GAMBARAN MAKNA HIDUP PADA PENGANUT ATEIS RICKY ...

download

of 25

  • date post

    31-Dec-2016
  • Category

    Documents
  • view

    217
  • download

    2

Embed Size (px)

transcript

  • GAMBARAN MAKNA HIDUP PADA PENGANUT ATEIS

    RICKY SULISTIADI

    FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS GUNADARMA

    ABSTRAKSI

    Pada sebagian besar kehidupan masyarakat Indonesia yang notabene agamis, makna hidup dapat ditilik, dipelajari, dipahami, dihayati dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui nilai-nilai moral agama yang menjadi dasar dari pedoman hidup sebagian besar masyarakat Indonesia. Lain halnya dengan kehidupan orang ateis yang tidak memiliki pedoman hidup yang baku dan berfungsi sebagai pedoman utama seperti misalnya Kitab Suci, tuntunan serta nasihat dari para pemimpin ataupun orang-orang bijak, maupun buku-buku mengenai kajian spiritualitas kehidupan seperti yang biasa terjadi dalam kehidupan masyarakat beragama. Para penganut ateis tidak memiliki perangkat nilai-nilai baku yang menjadi pedoman dalam kehidupan mereka sebagai sumber dan titik tolak mereka untuk dapat memperoleh makna dalam kehidupannya. Para penganut ateis mendasarkan makna hidup mereka pada cara pandang yang bebas nilai. Dalam arti mereka sendirilah yang mencari, memilih, dan menerapkan bermacam nilai kehidupan yang bersifat universal sebagai pedoman hidup mereka yang nantinya dijadikan sebuah metode tersendiri untuk membentuk suatu makna bagi kehidupan mereka. Tujuan penelitian ini yaitu berusaha mengkaji lebih dalam mengapa seseorang individu akhirnya menjadi penganut ateis, bagaimana gambaran makna hidup penganut ateis, serta mengetahui lebih dekat bagaimana proses dan perjuangan penganut ateis dalam pencarian makna hidupnya.

    Pada penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif yang sifatnya studi kasus karena penelitian kualitatif studi kasus sesuai digunakan pada masalah-masalah yang bertujuan untuk mengeksplorasi kehidupan seseorang atau tingkah laku seseorang dalam kehidupannya sehari-hari, dengan menggunakan penelitian kualitatif studi kasus juga diperoleh pemahaman yang mendalam tentang berbagai gejala-gejala sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik wawancara dan catatan lapangan dengan subjek dan significant other. Untuk membantu proses pengumpulan data maka peneliti dilengkapi dengan pedoman wawancara dan alat perekam. Dalam penelitian ditentukan sejumlah karakteristik bagi subjek penelitian yaitu seorang penganut ateis dewasa awal. Rentang usia 20-25 tahun. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 1 orang. Dari data penelitian disimpulkan bahwa sebagian besar penyebab subjek menjadi ateis ternyata dipengaruhi oleh faktor ideologi yang dipahami oleh subjek. Hal tersebut berhubungan dengan kekecewaan subjek terhadap

    1

  • pengalaman dari penerapan dalam ideologi agamanya yang mendorong sikap pemberontakan subjek. Dalam penelitian ini subjek lebih mengacu dan mengingat kehidupan dari masa kecil hingga masa remajanya (baik itu dalam lingkungan masyarakat maupun lingkungan keluarga) yang lebih tertuju dan diporsikan dalam pengalaman-pengalaman buruk dan kurang menyenangkan sebagai sesuatu yang mempengaruhi dan membangun cara pandang serta pemaknaan terhadap hidup yang subjek terapkan pada saat ini dalam kehidupannya.

    Adapun faktor yang menjadikan hidup subjek menjadi bermakna pada saat ini beradasar pada cara pandang eksistensialis. Pandangan dan pembuktian subjek terhadap independensinya serta keberartian hidup yang dirasakan subjek disaat keberadaan dirinya dapat memiliki arti bagi orang lain serta dirinya sendiri didasarkan atas cara pandang tersebut. Subjek seakan ingin menegaskan dalam pemaknaan hidupnya pada saat ini yaitu bahwa kehidupan manusia menjadi sesuatu yang memiliki arti bukan karena apa yang dipikirkan atau diyakininya melainkan apa yang dapat dilakukan oleh manusia tersebut dalam kehidupannya baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya.

    Kata kunci : Makna Hiudup dan Ateis

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Alasan akan keberadaan diri dan kehadiran seorang individu di dunia

    secara relatif dapat dijawab dan ditarik pokok pemikirannya pada prinsip-prinsip

    yang ada dalam kehidupan beragama. Sebaliknya, hal tersebut tidak berlaku bagi

    para penganut ateis sebab permasalahan tersebut merupakan dasar dari psikologi

    kehidupan mereka sendiri yang mengindasikan suatu bentuk autentias dimana

    mereka harus memaknai keberadaan mereka dengan cara mereka sendiri bukan

    dengan diarahkan dalam suatu cara pandang yang mengikat kebebasan mereka.

    (Harris, 2006) Keberadaan diri, kejadian-kejadian dalam hidup, dan berbagai

    macam emosi yang melingkupinya bersinergi menjadi suatu kehidupan. Hal-hal

    tersebut membentuk dan mengisi setiap ruang dalam kehidupan manusia dan

    penganut ateis menyadari bahwa tanpa adanya pengertian akan dasar bagi alasan

    yang melingkupi setiap kejadian dalam hidup mereka maka hidup mereka dan

    semua kejadian yang terjadi dalam hidup mereka tidak akan ada artinya. (Corevlyn

    dan Hutsebaut, 1994)

    2

  • Bastaman (1996) mengatakan bahwa bagi mereka yang tidak mendasari

    pemaknaan hidupnya dari nilai-nilai agama tampaknya lebih tepat jika menerapkan

    salah satu prinsip pengembangan pribadi yang dikemukakan oleh Bapak Filsafat

    Eksistensi Kierkegaard, yaitu berusaha meninggalkan inhautic existence untuk

    menuju authentic existence. Adapun yang dimaksud dengan inhautic existence

    adalah corak kehidupan pribadi yang sepenuhnya ditentukan oleh tuntutan-

    tuntutan masyarakat tanpa mampu menentukan apa yang terbaik bagi dirinya

    sendiri. Sedangkan authentic existence adalah corak kehidupan pribadi yang

    ditentukan oleh pribadi yang ditentukan sendiri secara bebas dan bertanggung

    jawab mengenai apa yang baik bagi dirinya sendiri. Seperti juga yang dikatakan

    oleh Frankl (dalam Koeswara, 1987) menyatakan bahwa makna hidup tidak harus

    merupakan soal agama, tapi juga dapat dan sering merupakan persoalan filsafat

    hidup yang sifatnya sekuler.

    Dikatakan lebih lanjut oleh Hauser dan Singer (2005) ateisme bukanlah

    sistem etika (sistem yang menentukan perbuatan yang benar atau salah), ateisme

    hanyalah tidak adanya kepercayaan pada Tuhan. Ateisme punya kelebihan karena

    tidak perlu mendasarkan keputusan etikanya pada buku yang ditulis oleh orang-

    orang jaman kuno (abad ke-1 atau abad ke-7), dimana buku tersebut menunjukkan

    nilai-nilai etika dari orang-orang tersebut. Ateisme juga memungkinkan seorang

    individu untuk merendahkan hati dan mengakui bahwa nilai-nilai etika yang

    mereka miliki adalah nilai-nilai dari diri mereka sendiri dan bukan hukum alam.

    Ateisme memberikan seorang individu baik kebebasan dan tanggung jawab untuk

    menentukan perbuatan mana yang etis atau tidak etis bagi diri mereka sendiri.

    Bagaimana dan apakah mereka memenuhi tanggung jawab tersebut dengan baik

    tergantung dari diri mereka sendiri, bukan pada hal-hal diluar diri mereka.

    Cara pandang yang bebas dari para penganut ateis tersebut terkadang kerap

    disalah-artikan oleh orang-orang awam sebagai suatu bentuk kebebasan yang tanpa

    kontrol. Goldman (dalam Glassgold, 2001) mengatakan bahwa memikiran Tuhan

    tidak ada tidak lantas berarti juga berpikir bahwa manusia bebas melakukan

    apapun sekehendaknya sendiri. Ateisme hanyalah suatu keadaan sebatas 'tidak

    percaya bahwa Tuhan ada', tidak lebih dari itu. Tidak ada jaminan bahwa seorang

    3

  • ateis akan berbuat semaunya, seperti juga tidak ada jaminan seorang beragama dan

    percaya pada Tuhan akan berbuat baik.

    Berdasarkan fakta-fakta tersebut dikatakan Goldman (dalam Glassgold,

    2001) pada akhirnya akan lebih bijak melihat filosofi ateisme dan para

    penganutnya dalam perspektif yang proposional yaitu bahwa para penganut ateis

    dapat memiliki hidup yang bermakna yang dengan hal tersebut dapat

    menyumbangkan sesuatu yang berarti yang juga memiliki makna bagi orang lain,

    kehidupan bermasyarakat, ataupun secara luas bagi seluruh domain dalam

    lingkungan tempat dia hidup. Demikian pula halnya orang ateis yang gagal

    memaknai, memberi arti, dan menghargai kehidupannya sendiri (dalam artian yang

    sempit) dan keterkaitannya akan kehidupan manusia yang lain beserta lingkungan

    hidupnya (dalam artian yang luas) dapat menjadi sumber perusak kedamaian dan

    ketentraman dalam kehidupan baik sosial, politik, maupun lingkungan hidup.

    Sama seperti halnya penganut ateis hal tersebut juga berlaku bagi orang beragama

    yang gagal dalam memaknai, memberi arti, dan menghargai kehidupannya sendiri

    yang akhirnya kerap bertindak sewenang-wenang atau bahkan cenderung kasar,

    apatis, ataupun sadis. (Goldman dalam Glassgold, 2001)

    Menurut Goldman (dalam Glassgold, 2001) yang terpenting adalah

    bagaimana seseorang memahami dan memaknai moralitasnya sendiri sebagai

    nilai-nilai yang menjadi pedoman dalam kehidupannya. Berguna atau tidaknya

    seorang individu bagi kehidupannya sendiri dan masyakat luas pada umumnya

    tergantung oleh individu yang menjalaninya dan bukan tergantung pada aspek

    moralitas yang dimilikinya. Bilamana seorang individu dapat mengaplikasikan

    nilai-nilai yang dimilikinya dalam kehidupannya dan dengan hal tersebut dirinya

    dapat merasa berguna bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan maka individu

    tersebut akan merasa bahagia, merasakan kepenuhan hidup, dan memiliki makna

    dalam hidupnya maka itulah bentuk spritulitas para penganut ateis. (Goldman

    dalam Glassgold, 2001)

    Harris (2006) menyatakan bahwa untuk menjadi seorang individu yang

    baik dan memiliki kehidupan yang baik pula seseorang tidaklah harus memiliki

    ag