FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN …

Click here to load reader

  • date post

    20-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    7
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN …

Desa Batanguru Kabupaten Mamasa
Nomor Pokok : M 111 08 851
Skripsi ini Dibuat Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Kehutanan pada Program Studi Kehutanan
Fakultas Kehutanan
Universitas Hasanuddin
Mengetahui,
NIP. 19540418197903 1 001
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat,
rahmat dan karunia-Nya sehingga pelaksanaan penelitian dan penyusunan skripsi ini
dapat diselesaikan dengan baik. Penulis menyadari bahwa dalam pelaksanaannya
terdapat cukup banyak kendala dan tantangan. Namun berkat bantuan, arahan dan
bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Oleh karena itu, dengan segala kebesaran dan kerendahan hati penulis menyampaikan
terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Amran Achmad, M.Sc. dan Ibu Asrianny, S.Hut. M.Si.
selaku pembimbing penelitian yang dengan ikhlas dan penuh kesabaran telah
meluangkan waktu, pikiran dan perhatiannya dalam membimbing dan
mengarahkan penulis hingga skripsi ini dapat terselesaikan.
2. Bapak Prof. Dr. Ir. Ngakan Putu Oka, M.Sc., Bapak Prof. Dr. Supratman,
S.Hut., M.P. dan Bapak Prof. Dr. Ir. Djamal Sanusi selaku penguji. Terima
kasih atas segala saran dan masukan yang diberikan kepada penulis.
3. Bapak-Ibu Dosen dan Staf di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin
atas segala bantuan moril dan ilmu yang diberikan kepada penulis.
4. Masyarakat Desa Batanguru, terkhusus untuk Bapak Ir. Linggi dan Istri,
Christin, Axel Adventur sekeluarga atas bantuan dan perhatiannya kepada
penulis selama melakukan kegiatan penelitian di lapangan.
5. Kawan-kawan dan senior-senior di Laboratorium Konservasi Sumberdaya
Hutan dan Ekowisata, terima kasih atas dukungan moril serta kebersamaannya
selama ini.
6. Kawan-kawan Forester angkatan 2008 dan senior-senior di Fakultas
Kehutanan, terima kasih atas segala canda tawa dan kebersamaannya.
7. Kawan-kawan di Rumah Ide Makassar (RIM) dan Bapak-Ibu di Bursa
Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) atas segala kerjasama,
inspirasi, motivasi, informasi dan perhatian yang diberikan kepada penulis.
8. Teman-teman finalis Bayer Young Environmental Envoy (BYEE) angkatan 9,
atas kebersamaan, sharing ilmu dan pengalaman tak terlupakan selama
pelaksanaan acara, serta Bapak-Ibu dewan juri dan pemateri atas dorongan
semangat, inspirasi, arahan dan bimbingannya selama pelaksanaan BYEE 2012.
9. Saudari-saudariku tersayang, Arifah Fikriyani, Reiny Rezkyani, Iin
Nurjannah, St. Aisyah Nurul Ramadhani, A. Tenriyani Maulana dan
Wardani Anwar atas kebersamaan dan kekeluargaannya selama ini.
Ucapan terima kasih terkhusus dan sebesar-besarnya kepada keluarga, Ibunda
tercinta Hj. Zullaika, S.E. dan Almarhum Ayahanda Ir. Suparman, M.Sc. yang tak
pernah putus mencurahkan kasih sayang, perhatian, pengorbanan baik moril maupun
materil, doa serta dukungannya kepada penulis. Adik-adik tersayang, Hady Yudha
dan Fatia Ayu Hastuti atas dukungan dan semangat yang diberikan kepada penulis
hingga kini. Untuk kakek dan nenek yang penulis sayangi, Apo Yasmin dan Hj.
Zaharabi atas segala kasih sayang dan dukungan yang diberikan sampai saat ini. Tak
lupa pula ucapan terima kasih kepada para sahabat dan kerabat lainnya yang tidak
dapat disebutkan satu per satu, atas segala motivasi, inspirasi, saran dan kritik yang
diberikan kepada penulis hingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.
Akhirnya penulis menyadari tentunya tulisan ini tidak luput dari berbagai
kekurangan. Namun demikian, penulis berharap kiranya tulisan ini dapat memberikan
5
manfaat untuk berbagai pihak, khususnya kepada masyarakat Desa Batanguru terkait
dengan ekowisata, serta dapat menjadi dasar ataupun acuan dalam penelitian
selanjutnya yang terkait dengan penyusunan rencana dan identifikasi potensi
ekowisata di daerah-daerah lainnya dengan memanfaatkan energi terbarukan,
khususnya mikrohidro sebagai minat utama—point of interest untuk kegiatan
ekowisata.
Fadila Ayu Hapsari (M111 08 851). Potensi Ekowisata untuk Mendukung
Mikrohidro di Desa Batanguru, Kabupaten Mamasa, di bawah bimbingan
Amran Achmad dan Asrianny.
macam potensi ekowisata yang dapat dipadukan dengan pengelolaan mikrohidro
di Desa Batanguru, serta hubungan antara potensi ekowisata tersebut dan
masyarakat setempat terhadap mikrohidro. Dalam penelitian ini dilakukan
beberapa pengumpulan data berdasarkan potensi-potensi yang ada di lokasi, yaitu
aspek potensi ekowisata meliputi keanekaragaman jenis burung, potensi
pemanfaatan mikrohidro dan obyek wisata yang dapat dikembangkan, kemudian
aspek calon wisatawan dan aspek komunitas. Pengumpulan data jenis burung
dilakukan dengan metode line transect dan count point. Pengumpulan data
kuesioner dilakukan pada dua subjek responden, yaitu masyarakat Desa
Batanguru dan calon wisatawan potensial. Sedangkan informasi mengenai
potensi-potensi ekowisata dikumpulkan melalui pengambilan koordinat di
lapangan dengan menggunakan GPS untuk selanjutnya di olah ke dalam peta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi ekowisata dapat mendukung
mikrohidro yang sudah ada karena keduanya memiliki unsur konservasi untuk
pelestarian keanekaragaman hayati, ekosistem dan budaya, unsur edukasi untuk
masyarakat dan calon wisatawan dalam hal pengelolaan lingkungan, serta unsur
pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan ekonomi. Berdasarkan potensi yang
ada, terdapat beberapa paket wisata yang potensial untuk dilakukan, seperti wisata
alam dan lingkungan, wisata mikrohidro, wisata adat dan budaya, wisata kebun
dan wisata hiburan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
B. Mikrohidro..............................…………………………………….. 7
D. Ekowisata dan Masyarakat……..…………………………………... 14
III. METODE PENELITIAN
B. Alat dan Bahan Penelitian …………....……………………………... 20
C. Objek Penelitian.……………............................……………………. 21
E. Metode Pelaksanaan…………......…………………………………... 22
1. Orientasi Lapangan .............................………………………..… 22
2. Pengumpulan Data ...................................................................... 23
3. Analisis Data ............................................................................... 26
2. Topografi ......……….………………………………………….. 30
4. Iklim dan Curah Hujan .......……………………………………. 31
5. Penggunaan Lahan ……………………………………………... 33
7. Aksesibilitas ............................................................................... 34
B. Profil Masyarakat ............................................................................. 39
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
3. Aspek Komunitas (Masyarakat Desa Batanguru) …………..... 57
B. Pembahasan ………………………………………………….......…. 59
2. Paket Ekowisata Desa Batanguru ……………………….......…. 61
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
2. Rata-Rata Curah Hujan Bulanan Kecamatan Sumarorong 32
Tahun 2001-2011
3. Luas Lahan Menurut Jenis Penggunaan di Desa Batanguru 34
4. Jarak dan Kondisi Jalan dari Kota Makassar ke Desa Batanguru 35
5. Sarana dan Prasarana di Desa Batanguru 39
6. Jumlah Penduduk di Desa Batanguru 39
7. Jenis-Jenis Mata Pencaharian Penduduk di Desa Batanguru 40
8. Jenjang Pendidikan di Desa Batanguru 41
9. Jumlah Penganut Agama di Desa Batanguru 41
10. Jumlah Keseluruhan Jenis Burung yang Dijumpai pada Tiap Jalur 44
Pengambilan Data di Desa Batanguru
11. Indeks Ekologi pada Tiap Jalur Pengambilan Data di Desa 45
Batanguru
Turbin Pembangkit Listrik
Desa Batanguru
14. Jenis Wisata yang Diharapkan oleh Masyarakat Desa Batanguru 50
15. Profil Calon Wisatawan untuk Kegiatan Ekowisata di Desa 52
Batanguru
18. Tipe dan Motivasi Kunjungan Calon Wisatawan untuk Kegiatan 54
Ekowisata di Desa Batanguru
Jenis Wisata yang Telah Dipilih
20. Pengetahuan Masyarakat Mengenai Ekowisata dan Jenis Kegiatan 57
Wisata
dan Partisipasi dalam Kegiatan Ekowisata
10
Line Transect
3. Kondisi Jalan di Desa Batanguru 36
4. Peta Potensi Ekowisata di Desa Batanguru 42
5. Model Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di Desa 48
Batanguru
11
3. Paket-Paket Ekowisata 76
12
Krisis energi listrik merupakan salah satu masalah serius yang tengah
dihadapi oleh masyarakat global, khususnya di Indonesia. Hal tersebut terjadi
karena terdapat peningkatan kebutuhan akan energi listrik yang mengakibatkan
tingginya permintaan, sementara ketersediaannya cukup sedikit sehingga
terjadilah kelangkaan atau biasa disebut dengan krisis. Permintaan akan energi
listrik bertambah sebanyak 18% tiap tahunnya dan diperkirakan akan terus
meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk serta adanya
industrialisasi.
Krisis energi listrik tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan, namun juga
terjadi di wilayah pedesaan. Pada tahun 2010 terdapat sekitar 13.995 desa di
Indonesia yang tidak memiliki akses listrik. Namun, terdapat sebuah desa di
Sulawesi Barat yang berlokasi di Kabupaten Mamasa bernama Desa Batanguru,
dimana masyarakatnya memanfaatkan potensi sumber daya alam berupa aliran air
sungai setempat melalui pemanfaatan energi terbarukan mikrohidro untuk
menghasilkan listrik.
Selain memiliki potensi mikrohidro yang berasal dari aliran air sungai,
Desa Batanguru memiliki potensi keindahan alam seperti hutan, perbukitan, lahan
persawahan dan perkebunan serta potensi budaya dan adat seperti upacara
tradisional, rumah adat, pemakaman tradisional dan kerajinan kain tenun. Untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat Desa Batanguru bekerja dan
memanfaatkan segala sesuatu yang disediakan oleh alam sekitarnya, salah
13
terpenuhi, alam tersebut harus lestari dan berkelanjutan karena selain dapat
menyediakan kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat desa, alam juga dapat
menyediakan sumber listrik yang diperoleh dari pemanfaatan sumber daya alam
berupa aliran air sungai melalui mikrohidro. Apabila masyarakat Desa Batanguru
mampu memenuhi kebutuhan energi listrik dengan membuat sendiri sistem
mikrohidro mereka, maka sangat memungkinkan bagi masyarakat tersebut untuk
membuat kegiatan ekowisata di desa mereka berdasarkan potensi mikrohidro,
potensi alam, serta potensi budaya dan adat setempat.
Dalam kegiatan ekowisata diperlukan tiga aspek penting yang harus
dilaksanakan yaitu aspek edukasi, ekologi dan ekonomi. Aspek edukasi
merupakan aspek dimana masyarakat setempat perlu mendapatkan pengetahuan
tentang ekowisata, tahap-tahap pelaksanaan ekowisata dan mengapa ekowisata
penting dilakukan di desa mereka. Aspek ekologi merupakan aspek dimana
masyarakat setempat mempunyai kesadaran untuk dapat melakukan aksi
langsung dalam melestarikan lingkungannya, sebab hal ini terkait dengan
kegiatan konservasi, dimana masyarakat harus mampu menjaga alamnya dari
kerusakan akibat perambahan hutan dan pencemaran lingkungan. Apabila alam di
Desa Batanguru tidak dijaga untuk terus berkelanjutan, hal tersebut tidak hanya
berdampak terhadap keberlangsungan ekosistem setempat, melainkan juga
terhadap ketersediaan listrik melalui mikrohidro yang bersumber dari air sungai
dan berdampak pula terhadap keberlangsungan kegiatan ekowisata. Sedangkan
aspek ekonomi merupakan aspek dimana masyarakat setempat akan mendapatkan
14
lapangan pekerjaan baru dan keuntungan ekonomi melalui kegiatan ekowisata di
desanya dengan menjadi pemandu wisata, pengelola, ataupun penjual
cinderamata. Hal tersebut akan meningkatkan kesejahteraan dan menumbuhkan
kreativitas masyarakat setempat.
energi listrik dan ekowisata sebagai salah satu sumber pendapatan setempat.
Sebab tanpa adanya rasa memiliki, masyarakat tidak akan menghargai alam dan
lingkungannya yang berkontribusi besar terhadap kebutuhan masyarakat sehari-
hari. Dengan adanya rasa memiliki tersebut, masyarakat akan turut menghargai
alamnya dengan cara menjaga, tidak merusak dan merawatnya agar selalu lestari
dan berkelanjutan.
Agar kegiatan ekowisata di Desa Batanguru dapat terlaksana, maka perlu
dilakukan tahap perencanaan paket wisata berdasarkan potensi yang ada, sasaran
pengunjung, serta persiapan sumberdaya manusia. Berdasarkan hal-hal tersebut,
maka perlu dilakukan penelitian tentang Potensi Ekowisata untuk Mendukung
Mikrohidro di Desa Batanguru, Kabupaten Mamasa.
15
Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk mengetahui
dan mengidentifikasi macam-macam potensi ekowisata yang dapat dipadukan
dengan pengelolaan mikrohidro di Desa Batanguru, serta hubungan antara
ekowisata dan masyarakat (komunitas) terhadap keberlangsungan sumberdaya
alam yang memiliki beragam potensi, seperti mikrohidro. Penelitian ini
diharapkan dapat menjadi sumber informasi ilmiah bagi pemerintah, lembaga-
lembaga profit dan non profit, masyarakat umum, wisatawan dan pegiat
ecotourism untuk melakukan kegiatan ekowisata, serta menjadi bahan informasi
atau referensi bagi penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan ekowisata
dan bagi desa lain yang memiliki potensi serupa.
16
Konsep energi terbarukan (renewable energy) diperkenalkan pada tahun
1970-an sebagai bagian dari usaha mencoba bergerak melewati pengembangan
bahan bakar nuklir dan fosil. Defenisi paling umum dari energi terbarukan adalah
sumber energi yang dapat dengan cepat diisi kembali oleh alam melalui proses
yang berkelanjutan (sustainable), di antaranya panas bumi, cahaya matahari,
angin, bahan-bahan organik dan air (Chadidjah dan Wiyoto, 2011).
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam sidang umum pada bulan
Desember 2011 menyatakan bahwa tahun 2012 adalah Tahun Internasional
Energi Terbarukan (International Year of Sustainable Energy for All). Secara
resmi, PBB meluncurkan Program Energi Terbarukan pada 16 januari 2012 silam
di ajang World Future Energy Summit di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Target
penetapan tahun 2012 sebagai Tahun Internasional Energi Terbarukan adalah pada
2030, dimana semua orang di dunia sudah menggunakan energi dari sumber-
sumber terbarukan. Tujuan dari penetapan tahun 2012 sebagai Tahun
Internasional Energi Terbarukan adalah guna meningkatkan kepedulian
masyarakat dunia pada isu kemiskinan energi dan menunjukkan bahwa akses ke
energi bersih, aman dan terjangkau bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat
(Trace, 2011).
(renewable energy) maka jumlah masyarakat dunia yang kekurangan listrik hanya
berkurang dari 1,4 milliar pada saat ini menjadi 1,2 milliar pada 2030. Jumlah
penduduk yang menggunakan sumber energi tradisional, seperti kayu, sekam,
dedaunan dan sebagainya, justru naik dari 2,7 milliar saat ini ke 2,8 milliar pada
2030. Selain itu, masalah perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang
mendunia semakin menegaskan pentingnya dunia untuk beralih ke energi baru
dan terbarukan (PPLH Sumapapua, 2010).
Krisis energi merupakan kondisi dimana terdapat peningkatan kebutuhan
akan energi (minyak, listrik dan lain-lain) yang memicu tingginya permintaan
terhadap energi hingga akhirnya energi tersebut mejadi sulit diakses. Salah satu
masalah krisis energi yang cukup serius di Indonesia adalah krisis listrik. Limbah
produksi energi listrik konvensional dari sumber daya energi fosil, sebagian
besarnya memberi kontribusi terhadap polusi udara akibat dari emisi yang
dihasilkan, khususnya berpengaruh terhadap iklim. Pembakaran energi fosil akan
membebaskan karbondioksida (CO2) dan beberapa gas yang merugikan lainnya ke
atmosfir sebagai emisinya. Emisi ini merubah komposisi kimia lapisan udara dan
mengakibatkan terbentuknya efek rumah kaca, yang memberi kontribusi pada
peningkatan suhu bumi. Guna mengurangi pengaruh negatif tersebut, sudah
sepantasnya dikembangkan pemanfaatan sumber daya energi terbarukan dalam
produksi energi listrik (Amsir, 2010).
Ada beberapa strategi yang dapat diterapkan dalam mendorong upaya
pengembangan sumber energi terbarukan, antara lain meningkatkan kegiatan studi
dan penelitian yang berkaitan dengan pelaksanaan identifikasi setiap jenis potensi
sumber daya energi terbarukan secara lengkap di setiap wilayah, perbaikan
kontinuitas penyediaan energi listrik, pengumpulan pendapat dan tanggapan
dan evaluasi lebih mendalam tentang kelayakan operasi sistem di lapangan dan
pendekatan Community Development dalam proses pengembangannya sehingga
setiap proyek tidak hanya dirasakan sebagai proyek “top-down” tetapi milik
masyarakat juga sehingga pada akhirnya diharapkan muncul efek domino dari
pelibatan ini berupa upaya masyarakat dalam menjaga kelestarian alam yang
menjadi unsur penopang penting dari pengembangan sumber energi terbarukan.
(Amsir, 2010).
B. Mikrohidro
Tenaga air (hydropower) adalah energi yang diperoleh dari air yang
mengalir. Tenaga air yang memanfaatkan gerakan air biasanya didapat dari sungai
yang dibendung, dimana pada bagian bawah bendungan tersebut terdapat lubang-
lubang saluran air. Pada lubang-lubang tersebut terdapat turbin yang berfungsi
mengubah energi kinetik dari gerakan air menjadi energi mekanik yang dapat
menggerakkan generator listrik. Energi listrik yang berasal dari energi kinetik air
disebut hydroelectric (Chadidjah dan Wiyoto, 2011).
Trace (2011), mengemukakan bahwa tenaga air (hydropower) yang
dihasilkan dari hydroelectric terbagi atas enam, yaitu large-hydro yang memiliki
kapasitas lebih dari 100 MW dan biasanya dipergunakan untuk pembangkit listrik
berkapasitas besar. Medium-hydro memiliki kapasitas 15-100 MW, biasanya
dipergunakan untuk jaringan listrik berkapasitas sedang. Small-hydro memiliki
kapasitas 1-15 MW, biasanya dipergunakan untuk jaringan listrik berkapasitas
19
kecil. Mini-hydro memiliki kapasitas di atas 100 kW, tapi di bawah 1 MW dan
dapat berdiri sendiri namun sering dimasukkan sebagai komponen pembangkit
listrik. Micro-hydro memiliki kapasitas mulai dari 5 kW sampai dengan 100 kW,
dimana biasanya menghasilkan tenaga untuk komunitas kecil (small community)
atau industri pedesaan (rural industry) di wilayah pedalaman yang jauh dari akses
listrik konvensional Pembangkit Listrik Negara (PLN). Sedangkan Pico-hydro
memiliki kapasitas mulai dari beberapa ratus watt sampai dengan 5 kW. Hal
tersebut berdasarkan dari kapasitas air (debit dan luasan) serta kemampuan turbin
dalam menghasilkan energi listrik. Dimana tiap kilowatt (kW) sama dengan 1.000
watt listrik dan tiap megawatt (MW) sama dengan 1.000.000 watt atau 1.000 kW.
Tenaga air untuk pembangkit tenaga listrik ternyata tidak hanya dapat
dilakukan dalam skala besar, atau makro-hidro. Air dalam jumlah kecil
(mikrohidro) juga dapat dipergunakan untuk membangkitkan energi listrik untuk
pemenuhan skala kecil. Jumlah air yang melimpah di wilayah nusantara
khususnya yang terdapat di daerah pedesaan sangat berpotensi untuk membangun
Pembagkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) (Chadidjah dan Wiyoto, 2011).
Mikrohidro adalah suatu pembangkit listrik skala kecil yang
menggunakan tenaga air sebagai tenaga penggeraknya seperti, saluran irigasi,
sungai atau air terjun alam dengan cara memanfaatkan tinggi terjunan (head) dan
jumlah debit air. Secara teknis, mikrohidro memiliki tiga komponen utama yaitu
air, turbin dan generator. Pada dasarnya, mikrohidro memanfaatkan energi
potensial jatuhan air (head). Semakin tinggi jatuhan air maka semakin
besar energi potensial air yang dapat diubah menjadi energi listrik. Di samping
faktor geografis, tinggi jatuhan air dapat pula diperoleh dengan membendung
aliran air sehingga permukaan air menjadi tinggi. Air dialirkan melalui
sebuah pipa pesat ke dalam rumah pembangkit yang pada umumnya dibagun di
bagian tepi sungai untuk menggerakkan turbin mikrohidro. Energi mekanik yang
berasal dari putaran poros turbin akan diubah menjadi energi listrik oleh
sebuah generator (IBEKA, 2008).
Menurut Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan,
yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan
didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat,
pengusaha, pemerintah ataupun pemerintah daerah. Menurut Mahdayani (2009),
pariwisata harus didukung oleh berbagai komponen, yaitu:
1. Obyek dan daya tarik wisata. Ada banyak alasan mengapa orang berwisata ke
suatu daerah. Beberapa yang paling umum adalah untuk melihat keseharian
penduduk setempat, menikmati keindahan alam, atau menyaksikan budaya yang
unik. Intinya, wisatawan datang untuk menikmati hal-hal yang tidak dapat
mereka temukan dalam kehidupan mereka sehari-hari, dimana alam, budaya
serta sejarah tersebut merupakan bagian dari obyek dan daya tarik wisata.
2. Transportasi dan infrastruktur. Tersedianya alat transportasi adalah salah satu
kunci sukses kelancaran aktivitas pariwisata. Komponen pendukung lainnya
adalah infrastruktur yang secara tidak langsung mendukung kelancaran kegiatan
pariwisata misalnya: air, jalan dan listrik. Namun, meskipun tidak semua daerah
ditemui atau dilihat di tempat tersebut.
3. Akomodasi atau sarana penginapan. Akomodasi adalah tempat dimana
wisatawan bermalam untuk sementara di suatu daerah wisata. Jenis-jenis
akomodasi beragam, antara lain guest house, homestay, losmen, perkemahan
dan vila.
4. Jasa pendukung lainnya. Jasa pendukung adalah hal-hal yang mendukung
kelancaran berwisata, misalnya penjualan cinderamata, warung makan, pusat
informasi, jasa pemandu dan lain-lain. Jasa pemandu merupakan salah satu
faktor penting dalam mendukung kesuksesan suatu daerah tujuan wisata. Selain
melalui pemandu, wisatawan bisa memperoleh informasi di pusat informasi
wisata, baik berupa penjelasan langsung maupun bahan cetak seperti brosur,
buku, poster, peta dan lain sebagainya.
Pada prinsipnya, pariwisata haruslah berkelanjutan, dimana setiap aktivitas
wisata yang ada harus tetap memperhatikan keseimbangan alam, lingkungan, budaya
dan ekonomi. Dengan kata lain, pengelolaannya haruslah dapat memberikan
keuntungan secara ekonomi bagi seluruh pihak terkait baik itu pemerintah, sektor
swasta, serta masyarakat setempat. Pariwisata berkelanjutan harus mencakup
kualitas, kesinambungan serta keseimbangan aspek-aspek lingkungan, budaya dan
manusia. Untuk mewujudkannya, ada berbagai jenis pariwisata yang dapat kita pilih,
di antaranya adalah ekowisata (Mahdayani, 2009).
22
ekowisata sebagai perjalanan bertanggungjawab yang dilakukan pada kawasan alam
dengan tujuan untuk melestarikan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat lokal. Semula ekowisata dilakukan oleh wisatawan pecinta alam yang
menginginkan daerah tujuan wisata tetap utuh dan lestari, di samping budaya dan
kesejahteraan mesyarakatnya tetap terjaga. Namun dalam perkembangannya ternyata
bentuk ekowisata ini berkembang karena banyak digemari oleh wisatawan yang pada
akhirnya dapat menciptakan kegiatan bisnis.
Bahkan di beberapa wilayah berkembang suatu pemikiran baru yang terkait
dengan pengertian ekowisata. Fenomena pendidikan dirasa perlu dalam bentuk
pariwisata ini. Hal tersebut kemudian didefenisikan oleh Australian Department of
Tourism yaitu ekowisata adalah wisata berbasis pada alam dengan mengikutkan
aspek pendidikan dan interpretasi terhadap lingkungan alami dan budaya masyarakat
dengan pengelolaan kelestarian ekologis. Defenisi ini memberi penegasan bahwa
aspek yang terkait tidak hanya bisnis seperti halnya bentuk pariwisata lainnya, tetapi
lebih dekat dengan pariwisata minat khusus, alternative tourism atau special interest
tourism dengan obyek dan daya tarik wisata alam (Black, 1999).
Pada saat ini, ekowisata telah berkembang. Wisata ini tidak hanya sekedar
untuk melakukan pengamatan burung (birdwatching), mengendarai kuda,
penelusuran jejak di hutan belantara, tetapi telah terkait dengan konsep pelestarian
hutan dan penduduk lokal. Ekowisata ini kemudian merupakan suatu perpaduan dari
berbagai minat yang tumbuh atas keprihatinan terhadap lingkungan, ekonomi dan
sosial (Fandeli, 2000).
kegiatan ekowisata berbasis komunitas sangat dipengaruhi oleh keberadaan unsur-
unsur yang harus ada dalam kegiatan itu sendiri, yaitu:
1. Sumberdaya alam, peninggalan sejarah dan budaya. Keanekaragaman hayati
merupakan daya tarik utama bagi pangsa pasar ekowisata sehingga
keberlanjutan dan pelestarian sumber daya alam, peninggalan sejarah dan
budaya menjadi sangat penting. Ekowisata juga dapat memberikan peluang
yang sangat besar untuk mempromosikan pelestarian keanekaragaman hayati
Indonesia di tingkat internasional, nasional maupun lokal.
2. Masyarakat. Pada dasarnya pengetahuan tentang alam dan budaya serta daya
tarik wisata kawasan dimiliki oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu
pelibatan masyarakat menjadi mutlak, mulai dari tingkat perencanaan hingga
pada tingkat pengelolaan.
nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya. Ekowisata memberikan nilai
tambah kepada pengunjung dan masyarakat dalam bentuk pengetahuan dan
pengalaman. Nilai tambah ini secara langsung maupun tidak langsung akan
dapat memengaruhi perubahan perilaku dari pengunjung, masyarakat dan
pengembang pariwisata agar sadar dan lebih menghargai alam, nilai-nilai
peninggalan sejarah dan budaya. Hal tersebut kemudian akan medorong
upaya pelestarian potensi ekowisata lebih lanjut agar dapat berkelanjutan
(sustainable).
24
terhadap produk ekowisata baik di tingkat internasional dan nasional. Hal ini
disebabkan meningkatnya promosi yang mendorong orang untuk berprilaku
positif terhadap alam dan berkeinginan untuk mengunjungi kawasan-kawasan
yang masih alami agar dapat meningkatkan kesadaran, penghargaan dan
kepeduliannya terhadap alam, nilai-nilai sejarah dan budaya setempat.
5. Ekonomi. Ekowisata memberikan peluang untuk mendapatkan keuntungan
bagi penyelenggara, pemerintah dan masyarakat setempat melalui kegiatan-
kegiatan yang non ekstraktif, sehingga meningkatkan perekonomian daerah
setempat. Penyelenggaraan yang memperhatikan kaidah-kaidah ekowisata
mewujudkan ekonomi berkelanjutan.
lingkungan. Hal ini lebih banyak didasarkan pada komitmen terhadap upaya
pelestarian lingkungan, pengembangan ekonomi dan pemberdayaan
masyarakat secara berkelanjutan.
konservasi yang mengedepankan upaya menjaga kelangsungan pemanfaatan
sumber daya alam untuk waktu kini dan mendatang. Area alami suatu ekosistem
sungai, danau, rawa, gambut, daerah hulu atau muara sungai dapat dimanfaatkan
untuk kegiatan ekowisata melalui pendekatan yang dapat menjamin kelestarian
ekosistem dan proses ekologis di dalamnya. Kemudian pendekatan lainnya adalah
pendekatan pada keberpihakan kepada masyarakat setempat agar mampu
25
(Fandeli, 2000).
pengembangan ekowisata yang mendukung dan memungkinkan keterlibatan
penuh oleh masyarakat setempat dalam perencanaan, pelaksanaan dan
pengelolaan usaha ekowisata dan segala keuntungan yang diperoleh. Ekowisata
berbasis komunitas merupakan usaha ekowisata yang menitikberatkan peran aktif
masyarakat (komunitas). Hal tersebut didasarkan kepada kenyataan bahwa
masyarakat memiliki pengetahuan tentang alam serta budaya yang menjadi
potensi dan nilai jual sebagai daya tarik wisata, sehingga pelibatan masyarakat
menjadi mutlak. Pola ekowisata berbasis komunitas mengakui hak masyarakat
lokal dalam mengelola kegiatan wisata di kawasan yang mereka miliki secara adat
maupun sebagai pengelola. Ekowisata berbasis komunitas dapat menciptakan
kesempatan kerja bagi masyarakat setempat dan mengurangi kemiskinan dimana
penghasilan ekowisata adalah dari jasa-jasa wisata untuk turis. Ekowisata
membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli
setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan
rasa bangga antar penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan
ekowisata.
yang sangat penting sekaligus kompleks dalam pelaksanaan ekowisata berbasis
komunitas. Ekowisata berbasis komunitas membutuhkan pengertian dan
26
sumberdaya dan pembangunan, serta menyediakan kegiatan-kegiatan yang dapat
menstimulus masyarakat untuk mendapatkan pendapatan dari kegiatan wisata.
Sangat penting diingat bahwa ekowisata adalah kegiatan bisnis, sebagaimana
terdapat inisiatif masyarakat, usaha-usaha kecil dan investasi di dalamnya yang
bila memungkinkan harus memadai antara struktur yang menyediakan keuntungan
ekonomi bagi komunitas serta penguatan lembaga agar masyarakat dapat
mengambil keputusan dalam pelaksanaan kegiatan wisata alam di wilayahnya.
Strategi yang ada dalam merencanakan kegiatan ekowisata harus
berdasarkan usulan masyarakat dan berfokus untuk masyarakat, sebab masyarakat
setempatlah yang akan merasakan langsung dampak dari kegiatan yang akan
dilakukan nantinya. Namun diperlukan pula orang-orang yang memiliki
pengalaman dan pengetahuan dalam hal pariwisata dan konservasi dalam
persiapan kegiatan ekowisata tersebut. Orang-orang yang terlibat harus memiliki
kemampuan pendekatan terhadap masyarakat lokal, pandai dalam menjalankan
kegiatan wisata, berjiwa entrepreneur, serta merupakan pemegang kebijaksanaan
lokal. Selain itu, yang terpenting adalah prinsip edukasi, ekonomi dan ekologi
dapat berjalan di dalam pelaksanaannya (Denman, 2001).
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan WWF (2009), menyebutkan
beberapa aspek kunci dalam ekowisata khususnya yang berbasis komunitas, yaitu:
1. Jumlah pengunjung terbatas atau diatur supaya sesuai dengan daya dukung
lingkungan dan sosial-budaya masyarakat (versus mass tourism).
2. Pola wisata ramah lingkungan (nilai konservasi).
27
3. Pola wisata ramah budaya dan adat setempat (nilai edukasi dan wisata).
4. Membantu secara langsung perekonomian masyarakat lokal (nilai ekonomi).
5. Modal awal yang diperlukan untuk infrastruktur tidak besar (nilai partisipasi
masyarakat dan ekonomi).
1. Konservasi
a. Pemanfaatan keanekaragaman hayati tidak merusak sumber daya alam itu
sendiri.
kegiatannya bersifat ramah lingkungan.
c. Dapat dijadikan sumber dana yang besar untuk membiayai pembangunan
konservasi.
d. Dapat memanfaatkan sumberdaya lokal secara lestari
e. Meningkatkan daya dorong yang sangat besar bagi pihak swasta untuk
berperan serta dalam program konservasi, mendukung upaya pengawetan jenis.
2. Pendidikan
tentang perlunya upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
3. Ekonomi
penyelenggara ekowisata dan masyarakat setempat.
b. Dapat memacu pembangunan wilayah, baik di tingkat lokal, regional maupun
28
nasional.
d. Dampak ekonomi secara luas juga harus dirasakan oleh kabupaten/kota,
provinsi bahkan nasional.
b. Pelibatan masyarakat sekitar kawasan sejak proses perencanaan hingga tahap
peleksanaan serta monitoring dan evaluasi.
c. Menggugah prakarsa dan aspirasi masyarakat setempat untuk pengembangan
ekowisata.
d. Memperhatikan kearifan tradisional dan kekhasan daerah setempat agar tidak
terjadi benturan kepentingan dengan kondisi sosial budaya setempat.
e. Menyediakan peluang usaha dan kesempatan kerja semaksimal mungkin bagi
masyarakat sekitar kawasan.
pengunjung. Hal tersebut bisa di akses pengunjung melalui papan informasi,
brosur wisata, website, blog dan pemandu wisata setempat.
b. Kesempatan menikmati pengalaman wisata dalam lokasi yang mempunyai
fungsi konservasi.
lingkungan.
29
populer untuk upaya konservasi sumberdaya hayati. Ada banyak contoh kegiatan
yang menghasilkan keuntungan bagi masyarakat lokal dan meningkatkan
kepedulian terhadap konservasi, namun kontribusi dari ekowisata berbasis
komunitas terhadap konservasi dan pembangunan ekonomi lokal terbatas. Hal
tersebut tergantung dari beberapa faktor, seperti wilayah yang kecil, hanya sedikit
masyarakat yang terlibat, penghasilan masyarakat yang tidak menentu, hubungan
yang lemah antara keuntungan dari sumberdaya hayati dan kesuksesan komersial,
serta alam yang kompetitif dan terspesialisasi oleh industri pariwisata. Banyak
kegiatan ekowisata berbasis komunitas yang sukses, khususnya apabila hanya
terdapat sedikit perubahan pada wilayah alami lokal dan praktek pemanfaatan
sumber daya alam, menyediakan kebutuhan hanya bagi kehidupan masyarakat
lokal dan tetap bergantung pada dukungan eksternal untuk jangka waktu yang
lama.
30
Penelitian ini dilaksanakan selama 2 (dua) bulan, yaitu bulan Oktober
sampai dengan bulan Desember 2012. Lokasi penelitian yaitu di Desa Batanguru,
Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat.
B. Alat dan Bahan Penelitian
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Global Positionong System (GPS), digunakan untuk mengetahui koordinat
posisi, arah, jarak tempuh, rata-rata kecepatan dan pemetaan.
2. Jam digital dan stopwatch untuk mencatat waktu tempuh.
3. Kamera digital dan video dengan lensa tele 18/200, digunakan untuk
pengamatan burung dan mendokumentasikan objek serta kegiatan di lokasi
penelitian.
4. Perekam suara, digunakan untuk merekam hasil wawancara.
5. Alat tulis menulis, digunakan untuk mencatat segala data dan informasi yang
diperoleh di lokasi penelitian.
6. Tally sheet, untuk mengisi segala informasi yang terdapat di lokasi penelitian.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Peta wilayah Desa Batanguru, digunakan sebagai pedoman di lapangan dalam
penentuan rencana pengembangan kegiatan wisata di lokasi penelitian.
2. Buku panduan lapangan burung-burung di Sulawesi, sebagai panduan dalam
31
3. Kuesioner dan panduan wawancara untuk warga sekitar, calon wisatawan,
dan tokoh masyarakat setempat, digunakan sebagai pedoman dalam
mengumpulkan informasi terkait dengan objek penelitian.
C. Objek Penelitian
ekowisata di Desa Batanguru yang meliputi:
1. Aspek Potensi Ekowisata. Variabel yang dikumpulkan terdiri atas:
a. Kondisi biologi, dengan fokus utama meliputi keanekaragaman jenis
burung.
c. Obyek wisata yang dapat dikembangkan, meliputi jenis dan keunikan.
2. Aspek Calon Wisatawan. Variabel yang dikumpulkan terdiri atas:
a. Karakteristik calon wisatawan potensial, meliputi profil calon pengunjung
atau masyarakat umum (jenis kelamin, umur, pekerjaan, pendidikan).
b. Persepsi calon wisatawan potensial, meliputi pengetahuan akan
mikrohidro dan ekowisata, serta tipe/motivasi kunjungan yang ingin
dilakukan atau diharapkan dan waktu-waktu kunjungan.
3. Aspek Masyarakat. Variabel yang dikumpulkan yaitu potensi masyarakat untuk
pelaksanaan ekowisata, seperti pengetahuan masyarakat tentang kegiatan
ekowisata dan berapa besar minat masyarakat serta kelompok masyarakat yang
ada untuk perencanaan pengelolaan ekowisata.
32
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey.
Sumber data dalam penelitian ini meliputi:
1. Data primer, yaitu data yang diambil langsung dari lapangan, berupa
pengambilan data keanekaragaman jenis burung, data koordinat potensi
ekowisata, wawancara, kuesioner dan dokumentasi.
2. Data sekunder, yaitu data pendukung bagi penelitian, yaitu data yang diperoleh
dari literatur dan penelitian sebelumnya mengenai mikrohidro, kondisi fisik
dasar, profil masyarakat lokal, serta peta Desa Batanguru.
E. Metode Pelaksanaan
1. Orientasi Lapangan
penelitian dapat terstruktur dengan baik. Kegiatan orientasi lapangan ini dilakukan
selama satu minggu, mulai tanggal 10-17 Oktober 2012 di Desa Batanguru,
Kabupaten Mamasa.
pada tiga lokasi berbeda, kuesioner dan pengambilan titik koordinat potensi
ekowisata. Pengumpulan data tersebut dilakukan selama satu bulan.
33
Pengumpulan data jenis burung dilakukan pada 3 jalur yang memiliki
peruntukan lahan berbeda-beda. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data
jenis burung antara lain metode line transect pada dua jalur pengamatan dan count
point pada beberapa plot pengamatan.
1.) Metode Line Transect
Metode line transect dilakukan pada dua lokasi yang berbeda. Jalur line
transect 1, meliputi tepi hutan sekunder yang berbatasan dengan sungai, ladang
dan areal persawahan. Sedangkan untuk jalur line transect 2, meliputi jalan poros
desa yang berbatasan dengan pemukiman penduduk, hutan pinus, sungai, semak
dan areal persawahan. Prosedur pengumpulan data jenis burung menggunakan
metode line transek yaitu dengan membuat satu jalur line transek sepanjang 2 km
dan lebar 50 m. Di sepanjang 2 km itu, dilakukan pengamatan di tengah transek
(sambil berjalan) tiap 200 m, kemudian hasil pengamatan burung yang ditemukan
baik secara langsung maupun tidak langsung (dengan suara) di catat pada tally
sheet yang berisi informasi mengenai titik koordinat GPS awal dan akhir dari
masing-masing jalur trekking, waktu awal dan akhir pengumpulan data, cuaca,
ketinggian lokasi, jenis burung, jumlah burung, waktu kemunculan burung,
bentuk penampakan fisik ataupun suara dan aktivitas, lalu di dokumentasikan.
Pengumpulan data jenis burung tersebut dilakukan dua kali sehari, yaitu pada pagi
dan sore hari antara pukul 07.30 – 10.30 Wita dan pukul 15.00 - 18.00 Wita
sebanyak tiga kali pengulangan untuk masig-masing jalur pengamatan. Plot
34
pengamatan fauna dengan metode line transek dapat dilihat pada gambar di
bawah ini :
Gambar 1. Jalur Pengumpulan Data Jenis Burung dengan Metode Line Transect
2.) Metode Count Point
pada areal persawahan dengan membuat plot berbentuk lingkaran berdiameter 50
m (jari-jari 25 m). Masing-masing plot berjarak 150 m dengan jumlah plot
sebanyak 5 buah. Pengamatan dilakukan pada titik tengah masing-masing plot
selama 10 menit. Hasil pengamatan burung yang ditemukan baik secara langsung
maupun tidak langsung (dengan suara) di catat pada tally sheet yang beisi
informasi mengenai titik koordinat GPS dari masing-masing plot, waktu awal dan
akhir pengumpulan data, cuaca, ketinggian lokasi, jenis burung, jumlah, waktu
kemunculan burung, bentuk penampakan fisik ataupun suara dan aktivitas,
kemudian di dokumentasikan. Pengumpulan data jenis burung tersebut dilakukan
dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari antara pukul 08.00 – 09.30 Wita dan
pukul 15.00 – 16.30 Wita sebanyak tiga kali pengulangan untuk masig-masing
35
point pengamatan. Plot pengamatan burung dengan metode count point dapat
dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar 2. Plot pengamatan burung dengan metode count point
b. Kuesioner dan Wawancara
berbeda, yaitu masyarakat Desa Batanguru sebanyak 20 responden dan calon
wisawatan potensial sebanyak 20 responden secara acak. Penyebaran kuesioner
dan wawancara untuk penduduk Desa Batanguru bertujuan untuk memperoleh
informasi lebih lanjut dalam identifikasi potensi kelembagaan, seperti
karakteristik masyarakat, persepsi masyarakat, partisipasi serta keinginan dan
harapan masyarakat. Sedangkan penyebaran kuesioner untuk calon wisatawan
potensial bertujuan untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai
karakteristik calon wisatawan potensial, serta persepsi calon wisatawan potensial.
c. Data Koordinat
geografis mengenai perencanaan lokasi ekowisata. Informasi tersebut berisi potesi
25 m 25 m 25 m 25 m 150 m
36
objek wisata, seperti jalur trekking, point pengamatan burung, area untuk wisata
hiburan dan rekreasi, lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH),
bengkel turbin dan data sosial budaya.
3. Analisis Data
a. Jenis Burung
melakukan input data dengan menggunakan sejumlah rumus.
1.) Indeks Keanekaragaman Jenis (H’)
Keanekaragaman jenis suatu individu dapat ditentukan dengan
menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener:
Untuk menentukan keanekaragaman jenis burung, maka digunakan
klasifikasi nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener pada Tabel 1.
Tabel 1. Klasifikasi Nilai Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener
Nilai Indeks Kategori
tinggi dan kestabilan komunitas tinggi
1 – 3 Keanekaragaman sedang, penyebaran jumlah individu tiap jenis
sedang dan kestabilan komunitas sedang
< 1 Keanekaragaman rendah, penyebaran jumlah individu tiap jenis
rendah dan kestabilan komunitas rendah
37
Indeks kekayaan jenis burung dapat diketahui dengan rumus sebagai
berikut:
n = Jumlah total individu
yang sama dengan nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener.
3.) Indeks Kemerataan Jenis (E)
Untuk mengetahui derajat kemerataan jenis pada lokasi pengambilan data
jenis burung digunakan rumus sebagai berikut:
E = _H’
Ln S
S = Jumlah jenis yang ditemukan
Apabila nilai E mendekati 1 (satu) maka dikatakan merata, sedangkan jika
nilai E mendekati 0 (nol) maka dikatakan tidak merata.
38
yang diajukan kepada responden digunakan rumus sebagai berikut:
f
program ArcGIS 10, maka akan ditemukan gambaran Desa Batanguru beserta
informasi potensi ekowisatanya. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk
menentukan di wilayah bagian mana dari Desa Batanguru yang potensial untuk
kegiatan ekowisata, seperti seperti jalur trekking, point pengamatan burung, area
untuk wisata hiburan dan rekreasi, lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro
(PLTMH), bengkel turbin dan data sosial budaya.
39
1. Letak dan Luas
Desa Batanguru merupakan salah satu dari delapan desa dan dua kelurahan
yang terletak di Kecamatan Sumarorong, Kabupatan Mamasa, Provinsi Sulawesi
Barat. Desa Batanguru memiliki luas area sebesar 30,90 km 2 (3.090 ha) yang
terletak antara 03°10'51.28" Lintang Selatan (LS) dan 119°24'3.52" Bujur Timur
(BT). Terdapat empat dusun di Desa Batanguru, yaitu Dusun Ratte, Dusun
Salubungin, Dusun Minanga dan Dusun Kollonglau.
Adapun batas-batas Desa Batanguru adalah sebagai berikut:
(a) Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Banea
(b) Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Batanguru Timur
(c) Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Tabone
(d) Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Banea
2. Topografi
Batanguru memiliki keadaan topografi yang bergelombang karena wilayahnya
yang bergunung-gunung dan terjal. Desa ini berada pada ketinggian 900-1000
meter di atas permukaan laut dengan kelerengan terjal, yaitu >40%.
40
Jenis tanah yang terdapat di Desa Batanguru adalah Dystropepts yang
merupakan jenis tanah golongan inceptisol. Tanah ini tergolong tanah muda yang
mengalami tahap perkembangan lebih lanjut. Jenis inceptisol dicirikan oleh
adanya perkembangan pencucian hara dan liat pada lapisan atas dan penimbunan
bahan-bahan tersebut pada lapisan bawah yang belum intensif. Warna tanah
lapisan atas bervariasi, mulai dari coklat sampai coklat kekuningan dan lapisan
bawah coklat kekuningan sampai merah. Tekstur bervariasi dari liat sampai
lempung berpasir, struktur bergumpal agak bersudut, konsistensi teguh (lembab),
lekat dan plastis. Kedalaman tanah dangkal sampai dalam (Dishut, 2011).
Wilayah Desa Batanguru di dominasi oleh batuan granite, rhyolite dan
granodiorite. Jenis batuan granite dan rhyolite merupakan batuan beku asam tipe
intrusive dengan kandungan asam silikon dioksida (SiO2) lebih besar dari 66%.
Sedangkan jenis batuan granodiorite adalah batuan beku intermediate dengan
kandungan asam silikon dioksida (SiO2) antara 45-66% dan bersifat intrusive.
Kata grano tersebut menggambarkan kenampakan mineral-mineral penyusun
batuan yang memiliki bidang kristal yang jelas (Dishut, 2011).
4. Iklim dan Curah Hujan
Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, wilayah Desa Batanguru
termasuk daerah dengan tipe iklim A (sangat basah). Desa tersebut dan desa-desa
sekitarnya yang termasuk dalam Kecamatan Sumarorong memiliki jumlah bulan
basah selama 12 bulan. Hasil analisis data curah hujan bulanan dan tahunan
41
selama 10 tahun terakhir (2001-2011) di Kecamatan Sumarorong disajikan dalam
Tabel 2. Dari tabel tersebut, dapat diketahui perbandingan curah hujan di Desa
Batanguru yang merupakan bagian dari Kecamatan Sumarorong pada ke empat
stasiun pengamatan yang ada. Perbandingan rata- rata bulan kering, bulan basah
dan bulan lembab berdasarkan pengklasifikasian dari Schmidt dan Ferguson
adalah sebagai berikut :
(a) Bulan Kering (BK) dengan curah hujan setiap bulan di bawah 60 mm.
(b) Bulan Lembab (BL) dengan curah hujan setiap bulan antara 60 mm – 100 mm.
(c) Bulan Basah (BB) dengan curah hujan setiap bulan lebih besar dari 100 mm.
Tabel 2. Rata-rata Curah Hujan Bulanan Kecamatan Sumarorong Tahun 2001-
2011
No
Curah
Hujan
(mm)
Stasiun
1 Jan 147 231 154 328 860 215
2 Feb 162 186 132 262 742 185.5
3 Mar 198 213 245 271 927 231.75
4 Apr 267 356 402 330 1355 338.75
5 Mei 253 331 185 349 1118 279.5
6 Jun 205 236 158 234 833 208.25
7 Jul 141 220 134 159 654 163.5
8 Agt 119 205 71 99 494 123.5
9 Sept 115 251 100 143 609 152.25
10 Okt 137 214 125 180 656 164
11 Nov 208 247 216 276 947 236.75
12 Des 170 264 213 314 961 240.25
Jumlah 2122 2954 2135 2945 10156 2539
Rata-Rata 176.83 246.16 177.91 245.41 846.33 211.58 Sumber: Stasiun Klimatologi Kabupaten Mamasa, 2011.
42
Jenis penggunaan lahan di Desa Batanguru berupa tegalan, kebun
campuran, hutan tanaman Pinus merkusii, hutan alam yang masih sangat perawan
serta heterogen, sawah dan semak belukar. Tegalan umumnya dijumpai pada
kemiringan >40% dengan jenis tanaman pangan yang umumnya kurang dari satu
tahun masa tanam seperti padi, kacang tanah, ubi kayu, ubi jalar, jagung dan lain
sebagainya. Jenis tanaman pangan tersebut biasanya ditanam pada awal musim
hujan. Tanaman dominan yang dapat dijumpai pada kebun campuran di Desa
Batanguru adalah kopi Robusta (Coffea robusta), kopi Arabica (Coffea arabica),
kakao (Theobroma cacao) dan cengkeh (Syzygium aromaticum), namun luasnya
masih sangat terbatas.
Sawah yang terdapat di Desa Batanguru merupakan sawah pasang surut
teknis yang mengandalkan sistem irigasi dan hujan. Sawah tersebut umumnya
menempati teras sungai dan kaki bukit. Selain itu, terdapat semak dan belukar
yang umumnya dapat dijumpai pada tegalan atau ladang yang ditinggal oleh
penggarap pada wilayah Desa Batanguru. Semak dan belukar adalah jenis
pertumbuhan sekunder yang belum mencapai kategori hutan dan mempunyai
tingkat penutupan lahan yang cukup tinggi dibanding yang lainnya, sebab hal
tersebut umum dijumpai pada kelerengan >40%. Luas wilayah Desa Batanguru
menurut jenis penggunaan lahannya dapat dilihat pada Tabel 3.
43
Tabel 3. Luas Lahan Menurut Jenis Penggunaan di Desa Batanguru
Jenis Penggunaan Lahan Luas Wilayah (Km 2 )
Sawah 1,06
Tegalan 1,2
Pekarangan 0,27
Perkebunan 2,4
6. Hidrologi dan Sungai
permanen yang mengalir secara konsekuen setiap tahun. Sungai yang melintasi
Desa Batanguru adalah Sungai Batanguru yang merupakan anak Sungai Mamasa.
Aliran air sungai tersebut dimanfaatkan sebagai sumber Pembangkit Listrik
Tenaga Mikrohidro (PLTMH) lokal yang menghasilkan energi listrik
menggunakan bantuan turbin. Selain itu, aliran sungai tersebut juga dipakai untuk
irigasi persawahan bagi penduduk setempat. Selain Sungai Batanguru, Desa
Batanguru dibatasi oleh Sungai Banea, yang menjadi batas antara Desa Batanguru
dengan Desa Banea.
Desa Batanguru berjarak sekitar 290 Km dari Kota Makassar, Provinsi
Sulawesi Selatan yang dapat di akses melalui jalur darat dengan menggunakan
mobil pribadi ataupun bus selama sepuluh jam. Jarak dan kondisi jalan dapat
dilihat pada Tabel 4.
44
Tabel 4. Jarak dan Kondisi Jalan dari Kota Makassar ke Desa Batanguru
No. Provinsi Kota/Kabupaten Kota/Kabupaten Jarak
(Km)
Kondisi
Jalan
1
Sulawesi
Selatan
2 Maros Pangkep 21
(dalam perbaikan)
(baik)
(baik)
Selain melalui jalur darat dari Kota Makassar, Desa Batanguru Kabupaten
Mamasa dapat di tempuh lewat jalur udara dengan pesawat, melalui Bandar Udara
Tampapadang yang berada di Kecamatan Kaluku, Kabupaten Mamuju yang
berjarak sekitar 35 Km dari Kota Mamuju. Dari Kota Mamuju, perjalanan
dilanjutkan ke Kota Mamasa sejauh 120 Km melalui Desa Le’beng, Lahakang,
Aralle, Mambi dan Mala’bo’ dengan menggunakan kendaraan offroad roda empat
selama kurang lebih 6 jam, dikarenakan kondisi jalan yang sempit dan rusak
parah. Saat ini, Pemerintah Sulawesi Barat membangun jalan beton di jalur trans
Sulawesi antara Kabupaten Mamuju menuju Kabupaten Mamasa sepanjang 60
Km, demi memaksimalkan arus transportasi dari kedua Kabupaten tersebut yang
kini ditetapkan menjadi daerah tujuan wisata Sulawesi Barat. Selain jalur udara
melalui Mamuju, Desa Batanguru, Kabupaten Mamasa dapat di akses melalui
Pelabuhan Belang-Belang yang jaraknya sekitar 20 Km dari Bandar Udara
45
Tampapadang dan sekitar 48 Km dari Kota Mamuju. Untuk memudahkan akses
menuju Kabupaten Mamasa, saat ini Pemerintah Kabupaten Mamasa sedang
merencanakan pembangunan Bandar Udara Sumarorong, di Kecamatan
Sumarorong untuk memacu peningkatan perekonomian di Kabupaten Mamasa,
khususnya dalam bidang pariwisata.
Desa Batanguru berjarak kurang lebih 14 Km dari Ibukota Kecamatan
Sumarorong, dimana aksesibilitasnya kurang baik karena jalanan poros beraspal
sudah berlubang-lubang dan pada beberapa titik rawan longsor. Namun pada
jalan masuk ke Desa Batanguru melalui Desa Tabone sudah dilakukan
pengecoran sepanjang 1 Km, serta sedang dilakukan pembangunan jembatan
permanen, dari sebelumnya hanya jembatan kayu untuk pengguna kendaraan
bermotor.
Gambar 3. Kondisi Jalan di Desa Batanguru
Jarak dari Desa Batanguru ke Ibukota Kabupaten Mamasa sejauh 50 Km
dapat di tempuh selama kurang lebih tiga jam, dikarenakan kondisi jalanan yang
kurang memadai, sebagian jalan beraspal namun kondisinya sudah berlubang,
sedangkan sebagian ruas jalan belum di aspal. Jarak dari Desa Batanguru ke
Ibukota Provinsi Mamuju dapat di tempuh sejauh 288 Km melalui Ibukota
Kabupaten Mamasa. Selain dapat diakses melalui jalur laut dan udara melalui
46
Kabupaten Mamuju, serta jalur darat melalui Polewali dan Kota Mamasa, Desa
Batanguru juga dapat diakses melalui Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi
Selatan selama dua hingga tiga hari dengan berjalan kaki (trekking).
Rute pada hari pertama melalui Kabupaten Tana Toraja, jalur yang
dilewati adalah dari Kota Makale, Ibukota Tana Toraja menuju Kelurahan
Bittuang di Kecamatan Bittuang sejauh 40 Km, selama kurang lebih tiga jam
dengan menggunakan kendaraan roda empat. Sepanjang jalan dari Kota Makale,
kondisi jalan cukup baik namun, memasuki Kecamatan Bittuang, kondisi jalan
kurang memadai, karena sebagian jalan belum di aspal. Setelah itu, perjalanan
dilanjutkan dengan berjalan kaki (trekking) menyusuri wilayah desa, hutan dan
perbukitan sejauh 16 Km menuju Desa Paku yang terletak di Kecamatan
Masanda. Desa tersebut dapat ditempuh selama tiga hingga empat jam berjalan
kaki. Di beberapa check point, terdapat sejumlah desa yang memiliki penginapan
(homestay) sederhana untuk para wisatawan yang ingin menginap dan makan.
Pada rute hari kedua, perjalanan dari Desa Paku dilanjutkan sejauh 7 Km
selama kurang lebih dua jam menuju Desa Pondingao’, yang berbatasan langsung
dengan Kecamatan Tabang, Kabupaten Mamasa. Perjalanan dari Desa Podingao’
menuju Kelurahan Tabang, Kecamatan Tabang adalah sejauh 5 Km yang dapat
ditempuh kurang lebih selama 1,5 jam melalui jalan setapak, melewati sungai,
pedesaan dan persawahan. Setelah melewati Kecamatan Tabang, perjalanan
dilanjutkan menuju Kelurahan Pana, Kecamatan Pana sejauh 7 Km. Wisatawan
dapat memilih penginapan ataupun rumah warga untuk beristirahat dan
melanjutkan perjalanan esok hari. Selain dengan berjalan kaki, perjalanan
47
masyarakat setempat menuju ke Mamasa.
Pada rute hari ketiga, perjalanan dari Kecamatan Pana dilanjutkan sejauh
16 Km menuju Kelurahan Nosu, Kecamatan Nosu sejauh kurang lebih empat jam
melalaui wilayah hutan dan perbukitan. Dari Nosu, perjalanan menuju Desa
Batanguru, Kecamatan Sumarorong dapat ditempuh dengan menggunakan bus,
mobil pribadi, mobil offroad ataupun sepeda motor sejauh 12 Km yang dapat
ditempuh selama kurang lebih dua jam. Kondisi jalan yang dilalui berbukit-bukit
dengan jurang-jurang terjal dan jalanan yang belum di aspal. Sepanjang
perjalanan dari Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan menuju Desa
Batanguru, wisatawan dapat menikmati pemandangan alam berupa sungai,
pegunungan dan perbukitan, hutan, persawahan dan pedesaan.
8. Sarana dan Prasarana
diperuntukkan bagi masyarakat setempat. Jenis serta jumlah sarana dan prasarana
tersebut dapat dilihat dalam Tabel 5.
Tabel 5. Sarana dan Prasarana di Desa Batanguru
No. Uraian Jumlah
2. Jembatan 1
7. Puskesmas 1
8. Posyandu 1
1. Penduduk
Jumlah penduduk Desa Batanguru adalah 1105 orang yang terdiri atas 579
orang laki-laki dan 526 orang perempuan, dengan jumlah Kepala Keluarga (KK)
sebanyak 247 KK. Rincian jumlah penduduk pada empat dusun di Desa
Batanguru disajikan dalam Tabel 6.
Tabel 6. Jumlah Penduduk di Desa Batanguru
No DUSUN JUMLAH KELOMPOK USIA (TAHUN)
KK LK PR 0-6 7-12 13-18 19-24 25-55 56-60 > 60
1 Ratte 65 129 128 20 25 36 50 66 42 25
2 Salubungin 67 185 147 21 32 46 52 87 60 30
3 Minanga 53 117 109 18 19 28 48 66 30 16
4 Kollonglau 62 148 142 16 22 31 47 80 62 30
TOTAL 247 579 526 75 98 141 197 299 194 101
Sumber: Kantor Desa Batanguru, 2011
2. Mata Pencaharian
coklat, padi, vanili dan cengkeh. Sebagian kecil penduduk Desa Batanguru
berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pedagang. Selain itu terdapat
beberapa industri rumah tangga seperti industri meubel, tenun, CV. Hidro
Batanguru (bengkel turbin mikrohidro), adapula yang beternak sapi, kerbau dan
babi. Jenis-jenis mata pencahariaan penduduk di Desa Batanguru disajikan dalam
Tabel 7.
No DUSUN
Bengkel
3 Minanga 200 3 4 16 - 8 1
4 Kollonglau 225 - - 14 - 5 -
TOTAL 960 10 14 54 2 40 5
Sumber: Kantor Desa Batanguru, 2011
3. Pendidikan
Sebagian besar masyarakat Desa Batanguru mengenyam pendidikan di
tingkat Sekolah Dasar (SD) karena di Desa Batanguru hanya terdapat dua SD di
Dusun Ratte dan Dusun Minanga, yaitu Sekolah Dasar Negeri (SDN) 004 dan
SDN 009. Untuk melanjutkan tingkat pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,
masyarakat usia sekolah melanjutkan pendidikannya di Kecamatan Sumarorong.
Adapula penduduk yang melanjutkan perkuliahan pada jenjang perguruan tinggi
(S1) di luar Kabupaten Mamasa. Jumlah masyarakat yang mengenyam
pendidikan di Desa Batanguru dapat di lihat dalam Tabel 8.
Tabel 8. Jenjang Pendidikan di Desa Batanguru
No DUSUN JENJANG PENDIDIKAN (ORANG)
SD SMP SMA S1
4 Kollonglau 20 5 - -
Sebagian besar penduduk di desa Batanguru menganut agama Kristen
Protestan. Agama lain yang dianut oleh penduduk Desa Batanguru adalah Kristen
Katolik, Islam dan agama tradisional leluhur Ada’ Mappurondo atau Aluk
50
Tomatua. Nama “Ada’” sama saja dengan kata “Aluk” yaitu “Aturan” yang harus
ditaati manusia. Kata “Mappurondo” Berarti “Lisan”. Maka “Ada’ Mappurondo”
adalah suatu ajaran yang diturunkan dari generasi ke generasi secara lisan”, tidak
tertulis.
rumah, pemakaman serta upacara-upacara adat, seperti pesta kematian
(pa’tomatean) dan pesta adat lainnya, seperti pernikahan (basse pentabenan).
Rincian jumlah penganut agama di Desa Batanguru disajikan dalam Tabel 9.
Tabel 9. Jumlah Penganut Agama di Desa Batanguru
No AGAMA JUMLAH
TOTAL 1105
51
penelitian di Desa Batanguru Kabupaten Mamasa, dijumpai sumberdaya alam,
meliputi keanekaragaman jenis burung, sungai yang dimanfaatkan untuk PLTMH.
Selain itu, terdapat pula kebudayaan setempat, meliputi pemakaman tradisional,
upacara adat dan kerajinan tradisional seperti sarung tenun dan tas anyaman.
Sumberdaya alam dan kebudayaan tersebut berpotensi untuk dijadikan sebagai
bagian dari paket ekowisata yang nantinya akan dilaksanakan di Desa Batanguru.
Gambar 4. Peta Potensi Ekowisata di Desa Batanguru
52
Berdasarkan hasil pengambilan data yang dilakukan pada tiga lokasi
berbeda di Desa Batanguru, dijumpai 30 jenis burung yang beberapa di antaranya
adalah jenis endemik di Pulau Sulawesi. Jenis entemik tersebut yakni Blibong
Pendeta (Streptocitta albicollis), Jalak Alis Api (Enodes erythrophris), Gagak
Sulawesi (Corvus typicus), Kacamata Makassar (Zosterops anomalus), Walet
Maluku (Collocalia infuscata), Cikrak Sulawesi (Phylloscopus sarasinorum),
Punggok Tutul (Ninox punctulata) dan Ceret Coklat (Bradypterus castaneus).
Berdasarkan hasil pengambilan data di lapangan, jenis burung yang paling
banyak dijumpai pada jalur 1 adalah Walet Sapi (Collocalia esculenta) sebanyak
144 ekor. Sedangkan jenis burung yang paling sedikit dijumpai selama
pengambilan data di jalur 1 adalah Uncal Ambon (Macropygia amboinensis),
Myzomela Merah-tua (Myzomela sanguinolenta) dan Decu Belang (Saxicola
caprata), masing-masing sebanyak 1 ekor. Pada jalur 2, diketahui bahwa jenis
burung yang paling banyak dijumpai selama pengambilan data adalah Walet Sapi
(Collocalia esculenta) sebanyak 79 ekor, Walet Maluku (Collocalia infuscata)
sebanyak 57 ekor dan Kacamata Gunung (Zosterops montanus) sebanyak 44 ekor.
Sedangkan jenis burung yang paling sedikit dijumpai selama pengambilan data di
jalur 2 adalah Elang Kelabu (Butastur indicus), Burung-madu Sriganti (Nectarinia
jugularis), Punggok Tutul (Ninox punctulata) dan Burung-gereja Erasia (Passer
montanus), masing-masing sebanyak 1 ekor. Sedangkan pada jalur 3, diketahui
bahwa jenis burung yang paling banyak dijumpai selama pengambilan data adalah
Walet Sapi (Collocalia esculenta) sebanyak 94 ekor dan Blekok Sawah (Ardeola
53
speciosa) sebanyak 20 ekor. Sedangkan jenis burung yang paling sedikit dijumpai
selama pengambilan data di jalur 3 adalah Cici Merah (Cisticola exilis), Cekakak
Sungai (Halcyon chloris) dan Sikep-Madu Sulawesi (Pernis celebensis), masing-
masing sebanyak 2 ekor. Jumlah keseluruhan jenis burung pada jalur
pengambilan data di Desa Batanguru dapat dilihat pada Tabel 10, sedangkan hasil
perhitungan nilai indeks ekologi pada ketiga jalur pengambilan data diperlihatkan
pada Tabel 11.
Tabel 10. Jumlah Keseluruhan Jenis Burung yang Dijumpai pada Tiap Jalur
Pengambilan Data di Desa Batanguru
No. Nama Ilmiah Nama Umum Jalur 1 Jalur 2 Jalur 3
1 Collocalia esculenta Walet Sapi 144 79 94
2 Zosterops montanus Kacamata Gunung 43 44 10
3 Corvus enca Gagak Hutan 7 7 5
4 Haliastur indus Elang Bondol 8 4 3
5 Halcyon chloris Cekakak Sungai 3 5 2
6 Pernis Celebensis Sikep-madu Sulawesi 2 5 2
7 Collocalia infuscata Walet Maluku 20 57 -
8 Orthotomus cuculatus Cinenen Gunung 9 14 -
9 Corvus typicus Gagak Sulawesi 6 2 -
10 Butastur indicus Elang Kelabu 3 1 -
11 Macropygia amboinensis Uncal Ambon 1 2 -
12 Myzomela sanguinolenta Myzomela Merah-tua 1 2 -
13 Phylloscopus sarasinorum Cikrak Sulawesi - 21 16
14 Cisticola exilis Cici Merah 6 - 2
15 Culicicapa helianthea Sikatan Matari 17 - -
16 Lonchura malacca Bodol Rawa 15 - -
17 Motacilla cinerea Kicuit Batu 9 - -
18 Enodes erythrophris Jalak Alis-api 8 - -
19 Dendrocygna arcuata Belibis Kembang 7 - -
20 Streptocitta albicollis Blibong Pendeta 4 - -
21 Saxicola caprata Decu Belang 1 - -
54
TOTAL 314 258 166
Tabel 11. Indeks Ekologi pada Tiap Jalur Pengambilan Data di Desa Batanguru
No. Jalur Pengambilan Data R E H'
1 Jalur 1 1,13 0,68 2,05
2 Jalur 2 1,18 0,70 2,06
3 Jalur 3 0,85 0,64 1,55
Berdasarkan data pada Tabel 11, diketahui bahwa nilai indeks
keanekaragaman jenis burung (H’) pada jalur pengambilan data 3 lebih rendah
dibandingkan dengan kedua jalur lainnya. Hal tersebut disebabkan karena tutupan
lahan berupa hamparan sawah yang kurang memiliki variasi jenis tumbuhan.
Berdasarkan klasifikasi Shannon-Wiener, keanekeragaman jenis burung pada jalur
tersebut tergolong sedang, yang berarti penyebaran jumlah individu tiap jenis
sedang dan kestabilan komunitas yang ada sedang karena nilainya berada pada
selang 1 – 3. Pada jalur pengambilan data 1 dan 2, nilai H’ lebih besar
dikarenakan tutupan wilayah jelajah yang lebih besar melingkupi hutan sekunder,
semak dan hutan pinus. Nilai kekayaan (R) jenis burung pada jalur pengambilan
data 3 tergolong lebih rendah di antara jalur lainnya, yang berarti penyebaran
jumlah individu tiap jenis rendah dan kestabilan komunitas yang ada rendah,
55
sebab nilainya < 1. Nilai kemerataan (E) jenis burung di semua jalur pengambilan
data memiliki nilai kurang dari 1 (satu). Hal tersebut menunjukkan bahwa di
semua lokasi terdapat dominasi satu atau beberapa spesies. Artinya satu atau
beberapa spesies memiliki jumlah individu yang lebih banyak dibandingkan
dengan spesies yang lain.
berkorelasi positif dengan keanekaragaman jenis tumbuhan yang ada. Makin
tinggi keanekaragaman jenis tumbuhan yang ada dalam suatu vegetasi seperti
pada wilayah hutan, maka keanekaragaman jenis burung yang ditemui semakin
tinggi. Komposisi vegetasi yang relatif heterogen di wilayah hutan menciptakan
relung ekologi yang lebih bervariasi, mulai dari daratan yang relatif terbuka
sampai daratan yang dipadati pepohonan bagi burung. Dengan makin banyaknya
jenis pohon berarti akan tercipta banyak relung ekologi yang memungkinkan
berbagai jenis burung dapat hidup secara bersama. Keanekeragaman jenis vegetasi
yang tinggi pada wilayah hutan di jalur pengambilan data 1 dan 2 merupakan
tempat sumber pakan, tempat bersarang, maupun tempat berlindung bagi jenis-
jenis burung yang ada. Sedangkan pada jalur pengambilan data 3 yang memiliki
komposisi vegetasi relatif sama yaitu sawah, menciptakan relung ekologi yang
lebih sedikit. Menurut Andrian (2012), terdapat hubungan antara keanekaragaman
dengan keseimbangan jenis dalam satu komunitas. Apabila nilai keanekaragaman
jenis tinggi, maka keseimbangan jenis juga tinggi. Selain itu, apabila ekosistem
memiliki keanekaragaman yang tinggi berarti ekosistem tersebut akan berada pada
kondisi stabil.
Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang berada di Desa
Batanguru terletak di Dusun Ratte dan dibangun pada tahun 2008 dengan
memanfaatkan air sungai Batanguru. Saat ini, kapasitas listrik yang terpasang
pada PLTMH tersebut adalah sebesar 30 kW, atau setara dengan 30.000 watt
listrik. Debit air sungai yang dimanfaatkan untuk penggunaan PLTMH sebesar
600 l/det dari 1500 l/det yang tersedia, serta tinggi jatuhan air 6 m. Saat ini,
PLTMH yang terdapat di Desa Batanguru telah melayani kebutuhan listrik lebih
dari 140 KK di wilayah Desa Batanguru dan sekitarnya secara gratis, serta
beroperasi selama 24 jam. Model PLTMH di Desa Batanguru dapat dilihat pada
Gambar 5.
PLMTH Desa Batanguru menggunakan sistem run off river, dimana pada
sistem ini air tidak ditahan pada sebuah bendungan, sehingga sebagian air sungai
dapat diarahkan ke saluran pembawa (headrace), kemudian dialirkan melalui pipa
pesat (penstock) menuju turbin dan sebagian aliran air sungai masih dapat
mengalir pada aliran utamanya. Jenis turbin yang dipergunakan pada PLTMH
Desa Batanguru adalah jenis cross flow yang diproduksi lokal oleh salah seorang
warga, di Bengkel Hidro Batanguru. Jumlah karyawan yang bekerja di Bengkel
Hidro Batanguru sebanyak 40 orang yang menangani pemasaran, pengerjaan,
pemasangan dan perawatan turbin mikrohidro untuk sejumlah PLTMH baik di
dalam maupun diluar wilayah Kabupaten Mamasa. Pada bagian kiri dan kanan
sungai di sekitar lokasi PLTMH tidak diperbolehkan melakukan kegiatan
57
serta debit air sungai.
Gambar 5. Model Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di Desa
Batanguru
Berdasarkan hasil rekapitulasi data kuesioner dan wawancara yang
dilakukan kepada 20 responden masyarakat Desa Batanguru, diperoleh hasil
mengenai persentase pengetahuan penduduk setempat akan mikrohidro. Data
tersebut disajikan dalam Tabel 12. Dari tabel tersebut diketahui bahwa sebanyak
90% dari 20 orang responden tahu mengenai mikrohidro/turbin pembangkit listrik
yang terdapat di desa mereka. Sisanya, sebanyak 10% tidak mengetahui
mikrohidro.
58
Pembangkit Listrik
kepada 20 responden masyarakat Desa Batanguru, diperoleh informasi mengenai
manfaat yang dirasakan oleh masyarakat setempat dari adanya mikrohidro/turbin
pembangkit listrik di desa mereka. Data tersebut disajikan pada Tabel 13. Dari
tabel tersebut, diketahui bahwa sebanyak 100% dari 20 orang responden
merasakan manfaat dari adanya mikrohidro/turbin pembangkit listrik yang
terdapat di desa mereka.
Desa Batanguru
- Tidak perlu lagi mengantri minyak tanah
dan menggunakan petromaks
ataupun alat elektronik lainnya
Kabupaten Mamasa dikenal sebagai daerah tujuan wisata minat khusus
(special interest tourism), dengan atraksi wisata meliputi kegiatan petualangan
(adventure), seperti trekking (berjalan kaki menyusuri hutan dan pegunungan),
camping (berkemah), rafting (arung jeram). Karena akses transportasi setempat
belum memadai, serta memiliki medan jalanan cukup menantang dan sebagian
besar wilayahnya terdiri dari kawasan hutan yang masih asli, Kabupaten Mamasa
memiliki segmentasi wisatawan tersendiri. Wisatawan yang berkunjung umumnya
adalah penyuka kegiatan berpetualang di alam, seperti pecinta alam dan
backpacker. Sebagian besar wisatawan tersebut masuk melalui rute Kabupaten
Tana Toraja melewati Desa Batanguru dengan metode trekking maupun dengan
menggunakan kendaraan umum dari Kabupaten Polewali. Selain kegiatan
berpetualang di alam, wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Mamasa
umumnya mengunjungi lokasi permandian alam, seperti air terjun dan permandian
air panas yang banyak terdapat di sekitar wilayah Kabupaten Mamasa, dengan
segmen wisatawan sebagian besar adalah keluarga/masyarakat Kabupaten
Mamasa, Sulawesi Barat dan sekitarnya.
Desa Batanguru memiliki beragam potensi ekowisata yang cukup menarik,
baik dari segi pemanfaataan energi terbarukan mikrohidro, alam dan juga budaya.
Ketiga unsur tersebut dapat dikembangkan menjadi paket-paket wisata yang dapat
dikelompokkan berdasarkan minat calon wisatawan. Berdasarkan hasil
rekapitulasi kuesioner dan wawancara yang dilakukan kepada 20 responden
masyarakat Desa Batanguru, diperoleh informasi mengenai jenis wisata yang
60
diharapkan ada di desa mereka untuk pengembangan kegiatan ekowisata kedepan.
Data tersebut disajikan pada Tabel 14.
Tabel 14. Jenis Wisata yang Diharapkan oleh Masyarakat Desa Batanguru
No. Jawaban Jumlah
3. Berjalan menikmati pemandangan desa 1 5
4. Melihat kerajinan sarung tenun Mamasa 2 10
5. Melihat rumah adat dan pemakaman tradisional 2 10
6. Melihat dan belajar mengenai alam dan turbin 3 15
Dari hasil kuesioner dan wawancara kepada responden, diperoleh jawaban
sebanyak 50% dari 20 orang responden mengharapkan adanya lokasi permandian.
10% responden mengharapkan jenis kegiatan agrowisata (wisata kebun). Adapula
responden yang mengharapkan jenis wisata berkeliling wilayah desa untuk
menikmati pemandangan sekitar sebanyak 5%. 10% dari 20 orang responden
mengharapkan adanya pengembangan kerajinan sarung tenun Mamasa untuk
menarik minat wisatawan. Responden lainnya, sebanyak 10% mengharapkan ada
paket wisata melihat rumah adat dan pemakaman tradisional yang terdapat di
Desa Batanguru, serta 15% responden mengharapkan adanya paket wisata alam
dan pendidikan mengenai turbin pembangkit listrik.
2. Aspek Calon Wisatawan
Berdasarkan hasil rekapitulasi kuesioner yang dilakukan kepada 20 orang
responden, diperoleh informasi mengenai profil calon wisatawan potensial
sebagaimana disajikan pada Tabel 15. Dari tabel tersebut diketahui bahwa jenis
kelamin responden adalah 45% laki-laki dan 55% perempuan. Sebagian besar
61
responden tersebut berasal dari Kota Makassar dan sekitarnya, ada pula yang
berasal dari Kota Mamasa. Berdasarkan usia, diketahui bahwa jumlah responden
yang berumur ≤19 tahun sebanyak 15%, berumur 20-25 tahun sebanyak 50%,
berumur 26-31 tahun sebanyak 25% dan berumur 32-37 tahun sebanyak 10%
dengan tingkat pendidikan, yaitu 50% SMA dan 50% sisanya adalah dari
perguruan tinggi. Sedangkan untuk jenis pekerjaan, sebanyak 10% adalah PNS,
20% pegawai swasta, 50% pelajar/mahasiswa dan sisanya sebanyak 20%
berprofesi sebagai wiraswasta dan lain-lain.
Tabel 15. Profil Calon Wisatawan untuk Kegiatan Ekowisata di Desa Batanguru
b. Pengetahuan akan Mikrohidro dan Ekowisata
Berdasarkan hasil rekapitulasi data kuesioner terhadap 20 orang responden
yang merupakan calon wisatawan potensial untuk kegiatan ekowisata di Desa
Batanguru, diperoleh informasi mengenai pengetahuan calon wisatawan tentang
mikrohidro, sebagaimana pada Tabel 16. Dari tabel tersebut diketahui bahwa
No. Parameter Kriteria Jumlah
b. Perempuan
energi listrik dengan memanfaatkan aliran air sungai melalui bantuan turbin.
Sedangkan, 25% responden belum mengetahui tentang mikrohidro.
Tabel 16. Pengetahuan Calon Wisatawan Tentang Mikrohidro
No. Kriteria Jumlah
Berdasarkan hasil rekapitulasi data kuesioner terhadap 20 orang responden
yang merupakan calon wisatawan potensial untuk kegiatan ekowisata di Desa
Batanguru, diperoleh informasi mengenai pengetahuan calon wisatawan tentang
ekowisata, sebagaimana terdapat pada Tabel 17. Dari tabel tersebut diketahui
bahwa jumlah responden yang mengetahui tentang ekowisata sama dengan jumlah
responden yang mengetahui tentang mikrohidro, yaitu sebanyak 75%. Sisanya
sebanyak 25% responden belum mengetahui tentang ekowisata. Sebagaian besar
responden menjawab bahwa ekowisata adalah salah satu jenis kegiatan wisata
yang dilakukan di alam atau pedesaan dengan berbagai tujuan, seperti untuk
melihat pemandangan, serta belajar mengenai kebudayaan dan sejarah dari
masyarakat setempat.
c. Tipe dan Motivasi Kunjungan
Berdasarkan hasil rekapitulasi data kuesioner terhadap 20 orang responden
yang merupakan calon wisatawan potensial untuk kegiatan ekowisata di Desa
No. Kriteria Jumlah
63
Batanguru, diperoleh informasi mengenai tipe dan motivasi kunjungan dalam
berwisata, sebagaimana pada Tabel 18. Dari tabel tersebut diketahui bahwa calon
wisatawan umumnya mendapatkan informasi wisata dari website / blog (40%) dan
tujuan kunjugan sebagian besar adalah untuk melakukan kegiatan rekreasi /
liburan, wisata alam dan budaya, serta traveling / backpacking (25%). Umumnya
pada saat berwisata, responden melakukannya dengan rombongan (50%) dan
melakukan kegiatan menginap (70%). Untuk alat transportasi, umumnya
responden menggunakan mobil pribadi (40%) dengan waktu kunjungan yang
tidak menentu (55%). Atraksi wisata yang paling diminati oleh responden adalah
atraksi budaya dan atraksi alam / adventure (30%). Selain itu, pada saat berwisata,
sebagian besar responden mengharapkan adanya fasilitas berupa papan informasi /
peta serta penginapan (25%) untuk memudahkan kegiatan berwisata mereka.
Tabel 18. Tipe dan Motivasi Kunjungan Calon Wisatawan untuk Kegiatan
Ekowisata di Desa Batanguru
No. Parameter Kriteria Jumlah
c. Penelitian
b. Tidak Menentu
Berdasarkan hasil rekapitulasi kuesioner kepada 20 responden calon
wisatawan potensial yang masing-masing telah memilih jenis wisata paling
diminati, diperoleh informasi mengenai kriteria aktivitas wisata, dengan beberapa
parameter sesuai dengam minat calon wisatawan dan potensi yang ada, yaitu
wisata alam, wisata pendidikan, wisata budaya dan wisata huburan atau rekreasi
sebagaimana pada Tabel 19. Berdasarkan tabel tersebut, diketahui bahwa dari 6
responden yang memilih jenis wisata alam, persentase yang memilih aktivitas
birdwatching adalah sebanyak 33,33%, sedangkan yang memilih aktivitas
trekking adalah sebanyak 66,66%. Dari 3 responden yang memilih jenis wisata
pendidikan, persentase yang memilih aktivitas melihat PLTMH adalah sebanyak
66,66%, sedangkan yang memilih aktivitas berkunjung ke bengkel turbin adalah
65
sebanyak 33,33%. Dari 6 responden yang memilih jenis wisata budaya, persentase
yang memilih aktivitas melihat kerajinan tradisional adalah sebanyak 33,33%,
memilih aktivitas melihat kegiatan masyarakat sebanyak 16,66%, melihat tarian
tradisional sebanyak 0%, melihat upacara tradisional sebanyak 33,33% dan
berkeliling desa melihat arsitektur tradisional sebanyak 33,33%. Sedangkan dari 5
responden yang memilih jenis wisata keluarga/rekreasi, persentase yang memilih
aktivitas pemandian adalah sebanyak 40%, memilih aktivitas agrowisata sebayak
40% dan responden yang memilih aktivitas olahraga sebanyak 20%.
Tabel 19. Aktivitas Wisata yang Diminati Calon Wisatawan Berdasarkan Jenis
Wisata
Berdasarkan hasil rekapitulasi kuesioner dan wawancara yang dilakukan
kepada 20 responden masyarakat Desa Batanguru, diperoleh infromasi mengenai
66
pemahaman masyarakat akan ekowisata serta jenis kegiatan apa saja yang
dilakukan terkait dengan ekowisata, sebagaimana disajikan pada Tabel 20. Dari
tabel tersebut, diketahui bahwa sebanyak 80% masyarakat Desa Batanguru sudah
mengetahui istilah ekowisata serta jenis kegiatan wisata yang termasuk dalam
kategori ekowisata, sementara sebanyak 20% masyarakat belum mengetahui
istilah pariwisata dan ekowisata.
Wisata
pemandangan di desa
b. Respon Masyarakat Terhadap Kunjungan Wisatawan, Pelaksanaan
Ekowisata dan Partisipasi Mengelola Ekowisata
Berdasarkan hasil rekapitulasi kuesioner dan wawancara yang dilakukan
kepada 20 responden masyarakat Desa Batanguru, diperoleh informasi mengenai
respon terhadap kunjungan yang dilakukan oleh para wisatawan di desa mereka
selama ini, respon terhadap pelaksanaan ekowisata dan partisipasi untuk
mengelola ekowisata kedepannya, sebagaimana disajikan pada Tabel 21. Dari
tabel tersebut, diketahui bahwa sebanyak 100% responden mengapresiasi dan
merespon dengan baik hal-hal tersebut.
67
Partisipasi dalam Kegiatan Ekowisata
No. Parameter Kriteria Jumlah
2. Pelaksanaan Ekowisata
Batanguru, diantaranya Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD), Pembinaan
Kesejahteraan Keluarga (PKK), Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Unit
Pelaksana Teknis (UPT) mikrohidro dan Kelompok Tani. Selama ini, kegiatan di
Bengkel Hidro Batanguru telah bekerjasama dengan sejumlah pihak, seperti pihak
pemerintah Kabupaten Mamasa dan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM), baik dari dalam maupun luar negeri serta sejumlah konsultan teknik dan
organisasi seperti United Nations Development Programme (UNDP), Direktorat
Energi dan Sumberdaya Mineral—Direktorat Jendral Listrik dan Pemanfaatan
Energi Republik Indonesia melalui program Integrated Microhydro Development
and Application Program (IMIDAP), Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat-Lingkungan Mandiri Pedesaan (PNPM-LMP), dan lain sebagainya.
Selain itu, diperlukan perizinan pelaksanaan kegiatan pariwisata yang ditujukan
kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Mamasa dan kepada pemerintah daerah
setempat untuk mendapatkan legalitas izin usaha.
68
Berdasarkan potensi obyek wisata di Desa Batanguru, dapat dilakukan dua
strategi dalam upaya perencanaan pelaksanaan kegiatan ekowisata. Strategi
pertama adalah merancang paket wisata berdasarkan potensi-potensi yang ada,
sedangkan strategi kedua adalah melalui capacity building, yaitu peningkatan
kapasitas masyarakat yang akan membentuk suatu unit kelembagaan, dalam hal
ini meliputi kemampuan, keterampilan dan kompetensi masyarakat untuk
mengelola ekowisata yang akan dilakukan.
1. Hubungan Mikrohidro, Ekowisata dan Masyarakat
Sumberdaya alam di Desa Batanguru memiliki beragam potensi. Salah
satu potensi yang telah dimanfaatkan masyarakat setempat adalah sungai. Aliran
sungai yang merupakan energi terbarukan tersebut kemudian dikembangkan
sebagai penghasil tenaga listrik skala mikro (mikrohidro). Mikrohidro tersebut
juga bernilai ekonomi, sebab masyarakat sendiri dapat memasarkan turbin
produksi mereka ke beberapa daerah dengan potensi yang sama. Dengan adanya
mikrohidro, secara tidak langsung masyarakat sadar akan pentingnya menjaga
ekosistem setempat (hutan) demi keberlangsungan mikrohidro yang bersumber
dari alam. Selain itu, adanya mikrohidro menumbuhkan rasa kepemilikan
masyarakat terhadap sumber-sumber terbarukan disekitarnya, seperti hutan dan
sumber air.
Dengan adanya ekowisata, maka sumber air untuk mikrohidro dapat tetap
berjalan sebab ekowisata merupakan salah satu bentuk upaya proteksi terhadap
69
sumberdaya alam yang merupakan bagian dari konservasi ekologi. Selain itu,
ekowisata juga dapat memberi peningkatan ekonomi bagi masyarakat setempat
melalui kegiatan wisata ramah lingkungan. Mikrohidro dan ekowisata dapat saling
mendukung satu sama lain. Dengan adanya masyarakat yang terlibat langsung
dalam pengelolaan, kedua hal tersebut dapat berjalan dengan baik dimana ada
unsur pemanfaatan dan pelestarian yang berkelanjutan.
Ekowisata merupakan salah satu usaha strategi konservasi dan dapat
membuka alternatif ekonomi bagi masyarakat setempat. Dengan ekowisata,
masyarakat dapat memanfaatkan potensi sumberdaya alamnya yang masih utuh,
serta nilai-nilai adat dan budaya yang ada tanpa merusak atau menjual isinya.
Ekowisata dapat mendukung dan memungkinkan keterlibatan penuh masyarakat
mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan hingga pengelolaan. Ekowisata dapat
menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat dari jasa-jasa wisata,
seperti pemandu, penjual kerajinan dan lain sebagainya. Ekowisata dapat
membawa dampak positif bagi pelestarian lingkungan dan budaya setempat yang
pada akhirnya akan menumbuhkan rasa bangga serta kepemilikan masyarakat
terhadap potensi-potensi di desanya. Dengan demikian, maka ekowisata di Desa
Batanguru sangat potensial untuk dijalankan sebab mengandung unsur konservasi
untuk melestarikan keanekaragaman hayati, ekosistem dan budaya, unsur edukasi
yang dapat berperan dalam mendidik masyarakat setempat maupun calon
wisatawan untuk ikut melestarikan alam melalui kegiatan-kegiatan berkelanjutan,
seperti pemanfaatan sungai untuk mikrohidro, serta unsur pemberdayaan
70
setempat melalui kegiatan ekonomi.
Selain mikrohidro, Desa Batanguru memiliki potensi yang lain, yaitu
panorama alam, keanekaragaman jenis burung, lahan pertanian, serta adat dan
budaya. Potensi-potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi paket-paket wisata
menarik, seperti wisata alam dan lingkungan, wisata kebun (agrowisata), wisata
adat dan budaya, serta wisata hiburan, sedangkan mikrohidro yang sudah ada
berpotensi untuk dibuatkan paket wisata mikrohidro (hidrowisata).
a. Paket Wisata Alam dan Lingkungan
1.) Trekking
Sebagian besar wilayah Desa Batanguru terdiri atas kawasan hutan, semak
dan pegunungan, sehingga sangat potensial untuk kegiatan penjelajahan hutan,
seperti trekking (berjalan kaki menyusuri wilayah desa). Oleh karena itu,
pembuatan jalur trekking, utamanya di areal hutan dan pegunungan sekitar Desa
Batanguru akan dapat membantu wisatawan dalam melakukan penjelajahan
mereka di alam.
71
(birdwatching) pada beberapa titik dan jalur pengamatan. Kegiatan ini selain
memberi manfaat pro-lingkungan, nilai edukasi, juga memberikan manfaat
ekonomi bagi masyarakat. Adapun aktivitas yang biasa dilakukan dalam
pengamatan burung adalah mengamati jenis burung dan tingkah lakunya.
Jalur birdwatching di Desa Batanguru terbagi atas tiga, yaitu jalur
birdwatching 1 yang dimulai dari Bengkel Hidro, menuju ke perbatasan Desa
Batanguru dengan Desa Banea yang dipisahkan oleh Sungai Banea berarus deras.
Jalur tersebut melewati perbukitan, tepi hutan sekunder, tepi sungai, ladang dan
sawah, mulai dari ketinggian 937 mdpl hingga 1.045 mdpl. Jalur birdwatching 2
merupakan jalur dimana wisatawan dapat melewati pemukiman penduduk
melalui jalan utama desa menuju ke perbatasan Desa Batanguru Timur. Selain
pemukiman yang terletak di sisi perbukitan dan tepi sungai, wisatawan juga dapat
melihat pemandangan alam seperti perbukitan pinus, semak dan persawahan yang
dilalui oleh aliran Sungai Batanguru berarus tenang dan lebar sambil mengamati
jenis-jenis burung yang ada. Wisatawan dapat melakukan pengamatan jenis
burung predator yang umumnya dapat dengan mudah di lihat pada areal
persawahan yang ada di jalur pengamatan ini. Kemudian jalur birdwatching 3
merupakan jalur yang terletak di areal persawahan. Lokasi pengamatan tersebut
terletak di sebeleh timur, sekitar dua kilometer dari Bengkel Hidro dan PLTMH.
b. Paket Wisata Mikrohidro (Hidrowisata)
Berdasarkan potensi pemanfaatan energi terbarukan mikrohidro yang ada
di Desa Batanguru, maka sangat potensial dikembangan bentuk wisata mikrohidro
72
tertarik untuk meneliti dan mempelajari seluk beluk mengenai mikrohidro. Wisata
mikrohidro yang dapat dikembangkan di Desa Batanguru adalah berupa
laboratorium alam yang memungkinkan wisatawan belajar langsung di alam
mengenai sistem dan cara kerja turbin mikrohidro serta PLTMH. Selain itu,
wisatawan dapat melihat langsung proses pengerjaan turbin mikrohidro di
Bengkel Hidro (workshop) dan berkunjung ke rumah turbin berisi perangkat
PLTMH yang dipergunakan sebagai penghasil listrik Desa Batanguru, seperti
turbin cross flow, generator dan panel kontrol. Tak hanya sebagai pembangkit
listrik, uap panas yang dihasilkan oleh turbin dan umumnya tidak terpakai dapat
dimanfaatkan dalam bentuk lain, yaitu untuk memanaskan bak air, sehingga
dengan modifikasi pada turbin dan saluran uap, panas yang dihasilkan dapat
digunakan untuk pemandian air panas. Namun saat ini pemanfaatan uap panas
dari turbin mikrohidro untuk pemandian air panas sedang dalam tahap kajian.
c. Paket Wisata Adat dan Budaya
1.) Upacara Adat
Jenis upacara adat yang biasa dilakukan di Desa Batanguru antara lain
upacara perkawinan (Basse Pentabenan) dan upacara kematian (Pa’tomatean).
Jenis upacara adat Mamasa ini dapat dijadikan salah satu atraksi wisata adat dan
budaya untuk wisatawan yang berkunjung. Urutan rangkaian prosesi perkawinan
adat Mamasa (Basse Pentabenan) di Desa Batanguru terbagi atas tiga, yaitu
Mangngusik, merupakan prosesi penjajakan awal antara ibu pihak calon mempelai
73
pria dengan ibu pihak calon mempelai wanita. Kemudian Ma’randang,
merupakan prosesi pelamaran calon mempelai wanita yang dilakukan oleh
orangtua kedua calon mempelai. Pada prosesi ini, pihak orangtua perempuan
mengenakan pakaian adat bayu berwarna putih dengan lengan panjang yang
hanya digunakan khusus untuk upacara adat. Selain itu, ibu calon mempelai
mengenakan topi tradisional Mamasa yang disebut sarong patongko yang khusus
dipergunakan untuk acara adat. Topi/tudung tersebut berukuran besar dan lebar
seperti payung yang terbuat dari lapisan dalam pohon bambu dan memiliki enam
bongkolan benang putih di atasnya. Sedangkan yang terakhir adalah Massarak,
merupakan rangkaian akhir dari prosesi upacara perkawinan secara adat Mamasa,
dimana kedua pengantin di antar ke rumah orangtua pengantin laki-laki untuk
mengadakan resepsi pernikahan.
Pelaksanaan upacara kematian secara adat Mamasa (Pa’tomatean) di Desa
Batanguru dilakukan sesuai dengan tingkatan kemampuan ekonomi dan status
sosial masyarakat setempat. Umumnya prosesi upacara kematian tersebut mirip
dengan upacara rambu solo’ yang dilakukan di Tana Toraja. Upacara kematian
Pa’tomatean menggunakan kurban babi, anjing, ayam dan kerbau. Jenazah
kemudian disemayamkan selama beberapa hari bahkan bisa hingga setahun di
dalam peti kayu yang disimpan dalam rumah duka. Selanjutnya, jenazah
dikeluarkan dari peti kayu dan dibungkus kain berwarna putih, kemudian
dilanjutkan dengan prosesi pemakaman.
Mamasa terkenal dengan kain tenunnya yang khas. Di Desa Batanguru,
kain/sarung tenun tradisional (sambu’) tersebut umumnya belum dipasarkan da