evaluasi kinerja keuangan bank dalam kerangka arsitektur ...

of 12 /12
EVALUASI KINERJA KEUANGAN BANK DALAM KERANGKA ARSITEKTUR PERBANKAN INDONESIA PERIODE 2004-2008 : PERBANDINGAN CAR, NPL, LDR, EATAR, BOPO, dan ROA Nita Puspita Sari Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma [email protected] ABSTRAK Pada Januari 2004, Bank Indonesia mencanangkan implementasi Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Mengacu ke kerangka API, bank di Indonesia dibagi menjadi 4 kelompok bank berdasarkan kemampuan modalnya, yaitu bank internasional, bank nasional, bank fokus, dan bank dengan kegiatan terbatas. Sampai Desember 2009, tercatat tidak ada bank internasional, 5 buah bank nasional, dan sisanya tercatat dalam kelompok bank dengan kegiatan fokus dan bank dengan kegiatan terbatas. Dari 20 bank yang diteliti, hasil uji t menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan rata-rata CAR, NPL, dan LDR antara bank fokus dan bank terbatas, namun terdapat perbedaan rata-rata EATAR, BOPO, dan ROA antara kedua kelompok bank tersebut. Sedangkan pada perbandingan kinerja keuangan antara bank dengan kegiatan fokus dan bank dengan kegiatan terbatas menunjukkan hasil bahwa bank dengan kegiatan fokus menunjukkan efisiensi, persentase aktiva produktif dan tingkat keuntungan yang lebih tinggi, bank dengan kegiatan fokus juga mempunyai persentase kredit bermasalah yang relatif lebih rendah. Namun pada kecukupan modal (CAR) dan likuiditas (LDR), bank fokus memiliki persentase yang lebih rendah dari bank terbatas. Kata kunci : Arsitektur Perbankan Indonesia, Kecukupan Modal, Kredit Bermasalah, Likuiditas, dan Rentabilitas . PENDAHULUAN Seiring dengan krisis multi dimensi yang menimpa Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 yang dimulai dengan merosotnya nilai rupiah terhadap dollar Amerika Serikat telah menghancurkan sendi-sendi ekonomi termasuk pada sektor perbankan nasional. Perbankan merupakan salah satu sektor ekonomi yang paling sentral peranannya dalam memobilisasi dana masyarakat dan merupakan industri yang memiliki peranan penting dalam laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. Hal ini tercermin pada fungsi perbankan sebagai penjamin penyelesaian perdagangan, penjamin penyelesaian proyek dan terutama sebagai lembaga perantara atau intermediary. Sebagai lembaga perantara atau intermediary diperlukan bank dengan kinerja yang sehat sehingga proses intermediary dapat berjalan dengan lancar. Untuk mengukur kinerja bank indikator yang biasa digunakan adalah pendekatan kinerja bank secara ekonomi yaitu kinerja keuangan. Tolok ukur yang sering digunakan dalam pengukuran

Embed Size (px)

Transcript of evaluasi kinerja keuangan bank dalam kerangka arsitektur ...

Page 1: evaluasi kinerja keuangan bank dalam kerangka arsitektur ...

EVALUASI KINERJA KEUANGAN BANK DALAM KERANGKA

ARSITEKTUR PERBANKAN INDONESIA PERIODE 2004-2008 :

PERBANDINGAN CAR, NPL, LDR, EATAR, BOPO, dan ROA

Nita Puspita Sari

Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma

[email protected]

ABSTRAK

Pada Januari 2004, Bank Indonesia mencanangkan implementasi Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Mengacu ke kerangka API, bank di Indonesia dibagi menjadi 4 kelompok bank berdasarkan kemampuan modalnya, yaitu bank internasional, bank nasional, bank fokus, dan bank dengan kegiatan terbatas. Sampai Desember 2009, tercatat tidak ada bank internasional, 5 buah bank nasional, dan sisanya tercatat dalam kelompok bank dengan kegiatan fokus dan bank dengan kegiatan terbatas. Dari 20 bank yang diteliti, hasil uji t menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan rata-rata CAR, NPL, dan LDR antara bank fokus dan bank terbatas, namun terdapat perbedaan rata-rata EATAR, BOPO, dan ROA antara kedua kelompok bank tersebut. Sedangkan pada perbandingan kinerja keuangan antara bank dengan kegiatan fokus dan bank dengan kegiatan terbatas menunjukkan hasil bahwa bank dengan kegiatan fokus menunjukkan efisiensi, persentase aktiva produktif dan tingkat keuntungan yang lebih tinggi, bank dengan kegiatan fokus juga mempunyai persentase kredit bermasalah yang relatif lebih rendah. Namun pada kecukupan modal (CAR) dan likuiditas (LDR), bank fokus memiliki persentase yang lebih rendah dari bank terbatas. Kata kunci : Arsitektur Perbankan Indonesia, Kecukupan Modal, Kredit Bermasalah, Likuiditas, dan Rentabilitas .

PENDAHULUAN

Seiring dengan krisis multi dimensi yang menimpa Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 yang dimulai dengan merosotnya nilai rupiah terhadap dollar Amerika Serikat telah menghancurkan sendi-sendi ekonomi termasuk pada sektor perbankan nasional. Perbankan merupakan salah satu sektor ekonomi yang paling sentral peranannya dalam memobilisasi dana masyarakat dan merupakan industri yang memiliki peranan penting dalam laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. Hal ini tercermin pada fungsi perbankan sebagai penjamin penyelesaian perdagangan, penjamin penyelesaian proyek dan terutama sebagai lembaga perantara atau intermediary.

Sebagai lembaga perantara atau intermediary diperlukan bank dengan kinerja yang sehat sehingga proses intermediary dapat berjalan dengan lancar. Untuk mengukur kinerja bank indikator yang biasa digunakan adalah pendekatan kinerja bank secara ekonomi yaitu kinerja keuangan. Tolok ukur yang sering digunakan dalam pengukuran

Page 2: evaluasi kinerja keuangan bank dalam kerangka arsitektur ...

kinerja keuangan bank adalah Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM), likuiditas, dan rentabilitas dan faktor lain yang juga mempengaruhi kinerja perbankan adalah besarnya Non Perfoming Loan (NPL) atau kredit bermasalah yang dimiliki oleh bank.

Pada Januari 2004, Bank Indonesia mencanangkan implementasi Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Visi API adalah menciptakan sistem perbankan yang sehat, kuat, dan efisien guna menciptakan kestabilan sistem keuangan dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Mengacu ke kerangka API, bank di Indonesia dibagi menjadi 4 kelompok bank berdasarkan kemampuan modalnya, yaitu bank internasional, yang memiliki modal di atas Rp50 triliun; bank nasional, yang memiliki modal Rp 10 triliun sampai Rp 50 triliun; bank fokus, yang memiliki modal Rp 100 miliar sampai Rp 10 triliun; dan bank dengan kegiatan terbatas, yang memiliki modal di bawah Rp 100 miliar. TINJAUAN PUSTAKA

Kinerja bank merupakan bagian dari kinerja bank secara keseluruhan dimana kinerja bank secara keseluruhan merupakan gambaran prestasi yang dicapai bank dalam operasionalnya, baik yang menyangkut aspek keuangan, pemasaran, penghimpunan dan penyaluran dana, teknologi maupun sumber daya manusia. Berdasarkan apa yang dinyatakan diatas, kinerja keuangan bank merupakan gambaran kondisi keuangan bank pada suatu periode tertentu baik menyangkut aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dana yang biasanya diukur dengan indikator kecukupan modal, likuiditas dan rentabilitas bank.

Dalam mengukur kinerja keuangan dapat dilakukan dengan menganalisa laporan keuangan tersebut, salah satu teknik dalam menganalisa laporan keuangan adalah dengan analisis rasio keuangan, dimana merupakan teknik analisis keuangan untuk mengetahui hubungan di antara pos tertentu dalam neraca maupun laporan laba rugi baik secara individu maupun secara simultan. (Mukhyi, 2008).

Beberapa kinerja bank yang diukur berdasarkan rasio laporan keuangan adalah Capital Adequacy Ratio (CAR), yang digunakan untuk mengukur kemampuan modal suatu bank; Non Perfoming Loan (NPL), yang digunakan untuk mengukur tingkat kredit bermasalah yang dimiliki oleh bank; Loan to Deposit Ratio (LDR) serta Earning Assets to Total Assets Ratio (EATAR), yang merupakan rasio likuiditas; dan Return on Assets (ROA) serta Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), yang merupakan rasio rentabilitas. Guna menciptakan sistem perbankan yang sehat, kuat, dan efisien, maka Bank Indonesia mencanangkan implementasi Arsitektur Perbankan Indonesia (API) pada Januari 2004. Visi API adalah menciptakan sistem perbankan yang sehat, kuat, dan efisien guna menciptakan kestabilan sistem keuangan dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Penelitian – penelitian tentang kinerja bank diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Febryani dan Zulfadin (2003). Mereka melakukan penelitian mengenai perbandingan kinerja bank devisa dan bank non devisa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara kinerja bank devisa dan bank non devisa jika dilihat dari variabel ROE dan ROA. Perbedaan kinerja terlihat nyata jika dilihat dari variabel LDR.

Page 3: evaluasi kinerja keuangan bank dalam kerangka arsitektur ...

Rakhmawati dan Hermana (2005) yang melakukan penelitian tentang kinerja bank dalam kerangka Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Bank Indonesia telah mencanangkan implementasi API pada Januari 2004. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengelompokan bank menurut kerangka API ternyata menunjukan perbedaan kinerja keuangan bank hanya untuk BOPO, EATAR, dan ROA, sedangkan NPL, LDR, dan CAR tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.

Lestari dan Sugiharto (2007) yang melakukan penelitian tentang kinerja bank dan faktor - faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bank non devisa berperan lebih besar dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi dilihat dari rasio LDR nya. Indikator ekonomi makro (inflasi, nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar, suku bunga SBI) tidak memiliki pengaruh terhadap rasio keuangan bank (ROA, ROE, LDR).

Sulistianingsih (2008) yang melakukan penelitian tentang kinerja bank sebelum dan sesudah implementasi API. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitin ini adalah CAR, ROA, BOPO, ROE, dan LDR. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh secara signifikan terhadap perbedaan kinerja untuk bank umum swasta nasional sebelum dan sesudah API. METODE PENELITIAN

Pada penelitian ini yang menjadi obyek adalah Bank Umum konvesional yang dibedakan berdasarkan permodalannya, yaitu bank yang memiliki jumlah modal Rp 100 miliar - Rp 10 triliun digolongkan sebagai bank dengan kegiatan fokus, dan bank yang memiliki jumlah modal Rp 100 miliar ke bawah digolongkan sebagai bank dengan kegiatan terbatas.

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa laporan keuangan yang dipublikasikan Bank Indonesia. Sumber data yang digunakan adalah laporan keuangan periode 2004 sampai dengan 2008. Hipotesis yang diajukan adalah tidak ada perbedaan yang signifikan antara bank dengan kegiatan fokus dan bank dengan kegiatan terbatas. Sedangkan variabel yang digunakan adalah CAR, NPL, LDR, EATAR, BOPO, dan ROA. Variabel tersebut dihitung dengan menggunakan rumus-rumus sebagai berikut :

Total Modal CAR = Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR)

Kredit Kurang Lancar, Diragukan, Macet NPL = Jumlah Kredit yang Diberikan

Jumlah Kredit yang Diberikan LDR = Total Dana Pihak Ketiga

Aktiva Produktif EATAR = Total Aktiva

Page 4: evaluasi kinerja keuangan bank dalam kerangka arsitektur ...

HASIL DAN PEMBAHASAN Perbedaan CAR, NPL, LDR, EATAR, BOPO, dan ROA Antara Bank Fokus dan Bank Terbatas

Analisis independent samples t test digunakan untuk pengujian dengan sampel berukuran kecil ( n < 30 ), penentuan tabel dilihat dari besarnya tingkat signifikan (α) dan besarnya derajat bebas (db).

Dalam penelitian ini hipotesis yang digunakan adalah untuk menunjukan tidak terdapat perbedaan rata-rata NPL, CAR, dan LDR antara bank fokus dan bank terbatas serta tidak terdapat perbedaan rata-rata EATAR, BOPO, dan ROA antara bank fokus dan bank terbatas. Perbedaan CAR, NPL, dan LDR Antara Bank Fokus dan Bank Terbatas

Output dari hasil independent samples t test menggunakan program SPSS ver 15.0 adalah sebagai berikut :

Tabel 1 Matriks Group Statistics

Group Statistics

Bank dalam API N Mean Std. Deviation Std. Error

Mean Bank Fokus 5 .188020 .0149560 .0066885 CAR Bank Terbatas 5 .328400 .0728358 .0325732 Bank Fokus 5 .025964 .0040678 .0018192 NPL Bank Terbatas 5 .027172 .0047715 .0021339 Bank Fokus 5 .712200 .0715605 .0320028 LDR Bank Terbatas 5 .765940 .0919231 .0411093

Biaya Operasional BOPO = Pendapatan Operasional

Laba Sebelum Pajak ROA = Total Aktiva

Page 5: evaluasi kinerja keuangan bank dalam kerangka arsitektur ...

Tabel 2 Matriks Independent Samples Test

Independent Samples Test

Levene's Test for Equality of

Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence Interval of the Difference

F Sig. t df

Sig. (2-tailed)

Mean Difference

Std. Error Difference Upper Lower

CAR Equal variances assumed 4.002 .080 -4.222 8 .052 -.1403800 .0332528 -.2170610 -.0636990

Equal variances not assumed -4.222 4.337 .064 -.1403800 .0332528 -.2299450 -.0508150

NPL Equal variances assumed .001 .980 2.104 8 .069 .0059000 .0028041 -.0005662 .0123662

Equal variances not assumed 2.104 7.805 .069 .0059000 .0028041 -.0005945 .0123945

LDR Equal variances assumed .971 .353 -1.032 8 .332 -.0537400 .0520975 -.1738771 .0663971

Equal variances not assumed -1.032 7.546 .334 -.0537400 .0520975 -.1751472 .0676672

Sumber : http://www.bi.go.id/web/id/ (Hasil Pengolahan SPSS) Terlihat bahwa F hitung untuk EATAR dengan Equal variance assumed (diasumsi

kedua varians sama) adalah 1,735 dengan probabilitas 0,224. F hitung untuk BOPO dengan Equal variance assumed (diamsumsi kedua varians sama) adalah 0,319 dengan probabilitas 0,587. F hitung untuk ROA dengan Equal variance assumed (diamsumsi kedua varians sama) adalah 1,623 dengan probabilitas 0,238. oleh karena ketiga variabel pengujian memiliki probabilitas > 0,05, maka tidak terdapat perbedaan EATAR, BOPO, dan ROA antara bank fokus dengan bank dengan kegiatan terbatas. Oleh karena tidak ada perbedaan yang nyata dari ketiga varians tersebut, maka menggunakan t test dengan dasar Equal variance assumed (diasumsi kedua varians sama).

Terlihat t hitung untuk EATAR dengan Equal variance assumed (diamsumsi kedua varians sama) adalah 1,612 dengan probabilitas 0,003. t hitung untuk BOPO dengan Equal variance assumed (diamsumsi kedua varians sama) adalah -0,724 dengan probabilitas 0,049. t hitung untuk ROA dengan Equal variance assumed (diamsumsi kedua varians sama) adalah 1,757 dengan probabilitas 0,047. oleh karena ketiga variabel pengujian memiliki probabilitas < 0,05, maka terdapat perbedaan EATAR, BOPO, dan ROA antara bank fokus dengan bank dengan kegiatan terbatas.

Perbedaan EATAR, BOPO, dan ROA Antara Bank Fokus dan Bank Terbatas

Output dari hasil independent samples t test menggunakan program SPSS ver 15.0 adalah sebagai berikut :

Page 6: evaluasi kinerja keuangan bank dalam kerangka arsitektur ...

Tabel 3 Matriks Group Statistics

Group Statistics

Bank dalam API N Mean Std. Deviation Std. Error

Mean Bank Fokus 5 .913740 .0219033 .0097954 EATAR Bank Terbatas 5 .882920 .0367131 .0164186 Bank Fokus 5 .861740 .0395431 .0176842 BOPO Bank Terbatas 5 .877400 .0278834 .0124698 Bank Fokus 5 .017686 .0050434 .0022492 ROA Bank Terbatas 5 .016238 .0048407 .0021648

Tabel 4 Matriks Independent Samples T Test

Independent Samples Test

Levene's Test for Equality of

Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence Interval of the Difference

F Sig. t df

Sig. (2-tailed)

Mean Difference

Std. Error Difference Upper Lower

EATAR Equal variances assumed 1.735 .224 1.612 8 .003 .0308200 .0191186 -.0132676 .0749076

Equal variances not assumed 1.612 6.527 .011 .0308200 .0191186 -.0150605 .0767005

BOPO Equal variances assumed .319 .587 -.724 8 .049 -.0156600 .0216386 -.0655587 .0342387

Equal variances not assumed -.724 7.189 .049 -.0156600 .0216386 -.0665553 .0352353

ROA Equal variances assumed 1.623 .238 1.757 8 .047 -.0046000 .0060783 -.0186166 .0094166

Equal variances not assumed 1.757 5.138 .048 -.0046000 .0060783 -.0200993 .0108993

Sumber : http://www.bi.go.id/web/id/ (Hasil Pengolahan SPSS)

Terlihat bahwa F hitung untuk EATAR dengan Equal variance assumed (diasumsi kedua varians sama) adalah 1,735 dengan probabilitas 0,224. F hitung untuk BOPO dengan Equal variance assumed (diamsumsi kedua varians sama) adalah 0,319 dengan probabilitas 0,587. F hitung untuk ROA dengan Equal variance assumed (diamsumsi kedua varians sama) adalah 1,623 dengan probabilitas 0,238. oleh karena ketiga variabel pengujian memiliki probabilitas > 0,05, maka tidak terdapat perbedaan EATAR, BOPO, dan ROA antara bank fokus dengan bank dengan kegiatan terbatas. Oleh karena tidak ada perbedaan yang nyata dari ketiga varians tersebut, maka menggunakan t test dengan dasar Equal variance assumed (diasumsi kedua varians sama).

Terlihat bahwa t hitung untuk EATAR dengan Equal variance assumed (diamsumsi kedua varians sama) adalah 1,612 dengan probabilitas 0,003. t hitung untuk BOPO dengan Equal variance assumed (diamsumsi kedua varians sama) adalah -0,724 dengan

Page 7: evaluasi kinerja keuangan bank dalam kerangka arsitektur ...

probabilitas 0,049. t hitung untuk ROA dengan Equal variance assumed (diamsumsi kedua varians sama) adalah 1,757 dengan probabilitas 0,047. oleh karena ketiga variabel pengujian memiliki probabilitas < 0,05, maka terdapat perbedaan EATAR, BOPO, dan ROA antara bank fokus dengan bank dengan kegiatan terbatas.

Dari hasil perhitungan independent samples t test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan CAR, NPL, dan LDR antara bank fokus dan bank terbatas, namun terdapat perbedaan EATAR, BOPO, dan ROA antara kedua kelompok bank tersebut. EATAR merupakan salah satu dari rasio likuiditas selain LDR (Loan to Deposit Ratio). Rasio EATAR ini adalah rasio yang menunjukkan perbandingan antara aktiva produktif dengan total aktiva pada bank. Hasil uji statistik menunjukkan nilai t hitung untuk EATAR adalah 1,612 dengan probabilitas 0,003 sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan EATAR antara bank fokus dengan bank terbatas berhasil ditolak. Bank dengan kegiatan fokus umumnya memiliki rasio EATAR yang lebih besar dibandingkan dengan bank dengan kegiatan terbatas dikarenakan pada bank dengan kegiatan fokus umumnya lebih liquid.

Rasio biaya operasional pendapatan operasional (BOPO) merupakan rasio yang menggambarkan tingkat efisiensi bank. Semakin besar BOPO yang dimiliki bank, maka semakin rendah tingkat efisiensi bank tersebut. Artinya jika BOPO semakin besar maka akan semakin besar pula biaya operasional yang dikeluarkan oleh bank, sehingga tingkat efisiensi bank tersebut akan semakin rendah. Hasil uji statistik menunjukkan nilai t hitung untuk BOPO adalah -0,724 dengan probabilitas 0,049 sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan BOPO antara bank fokus dengan bank terbatas berhasil ditolak. Bank dengan kegiatan fokus tertentu umumnya memiliki BOPO yang lebih rendah dibandingkan dengan bank terbatas, yang berarti bank fokus lebih efisien daripada bank terbatas.

Sedangkan pada ROA yang merupakan rasio bank yang mencerminkan kemampuan bank dalam mendapatkan laba menunjukkan nilai t hitung untuk ROA adalah 1,757 dengan probabilitas 0,047 sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan ROA antara bank fokus dengan bank terbatas berhasil ditolak. Bank dengan kegaiatan fokus umumnya memiliki ROA yang lebih tinggi dibandingkan bank dengan kegiatan terbatas. Artinya bank-bank dengan fokus tertentu memiliki kemampuan untuk mendapatkan laba yang lebih tinggi daripada bank dengan kegiatan terbatas. Perbandingan Kinerja Keuangan Bank Fokus dan Bank Terbatas

Arah ke depan perbankan nasional telah tertuang dalam visi API ke depan. Bank-bank di Indonesia digolongkan menjadi bank internasional yang memiliki modal di atas Rp50 triliun, bank nasional yang memiliki modal antara Rp10 triliun sampai dengan Rp50 triliun, bank dengan kegiatan fokus yang memiliki modal antara Rp100 miliar ampai dengan Rp 10 triliun, dan bank dengan kegiatan terbatas yang memiliki modal di bawah Rp100 miliar.

Saat ini dari keseluruhan total bank yang terdaftar di Bank Indonesia selaku pembina dan pengawas bank di Indonesia, sebagian besar bank-bank tersebut masih tergolong ke dalam bank dengan kegiatan fokus dan bank dengan kegiatan terbatas. Pada 20 bank yang diteliti tercatat 10 bank tergolong bank dengan kegiatan fokus dan 10 bank dengan kegiatan terbatas. Sampai bulan Desember 2008 ini, belum ada bank yang tergolong bank internasional, 5 buah bank tercatat sebagai bank nasional dan sisanya merupakan bank dengan kegiatan fokus dan bank dengan kegiatan terbatas menurut kerangka API.

Page 8: evaluasi kinerja keuangan bank dalam kerangka arsitektur ...

Gambaran kinerja keuangan bank dengan kegiatan fokus dan bank dengan kegiatan terbatas ini menggunakan rata-rata dari variabel-variabel yang diteliti dalam setiap periode selama lima tahun, yaitu periode 2004-2008 yang dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5 Gambaran Kinerja Keuangan Bank Fokus dan Bank Terbatas Periode 2004-2008

Variabel-Variabel Yang Diteliti N Sum Minimum Maximum Mean CAR Bank dengan kegiatan fokus 5 0.9401 0.1713 0.2058 0.1880 Bank dengan kegiatan terbatas 5 1.6420 0.2614 0.4409 0.3284 Total 10 2.5821 0.4327 0.6467 0.5164 NPL Bank dengan kegiatan fokus 5 0.1298 0.0218 0.0301 0.0260 Bank dengan kegiatan terbatas 5 0.1359 0.0215 0.0324 0.0272 Total 10 0.2657 0.0433 0.0625 0.0532 LDR Bank dengan kegiatan fokus 5 3.5610 0.6238 0.8173 0.7122 Bank dengan kegiatan terbatas 5 3.8297 0.6798 0.8982 0.7659 Total 10 7.3907 1.3036 1.7155 1.4781 EATAR Bank dengan kegiatan fokus 5 4.5687 0.8759 0.9302 0.9137 Bank dengan kegiatan terbatas 5 4.4146 0.8236 0.9106 0.8829 Total 10 8.9833 1.6995 1.8408 1.7966 BOPO Bank dengan kegiatan fokus 5 4.3087 0.8004 0.8998 0.8617 Bank dengan kegiatan terbatas 5 4.3870 0.8426 0.9106 0.8774 Total 10 8.6957 1.6430 1.8104 1.7391 ROA Bank dengan kegiatan fokus 5 0.0884 0.0133 0.0259 0.0177 Bank dengan kegiatan terbatas 5 0.0812 0.0105 0.0215 0.0162 Total 10 0.1696 0.0238 0.0474 0.0339

Sumber : http://www.bi.go.id/web/id/ (Hasil Pengolahan Ms. Exel)

Untuk mengetahui secara jelas perbandingan dari variabel-variabel pada Tabel 4.9,

dapat dilihat pada gambar dari grafik perbandingan gambaran kinerja keuangan bank dengan kegiatan fokus dan bank dengan kegiatan terbatas periode 2004-2008 sebagai berikut :

Page 9: evaluasi kinerja keuangan bank dalam kerangka arsitektur ...

0.9401

0.1298

3.5610

4.56874.3087

0.0884

1.6420

0.1359

3.8297

4.41464.3870

0.0812

2.5821

0.2657

7.3907

8.98338.6957

0.1696

0.0000

1.0000

2.0000

3.0000

4.0000

5.0000

6.0000

7.0000

8.0000

9.0000

1 Bank Fokus Bank Terbatas Keseluruhan

Perbandingan Kinerja Keuangan Bank dengan Kegiatan Fokus dan Bank dengan Kegiatan Terbatas Periode 2004-2008

CAR NPL LDR EATAR BOPO ROA

Gambar 1 Perbandingan Kinerja Keuangan Bank dengan Kegiatan Fokus dan Bank dengan Kegiatan Terbatas Periode 2004-2008

Sumber : http://www.bi.go.id/web/id/ (Hasil Pengolahan Ms. Exel)

Sebagai lembaga intermediasi, kelangsungan usaha suatu bank sangat bergantung

pada kepercayaan masyarakat dalam menitipkan dana. Ketika kepercayaan menurun, dana pun menurun, dan sebagai dampaknya kewajiban jangka pendek menjadi sulit untuk dilunasi.

Kepercayaan masyarakat tergantung pada likuiditas suatu bank, yang termasuk dalam rasio likuiditas adalah LDR (Loan to Deposit Ratio), rasio ini menunjukkan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Suatu bank dikatakan likuid apabila bank yang bersangkutan dapat memenuhi kewajiban utang-utangnya, dapat membayar kembali semua depositonya, serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan tanpa terjadi penangguhan.

Bank dengan kegiatan fokus umumnya memiliki LDR (Loan to Deposit Ratio) yang lebih rendah dibandingkan dengan bank terbatas, hal ini dikarenakan pada bank dengan kegiatan fokus jumlah kredit yang diberikan bank bernilai lebih kecil dibandingkan dengan dana pihak ketiga yang diterima bank dari masyarakat. Umumnya bank fokus lebih dipercayai masyarakat untuk menitipkan dananya, yang meliputi giro, tabungan, dan deposito. Angka LDR yang rendah menunjukkan tingkat ekspansi kredit yang rendah dibandingkan dana yang diterima, dan jika bank terlalu likuid maka hal ini mencerminkan tidak optimalnya penggunaan dana sehingga menurunkan perputaran modal kerja. Dimana standar besar tingkat LDR yang optimal adalah 85%-110%.

Pada bank dengan kegiatan terbatas jumlah kredit yang diberikan bank bernilai lebih besar dibandingkan dengan dana pihak ketiga yang diterima bank dari masyarakat, hal ini mencerminkan tingkat ekspansi yang rendah dibandingkan dana yang diterima.

Page 10: evaluasi kinerja keuangan bank dalam kerangka arsitektur ...

Namun, bank dengan kegiatan terbatas harus berhati-hati dalam menjaga likuiditasnya agar berada pada tingkat yang standar, karena jika melebihi tingkat standar yang berlaku maka dapat dikatakan bank menjadi tidak likuid. Apabila bank tidak likuid maka kewajiban jangka pendeknya yang jatuh tempo tidak dapat segera terselesaikan karena tidak tersedianya sumber daya finansial. Hal ini akan menyebabkan krisis keuangan pada bank dengan kegiatan terbatas.

Pendapatan dari bunga kredit pada umumnya masih mendominasi pendapatan bank. Meskipun pendapatan kredit besar, produk kredit memiliki risiko yang tinggi, risiko ini dinamakan dengan risiko kredit. Risiko kredit umumnya timbul dari berbagai kredit yang masuk dalam kategori kredit bermasalah (kurang lancar, diragukan, dan macet) atau disebut juga sebagai NPL (Non Perfoming Loan). Bank yang berhasil dalam pengelolaan kredit adalah bank yang mampu mengelola NPL pada tingkat yang wajar dan tidak merugikan bagi bank.

Nilai NPL pada bank dengan kegiatan fokus umumnya lebih rendah dari bank dengan kegiatan terbatas, karena bank dengan kegiatan fokus lebih baik dibandingkan bank dengan kegiatan terbatas dalam upaya mengurangi terjadinya kredit bemasalah. Standar besar NPL yang ditetapkan Bank Indonesia maksimal 5% atau 0,05. Namun, bila jumlah kredit bermasalah atau NPL meningkat tajam maka mengakibatkan bank harus menyediakan cadangan penghapusan piutang yang cukup besar, sehingga kemampuan bank untuk dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan menjadi sangat terbatas atau dapat terjadi penangguhan yang berimbas pada penurunan likuiditas atau LDR bank tersebut.

NPL (Non Perfoming Loan) yang meningkat tajam, selain berpengaruh pada penurunan LDR, juga berpengaruh pada rasio rentabilitas (keuntungan) bank tersebut yang diukur dengan BOPO (Biaya Operasional Pendapatan Operasional) dan ROA (Return on Assets).

Pada BOPO, mengingat kegiatan utama bank pada prinsipnya adalah sebagai perantara yaitu menghimpun dan menyalurkan dana masyarakant, maka biaya dan pendapatan operasional bank didominasi oleh biaya bunga dan pendapatan bunga. Semakin besar kredit bermasalah (NPL) yang dimiliki oleh suatu bank, maka akan menyebabkan pendapatan bunga yang diterima bank menjadi berkurang dan biaya bunga yang dikeluarkan tetap. Sehingga BOPO yang mempunyai rumus berupa perbandingan antara biaya dan pendapatan operasional akan meningkat. Namun, dibandingkan dengan bank terbatas, bank dengan kegiatan fokus memiliki nilai BOPO yang lebih rendah, hal ini menunjukkan untuk efisiensi operasional bank dengan kegiatan fokus relatif lebih baik dibandingan dengan bank terbatas.

Pada ROA (Return on Assets), jika menunjukkan kredit bermasalah atau NPL suatu bank meningkat tajam, maka ROA yang dimiliki bank tersebut akan menurun. Karena ROA itu sendiri merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh laba secara keseluruhan yang ditunjukkan dengan rumus perbandingan antara laba sebelum pajak dengan total aktiva. Maka jika NPL semakin besar, semakin kecil pula kemampuan bank untuk memperoleh laba yang disebabkan oleh berkurangnya pendapatan bunga yang diterima oleh bank ditambah lagi kredit merupakan salah satu aktiva produktif yang paling besar menyumbangkan pendapatan bagi bank.

ROA pada bank dengan kegiatan fokus umumnya memiliki ROA yang lebih tinggi dibandingkan bank dengan kegiatan terbatas, artinya bank-bank dengan kegiatan fokus memiliki kemampuan untuk mendapatkan laba yang lebih tinggi daripada bank dengan

Page 11: evaluasi kinerja keuangan bank dalam kerangka arsitektur ...

kegiatan terbatas. Bank dengan struktur modal yang lebih baik, seperti pada bank dengan kegiatan fokus yang memiliki besar modal diatas Rp 100 miliar dapat mengembangkan lingkup usahanya menjadi lebih luas. Bank tidak hanya memperoleh keuntunngan dari penyediaan jasa dana pihak ketiga saja, melainkan juga dapat menawarkan produk-produk baru di bidang keuangan seperti asuransi.

EATAR (Earning Assets to Total Assets Ratio) merupakan salah satu dari rasio likuiditas salain LDR, rasio EATAR ini merupakan rasio yang memperbandingkan antara aktiva produktif dengan total aktiva. Bank dengan kegiatan fokus umumnya memiliki nilai EATAR yang lebih besar dibandingkan dengan dengan nilai EATAR pada bank dengan kegiatan terbatas, hal ini dikarenakan pada bank dengan kegiatan fokus aktiva produktif yang dimilikinya memiliki jumlah nilai yang mendekati total aktivanya, sedangkan pada bank dengan kegiatan terbatas, aktiva produktiif yang dimiliki sangat sedikit dibandingkan dengan keseluruhan total aktiva.

Pada Bank dengan kegiatan fokus nilai CAR (Capital Adequacy Ratio) relatif lebih rendah dibandingkan bank dengan kegiatan terbatas. Hal ini dikarenakan pada bank dengan kegiatan fokus yang memiliki aktiva produktif atau EATAR yang lebih besar dibandingkan bank dengan kegiatan terbatas, maka bank menghadapi risiko yang lebih besar sehingga bank juga harus meningkatkan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Dengan modal yang tetap, peningkatan ATMR ini akhirnya akan menurunkan CAR. Selain itu Bank dengan kegiatan terbatas juga banyak mendapatkan suntikan modal baik modal inti maupun modal pelengkap di antara periode 2004-2008 tersebut, sedangkan pada bank dengan kegiatan fokus pertambahan modalnya relatif tetap. Namun masih tingginya CAR dimana berada diatas ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia menunjukan masih kuatnya kondisi ketahanan perbankan.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan pembahasan yang telah diuraikan pada sub-bab

sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Pada hasil perhitungan dan analisis menggunakan independent samples t test

menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan CAR, NPL, dan LDR antara bank fokus dan bank terbatas, namun terdapat perbedaan EATAR, BOPO, dan ROA antara kedua kelompok bank dalam arsitektur perbankan Indonesia tersebut.

2. Pada perbandingan kinerja keuangan antara bank dengan kegiatan fokus dan bank dengan kegiatan terbatas menunjukkan hasil bahwa bank dengan kegiatan fokus menunjukkan efisiensi, persentase aktiva produktif dan tingkat keuntungan yang lebih tinggi. Hal ini dapat dilihat pada nilai BOPO yang rendah dibandingkan bank teerbatas serta nilai EATAR dan ROA yang lebih besar dibandingkan bank dengan kegiatan terbatas. Bank dengan kegiatan fokus juga mempunyai persentase kredit bermasalah yang relatif lebih rendah. Namun pada kecukupan modal (CAR) dan likuiditas (LDR), bank fokus memiliki persentase yang lebih rendah dari bank terbatas.

Page 12: evaluasi kinerja keuangan bank dalam kerangka arsitektur ...

Saran

Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan dan setelah menyimpulkan hasil penelitian, maka saran penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagi pihak bank Bank perlu memperhatikan dan menjaga kondisi Non Perfoming Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR), Earning Assets to Total Assets Ratio (EATAR), Beban/Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), dan Return on Asset (ROA). Karena, jika terdapat peningkatan persentase kredit bermasalah pada sebuah bank maka akan juga berimbas pada penurunanan efisiensi, likuiditas dan rentabilitas bank tersebut. Bank juga perlu memperhatikan dan menjaga kondisi Capital Adequacy Ratio (CAR) atau kemampuan modal bank, agar masing-masing kelompok bank dalam API dapat lebih memperkuat permodalannya masing-masing.

2. Bagi peneliti selanjutnya peneliti menambah jumlah sampel bank dengan mempertimbangkan pengelompokkan bank berdasarkan kepemilikan yaitu bank pemerintah, bank swasta nasional, bank pembangunan daerah, bank campuran, dan bank asing. Pada model penelitiannya perlu diadakan penambahan bank dalam kelompok API, yaitu bank internasional dan bank nasional

DAFTAR PUSTAKA Febriyani, A., Zulfadin, R., (2003), “Analisis Kinerja Bank Devisa dan Bank Non

Devisa Di Indonesia”. Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan, Vol. 7 No. 4. Ikatan Akuntan Indonesia (2004). Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan,

Salemba Empat, Jakarta. Jumingan, (2008). Analisa Laporan Keuangan, PT. Bumi Aksara, Jakarta. Kasmir, (2002). Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Edisi 6, PT. Rajagrafindo

Persada, Jakarta. Lapoliwa, N., (2000). Akuntansi Perbankan : Akuntansi Transaksi Bank Dalam

Valuta Rupiah, Edisi 5, Jilid 1, Institut Bankir Indonesia, Jakarta. Mukhyi, M,A., (2008), “Analisis Perbedaan Kinerja Keuangan Bank Devisa dan Bank

Non Devisa Di Indonesia”, UG Jurnal, diakses dari http://[email protected] pada tanggal 14 Juni 2009.

Pratama, A., (2007), Pengaruh Likuiditas dan Risiko Kredit Terhadap Profitabilitas Bank : Penelitian Pada Bank Umum Pemerintah dan Bank Swasta Nasional. Skripsi Strata Satu, Program Sarjana Strata Satu Universitas Padjadjaran, Bandung (tidak dipublikasikan).

Rakhmawati, R,R., Hermana, B., (2005), “Evaluasi Kinerja Keuangan Bank Dalam Kerangka Arsitektur Perbankan Indonesia: Perbandingan Kredit Bermasalah, Kecukupan Modal, Likuiditas, dan Rentabilitas”, Proceeding Seminar Nasional PESAT 2005, Jurnal ISSN: 18582559.

Undang-undang Perbankan No.7 Tahun 1998. Tentang Perbankan. Undang-undang Perbankan No. 10 tahun 1998. Tentang Perbankan. http://www.bi.go.id/web/id/Perbankan/Arsitektur+Perbankan+Indonesia/ http://www.bi.go.id/web/id/Publikasi/Laporan+Keuangan+Publikasi+Bank/Bank/Bank+

Umum+Konvensional/