ETIKA PROFESI ADVOKAT INDONESIA REVISI JULI 2010.doc

download ETIKA PROFESI ADVOKAT INDONESIA REVISI JULI 2010.doc

of 22

  • date post

    04-Mar-2016
  • Category

    Documents

  • view

    8
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of ETIKA PROFESI ADVOKAT INDONESIA REVISI JULI 2010.doc

KODE ETIK ADVOKAT AAI

ETIKA PROFESI ADVOKAT INDONESIA

Disusun oleh : Thomas E.Tampubolon,SH.,MH

I. PENGANTAR

Advokat dalam menjalankan profesinya sebagai advokat wajib tunduk dan mematuhi Kode Etik Profesi Advokat dan Ketentuan Tentang Dewan Kehormatan (Pasal 26 ayat 1 UU No.18 tahun 2003 tentang Advokat selanjutnya dalam tulisan ini akan disebut UU Advokat).Kode Etik tersebut yang disusun oleh organisasi advokat bertujuan untuk menjaga martabat dan kehormatan profesi advokat (Pasal 26 ayat 2 UU Advokat).

Adanya Kode Etik Advokat dan kewajiban untuk mematuhinya menjadikan profesi advokat sebagai profesi terhormat (officium nobile).

Disamping Kode Etik Advokat dalam tulisan ini dibahas juga tentang ketentuan Dewan Kehormatan yang memuat ketentuan beracara dalam persidangan pelanggaran Kode Etik, bagaimana proses pengaduan dan pemeriksaan atas pelanggaran Kode Etik dan sanksi yang dijatuhkan pada sipelanggar.

Jadi Kode Etik dapat diibaratkan sebagai Hukum Materiil dan ketentuan tentang Dewan Kehormatan merupakan hukum formal yang termuat dalam satu peraturan yang disebut Kode Etik Advokat Indonesia (KEAI).II. ETIKA

Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia sebagaimana dikutip K Bertens dalam bukunya Etika (PT.Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 1993) bahwa Etika mempunyai 3 (tiga) arti yakni :

1. Nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya misalnya : etika agama Budha, etika Protestan ;

2. Kumpulan azas atau nilai moral dan yang dimaksud disini adalah kode etik ;

3. Ilmu tentang apa yang baik dan tentang yang buruk dan hak kewajiban moral dan etika dalam pemahaman ini sama dengan filsafat moral.Etika berasal dari bahasa Yunani mempunyai arti yang sama dengan moral yang berasal dari bahasa Latin yang berarti yang pertama nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau sekelompok orang.

Kode Etik Profesi ibarat kompas memberikan atau menunjukkan arah bagi suatu profesi dalam hal ini profesi advokat dan sekaligus mutu moral profesi itu di mata masyarakat.

Menurut Franz Magnis Suseno Dalam bukunya Etika Dasar (Kanisius 1987).

Profesi penegak hukum (advokat) sebagai profesi luhur/terhormat (officium nobile) menuntut kejelasan dan kepribadian moral yang tinggi.

Ada 3 (tiga) ciri kepribadian moral yang dituntut dari kita selaku advokat yakni:

1. Berani berbuat dengan tekad memenuhi tuntutan profesi ;

2. Sadar akan kewajiban yang harus dipenuhi selama menjalankan tugas profesionalnya ;

3. Memiliki idealisme sebagai perwujudan makna motto organisasi profesi, misalnya IKADIN Fiat Justitia Ruat Coelum (keadilan harus ditegakkan walaupun langit akan runtuh).Kriteria kepribadian moral yang kuat menurut Franz Magnis Suseno tersebut dalam menjalankan profesi advokat yaitu :

a. Kejujuran : - kepada Tuhan ;

- kepada diri sendiri ;

- kepada masyarakat dan utamanya klien.

Tanpa kejujuran maka sikap moral menjadi hilang nilainya.

Ada 2 (dua) sikap jujur yang penting :

1. Terbuka ;

2. Fair atau wajar.

b. Nilai-nilai autentik

Autentik berarti kita menjadi diri sendiri.

Manusia autentik berarti manusia yang menghayati dan menunjukkan diri sesuai dengan keasliannya, misalnya tidak menyalah gunakan posisi advokat yang kuat dibanding klien yang dapat merugikan klien ;

c. Kesediaan untuk bertanggung jawab.

Kejujuran sebagai kualitas dasar kepribadian moral menjadi operasional di dalam kesediaan bertanggung jawab yaitu :

Kesediaan untuk melakukan apa saja yang harus dilakukan sebaik mungkin ; Bertindak secara proporsional dan profesional ; Tak hanya membatasi perhatian pada apa yang menjadi urusan dan kewajibannya saja, misalnya dalam menangani kasus perceraian dari seorang ibu yang mempunyai anak balita.

Bukan hanya tuntutan cerai perwalian anak dan nafkah serta pembagian gono gini, tapi setelah selesai tugas bisa saja terjadi nafkah tak dibayar. Kita dapat tegur ex suaminya atau advokatnya walau hubungan hukum sudah berakhir, untuk membayar nafkah sesuai bunyi putusan yang telah berkekuatan hukum ; Kemandirian moral.

Tidak ikut-ikutan pandangan moral di lingkungan kita tapi kita membentuk pernilaian dan pendirian sendiri dan kita kukuh pada pendirian tersebut, misalnya pertimbangan untung rugi harus dihindari seperti juga malas ; Keberanian moral

- berani menolak untuk menyogok demi memenangkan perkara ;

- berani menolak perkara walau dijanjikan honor tinggi kalau dasar hukum tak ada. Kerendahan hati

Sadar akan keterbatasan diri dan sadar akan kemampuan sendiri dalam membentuk pernilaian sehingga tak memutlakkan pandangan sendiri pada orang lain.

III. SEPINTAS TENTANG PROFESI ADVOKAT

Kata Advokat berasal dari kata Belanda Advocaat, yang berarti orang yang memberi nasehat hukum, pembelaan dan beracara di badan Pengadilan.

Disamping kata Advokat lajimnya kita dengar Pengacara sebagai padanan kata Belanda procereur yang artinya orang yang ahli beracara (perdata) yang memberi jasa-jasa dalam mengajukan perkara (perdata) ke Pengadilan dan mewakili orang yang berperkara di Pengadilan.

Jadi pengacara lebih sempit ruang kerjanya dibanding Advokat, karena pekerjaan Pengacara dapat juga dilakukan Advokat.

Sampai saat ini masih lajim terbaca penyebutan kantor Advokat dan Pengacara (Advocaat & Procureur).

Sebelum berlakunya UU Advokat tentang profesi Advokat dan Pengacara masih diatur dalam Peraturan Kolonial yaitu Reglement Op de Rachterlijke Organisatie en het beleid der Justitie, Stb 1847 No.23 dan mulai berlaku pada tanggal 1 Mei 1948.

Peraturan ini lebih dikenal dengan singkatan R.O.

Pada zaman penjajahan sesuai ketentuan R.O. tersebut Advokat dan Pengacara diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur Jendral, akan tetapi setelah kemerdekaan oleh Menteri Kehakiman dengan rekomendasi dari Ketua Mahkamah Agung dan dalam surat pengangkatan disebut hanya Pengacara.

Dalam praktek selama ini tidak ada lagi perbedaan antara tugas Advokat dan Pengacara artinya dianggap keduanya sama.

Disamping kata Advokat dan Pengacara sering juga disebut Penasehat Hukum yang seperti disebut dalam UU No.14 tahun 1970 tentang UU Pokok Kekuasaan Kehakiman dan dalam KUHAP, dan lain-lain serta kata Pembela.

Kemudian belakangan ada yang disebut Pengacara Praktek yang pengangkatannya oleh Ketua Pengadilan Tinggi berdasarkan SEMA.

Walaupun lingkup pekerjaannya sama dengan advokat atau pengacara tapi wilayah untuk beracara dibatasi sebatas wilayah hukum Pengadilan Tinggi yang mengangkatnya.

Setelah berlakunya UU Advokat tanggal 5 April 2003, maka advokat, penasihat hukum, pengacara, pengacara praktek dan konsultan hukum yang telah diangkat sebelum berlakunya UU Advokat menjadi Advokat (vide Pasal 32 UU Advokat).Pada dasarnya tugas Advokat terbagi 2 (dua) bagian yaitu :

a. Tugas litigasi, beracara di Pengadilan, membela klien sebagai Terdakwa, mewakili klien untuk mengajukan perkara gugatan atau melawan gugatan atau dengan kata lain yang berkaitan dengan tugas berhadapan dengan Pengadilan.

b. Tugas non litigasi, memberi nasehat hukum, mewakili klien untuk negosiasi dan mencari perdamaian serta tugas legal drafting (menyusun, merobah dan memperbaiki kontrak) dan lain sebagainya yang pada pokoknya tidak berhadapan dengan badan peradilan.Advokat Dan Organisasi Advokat (PERADI) Dari Kacamata UU Advokat1. Siapa Advokat ?

Advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum (Psl 1 angka 1) ;

Orang yang dapat diangkat jadi advokat yakni :

a.Sarjana yang berlatar belakang pendidikan tingi hukum (SH, Sarjana Syariah (s.Ag), Sarjana PTIK, PTHM dlsb) (Pasal 2 (1))

b.Telah mengikuti PKPA (Psl 2 (1))

c.Lulus UPA (Psl 3 ayat f)

d.Telah magang 2 (dua) tahun terus menerus pada kantor advokat (Psl 3 ayat g) catatan : tentang magang lihat Peraturan PERADI

e.Diangkat OA (PERADI) dan disumpah KPT yang berwenang (Psl 2 ayat 2 Jo Psl 4 ayat 1).

- Orang yang sudah diangkat sebagai advokat, penasehat

hukum, pengacara praktek dan konsultan hukum pada

saat UU Advokat mulai berlaku (Psl 32).2. Status Advokat ?

Advokat berstatus penegak hukum bebas dan mandiri yang dijamin oleh hukum dan peraturan per-UU-an.

Wilayah kerja advokat meliputi seluruh wilayah negara RI (Psl 5 ayat 1 dan 2).

3. Apa Hak Advokat ?

Hak Advokat antara lain :

a. Bebas mengeluarkan pendapat di persidangan dan menjalankan tugas profesinya dengan berpegang pada per-UU-an dan KEAI (Psl 14 dan 15).

b. Advokat tidak dapat dituntut secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan itikad baik untuk kepentingan pembelaan kliennya di sidang pengadilan (Psl 16).

c. Berhak mendapat informasi, data dan dokumen lainnya dari instansi pemerintah maupun pihak lainnya yang berkaitan untuk kepentingan klien (Psl 17).

d. Advokat tidak identik dengan kliennya (Psl 18 (2).

e. Advokat berhak mendapat honorarium yang wajar atas kesepakatan bersama atas jasa hukum yang diberikannya (Psl 21).

f. Advokat berhak atas kerahasiaan hubungannya dengan klien, termasuk perlindungan atas berkas dan dokumennya terhadap penyitaan atau pemeriksaan dan perlindungan atas komunikasi elektronik advokat (Psl 19 (2).

4. Apa Kewajiban Advokat ?

Advokat wajib mematuhi antara lain :

a. Wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui dari kliennya karena hubungan profesinya, kecuali ditentukan lain oleh UU (Psl 19 (1).

b. Wajib memberikan bantuan hukum secara Cuma-Cuma kepada pencari keadilan yang tidak mampu (Psl 22 (2)).