EVALUASI KONDISI BANGUNAN RUMAH ADAT ACEH DAN … · Evaluasi kekuatan elemen struktur dihitung...

of 45 /45
EVALUASI KONDISI BANGUNAN RUMAH ADAT ACEH DAN KALIMANTAN TENGAH DI TAMAN MINI INDONESIA INDAH DEWI WULANDARI DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014

Embed Size (px)

Transcript of EVALUASI KONDISI BANGUNAN RUMAH ADAT ACEH DAN … · Evaluasi kekuatan elemen struktur dihitung...

EVALUASI KONDISI BANGUNAN RUMAH ADAT

ACEH DAN KALIMANTAN TENGAH

DI TAMAN MINI INDONESIA INDAH

DEWI WULANDARI

DEPARTEMEN HASIL HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2014

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Evaluasi Kondisi

Bangunan Rumah Adat Aceh dan Kalimantan Tengah di Taman Mini Indonesia

Indah adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum

diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber

informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak

diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam

Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut

Pertanian Bogor.

Bogor, Desember 2014

Dewi Wulandari

NIM E24100032

ABSTRAK

DEWI WULANDARI. Evaluasi Kondisi Bangunan Rumah Adat Aceh dan

Kalimantan Tengah di Taman Mini Indonesia Indah. Dibimbing oleh LINA

KARLINASARI dan FENGKY SATRIA YORESTA.

Rumah adat merupakan rumah tradisional yang menjadi warisan

kebudayaan Indonesia. Rumah adat Aceh Cut Mutia dan rumah adat Betang

Kalimantan Tengah merupakan bangunan rumah adat di Taman Mini Indonesia

Indah (TMII) yang komponen bangunannya berbahan kayu. Tujuan penelitian ini

adalah mengevaluasi kondisi bangunan rumah adat Aceh dan Kalimantan Tengah

secara visual serta melakukan analisis struktur bangunan terhadap gempa.

Identifikasi visual dilakukan pada komponen bangunan seperti atap, dinding,

pintu dan jendela, lantai, drainase dan utilitas. Selanjutnya analisis struktur

bangunan dilakukan dengan memodelkan struktur portal 3D menggunakan

software berbasis elemen hingga (SAP 2000). Struktur dianalisis dengan

menggunakan metode dinamik riwayat waktu (Time History Analysis). Hasil penilaian kondisi bangunan secara visual menunjukkan nilai kekokohan rumah adat

Aceh dan Kalteng masing-masing 61.45% dan 67.65%. Nilai kekokohan tersebut

menunjukkan bahwa komponen bangunan masih berfungsi namun tidak ada

pemeliharaan rutin. Jenis kayu yang digunakan pada bangunan rumah adat Aceh yaitu

kayu meranti merah (Shorea leprosula) dan jenis kayu yang digunakan pada rumah

adat Kalteng yaitu kayu ulin (Eusideroxylon zwageri). Hasil analisis struktur

bangunan terhadap gempa diperoleh nilai gaya dalam, tegangan aktual, dan respon

gempa berupa perpindahan. Evaluasi kekuatan elemen struktur dihitung dengan

menggunakan metode Allowable Stress Design (ASD). Hasil analisis menunjukkan

nilai aktual geser berada di bawah tegangan ijin, namun nilai tegangan aktual lentur

melebihi nilai tegangan ijin. Respon struktur berupa perpindahan dari kedua

bangunan menunjukkan nilai yang berbeda signifikan.

Kata kunci : Analisis struktur, identifikasi visual, rumah tradisional

ABSTRAK

DEWI WULANDARI. Evaluation Conditions of Aceh and Cental Kalimantan

Traditional Houses in Taman Mini Indonesia Indah. Supervised by LINA

KARLINASARI and FENGKY SATRIA YORESTA.

The traditional houses is heritage culture of Indonesia. Cut Mutia traditional

house in Aceh and Betang traditional house in Central Kalimantan are wooden

houses in Taman Mini Indonesia Indah (TMII). The aims of this research was

evaluated the condition of Aceh and Central Kalimantan traditional houses

visually and to conduct structural analysis with earthquake based on seismic

simulation.

Visual assesment conducted to part of houses such as roof, walls, door and

window, drainage and utility. Structure analysis of building was designed by 3D

portal based on finite element software (SAP 2000). Dynamic time history

analysis method (Time History Analysis) was used for analysis structure. Based

on visual assessment, the both of building were in medium condition with the

robustness value 61.45% and 67.65%. The robustness showed that the building

components are functionable but should be maintained frequently. The wood

species that used in Aceh house was red meranti (Shorea leprosula) wood and

Ulin (Eusideroxylon zwageri) wood was used for Central Kalimantan house.

Structure response on seismik simulation which was studied include internal force,

actual tension and respon spectrum. Evaluation of the strength of structural

elements by allowable stress method (ASD). The results showed the actual shear

were still in below of allowable stress, but the value of actual tension excess value

of allowable stress. The respon of structure on earthquake load were significant

different between two houses by analysed displacement.

Keywords: Structure analysis, visual assesment, traditional houses

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Kehutanan

pada

Departemen Hasil Hutan

EVALUASI KONDISI BANGUNAN RUMAH ADAT

ACEH DAN KALIMANTAN TENGAH

DI TAMAN MINI INDONESIA INDAH

DEWI WULANDARI

DEPARTEMEN HASIL HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2014

Judul Skripsi : Evaluasi Kondisi Bangunan Rumah Adat Aceh dan Kalimantan

Tengah di Taman Mini Indonesia Indah

Nama : Dewi Wulandari

NIM : E24100032

Disetujui oleh

Dr Lina Karlinasari, S.Hut, MSc.F.Trop

Pembimbing I

Fengky Satria Yoresta ST, MT

Pembimbing II

Diketahui oleh

Prof Dr Ir Fauzi Febrianto. MSc

Ketua Departemen

Tanggal Lulus:

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa taala atas

segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang

dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2014 ini ialah

evaluasi kondisi bangunan rumah kayu, dengan judul Evaluasi Kondisi Bangunan

Rumah Adat Aceh dan Kalimantan Tengah di Taman Mini Indonesia Indah. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr Lina Karlinasari dan Bapak

Fengky Satria Yoresta ST, MT selaku pembimbing. Terima kasih juga penulis

sampaikan kepada Ir. Cut Putri Alianur, Bapak Jenong Marhusin, dan seluruh staf

pegawai anjungan Aceh, Bapak Drs. Sianto, M.Si selaku Kepala UPT dan staf

pegawai anjungan Kalimantan Tengah yang telah banyak membantu selama

pengumpulan data, serta Septian Adhitya, Deska Ari Kurniyanti, Nur Islamiah Latif,

Rahmazudi, Dwi Hatmojo Kresnoadi, Syaiful Bahri yang telah membantu dalam

pengambilan data di lapangan. Selain itu, terima kasih juga disampaikan kepada

teman-teman tercinta Bagus Priambodo Dewanto, Faiza Nur Ilmi, Nova Lestari,

Mazaya Ghaisani, Ratna Rucitra, Adelina Fitri, Ratnasari, Inggar Damayanti, dan

teman-teman THH 47 atas dukungan semangat yang diberikan selama penulisan

skripsi dan keceriaannya selama perkuliahan.

Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh

keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Desember 2014

Dewi Wulandari

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vi

DAFTAR LAMPIRAN vi

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 2

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2

Ruang Lingkup Penelitian 2

METODE 2

Lokasi dan Waktu Penelitian 2

Bahan 3

Alat 3

Prosedur Analisis Data 3

HASIL DAN PEMBAHASAN 11

Kondisi Umum Rumah Adat 11

Indeks Kondisi Bangunan 13

Faktor Perusak Bangunan 18

Anatomi Kayu 19

Kadar Air 20

Kerapatan dan Berat Jenis 20

Analisis Seismik Struktur Bangunan 20

Evaluasi Kondisi Bangunan 24

SIMPULAN DAN SARAN 25

Kesimpulan 25

Saran 25

DAFTAR PUSTAKA 25

RIWAYAT HIDUP 31

DAFTAR TABEL

1. Teknik pembobotan pada tiap komponen konstruksi 4 2. Kategori nilai kondisi bangunan dan predikatnya 5 3. Ukuran komponen kolom dan balok rumah adat Aceh 8 4. Ukuran komponen kolom dan balok rumah adat Kalteng 9 5. Nilai tegangan ijin rumah adat Aceh dan Kalteng 11 6. Hasil pemeriksaan kondisi bangunan rumah adat Aceh 13 7. Hasil pemeriksaan kondisi bangunan rumah adat Kalimantan

Tengah 15 8. Gaya dalam kolom rumah adat Aceh akibat gempa 21 9. Nilai tegangan kolom rumah adat Aceh akibat gempa 21 10. Gaya dalam kolom rumah adat Kalimantan Tengah akibat gempa 22 11. Nilai tegangan kolom rumah adat Kalimantan Tengah akibat

gempa 22

DAFTAR GAMBAR

1. Denah bangunan rumah adat Aceh 7 2. Portal bangunan rumah adat Aceh 7 3. Struktur 3D bangunan rumah adat Aceh 7 4. Denah bangunan rumah adat Kalteng 8 5. Portal A-A rumah adat Kalteng 8 6. Portal B-B rumah adat Kalteng 9 7. Struktur 3D bangunan rumah adat Kalteng 9 8. Akselelogram gempa El-Centro 19 Mei 1940 10 9. Rumah adat Aceh Cut Mutia 12 10. Bagian rumah adat Aceh: (a) penampakkan samping rumah adat

Aceh Cut meutia; (b) ruang kamar tidur bagian dalam 12 11. Rumah adat Betang Kalimantan Tengah 12 12. Bagian rumah adat Betang Kalimantan Tengah; (a) bagian

belakang bangunan; (b) bagian dalam bangunan. 13

13. Kerusakan pada komponen lantai tiang penyangga: (a) serangan rayap kayu kering; (b) pelapukan kayu; (c) retakan disepanjang

tiang 14 14. Kerusakan pada komponen lantai dan penutup lantai: (a) lepasnya

sambungan penutup atap dengan rangka lantai; (b) balok induk

yang keropos; (c) mata kayu pada balok anak. 14 15. Kerusakan pada komponen reng dan kaso: (a) pecah dan retak

pada kaso; (b) pengeroposan pada reng; (c) patah pada reng 15 16. Bentuk kerusakan pada komponen tiang lantai: (a) serangan

jamur pelapuk; (b) serangan rayap tanah; (c) serangan serangga

perusak 16 17. Kerusakan pada kmponen penutup lantai: (a) lepasnya sambungan

penutup lantai dengan rangka lantai; (b) lantai berlubang; (c)

serangan lumut 16

file:///F:/Dewi%20Wulandari_E24100032_Evaluasi%20Kondisi%20Bangunan%20Rumah%20Adat%20Aceh%20dan%20Kalimantan%20Tengah%20di%20Taman%20Mini%20Indonesia%20Indah_THH_FAHUTAN/Skripsi_Dewi%20Wulandari_E24100032_DHH_FAHUTAN_2014.docx%23_Toc406417541

18. Kerusakan pada komponen balok gording dan balok bin: (a) bercak akibat jamur; (b) serangan jamur pelapuk; (c) perubahan

warna kayu 17 19. Kerusakan pada komponen penutup atap sirap: (a) sirap bagian

luar yang retak dan pecah; (b) perubahan warna sirap bagian

dalam; (c) sirap yang berlubang 17 20. Faktor perusak bangunan genus Trigona dengan mikroskop

perbesaran 40X: (a) tampak atas lebah; (b) tampak samping lebah 18 21. Penampang melintang kayu secara makroskopis perbesaran 30X:

(a) kayu meranti merah; (b) kayu ulin 19 22. Nilai perpindahan struktur rumah adat Aceh dan Kalteng 23 23. Riwayat perpindahan struktur rumah adat Aceh dan Kalteng 23

DAFTAR LAMPIRAN

1. Hasil penilaian kondisi bangunan rumah adat Aceh dan Kalteng 29 2. Contoh perhitungan nilai tegangan maksimum kolom akibat gaya

dalam 30

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia memiliki kebudayaan yang beragam. Salah satu bentuk dari

kebudayaan ialah bangunan tradisional dari tiap propinsi yang dikenal dengan

rumah adat. Keberadaan rumah adat terbukti mampu mengakomodasi kebutuhan

penghuninya dan tanggap pada kondisi alam. Mengingat keberadaanya yang

begitu penting, maka rumah adat perlu untuk dilestarikan dan dijaga.

Bangunan atau arsitektur tradisional yang dibuat selalu dilatarbelakangi

oleh kondisi lingkungan dan kebudayaan yang dimiliki. Rumah adat dari 33

propinsi di Indonesia dapat dijumpai di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

TMII merupakan suatu kawasan taman wisata bertema budaya Indonesia. TMII

mulai dibangun pada tahun 1975 dengan luas wilayah kurang lebih 150 hektar

atau 1,5 km2 yang terletak pada koordinat 6o186.8LS,106o5347.2BT (TMII

2012).

Sebagian besar rumah adat dibangun dengan menggunakan material kayu.

Kayu sebagai bahan konstruksi bangunan dinilai tahan terhadap gempa. Apabila

ditinjau dari segi arsitektur, bangunan dari kayu memiliki nilai estetika yang

tinggi. Menurut Phansin dan de Zeuw (1970) kayu sebagai bahan konstruksi

memiliki keunggulan yaitu mudah dipotong, dapat disambung secara mudah,

tidak bersifat korosif, mempunyai sifat isolasi yang baik, serta memiliki sifat

kekakuan dan kekuatan yang sangat baik. Namun bangunan kayu memiliki

kelemahan terhadap serangan beragam faktor biologis perusak kayu.

Berdasarkan hasil observasi dari ke 33 anjungan rumah adat di TMII, 23

diantaranya adalah rumah kayu. Kayu memiliki sifat higroskopis yang dapat

menyerap dan mengeluarkan air sesuai dengan kondisi lingkungan, sehingga

kayu dapat lembab dan kering bergantian secara berulang-ulang (Rahayu dan

Coto 2008). Hal ini dapat menjadi penyebab timbulnya kerusakan oleh faktor

biologis. Umur bangunan juga menjadi faktor dari timbulnya kerusakan. Kayu

memiliki sifat keawetan yang berhubungan dengan masa pakai kayu.

Rumah adat Aceh merupakan salah satu bangunan yang material penyusun

bangunannya murni kayu. Terdapat keunikan di salah satu bangunan pada

anjungan Aceh yaitu rumah Cut Mutia yang dipindahkan dari Aceh langsung ke

TMII. Umur dari bangunan tersebut 175 tahun yang masih berdiri tegak dengan

desain rumah panggung (Jenong, wawancara, 18 Mei 2014).

Selain rumah adat Aceh, terdapat rumah adat khas Kalimanatan Tengah

yang komponen penyusun strukturnya murni dari kayu. Rumah adat asal

Kalimantan Tengah lebih dikenal dengan nama rumah Betang. Bentuk rumah ini

hampir mirip dengan rumah adat Aceh namun dengan skala yang lebih besar dan

disusun oleh tiang penyangga yang lebih banyak.

Evaluasi struktur sesuai dengan peraturan terbaru perlu dilakukan

mengingat dalam perencanaan, struktur harus mampu memikul beban rencana dan

mempunyai batas deformasi yang masih dalam daerah yang diijinkan.

Kemampuan suatu struktur untuk memikul beban tanpa mengalami kelebihan

tegangan ini diperoleh dengan menggunakan faktor keamanan dalam mendesain

elemen struktur (Schoclek 1999 dalam Surya 2012).

2

Mengingat pentingnya fungsi rumah menurut Undang-undang No 4 tahun

1992 yaitu sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga.

Oleh karena itu perlu dilakukan analisis bahaya kerusakan dan keamanan struktur

bangunan untuk penghuninya.

Perumusan Masalah

Bangunan rumah kayu merupakan bangunan yang rentan terhadap serangan

faktor perusak. Kerusakan tersebut dapat berpengaruh terhadap kekuatan,

terutama pada komponen struktural seperti balok dan kolom. Penelitian ini

mencoba menganalisis seberapa baik kondisi eksisting dan ketahanan struktur

bangunan rumah adat Aceh dan Kalimantan Tengah.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengevaluasi kondisi

bangunan rumah adat Aceh dan Kalimantan Tengah yang digunakan sebagai

objek wisata di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur secara visual serta

melakukan analisis struktur bangunan.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu informasi ilmiah bagi

perumusan kebijakan oleh pemerintah dalam pemeliharaan bangunan rumah adat

di Indonesia, khususnya di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.

Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini mencakup penilaian kondisi bangunan, identifikasi kerusakan,

faktor perusak, pengambilan sampel kayu dan data struktural. Selanjutnya

identifikasi jenis kayu, uji sifat fisis kayu, penentuan kekokohan bangunan, dan

analisis struktur bangunan. Tahap terakhir yaitu evaluasi kondisi bangunan

dengan mengkaji hubungan dari seluruh komponen data yang diperoleh.

METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga Mei 2014. Lokasi

penelitian dilakukan pada anjungan rumah adat Aceh dan Kalimantan Tengah di

3

Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Penelitian ini dilakukan tiga tahap,

yaitu survei pendahuluan, penelitian lapang, dan analisis struktur.

Bahan

Bahan utama penelitian terdiri dari dua macam bagian yaitu untuk

penilaian kondisi bangunan secara visual dan analisis struktur. Bahan untuk

penilaian kondisi bangunan secara visual yaitu bangunan rumah adat Aceh dan

Kalimantan Tengan di TMII, tally sheet daftar penilaian kondisi tiap komponen

bangunan, alkohol 70% untuk menyimpan hewan (faktor perusak) yang

ditemukan, alumunium foil, plastik. Bahan untuk analisis struktur digunakan

gambar rekonstruksi pada rumah adat Kalimantan Tengah dan tally sheet daftar

pengukuran konstruksi bangunan rumah adat Aceh, serta sifat-sifat bahan

(material properties) berupa data kerapatan, berat jenis, dan kekakuan.

Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: meteran, tangga, caliper,

pisau cutter, lup perbesaran 10X, senter, botol film untuk menyimpan faktor

perusak yang ditemukan, moisture meter, hygrometer dan thermometer,

timbangan elektrik, mikroskop untuk mengidentifikasi anatomi kayu dan jenis

perusak, kamera untuk dokumentasi, PC atau notebook, Microsoft Office Excel

2007, serta program Structural Analiysis Program 2000 (SAP 2000) versi 16

Evaluation.

Prosedur Analisis Data

Penilaian kekokohan bangunan rumah adat Aceh dan Kalteng dilaksanakan

dengan menggunakan metode rekayasa forensic dalam rangka mengevaluasi

kondisi bangunan dan analisis struktur. Metode forensic adalah metode investigasi

rekayasa dan penyebab kegagalan bangunan (Sulaiman 2005). Sebelum dilakukan

penilaian kekokohan bangunan, perlu dilakukan pembobotan pada tiap komponen

konstruksi bangunan. Suryadi (2005) telah melakukan pembobotan komponen

konstruksi pada bangunan sederhana tidak bertingkat. Pada penelitian ini

dilakukan penilaian kekokohan bangunan terhadap rumah panggung murni

dengan kayu. Menurut Triestini (2000) komponen rumah panggung tidak jauh

berbeda dengan komponen rumah dan gedung namun pada bagian lantai

komponen yang utama adalah tiang-tiang penyangga rumah.

Oleh karena itu dilakukan modifikasi pembobotan tiap komponen bangunan

berdasarkan Suryadi (2005) untuk rumah panggung. Modifikasi dilakukan pada

seluruh lingkup pekerjaan dengan pertimbangan struktur bangunan gedung yang

berbeda dengan rumah panggung. Nilai pembobotan diberikan berdasarkan

kriteria pertimbangan pengaruh masing-masing pekerjaan konstruksi dalam

memberikan fungsi dan kekokohan bangunan terhadap faktor perusak bangunan.

Teknik pembobotan pada bagian konstruksi disajikan pada Tabel 1.

4

Tabel 1 Teknik pembobotan pada tiap komponen konstruksi

NoNo Lingkup Pekerjaan

Bobot

Kepentingan

(BK)

Hasil Pemeriksaan N

Nilai

(Sn)

BKx Sn Baik Sedang

Rusak/ Kurang

Ringan Sedang Parah

% 5 4 3 2 1

A Pekerjaan Atap 37

Kuda-kuda 13

Rangka atap 12

Penutup atap 12

B Dinding 21

Rangka Dinding 7

Tiang Dinding 7

Penutup Dinding 7

C Pintu dan Jendela 6

Pintu 3

Jendela 3

D Lantai 34

Tiang Lantai 14

Rangka lantai 11

Penutup Lantai 9

E Drainase 1

Alat penerimaan air

buangan

0.25

Saluran pembuangan 0.25

Tempat pembuangan 0.25

Jalan 0.25

F Utilitas 1

Penerangan 0.25

Air 0.25

Pengatur udara 0.25

Telekomunikasi 0.25

Total 100

Nilai Kekokohan

Untuk mendapatkan nilai kekokohan masing masing lingkup pekerjaan

didapat dengan rumus:

Nilai Kekokohan Bangunan =Total (BK x Sn)

500x100%

Penurunan Nilai Kekokohan = BKNilai Kekokohan

BK x 100%

dimana: BK= bobot kegiatan Sn=skor nilai

Penentuan kategori kondisi bangunan yang dipergunakan dalam pengamatan

ini dikelompokkan dalam lima kelas kondisi, bergantung pada presentasi akhir

nilai kekokohan yang diperoleh. Kategori nilai kekokohan bangunan dan

predikatnya disajikan pada Tabel 2 dibawah ini:

5

Tabel 2 Kategori nilai kondisi bangunan dan predikatnya

No Nilai Kekokohan

(%)

Predikat

kategori

Uraian kondisi bangunan

1. 81-100 Baik Apabila kondisi pada komponen tersebut masih

berfungsi dengan baik dan ada pemeliharaan rutin

2. 61-80 Sedang Apabila kondisi pada komponen tersebut masih

berfungsi tetapi tidak ada pemeliharaan rutin

3. 41-60 Rusak

Ringan

Apabila kerusakan terjadi pada komponen non

struktural lebih sering terlihat sebagai kerusakan

pada pekerjaan finishing, seperti penutup atap,

pasangan plafon, pasangan kramik, pasangan bata,

plesteran dan lain-lain

4. 21-40 Rusak

Sedang

Apabila kerusakan terjadi pada sebagian komponen

non struktural maupun struktur atap, struktur

langit-langit, struktur beton, lantai dan lain-lain.

Pada fasilitas utilitas kerusakan yang terjadi sudah

mengganggu fungsional dari fasilitas tersebut

5 0-20 Rusak

Berat

Kerusakan yang terjadi pada sebagian besar

komponen bangunan, baik struktural maupun non

struktural yang apabila setelah diperbaiki masih

dapat berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya

meski dengan pembiayaan yang cukup mahal

Sumber: Sulaiman (2005).

Identifikasi jenis dan anatomi kayu

Identifikasi jenis kayu dilakukan dengan pengamatan ciri umum dan

anatomi. Ciri umum meliputi warna, corak, tekstur, arah serat. Sedangkan ciri

anatomi meliputi susunan, bentuk, dan ukuran sel. Ciri anatomi ini diamati dengan

menggunakan lup perbesaran 10X dan mikroskop perbesaran 30X.

Uji Sifat Fisis Kayu

1. Kadar Air (KA) Kadar air adalah banyaknya air yang ada di dalam kayu, yang pada umumnya

dinyatakan sebagai persen terhadap berat kering oven kayu. Pengujian kadar air

sampel kayu menggunakan rumus sebagai berikut:

=BA BKO

BKO 100

Keterangan : KA = kadar air

BA = berat awal

BKO = berat kering oven

6

2. Kerapatan Kayu Kerapatan merupakan perbandingan antara massa kayu dalam kondisi kering

udara per volume dalam kondisi kering udara menggunkan metode gravimetri.

Nilai kerapatan kayu diperoleh dengan menggunakan rumus:

kayu=m

V

Keterangan :

kayu = kerapatan kayu (kg/m3)

M = massa kering udara (kg)

V = volume kering udara (m3)

3. Berat Jenis Kayu Berat jenis adalah nilai perbandingan antara berat kayu kondisi kering tanur

per volume kayu dibagi dengan berat air pada volume yang sama menggunakan

metode gravimetri. Nilai berat jenis dihitung dengan menggunakan rumus:

BJ = BKT/V

air

Keterangan : BKT = berat kering yanur (kg) Vu = volume kering udara (m3)

air = 1000 kg/m3

Pemodelan Struktur Bangunan

Struktur bangunan dimodelkan dalam 3D menggunakan software

komputer berbasis elemen hingga (SAP 2000). Pemodelan struktur 3D rumah adat

Aceh dan Betang dirancang menggunakan kolom dan balok kayu seperti pada

Gambar 3 dan 7.

Struktur rumah adat Aceh memiliki ukuran panjang 13.2 m dan lebar 9 m

seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Bangunan berupa rumah panggung yang

memiliki ketinggian pondasi lantai 2.2 m dan tinggi ruang utama 1.5 m seperti

pada Gambar 2. Portal A-A merupakan potongan rumah pada arah x, sedangkan

portal B-B merupakan potongan rumah pada arah y. Rumah adat Aceh dibangun

menggunakan 24 tiang penyangga dengan jarak antar kolom pondasi ditunjukkan

pada Gambar 1. Ukuran kolom dan balok pada rumah adat Aceh ditunjukkan pada

Tabel 3.

7

Gambar 1 Denah bangunan rumah adat Aceh

(a) Portal A-A Aceh (b) Portal B-B Aceh

Gambar 2 Portal bangunan rumah adat Aceh

Gambar 3 Struktur 3D bangunan rumah adat Aceh

Kolom 100 dan 101

Joint atap

Kolom 2 dan 3

y

x

Portal A-A

Portal B-B

8

Tabel 3 Ukuran komponen kolom dan balok rumah adat Aceh

Komponen Kode Material Dimensi (m)

Kolom AK1 Kayu meranti merah d = 0.252

Balok AB1 Kayu meranti merah b = 0.38; h = 0.078

AB2 Kayu meranti merah b = 0.27; h = 0.104

AB3 Kayu meranti merah b = 0.272; h = 0.078

Struktur rumah Kalteng memiliki ukuran panjang 45 m dan lebar 25 m

seperti pada Gambar 4. Ketinggian pondasi lantai 4.5 m dan tinggi ruang utama

3.1 m seperti Gambar 5 dan 6. Jenis kayu pada rumah Kalteng yaitu kayu ulin

dengan ukuran kolom dan balok kayu yang disajikan pada Tabel 4.

Gambar 4 Denah bangunan rumah adat Kalteng

Gambar 5 Portal A-A rumah adat Kalteng

y

x

z

x

9

Gambar 6 Portal B-B rumah adat Kalteng

Gambar 7 Struktur 3D bangunan rumah adat Kalteng

Tabel 4 Ukuran komponen kolom dan balok rumah adat Kalteng

Komponen Kode Material Dimensi (m)

Kolom K1 kayu ulin d = 0.50

K2 kayu ulin d = 0.25

K3 kayu ulin d = 0.60

K4 Kayu ulin d = 0.40

Balok BL kayu ulin b = 0.14; h = 0.07

BG1 kayu ulin d = 0.20

BG2 kayu ulin d = 0.15

BK1 kayu ulin b = 0.50; h = 0.25

BK2 kayu ulin b = 0.25; h = 0.15

BK3 kayu ulin b = 0.20; h = 0.10

Kolom 103 dan 104

Kolom 17

Kolom 1 dan 2

Joint atap

z

y

10

Sifat-sifat bahan (material properties) yang digunakan dalam pemodelan

yaitu kerapatan, kekakuan (MOE) EL, ER, ET, poissons ratio () 12, 13, 23, dan

modulus geser (G) GLR, GLT, GRT. Nilai sifat-sifat bahan ditentukan berdasarkan

literatur karena terbatasnya alat yang digunakan dalam penelitian. Nilai kerapatan

kayu meranti merah dan kayu ulin didapatkan dari hasil pengujian di laboratorium

yaitu masing-masing 629 kg/m3 dan 983 kg/m3. Menurut PKKI nilai MOE

ditentukan berdasarkan kelas kuat kayu. Kayu meranti merah termasuk dalam

kelas kuat II-IV, sedangkan kayu ulin termasuk dalam kelas kuat I. Nilai MOE

untuk kayu kelas kuat II-IV dan I masing-masing 8 x 108 kg/m2 dan 1.25 x 109

kg/m2. Menurut Mardikanto et al. (2011) nilai MOE tersebut belum memenuhi

untuk dimasukkan ke dalam data sifat-sifat bahan karena merupakan data

elastisitas hasil pengujian lentur saja (EL). Selanjutnya untuk mendapatkan nilai

EL, ER, ET dan nilai modulus geser (G) digunakan konstanta elastisitas kayu rataan

menurut Bodig dan Jayne (1993) yaitu:

EL : ER : ET 20 : 1.6 : 1

EL : GLR 14 : 1

GLR : GLT : GRT 10 : 9.4 : 1

Analisis Seismik Struktur Bangunan

Struktur bangunan dianalisis dengan metode analisis riwayat waktu (Time

History Analysis) menggunakan record gempa El-Centro yang terjadi di Imperrial

Valley 19 Mei 1940. Record gempa El-centro adalah salah satu record gempa

alami yang sering digunakan untuk analisis dinamik struktural guna memahami

kinerja sruktur tersebut. Analisis ini dilakukan dengan bantuan software komputer

berbasis elemen hingga (SAP 2000). Record gempa El-Centro memiliki

percepatan 0.34 G seperti pada Gambar 8.

Gaya-gaya dalam hasil analisis struktur digunakan untuk menghitung

tegangan aktual elemen struktur. Evaluasi kekuatan elemen struktur dihitung

dengan menggunakan metode Allowable Stress Design (ASD). Metode ini

membandingkan antara nilai tegangan aktual dan tegangan ijin. Tegangan ijin

dihitung berdasarkan kelas kuat kayu menurut daftar IIa PKKI 1961. Kayu

meranti merupakan kayu kelas kuat II-IV dan kayu ulin merupakan kayu kelas

kuat I. Nilai tegangan ijin berdasarkan kelas kuat kayu menurut daftar IIa PKKI

disajikan pada Tabel 5.

Sumber: http://peer.berkeley.edu/nga/

Gambar 8 Akselelogram gempa El-Centro 19 Mei 1940

11

Tabel 5 Nilai tegangan ijin rumah adat Aceh dan Kalteng

Tegangan Ijin Jenis Kayu

Meranti Merah (KK II-IV) Ulin (KK I)

Tegangan Ijin Lentur (kg/cm2) 75 150

Tegangan Ijin Geser (kg/cm2) 8 20

Selain analisis gaya dalam, dilakukan analisis perpindahan struktur

bangunan (displacement). Perpindahan struktur dilakukan untuk mengetahui

respon struktur saat mengalami pembebanan gempa.

Evaluasi Kondisi Bangunan

Evaluasi kondisi bangunan dilakukan dengan menyatukan data hasil

pengamatan visual dan analisis struktural. Data hasil pengamatan visual berupa

penilaian kekokohan bangunan dan bentuk kerusakan bangunan yang didukung

dengan hasil analisis seismik struktur bangunan. Sehingga hasil yang diperoleh

dapat digunakan sebagai penentu kondisi bangunan dan ketahanananya terhadap

gempa.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum Rumah Adat

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan suatu kawasan taman

wisata yang terletak di Jakarta Timur. Sejak berdirinya pada tahun 1975 sampai

tahun 2000, di TMII terdiri dari 27 anjungan rumah adat, sedangkan saat ini

anjungan di TMII berjumlah 33 propinsi (TMII 2012). Sebanyak 33 anjungan

rumah adat di TMII, 23 di antaranya adalah rumah kayu, meskipun demikian

rumah kayu tersebut tidak seluruhnya dibangun murni dengan kayu akibat sudah

adanya renovasi dan pergantian komponen bangunan.

Rumah Cut Mutia adalah rumah adat yang berada di dalam kawasan

anjungan Aceh yang langsung dipindahkan dari tempat asalnya di Aceh kedalam

TMII. Rumah ini merupakan rumah panggung yang seluruh material penyusun

bangunannya murni kayu yang sudah berumur 175 tahun (TMII 2012). Rumah

ini memiliki satu ruangan di dalamya berupa ruang kamar tidur yang berada di

tengah-tengah bangunan berukuran 7.87 m x 3.45 m. Tiang penyangga yang

digunakan berjumlah 24 buah dengan menggunakan material kayu.

12

Gambar 9 Rumah adat Aceh Cut Mutia

(a) (b)

Gambar 10 Bagian rumah adat Aceh: (a) penampakkan samping rumah adat

Aceh Cut meutia; (b) ruang kamar tidur bagian dalam

Rumah Adat Kalimantan Tengah adalah rumah Betang yang berarti

kerukunan hidup. Rumah Betang dibangun pada tahun 1992 dengan menggunakan

kayu ulin yang dikirim dari Kalimantan. Pada tahun 2013 diadakan renovasi

terhadap lantai dasar bagian bawah bangunan yang sekarang sudah dipasang

keramik. Seluruh komponen dari rumah Betang menggunakan kayu. Rumah

Betang memiliki bentuk yang mirip dengan rumah Aceh namun dengan skala

yang lebih besar.

Gambar 11 Rumah adat Betang Kalimantan Tengah

13

(a) (b)

Gambar 12 Bagian rumah adat Betang Kalimantan Tengah; (a) bagian belakang

bangunan; (b) bagian dalam bangunan.

Indeks Kondisi Bangunan

Penilaian indeks kondisi bangunan dilakukan terhadap komponen stuktural

maupun non struktural secara visual. Berdasarkan metode yang digunakan,

penilaian kondisi bangunan meliputi pekerjaan (1) atap, (2) dinding, (3) pintu dan

jendela, (4) lantai, (5) drainase, dan (6) utilitas. Selain itu penilaian ini di

khususkan pada komponen kayu yang menjadi bahan utama penyusun bangunan

rumah adat.

Nilai kekokohan bangunan rumah adat Aceh Cut Meutia yang diperoleh dari

hasil skoring terhadap komponen bangunan struktural maupun non struktural di

sajikan pada Tabel 6.

Tabel 6 Hasil pemeriksaan kondisi bangunan rumah adat Aceh

No Lingkup

Pekerjaan

Acuan

Penilaian Hasil Pemeriksaan lapang

BK

(%)

BK x Sn

(Max)

BKxSn Nilai

Kekokohan

(%)

Penurunan

Kekokohan

(%)

1 Atap 37 185 124 24.8 33.33

2 Dinding 21 105 63 12.6 40

3 Pintu dan Jendela 6 30 24 4.8 20

4 Lantai 34 170 88 17.6 46.67

5 Drainase 1 5 4.25 0.85 15

6 Utilitas 1 5 4 0.8 20

Total 100 500 307.25 61.45 38.55

Survei lapang pada bangunan rumah adat Aceh yaitu rumah Cut Meutia

menunjukkan penurunan kekokohan bangunan terbesar terjadi pada lingkup

pekerjaan lantai, yaitu sebesar 46.6%. Kerusakan banyak terjadi pada komponen

tiang lantai. Gambar 13a menunjukkan bekas serangan rayap kayu kering yang

ditinggalkan berupa bubuk ekstremen coklat. Gambar 13b menunjukkan

terjadinya pelapukan pada komponen tiang. Komponen tiang lantai ini merupakan

bagian eksterior sehingga sering terkena hujan dan sinar matahari bergantian.

14

Menurut Hunt dan Garrat (1986), pelapukan disebabkan oleh perubahan kadar air

yang berulang-ulang, karena kayu bersifat higroskopis yang dapat mengembang

dalam kondisi basah dan mengering dalam kering. Serta terjadi retak di sepanjang

kayu (Gambar 13c).

(a) (b) (c)

Gambar 13 Kerusakan pada komponen lantai tiang penyangga: (a) serangan rayap

kayu kering; (b) pelapukan kayu; (c) retakan disepanjang tiang

Kerusakan lain yang terjadi pada lingkup pekerjaan lantai adalah pada

komponen rangka lantai berupa lepasnya sambungan penutup lantai dengan

rangka lantai sehingga menimbulkan celah (Gambar 14a), pengeroposan pada

bagian balok induk (Gambar 14b), serta cacat berupa mata kayu (Gambar 14c).

(a) (b) (c)

Gambar 14 Kerusakan pada komponen lantai dan penutup lantai: (a) lepasnya

sambungan penutup atap dengan rangka lantai; (b) balok induk yang

keropos; (c) mata kayu pada balok anak.

Lingkup pekerjaan yang memiliki nilai penurunan kekokohan tertinggi

setelah lingkup pekerjaan lantai adalah pada lingkup pekerjaan atap sebesar

33.33%. Kerusakan sebagian besar ditemukan pada komponen rangka atap.

Kerusakan pada reng dan kaso berupa: pecah dan retak pada komponen kaso,

kayu keropos dan patah pada komponen reng seperti yang disajikan pada Gambar

15.

15

(a) (b) (c)

Gambar 15 Kerusakan pada komponen reng dan kaso: (a) pecah dan retak pada

kaso; (b) pengeroposan pada reng; (c) patah pada reng

Lingkup pekerjaan yang memiliki nilai penurunan kekokohan terendah

adalah lingkup drainase yaitu 15%. Lingkup pekerjaan drainase meliputi alat

penerimaan air buangan, saluran pembuangan, tempat pembuangan dan jalan.

Penilaian kondisi komponen lingkup pekerjaan drainase masih dalam kondisi baik,

hanya kurang perawatan, sehingga penurunan kekokohan lingkup pekerjaan ini

bernilai kecil.

Nilai kekokohan bangunan rumah adat Kalimantan Tengah yang diperoleh

dari hasil skoring terhadap komponen bangunan struktural maupun non struktural

di sajikan pada Tabel 7.

Tabel 7 Hasil pemeriksaan kondisi bangunan rumah adat Kalimantan Tengah

No Lingkup

Pekerjaan

Acuan Penilaian Hasil Pemeriksaan lapang

BK

(%)

BK x Sn

(Max)

BKxSn Nilai

Kekokohan

(%)

Penurunan

Kekokohan

(%)

1 Atap 37 185 123 24.6 33.33

2 Dinding 21 105 77 15.4 26.67

3 Pintu dan Jendela 6 30 27 5.4 10

4 Lantai 34 170 102 20.4 40

5 Drainase 1 5 4.5 0.9 10

6 Utilitas 1 5 4.75 0.95 5

Total 100 500 338.25 67.65 32.35

Survei lapang pada bangunan rumah adat Kalimantan Tengah

menunjukkan penurunan kekokohan terbesar terdapat pada lingkup pekerjaan

lantai sebesar 40%. Kerusakan sebagian besar ditemukan pada komponen tiang

lantai yang berfungsi sebagai pondasi. Kerusakan tersebut berupa: terjadi

perubahan warna dan lapuk akibat dari serangan jamur pelapuk, keropos akibat

serangan rayap tanah, timbulnya lubang-lubang di sekitar komponen pondasi

akibat serangga perusak kayu seperti yang disajikan pada Gambar 16. Komponen

kolom yang terserang rayap merupakan bagian yang langsung kontak dengan

tanah. Tarumingkeng (2000) bahwa rayap tanah mencapai objek serangannya

karena objek tersebut langsung berhubungan dengan tanah.

16

(a) (b) (c)

Gambar 16 Bentuk kerusakan pada komponen tiang lantai: (a) serangan jamur

pelapuk; (b) serangan rayap tanah; (c) serangan serangga perusak

Kerusakan lain yang terjadi pada komponen lantai adalah pada penutup

lantai berupa: lepasnya sambungan lantai (Gambar 17a), terdapat bagian lantai

yang sudah berlubang (Gambar 17b). Selain itu lantai yang terserang lumut akibat

kondisinya yang sering terkena hujan dan matahari (Gambar 17c). Allsopp et al.

(2003) menyebutkan bahwa kerugian akibat tumbuhnya lumut dapat

menyebabkan masalah-masalah struktur dan masalah estetika tentang keindahan

suatu bangunan. Sebagian besar kerusakan pada komponen ini terjadi pada lantai

bagian luar. Menurut Priadi (2010) lantai bagian luar sering terkena paparan sinar

matahari menyebabkan cat pelindung lebih cepat terkelupas dibandingkan dengan

cat kayu yang ternaungi, hal ini dapat membuat bagian lantai bisa menyimpan air

dan menjadi sarana infeksi spora jamur.

(a) (b) (c)

Gambar 17 Kerusakan pada kmponen penutup lantai: (a) lepasnya sambungan

penutup lantai dengan rangka lantai; (b) lantai berlubang; (c)

serangan lumut

Penurunan kekokohan bangunan kedua yang memiliki nilai cukup tinggi

adalah pada bagian pekerjaan atap yaitu sebesar 33.3%. Kerusakan akibat jamur

sebagian besar ditemukan pada komponen atap yaitu kuda-kuda dan rangka atap

berupa: perubahan warna kayu akibat rembesan air hujan, dan perubahan warna

akibat serangan jamur pelapuk seperti yang disajikan pada Gambar 18.

17

(a) (b) (c)

Gambar 18 Kerusakan pada komponen balok gording dan balok bin: (a) bercak

akibat jamur; (b) serangan jamur pelapuk; (c) perubahan warna kayu

Bentuk kerusakan lain pada kompenen atap terjadi pada bagian penutup

atap sirap yang mengalami perubahan warna, retak dan pecah, serta berlubang

seperti yang di sajikan pada Gambar 19. Lubang ini memungkinkan timbulnya

kebocoran pada bagian dalam rumah dan dapat mempengaruhi komponen

bangunan lainnya. Penutup atap menggunakan kayu ulin yang dibentuk menjadi

lembaran tipis sirap dapat menjaga ruangan dan komponen kayu didalam ruangan

dari merembesnya air. Hal ini disampaikan oleh Saud dan Aufa (2012) bahwa

susunan sirap yang berlapis-lapis menghindari air merembes ke dalam ruangan

tetapi mengijinkan udara untuk bertukar ke dalam ruangan.

(a) (b) (c)

Gambar 19 Kerusakan pada komponen penutup atap sirap: (a) sirap bagian luar

yang retak dan pecah; (b) perubahan warna sirap bagian dalam; (c)

sirap yang berlubang

Lingkup pekerjaan yang memiliki penurunan kekokohan terendah yaitu

utilitas sebesar 5%. Penilaian utilitas mencakup penerangan, air, pengatur

udara/suhu dan telekomunikasi. Penurunan kekokohan lingkup pekerjaaan utilitas

bernilai rendah karena rumah adat Kalteng memiliki utilitas yang sangat baik

meliputi telepon, penyejuk ruangan, wifi dan penerangan di sekitar bangunan

yang baik.

Apabila ditinjau dari keseluruhan lingkup pekerjaan, rumah adat Aceh

memiliki nilai kekokohan bangunan sebesar 61.45% dengan penurunan nilai

kekokohan bangunan 38.55%, sedangkan rumah adat Kalteng memiliki nilai

kekokohan bangunan sebesar 67.65% dengan penurunan nilai kekokohan

bangunan 32.35%. Bangunan ini termasuk dalam predikat sedang dengan nilai

kekokohan bangunan berkisar 61-80 %. Sesuai pada Tabel 2, Kondisi ini

mengartikan bahwa komponen dalam bangunan masih berfungsi dengan baik

namun tidak ada pemeliharaan rutin. Apabila ditinjau dari kondisi suhu dan

kelembaban, rumah adat Aceh memiliki nilai suhu dan kelembaban masing-

18

masing berkisar 30-34 oC dan 45-60 %, sedangkan rumah adat Kalteng memiliki

suhu dan kelembaban masing-masing berkisar 34-35 oC dan 42-45 %. Rumah adat

Aceh memiliki suhu yang lebih rendah dengan kelembaban yang lebih tinggi

dibandingkan rumah adat Kalteng. Priadi (2010) mengungkapkan bahwa di daerah

dengan kelembaban yang lebih tinggi dan suhu yang lebih rendah, volume kayu

yang terkena biodeteriorasi cenderung lebih tinggi. Kayu ulin pada rumah adat

Kalteng dapat beradaptasi dengan baik pada kondisi suhu dan kelembaban

tersebut. Saud dan Aufa (2012) mengatakan bahwa kayu ulin sangat adaptif

dengan kondisi luar ruangan terutama ketahanan terhadap panas dan hujan.

Faktor Perusak Bangunan

Kerusakan bangunan sebagian besar terjadi pada bagian bawah bangunan

yaitu komponen tiang lantai. Adapun faktor perusak yang banyak ditemukan yaitu

jamur pelapuk dan rayap. Serangan jamur pelapuk dan rayap pada kedua

bangunan merupakan yang paling mendominasi. Hal ini diduga karena komponen

bangunan yang merupakan bahan kayu lama. Kayu memiliki sifat higroskopis

yang tinggi sehingga kondisi kayu yang sering terkena paparan matahari dan

hujan memicu pertumbuhan jamur pada komponen bangunan. Menurut Watt

(1999) pelapukan adalah kerusakan kayu yang disebabkan oleh faktor iklim (sinar

matahari, hujan, kelembaban, angin).

(a) (b)

Gambar 20 Faktor perusak bangunan genus Trigona dengan mikroskop

perbesaran 40X: (a) tampak atas lebah; (b) tampak samping lebah

Selain itu ditemukan serangga pada rumah adat Kalteng yang termasuk

dalam kelompok Hymenoptera. Serangga pada Gambar 20 termasuk dalam genus

Trigona yang merupakan family Apidae dengan subfamili meliponinae. Menurut

Syafrizal et al. (2012) Trigona termasuk dalam kelompok lebah yang merupakan

serangga sosial, hidup berkelompok dalam suatu koloni yang disebut stingless bee,

yaitu kelompok lebah yang tidak menyengat. CSIRO (1991) menyebutkan bahwa

trigona merupakan lebah madu asli yang berukuran kecil, biasanya ditemukan

dalam koloni yang besar. Goulet dan Huber (1993) menyebutkan ukuran lebah

trigona terkecil memiliki panjang tubuh 1.9 mm.

19

Lebah Trigona ditemukan pada kolom tiang rumah adat Kalteng pada

bagian celah-celah kayu. Lebah trigona yang ditemukan berukuran 0.4 cm dan

pengambilan foto dilakukan dengan mikroskop perbesaran 40X. CSIRO (1991)

menyebutkan bahwa sarang lebah trigona terdiri dari cerumen (campuran resin

dan disekresikan dengan lilin) yang biasanya dibangun di cekungan pohon.

Mairawita et al. (2012) juga menjelaskan bahwa lebah trigona banyak bersarang

pada rongga pohon dan celah-celah dinding rumah.

Anatomi Kayu

Pengamatan jenis kayu bangunan dilakukan menggunakan sampel yang

didapat dari bangunan yang sudah tidak terpakai. Sampel pada rumah adat Aceh

dulunya adalah merupakan tiang penyangga lantai yang menjadi pondasi,

sedangkan sampel pada rumah adat Kalteng didapat dari potongan kayu sisa yang

sudah tidak terpakai pada bagian lantai. Hasil identifikasi penampang melintang

menunjukkan bahwa ciri makroskopis pada sampel kayu rumah Aceh merupakan

kayu meranti merah (Shorea leprosula) seperti yang ditunjukkan pada Gambar

21a, sedangkan rumah Betang Kalteng merupakan kayu ulin (Eusideroxylon

zwageri) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 21b.

(a) Kayu Meranti Merah (b) kayu Ulin

Gambar 21 Penampang melintang kayu secara makroskopis perbesaran 30X: (a)

kayu meranti merah; (b) kayu ulin

Ciri umum dari kayu meranti merah ialah warna kayu merah kecoklatan,

arah serat umumnya berpadu, pori sebagian besar soliter berisi tilosis, diameter

umumnya 200-300 , kadang lebih dari 400 , frekuensi 2 8 per mm2, jari-jari

hampir seluruhnya multiseriat. Ciri khas dari kayu meranti merah lainnya ialah

terdapatnya saluran damar yang aksial dan juga memiliki saluran damar yang

radial. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Mandang dn Pandit (1997) bahwa ciri

utama dari kayu meranti merah mempunyai saluran aksial menyebar menurut

garis tangensial panjang, berisi endapan berwarna putih.

Ciri umum dari kayu ulin ialah warna kayu coklat kehitaman, pori tersebar

merata, sebagian besar soliter dan sebagian bergabung 2-3 dalam arah radial dan

berisi tilosis karena kayu ulin kaya akan ekstraktif. Menurut Martawijaya et al.

(2005) kayu ulin memiliki diameter pori 100-200 , dengan frekuensi 3-5 per

mm2, jari-jari heteroseluler 2-3 seriat, serta memiliki parenkim tipe paratrakeal

yang berbentuk selubung lengkap sampai aliform dan konfluen.

20

Kadar Air

Evaluasi kerusakan bangunan memperlihatkan bahwa kondisi kadar air

bangunan rata-rata yang diukur menggunakan moisture meter pada bangunan

rumah adat Aceh yaitu sebesar 13.76%. Kadar air rata-rata pada bangunan rumah

adat Kalteng sebesar 11.62%. Rumah adat Aceh memiliki kadar air yang lebih

tinggi dibandingkan rumah adat Kalteng, namun kedua rumah ini berada pada

kisaran kadar air kering udara menurut Kasmudjo (2010) bahwa kadar air kering

udara Indonesia rata-rata 10 18 %.

Selain itu dilakukan juga pengukuran kadar air kayu di laboratorium

menggunakan sampel kayu yang didapat di lapangan. Hasil pengukuran

menunjukkan bahwa nilai kadar air sampel pada kedua bangunan rumah adat

memiliki nilai yang tidak jauh berbeda. Masing-masing nilai kadar air rumah

Aceh dan Kalteng sebesar 11.76% dan 11.80%.

Hasil pengukuran di lapangan menggunakan alat uji kadar air moisture

meter berbeda dengan hasil pegukuran di laboraturium, namun kedua hasil

tersebut masih masuk dalam kisaran rata-rata kadar air kering udara kayu

Indonesia. Menurut Bowyer et al. (2003), perbedaan kadar air kayu dipengaruhi

berbagai faktor, diantaranya jenis kayu, tempat tumbuh dan umur dari pohon.

Selain itu faktor lingkungan dan waktu pengambilan data dapat menjadi alasan

timbulnya perbedaan nilai KA yang dihasilkan.

Kerapatan dan Berat Jenis

Berat jenis dan kerapatan dilakukan dengan menggunakan sampel kayu

yang didapat di lapangan dengan tiga kali pengulangan. Hasil pengujian

menunjukkan nilai BJ dan kerapatan untuk kayu meranti merah pada bangunan

rumah adat Aceh masing-masing 563 dan 629 kg/m3. BJ dan kerapatan kayu ulin

pada bangunan rumah adat Kalteng masing-masing 879 dan 983 kg/m3.

Menurut Bowyer et al. (2003) besarnya BJ kayu berbeda-beda tergantung

strukktur kayu dan perbandingan antara jumlah dinding sel dengan rongga kayu.

Secara umum dapat dikatakan bahwa komponen pada rumah adat Kalteng lebih

kuat dibandingkan komponen pada rumah adat Aceh karena pemilihan jenis kayu

yang lebih kuat. Kerapatan dan berat jenis kayu sangat mempengaruhi kekuatan

kayu. Sadiyo et al. (2012) mengungkapkan bahwa kerapatan kayu dapat

menggambarkan kekuatan kayu, dimana semakin besar nilai kerapatan suatu kayu

maka kayu tersebut semakin kuat.

Analisis Seismik Struktur Bangunan

Analisis seismik struktur bangunan dilakukan untuk menentukan respon

struktur bangunan ketika menghadapi pergerakan tanah (ground motion) akibat

gempa. Berdasarkan hasil analisis menggunakan metode time history dari record

gempa alami El-Centro 1940 diperoleh respon struktur berupa gaya dalam (gaya

geser dan momen) dan deformasi struktur (perpindahan).

21

Denah dan Bentuk Bangunan

Bangunan rumah adat Aceh mempunyai bentuk denah bangunan empat

persegi panjang dengan ukuran 9 m x 13.2 m, sehingga perbandingan panjang dan

lebar bangunan 2 : 3 dengan tinggi bangunan 7.3 m. Ruangan pada rumah adat

Aceh hanya berjumlah satu yang tepat berada di tengah-tengah bangunan. Apabila

ditinjau dari denah bangunan, rumah Aceh memiliki bentuk yang sangat

sederhana, simetris dan seragam dalam bahan yaitu kayu sebagai material

penyusun bangunan.

Bangunan rumah adat Kalteng mempunyai bentuk denah seperti huruf E

dengan panjang dan lebar bangunan 25 m x 45 m sehingga perbandingan panjang

dan lebar bangunan 1 : 1.8 dengan tinggi bangunan 12.49 m. Apabila ditinjau dari

denah bangunan menunjukkan bahwa bangunan sangat kompleks dan tidak

simetris pada bagian panjang dan lebarnya, namun penyekat-penyekat ruangan

pembentuk kamar susunannya sangat teratur dan simetris.

Bentuk rumah yang sederhana dan simetris merupakan bangunan yang

lebih tahan terhadap gempa. Seperti yang dikatakan menurut Boen (2009) bahwa

struktur rumah tahan gempa yaitu denah bangunan berbentuk sederhana dan

simetris, serta tinggi rumah yang proporsional.

Analisis Gaya Dalam

Analisis gaya dalam meliputi dua hal yaitu membandingkan nilai gaya

maksimum serta menghitung nilai tegangan aktual elemen pada posisi yang

berbeda. Elemen portal yang dianalisis pada rumah adat Aceh yaitu kolom 2

(AK1) dan kolom 3 (AK1) yang terletak pada bagian pojok bangunan, kolom 100

(AK1) dan kolom 101 (AK1) yang terletak pada bagian tengah bangunan.

Pemilihan kolom tersebut adalah untuk melihat gaya dalam yang timbul akibat

gempa pada posisi yang berbeda. Hasil analisis gaya dalam, diperoleh nilai gaya

geser tertinggi terdapat pada kolom 100 (AK1) sebesar 669.24 kgf (Tabel 8) yang

berbanding lurus dengan tegangan gesernya yang memperoleh nilai tertinggi

sebesar 1.34 kg/cm2 (Tabel 9).

Tabel 8 Gaya dalam kolom rumah adat Aceh akibat gempa

Gaya Dalam Kolom 2

(AK1)

Kolom 3

(AK1)

Kolom 100

(AK1)

Kolom 101

(AK1)

Gaya Geser (kgf) 565.47 -232.17 669.24 124.29

Momen (kg.m) -1244.04 -798.78 -1472.32 -945.79

Tabel 9 Nilai tegangan kolom rumah adat Aceh akibat gempa

Nilai Tegangan Kolom 2

(AK1)

Kolom 3

(AK1)

Kolom 100

(AK1)

Kolom 101

(AK1)

Geser (kg/cm2) 1.13 0.46 1.34 0.25

Lentur (kg/cm2) 111.07 70.52 131.45 84.44

Nilai momen dan tegangan lentur tertinggi terdapat pada kolom 100 (AK1)

masing-masing sebesar -1472.32 kg.m (Tabel 8) dan 131.45 kg/cm2 (Tabel 9).

Nilai tegangan lentur yang dihasilkan pada kolom 100 (AK1) melebihi tegangan

lentur yang diijinkan menurut PKKI untuk kayu kelas kuat II-IV sebesar 75

kg/cm2, sehingga kolom 100 (AK1) tidak aman untuk menahan momen yang

timbul. Menurut Mardikanto et al. (2011) tegangan geser kolom menyebabkan

22

deformasi berupa perpindahan horizontal. Perpindahan memiliki hubungan yang

berbanding lurus degan nilai momen. Semakin jauh perpindahan elemen akibat

pembebanan, maka nilai momen juga semakin tinggi.

Elemen portal yang dianalisis pada rumah adat Kalteng adalah kolom 1 (K1)

dan kolom 2 (K1) pada bagian pojok bangunan, kolom 17 (K4) pada bagian depan,

kemudian kolom 98 (K1) dan kolom 99 (K1) yang terdapat di bagian tengah-

tengah bangunan.

Tabel 10 Gaya dalam kolom rumah adat Kalimantan Tengah akibat gempa

Gaya Dalam Kolom 1

(K1)

Kolom 2

(K1)

Kolom 17

(K4)

Kolom

103 (K1)

Kolom

104 (K1)

Gaya Geser (kgf) 709.81 -608.46 8688.67 1188.12 720.89

Momen (kg.m) -3194.12 -3242.91 39099 -3834.74 -6710.66

Tabel 11 Nilai tegangan kolom rumah adat Kalimantan Tengah akibat gempa

Nilai Tegangan Kolom 1

(K1)

Kolom 2

(K1)

Kolom 17

(K4)

Kolom

103 (K1)

Kolom

104 (K1)

Geser (kg/cm2) 0.36 0.31 6.92 0.61 0.37

Lentur (kg/cm2) 37.10 37.66 889.42 44.54 77.94

Berdasarkan hasil analisis, nilai gaya geser dan tegangan geser tertinggi

pada rumah adat Kalteng terdapat pada kolom 17 (K4) masing-masing sebesar

8688.67 kgf (Tabel 10) dan 6.92 kg/cm2 (Tabel 11). Nilai gaya geser dan tegangan

geser yang timbul memiliki hubungan yang berbanding lurus.

Kolom 17 (K4) memperoleh nilai momen yang tinggi sebesar 39099 kg.m

(Tabel 10), sehingga kolom 17 (K4) juga memperoleh nilai tegangan lentur

tertinggi sebesar 889.42 kg/cm2 (Tabel 11). Tegangan aktual lentur yang

dihasilkan melebihi dari tegangan lentur yang diijinkan untuk kayu kelas I

menurut PKKI sebesar 150 kg/cm2. Kolom 17 (K4) merupakan tiang penyangga

pada bagian pondasi yang tidak menerus sampai dinding, sehingga diduga bahwa

komponen kolom 17 (K4) tidak dapat menahan momen yang timbul dan akan

mengalami kerusakan ketika mengalami beban gempa.

Tingginya nilai tegangan geser dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu

bentuk struktur, posisi kolom, dan jenis tumpuan. Posisi kolom yang terletak pada

bagian bawah portal menyebabkan kolom mendapatkan gaya geser yang lebih

besar dibandingkan dengan kolom lainnya. Menurut Mardikanto et al. (2011)

tegangan geser merupakan perbandingan antara beban sejajar penampang dengan

luas penampang geser. Nilai luas penampang antar kolom tidak jauh berbeda,

sehingga nilai gaya geser mempunyai pengaruh yang besar terhadap nilai

tegangan aktual geser.

Nilai tegangan lentur dipengaruhi oleh dimensi penampang. Hal ini karena

tegangan lentur merupakan perbandingan antara momen lentur dengan tahanan

momen penampang kolom. Menurut Prihatmaji (2007) semakin kecil dimensi

kayu pada kolom maka semakin lentur tetapi akan beresiko patah. Ukuran kayu

yang proporsional dibutuhkan untuk mengurangi nilai tegangan lentur dan resiko

patah.

23

Perpindahan Struktur Bangunan

Respon struktur berupa perpindahan pada rumah adat Aceh diambil pada

joint 24 dan pada rumah Kalteng diambil pada joint 162. Pemilihan joint tersebut

karena merupakan joint atap. Respon perpindahan struktur diwakili oleh joint atap.

Gambar 22 Nilai perpindahan struktur rumah adat Aceh dan Kalteng

Berdasarkan Gambar 22 nilai respon struktur perpindahan joint atap pada

sumbu x rumah adat Aceh diperoleh 0.14 m pada t = 4.04 detik, sedangkan

perpindahan joint atap pada sumbu x untuk rumah adat Kalteng 0.26 m pada saat t

= 4.41 detik. Gambar 23 menunjukkan grafik perpindahan joint atap Aceh dan

Kalteng selama 40 detik. Apabila membandingkan antara kedua rumah, maka

perpindahan struktur rumah adat Kalteng lebih tinggi daripada rumah adat Aceh.

Hal ini dikarenakan struktur rumah adat Kalteng lebih tinggi dibandingkan rumah

adat Aceh.

Gambar 23 Riwayat perpindahan struktur rumah adat Aceh dan Kalteng

Faktor yang mempengaruhi nilai perpindahan maksimum adalah kekakuan

bangunan. Menurut Suryanita et al. (2006) bahwa kekakuan berbanding terbalik

dengan perpindahan maksimum. Menurut Supit et al. (2013) kekakuan memiliki

formulasi yang berbanding lurus dengan modulus elastisitas (E) dan momen

inersia (I), namun berbanding terbalik dengan panjang bentang (L). Rumah adat

Aceh memiliki panjang bentang yang lebih kecil, sehingga rumah adat Aceh

0,14

0,26

0

0,05

0,1

0,15

0,2

0,25

0,3

Aceh Kalteng

Dis

pla

cem

ent

(m)

-0,15-0,12-0,09-0,06-0,03

00,030,060,090,120,150,180,210,240,27

0,3

0 10 20 30 40Dis

pla

cem

ent

(m)

Time (s)

Aceh

Kalteng

24

memiliki kekakuan struktur yang lebih tinggi dibandingkan rumah adat Kalteng.

Akibat kekakuan struktur yang lebih rendah, maka nilai perpindahan pada rumah

adat Kalteng menjadi lebih besar.

Kinerja Struktur Bangunan

Penilaian kinerja struktur didasarkan pada kemampuan bangunan dalam

menahan beban akibat gaya dalam berupa tegangan geser dan tegangan lentur.

Evaluasi kinerja dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kondisi struktur bila

terjadi gempa. Hasil analisis pada rumah adat Aceh dan Kalteng menunjukkan

bahwa kedua bangunan dapat menahan tegangan geser namun tidak dapat

menahan tegangan lentur akibat momen yang timbul. Hal ini terbukti dari nilai

tegangan aktual lentur bangunan yang melebihi nilai tegangan lentur yang

diijinkan. Menurut Dewobroto (2006) apabila salah satu dari komponen atau

elemen yang dikontrol gaya melebihi nilai-nilai yang ditetapkan maka dianggap

kinerjanya tidak memenuhi syarat. Oleh karena itu evaluasi kinerja struktur kedua

bangunan menjadi tidak aman terhadap gempa dengan percepatan tanah 0.34 G.

Evaluasi Kondisi Bangunan

Bangunan rumah Aceh dan Kalimantan Tengah termasuk rumah yang

layak untuk dihuni karena masih dalam kisaran predikat sedang dengan nilai

berkisar 61-80 % yaitu dengan nilai kekokohan masing-masing rumah adat Aceh

dan Kalteng 61.45% dan 67.65%. Kondisi ini menunjukkan bahwa kondisi

bangunan berada pada kondisi yang baik dengan berbagai kerusakan yang

ditemukan. Menurut Sulaiman (2005) bangunan yang tidak layak huni adalah

bangunan yang mempunyai nilai keterandalan 40%. Kerusakan yang terjadi

pada bangunan sebagian besar telah mengalami perbaikan berupa penggantian

komponen yang sangat rusak dan perawatan berupa pengecetan ulang pada

komponen-komponen yang mengalami kerusakan. Kegiatan perawatan yang

dilakukan pada rumah Aceh mencakup pembersihan terhadap debu dan kotoran

yang dilakukan setiap hari, penggantian dan pengecetan ulang terhadap komponen

bangunan yang rusak dilakukan 5 tahun sekali. Rumah adat Kalteng juga

melakukan perawatan berupa pembersihan bangunan dari debu dan kotoran yang

dilakukan setiap hari. Sejauh ini penggantian komponen bangunan belum pernah

dilakukan karena komponen kayu struktural maupun non struktural masih

berfungsi dengan baik, perawatan rutin hanya berupa pengecetan ulang pada

komponen kayu yang sudah berubah warna dengan menggunakan pelitur.

Berdasarkan hasil analisis struktur bangunan pada komponen kolom akibat

beban gempa berupa nilai gaya dalam (geser dan momen) dan nilai tegangan

memperlihatkan bahwa nilai tegangan aktual geser berada dibawah nilai tegangan

ijin geser, namun untuk nilai tegangan aktual lentur melebihi nilai tegangan ijin

lentur. Hal ini mengindikasikan bahwa komponen kolom tersebut tidak dapat

menahan momen yang timbul dan akan mengalami kerusakan akibat beban gempa.

Oleh karena itu perlu dilakukan perkuatan terhadap komponen tersebut, agar aman

menahan momen yang timbul.

25

SIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Hasil Identifikasi bangunan rumah adat Aceh memiliki nilai kekokohan

bangunan 61.45%, sedangkan rumah Kalteng memiliki nilai kekokohan bangunan

67.65% yang berarti kedua bangunan berada dalam kondisi sedang. Kondisi itu

menunjukkan bahwa komponen bangunan masih berfungsi dengan baik namun

tidak ada pemeliharaan rutin. Faktor perusak bangunan yang mendominasi pada

kedua bangunan ialah jamur dan rayap. Jenis kayu yang digunakan pada rumah

adat Aceh ialah meranti merah, sedangkan jenis kayu yang digunakan pada rumah

adat Kalteng ialah kayu ulin. Berdasarkan hasil analisis struktur bangunan rumah

Aceh dan Kalteng dengan permodelan struktur 3D menunjukkan struktur tidak

mampu menahan gaya gempa dengan percepatan 0.34 G. Hal ini dikarenakan nilai

tegangan aktual lentur lebih tinggi daripada tegangan lentur yang diijinkan.

Saran

Perlu dilakukan perawatan dan perbaikan terhadap komponen bangunan

yang rusak guna menjaga kondisi bangunan agar tetap aman. Selain itu perlu

penelitian lebih lanjut untuk menentukan dimensi tiap komponen agar ekonomis

dan aman terhadap gempa.

DAFTAR PUSTAKA

Allsopp Dennis, Kenneth J Seal and Christine C. Gaylarde. 2003. Introduction to

Biodeterioration ( Second edition). Cambridge (UK): Cambridge University

Press.

Bodig J, Jayne BA. 1982. Mechanics of Wood and Wood Composite. Malabar,

Florida (US): Krieger Publishing Company.

Boen T. 2009. Constructing Seismic Resistant Masonry Houses in Indonesia.

Jakarta (ID): United Nations Centre for Regional Development (UNCRD)

Bowyer JL, Shmulsky R, Haygreen JG. 2003. Forest Products and Wood Science,

An Introduction. USA: The Lowa State University Press.

[CSIRO] Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation. 1991.

The Insects of Australia. Australia (AU): Melbourne University Press.

Dewobroto W. 2006. Evaluasi kinerja bangunan baja tahan gempa dengan

SAP2000. Jurnal Teknik Sipil. Vol 3(1):7-24.

Goulet H, Huber JT. 1993. Hymenoptera of The World: An Identification guide to

families. Otawa (CA): Canada Communication Group.

Hunt GM, Garrat GA. 1986. Pengawetan Kayu. (terjemahan Mohammad Jusuf)

Edisi I. Jakarta (ID): Akademika Pressindo.

Kasmudjo. 2010. Teknologi Hasil Hutan. Yogyakarta (ID): Cakrawala Media.

26

Mairawita, Hubazar T, Hasyim A, Nasir N. 2012. Potensi Trigona spp. sebagai

Agen Penyebab Bakteri Ralstonia Solanacearum Phylotipe IV Penyebab

Penyakit Darah pada Tanaman Pisang. J HPT Tropika. 12(1):92-101.

Mandang YI, Pandit IKN. 1997. Pedoman Identifikasi Jenis Kayu di Lapangan.

Bogor (ID): Yayasan PROSEA, Bogor dan Pusat DiklatPegawai dan SDM

Kehutanan.

Mardikanto TR, Karlinasari L, Bahtiar ET. 2011. Sifat Mekanis Kayu. Bogor (ID):

IPB Press.

Martawijaya A, Katasujana I, Prawira SA, Kadir K. 2005. Atlas kayu Indonesia

Jilid II. Bogor (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.

Phansin AJ and de Zeuw C. 1970. Text Book of Wood Technology Vol III. New

York (US): Mc Graw Hill Book Company.

Priadi T, Nandika D, Sofyan K, Achmad, Witarto AB. 2010. Biodeteriorasi

komponen kayu rumah di beberapa daerah yang berbeda suhu dan

kelembaban. Jurnal ITHH. 3(1):26-31.

Prihatmaji YP. 2007. Perilaku rumah tradisional Jawa joglo terhadap gempa.

Dimensi Teknik Arsitektur. 35(1):26-31.

Rahayu IS, Coto Z. 2008. Pengaruh perlakuan vakum terhadap absorpsi air oleh

kayu dalam proses rendaman dingin. Jurnal ITHH. 1(1):9-17.

Sadiyo S, Wahyudi I, Yoresta FS, Nurhasanah, Sholihin M. 2012. Analisis

kekuatan sambungan geser ganda enam jenis kayu pada berbagai sesaran

menurut diameter dan jumlah baut. Jurnal Perennial. 8(2):52-61.

Saud MI, Aufa N. 2012. Tanggapan terhadap iklim sebagai perwujudan nilai

vernakular pada rumah bubungan tinggi. LANTING Journal of Architecture.

1(2):106-116.

Sulaiman. 2005. Keterandalan konstruksi bangunan pendidikan (studi kasus pada

gedung sekolah dasar) [tesis]. Bogor (ID). Institut Pertanian Bogor.

Supit NWA, Sumajow MDJ, Tambato WJ, Dapas SO. 2013. Struktur bangunan

beton bertulang bertingkat banyak dengan variasi orientasi sumbu kolom.

Jurnal Sipil Statik. 1(11):696-704

Surya M. 2012. Analisis dan Evaluasi Struktur Wing Fahutan IPB, Bogor,

terhadap Ketahanan Gempa berdasarkan Peta Gempa Indonesia 2010

[skripsi]. Bogor (ID).Institut Pertanian Bogor.

Suryadi D. 2005. Kekokohan Konstruksi Bangunan Sekolah Dasar Negeri (Studi

Kasus: Kec. Cibarusah Kab. Bekasi. [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Teknik

Universitas Pakuan.

Suryanita R, Mudjiatko, Hendra S. 2006. Respon struktur sistem derajat

kebebasan tunggal akibat beban dinamis dengan pola pembebanan segitiga.

Jurnal Sains dan Teknologi. 5(2):32-37.

Syafrizal, Bratawinata AA, Sila M, Marji D. 2012. Jenis Lebah Kelulut (Trigona

spp.) di Hutan Pendidikan Lempake. Mulawarman Scientifie. Vol 11(1):11-

18.

Tarumingkeng RC. 2000. Manajemen Deteriorasi Hasil Hutan: Topik-topik

terpilih. Jakarta (ID): UKRIDA Press.

[TMII] Taman Mini Indonesia Indah. 2012. Tentang TMII [Internet]. [diunduh

2014 April 15]. Tersedia pada: http://www.tamanmini.com/tentang-tmii.php.

27

Triestine Y. 2000. Pemanfaatan jenis kayu oleh masyarakat ambai sebagai bahan

baku komponen bangunan rumah berlabuh [skripsi]. Bogor (ID): Instititut

Pertanian Bogor.

Undang-Undang tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman.

Watt DS. 1999. Building Pathology : Principle and Practice. Cambridge (UK):

Cambridge The University Press.

28

LAMPIRAN

29

Lampiran 1 Hasil penilaian kondisi bangunan rumah adat Aceh dan Kalteng

No Lingkup

Pekerjaan Material

Bobot

Kepentingan

(%)

Aceh Kalteng

Nilai

(Sn)

BkxSn Nilai

(Sn)

BkxSn

A PEKERJAAN

ATAP

37

1 Kuda-kuda Kayu 13 4 52 3 39

2 Rangka atap Kayu 12 3 36 4 48

3 Penutup atap Kayu 12 3 36 3 36

B DINDING 21

1 Rangka dinding Kayu 7 3 21 4 28

2 Tiang dinding Kayu 7 3 21 4 28

3 Penutup dinding Kayu 7 3 21 3 21

C PINTU DAN

JENDELA

6

1 Pintu Kayu 3 4 12 4 12

2 Jendela Kayu 3 4 12 5 15

D LANTAI 34

1 Tiang lantai Kayu 14 2 28 3 42

2 Rangka lantai Kayu 11 3 33 3 33

3 Penutup lantai Kayu 9 3 27 3 27

E DRAINASE 1

1 Alat penerimaan

air buangan

0.25 4 1 3 0.75

2 Saluran

pembuangan

0.25 4 1 5 1.25

3 Tempat

pembuangan

0.25 4 1 5 1.25

4 Jalan 0.25 5 1.25 5 1.25

F UTILITAS 1

1 Penerangan 0.25 4 1 4 1

2 Air 0.25 4 1 5 1.25

3 Pengatur

udara/suhu

0.25 3 0.75 5 1.25

4 Telekomunikasi 0.25 5 1.25 5 1.25

Total 100 307.25 338.25

Nilai Kekokohan 61.45 67.65

30

Lampiran 2 Contoh perhitungan nilai tegangan maksimum kolom akibat gaya

dalam

1. Cek Tegangan geser pada kolom 1 rumah adat Kalteng Dik : V = 709.81 kgf (gaya geser berdasarkan analisis menggunakan

software berbasis elemen hingga)

d = 50 cm

BJ = 0.879

Beban tetap + gempa = 5/4

Konstruksi terlindung, = 1

Tegangan ijin geser kolom = //r = 12 kg/cm2

Luas penampang geser = A lingkaran = x x d2

= x 3.14 x 502

= 1962.5

Tegangan geser aktual = //r =

=

709.81

1962.5 = 0.362 kg/cm2

= 0.362 kg/cm2< 12 kg/cm2.. Aman

2. Cek tegangan lentur aktual kolom 1 rumah adat Kalteng

Dik: M = -3194.12 kg.m (momen berdasarkan analisis menggunakan software

berbsis elemen hingga)

d= 50 cm

Faktor perlemahan = 30%

Tegangan ijin lentur kolom = lt = 150 kg/cm2

Tahanan momen lingkaran = W = d3 32

= 3.14 x 0.53

32 = 0.0123 m3

Tegangan lentur aktual = lt =

. =

3194.12

0.7 0.0123 = 370977.93 kg/m2

=37.098 kg/cm2 < 150 kg/cm2.. Aman

31

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Depok pada tanggal 15 September 1992. Penulis

merupakan anak keempat dari empat bersaudara dari keluarga Bapak Sumarno

dan Ibu Tukiyah. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar pada tahun 2004 di

SDN 1 Depok. Kemudian melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMPN 1

Depok dan lulus pada tahun 2007. Sedangkan pada tahun 2010 penulis

menamatkan pendidikan menengah atas di SMAN 109 Jakarta. Pada tahun yang

sama penulis diterima di IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).

Selama menjadi mahasiswa penulis telah mengikuti beberapa kegiatan

praktek lapang diantaranya yaitu Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan (PPEH)

pada tahun 2012 di Pangandaran dan Gunung Sawal Tasikmalaya. Pada tahun

2013 penulis mengikuti kegiatan Praktek Pengelolaan Hutan (PPH) dengan lokasi

di Hutan Pendidikan Gunung Walat, KPH Cianjur, Taman Nasional Gunung

Halimun Salak, dan PGT Sindangwangi. Kemudian pada tahun yang sama juga,

penulis melanjutkan mengikuti kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT.

Sumber Mas Indah Plywood Gresik, Jawa Timur.

Selain aktif mengikuti perkuliahan, penulis juga aktif dalam kepanitiaan

kegiatan kampus. Penulis juga menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Hasil

Hutan (HIMASILTAN) sebagai bendahara umum Himasiltan pada tahun 2012.

Untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan, penulis menyelesaikan

skripsi dengan judul Evaluasi Kondisi Bangunan Rumah Aceh dan Kalimantan

Tengah di Taman Mini Indonesia Indah dibawah bimbingan Dr Lina Karlinasari

SHut, MSc, FTrop dan Fengky Satria Yoresta ST, MT.