FENOMENA PRICE REVERSAL: ANALISIS OVERREACTION text.pdf1 . FENOMENA . PRICE REVERSAL: ANALISIS ....

download FENOMENA PRICE REVERSAL: ANALISIS OVERREACTION text.pdf1 . FENOMENA . PRICE REVERSAL: ANALISIS . OVERREACTION

If you can't read please download the document

  • date post

    09-Jun-2019
  • Category

    Documents

  • view

    231
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of FENOMENA PRICE REVERSAL: ANALISIS OVERREACTION text.pdf1 . FENOMENA . PRICE REVERSAL: ANALISIS ....

1

FENOMENA PRICE REVERSAL: ANALISIS OVERREACTION

HYPOTHESIS

(Studi Empiris pada Perusahaan yang Tercatat di BEI)

Adhika Restu Setyawati

LATAR BELAKANG PENELITIAN

Pasar modal yang efisien didefinisikan sebagai pasar yang harga

sekuritas-sekuritasnya mencerminkan semua informasi yang relevan (Husnan,

1996). Harga saham akan merespon secara cepat dan akurat saat menerima

informasi baru. Hal ini disebabkan karena investor menggunakan semua informasi

yang relevan dalam penetapan harga. Sehingga investor tidak mungkin

mengetahui antara investasi yang menguntungkan dan yang tidak menguntungkan

pada masa yang akan datang berdasarkan karakteristik-karakteristik saat ini

(Haugen, 1993: 648, dalam Kusumawardhani, 2001). Dengan kata lain, investor

tidak mungkin dapat mengidentifikasi suatu pola tertentu yang dapat digunakan

untuk memprediksi harga suatu saham.

Efficient Market Hypothesis (EMH) merupakan hipotesis pasar modal

yang menjelaskan bahwa harga suatu saham akan selalu tercermin dari informasi

yang tersedia di pasar. Hipotesis ini telah lama menjadi salah satu isu dalam

penelitian keuangan karena di pasar modal sering terjadi gejala yang bertentangan

dengan konsep tersebut. Ahli ekonomi mulai percaya bahwa harga saham dapat

diprediksi berdasarkan pola tertentu di masa lalu (Malkiel, 2003). Pendapat

tersebut memunculkan permasalahan tentang keberadaan pasar efisien. Zarowin

(1990), Choi dan Jayaraman (2005), Leung (2009) dan Yull dan Kirmizi (2012).

merupakan beberapa peneliti mengemukakan bahwa saham-saham dengan kinerja

buruk akan berubah menjadi baik pada periode berikutnya. Fenomena pembalikan

ini berlawanan dengan karakteristik pasar modal yang efisien.

2

Akibat adanya pembalikan tersebut, banyak peneliti yang kemudian

merujuk pada hipotesis reaksi berlebihan (overreaction hypothesis) (Yull dan

Kirmizi, 2012). Menurut DeBondt dan Thaler (1985), pembalikan harga (price

reversal) ke arah yang berlawanan menandakan bahwa pasar telah bereaksi secara

berlebihan terhadap informasi. Investor cenderung menetapkan harga terlalu

tinggi sebagai reaksi terhadap informasi yang dinilai positif. Sebaliknya, investor

akan menetapkan harga terlalu rendah sebagai reaksi terhadap informasi yang

dinilai negatif. Overreaction investor tersebut menyebabkan pembentukan dan

pergerakan harga saham menjadi abnormal. Selanjutnya pasar akan mengoreksi

melalui pembalikan harga sampai tingkat keseimbangan tercapai.

Kusumawardhani (2001) menyatakan bahwa pembalikan harga (price

reversal) harga saham dapat berubah dan diikuti oleh perubahan kembali ke arah

yang berlawanan. Kenaikan harga secara signifikan akan diikuti dengan

penurunan harga pada periode selanjutnya akibat overreaction. Hal ini

menunjukkan bahwa pasar dalam kondisi yang tidak efisien. Apabila pernyataan

tersebut benar, maka strategi kontrarian diterapkan yaitu dengan membeli saham

yang baru saja berkinerja buruk dan menjual saham pada saat kinerjanya bagus.

Beberapa penelitian terdahulu juga menemukan adanya karakteristik lain

terkait dengan pembalikan harga dalam kaitannya dengan overreaction, antara

lain ukuran perusahaan (firm size) dan likuiditas. Ukuran perusahaan

menunjukkan nilai pasar dari ekuitas perusahaan, sedangkan likuiditas dikaitkan

dengan elastisitas harga yang ditunjukkan oleh volume perdagangan saham.

Kedua faktor tesebut berpengaruh terhadap kondisi pasar saham dalam hal

perubahan ekuitas perusahaan akibat perubahan jumlah saham yang beredar dan

perubahan volume perdagangan. Kedua faktor tersebut juga merupakan faktor

yang menjadi pertimbangan para investor dalam melakukan investasi, terutama

berkaitan dengan informasi positif dan negatif. Informasi tersebut akan

mendorong investor untuk bereaksi berlebihan dan pada akhirnya menyebabkan

pembalikan harga.

Penelitian yang dilakukan oleh Zarowin (1990) misalnya, menguji kembali

penemuan DeBondt dan Thaler (1985) tentang keberadaan reaksi berlebihan.

3

Zarowin (1990) menemukan bahwa fenomena pembalikan tidak semata-mata

karena overreaction dari investor, tetapi hal tersebut dipengaruhi oleh firm size.

Size dari perusahaan loser rata-rata lebih kecil dari winner, sehingga fenomena

yang ditemukan oleh DeBondt dan Thaler muncul karena pengaruh firm size,

bukan karena fenomena reaksi berlebihan.

Benou dan Richie (2003) meneliti adanya price reversal setelah adanya

penurunan harga pada perusahaan Amerika Serikat yang termasuk perusahaan-

perusahaan mapan yang tercatat di indeks S&P 100 mulai Mei 1990 hingga Mei

2000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembalikan harga tersebut memang

disebabkan oleh overreaction. Lebih lanjut penelitian tersebut juga menyimpulkan

bahwa lama waktu pembalikan harga tergantung pada jenis perusahaan.

Di Indonesia penelitian tentang overreaction dilakukan oleh

Kusumawardhani (2001). Hasil penelitian menyatakan overreation hanya terjadi

pada saham loser dan pembalikan harga saham tersebut terjadi dalam waktu 5

hari. Hasil tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Yull dan

Kirmizi (2012) terhadap saham saham yang diperdagangkan di BEI selama tahun

2007-2010. Yull dan Kirmizi (2012) menyatakan bahwa saham-saham winner

tidak menunjukkan adanya overreaction. Overreaction hanya tejadi pada saham

loser yang kemudian diikuti dengan koreksi harga dalam waktu 2 hari.

Dinawan (2007) juga menguji adanya overreaction di Bursa Efek

Indonesia pada periode 2007-2010. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa

price reversal terjadi pada saham winner maupun loser yang ditandai dengan

adanya overreaction. Yang membedakan adalah jangka waktu pembalikan harga

untuk kedua saham jenis tersebut. Saham winner mengalami periode pembalikan

selama 13 hari, sedangkan saham loser periode pembalikannya lebih pendek yaitu

selama 5 hari.

Beberapa hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa terdapat berbagai

pendapat mengenai overreaction dan fenomena price reversal serta

mengindikasikan bahwa fenomena tersebut juga terjadi di Indonesia. Selanjutnya

penelitian ini mengembangkan penelitian-penelitian tersebut dengan melihat

ketajaman overreaction dan perbedaan karakteristik perusahaan dalam hal firm

4

size dan likuiditas antara perusahaan yang termasuk dalam saham winner dan

loser. Periode observasi yang digunakan yaitu 4 tahun mulai Januari 2010 hingga

bulan Desember tahun 2013 pada saham-saham yang tercatat di BEI. Hasil

penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perusahaan dalam

mengetahui seberapa besar kemungkinan adanya overreaction dan pembalikan

harga saham, sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam melakukan

penawaran saham. Sedangkan bagi pelaku pasar, hasil penelitian ini diharapkan

dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk

berinvestasi di pasar modal.

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka beberapa persoalan yang ingin

dijawab dalam penelitian ini antara lain:

1. Apakah terdapat hubungan antara reaksi berlebihan (overreaction)

investor yang menyebabkan terjadinya fenomena price reversal?

2. Bagaimana ketajaman overreaction saham winner dan saham loser?

3. Berapa lama waktu terjadi pembalikan harga saham winner dan loser pada

saat terjadi overreaction?

4. Bagaimana karakteristik perusahaan (firm size dan likuiditas) untuk saham

winner dan loser pada saat terjadi overreaction?

5

KAJIAN PUSTAKA

Hipotesis Pasar Efisien

Konsep pasar efisien pertama kali dikemukakan oleh Eugene F. Fama

(1970). Suatu pasar dikatakan efisien apabila tidak ada investor yang dapat

memperoleh return tidak normal (abnormal return), setelah disesuaikan dengan

risiko, dengan menggunakan strategi perdagangan yang ada. Harga-harga yang

terbentuk di pasar merupakan cerminan dari informasi yang ada atau “stock prices

reflect all available information” (Fama, 1970). Penekanannya terletak pada dua

aspek, yaitu fully reflect dan information available. Fully reflect menunjukkan

harga-harga sekuritas dapat mencerminkan informasi yang ada secara akurat.

Sedangkan information available menunjukkan ketersediaan informasi. Sehingga,

informasi yang tersedia dapat digunakan investor untuk mengekspektasi harga

sekuritas dengan akurat (Yull dan Kirmizi, 2012).

Dalam mempelajari konsep pasar efisien, tingkat efisiensi pasar modal

ditentukan oleh sejauh mana dan seberapa cepat informasi tersebut dapat

mempengaruhi pasar yang tercermin dalam perubahan harga sekuritas

(Kusumawardhani, 2001). Terkait dengan hal tersebut, Haugen (2001) membagi

kelompok informasi menjadi tiga, yaitu (1) informasi harga saham masa lalu

(information in past stock prices), (2) semua informasi publik (all public

information) dan (3) semua informasi yang ada termasuk informasi orang dalam

(all available information including inside or private information). Masing-

masing kelompok informasi tersebut nantinya akan mencer