FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA VIIbakti.or.id/sites/default/files/download/LAPORAN FORUM KTI...

Click here to load reader

  • date post

    20-Mar-2018
  • Category

    Documents

  • view

    229
  • download

    9

Embed Size (px)

Transcript of FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA VIIbakti.or.id/sites/default/files/download/LAPORAN FORUM KTI...

  • FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA YAYASAN BURSA PENGETAHUAN KAWASAN TIMUR INDONESIA

    DIPERSEMBAHKAN OLEH

    MAKASSAR, 17 - 18 NOVEMBER 2015

    FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA VII

  • FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA VII

    2015 YAYASAN BURSA PENGETAHUAN KAWASAN TIMUR INDONESIA DAN FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

    KONTRIBUTOR FOTO JENNY B. KARAY, DJUNAEDI UKO, DJUNAEDI ANGMAKASSAR, 17 - 18 NOVEMBER 2015

  • FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA VII

    2015 YAYASAN BURSA PENGETAHUAN KAWASAN TIMUR INDONESIA DAN FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

    KONTRIBUTOR FOTO JENNY B. KARAY, DJUNAEDI UKO, DJUNAEDI ANGMAKASSAR, 17 - 18 NOVEMBER 2015

  • Kalla Group

    YAYASAN BURSA PENGETA UAN KA ASAN TIMUR INDONESIA DA FORUM KA ASAN TIMUR INDONESIA

    APKA R A KA A AR AR A K PADA P AK P AK A A D K

    R ARA A FESTIVAL FORUM KA ASAN TIMUR INDONESIA VII

    FESTIVAL FORUM KA ASAN TIMUR

    INDONESIA VII

    D P R A KA

  • Kalla Group

    YAYASAN BURSA PENGETA UAN KA ASAN TIMUR INDONESIA DA FORUM KA ASAN TIMUR INDONESIA

    APKA R A KA A AR AR A K PADA P AK P AK A A D K

    R ARA A FESTIVAL FORUM KA ASAN TIMUR INDONESIA VII

    FESTIVAL FORUM KA ASAN TIMUR

    INDONESIA VII

    D P R A KA

  • Forum Kawasan Timur Indonesia (KTI) kembali menyuguhkan ide-ide cerdas dan solusi pembangunan di kawasan ini lewat Festival Forum KTI. Tahun ini merupakan perayaan yang ke-VII. Selama dua hari, 17 -18 November 2015, para pelaku pembangunan berkumpul untuk mendengar dan berbagi tentang pencapaian di daerah mereka masing-masing lewat Festival Forum KTI di Aston Hotel Makassar & Convention Center.

    Forum Kawasan Timur Indonesia (Forum KTI) dibentuk pada tahun 2004 untuk mengembangkan kemitraan para pihak dalam menjawab tantangan pembangunan di Kawasan Timur Indonesia. Forum ini berupaya mendukung tercapainya efektivitas dan keberlanjutan pembangunan yang bertumpu pada pembangunan yang berbasis pengetahuan dan kerja sama antar pihak.

    FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR

    INDONESIA VIIINSPIRASI DARI TIMUR

    UNTUK INDONESIA

    1LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

  • Forum Kawasan Timur Indonesia (KTI) kembali menyuguhkan ide-ide cerdas dan solusi pembangunan di kawasan ini lewat Festival Forum KTI. Tahun ini merupakan perayaan yang ke-VII. Selama dua hari, 17 -18 November 2015, para pelaku pembangunan berkumpul untuk mendengar dan berbagi tentang pencapaian di daerah mereka masing-masing lewat Festival Forum KTI di Aston Hotel Makassar & Convention Center.

    Forum Kawasan Timur Indonesia (Forum KTI) dibentuk pada tahun 2004 untuk mengembangkan kemitraan para pihak dalam menjawab tantangan pembangunan di Kawasan Timur Indonesia. Forum ini berupaya mendukung tercapainya efektivitas dan keberlanjutan pembangunan yang bertumpu pada pembangunan yang berbasis pengetahuan dan kerja sama antar pihak.

    FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR

    INDONESIA VIIINSPIRASI DARI TIMUR

    UNTUK INDONESIA

    1LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

  • Tujuan utama dari Pertemuan Forum KTI adalah untuk berbagi pengalaman dalam menciptakan perubahan positif serta solusi cerdas dalam mengatasi berbagai tantangan pembangunan Kawasan Timur Indonesia. Pengalaman dan solusi cerdas para pihak diharapkan mampu merangsang munculnya berbagai inovasi dalam mendorong kolaborasi para pihak yang lebih baik untuk pembangunan Kawasan Timur Indonesia yang lebih efektif.

    Pertemuan Forum KTI berkembang dari tahun ke tahun. Tahun ini adalah pertemuan ketujuh dan BaKTI selalu menyajikan pertemuan dalam kemasan yang berbeda dan berusaha menghantarkan lebih banyak peluang untuk saling belajar, berjejaring, dan membuat perubahan. Berbeda dengan Festival Forum KTI sebelumnya, tahun ini menghadirkan program side events yang diadakan selepas konferensi

    uasana khas terpancar dalam Spembukaan Festival Forum Kawasan Timur Indonesia VII di Hotel Aston Makassar Convention Center, Selasa 17 November 2015. Sebelum acara dimulai, Royong Makassar dan Tarian tampil menghibur sekitar 600-an peserta yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia untuk mengkontribusikan ide dan mimpi demi kemajuan KTI.

    Festival Forum KTI VII dipandu oleh host dari BaKTI, una idya dan Yusran aitu a. Dengan gaya khas Pagadde-gadde (penjual warung) Luna bersama Yusran Laitupa memandu acara dengan konsep warung.Di warung itu ada cerita, ada jajanan khas KTI, bisa foto bareng, dan juga ngopi sambil menikmati kisah-kisah para praktisi Praktik Cerdas dan Inspirator.

    A

    R K

    untuk menambah wawasan terkait program inovasi kepemimpinan perempuan, peran pemuda dalam pembangunan, hingga film dan narasi pembangunan.

    Di Festival bertema Inspirasi dari Timur untuk Indonesia ini BaKTI menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif dari kawasan timur. Mereka telah menjawab tantangan di daerah masing-masing dan menghasilkan Praktik Cerdas yang layak untuk dicontoh dan dijadikan pelajaran bersama. Kawasan timur tak lagi identik dengan daerah tertinggal. Dari kawasan ini BaKTI banyak menemukan mutiara berharga yang mampu memancarkan kemilaunya kemana-mana. Dari timur untuk Indonesia, kemilau para penggiat pembangunan ini akan memancar ke pelosok nusantara.

    32 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

    AR PERTAMA

  • Tujuan utama dari Pertemuan Forum KTI adalah untuk berbagi pengalaman dalam menciptakan perubahan positif serta solusi cerdas dalam mengatasi berbagai tantangan pembangunan Kawasan Timur Indonesia. Pengalaman dan solusi cerdas para pihak diharapkan mampu merangsang munculnya berbagai inovasi dalam mendorong kolaborasi para pihak yang lebih baik untuk pembangunan Kawasan Timur Indonesia yang lebih efektif.

    Pertemuan Forum KTI berkembang dari tahun ke tahun. Tahun ini adalah pertemuan ketujuh dan BaKTI selalu menyajikan pertemuan dalam kemasan yang berbeda dan berusaha menghantarkan lebih banyak peluang untuk saling belajar, berjejaring, dan membuat perubahan. Berbeda dengan Festival Forum KTI sebelumnya, tahun ini menghadirkan program side events yang diadakan selepas konferensi

    uasana khas terpancar dalam Spembukaan Festival Forum Kawasan Timur Indonesia VII di Hotel Aston Makassar Convention Center, Selasa 17 November 2015. Sebelum acara dimulai, Royong Makassar dan Tarian tampil menghibur sekitar 600-an peserta yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia untuk mengkontribusikan ide dan mimpi demi kemajuan KTI.

    Festival Forum KTI VII dipandu oleh host dari BaKTI, una idya dan Yusran aitu a. Dengan gaya khas Pagadde-gadde (penjual warung) Luna bersama Yusran Laitupa memandu acara dengan konsep warung.Di warung itu ada cerita, ada jajanan khas KTI, bisa foto bareng, dan juga ngopi sambil menikmati kisah-kisah para praktisi Praktik Cerdas dan Inspirator.

    A

    R K

    untuk menambah wawasan terkait program inovasi kepemimpinan perempuan, peran pemuda dalam pembangunan, hingga film dan narasi pembangunan.

    Di Festival bertema Inspirasi dari Timur untuk Indonesia ini BaKTI menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif dari kawasan timur. Mereka telah menjawab tantangan di daerah masing-masing dan menghasilkan Praktik Cerdas yang layak untuk dicontoh dan dijadikan pelajaran bersama. Kawasan timur tak lagi identik dengan daerah tertinggal. Dari kawasan ini BaKTI banyak menemukan mutiara berharga yang mampu memancarkan kemilaunya kemana-mana. Dari timur untuk Indonesia, kemilau para penggiat pembangunan ini akan memancar ke pelosok nusantara.

    32 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

    AR PERTAMA

  • Mewakili Yayasan BaKTI selalu sekretariat Forum KTI, Direktur Eksekutif Yayasan BaKTI, Ibu Caroline Tupamahu, dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada peserta Festival Forum KTI VII di Kota Anging Mammiri.

    Beliau memaparkan, sebagai organisasi yang fokus pada pertukaran Pengetahuan, Yayasan BaKTI menganggap bahwa pertemuan dua hari tersebut sangat penting karena termasuk dalam salah satu pilar pertukaran pengetahuan yaitu event atau acara pertukaran pengetahuan.

    Terdapat 4 program utama dari rangkaian acara Festival Forum Kawasan Timur Indonesia yaitu Panggung Inspirasi, Galeri Informasi, Pesta Rakyat dan Side Events. Panggung inspirasi menampilkan 6 praktik cerdas dan 8 inspirator dari KTI. Galeri

    informasi menampilkan pameran dari AgFor Sulawesi, Burung Indonesia, MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan), Program MAMPU-BaKTI, Australia Indonesia Partnership for Justice (AIPJ), Prisma, Kopernik, UNFPA, British Council, Knowledge Sector Initiative, Australia Awards, SEDS (Sulawesi Economic Development Strategy) Project Humber Canada, Protarih, KOPEL, Program PEDULI, OXFAM, Pemerintah Provinsi Gorontalo, Pemerintah Kota Makassar, dan BaKTI.

    Side events Festival Forum KTI dilaksanakan dalam dua hari ini seusai kegiatan utama Festival yaitu mulai jam 4 sore dan jam 7 malam. Rangkaian acara terakhir adalah Pesta Rakyat yang didukung penuh oleh Pemerintah Kota Makassar.

    Antusiasme terhadap Festival Forum Kawasan Timur Indonesia semakin hari semakin besar. Saat pertama kali diadakan, 7 tahun silam, Forum ini dihadiri oleh 29 orang dan jumlahnya terus bertambah hingga pertemuan ketujuh dengan jumlah sekitar 600 orang. Peserta Festival Forum KTI ini adalah Perwakilan Pemerintah Nasional, Pemerintah Daerah, anggota legislatif, akademisi, peneliti, lembaga swadaya masyarakat, tokoh masyarakat, pemuda, media, mitra pembangunan internasional, dan dari pihak swasta

    BaKTI berterimakasih dan mengapresiasi kepada para pihak yang telah berkontribusi sehingga Festival Forum Kawasan Timur Indonesia VII terselenggara: Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kota Makassar, Knowledge Sector Initiative, UNFPA, KOMPAK, Oxfam Indonesia, Program MAMPU Indonesia, Prisma, AgFor Sulawesi, The Body Shop Indonesia, Telkomsel, Lintas Arta, Kalla Rent, Dewi Wisata Tour & Travel, Bank Mandiri, Percetakan Bintang, Visual Art, dan Aston Makassar Hotel & Convention Center.

    Di akhir sambutannya, beliau mengungkapkan, Yayasan BaKTI berkontribusi 60 persen dari total pendanaan untuk pelaksanaan Festival Forum Kawasan Timur Indonesia tahun ini. Kontribusi ini menunjukkan komitmen yang kuat untuk tetap menghadirkan forum tukar pengetahuan, tukar solusi, dan inspirasi bagi Indonesia.

    DIREKTUR EKSEKUTIF YAYASAN BaKTICaroline Tupamahu

    SAMBUTAN

    54 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIA FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

    Hari kedua Festival Forum KTI diawali oleh laporan Ketua Pokja Forum Prof. Dr. Ir. Hj Winarni Monoarfa, MS mengenai apa yang terjadi di hari pertama Festival Forum KTI VII.Mewakili Pokja Forum KTI dan Dewan Pembina Yayasan BaKTI, Prof. Dr. Ir. Hj Winarni Monoarfa, MS. mengungkapkan apresiasi atas kehadiran Menteri Perhubungan Republik Indonesia Ignasius Jonan bersama Ketua Komisi dan Anggota Komisi V DPR RI atas komitmennya terhadap pembangunan di Kawasan Timur Indonesia.

    Prof. Dr. Ir. Hj Winarni Monoarfa, MS. melaporkan, Festival Forum KTI sejak hari pertama telah menampilkan banyak inspirasi dan aspirasi yang telah ditampilkan. Diakui, banyak contoh dari para praktisi praktik cerdas dan inspirator dan solusi cerdas yang telah dicapai. Tahun ini berhasil dikumpulkan 6 praktik cerdas dari berbagai daerah di KTI. Semua itu memberi bukti bahwa di setiap sudut KTI kita masih menyaksikan betapa pengetahuan dan kekuatan serta kebersamaan berbasis masyarakat mewarnai komitmen dan cita cita bersama demi Indonesia lebih baik dan Indonesia bermartabat.

    Sejak 2009 hingga kini kita telah mencapai total kurang lebih 31 praktik cerdas. Kehadiran Bapak Menteri dan Komisi V DPR RI di Festival Forum KTI tahun ini dinilai bermakna strategis karena Pak Menteri dinilai bisa memberi arahan dan pokok

    kebijakan yang relevan khususnya kebijakan yang relevan dengan konektivitas perhubungan di Indonesia.

    Ibu Winarni mengungkapkan, ada tiga isu pokok yang dijaring bersama teman-teman Kepala BAPPEDA Provinsi se-kawasan timur Indonesia. Isu pokok yang utama adalah masalah bandara yang kapasitas daya dukung landasan masih kecil, dimana lebih banyak bandara perintis.

    Isu pokok kedua adalah pelabuhan, sebaiknya di setiap provinsi mempunyai pelabuhan utama dalam rangka untuk saling menukar komoditi strategis Ketiga, isu mengenai kereta api. Saat menjadi Kepala BAPPEDA Provinsi Gorontalo kurang lebih 5 tahun lalu, beliau bersama-sama dengan Bapak Gubernur Sulsel, memperjuangkan agar kereta api se Sulawesi jadi kebijakan nasional. Kini pembangunan kereta api se Sulawesi masuk dalam rencana tata ruang Pulau Sulawesi. Ibu Winarni memohon dukungan seluruh pihak agar mendukung kereta api Trans Sulawesi.

    FESTIVAL FORUM KTIHARI KEDUA

    HARI

    PER

    TAM

    A

  • Mewakili Yayasan BaKTI selalu sekretariat Forum KTI, Direktur Eksekutif Yayasan BaKTI, Ibu Caroline Tupamahu, dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada peserta Festival Forum KTI VII di Kota Anging Mammiri.

    Beliau memaparkan, sebagai organisasi yang fokus pada pertukaran Pengetahuan, Yayasan BaKTI menganggap bahwa pertemuan dua hari tersebut sangat penting karena termasuk dalam salah satu pilar pertukaran pengetahuan yaitu event atau acara pertukaran pengetahuan.

    Terdapat 4 program utama dari rangkaian acara Festival Forum Kawasan Timur Indonesia yaitu Panggung Inspirasi, Galeri Informasi, Pesta Rakyat dan Side Events. Panggung inspirasi menampilkan 6 praktik cerdas dan 8 inspirator dari KTI. Galeri

    informasi menampilkan pameran dari AgFor Sulawesi, Burung Indonesia, MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan), Program MAMPU-BaKTI, Australia Indonesia Partnership for Justice (AIPJ), Prisma, Kopernik, UNFPA, British Council, Knowledge Sector Initiative, Australia Awards, SEDS (Sulawesi Economic Development Strategy) Project Humber Canada, Protarih, KOPEL, Program PEDULI, OXFAM, Pemerintah Provinsi Gorontalo, Pemerintah Kota Makassar, dan BaKTI.

    Side events Festival Forum KTI dilaksanakan dalam dua hari ini seusai kegiatan utama Festival yaitu mulai jam 4 sore dan jam 7 malam. Rangkaian acara terakhir adalah Pesta Rakyat yang didukung penuh oleh Pemerintah Kota Makassar.

    Antusiasme terhadap Festival Forum Kawasan Timur Indonesia semakin hari semakin besar. Saat pertama kali diadakan, 7 tahun silam, Forum ini dihadiri oleh 29 orang dan jumlahnya terus bertambah hingga pertemuan ketujuh dengan jumlah sekitar 600 orang. Peserta Festival Forum KTI ini adalah Perwakilan Pemerintah Nasional, Pemerintah Daerah, anggota legislatif, akademisi, peneliti, lembaga swadaya masyarakat, tokoh masyarakat, pemuda, media, mitra pembangunan internasional, dan dari pihak swasta

    BaKTI berterimakasih dan mengapresiasi kepada para pihak yang telah berkontribusi sehingga Festival Forum Kawasan Timur Indonesia VII terselenggara: Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kota Makassar, Knowledge Sector Initiative, UNFPA, KOMPAK, Oxfam Indonesia, Program MAMPU Indonesia, Prisma, AgFor Sulawesi, The Body Shop Indonesia, Telkomsel, Lintas Arta, Kalla Rent, Dewi Wisata Tour & Travel, Bank Mandiri, Percetakan Bintang, Visual Art, dan Aston Makassar Hotel & Convention Center.

    Di akhir sambutannya, beliau mengungkapkan, Yayasan BaKTI berkontribusi 60 persen dari total pendanaan untuk pelaksanaan Festival Forum Kawasan Timur Indonesia tahun ini. Kontribusi ini menunjukkan komitmen yang kuat untuk tetap menghadirkan forum tukar pengetahuan, tukar solusi, dan inspirasi bagi Indonesia.

    DIREKTUR EKSEKUTIF YAYASAN BaKTICaroline Tupamahu

    SAMBUTAN

    54 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIA FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

    Hari kedua Festival Forum KTI diawali oleh laporan Ketua Pokja Forum Prof. Dr. Ir. Hj Winarni Monoarfa, MS mengenai apa yang terjadi di hari pertama Festival Forum KTI VII.Mewakili Pokja Forum KTI dan Dewan Pembina Yayasan BaKTI, Prof. Dr. Ir. Hj Winarni Monoarfa, MS. mengungkapkan apresiasi atas kehadiran Menteri Perhubungan Republik Indonesia Ignasius Jonan bersama Ketua Komisi dan Anggota Komisi V DPR RI atas komitmennya terhadap pembangunan di Kawasan Timur Indonesia.

    Prof. Dr. Ir. Hj Winarni Monoarfa, MS. melaporkan, Festival Forum KTI sejak hari pertama telah menampilkan banyak inspirasi dan aspirasi yang telah ditampilkan. Diakui, banyak contoh dari para praktisi praktik cerdas dan inspirator dan solusi cerdas yang telah dicapai. Tahun ini berhasil dikumpulkan 6 praktik cerdas dari berbagai daerah di KTI. Semua itu memberi bukti bahwa di setiap sudut KTI kita masih menyaksikan betapa pengetahuan dan kekuatan serta kebersamaan berbasis masyarakat mewarnai komitmen dan cita cita bersama demi Indonesia lebih baik dan Indonesia bermartabat.

    Sejak 2009 hingga kini kita telah mencapai total kurang lebih 31 praktik cerdas. Kehadiran Bapak Menteri dan Komisi V DPR RI di Festival Forum KTI tahun ini dinilai bermakna strategis karena Pak Menteri dinilai bisa memberi arahan dan pokok

    kebijakan yang relevan khususnya kebijakan yang relevan dengan konektivitas perhubungan di Indonesia.

    Ibu Winarni mengungkapkan, ada tiga isu pokok yang dijaring bersama teman-teman Kepala BAPPEDA Provinsi se-kawasan timur Indonesia. Isu pokok yang utama adalah masalah bandara yang kapasitas daya dukung landasan masih kecil, dimana lebih banyak bandara perintis.

    Isu pokok kedua adalah pelabuhan, sebaiknya di setiap provinsi mempunyai pelabuhan utama dalam rangka untuk saling menukar komoditi strategis Ketiga, isu mengenai kereta api. Saat menjadi Kepala BAPPEDA Provinsi Gorontalo kurang lebih 5 tahun lalu, beliau bersama-sama dengan Bapak Gubernur Sulsel, memperjuangkan agar kereta api se Sulawesi jadi kebijakan nasional. Kini pembangunan kereta api se Sulawesi masuk dalam rencana tata ruang Pulau Sulawesi. Ibu Winarni memohon dukungan seluruh pihak agar mendukung kereta api Trans Sulawesi.

    FESTIVAL FORUM KTIHARI KEDUA

    HARI

    PER

    TAM

    A

  • JiKTI: 1,056 (Laki-laki: 662, perempuan: 394). Pada tahun 2014-2015, JiKTI memberikan 15 research grant kepada anggota JiKTI dan menghasilkan 14 policy brief. Policy Brief ini ditampilkan pada Simposium Hibah Jaringan Peneliti KTI yang bertema Penelitian untuk Rekomendasi Kebijakan pada bulan April tahun 2015.

    2) Forum Kepala Bappeda Provinsi Se-KTI adalah sebuah forum informal yang secara regular bertemu untuk membahas berbagai tantangan dan peluang kerjasama regional yang dapat diajukan sebagai usulan kepada perencanaan nasional. Forum Kepala Bappeda Provinsi Se-KTI telah memberikan masukan pada 2 RPJMN Buku III yaitu 2010-2014 dan 2015-2019.

    Beliau mengemukakan, KTI merupakan wilayah dengan banyak tantangan pembangunan yang masih perlu dibenahi. Salah satu yang penting dan utama adalah konektivitas. 12 provinsi dan kabupaten kota di KTI terus berupaya mengembangkan kebijakan strategis untuk mendukung kebijakan pemerintah terkait isu konektivitas ini. Di Pulau Sulawesi, para gubernur dibantu BKPRS (Badan Kerja Sama Pembangunan Regional Sulawesi) telah membentuk Forum Gubernur se-Sulawesi yang terus berkomunikasi untuk memecahkan isu tersebut. Salah satu yang saat ini mengemuka adalah pembangunan jaringan kereta se-Sulawesi. Komunikasi intensif antara pemimpin daerah ini juga terjadi di bagian lain KTI seperti Maluku, NTT, dan Papua.

    Beliau menilai isu konektivitas penting guna mendukung berbagai kebijakan dan program pemerintah seperti pengambangan berbagai koridor ekonomi dalam MP3EI. Pengembangan sistem dan jaringan transportasi di KTI penting untuk mendukung 3 koridor ekonomi di KTI; Koridor Sulawesi Maluku Utara, Bali-Nusa Tenggara, dan Papua-Maluku. Isu ini didiskusikan terus menerus pada berbagai forum Kepala Bappeda yang hasilnya diberikan kepada Bappenas sebagai bahan referensi.

    Dituturkan, ke depan, konektivitas KTI terus dikembangkan menjadi lebih terintegrasi dengan mempertimbangkan aspek geografis agar mobilisasi barang dan jasa menjadi lebih optimal dan efisien. Hal ini merupakan dukungan terhadap konsep wilayah depan dalam sistem logistik nasional Konsep Tol Laut menuju negara Poros Maritim. Hal ini sangat relevan dengan kondisi KTI yang 70 persennya merupakan wilayah perairan.

    Ibu Winarni menutup sambutannya dengan mengajak seluruh peserta Festival Forum KTI VII untuk menundukkan kepala memberikan penghormatan kepada Almarhum Bapak Ivan Hadar, Pokja Forum KTI Wilayah Maluku Utara yang telah berpulang pada bulan Juni 2015 silam. Almarhum telah berjasa untuk Kawasan Timur Indonesia melalui tulisan-tulisan yang sangat bernas tentang penanggulangan kemiskinan dan pencapaian MDGs.

    76 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

    KETUA POKJA FORUM KTI

    Prosesi selanjutnya adalah sambutan dari Ketua Pokja Forum KTI, Prof. Dr. Ir. Hj Winarni Monoarfa, MS. Dalam sambutannya, Ibu Winarni mengungkapkan, Forum Kawasan Timur Indonesia adalah forum independen yang terbuka dan secara aktif mengembangkan kemitraan untuk mendorong inovasi sosial dalam menjawab tantangan pembangunan di KTI. Para pemangku kepentingan yang telibat mulai dari masyarakat di pesisir pantai dan pegunungan, akademisi hingga unsur pemerintahan daerah.

    Setiap tahun Forum KTI mengumpulkan berbagai praktik cerdas yakni upaya atau kegiatan yang berhasil dilakukan untuk menjawab tantangan yang dihadapi komunitas pada daerah tertentu.

    Festival Forum KTI ke VII tahun ini menampilkan 6 praktik cerdas; Menangani Bencana di Kaki Rinjani Lombok Timur, NTB; Kedaulatan Pangan di Salassae Bulukumba, Sulawesi Selatan; Anggaran Cerdas untuk Kesehatan di Sulawesi Utara; Kisah Kapal Kalabia di Raja Ampat, Papua Barat; Waktu Sama Dengan Uang di Adonara, Flores Timur, NTT. Beliau menuturkan, banyak dari Praktik Cerdas yang dibangun berbasis local wisdom direplikasi berbagai daerah lainnya. Sebagian bahkan menjadi pilot project untuk pengembangan selanjutnya seperti Malaria Center di Halmahera Selatan, Desa Mandiri Energi lewat Micro Hydro di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat; dan BUMDES Pengelolaan Air di Desa Lendang Nangka Lombok Timur. Pilot Project tersebut menjadi pembelajaran dalam pengembangan sistem dan mekanisme Knowledge Centre (KC) yang dikembangkan oleh Direktorat Kerja Sama Pembangunan Internasional BAPPENAS.

    Ibu Winarni kemudian mengundang Bapak Lalu Supratman, praktisi praktik cerdas dari BUMDES Pengelolaan Air di Desa Lendang Nangka Lombok Timur untuk membagikan pengalaman beliau setelah tampil di panggung Festival Forum KTI V tahun 2010 silam. Pak Supratman menyampaikan bahwa setelah tampil di Festival Forum KTI, banyak pihak yang datang belajar ke desanya dan telah direplikasi oleh empat desa di Lombok dan menghasilkan 4 BUMDUS (Badan Usaha Milik Dusun). Selain itu,beberapa penghargaan telah diperoleh diantaranya mendapatkan MDGs Awards 2013 sebagai Pelita Nusantara yang menghantarkan Pak Supratman bertemu dengan Presiden Republik Indonesia, MNCTV Pahlawan untuk Indonesia 2013, dan muncul di berbagai media termasuk KOMPAS.

    Ibu Winarni kembali melanjutkan sambutannya. Beliau juga menyampaikan bahwa Forum KTI membawahi 2 sub Forum yaitu: 1) JiKTI (Jaringan Peneliti KTI) adalah jaringan individu yang beranggotakan para peneliti yang concern terhadap pembangunan KTI. JiKTI berfokus pada upaya mendorong pengambilan kebijakan berbasis penelitian. Saat ini anggota

    Winarni MonoarfaSAMBUTAN

    HARI

    PER

    TAM

    A

  • JiKTI: 1,056 (Laki-laki: 662, perempuan: 394). Pada tahun 2014-2015, JiKTI memberikan 15 research grant kepada anggota JiKTI dan menghasilkan 14 policy brief. Policy Brief ini ditampilkan pada Simposium Hibah Jaringan Peneliti KTI yang bertema Penelitian untuk Rekomendasi Kebijakan pada bulan April tahun 2015.

    2) Forum Kepala Bappeda Provinsi Se-KTI adalah sebuah forum informal yang secara regular bertemu untuk membahas berbagai tantangan dan peluang kerjasama regional yang dapat diajukan sebagai usulan kepada perencanaan nasional. Forum Kepala Bappeda Provinsi Se-KTI telah memberikan masukan pada 2 RPJMN Buku III yaitu 2010-2014 dan 2015-2019.

    Beliau mengemukakan, KTI merupakan wilayah dengan banyak tantangan pembangunan yang masih perlu dibenahi. Salah satu yang penting dan utama adalah konektivitas. 12 provinsi dan kabupaten kota di KTI terus berupaya mengembangkan kebijakan strategis untuk mendukung kebijakan pemerintah terkait isu konektivitas ini. Di Pulau Sulawesi, para gubernur dibantu BKPRS (Badan Kerja Sama Pembangunan Regional Sulawesi) telah membentuk Forum Gubernur se-Sulawesi yang terus berkomunikasi untuk memecahkan isu tersebut. Salah satu yang saat ini mengemuka adalah pembangunan jaringan kereta se-Sulawesi. Komunikasi intensif antara pemimpin daerah ini juga terjadi di bagian lain KTI seperti Maluku, NTT, dan Papua.

    Beliau menilai isu konektivitas penting guna mendukung berbagai kebijakan dan program pemerintah seperti pengambangan berbagai koridor ekonomi dalam MP3EI. Pengembangan sistem dan jaringan transportasi di KTI penting untuk mendukung 3 koridor ekonomi di KTI; Koridor Sulawesi Maluku Utara, Bali-Nusa Tenggara, dan Papua-Maluku. Isu ini didiskusikan terus menerus pada berbagai forum Kepala Bappeda yang hasilnya diberikan kepada Bappenas sebagai bahan referensi.

    Dituturkan, ke depan, konektivitas KTI terus dikembangkan menjadi lebih terintegrasi dengan mempertimbangkan aspek geografis agar mobilisasi barang dan jasa menjadi lebih optimal dan efisien. Hal ini merupakan dukungan terhadap konsep wilayah depan dalam sistem logistik nasional Konsep Tol Laut menuju negara Poros Maritim. Hal ini sangat relevan dengan kondisi KTI yang 70 persennya merupakan wilayah perairan.

    Ibu Winarni menutup sambutannya dengan mengajak seluruh peserta Festival Forum KTI VII untuk menundukkan kepala memberikan penghormatan kepada Almarhum Bapak Ivan Hadar, Pokja Forum KTI Wilayah Maluku Utara yang telah berpulang pada bulan Juni 2015 silam. Almarhum telah berjasa untuk Kawasan Timur Indonesia melalui tulisan-tulisan yang sangat bernas tentang penanggulangan kemiskinan dan pencapaian MDGs.

    76 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

    KETUA POKJA FORUM KTI

    Prosesi selanjutnya adalah sambutan dari Ketua Pokja Forum KTI, Prof. Dr. Ir. Hj Winarni Monoarfa, MS. Dalam sambutannya, Ibu Winarni mengungkapkan, Forum Kawasan Timur Indonesia adalah forum independen yang terbuka dan secara aktif mengembangkan kemitraan untuk mendorong inovasi sosial dalam menjawab tantangan pembangunan di KTI. Para pemangku kepentingan yang telibat mulai dari masyarakat di pesisir pantai dan pegunungan, akademisi hingga unsur pemerintahan daerah.

    Setiap tahun Forum KTI mengumpulkan berbagai praktik cerdas yakni upaya atau kegiatan yang berhasil dilakukan untuk menjawab tantangan yang dihadapi komunitas pada daerah tertentu.

    Festival Forum KTI ke VII tahun ini menampilkan 6 praktik cerdas; Menangani Bencana di Kaki Rinjani Lombok Timur, NTB; Kedaulatan Pangan di Salassae Bulukumba, Sulawesi Selatan; Anggaran Cerdas untuk Kesehatan di Sulawesi Utara; Kisah Kapal Kalabia di Raja Ampat, Papua Barat; Waktu Sama Dengan Uang di Adonara, Flores Timur, NTT. Beliau menuturkan, banyak dari Praktik Cerdas yang dibangun berbasis local wisdom direplikasi berbagai daerah lainnya. Sebagian bahkan menjadi pilot project untuk pengembangan selanjutnya seperti Malaria Center di Halmahera Selatan, Desa Mandiri Energi lewat Micro Hydro di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat; dan BUMDES Pengelolaan Air di Desa Lendang Nangka Lombok Timur. Pilot Project tersebut menjadi pembelajaran dalam pengembangan sistem dan mekanisme Knowledge Centre (KC) yang dikembangkan oleh Direktorat Kerja Sama Pembangunan Internasional BAPPENAS.

    Ibu Winarni kemudian mengundang Bapak Lalu Supratman, praktisi praktik cerdas dari BUMDES Pengelolaan Air di Desa Lendang Nangka Lombok Timur untuk membagikan pengalaman beliau setelah tampil di panggung Festival Forum KTI V tahun 2010 silam. Pak Supratman menyampaikan bahwa setelah tampil di Festival Forum KTI, banyak pihak yang datang belajar ke desanya dan telah direplikasi oleh empat desa di Lombok dan menghasilkan 4 BUMDUS (Badan Usaha Milik Dusun). Selain itu,beberapa penghargaan telah diperoleh diantaranya mendapatkan MDGs Awards 2013 sebagai Pelita Nusantara yang menghantarkan Pak Supratman bertemu dengan Presiden Republik Indonesia, MNCTV Pahlawan untuk Indonesia 2013, dan muncul di berbagai media termasuk KOMPAS.

    Ibu Winarni kembali melanjutkan sambutannya. Beliau juga menyampaikan bahwa Forum KTI membawahi 2 sub Forum yaitu: 1) JiKTI (Jaringan Peneliti KTI) adalah jaringan individu yang beranggotakan para peneliti yang concern terhadap pembangunan KTI. JiKTI berfokus pada upaya mendorong pengambilan kebijakan berbasis penelitian. Saat ini anggota

    Winarni MonoarfaSAMBUTAN

    HARI

    PER

    TAM

    A

  • R P R A R P K D A

    Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Ignasius Jonan, berpesan kepada pemerintah provinsi dan kabupaten di kawasan timur Indonesia untuk menciptakan iklim yang baik untuk investasi swasta. ''Saran saya untuk rekan-rekan dari Kawasan Timur Indonesia, baik Pemda, Pemprov, Pemkab, kita wajib menciptakan iklim yang baik untuk investasi swasta," ujar Ignasius.

    Dalam Forum KTI, Ignasius Jonan mengungkapkan pentingnya penguatan pendidikan untuk mewujudkan masyarakat yang makmur. Menurutnya, Kawasan Timur Indonesia bisa maju atau tidak tergantung masyarakatnya. ''KTI alamnya indah, kekayaan alamnya banyak. Biasanya anak orang kaya itu susah maju,'' ujarnya mengingatkan. Dengan kondisi tersebut, KTI harus dikelola dengan baik, salah satunya dengan meningkatkan pendidikan masyarakat.

    Sementara bandara berjumlah 237 yang beroperasi, di mana 26 bandara besar di antaranya dikelola Angkasa Pura I dan II, 28 dikelola Pemprov/Pemkab, dan 183 dikelola Kemenhub.

    Ignasius Jonan menyebutkan tahun ini belanja modal pemerintah adalah salah satu yang paling besar dalam 10 tahun terakhir yaitu Rp. 276 triliun. Dari Rp. 276 triliun, khusus untuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan serta Kementerian Perhubungan belanja modalnya sekitar Rp. 130 triliun.

    Ignasius Jonan

    Ignasius Jonan juga membahas isu interkonektivitas. Dalam lima tahun ke depan, selain Kereta Api Trans Sulawesi, Kemenhub telah memprogramkan KA Trans Sumatera sepanjang 2500 km dari Aceh sampai Lampung. Jalur itu dibangun bersamaan dengan jalur Trans Sulawesi sepanjang 2.000 km dari Makassar ke Manado. Selanjutnya akan dibangun jalur Trans KA Papua dari Sorong ke Manokwari.

    Ignasius Jonan menyebutkan jumlah pelabuhan umum di Indonesia saat ini mencapai 1.241 pelabuhan. Sebanyak 112 di antaranya dikelola secara komersial oleh Pelindo I sampai IV.

    98 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIA FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

    Dalam sambutannya, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan, KTI adalah masa depan Indonesia. Syahrul menuturkan, eksistensi kedaulatan Indonesia ke depannya berada di Kawasan Timur Indonesia.

    Syahrul menyebutkan dari 17.000 pulau di Indonesia, 9.000 di antaranya berada di kawasan timur. Selain itu, kawasan timur memiliki 5.000 sungai, 24 gunung tinggi. Di laut mau ambil ikan apa? Kurang apa

    kawasan timur Indonesia? Di Timur punya emas, nikel, tambang, gas, minyak, pertanian. Di dataran rendah mau beternak apa saja bisa. Puncak gunung, ada kopi. Belum lagi keindahan alam yang luar biasa, paparnya.

    Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Gubernur mengatakan, Indonesia masih peringkat empat terbelakang. Sudahkah kita antisipasi globalisasi yang kuat itu? Kami butuh

    infrastruktur. Kalau lemah, besok terjadi inflasi, ujarnya.Interkoneksi wilayah laut, darat, dan udara sangat diperlukan di kawasan timur Indonesia. Menurut Gubernur, interkoneksi itu harus diatur sedemikian rupa agar tak hanya ada ditempat-tempat yang menghasilkan, harus ada subsidi silang yang dikerjakan secara bersama sehingga interkoneksi itu bisa berjalan.

    R R A A A

    Kawasan timur butuh infrastruktur yang lebih baik. Walau KTI kaya dengan sumber alam yang melimpah jika infrastuktur lemah, jika terjadi inflasi tetap tak berdaya. ''Di Timur itu tak berdaya kalau tak didorong lebih kuat.'' Dituturkan, kawasan timur Indonesia membutuhkan riset yang lebih kuat, sains yang lebih dikerahkan dengan potensi yang ada, serta butuh pendekaan-pendekatan teknologi baru.

    Syahrul Yasin Limpo KEDUA

    KED

    UA

  • R P R A R P K D A

    Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Ignasius Jonan, berpesan kepada pemerintah provinsi dan kabupaten di kawasan timur Indonesia untuk menciptakan iklim yang baik untuk investasi swasta. ''Saran saya untuk rekan-rekan dari Kawasan Timur Indonesia, baik Pemda, Pemprov, Pemkab, kita wajib menciptakan iklim yang baik untuk investasi swasta," ujar Ignasius.

    Dalam Forum KTI, Ignasius Jonan mengungkapkan pentingnya penguatan pendidikan untuk mewujudkan masyarakat yang makmur. Menurutnya, Kawasan Timur Indonesia bisa maju atau tidak tergantung masyarakatnya. ''KTI alamnya indah, kekayaan alamnya banyak. Biasanya anak orang kaya itu susah maju,'' ujarnya mengingatkan. Dengan kondisi tersebut, KTI harus dikelola dengan baik, salah satunya dengan meningkatkan pendidikan masyarakat.

    Sementara bandara berjumlah 237 yang beroperasi, di mana 26 bandara besar di antaranya dikelola Angkasa Pura I dan II, 28 dikelola Pemprov/Pemkab, dan 183 dikelola Kemenhub.

    Ignasius Jonan menyebutkan tahun ini belanja modal pemerintah adalah salah satu yang paling besar dalam 10 tahun terakhir yaitu Rp. 276 triliun. Dari Rp. 276 triliun, khusus untuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan serta Kementerian Perhubungan belanja modalnya sekitar Rp. 130 triliun.

    Ignasius Jonan

    Ignasius Jonan juga membahas isu interkonektivitas. Dalam lima tahun ke depan, selain Kereta Api Trans Sulawesi, Kemenhub telah memprogramkan KA Trans Sumatera sepanjang 2500 km dari Aceh sampai Lampung. Jalur itu dibangun bersamaan dengan jalur Trans Sulawesi sepanjang 2.000 km dari Makassar ke Manado. Selanjutnya akan dibangun jalur Trans KA Papua dari Sorong ke Manokwari.

    Ignasius Jonan menyebutkan jumlah pelabuhan umum di Indonesia saat ini mencapai 1.241 pelabuhan. Sebanyak 112 di antaranya dikelola secara komersial oleh Pelindo I sampai IV.

    98 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIA FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

    Dalam sambutannya, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan, KTI adalah masa depan Indonesia. Syahrul menuturkan, eksistensi kedaulatan Indonesia ke depannya berada di Kawasan Timur Indonesia.

    Syahrul menyebutkan dari 17.000 pulau di Indonesia, 9.000 di antaranya berada di kawasan timur. Selain itu, kawasan timur memiliki 5.000 sungai, 24 gunung tinggi. Di laut mau ambil ikan apa? Kurang apa

    kawasan timur Indonesia? Di Timur punya emas, nikel, tambang, gas, minyak, pertanian. Di dataran rendah mau beternak apa saja bisa. Puncak gunung, ada kopi. Belum lagi keindahan alam yang luar biasa, paparnya.

    Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Gubernur mengatakan, Indonesia masih peringkat empat terbelakang. Sudahkah kita antisipasi globalisasi yang kuat itu? Kami butuh

    infrastruktur. Kalau lemah, besok terjadi inflasi, ujarnya.Interkoneksi wilayah laut, darat, dan udara sangat diperlukan di kawasan timur Indonesia. Menurut Gubernur, interkoneksi itu harus diatur sedemikian rupa agar tak hanya ada ditempat-tempat yang menghasilkan, harus ada subsidi silang yang dikerjakan secara bersama sehingga interkoneksi itu bisa berjalan.

    R R A A A

    Kawasan timur butuh infrastruktur yang lebih baik. Walau KTI kaya dengan sumber alam yang melimpah jika infrastuktur lemah, jika terjadi inflasi tetap tak berdaya. ''Di Timur itu tak berdaya kalau tak didorong lebih kuat.'' Dituturkan, kawasan timur Indonesia membutuhkan riset yang lebih kuat, sains yang lebih dikerahkan dengan potensi yang ada, serta butuh pendekaan-pendekatan teknologi baru.

    Syahrul Yasin Limpo KEDUA

    KED

    UA

  • 10 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIA FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

  • Saya menyesal baru hadir pada Festival Forum KTI yang sudahdilaksanakan 7 kali ini. Saya sangat senang bisa menyaksikan inspirasi

    dari para pahlawan yang bekerja dalam sunyi yang tampil hari ini.

    Andy F. Noya

  • injani kerap dipandang sebagai ibu Ryang menyediakan air dan berbagai hasil bumi bagi masyarakat Pulau Lombok. Namun, sebagai sebuah gunung api Rinjani hadir dengan wajah lain yang mengerikan bernama bencana. Dua pejuang penanggulangan bencana dari kaki Gunung Rinjani, Abdul Quddus Ali dan Sakinah, tampil bercerita tentang bagaimana

    PRAKTIK CERDAS

    PRESENTER ABDUL QUDDUS ALI DAN SAKINAH

    HARI

    PER

    TAM

    A

    mengupayakan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana yang kerap melanda. Sejak masa nenek moyang warga Lombok telah terbiasa mengalami berbagai bencana alam mulai dari gempa bumi, gunung meletus, angin puting beling, dan belakangan ini banjir dan tanah longsor.

    Beberapa kali mengalami bencana banjir bandang, warga Sembalun dan Belanting menyadari bahwa mereka tidak hanya bisa dan berpaling dari bencana. Mereka akhirnya memilih mengenal lebih dekat penyebab bencana, mempelajari tindakan

    yang perlu dilakukan dalam tahap darurat bencana, dan mempersiapkan diri dengan mata pencaharian alternatif sekiranya bencana kembali menimpa desa mereka.

    Kejadian banjir bandang parah pada tahun 2006 menjadi pelajaran penting. Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) dibentuk. Kelompok Perempuan Tangguh dibentuk sebagai bagian dari TSBD. Berbagai pelatihan diadakan untuk membekali TSBD dan Kelompok Perempuan Tangguh, di antaranya terkait Pengurangan Risiko Bencana.

    Satu contoh yang diceritakan adalah, TSBD dengan mengenakan rompi oranye, ketika ada bencana langsung mengambil posisi masing-masing. Mereka langsung bergerak sesuai tugas masing-masing. Ada yang memukul kentongan, ada yang memandu masyarakat untuk bergerak ke tempat yang aman, dan sebagainya.

    Guru-guru pun diberi pengetahuan penanggulangan bencana. Guru mentransfer pengetahuannya kepada para murid sehingga begitu terjadi bencana, mereka langsung tahu harus menuju ke mana dan melakukan apa.

    Karena sudah terlatih menghadapi bencana, ketika terjadi bencana terakhir, banjir bandang, pada tahun 2015, tidak ada korban jiwa, bahkan korban hewan pun tak ada.

    Sakinah, Ketua Kelompok Perempuan Tangguh, sebagai orang yang pernah menjadi korban bencana, dia sangat paham pentingnya upaya yang dilakukannya. Pernah mendapatkan cemo'ohan, sekarang tidak lagi. Pendirian koperasi kini bisa membantu banyak rumah tangga di desanya. Ada dua hal yang menjadi pokok perhatian para anggota TSBD ini, kenali ancamannya, kurangi risikonya.

    1312 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIA FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

  • injani kerap dipandang sebagai ibu Ryang menyediakan air dan berbagai hasil bumi bagi masyarakat Pulau Lombok. Namun, sebagai sebuah gunung api Rinjani hadir dengan wajah lain yang mengerikan bernama bencana. Dua pejuang penanggulangan bencana dari kaki Gunung Rinjani, Abdul Quddus Ali dan Sakinah, tampil bercerita tentang bagaimana

    PRAKTIK CERDAS

    PRESENTER ABDUL QUDDUS ALI DAN SAKINAH

    HARI

    PER

    TAM

    A

    mengupayakan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana yang kerap melanda. Sejak masa nenek moyang warga Lombok telah terbiasa mengalami berbagai bencana alam mulai dari gempa bumi, gunung meletus, angin puting beling, dan belakangan ini banjir dan tanah longsor.

    Beberapa kali mengalami bencana banjir bandang, warga Sembalun dan Belanting menyadari bahwa mereka tidak hanya bisa dan berpaling dari bencana. Mereka akhirnya memilih mengenal lebih dekat penyebab bencana, mempelajari tindakan

    yang perlu dilakukan dalam tahap darurat bencana, dan mempersiapkan diri dengan mata pencaharian alternatif sekiranya bencana kembali menimpa desa mereka.

    Kejadian banjir bandang parah pada tahun 2006 menjadi pelajaran penting. Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) dibentuk. Kelompok Perempuan Tangguh dibentuk sebagai bagian dari TSBD. Berbagai pelatihan diadakan untuk membekali TSBD dan Kelompok Perempuan Tangguh, di antaranya terkait Pengurangan Risiko Bencana.

    Satu contoh yang diceritakan adalah, TSBD dengan mengenakan rompi oranye, ketika ada bencana langsung mengambil posisi masing-masing. Mereka langsung bergerak sesuai tugas masing-masing. Ada yang memukul kentongan, ada yang memandu masyarakat untuk bergerak ke tempat yang aman, dan sebagainya.

    Guru-guru pun diberi pengetahuan penanggulangan bencana. Guru mentransfer pengetahuannya kepada para murid sehingga begitu terjadi bencana, mereka langsung tahu harus menuju ke mana dan melakukan apa.

    Karena sudah terlatih menghadapi bencana, ketika terjadi bencana terakhir, banjir bandang, pada tahun 2015, tidak ada korban jiwa, bahkan korban hewan pun tak ada.

    Sakinah, Ketua Kelompok Perempuan Tangguh, sebagai orang yang pernah menjadi korban bencana, dia sangat paham pentingnya upaya yang dilakukannya. Pernah mendapatkan cemo'ohan, sekarang tidak lagi. Pendirian koperasi kini bisa membantu banyak rumah tangga di desanya. Ada dua hal yang menjadi pokok perhatian para anggota TSBD ini, kenali ancamannya, kurangi risikonya.

    1312 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIA FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

  • La Asiru, Saharuddin,dan Abas dari Komunitas Nelayan Tomia berbagi kisah tentang upaya warga Tomia menjaga laut dan melestarikannya. Para nelayan tak lagi menggunakan bom ikan dan berusaha menjaga terumbu karang agar ikan-ikan tetap lestari.

    Dahulu banyak warga Tomia yang menggunakan bom ikan dan racun demi tangkapan yang lebih banyak. Namun seiring berjalannya waktu, hasil tangkapan yang diperoleh semakin sedikit. Terumbu karang disekitar pulau mereka rusak dan tidak sedikit sesama nelayan yang menjadi korban bom ikan.

    Tak tahan dengan hasil tangkapan yang semakin sedikit, lingkungan laut yang rusak, dan semakin banyak korban

    PRAKTIK CERDAS

    PRESENTER LA ASIRU, SAHARUDDIN DAN ABBAS

    HARI

    PER

    TAM

    A

    akibat bom, Komunitas Nelayan Tomia mencetuskan ide untuk menetapkan suatu wilayah di laut Tomia yang disepakati sebagai tempat dimana tidak boleh ada penangkapan ikan sama sekali. Wilayah laut itu diperuntukkan khusus sebagai tempat ikan berkembang baik, ikan bertumbuh dengan sokongan terumbu karang yang sehat.

    Tomia wilayah kepulauan, bagian dari Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawei Tenggara. Wakatobi singkatan dari 4 wilayah: Wangi-Wangi, Kalampeto, Tomia, dan Binongko. Bagian lautan dari Wakatobi mencakup 97% dari total luasnya, bagian daratan hanya 3%.

    Mulanya, perairan kepulauan Tomia kaya dengan ikan. Namun karena ulah para nelayan yang datang dari berbagai penjuru termasuk dari Sulawesi Selatan yang memakai bom ikan dan bius ikan, secara perlahan, bukan hanya ikan yang berkurang, terumbu karang pun banyak yang rusak.

    Timbul keresahan akibat berkurangnya ikan di perairan Tomia. Jenis-jenis ikan yang dulu banyak, mulai berkurang. Tahun 2004 dibuat pengorganisasian dari dusun ke dusun, kampung ke kampung untuk membentuk komunitas nelayan. Tahun 2006 Komunitias Nelayan Tomia (Komunto) terbentuk, diikuti terbentuknya komunitas-komunitas nelayan lain di Tomia hingga akhirnya ada 27 komunitas nelayan di seluruh Tomia.

    Komunto melakukan penyadaran kepada para nelayan Tomia mengenai pentingnya menjaga kelestarian sumber daya alam di Tomia. Tak boleh lagi ada penangkapan ikan menggunakan bom ikan, bius ikan, dan cara-cara salah lainnya. Hanya boleh memakai cara alami.

    Tiga wilayah berukuran kira-kira 100 meter x 100 meter ditetapkan sebagai bank ikan. Semua bank ikan terlarang untuk dieksploitasi oleh manusia. Seperti bank pada umumnya, isi bank ikan seolah menyimpan modal yang tak boleh diambil. Hanya bunganya yang boleh diambil. Ketika tabungan di bank ikan sudah banyak, ikan-ikan akan bertebaran ke wilayah-wilayah laut lainnya.

    Usaha Komunto tak langsung ditanggapi positif oleh para nelayan dan warga setempat. Mereka bahkan didemo oleh para sarjana dan pengusaha besar. Kami terbuka sepanjang bisa berlaku arif. Mulai dari memberi pemahaman yang sama bahwa tempat kita perlu dijaga. Tak perlu biaya dari luar, ucap Pak Abas. Lama-kelamaan usaha positif yang dilakukan membuahkan hasil.

    Komunto juga menjalankan semacam koperasi simpan pinjam uang. Komunto menekankan pentingnya melibatkan kaum perempuan dalam mengatur keuangan bagi rumah tangga masing-masing. Anggota yang meminjam dana harus menjaminkan pohon kelapa atau pohon jambu mete yang dimilikinya. Pada batang pohon distempel cap bertuliskan "3K (Kredit Konservasi Kulati)". Pohon dengan cap inilah yang menjadi jaminan pinjaman kepada koperasi. Selama belum melunasi pinjaman, pohon dan semua jaminan ini tidak boleh ditebang dan wajib dijaga.

    Tahun 2010, Komunto terpilih sebagai satu dari 25 pemenang Equator Prize 2010. Wakil Komunto menerima penghargaan pada bulan September di New York, Amerika Serikat.Wilayah konservasi di dalam bank ikan di Tomia menjadi terpelihara. Bank-bank ikan itu kini hasilnya bisa dinikmati warga Tomia. Ikan-ikan kembali melimpah. Desa ekowisata bisa diselenggarakan di Tomia, dengan modal dari hasil bank ikan.

    Tolong bantu dengan cara mengambil makanan secukupnya supaya nanti masih bisa ambil lagi,'' ujar Pak Abas menutup kisahnya. Pesan ini dimaksudkan agar kita arif memanfaatkan kekayaan alam. Kita harus ingat bahwa anak-cucu kita kelak juga membutuhkan alam yang terjaga. Bukan hanya kita yang butuh makan, anak cucu kita pun butuh juga.

    1514 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIA FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

  • La Asiru, Saharuddin,dan Abas dari Komunitas Nelayan Tomia berbagi kisah tentang upaya warga Tomia menjaga laut dan melestarikannya. Para nelayan tak lagi menggunakan bom ikan dan berusaha menjaga terumbu karang agar ikan-ikan tetap lestari.

    Dahulu banyak warga Tomia yang menggunakan bom ikan dan racun demi tangkapan yang lebih banyak. Namun seiring berjalannya waktu, hasil tangkapan yang diperoleh semakin sedikit. Terumbu karang disekitar pulau mereka rusak dan tidak sedikit sesama nelayan yang menjadi korban bom ikan.

    Tak tahan dengan hasil tangkapan yang semakin sedikit, lingkungan laut yang rusak, dan semakin banyak korban

    PRAKTIK CERDAS

    PRESENTER LA ASIRU, SAHARUDDIN DAN ABBAS

    HARI

    PER

    TAM

    A

    akibat bom, Komunitas Nelayan Tomia mencetuskan ide untuk menetapkan suatu wilayah di laut Tomia yang disepakati sebagai tempat dimana tidak boleh ada penangkapan ikan sama sekali. Wilayah laut itu diperuntukkan khusus sebagai tempat ikan berkembang baik, ikan bertumbuh dengan sokongan terumbu karang yang sehat.

    Tomia wilayah kepulauan, bagian dari Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawei Tenggara. Wakatobi singkatan dari 4 wilayah: Wangi-Wangi, Kalampeto, Tomia, dan Binongko. Bagian lautan dari Wakatobi mencakup 97% dari total luasnya, bagian daratan hanya 3%.

    Mulanya, perairan kepulauan Tomia kaya dengan ikan. Namun karena ulah para nelayan yang datang dari berbagai penjuru termasuk dari Sulawesi Selatan yang memakai bom ikan dan bius ikan, secara perlahan, bukan hanya ikan yang berkurang, terumbu karang pun banyak yang rusak.

    Timbul keresahan akibat berkurangnya ikan di perairan Tomia. Jenis-jenis ikan yang dulu banyak, mulai berkurang. Tahun 2004 dibuat pengorganisasian dari dusun ke dusun, kampung ke kampung untuk membentuk komunitas nelayan. Tahun 2006 Komunitias Nelayan Tomia (Komunto) terbentuk, diikuti terbentuknya komunitas-komunitas nelayan lain di Tomia hingga akhirnya ada 27 komunitas nelayan di seluruh Tomia.

    Komunto melakukan penyadaran kepada para nelayan Tomia mengenai pentingnya menjaga kelestarian sumber daya alam di Tomia. Tak boleh lagi ada penangkapan ikan menggunakan bom ikan, bius ikan, dan cara-cara salah lainnya. Hanya boleh memakai cara alami.

    Tiga wilayah berukuran kira-kira 100 meter x 100 meter ditetapkan sebagai bank ikan. Semua bank ikan terlarang untuk dieksploitasi oleh manusia. Seperti bank pada umumnya, isi bank ikan seolah menyimpan modal yang tak boleh diambil. Hanya bunganya yang boleh diambil. Ketika tabungan di bank ikan sudah banyak, ikan-ikan akan bertebaran ke wilayah-wilayah laut lainnya.

    Usaha Komunto tak langsung ditanggapi positif oleh para nelayan dan warga setempat. Mereka bahkan didemo oleh para sarjana dan pengusaha besar. Kami terbuka sepanjang bisa berlaku arif. Mulai dari memberi pemahaman yang sama bahwa tempat kita perlu dijaga. Tak perlu biaya dari luar, ucap Pak Abas. Lama-kelamaan usaha positif yang dilakukan membuahkan hasil.

    Komunto juga menjalankan semacam koperasi simpan pinjam uang. Komunto menekankan pentingnya melibatkan kaum perempuan dalam mengatur keuangan bagi rumah tangga masing-masing. Anggota yang meminjam dana harus menjaminkan pohon kelapa atau pohon jambu mete yang dimilikinya. Pada batang pohon distempel cap bertuliskan "3K (Kredit Konservasi Kulati)". Pohon dengan cap inilah yang menjadi jaminan pinjaman kepada koperasi. Selama belum melunasi pinjaman, pohon dan semua jaminan ini tidak boleh ditebang dan wajib dijaga.

    Tahun 2010, Komunto terpilih sebagai satu dari 25 pemenang Equator Prize 2010. Wakil Komunto menerima penghargaan pada bulan September di New York, Amerika Serikat.Wilayah konservasi di dalam bank ikan di Tomia menjadi terpelihara. Bank-bank ikan itu kini hasilnya bisa dinikmati warga Tomia. Ikan-ikan kembali melimpah. Desa ekowisata bisa diselenggarakan di Tomia, dengan modal dari hasil bank ikan.

    Tolong bantu dengan cara mengambil makanan secukupnya supaya nanti masih bisa ambil lagi,'' ujar Pak Abas menutup kisahnya. Pesan ini dimaksudkan agar kita arif memanfaatkan kekayaan alam. Kita harus ingat bahwa anak-cucu kita kelak juga membutuhkan alam yang terjaga. Bukan hanya kita yang butuh makan, anak cucu kita pun butuh juga.

    1514 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIA FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

  • Armin Salassa, salah satu inisiator pertanian alami dari Bulukumba merasa bangga, karena petani di daerahnya bisa terbebas dari jerat penggunaan beragam bahan kimia.

    Petani di Salassae kini terbebas dari jerat penggunaan beragam bahan kimia melalui penyubur tanah, nutrisi tanaman, hingga vaksin. Petani Salassae telah mempraktikkan apa yang disebut

    PRAKTIK CERDAS

    PRESENTER ARMIN SALASSA, ABDUL WAHID,PONNONG, M. NUR, HASMA DAN JUSMANI

    sebagai pertanian organik, namun mereka enggan menyebutkan sebagai pertanian organik dan lebih memilih menamakannya pertanian alami.

    ''Kami ingin penduduk di Salassae bangga dengan pertanian alami seperti anak-anak yang membanggakan orang tua,'' kata Armin disambut tepuk riuh peserta Festival Forum KTI VII.

    Ancaman utama dalam praktik pertanian yang mengandalkan bahan kimiawi adalah dampak dari penggunaan pestisida. Sebagaian besar petani di Indonesia bukan hanya di Salassae, melakukan penyemprotan pestisida tanpa menggunakan masker penutup hidung ataupun kaos tangan untuk melindungi kulit dari bahan kimia.

    Anak-anak yang sedang bermain di kebun atau di pekarangan rumah berisiko menghirup pestisida yang disemprotkan ke tanaman oleh orangtuanya. Kelompok petani di Salassae sepakat bahwa praktik pertanian menggunakan bahan kimia terbukti berbahaya dan merusak.

    "Berkomitmen untuk memperluas gerakan pembangunan organisasi tani dan pertanian alami (natural farming) terhadap 500.000 keluarga petani di Sulawesi Selatan"Armin Salassa

    HARI

    PER

    TAM

    A

    Sebelumnya di Salassae, pertanian menggunakan bahan kimia dilakukan semua orang. Penggunaan pupuk dan pestisida kimia ke lahan-lahan persawahan tanpa adanya kontrol. Seperti, jika rumput belum mati, maka dosis racun ditambahkan. Akibatnya, padi menjadi kurus dan tanah menjadi jenuh.

    Tahun 1980, warga mulai beralih menanam cengkeh dan karet. Ratusan hektar lahan sawah berubah fungsi. Sementara kebutuhan hidup semakin meningkat, musim panen cengkeh hanya setahun sekali. Atas dasar inilah, sebagian besar warga beralih mencari pekerjaan. Akhirnya puluhan anak muda yang hanya menamatkan SMA melakukan perjalanan yang panjang menjadi Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia. Menjadi buruh paruh waktu di perusahaan, ataupun buruh di perkebunan sawit. Dari kebun-kebun sawit inilah, para warga kemudian menemukan racun hama yang dikirimkan ke Salassae. Racun Malaysia, warga Salassae menamakannya demikian. Harganya hingga Rp1 juta per dua jerigen. Paling ampuh dan bisa bunuh hama dengan seketika, kata Armin.

    Tingginya penggunaan pestisida inilah yang membuat Armin gelisah. Pada 2011, dengan modal cerita dan pengalaman bekerja sebagai tenaga lapangan di beberapa NGO, ia membuka wacana pada beberapa petani.

    Selama enam bulan, Armin dan beberapa petani memulai diskusi. Setiap hari, dari pagi, siang hingga malam dari rumah ke rumah. Membangun mimpi secara bersama. Semangat yang menyatukan mimpi mereka berdasar pada kepercayaan bahwa Salassae adalah kampung yang sangat penting, jika Salassae rusak maka bumi akan bocor.

    Di Salassae, beralih ke praktik pertanian alami telah merangsang semangat belajar dan berinovasi para petani. Setiap buah dan tanaman memiliki unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman. Ekstrak buah papaya bila difermentasi akan menghasilkan unsur kalium. Begitu juga dengan cangkang telur yang disangrai dan difermentasi. Tak hanya itu tulang sapi yang dilarutkan bersama asam cuka pun menghasilkan unsur yang sama.

    Petani-petani di Salassae belajar mengelola pertanian alami termasuk mengatur 'pola makan' tanaman. Kapan tanaman-

    tanaman mereka memerlukan nitrogen, fosfor dan kalium. Belajar dari berbagai dokumen yang bisa diperoleh di internet, petani-petani ini mengetahui setiap fase tumbuh tanaman membutuhkan asupan yang berbeda jenis dan kadarnya. Pengetahuan mengenai pola makan, masa tanam dan kecocokan tanam merupakan kearifan lokal yang hidup kembali di Salassae.

    Dalam proses pembuatan mikroba, kompos dan nutrisi yang dilakukan secara gotong royong semua bahan-bahannya diperoleh dari lingkungan sekitar, pun dengan gula merahnya. Gula merahnya sendiri diproduksi dengan cara alami di desa Salassae.

    Ekstrak buah berfungsi sebagai nutrisi tanaman. Para petani menyemprotkannya dengan campuran air tawar dari sumur. Untuk ukuran tangki 15 liter, penggunaan ekstrak sebanyak tiga sendok makan. Ekstrak buah sebanyak 20 liter bisa dipakai selama dua tahun. Dalam satu kali siklus penanaman hingga panen, ada enam kali penyemprotan nutrisi yang berbeda. Sama saja dengan manusia, walaupun sate rasanya enak, tapi tidak dapat dimakan oleh anak yang baru lahir, kata Armin.

    Selain bertani, warga desa Salassae juga hidup dari beternak sapi, ayam, dan kambing. Penggunaan bahan alami juga mereka terapkan dalam beternak. Vaksin kimia yang dahulu sering diberikan kepada ternak piaraan mereka, kini sudah diganti dengan vaksin alami. Bahkan untuk menghilangkan bau kotoran di kandang ternak mereka, petani Salassae mengandalkan mikroba!

    Ada bermacam-macam mikroba untuk beragam fungsi yang dikenal oleh petani Salassae. Ada yang digunakan untuk campuran bahan vaksin, ada yang digunakan sebagai bahan penyusun kompos, pupuk, dan sebagainya.

    Dalam memasarkan hasil dari praktik pertanian alami, petani Salassae membentuk Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS). Mereka juga membuat unit koperasi yang mereka sebut Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Di LKM ini, hasil produksi pertanian di kumpulkan dan disalurkan melalui jaringan. LKM membeli beras petani seharga Rp11 ribu per kilogram dan memasarkannya dengan harga Rp15 ribu per kilogram.

    1716 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIA FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

  • Armin Salassa, salah satu inisiator pertanian alami dari Bulukumba merasa bangga, karena petani di daerahnya bisa terbebas dari jerat penggunaan beragam bahan kimia.

    Petani di Salassae kini terbebas dari jerat penggunaan beragam bahan kimia melalui penyubur tanah, nutrisi tanaman, hingga vaksin. Petani Salassae telah mempraktikkan apa yang disebut

    PRAKTIK CERDAS

    PRESENTER ARMIN SALASSA, ABDUL WAHID,PONNONG, M. NUR, HASMA DAN JUSMANI

    sebagai pertanian organik, namun mereka enggan menyebutkan sebagai pertanian organik dan lebih memilih menamakannya pertanian alami.

    ''Kami ingin penduduk di Salassae bangga dengan pertanian alami seperti anak-anak yang membanggakan orang tua,'' kata Armin disambut tepuk riuh peserta Festival Forum KTI VII.

    Ancaman utama dalam praktik pertanian yang mengandalkan bahan kimiawi adalah dampak dari penggunaan pestisida. Sebagaian besar petani di Indonesia bukan hanya di Salassae, melakukan penyemprotan pestisida tanpa menggunakan masker penutup hidung ataupun kaos tangan untuk melindungi kulit dari bahan kimia.

    Anak-anak yang sedang bermain di kebun atau di pekarangan rumah berisiko menghirup pestisida yang disemprotkan ke tanaman oleh orangtuanya. Kelompok petani di Salassae sepakat bahwa praktik pertanian menggunakan bahan kimia terbukti berbahaya dan merusak.

    "Berkomitmen untuk memperluas gerakan pembangunan organisasi tani dan pertanian alami (natural farming) terhadap 500.000 keluarga petani di Sulawesi Selatan"Armin Salassa

    HARI

    PER

    TAM

    A

    Sebelumnya di Salassae, pertanian menggunakan bahan kimia dilakukan semua orang. Penggunaan pupuk dan pestisida kimia ke lahan-lahan persawahan tanpa adanya kontrol. Seperti, jika rumput belum mati, maka dosis racun ditambahkan. Akibatnya, padi menjadi kurus dan tanah menjadi jenuh.

    Tahun 1980, warga mulai beralih menanam cengkeh dan karet. Ratusan hektar lahan sawah berubah fungsi. Sementara kebutuhan hidup semakin meningkat, musim panen cengkeh hanya setahun sekali. Atas dasar inilah, sebagian besar warga beralih mencari pekerjaan. Akhirnya puluhan anak muda yang hanya menamatkan SMA melakukan perjalanan yang panjang menjadi Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia. Menjadi buruh paruh waktu di perusahaan, ataupun buruh di perkebunan sawit. Dari kebun-kebun sawit inilah, para warga kemudian menemukan racun hama yang dikirimkan ke Salassae. Racun Malaysia, warga Salassae menamakannya demikian. Harganya hingga Rp1 juta per dua jerigen. Paling ampuh dan bisa bunuh hama dengan seketika, kata Armin.

    Tingginya penggunaan pestisida inilah yang membuat Armin gelisah. Pada 2011, dengan modal cerita dan pengalaman bekerja sebagai tenaga lapangan di beberapa NGO, ia membuka wacana pada beberapa petani.

    Selama enam bulan, Armin dan beberapa petani memulai diskusi. Setiap hari, dari pagi, siang hingga malam dari rumah ke rumah. Membangun mimpi secara bersama. Semangat yang menyatukan mimpi mereka berdasar pada kepercayaan bahwa Salassae adalah kampung yang sangat penting, jika Salassae rusak maka bumi akan bocor.

    Di Salassae, beralih ke praktik pertanian alami telah merangsang semangat belajar dan berinovasi para petani. Setiap buah dan tanaman memiliki unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman. Ekstrak buah papaya bila difermentasi akan menghasilkan unsur kalium. Begitu juga dengan cangkang telur yang disangrai dan difermentasi. Tak hanya itu tulang sapi yang dilarutkan bersama asam cuka pun menghasilkan unsur yang sama.

    Petani-petani di Salassae belajar mengelola pertanian alami termasuk mengatur 'pola makan' tanaman. Kapan tanaman-

    tanaman mereka memerlukan nitrogen, fosfor dan kalium. Belajar dari berbagai dokumen yang bisa diperoleh di internet, petani-petani ini mengetahui setiap fase tumbuh tanaman membutuhkan asupan yang berbeda jenis dan kadarnya. Pengetahuan mengenai pola makan, masa tanam dan kecocokan tanam merupakan kearifan lokal yang hidup kembali di Salassae.

    Dalam proses pembuatan mikroba, kompos dan nutrisi yang dilakukan secara gotong royong semua bahan-bahannya diperoleh dari lingkungan sekitar, pun dengan gula merahnya. Gula merahnya sendiri diproduksi dengan cara alami di desa Salassae.

    Ekstrak buah berfungsi sebagai nutrisi tanaman. Para petani menyemprotkannya dengan campuran air tawar dari sumur. Untuk ukuran tangki 15 liter, penggunaan ekstrak sebanyak tiga sendok makan. Ekstrak buah sebanyak 20 liter bisa dipakai selama dua tahun. Dalam satu kali siklus penanaman hingga panen, ada enam kali penyemprotan nutrisi yang berbeda. Sama saja dengan manusia, walaupun sate rasanya enak, tapi tidak dapat dimakan oleh anak yang baru lahir, kata Armin.

    Selain bertani, warga desa Salassae juga hidup dari beternak sapi, ayam, dan kambing. Penggunaan bahan alami juga mereka terapkan dalam beternak. Vaksin kimia yang dahulu sering diberikan kepada ternak piaraan mereka, kini sudah diganti dengan vaksin alami. Bahkan untuk menghilangkan bau kotoran di kandang ternak mereka, petani Salassae mengandalkan mikroba!

    Ada bermacam-macam mikroba untuk beragam fungsi yang dikenal oleh petani Salassae. Ada yang digunakan untuk campuran bahan vaksin, ada yang digunakan sebagai bahan penyusun kompos, pupuk, dan sebagainya.

    Dalam memasarkan hasil dari praktik pertanian alami, petani Salassae membentuk Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS). Mereka juga membuat unit koperasi yang mereka sebut Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Di LKM ini, hasil produksi pertanian di kumpulkan dan disalurkan melalui jaringan. LKM membeli beras petani seharga Rp11 ribu per kilogram dan memasarkannya dengan harga Rp15 ribu per kilogram.

    1716 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIA FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

  • Kalabia, sebuah kapal penangkap ikan yang dimodifikasi menjadi kapal bermuatan perpustakaan dan kelas yang dibina sekelompok anak muda dari kota Sorong, Papua Barat, laut adalah media pemersatu dan penghantar ilmu-pengetahuan bagi anak-anak di kepulauan Raja Ampat.

    Melalui Kapal Kalabia ini, anak-anak di sana jadi mengetahui, menyadari, dan mempraktikkan pentingnya menjaga kelestarian sumber daya alam yang ada di sekitar mereka. Abraham Goram, Marina Kamousum, dan Lusiana Kareth mewakili anak-anak muda dari kapal Kalabia, menyampaikan hal-hal inspiratif di panggung inspirasi Festival Forum KTI di hari kedua.

    Kalabia adalah jenis hiu yang endemik di Raja Ampat. Kata kalabia berasal dari bahasa Maya, suku tertua di Raja Ampat. Dibutuhkan 6 8 orang tenaga pendidik yang benar-benar memahami lingkungan sekitar untuk menjalankan kapal Kalabia. Selain tenaga pengajar, sedikitnya ada 5 orang yang bertindak

    PRAKTIK CERDAS

    PRESENTER ABRAHAM GORAM GAMAN, MARINA KAMOUSUN DAN LUSIANA KARETH

    HARI

    KED

    UA

    sebagai anak buah kapal (ABK) dan sejumlah tenaga pendamping lainnya untuk menjalankan organisasi, sebagai ketua, bendahara, manager program, dan tim kreatif.

    Kurikulum, alat bantu ajar, dan bahan ajar dengan tema pendidikan lingkungan hidup dan konservasi alam dari pulau ke pulau disiapkan dengan serius. Anak-anak itu diajar mengenai ekosistem pesisir, padang lamun, terumbu karang, hutan bakau, dan materi lain seperti jaring-jaring kehidupan, sampah, biota laut yang sudah dilindungi. Sekali jalan, kapal Kalabia bisa mengunjungi 5-7 kampung. Kegiatan dibuat aktif dan inovatif. Sasarannya adalah anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 4, 5, dan 6.

    Salah satu contoh pembelajarannya adalah, anak-anak diajak melihat sendiri terumbu karang, sebagai rumah ikan. Mereka diberi pengertian, kalau rumah tidak ada maka tidak ada pula ikan. Terumbu karang tempat makan ikan-ikan. Seperti rumah, jika rusak, mereka tidak punya tempat tinggal. Seperti itu juga ikan, kata Marina memberi contoh saat mengajari anak mengapa mereka harus menjaga dan melestarikan terumbu karang.

    Biasanya, kegiatan di satu kampung berlangsung selama tiga hari. Pagi hingga sore anak-anak belajar di atas kapal, malam hari tim Kalabia melakukan pemutaran film dengan masyarakat yang ada di kampung. Film menceritakan tentangan pendidikan lingkungan hidup dan konservasi, bagaimana masyarakat menjaga mengatur dan memanfaatkan sumber daya alam secara arif dan bijaksana untuk masyarakat Raja Ampat ke depan. Dari situ ada perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat, awalnya mereka masih membuang sampah sembarangan, menanam pohon mangrove secara berlebihan, mengambil karang untuk bangunan, mencari ikan dengan alat yang tidak ramah lingkungan. Setelah Kalabia lakukan kegiatan di sana, masyarakat sendiri buat aturan kampung; tidak boleh buang sampah di laut, jangan mancing di dalam kampung, dan lain-lain. Bahkan anak anak yang kami didik sudah buat kelompok kelompok untuk menanam mangrove, penghijauan kembali di daerah yang sudah rusak, kata Marina bangga. Marina menuturkan, masyarakat Raja Ampat hidup dari laut,

    makan dari laut, makanya orang Raja Ampat harus jaga laut.Yang menarik, semangat belajar anak-anak di Kalabia sangat tinggi. Untuk belajar di Kalabia anak-anak SMP sampe menyamar pake baju ade-ade SD, tutur Lusiana disambut gerai tawa peserta Festival Forum KTI.

    Selama belajar dengan Kalabia, Lusiana bercerita perubahan-perubahan yang diperlihatkan anak- anak Raja Ampat. Dicontohkan, saat Festival Bahari 2014 lalu, banyak sampah berserakan di pesisir pantai. Karena sudah belajar sampah berbahaya bagi biota laut, mereka berlomba pungut sampah.Perubahan juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari mereka di rumah. Anak-anak sudah belajar tentang Teteruga atau penyu yang mulai punah. Pada suatu hari ada bapak yang tangkap penyu dan taruh di kurungan. Bapaknya pergi, anaknya buka kurungan dan lepas ke laut.

    Abraham Goram tak lupa mengungkapkan kebanggaannya di panggung inspirasi. Orang-orang luar negeri seperti Brasil, Fiji, Inggris datang belajar ke Kalabia. Kami bangga ini program satu-satunya di Indonesia. Terima kasih kepada BaKTI sudah bisa tampilkan Kalabia untuk berbagi Praktik Cerdas. Terima kasih kepada Pelindo II yang dua tahun terakhir mendukung program Kalabia terus berjalan, ujarnya.

    Program ini tidak dapat berjalan begitu saja tanpa ada orang-orang yang mendukung. Tantangan pertama saat program ini diluncurkan adalah siapa pendidiknya, seperti apa programnya, apa masyarakat dapat menerima program ini?, tambah Abraham mengenang ikhwal perjuangan tim Kalabia menjalankan program mereka.

    Dibantu Konservasi Internasional Indonesia dibuatlah program pengembangan kapasitas lokal untuk dididik jadi guru. Akhirnya mereka jadi pendidik yang tangguh. Sejak 2008 hingga saat ini, Program kalabia telah menghasilkan peserta didik lebih dari 7000 peserta. 95 persen masyarakat Raja Ampat terlibat dan jadi agen perubahan.

    1918 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIA FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

  • Kalabia, sebuah kapal penangkap ikan yang dimodifikasi menjadi kapal bermuatan perpustakaan dan kelas yang dibina sekelompok anak muda dari kota Sorong, Papua Barat, laut adalah media pemersatu dan penghantar ilmu-pengetahuan bagi anak-anak di kepulauan Raja Ampat.

    Melalui Kapal Kalabia ini, anak-anak di sana jadi mengetahui, menyadari, dan mempraktikkan pentingnya menjaga kelestarian sumber daya alam yang ada di sekitar mereka. Abraham Goram, Marina Kamousum, dan Lusiana Kareth mewakili anak-anak muda dari kapal Kalabia, menyampaikan hal-hal inspiratif di panggung inspirasi Festival Forum KTI di hari kedua.

    Kalabia adalah jenis hiu yang endemik di Raja Ampat. Kata kalabia berasal dari bahasa Maya, suku tertua di Raja Ampat. Dibutuhkan 6 8 orang tenaga pendidik yang benar-benar memahami lingkungan sekitar untuk menjalankan kapal Kalabia. Selain tenaga pengajar, sedikitnya ada 5 orang yang bertindak

    PRAKTIK CERDAS

    PRESENTER ABRAHAM GORAM GAMAN, MARINA KAMOUSUN DAN LUSIANA KARETH

    HARI

    KED

    UA

    sebagai anak buah kapal (ABK) dan sejumlah tenaga pendamping lainnya untuk menjalankan organisasi, sebagai ketua, bendahara, manager program, dan tim kreatif.

    Kurikulum, alat bantu ajar, dan bahan ajar dengan tema pendidikan lingkungan hidup dan konservasi alam dari pulau ke pulau disiapkan dengan serius. Anak-anak itu diajar mengenai ekosistem pesisir, padang lamun, terumbu karang, hutan bakau, dan materi lain seperti jaring-jaring kehidupan, sampah, biota laut yang sudah dilindungi. Sekali jalan, kapal Kalabia bisa mengunjungi 5-7 kampung. Kegiatan dibuat aktif dan inovatif. Sasarannya adalah anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 4, 5, dan 6.

    Salah satu contoh pembelajarannya adalah, anak-anak diajak melihat sendiri terumbu karang, sebagai rumah ikan. Mereka diberi pengertian, kalau rumah tidak ada maka tidak ada pula ikan. Terumbu karang tempat makan ikan-ikan. Seperti rumah, jika rusak, mereka tidak punya tempat tinggal. Seperti itu juga ikan, kata Marina memberi contoh saat mengajari anak mengapa mereka harus menjaga dan melestarikan terumbu karang.

    Biasanya, kegiatan di satu kampung berlangsung selama tiga hari. Pagi hingga sore anak-anak belajar di atas kapal, malam hari tim Kalabia melakukan pemutaran film dengan masyarakat yang ada di kampung. Film menceritakan tentangan pendidikan lingkungan hidup dan konservasi, bagaimana masyarakat menjaga mengatur dan memanfaatkan sumber daya alam secara arif dan bijaksana untuk masyarakat Raja Ampat ke depan. Dari situ ada perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat, awalnya mereka masih membuang sampah sembarangan, menanam pohon mangrove secara berlebihan, mengambil karang untuk bangunan, mencari ikan dengan alat yang tidak ramah lingkungan. Setelah Kalabia lakukan kegiatan di sana, masyarakat sendiri buat aturan kampung; tidak boleh buang sampah di laut, jangan mancing di dalam kampung, dan lain-lain. Bahkan anak anak yang kami didik sudah buat kelompok kelompok untuk menanam mangrove, penghijauan kembali di daerah yang sudah rusak, kata Marina bangga. Marina menuturkan, masyarakat Raja Ampat hidup dari laut,

    makan dari laut, makanya orang Raja Ampat harus jaga laut.Yang menarik, semangat belajar anak-anak di Kalabia sangat tinggi. Untuk belajar di Kalabia anak-anak SMP sampe menyamar pake baju ade-ade SD, tutur Lusiana disambut gerai tawa peserta Festival Forum KTI.

    Selama belajar dengan Kalabia, Lusiana bercerita perubahan-perubahan yang diperlihatkan anak- anak Raja Ampat. Dicontohkan, saat Festival Bahari 2014 lalu, banyak sampah berserakan di pesisir pantai. Karena sudah belajar sampah berbahaya bagi biota laut, mereka berlomba pungut sampah.Perubahan juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari mereka di rumah. Anak-anak sudah belajar tentang Teteruga atau penyu yang mulai punah. Pada suatu hari ada bapak yang tangkap penyu dan taruh di kurungan. Bapaknya pergi, anaknya buka kurungan dan lepas ke laut.

    Abraham Goram tak lupa mengungkapkan kebanggaannya di panggung inspirasi. Orang-orang luar negeri seperti Brasil, Fiji, Inggris datang belajar ke Kalabia. Kami bangga ini program satu-satunya di Indonesia. Terima kasih kepada BaKTI sudah bisa tampilkan Kalabia untuk berbagi Praktik Cerdas. Terima kasih kepada Pelindo II yang dua tahun terakhir mendukung program Kalabia terus berjalan, ujarnya.

    Program ini tidak dapat berjalan begitu saja tanpa ada orang-orang yang mendukung. Tantangan pertama saat program ini diluncurkan adalah siapa pendidiknya, seperti apa programnya, apa masyarakat dapat menerima program ini?, tambah Abraham mengenang ikhwal perjuangan tim Kalabia menjalankan program mereka.

    Dibantu Konservasi Internasional Indonesia dibuatlah program pengembangan kapasitas lokal untuk dididik jadi guru. Akhirnya mereka jadi pendidik yang tangguh. Sejak 2008 hingga saat ini, Program kalabia telah menghasilkan peserta didik lebih dari 7000 peserta. 95 persen masyarakat Raja Ampat terlibat dan jadi agen perubahan.

    1918 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIA FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

  • Sulawesi Utara mengalokasikan anggaran sektor kesehatan dengan lebih masuk akal dan tepat sasaran. Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Sitaro kini telah meninggalkan pendekatan inkremental yang sebelumnya kerap digunakan dalam menyusun anggaran sektor kesehatan. Semua kebutuhan warga terkait sektor kesehatan telah diidentifikasi, termasuk jenis pelayanan kesehatan telah dipilah. Anggaran yang diajukan menjadi jauh lebih masuk akal dengan program-program yang telah matang direncanakan untuk hasil yang lebih tepat sasaran.

    Noldy Tuerah, Kepala Bappeda Sulawesi Utara 2010-2013, berbagi pengalaman bagaimana sebuah sistem di daerahnya direformasi. Bersama Dr Hendra Tore, Noldy Tuerah, menceritakan peran mereka dalam mengubah kebiasaan para birokrat menyusun anggaran.PRESENTER NOLDY TUERAH DAN HENDRA TOREH

    HARI

    KED

    UA

    PRAKTIK CERDAS

    Dalam menyusun anggaran kesehatan, para birokrat selama ini tak pernah berhitung tentang unit cost atau berapa yang dibutuhkan ibu hamil, mulai hamil sampai melahirkan. Biasanya yang dilakukan perencanaan program kegiatan tidak sepenuhnya didukung pembiayaan yang memadai.

    Biasanya akhir tahun kabupaten dan provinsi memiliki sisa lebih anggaran yang menandakan uang memadai. Tapi di sisi lain, indikator pembangunan seperti tingkat kematian ibu dan bayi makin tinggi, bukan turun. ''Dari situ kami berusaha menganalisa bahwa kemungkinan penganggarannya yang tidak cocok dengan program yang akan dilakukan untuk pencapaian indikator,'' kata Noldy. Dalam perencanaan dan penganggaran, umumnya mereka menaikkan 5,10,15 atau 20 persen tanpa menghitung secara detil.''Bagaimana kita tahu bahwa berapa kebutuhan dana seorang ibu hamil di puskesmas untuk pelayanan kunjungan empat kali dan sampai melahirkan? Kita tidak pernah tahu itu,'' ujarnya. Kondisi ini membuat pencapaian indikator yang telah ditetapkan menjadi sangat sulit. Jadi, substansi masalahnya di situ. Pihaknya kemudian fokus kepada bagaimana meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya pada pelayanan ibu, bayi, dan anak karena targetnya harus menurunkan tingkat kematian bayi, ibu, dan anak.

    Dengan kondisi tersebut, akademisi dari Universitas Sam Ratulangi, Universitas Negeri Manado, ahli kesehatan, dinas kesehatan, dan Bappeda duduk bersama dan didukung oleh program BASIC untuk hasilkan konsep unit cost.''Waktu itu kendalanya adalah kesalahan persepsi, dan kedua yang tak pernah saya sadari dari awal ternyata komponen biaya untuk kesehatan itu sangat banyak. Untuk pelayanan ibu saja, bayi dan anak ada 152 komponen biaya yang mesti dihitung.''Dirinya tak pernah membayangkan untuk menghitung berapa biaya seorang ibu hamil sangatlah sulit karena harus mencari data yang benar, misalnya suntikan berapa harganya dan harus dicari di distributor yang benar harganya.

    Dr Hendra Toreh mengungkapkan unit cost itu anugerah dari Tuhan. Beliau mengungkapkan, selama ini orang-orang punya pemahaman yang keliru tentang penganggaran. ''Dengan adanya

    I kami yang berada di garda depan ini miliki banyak kemudahan. Sebab apa yang menjadi jeritan hati kami, apa yang terjadi di sentra-sentra pelayanan puskesmasbisa terlayani,'' ujarnya bersemangat.

    Tahun 2012, awal mula perhitungan unit cost dirintis. Saat itu ada kejadian luar biasa, 14 orang bayi dan 3 ibu hamil meninggal. Kepala daerah kemudian mengumpulkan tokoh adat, tokoh agama, dan tenaga kesehatan untuk bicarakan solusinya. ''Dinkes kumpulkan kepala puskesmas dan bidan, khususnya mereka yang di puskesmas. Kami bertanya apa yang harus dibikin.''Disitulah awal mula dengar pendapat. Beliau kemudian menyusun suatu sistem strategi pelayanan dengan adanya konsep keuangan yang baik. Menurutnya, ini kesempatan buat program yang ril buat masyarakat. Dengan anggaran efektif dan efisien, aparat bisa laksanakan pelayanan maksimal. Misalnya setiap petugas kesehatan wajib mendampingi ibu hamil.

    Petugas kesehatan kemudian membuat kegiatan posyandu total. Apa yang dirancang pemerintah sudah baik, tapi yang terjadi, kenapa petugas kesehatan tidak bisa melakukan secara prima karena mereka dilatih teknis bukan administrasi. ''Kami waktu disuruh melayani tidak diberi bekal paradigma pelayanan yang baik seperti apa,'' tambah Dr Hendra.Tidak meratanya tenaga kesehatan, juga jadi kendala. Banyak bidan dan dokter merangkap administrasi. Tidak ada pedoman seperti itu. Dibuatlah posyandu total, progam one one solution, dan pendampingan ibu hamil dimana tenaga kesehatan jadi kakak angkat ibu hamil.

    Lewat program one-one solution ada kedekatan ibu hamil dan puskesmas. Petugas membuat sistem kemitraan dukun dan bidan, membuat MOU, dan panggil stakeholder yang terlibat. Konsep mendatangkan dokter spesialis ke puskesmas juga dijalankan. Setiap seminggu sekali dokter spesialis ke puskesmas. Desa siaga selama in tidak dioptimalkan. Petugas kesehatan kemudian menciptakan kader dalam satu kampung. Masyarakat diberi vaksin gratis, memberikan pelayanan paling mendasar ke pulau-pulau.

    2120 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIA FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

  • Sulawesi Utara mengalokasikan anggaran sektor kesehatan dengan lebih masuk akal dan tepat sasaran. Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Sitaro kini telah meninggalkan pendekatan inkremental yang sebelumnya kerap digunakan dalam menyusun anggaran sektor kesehatan. Semua kebutuhan warga terkait sektor kesehatan telah diidentifikasi, termasuk jenis pelayanan kesehatan telah dipilah. Anggaran yang diajukan menjadi jauh lebih masuk akal dengan program-program yang telah matang direncanakan untuk hasil yang lebih tepat sasaran.

    Noldy Tuerah, Kepala Bappeda Sulawesi Utara 2010-2013, berbagi pengalaman bagaimana sebuah sistem di daerahnya direformasi. Bersama Dr Hendra Tore, Noldy Tuerah, menceritakan peran mereka dalam mengubah kebiasaan para birokrat menyusun anggaran.PRESENTER NOLDY TUERAH DAN HENDRA TOREH

    HARI

    KED

    UA

    PRAKTIK CERDAS

    Dalam menyusun anggaran kesehatan, para birokrat selama ini tak pernah berhitung tentang unit cost atau berapa yang dibutuhkan ibu hamil, mulai hamil sampai melahirkan. Biasanya yang dilakukan perencanaan program kegiatan tidak sepenuhnya didukung pembiayaan yang memadai.

    Biasanya akhir tahun kabupaten dan provinsi memiliki sisa lebih anggaran yang menandakan uang memadai. Tapi di sisi lain, indikator pembangunan seperti tingkat kematian ibu dan bayi makin tinggi, bukan turun. ''Dari situ kami berusaha menganalisa bahwa kemungkinan penganggarannya yang tidak cocok dengan program yang akan dilakukan untuk pencapaian indikator,'' kata Noldy. Dalam perencanaan dan penganggaran, umumnya mereka menaikkan 5,10,15 atau 20 persen tanpa menghitung secara detil.''Bagaimana kita tahu bahwa berapa kebutuhan dana seorang ibu hamil di puskesmas untuk pelayanan kunjungan empat kali dan sampai melahirkan? Kita tidak pernah tahu itu,'' ujarnya. Kondisi ini membuat pencapaian indikator yang telah ditetapkan menjadi sangat sulit. Jadi, substansi masalahnya di situ. Pihaknya kemudian fokus kepada bagaimana meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya pada pelayanan ibu, bayi, dan anak karena targetnya harus menurunkan tingkat kematian bayi, ibu, dan anak.

    Dengan kondisi tersebut, akademisi dari Universitas Sam Ratulangi, Universitas Negeri Manado, ahli kesehatan, dinas kesehatan, dan Bappeda duduk bersama dan didukung oleh program BASIC untuk hasilkan konsep unit cost.''Waktu itu kendalanya adalah kesalahan persepsi, dan kedua yang tak pernah saya sadari dari awal ternyata komponen biaya untuk kesehatan itu sangat banyak. Untuk pelayanan ibu saja, bayi dan anak ada 152 komponen biaya yang mesti dihitung.''Dirinya tak pernah membayangkan untuk menghitung berapa biaya seorang ibu hamil sangatlah sulit karena harus mencari data yang benar, misalnya suntikan berapa harganya dan harus dicari di distributor yang benar harganya.

    Dr Hendra Toreh mengungkapkan unit cost itu anugerah dari Tuhan. Beliau mengungkapkan, selama ini orang-orang punya pemahaman yang keliru tentang penganggaran. ''Dengan adanya

    I kami yang berada di garda depan ini miliki banyak kemudahan. Sebab apa yang menjadi jeritan hati kami, apa yang terjadi di sentra-sentra pelayanan puskesmasbisa terlayani,'' ujarnya bersemangat.

    Tahun 2012, awal mula perhitungan unit cost dirintis. Saat itu ada kejadian luar biasa, 14 orang bayi dan 3 ibu hamil meninggal. Kepala daerah kemudian mengumpulkan tokoh adat, tokoh agama, dan tenaga kesehatan untuk bicarakan solusinya. ''Dinkes kumpulkan kepala puskesmas dan bidan, khususnya mereka yang di puskesmas. Kami bertanya apa yang harus dibikin.''Disitulah awal mula dengar pendapat. Beliau kemudian menyusun suatu sistem strategi pelayanan dengan adanya konsep keuangan yang baik. Menurutnya, ini kesempatan buat program yang ril buat masyarakat. Dengan anggaran efektif dan efisien, aparat bisa laksanakan pelayanan maksimal. Misalnya setiap petugas kesehatan wajib mendampingi ibu hamil.

    Petugas kesehatan kemudian membuat kegiatan posyandu total. Apa yang dirancang pemerintah sudah baik, tapi yang terjadi, kenapa petugas kesehatan tidak bisa melakukan secara prima karena mereka dilatih teknis bukan administrasi. ''Kami waktu disuruh melayani tidak diberi bekal paradigma pelayanan yang baik seperti apa,'' tambah Dr Hendra.Tidak meratanya tenaga kesehatan, juga jadi kendala. Banyak bidan dan dokter merangkap administrasi. Tidak ada pedoman seperti itu. Dibuatlah posyandu total, progam one one solution, dan pendampingan ibu hamil dimana tenaga kesehatan jadi kakak angkat ibu hamil.

    Lewat program one-one solution ada kedekatan ibu hamil dan puskesmas. Petugas membuat sistem kemitraan dukun dan bidan, membuat MOU, dan panggil stakeholder yang terlibat. Konsep mendatangkan dokter spesialis ke puskesmas juga dijalankan. Setiap seminggu sekali dokter spesialis ke puskesmas. Desa siaga selama in tidak dioptimalkan. Petugas kesehatan kemudian menciptakan kader dalam satu kampung. Masyarakat diberi vaksin gratis, memberikan pelayanan paling mendasar ke pulau-pulau.

    2120 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIA FESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

  • Kamilus Tupen Jumat adalah mantan TKI selama 9 tahun di Malaysia. Kehidupan rantau yang tak ramah membuatnya memutuskan balik kampung dan berjuang di negeri sendiri. Di kampung ia menemukan fakta banyak koperasi simpan pinjam tapi manajemen keuangan dan administrasi mereka tak bagus sehingga bangkrut. Ia juga melihat lahan berhektar-hektar terbengkalai karena pemiliknya lebih memilih merantau ke negeri tetangga.

    Ia kemudian tergerak untuk membangkitkan semangat mengurus kebun dan ladang dikampungnya dengan membentuk kelompok simpan pinjam tenaga dengan menggunakan budaya gemohing (gotong royong).

    Kelompok Tani Lewowerang (KTL) adalah kawin campur koperasi dan budaya gemohing. Ide ini muncul dari Mama Tua. Kamilus melihat Mama Tua punya kebun, tapi setiap hari dia hanya jadi buruh tani. Jika memiliki kebun, Mama Tua semestinya bisa jadi majikan. ''Saya harus angkat dia jadi majikan. Akhirnya saya mulai laksanakan sistem itu, koperasi ini

    seperti koperasi biasa tapi konsepnya simpan pinjam tenaga,'' ujar Kamilus.

    KTL tak hanya berfungsi menjadi simpanan dan digunakan untuk keperluan pertanian atau pembangunan rumah, melainkan dalam segala sektor, terutama untuk pendidikan. Setiap anggota kelompok yang membutuhkan dana untuk kepentingan anak sekolah, dapat meminjam uang secara tunai atau menabung melalui penggunaan tenaga jasa.

    Anggota KTL yang bekerja di luar kampung, seperti di Malaysia, dengan bahagia mengirimkan sebagian penghasilannya ke koperasi kelompok untuk menggunakan jasa tenaga dalam mengerjakan lahan. Di desa ini, ada ratusan warga yang menggantungkan hidupnya menjadi seorang TKI di Malaysia. Jadi mereka yang berada di Malaysia, konsentrasi bekerja.

    Setelah lahan mereka siap untuk panen mereka pulang, kata Kamilus. Jadi sekarang, di desa ini, hampir dipastikan tak ada lagi lahan tidur.

    KAM U TUPE UMAT

    KED

    UA

    PRAKTIK CERDAS

    22 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

  • Kamilus Tupen Jumat adalah mantan TKI selama 9 tahun di Malaysia. Kehidupan rantau yang tak ramah membuatnya memutuskan balik kampung dan berjuang di negeri sendiri. Di kampung ia menemukan fakta banyak koperasi simpan pinjam tapi manajemen keuangan dan administrasi mereka tak bagus sehingga bangkrut. Ia juga melihat lahan berhektar-hektar terbengkalai karena pemiliknya lebih memilih merantau ke negeri tetangga.

    Ia kemudian tergerak untuk membangkitkan semangat mengurus kebun dan ladang dikampungnya dengan membentuk kelompok simpan pinjam tenaga dengan menggunakan budaya gemohing (gotong royong).

    Kelompok Tani Lewowerang (KTL) adalah kawin campur koperasi dan budaya gemohing. Ide ini muncul dari Mama Tua. Kamilus melihat Mama Tua punya kebun, tapi setiap hari dia hanya jadi buruh tani. Jika memiliki kebun, Mama Tua semestinya bisa jadi majikan. ''Saya harus angkat dia jadi majikan. Akhirnya saya mulai laksanakan sistem itu, koperasi ini

    seperti koperasi biasa tapi konsepnya simpan pinjam tenaga,'' ujar Kamilus.

    KTL tak hanya berfungsi menjadi simpanan dan digunakan untuk keperluan pertanian atau pembangunan rumah, melainkan dalam segala sektor, terutama untuk pendidikan. Setiap anggota kelompok yang membutuhkan dana untuk kepentingan anak sekolah, dapat meminjam uang secara tunai atau menabung melalui penggunaan tenaga jasa.

    Anggota KTL yang bekerja di luar kampung, seperti di Malaysia, dengan bahagia mengirimkan sebagian penghasilannya ke koperasi kelompok untuk menggunakan jasa tenaga dalam mengerjakan lahan. Di desa ini, ada ratusan warga yang menggantungkan hidupnya menjadi seorang TKI di Malaysia. Jadi mereka yang berada di Malaysia, konsentrasi bekerja.

    Setelah lahan mereka siap untuk panen mereka pulang, kata Kamilus. Jadi sekarang, di desa ini, hampir dipastikan tak ada lagi lahan tidur.

    KAM U TUPE UMAT

    KED

    UA

    PRAKTIK CERDAS

    22 LAPORAN KEGIATAN INSPIRASI DARI TMUR UNTUK INDONESIAFESTIVAL FORUM KAWASAN TIMUR INDONESIA

  • Dr. Juliana Chatarina Ratuanak berbagi cerita tentang kondisi memprihatinkan sejumlah ibu hamil di daerah terpencil. Sebelumnya, banyak ibu yang hamil besar terpaksa memilih mati saat problem kehamilan dan persalinan tak teratasi di desanya.

    Laut di sekeliling daerah kepulauan Wuarlabobar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat pada waktu-waktu tertentu ketinggian ombaknya bisa mencapai 3