Emerging Disease di Indonesia dan Sistem pelaporan Kejadian Luar Biasa

download Emerging Disease di Indonesia dan Sistem pelaporan Kejadian Luar Biasa

If you can't read please download the document

  • date post

    21-Jul-2016
  • Category

    Documents

  • view

    73
  • download

    11

Embed Size (px)

description

Emerging Disease di Indonesia dan Sistem pelaporan Kejadian Luar Biasa

Transcript of Emerging Disease di Indonesia dan Sistem pelaporan Kejadian Luar Biasa

NEW EMERGING DISEASE DAN KEJADIAN LUAR BIASA

Kelompok 5:Nuansa Chalid (1102006192)

Ahmad Rifaii(1102007014)

Diah Kartika (1102008071)

Izza Ayudia Hakim (1102009150)KEPANITERAAN KESEHATAN MASYARAKAT KEDOKTERAN KOMUNITAS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

Periode 30 Juni 4 September 20141) Sistem Pelaporan Kejadian Luar BiasaStandar baku surveilence KLB bagi instansi pemerintah dalam bidang kesehatan yaitu :

1. Laporan Kewaspadaan (Dilaporkan dalam waktu 24 jam)

Laporan kewaspadaan adalah laporan adanya penderita, atau tersangka penderita penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Yang diharuskan menyampaikan laporan kewaspadaan adalah :

a. Orang tua penderita atau tersangka penderita/orang dewasa yang tinggal serumah dengan penderita tau tersangka penderita/ kepala keluarga/ ketua RT/ RW/kepala dusun.b. Dokter, petugas kesehatan yang memeriksa penderita/dokter hewan yang memeriksa hewan tersangka penderita.c. Kepala stasiun kereta api, kepala terminal kendaraan bermotor, kepala asrama, kepala sekolah/ pimpinan perusahaan, kepala unit kesehatan pemerintah atau swasta.d. Nahkoda kendaraan air dan udara

Laporan kewaspadaan disampaikan kepada Kepala Lurah atau Kepala Desa dan atau Unit Kesehatan terdekat selambat-lambatnya 24 jam sejak mengetahui adanya penderita atau tersangka penderita KLB/ baik dengan cara lisan, maupun tertulis. Kemudian laporan kewaspadaan tersebut harus diteruskan kepada laporan kepala Puskesmas setempat.

Isi laporan kewaspadaan tersebut adalah :

Nama penderita hidup atau telah meninggal

Golongan umur

Tempat dan alamat kejadian

Waktu kejadian

Jumlah yang sakit dan meninggal

ALUR LAPORAN KEWASPADAAN

Ket:2. Laporan Kejadian Luar Biasa (W1) Dilaporkan Dalam Waktu 1 x 24 jam

Merupakan salah satu laporan kewaspadaan yang dibuat oleh unit kesehatan, segera setelah mengetahui adanya KLB penyakit tertentu/keracunan makanan. Laporan ini digunakan untuk melaporkan KLB atau wabah, sebagai laporan peringatan dini kepada pihak-pihak yang menerijma laporan akan adanya KLB penyakit tertentu di suatu wilayah tertentu. Laporan KLB ini harus memperhatikan asas dini, cepat, dapat dipercaya dan bertanggung jawab yang dapat dilakukan dengan lisan atau tertulis.Laporan KLB (W1) ini harus diikuti dengan laporan Hasil Penyidikan KLB dan Rencana Penanggulangannya.

Unit kesehatan yang membuat laporan KLB (W1) adalah Puskesmas, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Propinsi, dengan berpedoman pada format Laporan KLB (W1).

Formulir Laporan KLB (W1) adalah sama untuk Puskesmas, Kab/Kota dan Propinsi, dengan Kode berbeda. Berisi nama daerah KLB (desa, kecamatan, kabupaten/kota dan nama puskesmas), jumlah penderita dan meninggal pada saat laporan, nama penyakit, dan langkah-langkah yang sedang dilakukan. Satu formulir W1 berlaku untuk 1 jenis penyakit saja.ALUR LAPORAN KLB (W1)

Laporan KLB Puskesmas (W1PU) :Laporan KLB Puskesmas (W1Pu) dibuat oleh Puskesmas kepada camat dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

Laporan KLB Rumah Sakit (KD/RS) :Laporan adanya penyakit KLB di RS dibuat oleh Rumah sakit dikirim ke Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Laporan KLB Kabupaten/Kota (W1Ka) :

Laporan KLB Kabupaten/Kota (W1Ka) dibuat oleh dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Kepada Bupati/Walikota dan Dinas Kesehatan Propinsi.

Laporan KLB Propinsi (W1Pr):

Laporan KLB Propinsi (W1Pr) dibuat oleh Dinas Kesehatan Propinsi kepada Gubernur dan Departemen Kesehatan, ub. Direktorat Jenderal yang menangani KLB Penyakit (Dirjen PPM&PL)

3. Laporan Penyelidikan Epidemiologi KLB dan Rencana Penanggulangan KLB

Setelah diterbitkan laporan KLB (W1), maka pelapor segera melakukan penyelidikan epidemiologi KLB yang dimaksud, dan segera membuat laporan hasil penyelidikan KLB. Laporan penyelidikan epidemiologi KLB berguna untuk memberikan pedoman pada berbagai pihak yang menerima laporan untuk memberikan kewaspadaan yang tepat, dan apabila diperlukan dapat memberikan dukungan yang efektif dan efisien.

Disamping itu, laporan penyelidikan epidemiologi KLB, dapat dimanfaatkan oleh Bupati, Gubernur dan Departemen Kesehatan untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang adantya KLB penyakit dari langkah-langkah yang sedang dan akan dilakukan, sekaligus mendorong sikap tanggap masyarakat terhadap kejadian tersebut.

Laporan Penyelidikan Epidemiologi KLB dan Rencana Penangulangan KLB berisi:

a. Kebenaran terjadinya KLB penyakit tertentu.b. Daerah yang terserang, desa, kecamatan, kabupaten dan puskesmas yang bertanggung jawab terhadap wilayah kejadian KLB.c. Penjelasan diagnosis penyebab KLB dan sumber-sumber penularan atau pencemaran yang sudah dapat diidentifikasi, termasuk bukti-bukti laboratorium.

d. Waktu dimulainya kejadian KLB dan keadaan pada saat penyelidikan epidemiologi KLB sedang dilakukan.

e. Kelompok penduduk terserang beserta jumlah kesakitan dan kematian karena KLB (kurva epidemi, angka serangan dan angka kematian karena penyakit/CFR).f. Keadaan yang memperberat keadaan KLB, misalnya status Gizi, musim kemarau, banjir dsb.g. Upaya penanggulangan yang sedang dan akan dilakukan.h. Apabila diperlukan adanya jenis dan jumlah bantuan yang dibutuhkan

i. Tim penyelidikan Epidmiologi KLB.j. Tanggal penyelidikan Epidemiologi dilaksanakan.Laporan penyelidikan Epidemiologi KLB dan rencana penggulangan KLB diikuti dengan LAPORAN BERKALA PERKEMBANGAN KLB dengan isi laporan yang sama tetapi disesuaikan dengan keadaan terakhir, ditambah denagn perkembangan KLB.4. Laporan Penaggulangan KLB

Berbeda dengan Laporan KLB (W1) dan Laporan Penyelidikan dan Rencana Penanggulangan KLB yang dibuat pada awal kejadian KLB, maka Laporan Penanggulangan KLB dibuat setelah KLB berakhir.

Laporan penanggulangan KLB berguna untuk menjelaskan data epidemiologi KLB, sumber daya yang telah dimanfaatkan dan kkemungkinan terjadinya KLB lanjutan atau KLB dimasa yang akan datang, serta kemungkinan terjadinya peyebaran kedaerah lain.

Isi laporan Penanggulangan KLB hampir sama dengan laporan penyelidikan epidemiologi dan rencana pemnanggulangan KLB, sebagai berikut:

a. Kebenaran terjadinya KLB penyakit tertentu.b. Daerah yang terserang, desa, kecamatan, kabupaten, dan puskesmas yang bertanggung jawqab terhadap wilayah kejadian KLB.c. Penjelasan diagnosis penyebab KLB dan sumber-sumber penularan atau pencemaran yang sudah dapat diidentifikasi, termasuk bukti-bukti laboratorium.

d. Waktu dimulainya KLB dan berakhirnya KLB (periode serangan KLB).e. Kelompok penduduk yang terserang beserta jumlah kesakitan dan kematian karena KLB (kurva epidemi, angka serangan dan angka kematian karena penyakit/CFR).f. Keadaan yang memperberat keadaan KLB, misal, status gizi, musim kemarau, banjir dsb.

g. Upaya penanggulangan yang telah dilakukan.h. Upaya pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap KLB dimasa yang akan datang.i. Tim Penanggulangan KLB.j. Tanggal Laporan dibuat

Laporan ini merupakan sumber data epidemiologi yang sangat penting untuk merumuskan kebijakan dan rencana kerja program penanggulangan KLB dimasa akan datang.

5. Laporan Mingguan Wabah (W2)

Laporan Mingguan Wabah (W2) merupakan bagian dari sistem Kewaspadaan Dini KLB yang dilaksanakan oleh unit kesehatan terdepan (Puskesmas).

Sumber data laporan mingguan Wabah (W2) adalah data rawat jalan dan rawat inap dari puskesmas, puskesmas pembantu, puskesmas keliling, posyandu, masyarakat dan Rumah Sakit pemerintah maupun Swasta. Setiap daerah Kabupaten/Kota atau Propinsi memiliki beberapa penyakit potensial KLB yang perlu diwaspadai dan deteksi dini. Sikap waspada terhadap penyakit potensial KLB ini juga diikuti dengan sikap tim profesional, logistik dan tata cara penanggulangannya, termasuk sarana administrasi, komunikasi dan transportasi.

Secara nasional penyakit yang wajib diwaspadai adalah diare dan polio/AFP ditambah dengan penyakit potensial KLB spesifik lokal misal DBD, Malaria dan lain-lain, baik Propinsi maupun Kabupaten/Kota. Penyakit ini yang dimasukkan dalam Laporan Mingguan Wabah (W2) ini, Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota membuat kurva Mingguan Wabah untuk setiap jenis penyakit potensial KLB, sebagai alat deteksi respon dini KLB.ALUR PELAPORAN MINGGUAN WABAJ (W2) dan PEMANFAATANNYA

2) Faktor yang mempengaruhi tingginya angka Zoonosis di IndonesiaPeningkatan interaksi antara hewan domestik, satwa liar dan manusia adalah faktor kritis dan penting secara progresif dalam dinamika kemunculan penyakit dan penularan patogen zoonosis. Suatu model konvergensi yang disajikan dibawah ini membantu untuk mengkonseptualisasikan bagaimana faktor-faktor yang mendorong kemunculan penyakit baru dan penyakit lama yang muncul kembali bergabung satu sama lain dan menyatu serta merubah keterkaitan antara hewan-manusia-mikroba, sehingga kemudian mampu memproduksi dan menularkan penyakit.

Faktor yang berpengaruh adalah :

a. Faktor manusia yang berkontribusi terhadap kemunculan zoonosis mencakup elemen seperti perilaku dan gaya hidup, mobilitas (perjalanan dan keimigrasian), serta kondisi kehidupan ekonomi dan teknologi. Skala populasi manusia dan kepadatan habitat juga mempengaruhi kemunculan zoonosis.b. Faktor hewan meliputi keragaman geografis, perdagangan legal dan ilegal hewan domestik dan satwa liar, biodiversitas, keseimbangan predator/pemangsa hewan lain, habitat dan kesehatan hewan.c. Faktor lingkungan beragam mulai dari tanah dan vegetasi, cuaca dan musim, perubahan iklim jangka panjang, serta kondisi lokal seperti ketinggian tempat, temperatur, kelembaban yang mempengaruhi populasi hewan dan vektor.

Gambar 2: Matriks dan interaksi antara faktor-faktor pendorong dengan patogen yang berkontribusi terhadap kemunculan zoonosis baru dan yang muncul kemb