Gabungan Vitamin

download Gabungan Vitamin

of 56

  • date post

    05-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    260
  • download

    14

Embed Size (px)

Transcript of Gabungan Vitamin

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Vitamin merupakan senyawa organik yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah kecil untuk mempertahankan kesehatan dan seringkali bekerja sebagai kofaktor bagi enzim metabolisme. Pemberian vitamin meningkat terutama pada saat hamil, menyusui, setelah menjalani operasi besar, terjadi infeksi, pada bayi dan usia lanjut, pemakaian antibiotik spektrum luas dalam jangka waktu panjang, penggunaan isoniazid, dan penggunaan kontrasepsi oral (Dewoto dan Wardhini, 2007). Berdasarkan kelarutannya, vitamin dibedakan menjadi vitamin larut dalam lemak, yaitu vitamin A, D, E ,K, dan vitamin yang larut dalam air, yaitu vitamin B kompleks dan vitamin C. Vitamin larut air berperan sebagai kofaktor untuk enzim tertentu, sedangkan vitamin A dan D mempunyai sifat yang lebih menyerupai hormon dan mengadakan interaksi dengan reseptor spesifik intraseluler pada jaringan target. Vitamin larut air hanya disimpan dalam jumlah terbatas dalam tubuh dan sisanya dibuang, sehingga untuk mempertahankan saturasi jaringan maka vitamin larut air perlu dikonsumsi dengan lebih sering. Meskipun demikian, pemberian vitamin larut air dalam jumlah berlebihan selain merupakan suatu tindakan pemborosan, juga mungkin menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Sebaliknya, vitamin yang larut lemak dapat disimpan dalam jumlah banyak dalam tubuh, sehingga kemungkinan terjadinya toksisitas jauh lebih besar daripada vitamin larut air (Dewoto dan Wardhini, 2007). Untuk menjamin ketepatan penggunaan vitamin sesuai dengan kebutuhan dan kondisi klinik pasien, maka diperlukan suatu upaya pemberian informasi dan edukasi kepada pasien, yang salah satunya dapat melalui swamedikasi. Vitamin dapat dibeli tanpa menggunakan resep dokter, sehingga memenuhi syarat untuk dapat dilakukannya swamedikasi di apotek oleh apoteker. Dalam pelayanan ini Apoteker dituntut untuk dapat melakukan pelayanan kefarmasian dengan baik terkait dengan kebutuhan vitamin bagi pasien serta memberikan edukasi dan informasi kepada pasien mengenai pentingnya konsumsi vitamin guna menghindari terjadi defisiensi vitamin. Vitamin memang dibutuhkan dalam jumlah sedikit bagi tubuh, namun vitamin sangat diperlukan agar proses metabolisme tubuh dapat berjalan dengan baik, sehingga defisiensi vitamin yang awalnya tergolong ringan, lama kelamaan dapat memicu terjadinya penyakit yang lebih serius, seperti diabetes melitus, penyakit empedu, penyakit hati, dan lain-lain.

Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan-keluhan dan penyakit ringan yang banyak dialami masyarakat, termasuk keluhan yang terkait dengan defisiensi vitamin. Swamedikasi menjadi alternatif yang diambil masyarakat untuk meningkatkan keterjangkauan pengobatan. Pada pelaksanaannya, swamedikasi dapat menjadi sumber terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) karena keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat dan penggunaannya. Dalam hal ini Apoteker dituntut untuk dapat memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat terhindar dari penyalahgunaan obat (drug abuse) dan penggunaan obat yang salah (drug misuse). Apoteker sebagai salah satu profesi kesehatan sudah seharusnya berperan sebagai pemberi informasi (drug informer), khususnya untuk obat-obat yang digunakan dalam swamedikasi. Obat-obat yang digunakan untuk swamedikasi adalah obat-obat yang dapat digunakan tanpa resep dokter, yang meliputi obat wajib apotek (OWA), obat bebas terbatas (OBT) dan obat bebas (OB). Sebagian besar vitamin tersedia sebagai obat bebas dan bebas terbatas, sehingga relatif aman digunakan untuk swamedikasi (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2006). 1.2. Rumusan Masalah 1.2.1. Bagaimanakah kebutuhan harian masing-masing vitamin? 1.2.2. Bagaimanakah KIE yang harus diberikan kepada pasien terkait dengan penggunaan vitamin dalam swamedikasi? 1.3. Tujuan 1.3.1. Mengetahui kebutuhan harian masing-masing vitamin. 1.3.2. Mengetahui KIE yang harus diberikan kepada pasien terkait dengan penggunaan vitamin dalam swamedikasi. 1.4. Manfaat Makalah ini diharapkan dapat memberikan pemahaman bagi masyarakat pada umumnya dan apoteker pada khususnya mengenai pentingnya memenuhi kebutuhan vitamin harian agar terhindar dari gejala defisiensi vitamin. Walaupun vitamin dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah sedikit, namun vitamin sangat diperlukan agar metabolisme tubuh dapat berjalan dengan baik. Apoteker diharapkan dapat melakukan proses swamedikasi dengan baik, sehingga masyarakat atau pasien dapat memperoleh vitamin sesuai dengan kebutuhan hariannya dan kondisi kliniknya.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Definisi Vitamin Vitamin adalah zat organik yang tidak disintesis dalam tubuh, dalam jumlah kecil sangat penting untuk pemeliharaan metabolisme yang normal. Vitamin tidak menghasilkan energi dan bukan merupakan bahan pembentuk struktur sel. Kekurangan vitamin tertentu dapat menyebabkan penyakit seperti beri-beri, ricket, scurvy, xeropthalmia, atau suatu kondisi tanpa gejala yang jelas. Istilah vitamin timbul tahun 1911, dimana pada waktu itu senyawa amin yang diisolasi dari kulit padi mendapat perhatian karena dapat mencegah beri-beri, senyawa esensial ini atau vital amin disebut vitamin. Istilah vitamin tetap dipakai sampai sekarang walaupun tidak semua vitamin merupakan senyawa amin misal vitamin A, C, D, E, K dan inositol. Struktur kimia dari vitamin bervariasi dari molekul sederhana seperti niasin sampai yang kompleks seperti sianokobalamin. Fungsi biologis dari vitamin juga beraneka ragam. Vitamin B2, niasin, dan asam pantotenat berfungsi sebagai koenzim. Vitamin B12 dan asam folat berperan dalam biosintesis pemindahan atom C. Vitamin C berperan dalam biosintesis hidroksiprolin, suatu komponen yang penting dalam kolagen. Vitamin B1 dan B6 berperan dalam metabolisme karbohidrat dan asam amino. Biotin berperan dalam metabolisme karboksilasi. Vitamin D dan E berperan selektif dalam membran transport. Vitamin A, B1, B12, C, E, dan niasin berperan secara langsung dan tidak langsung dalam reaksi oksidasireduksi. Pemberian vitamin meningkat terutama pada kondisi saat hamil, menyusui, setelah menjalani operasi besar, terjadi infeksi, pada bayi dan usia lanjut, pemakaian antibiotik spektrum luas dalam jangka waktu panjang, penggunaan isoniazid dan kontrasepsi oral. FDA mengharuskan produk vitamin mencantumkan presentase komposisi produk sesuai dengan yang dianjurkan U.S.A. RDA (US Recommended Daily Allowance) yaitu dosis yang dianjurkan untuk penggunaan sehari. Presentase tergantung dari umur, jenis kelamin, jenis penyakit, stress dan berat badan. Berdasarkan kelarutannya vitamin dibagi menjadi vitamin larut dalam lemak yaitu vitamin A, D, E , K, dan yang larut dalam air, vitamin B kompleks, vitamin C, biotin, beberapa zat yang mempengaruhi kegiatan fisologik seperti asam amino benzoat, bioflavonoid, kolin dan inositol.

2.2. Vitamin yang Larut dalam Lemak Kekurangan kelompok vitamin ini kemungkinan disebabkan karena terganggunya absorbsi lemak, seperti pada penyakit billiary cirrhosis, cholecysitis, dan sprue, dapat juga terjadi pada saat terapi penggunaan kolesteramin dan penggunaan laksatif yang berlebihan. 2.2.1 Vitamin A Vitamin A merupakan salah satu jenis vitamin larut dalam lemak yang berperan penting dalam pembentukan sistem penglihatan yang baik. Vitamin A atau retinal merupakan senyawa poliisoprenoid yang mengandung cincin sikloheksenil. Vitamin A merupakan istilah generik untuk semua senyawa dari sumber hewani yang memperlihatkan aktivitas biologik vitamin A. Senyawa-senyawa tersebut adalah retinal, asam retinoat dan retinol. Hanya retinol yang memiliki aktivitas penuh vitamin A, yang lainnya hanya mempunyai sebagian fungsi vitamin A. Vitamin A mempunyai provitamin yaitu karoten. Pada sayuran vitamin A terdapat sebagai provitamin dalam bentuk pigmen berwarna kuning karoten, yang terdiri atas dua molekul retinal yang dihubungkan pada ujung aldehid rantai karbonnya. Tetapi karena karoten tidak mengalami metabolisme yang efisien, maka karoten mempunyai efektifitas sebagai sumber vitamin A hanya sepersepuluh retinal (Triana, 2006).

Gambar struktur Retinol Sumber Vitamin A Vitamin A dapat ditemukan pada sereal, roti, pasta, dan nasi. Vitamin A juga terdapat pada sayuran seperti wortel, paprika merah dan hijau, kangkung, kentang, selada, tomat,dan brokoli, dan juga terdapat pada buah seperti mangga, papaya, apricot dan jeruk. Vitamin A juga terdapat pada daging, ikan, telur, susu, yogurt, keju, kacang-kacangan, buncis kering (Mosure, 2005). Berikut ini merupakan beberapa jenis makanan dengan kandungan vitamin A di dalamnya:

(Jensen et al., 2009) Fungsi Vitamin A merupakan vitamin larut lemak yang berperan penting pada pengelihatan, pertumbuhan, dan perkembangan, perkembangan dan perbaikan kesehatan kulit, rambut, dan membran mukus, fungsi imun, dan reproduksi (Mosure, 2005). Retinal merupakan komponen pigmen visual rodopsin,yang mana rodopsin terdapat dalam sel-sel batang retina yang bertanggung jawab atas penglihatan pada saat cahaya kurang terang. Ketika terkena cahaya, rodopsin akan terurai serta membentuk all-trans retinal dan opsin. Reaksi ini disertai dengan perubahan bentuk yang menimbulkan saluran ion kalsium dalam membran sel batang. Aliran masuk ion-ion kalsium yang cepat akan memicu impuls saraf sehingga memungkin cahaya masuk ke otak (Triana, 2006). Asam retinoat turut serta dalam sintesis glikoprotein. Hal ini dapat dijelaskan bahwa asam retinoat bekerja dalam memicu pertumbuhan dan diferensiasi jaringan (Triana, 2006). Retinoid dan karotenoid memiliki aktivitas antikanker. Banyak penyakit kanker pada manusia timbul dalam jaringan epitel yang tergantung pada retinoid untuk berdiferensiasi seluler yang normal. karoten merupakan zat antioksidan dan mungkin mempunyai peranan dalam menangkap radikal bebas peroksi di dalam jaringan dengan tekanan parsial oksigen yang rendah (Triana, 2006). Vitamin A juga dapat melindungi tubuh dari infeksi organisme asing,