Figure 1: Total Pengeluaran Infrastruktur (nominal, milyar dolar AS)

download Figure 1: Total Pengeluaran Infrastruktur (nominal, milyar dolar AS)

of 39

  • date post

    12-Jan-2017
  • Category

    Documents

  • view

    220
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Figure 1: Total Pengeluaran Infrastruktur (nominal, milyar dolar AS)

  • KONDISI INFRASTRUKTUR DI INDONESIA

    Tulus Tambunan

    Kadin Indonesia

    April 2006

  • Kadin Indonesia-Jetro, 2006 www.kadin-indonesia.or.id 1

    I. PENDAHULUAN Tidak dapat dipungkiri bahwa infrastruktur merupakan salah satu faktor penentu pembangunan ekonomi, yang

    sebenarnya sama pentingnya dengan faktor-faktor produksi umum lainnya yakni modal dan tenaga kerja. Sayangnya,

    untuk satu faktor ini, selama ini, terutama sejak krisis ekonomi 1997/98, kurang sekali perhatian pemerintah dalam

    penyediaan infrastruktur, khususnya di wilayah di luar Jawa, atau Indonesia Kawasan Timur. Hal ini karena setelah

    krisis pemerintah harus fokus pada hal-hal yang lebih mendesak seperti menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan

    ekonomi secara keseluruhan, mencegah pelarian modal, menanggulangi hutang luar negeri serta menstabilkan

    kembali kondisi politik dan sosial. Akibatnya, kondisi infrastruktur terpuruk di mana-mana. Mutu infrastruktur

    Indonesia menduduki peringkat terendah di kawasan dan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, investasi asing,

    pengentasan kemiskinann dan mutu lingkungan hidup.

    Namun demikian, dalam beberapa tahun belakangan ini pemerintah sudah mulai menunjukkan perhatian yang

    serius terhadap pembangunan infrastruktur. Ada dua hal yang perlu segera dilakukan oleh pemerintah bersama-sama

    dengan pihak swasta dalam memperbaiki kondisi infrastruktur di dalam negeri, yakni membangun infrastruktur baru

    dan memperbaiki kondisi infrastruktur yang sudah ada.

    Tulisan ini punya dua tujuan utama, yakni menjabarkan kondisi infrastruktur di dalam negeri hingga saat ini dan

    memberikan langkah-langkah alternatif untuk mempercepat perbaikan kondisi infrastruktur di Indonesia.

    II. PERMASALAHAN

    Permasalahan infrastruktur di Indonesia secara keseluruhan adalah (ISEI, 2005): (1) menurunnya

    belanja untuk infrastruktur karena salah satunya akibat keterbatasan dana; (2) rendahnya kinerja

    infrastruktur; (3) rendahnya tingkat recovery infrastruktur; (4) kesenjangan pembangunan infrastruktur

    antar wilayah; (5) kesenjangan aksesibilitas infrastruktur; dan (6) inefisiensi penyediaan infrastruktur.

    Permasalahan tersebut saling terkait satu sama lain, sehingga membentuk suatu vicious cycle. Apabila

    ma aka dapat memperbaiki kondisi infrastruktur secara keseluruhan. salah tersebut dapat diatasi m

    II.1 Menurunya Belanja untuk Infrastruktur

    Pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur selama tahun 1993 hingga tahun 2002 mengalami tren yang

    menurun. Pada tahun 1993/1994, rasio pengeluaran untuk infrastruktur terhadap PDB sekitar 5,34%,

    sementara tahun 2002 hanya 2,33% (Gambar 1). Besarnya rasio belanja infrastruktur terhadap PDB kurang

    dari 4% menempatkan Indonesia dalam jajaran negara dengan rasio investasi infrastruktur terhadap PDB

    terendah diantara negara-negara berkembang lainnya (Tabel 1).

    Krisis ekonomi 1997/98 membuat kondisi infrastruktur di Indonesia menjadi sangat buruk. Bukan saja

    pada saat krisis, banyak proyek-proyek infrastruktur baik yang didanai oleh swasta maupun dari APBN

    ditangguhkan, tetapi setelah krisis, pengeluaran pemerintah pusat untuk pembangunan infrastruktur

    berkurang drastis. Secara total, porsi dari APBN untuk sektor ini telah turun sekitar 80% dari tingkat pra-

  • krisis. Menurut laporan Bank Dunia (2004), pada tahun 1994, pemerintah pusat membelanjakan hampir 14

    milyar dolar AS untuk pembangunan, 57% diantaranya untuk infrastruktur. Pada tahun 2002 pengeluaran

    pembangunan menjadi jauh lebih sedikit yakni kurang dari 5 milyar dolar AS, dan hanya 30%-nya untuk

    infrastruktur (Gambar 2 & 3).

    Gambar 1. Pengeluaran Pemerintah untuk Infrastruktur (% PDB)

    5,344,39 4,1

    3,63

    Kadin Indonesia-Jetro, 2006 www.kadin-indonesia.or.id 2

    3,13 3,12 2,782,33

    0

    1

    2

    3

    4

    5

    6

    1993/1994 1994/1995 1995/1996 1996/1997 1997/1998 1998/1999 2000 2002

    Sumber: World Bank, 2004

    T asio Investasi Infrastruk

    D abel 1. R tur Terhadap PDB Dalam 5 Tahun Terakhir

    0-4 persen 4-7 persen atas 7 persenKamboja La s o Cina Indonesia Mongolia Thailand Filipina Vietnam

    Sumber. Raden Pa 2005). rdede dalam Infrastructure Financing: the Indonesian Challenges, 2005, dikutip dari Winoto (

    Gambar 2: Total Pengeluaran Infrastruktur (nominal, milyar dolar AS)

    02468

    101214

    1996 2001

    PemerintahSwasta

    Sumber: World Bank (2004)

    Khususnya menjelang pertengahan 90-an hingga tahun 1996 investasi swasta dalam pembangunan

    infrastruktur di dalam negeri cukup besar dan meningkat setiap tahunnya. Namun, setelah krisis, akibat

    banyak perusahaan-perusahaan swasta, khususnya skala besar dan di sektor konstruksi yang mengalami

    krisis keuangan/hutang, investasi non-pemerintah di sektor ini juga mengalami pengurangan yang drastis

    lebih dari 90% dari tingkat tertingginya pada tahun 1996, sampai titik terendahnya pada tahun 2000

    (Gambar 4). Selama ini peran swasta dalam investasi di infrastruktur lebih terfokus pada sektor

    telekomunikasi dan enerji (Gambar 5).

  • Kadin Indonesia-Jetro, 2006 www.kadin-indonesia.or.id

    Gambar 3: Pengeluaran Pembangunan Pemerintah Pusat (% dari jumlah pengeluaran)

    43% 57%

    70%

    30%

    3

    0

    10

    20

    30

    40

    50

    60

    70

    1994 2002

    LainnyaInfrastruktur

    postel, perumahan/pemukiman, irigasi, transportatsi, meteorologi & geofisika dan

    h. umber: Departemen

    Keterangan: infrastruktur terdiri d pembangunan daera

    ari S Keuangan

    Gambar 4: Participasi Swasta di sektor infrastruktur (juta dolar AS)

    01000200030004000500060007000

    1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002

    um

    S ber: Bank Dunia PPI database

    Gambar 5: Partisipasi Swasta dalam infrastruktur menurut sektor, 1990-2002 (juta dollar AS)

    0 2000 4000 6000 8000 10000 12000

    Sumber: WB PPI database

    Air/sanitasi

    Transport

    Energi

    Telekom

    Pemerintah mentargetkan pertumbuhan PDB tahun 2006 mencapai 6% atau lebih. Menurut laporan

    World Bank (2004), berdasarkan perbandingan internasional maupun dengan pengeluaran pemerintah untuk

    infrastruktur sebelum krisis ekonomi, maka untuk mencapai target pertumbuhan tersebut diperlukan

  • Kadin Indonesia-Jetro, 2006 www.kadin-indonesia.or.id 4

    tam

    a untuk pembangunan dan perbaikan infrastruktur. Rencana ini termasuk

    selesaikan pada

    tahun 2006 (Kompas, 2006a).

    Gambar 6: Gap dalam pengeluaran untuk infrastruktur (% dari PDB)

    bahan investasi di infrastruktur sebesar 5 milyar dolar AS, atau harus mencapai 5% dari PDB (Gambar

    6).

    Menurut pemerintah, untuk merehabilitasi infrastruktur yang rusak dan membangun yang baru perlu Rp

    1.000 triliun dalam 5 tahun. Jadi, rata-rata setahun Rp 200 triliun. Hanya 20% yang dibiayai oleh

    pemerintah lewat APBN. Oleh karena itu, pemerintah akan membentuk lembaga pembiayaan yang akan

    menampung seluruh aliran dan

    salah satu dari 153 kebijakan yang masuk dalam Paket Kebijakan Infrastruktur yang harus di

    5% target

    0

    2345678

    SwastaPublikNasional

    1

    1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002

    Sumber: World Bank (2004)

    Belanja infrastruktur di daerah juga dapat dikatakan sangat kecil, walaupun sejak dilakukannya

    desentralisasi/otonomi daerah, pengeluaran pemerintah daerah untuk infrastruktur meningkat, sementara

    pengeluaran pemerintah pusat untuk infrastruktur mengalami penurunan yang drastis (Gambar 7).

    Berdasarkan kelompok kapasitas fiskal seperti yang dijabarkan di Tabel 2, diperoleh gambaran bahwa pada

    tahun 2003 propinsi hanya membelanjakan maksimal sekitar 14,7% untuk belanja infrastruktur dari total

    belanja daerah. Sedangkan kabupaten dan kota masing-masing membelanjakan maksimal 16% dan 20%

    bela

    akan terjadi

    kepincangan pembangunan infrastruktur antara tingkat nasional dan daerah, yang pada akhirnya akan

    menghambat kelancaran investasi dan pembangunan ekonomi antar wilayah di dalam negeri.

    nja infrastruktur dari total belanja daerahnya. Gambaran kasar porsi belanja infrastruktur di daerah dapat

    dilihat pada Tabel 3.

    Ini merupakan suatu persoalan serius, karena walaupun pemerintah pusat meningkatkan porsi pengelua-

    rannya untuk pembangunan infrastruktur, sementara pemerintah-pemerintah daerah tidak menambah

    pengeluaran mereka untuk pembangunan infrastruktur di daerah masing-masing, maka

  • Kadin Indonesia-Jetro, 2006 www.kadin-indonesia.or.id

    Gambar 7: Pengeluaran Pemerintah Daerah dan Pusat untuk Infrastruktur (% dari PDB)

    5

    01994 1995

    0.51

    1.52

    2.53

    3.54

    4.5

    1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002

    PusatDaerah

    eterangan: tanda titik diantara angka di sumbu vertikal artinya koma dalam pengertian Indonesia K

    Sumber: World Bank (2004)

    Tabel 2. P pasitas Fiskal Daerah D n Luar Negeri Pemerintah eta Ka alam Rangka Penerusan Pinjama

    Kepada Daerah ntuk Hibah Jumlah Daerah Menurut Kapasitas Fisk