Etnonesia Maret

download Etnonesia Maret

of 32

  • date post

    17-Jul-2016
  • Category

    Documents

  • view

    16
  • download

    3

Embed Size (px)

description

Etnonesia

Transcript of Etnonesia Maret

  • Mempertahankan Identitas Kesundaan, Mencari Keuntungan.

    MARGONDA RAYADibalik aspal jalan,kisah tak terjamah

    ETNONESIA.ORG - MARET 2014

  • 2 ETNONESIA MARET 2014

    SAJIAN UTAMA

    6 Menjual Tradisi? Mempertahankan identitas ke- sundaan, mencari keuntungan.

    17 Orang Kei dan Hak Ulayat Laut Konflik antara hak ulayat laut dan pesan leluhur di desa Sather dan Tutrean.

    25 Margonda Raya Dibalik aspal jalan, kisah tak terjamah.

    ETNONESIAEksplorasi - Wawasan - Hiburan

    ETNONESIAEksplorasi - Wawasan - Hiburan

    EDITOR IN CHIEF: AHMAD ZAENUDIN, EDITOR: MOHAMAD BHISMA, PHOTO EDITOR: HANY AFRILIYAN, EDITORIAL STAFF: AGUS KUSUMAATMAJA, SABRIYANI ANGGITA, DESIGNER: TIARA PITALOKA. KONTRIBUTOR EDISI MARET: DEILIKA CHAIRINA.

    Mengerti Manusia Disekitar Kita

    ETNONESIA merupakan organisasi non-profit

    yang menerbitkan majalah bulanan sebagai jurnal resmi. Bertujuan untuk

    memberikan pemahaman tentang manusia beserta apapun yang ada diseki-

    tarnya.

    Melakukan penelitian, kajian dan ekspedisi

    dalam berbagai aspek, seperti kultur, sosial,

    ekonomi, sejarah dan lain hal di seluruh dunia.

    Kunjungi alamat kami di etnonesia.org untuk

    pemahaman lebih lanjut.

  • DARI EDITOR

    3 ETNONESIA MARET 2014

    Memulai Kehidupan

    Membuka mata, merupakan awal bagi kita untuk melanjutkan atifitas. memulai suatu usaha atau melanjut-kan sesuatu yang tak terselesaikan dimasa lalu. Etnonesia hadir dengan semangat memulai. Bagi kami, ada banyak cerita yang tak tersampaikan diluar sana. Ingin rasanya memberi suatu jalan bagi kita semua untuk lebih peduli dan mengerti tentang kita, umat manusia. Melalui edisi ini, kami memulai untuk memahami se-gala yang ada disekitar. Tak melulu perjalanan jauh yang menegangkan, tapi kami memulainya dari sekitar kita yang saban hari kita temui tapi tak pernah jadi perbincangan. Edisi ini, kami menyajikan bagaimana tradisi Sunda diangkat ke layar panggung kehidupan bisnis. Diawali oleh gimmick perda Rabu Nyunda, bagaimana geliat tersebut terasa bagi masyarakat kota yang kian modern. Keuntun-gan hadir ditengan kegamangan. gamang akan jati diri. Mungkin inilah satu ketakutan, takut akan hilangnya jati diri diterpa godaan bernama modernisme. Tapi fakta lapangan membuat kita sejenak harus berpikir kembali, benarkah ketakutan jati diri mengusuk kehidupan kita? Bu-kankah dengan kegamangan tersebut banyak orang-orang yang justru menikmatinya. Itulah inti edisi ini. Banyak di-antara mereka yang justru ketiban rejeki oleh kecemasan modernisme. Budaya yang hendak diangkat kembali, dit-erjemahkan dengan baik untuk memperoleh pundi-pundi keberkahan. Maka, tak perlu berlama-lama, selamat menikmati sajian edisi ini.

    Ahmad ZaenudinEditor in Chief

  • PANDUAN BERTAHAN HIDUP

    4 ETNONESIA MARET 2014

    Pengendali Api! Api merupakan elemen penting dalam peradaban manusia. Saat kita dihadapkan pada posisi sulit seperti tersesat di alam yang tak bisa kita kenali. Bersahabat dengan api merupakan salah satu jalan terbaik untuk dapat bertahan hidup sambil menunggu pertolongan.

    Maka, saat itu terjadi kita harus bersiap!

    1. Cek peralatan yang dimiliki, apakah Anda membawa korek!2. Berapa waktu yang Anda miliki. Saat Anda tersesat di dalam

    hutan, waktu sedetik begitu berharga untuk menyelamatkan nyawa Anda!

    3. Pahami, mengapa Anda membutuhkan api. Untuk

    menghangatkan badan yang kedinginan karena lembabnya hutan hujan tropis, memasak air atau membakar makanan?

    4. Pastikan saat Anda bergerak kembali untuk meminta bantua, api telah padam sempurna!

    5. Cari tempat-tempat yang kering. Ingat api sulit menyala di tempat-tempat lembab/basah!

    Selanjutnya Anda harus paham tempat yang Anda gunakan. Ingat Anda akan menyalakan api. Tempat tersebut harus terlindungi dari angin yang kencang dan terlindungi dari ancaman bahaya. Dan pusatkan panas Api yang Anda buat.

    Ingat! Api terbuat setidaknya dengan tiga materi. Benda yang mudah terbakar seperti rantang atau semak, pemantik, dan bahan bakar!

    Diadaptasi dari FM 21-76 US Army Survival Manual oleh Agus Kusumaatmaja.

  • Infografis: Tiara Pitaloka Staf ETNONESIA Sumber: The India Space Research Organizations (ISRO)

  • Bertahan di tengah arus glo-balisasi. Mencari keuntungan sambil mencari rejeki.

  • Teks dan foto oleh Ahmad Zaenudin

    Ahmad Zaenudin adalah pemimpin redaksi majalah ini.

    Rabu siang, cuaca terasa panas. Meskipun sehari sebelumnya hujan mengguyur nyaris seluruh kota dari pagi hingga malam. Meskipun langit-langit memperlihatkan gumpalan awan yang cukup hitam, Bandung hari ini memang terlihat berbeda. Saat itu, saya duduk di sebuah angkutan kota yang terjebak macet. Di depan ada beberapa sekolahan yang berlokasi persis di depan jalan raya. Tak ayal, saat jam-jam pulang sekolah seperti saat ini, jalanan menjadi macet disebabkan oleh angkutan kota yang ngetem di sembarang tempat.

    Ada yang unik saat saya kepanasan dalam angkot yang saya tumpangi yang terjebak kemacetan tersebut. Di luar, para pelajar sekolah dasar (SD) yang baru pulang sekolah, berjalan kaki menyusuri trotoar jalanan. Sambil sesekali menyembul diantara mobil-mobil yang terjebak macet, para pelajar tersebut memakai seragam yang tak biasa. Anak laki-laki menggunakan seragam hitam-hitam, dihiasi ikat kepala yang dibuat dari kain batik dengan mengikuti pola melingkar di kepala mereka. sementara para perempuan memakai baju kabaya, kebanyakan berwarna putih. Lengkap dengan motif apik yang menghiasi pinggiran baju tersebut. Tak lupa pula, kain batik mereka kenakan menggantikan rok warna merah khas seragam SD.

    Seketika saja, hawa panas yang saya rasakan di dalam angkot, berubah menjadi senyum kecil melihat aak-anak SD tersebut. Sayangnya, tak semua memakai seragam khas tersebut.

    Saat angkot yang saya tumpangi akhirnya bisa melaju terbebas dari kemacetan, saya pun menjumpai hal yang sama. Beberapa sekolah dasar yang dilalui rute angkot tersebut, saya menemukan banyak anak-anak yang

    7 ETNONESIA MARET 2014

  • memakai seragam unik tersebut. Meski harus diakui,

    jumlahnya memang lebih sedikit dibanding mereka yang tidak memakai dan hanya memakai seragam sekolah seperti biasa. Bukan hanya anak-anak sekolahan saja ternyata, banyak juga beberapa orang yang saya temui selepas turun dari angkot, mengenakan pakaian yang sama. Mulai dari bapak-bapak petugas keamanan kantor yang memakai ikat kepala yang sama seperti anak laki-laki SD, juga beberapa orang yang memakai seragam hitam-hitam lengkap dengan gaya yang cukup mencolok.

    REBO NYUNDA, sebuah program yang digagas pemerintah kota bandung dibawah walikota Ridwan Kamil. Dalam program ini, masyarakat Bandung diwajibkan menggunakan bahasa Sunda seharian penuh di hari rabu. Selain itu, masyarakat juga dihimbau untuk menggunakan atribut kebudayaan Sunda yang menjadi ciri orang Sunda. Ikat kepala atau orang Sunda menyebutnya sebagai Iket dan juga seragam hitam-hitam atau masyarakat kenal sebagai baju Pangsi.

    Bagi sebagian orang, program rebo nyunda diapresiasi dengan antusias. Mengingat, kebudayaan Sunda yang menjadi ciri orang Sunda kian tergerus oleh arus modernisme yang semakin gencar. Bandung yang merupakan kota besar di Indonesia dan dianggap sebagai

    basis utama masyarakat Sunda perkotaan kian tergerus oleh ekspansi para kaum urban yang menyerbu Bandung. Dalam sebuah penelitian, bagaimana kebudayaan suatu daerah diapresiasi dan dilakukan dalam kehidupan diintrepretasi dengan cara berbeda. Sebagai contoh,

    dalam penelitian suatu penelitian, digunakan Bandung dan Medan sebagai basis pemahamannya. Hasilnya, Medan tak memiliki kebudayaan utama yang mendikte kehidupan

    MENJUAL TRADISI 8

  • masyarakat Medan. Disana, banyak kebudayaan berbeda yang hidup dalam kerangkanya masing-masing. Tidak ada yang dominan. Sementara di Bandung, dalam penelitian tersebut memperlihatkan bahwa Sunda sangat dominan. Kaum urban yang berada di Bandung dipaksa untuk bisa mengadopsi kebudayaan Sunda dalam kehidupan bermasyarakat.

    Kini, untuk memperkuat kedudukan Sunda yang disadari kian tergerus, rebo nyunda diharapkan bisa memberikan angin segar bagi generasi penerus tentang

    kebudayaan Sunda. Namun, dalam sebuah akun media sosial, Iwan Pirous, seorang Antropolog Universitas Indonesia melihat fenomena rebo nyunda sebagai ketakutan terhadap terjangan globalisasi. Rebo nyunda lebih merupakan purisitas etnis serta etnosentrisme belaka dan menghiraukan kenyataan bahwa Bandung kini adalah kota yang majemuk dan dihidupkan oleh orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda.

    SUATU SIANG terik matahari cukup untuk membuat orang

    berpikir dua kali untuk beraktifitas di siang hari tersebut. Di depan sebuah museum yang cukup terkenal di Bandung, jejeran para penjual cinderamata bagi para pelancong memamerkan dagangannya. Beberapa pedagang cukup agresif menawarkan barang dagangan hingga mengikuti calon pembeli. Beberapa memilih untuk diam dan hanya menunggu pembeli yang benar-benar tertarik untuk membeli.

    Saat itu Kang Imet, seorang pedagang di sekitaran

    Museum Geologi Bandung sedang menikmati makan siangnya. Seporsi kupat tahu menjadi pilihan Kang Imet siang itu. Dengan santai, Kang Imet menjawab pertanyaan saya perihal dagangannya yang identik dengan kebudayaan

    9 ETNONESIA MARET 2014

    Rebo Nyunda diharapkan bisa memberikan angin segar bagi generasi enerus tentang kebudayaan Sunda.

  • Sunda. Sambil sesekali menunjuk pada dagangannya, kang Imet bercerita bahwa Iket kepala dan baju Pangsi adalah dua komoditas unggulan yang dijualnya. Sekarang mah udah masuknya ke trend. Pertama trend dulu, budaya jadi mulai diangkat lagi. Kebanyakan yang bilang ikutin trend. Padahal dari d