitas sosial, serta tidak cukup serius sampai perlu dirawat, dan tidak ada gejala psikotik. d. Tidak disebabkan obat-obatan maupun kelainan medis.

3. Episode campuran Kriterianya yaitu terdapat episode manik dan episode mayor depresif dalam periode 1 minggu.

Christian Melka (2011-061-011) Lidia Kellyani Dewi (2011-061-013) Winda Wijaya (2011-061-016)

4. Gangguan cyclothimic Sedikitnya dalam 2 tahun terdapat berbagai periode hipomanik dan periode gejala depresif yang tidak memenuhi kriteria depresif mayor.

5. Episode rapid cycling Setidaknya terdapat 4 episode gangguan mood dalam periode 12 bulan yang memenuhi kriteria episode depresif mayor, manik, campuran, maupun hipomanik.

* DIAGNOSIS BANDING GEJALA MANIK 1. Gangguan psikotik Gangguan manik akut terlihat sulit dibedakan dengan skizofrenia maupun gangguan psikotik. Kedua gangguan tersebut dapat memberikan gejala agitasi, paranoid, irritable, atau gejala psikotik. Gangguan tersebut dapat dibedakan dengan : a. Tidak ada gejala mood yang menonjol pada gangguan psikotik b. Riwayat keluarga c. Riwayat sebelumnya (gangguan manik-depresi bersifat episodik, dengan fungsi yang lebih tinggi antara episode dan tidak adanya psikosis di antara episode tersebut)

2. Epilepsi lobus temporal yang bermanifestasi episode gangguan mood a. Banyak obat digunakan untuk mengobati kejang parsial kompleks (seperti carbamazepine, lamotrigine, valproate) juga digunakan untuk gangguan bipolar b. Pasien dengan gangguan mood episodik dan memiliki faktor risiko kejang parsial kompleks harus menjalani pemeriksaan elektroensefalogram (EEG), khusunya pada gejala yang atipikal. Berikut ini merupakan faktor risiko epilepsi lobus temporal : - Riwayat keluarga dengan epilepsi - Riwayat trauma kepala - Kejang demam pada masa kanak-kanak - Adanya tipe lain kejang - Adanya kanker yang mungkin bermetastasis ke otak - Infeksi susunan saraf pusat - Faktor risiko infeksi HIVChristian Melka (2011-061-011) Lidia Kellyani Dewi (2011-061-013) Winda Wijaya (2011-061-016)

3. Penyalahgunaan stimulan Dapat menyebabkan periode manik diikuti depresi berat saat withdrawal.

4. Penyalahgunaan alkohol atau sedativa Dapat menyebabkan depresi pada fase sedativa dan mania pada delirium withdrawal. Pada orang yang mencoba untuk mengobati sendiri gangguan moodnya dapat berakibat penyalahgunaan alkohol maupun substansi lainnya. Hal tersebut dapat membingungkan penegakan diagnosis.

5. Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD) ADHD pada remaja dapat memiliki gejala kegelisahan dan distractibility, tetapi tidak ada komponen mood manik.

6. Gangguan psikotik singkat Dapat terlihat sebagai episode manik, tetapi waktunya singkat, dapat berhubungan dengan suatu stressor, biasanya tidak memiliki komponen peningkatan mood, dan jarang bersifat rekuren.

7. Gangguan manik disebabkan kondisi medis umum Dapat disebakan oleh : a. Lesi di lobus frontal, limbik, maupun lobus temporal, yang paling sering adalah lesi pada sisi kanan b. Kondisi endokrin maupun metabolik (seperti kekurangan vitamin B12, hipotiroid dan hipertiroid, hipoparatiroid dan hiperparatiroid) c. Infeksi virus atau infeksi lainnya (seperti HIV, hepatitis, mononucleosis) d. Medikasi : - Levodopa - Antidepresan - Kortikosteroid - Dekongestan dengan phenylephrine - Simpatomimetik atau bronkodilator - Theophylline atau albuterol - InterferonChristian Melka (2011-061-011) Lidia Kellyani Dewi (2011-061-013) Winda Wijaya (2011-061-016)

8. Onset pertama mania setelah umur 40 tahun Kemungkinan berhubungan dengan faktor medis umum seperti stroke maupun lesi di sususan saraf pusat lainnya.

* GAMBARAN TERAPI 1. Gambaran umum manik akut Terapi farmakologi pada manik akut terdapat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Antipsikotik Atipikal untuk Manik Akut Medikasi Aripiprazole (Abilify) Olanzapine (Zyprexa) Quetiapine (Seroquel) Risperidone (Risperdal) Ziprasidone (Geodon) Dosis awal (mg/hari) 15 15 150 2,5 80 Dosis target (mg/hari) 15-30 10-30 300-800 2,5-6 80-180 Dosis Akhir (mg/hari) 30 25 700 7 160 Ketersediaan IM Dosis ekuivalen IM ekuivalen setengah dosis oral

Tabel 2. Medikasi Lain untuk Manik Akut Agen Rapid Loading Titrasi Inisiasi Guideline Nonrapid Carrbamazepine 400-8000 mg/hari dibagi 3 atau 4 dosis Divalproex 20-30 mg/kg 15-20 mg/hari (Depakote) dibagi 2 atau 3 dibagi 2 atau 3 dosis dosis Lithium 300 mg tid Oxcarbazepine 150 mg qd, kemudian ditingkatkan 150 mg qod Dosis target (mg/hari) 400-1200 Level Terapeutik 4-12 g/ml

1000-2000

50-125 g/ml

300-1800 1200-1600

0,7-1,2 mEq/L 10-35 g/ml

Christian Melka (2011-061-011) Lidia Kellyani Dewi (2011-061-013) Winda Wijaya (2011-061-016)

a. Pendekatan terbaik manik akut adalah sebagai behavioral emergency b. American Psychiatric Association (APA) dan guideline konsensus ahli merekomendasikan terapi farmakologi lini pertama dengan mood stabilizer seperti Lithium atau Divalporex saja maupun dengan antipsikotik. c. Divalporex dan Lithium dirujuk sebagai mood stabilizer lini pertama untuk manik akut. Carbamazepine merupakan alternatif lini kedua. d. Untuk manik dengan gambaran psikotik, rekomendasi terapinya adalah mood stabilizer ditambah antipsikotik atau antipsikotik saja. e. Disarankan menggunakan terapi antipsikotik sebagai terapi lini pertama untuk manik (terapi tunggal atau kombinasi) termasuk olanzapine, risperidone, dan quetiapine. Pilihan lini kedua termasuk aripiprazole dan ziprasidone. f. Divalproex dapat diberikan secara oral (20 mg/kg dibagi dalam 2 atau 3 dosis). g. Tambahan penggunaan seda