fistula uroginekologi

Click here to load reader

  • date post

    25-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    154
  • download

    26

Embed Size (px)

description

obstetri & gynecology

Transcript of fistula uroginekologi

BAB IPENDAHULUAN

Fistula genitourinaria merupakan suatu saluran yang terbentuk antara traktus genitalis dan traktus urinarius. Bentuk yang tersering adalah fistula vesikovaginalis dan fistula ureterovaginalis. Fistula vesikovaginalis pertama kali ditemukan pada mummi seorang ratu di Mesir dan dilakukan pemeriksaan secara mendalam pada tahun 1923 oleh Derry. Di Eropa dan Amerika Utara, fistula obstetrik telah ditemukan sejakseratus tahun yang lalu. Fistula genitourinaria biasanya merupaka komplikasi dari suatu persalinan.. Fistula obstetri yang di akibatkan oleh persalinan mengenai 50.000-100.000 wanita setiap tahun secara global. Fistula obstetri merupakan suatu kondisi yag dapat dicegah dan diobati,jadiseharusnyatidakadawanitayangmenderitaakibatmasalahini.Pen ebab utama fistula obstetri adalah persalinan preterm, aksesyang terbatas ke pelayanan obstetri malnutrisi, kemiskinan,status sosial, pendidikan yang rendah, sehingga wanita tersebut tidakmemeriksakan diri ke pusat pelayanan kesehatan untuk mencegah hal tersebut. Prevalensi paling tinggi terdapat pada masyarakat Afrika dan Asia.1WHO memperkirakan ada sedikitnya 2.000.000 wanita hidup dengan fistula obstetri dan bertambah 50.000-100.000 setiap tahunnya. Wanita-wanita ini membiarkan kondisinya tanpa penanganan dikarenakan beberapa alasan: taraf pendidikan yang rendah bahwa masalah yang mereka hadapi dapat diperbaiki, jarak yang harus ditempuh untukmencapai fasilitas yang menyediakan perawatan. Wanita-wanita pada lingkungan yang sama juga tidak memeriksakan keadaan mereka ke pusat pelayanan kesehatan meskipun tersedia layanan kesehatan, hal ini disebabkan oleh ketidak mampuan mereka untuk membayar pelayanan kesehatan.1,2

BAB IIKEPUSTAKAAN

2.1. Definisi Fistula genitourinaria diartikan sebagai suatu saluran abnormal antara dua atau bahkan lebih organ internal urogenital atau terbentuknya saluran antara saluran kemih (uretra, kandung kemih, ureter) dan saluran genital (vagina, uterus,perineum).1

2.2. EtiologiAntara penyebab fistula genitourinaria adalah:2

Tabel 1. Penyebab fistula genitourinariaTrauma Obstetrik

Inflammatory bowel disease: Crohns Disease

Operasi daerah pelvis sebelumnya

Infeksi: tuberkulosis, limfogranuloma venerum, skistosomasis, divertikulitis

Kanker: ginekologik, anorektal

Terapi radiasi

2.3. PatofisiologiTrauma pada kandung kemih saat melakukan tindakan histerektomi yang sulit atau persalinan operatif section cesarean (SC) dapat menimbulkan fistula vesikovaginalis. Kebanyakan terbentuk fistulavesikovaginalis saat melakukan diseksi tumpul yang luas pada daerah kandung kemih saat melakukan pemisahan lapisan kandung kemih. Hal lain dalam tindakan pembedahan yang menyebabkan terjadinya fistula adalah jahitan pada puncakvagina yang secara kebetulan melibatkan kandung kemih, keadaan inimenjadikan jaringansekitarnyaiskemia, nekrosisdan selanjutnyamenjadifistula. Fistula akibat proses persalinan terjadi saat persalinan lama atau dengan kesulitan. Bagian kepala janin akan menekan bagian trigonal dan leher kandung kemih dengan menekan ke bagian tulang pubis pada simpisis. Keadaan demikian juga menyebabkan iskemia dan nekrosis. Fistula yang timbul sebagai komplikasi radiasi tidak tampak segera setelah radiasi. Manifestasinya lambat, efek radiasi mengakibatkan fibrosis pada jaringan subepiteleal dan hialinisasi jaringan ikat akan tampak dengan pemeriksaan histologi. Pembuluh darah menjadi atropi dan nekrosis pada epitel kandung kemih, kemudian terjadi ulserasi sampai terbentuk fistula.1,3

2.4. KlasifikasiBelum ada kesepakatan yang menjadi standar untuk menentukan klasifikasi dari fistula urogenital.Klasifikasi pertama oleh Sims (1852) adalah pembagian fistula berdasarkan lokasinya pada vagina, klasifikasi tersebut adalah:1

1. Uretro-vaginal, yaitu kerusakan terjadi melibatkan uretra2. Fistula yang melibatkan leher kandung kemih atau pangkal uretra3. Fistula yang melibatkan dasar kandung kemih4. Fistula utero-vesikal, dengan bagian terbuka pada uterus dan kanalis serviks

Klasifikasi umum dari fistula urogenital dapat dikelompokkan dalam 4 jenis,yaitu:11. Vesikouterina2. Urethrovaginal3. Vesikovaginal4. Ureterovaginal

Gambar 1. Klasifikasi fistula (dikutip dari kepustakaan 1)

Namun pada umumnya, terdapat dua faktor yang sangat penting untuk klasifikasi fistula urogenital. Faktor tersebut adalah:41. Besarnya kerusakan, yang diukur berdasarkan besarnya fistula, jaringan parut yang ada pada vagina dan kandung kemih.2. Hubungan antara fistula dan perubahan mekanisme aliran urin.

2.4.1 Fistula Vesikovaginal

Fistula vesikovaginal kebanyakan terjadi karena komplikasi dari suatu persalinan. Di negara maju, insidensi fistula vesikovaginalis sangat rendah. Pakistan merupakan negara sedang berkembang dengan insidensi fistula vesikovaginalis sangat tinggi sekitar 84 97%.2Dari laporan disebutkan angka kesembuhan setelah dilakukan perbaikan fistula sebesar 90-92%. Sekitar 80% perbaikan fistula vesikovaginal dilakukan pervaginam kecuali bila lokasi fistula yang terlalu tinggi atau fistula yang terlalu besar sehingga dapat dilakukan pendekatan perabdominal, hal ini biasanya dilakukan oleh bagian bedah uroginekologi. Kesulitan yang timbul biasanya bila ada jaringan fibrosis pada fistula atau stenosis vagina.

Gambar 2: Fistula Vesikovaginalis (Dikutip dari kepustakaan 4)

Faktor resiko terjadinya fistula vesikovaginalis adalah persalinan lama, operasi pelvis, riwayat pelvic inflammatory disease, penyakit keganasan pelvis, endometriosis, infeksi, diabetes dan perubahan anatomi pelvis. Terdapat 2 jenis fistula vesikovaginalis:1, 3

1. Simple vesicovaginal fistulaea. Ukuran fistula < 2-3 cm dan terletak supratrigonalb. Tidak ada riwayat radiasi atau keganasanc. Panjang vagina normal2. Complicated vesivaginal fistulaea. Mempunyai riwayat radiasi sebelumnyab. Terdapat keganasan pelvisc. Vagina pendek d. Ukuran fistula > 3cme. Mengenai trigonum vesika urinaria

Fistula vesikovaginal dapat juga dibagi berdasarkan lokasi anatomi fistula tersebut. Klasifikasi tersebut adalah:31. Juxtaurethral, melibatkan leher kandung kemih danproksimal uretra dengan kerusakan mekanisme spingter dan terkadang disertaihilangnya uretra.2. Midvaginal, tanpa melibatkan leher kandung kemih dan trigonum3. Juxtacervical, terbuka sampai forniks anterior dengan kemungkinan melibatkan ureter bagian distal.4. Vesicoservicalatau vesicouterine5. Massive, kombinasi 1 sampai 3 dengan bekas parut dan melibatkan tulang simfisis, sering melibatkan ureter pada pinggir fistula dan prolapsus kandung kemih melalui lubang fistula yang besar.6. Compound, melibatkan rektovaginal atauureterovagina.

Gambar 3. A. Fistula vesicoservical, B. Juxtacervical, C. Midvaginal vesicovaginal, D. Suburethral vesicovaginal, E. Fistula urethrovaginal (Dikutip dari kepustakaan 3)

Gejala yang dirasakan pasien tergantung dari jenis faktor resiko yang menyebabkannya. Apabila kejadian fistula vesicovaginalis disebabkan trauma persalinan biasanya penderita akan mengalami kebocoran urin pada 24 48 jam setelah persalinan. Bila kejadian fistula vesicovaginalis disebabkan operasi pada daerah pelvis kebocoran urin akan dirasakan 30 hari pertama setelah operasi, pada kasus-kasus fistula karena radiasi biasanya memberikan gejala yang lebih lama sekitar 30 hari sampai dengan 30 tahun.1,5 Prognosis dari fistula vesicovaginalis tergantung dari lokasi dan kerusakan pada jaringan yang terjadi misalnya seperti vaskularisasi yang tidak baik pada daerah defek, terpapar radiasi sebelumnya, tetapi terapi pembedahan mempunya angka prognosis kesembuhan yang tinggi pada kasus fistula vesikovaginalis.3,4

2.4.2 Fistula RektovaginalisFistula rektovaginalis didefinisikan dengan adanya saluran yang dibatasi jaringan epitel menghubungkan rektum dengan vagina. Fistula ini sangat jarang terjadi, 5% dari kasus fistula anorektalis. Pada pasien dengan keganasan ginekologik, fistula rektovaginalis lebih banyak terjadi karena infiltrasi tumor itu sendiri atau radiasi di daerah pelvis.5

Gambar 4: Fistula Rektovaginalis (Dikutip dari kepustakaan 5)

Tidak ada klasifikasi khusus untuk mendeskripsikan fistula rektovaginalis, biasanya hanya berdasarkan penyebab, lokasi dan ukuran dari fistula itu sendiri. Fistula rektovaginalis sederhana meliputi ukuran fistula yang kecil, melibatkan vagina bagian distal, dan disebabkan oleh trauma atau infeksi, sedangkan yang kompleks ukuran fistula lebih besar, melibatkan vagina bagian proksimal dan disebabkan karena neoplasma, penyakit infeksi usus dan terapi radiasi.5,6Insidens fistula rektovaginalis post radiasi kurang dari 5%. Rektum adalah tempat yang sering mengalami perlukaan karena peningkatan dosis terapi radiasi setelah 2-5 tahun. Toleransi rektum terhadap dosis radiasi adalah 45 50 Gy dan insidens terjadinya perlukaan gastrointestinal terjadi pada dosis lebih dari 50 Gy.1,5Keluhan flatus dan keluar feses melalui vagina, adalah gejala yang paling banyak dikeluhkan pasien dengan fistula rektovaginalis. Pada wanita dengan fistula yang sangat kecil, flatus mungkin satu-satunya keluhan, tetapi pada wanita yang fesesnya berbentuk cair, timbul bau dan cairan yang berbau busuk dari vagina dan dapat terjadi vaginitis kronik sampai berulang dan ekskoriasi pada kulit perianal. Timbulnya dispareuni disebabkan oleh infeksi dan fibrosis. Fistula yang besar dapat menyebabkan keluarnya feses dalam bentuk padat melalui vagina.1,8

2.5. Diagnosa2.5.1. AnamnesisAdanya kebocoran urin melalui vagina tanpa rasa nyeri dan terjadi setelah persalinan atau operasi dan radiasi. Pada fistula yang kecil urin dapat merembes tergantung pada vesika yang terisi penuh atau posisi tubuh. Gejala yang paling sering pada fistula vagina adalah inkontinensia total involunter. Dijumpai iritasi pada daerah vulva, paha dan infeksi saluran kemih. Dalam anamnesis harus diupayakan mengetahui penyebab fistula dengan pertanyaan yang spesifik tentang etiologi. Juga diperoleh catatan medis sebelumnya tentang penyakit, kondisi atau terapi yang bisa saja menyebabkan berkembangnya fistula dan juga setiap prosedur yang mungkin pernah dilakukan untuk penyembuhan fistula. Gejala yang paling umum dari fistula rektovaginal adalah keluarnya gas, feces, atau lendir melalui vagina. Gejala ini bisa disalah artikan sebagai inkontinensia alvi.1,5,8 Gejala tambahan termasuk dispareunia dan keputihan kronis. Kadang-kadang, fistula rektovaginal mungkin tanpa gejala. Secara umum fistula vagina disebabkan oleh proses persalinan yang lama karena kepala janin menekan vagina dan jaringan kandung kemih yang menyebabkan nekrosis dan terbentuk fistula.1,6

2.5.2. Pemeriksaan VaginaVulva dan perineum biasanya basah dan disertai urin. Dengan menggunakan spekulum biasanya mudah mencari lokasi fistula urogenital yang melibatkan kandung kemih atau uretra bila pasien diperiksa dengan posisi litotomi. Dapat dipakai spekulum sims untuk melihat dinding vagina danbisa digunakanprobe kecil untuk melihat fistula diantara uretra dan kandung kemih dengan vagina. Adanya urin pada forniks posterior vagina merupakan keadaan yang abnormal.2,7,8

2.5.3. Uji DiagnostikUji bahan warna (misalnya indigo carmine atau methylene blue dalam air steril atau normal saline) atau susu (misalnya formula bayi steril) bisa digunakan untuk mengisi kandung kemih melalui kateter transurethral. Bila ada fistula vagina maka cairan pewarna atau cairan susu akan tampak pada vagina. Bila fistula kecil, mungkin perlu menempatkan sedikit bola kapas secara longgar melalui liang vagina dan pasien diinstruksikan bergerak-gerak berganti posisi agar terjadi kebocoran dari kandung kemih ke dalam vagina. Bila terjadi bola kapas akan basah dan berwarna biru. Namun bila metode ini gagal atau tampon terlihat basah tetapi tidak terdapat pewarnaan dapat dilakukan cara pyridium oral atau indigocarmine intravena kemudian dapat ditentukan adanya fistula ureterovaginal, ureterouterin dan ureteroservikal.1,2,4Double day tes digunakan untuk mendeteksi fistula uterovaginal. Pasien diberikan phenazopyridine oral dan indigo carmine atau methylene blue dimasukkan ke dalam kandung kemih melalui kateter urethra. Phenazopyridine membuat urin berwarna merah dan methylene blue atau indigo carmine membuat urin berwarna biru. Adanya warna biru pada tampon menunjukkan fistula vesikovagina atau urethrovagina dan jika merah menunjukkan fistula ureterovagina. Uji air dan udara bisa digunakan untuk mendeteksi fistula vesikovagina. Pasien dengan knee-chest position, vagina diisi dengan air steril atau saline normal dan udara atau karbon dioksida dimasukkan ke kandung kemih melalui kateter transurethral kecil. Gas yang keluar melalui fistula dibuktikan oleh gelembung-gelembung cairan didalam vagina.1,9

2.5.4. EndoskopiCystourethroscopy adalah bagian penting dari penilaian prabedah pasien dengan fistula urogenital. Ini membantu memastikan lokasi anatomis yang pasti dari fistula dan hubungan fistula vesikovagina dengan muara uretra. Yang penting, cystourethroscopy juga memungkinkan penilaian jaringan di sekitar fistula. Kondisi jaringan ini menentukan ketepatan waktu perbaikan secara bedah. Ada kemungkinan bahwa cystourethroscopy harus diulang beberapa kali selama penanganan prabedah distula urogenital.5

2.5.5.LaboratoriumDilakukan pemeriksaan kadar urea dari cairan yang keluar dari vagina. Jika dicurigai suatu fistula hasil kadar urea yang tinggi menandakan cairan yang keluar mengandung urin. Cairan urin sebaiknya dilakukan kultur dan uji sensitivitas, apa ada infeksi maka diberikan terapi antibiotik yang sesuai.1

2.6. Penatalaksaan

2.6.1. Penatalaksaan konservatifJika fistula didiagnosis beberapa hari setelah pembedahan ginekologi, kateter suprapubis atau transurethral dipasang dan dipertahankan sampai 30 hari. Fistula vesiko-vagina yang kecil < 1 cm akan hilang atau berkurang selama periode waktu tersebut. Fistula vagina yang kecil dapat sembuh dengan pemasanngan kateter foley. Fistula yang terjadi dapat menutup kembali secara spontan setelah 3 minggu pemasangan kateter untuk drainase urin. Jikadalam kurun waktu 30 hari setelah pemasangan kateter tidak terdapat perubahan,menandakan fistula tidak akan menutup secara spontan. Pemberian kortikosteroid diharapkan dapat mempercepat penyembuhan dengan mengurangi edema dan fibrosis padafistula.1,9

2.6.2. Perawatan PrabedahPerlu dilakukan perbaikan keadaan umum. Penderita yang sudah menopause dan sudah menjalani oophorectomy diberikan terapi estrogen secara topical atau sistemik yang berguna untuk memperbaiki jaringan vagina,diberikan suntikan IM 1mg estradiobenzoat setiap hari selama 1-2 minggu dan dilanjutkan 2 minggu pasca bedah. Infeksi saluran kemih dan infeksi pada vagina harus segera dicegah sebelum tindakan pembedahan. Penilaian keadaan umum dan kondisi jaringan di sekitar fistula menentukan waktu pembedahan fistulaurogenital.1

2.7. Pembedahan

Prinsip dasar pembedahan untuk menutup fistula adalah mobilisasi jaringan, vaskularisasi yang baik dan penyatuan jaringan yang baik. Keutamaan dalam pelaksanaan tindakan bedah fistulaadalah hemostasis yang baik, mobilisasi yang luas dari vagina dan kandung kemih dan menghilangkan jaringan yang mengalami devaskularisasi dan benda asing, jaringan bebas regangan, permukaan jaringan sesuai jalur dan memastikan apakah fistula masih terbuka atau sudah tertutup dan drainase kandung kemih selama 10-14 hari. Pendekatan operasi untuk fistula urogenital pada prinsipnya ada 3 pilihan yaitu: 9,10

1. Transvaginal2. Transabdominal3. Kombinasi transvaginal dan transabdominal

2.7.1. Teknik Transvaginal

1. Latzko partial ColpocleisisPertama kali dilaporkan pada tahun 1942 dengan angka keberhasilan 90 100%. Keuntungannya adalah waktu operasi singkat, morbiditas intraoperasi dan post operasi kecil, resiko cedera ureter kecil. Dilakukan irisan melingkar sekitar 2 cm dari lubang fistula. Vagina dipisahkan kemudian ditutupkan pada lubang fistula tanpa mengenai mukosa vesika urinaria, kemudian dilakukan penjahitan 2 lapis. Langkah terakhir menutup mukosa vagina.3,10

Posisi LawsonPosisi ini ideal untuk fistula pada uretra proksimal dan leher kandung kemih. Pasien di tempatkan dalam posisi prone dengan lutut diangkat melebar disangga dengan penyangga kaki, dikombinasi dengan anti trendelenburg sehingga lapangan operasi lebih jelas. 8

Posisi Jackknife.Posisi ini ideal untuk fistula pada uretra proksimal dan leher kandung kemih. Pasien ditempatkan pada posisi prone dengan abduksi dan fleksi panggul.8

Posisi dorsal litotomiPosisi dorsal litotomi dengan trendelenburg merupakan posisi yang baikuntuk reparasi fistulavesikovagina yang letak tinggi.8

Gambar 5: Posisi Lawson dan Posisi Jackknife (Dikutip dari kepustakaan 8)

2. Teknik FistuletokmiDilakukan dengan teknik flap-splitting. Pertama dilakukan reseksi pada lubang fistula untuk mendapatkan jaringan pada pinggir fistula, kemudian dilakukan penutupan lapis demi lapis mulai dari mukosa dan serosa vesika urinaria, fasia pubocervical, dan mukosa vagina. Perhatikan ketegangan jahitan, dapat juga dilakukan fasia flap untuk mencegah kekambuhan.7,8

3. Teknik GraftPada kasus-kasus yang mempunyai resiko kekambuhan tinggi atau lubang fistula yang besar dapat dilakukan Martius fat-Pad graft untuk mendapatkan vaskularisasi yang baik.8Pendekatan dapat dilakukan perabdominal bila letak fistulanya tinggi dan sukar ditampilkan, besar dan kompleks, multiple fistula, serta bila didapatkan gangguan pada uterus atau usus yang disebabkan fistula atau memerlukan reimplantasi ureter. Operasi dilakukan ekstraperitoneal dengan memisahkan dinding vesika dengan vagina, identifikasi fistula kemudian dilakukan penjahitan satu-satu pada vesika dan pada vagina masing-masing 2 lapis, bila diperlukan dapat dilakukan omental flap agar mendapatkan vaskularisasi lebih baik.8

2.7.2 Teknik Transabdominal.1. FistulavesikovaginalPendekatan abdominal diindikasikan untuk fistula urogenital yang kompleks melibatkan ureter atau organ pelvis lainnya atau yang mungkin terkait dengan penyakit keganansan atau akibat dari radioterapi. Operasi transabdominal juga dikerjakan apabila fistula tinggi sehingga sulit di capat dari vagina. Komponen vesiko-vagina dari fistula bisa dicapai dengan cystostomy sagital untukmemberikan akses ke tempat fistula. Saluran fistula dieksisi, dan ruang vesikovaginal disayat lebar. Lubang ke dalam vagina di tutup dengan kedua lapisan menggunakan benang absorbs lambat dan lubang pada kandung kemih ditutup dengan tiga lapisan menggunakan jahitan benang yang dapat diabsorbsi untuk aproksimasi submukosa dan dua lapis jahitan dengan benang absorbs lambat. Diajurkan agar omentum atau peritoneum diatur tempatnya sedemikian rupa sehingga memisahkan vagina dan kandung kemih.5,8

Gambar 6. Penanganan fistula vesikovagina transabdominal (Dikutip dari kepustakaan 8)2. Fistula ureterovaginalFistula uretrovaginal biasanya berlokasi 4-5 cm bagian distal ureter. Hal ini dapat ditanggulangi dengan ureteroneocystostomy perabdominal. Segmen distal ureter disamping kandung kemih diligasi atau dijahitatas dengan bahan jahitan permanen. Kandung kemih dibuka dibagian apex dam fundus kandung kemih digeser kearah ujung proksimal ureter kemudian diimplantasi ke kandung kemih. Anastomosis antara ujung ureter dan kandung kemih harus bebas tegangan.11

Gambar 7. Ureteroneocystostomy (Dikutip dari kepustakaan 8)2.8 Perawatan pasca operasiPenanganan pasca operasi juga sangat menentukan keberhasilan pembedahan fistula vagina. Yang harusdipantau segera setelah operasi adalah:1

Vital sign Darah yang keluar dari vagina maupun kateter Cairan intravena harus tetap diberikan sampai pasien dapat minum sendiri Keseimbangan cairan harusdipantau secara teratur Pasien harus tetap nyaman dengan obat analgesia yang adekuat Pasienharus mobilisasi sesegera mungkin Pasien harus minum banyak air dan memproduksi urin sebanyak 2-3 liter per 24 jam Jika menggunakan pembalut harus dilepaskan dalam24-72 jam Kateter harus dipertahankan selama 10-14 hari Memastikan bahwa selang kateter tidak terlilit dan kantong urin berada lebih rendah dari vesika urinaria. Jahitan non absorbable harus dibuka setelahjaringan sembuh Pasien harus diperiksa apakah ada tanda-tanda anemia.

2.9 Komplikasi yang mungkin terjadi pasca operasi:

Perdarahan pervaginam sekunderKeadaan ini memerlukan perhatian yang khusus termasuk indikasi untuk resusitasi. Pada kasus-kasus perdarahan yang bukan disebabkan oleh perdarahan arteri, bisa diatasi dengan menggunakan pembalut. Pada kasus-kasus yang disebabkan oleh perdarahan arteri, pasien harus dibawa ke kamar operasi dan sumber perdarahan harus dicari dan diligasi. Jika perdarahan masih berlanjut, penyebab yang lain harus dicari. Kadar Hb pasien harus di periksa dan jika didapatkan anemia, harus diatasi dengan suplemen besi.1,8,10 Sumbatan kateterSumbatan kateter harus segera diatasi untuk mengurangi tekanan pada lokasi pembedahan. AnuriaJika terjadi anuria, penting untuk memastikan kateter tidak tersumbat dan tidak terjadi ligasi ureter. InfeksiInfeksi pada tempat operasi, atau pada traktus urinaria, harus diatasi dengan pemberian antibiotik berdasarkan protokol.

BAB IIIKESIMPULAN

Fistula obstetri yang diakibatkan oleh persalinan mengenai 50.000-100.000 wanita setiap tahun secara global. Fistula obstetri merupakan suatu kondisi yag dapat dicegah dan diobati, jadi seharusnya tidak ada wanita yang menderita akibat masalah ini. Fistula ialah saluran tidak normal yang menghubungkan organ-organ bagian dalam tubuh yang secara normal tidak berhubungan, atau menghubungkan organ-organ bagian dalam dengan permukaan tubuh bagian luar, dapat pula diartikan sebagai abnormal connection atau passageway antara 2 organ epithelium-lined atau pembuluh darah yang secara normal tidak berhubungan. Penyebab fistula sebagian besar karena infeksi, trauma atau tindakan bedah medis oleh dokter.

1