Ekspedisi Bumi Mandar

of 294 /294
Ekspedisi Bumi Mandar

Embed Size (px)

description

Ini adalah file dummy, yang dikoreksi sebelum naik cetak. Kecuali tidak adanya halaman di daftar isi dan beberapa kesalahan ketik, yang lain tidak ada perbedaan

Transcript of Ekspedisi Bumi Mandar

  • Ekspedisi Bumi Mandar

  • Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak CiptaLingkup Hak CiptaPasal 2 :

    1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

    Ketentuan PidanaPasal 72 :

    1. Barangsiapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan per buatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).

    2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

  • www.penerbitombak.com

    2013

    Muhammad Ridwan Alimuddin

    Ekspedisi Bumi Mandar

  • EKSPEDISI BUMI MANDAR CopyrightMuhammad Ridwan Alimuddin, 2013

    Diterbitkan kembali oleh

    Penerbit Ombak (Anggota IKAPI), 2013

    Perumahan Nogotirto III, Jl. Progo B-15, Yogyakarta 55292

    Tlp. (0274) 7019945; Fax. (0274) 620606

    e-mail: [email protected]

    facebook: Penerbit Ombak Dua

    website: www.penerbitombak.com

    PO.***.**.13

    Penulis: Muhammad Ridwan Alimuddin

    Tata letak: Nanjar Tri Mukti

    Sampul: Dian Qamajaya

    Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)EKSPEDISI BUMI MANDAR

    Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013

    ** + *** hlm.; 14,5 x 21 cm

    ISBN: 978-602-258-***-*

  • vDAFTAR ISI

    PENGANTAR

    SELAMATKAN KALUMPANGPeradaban Tertua Kita adalah Kalumpang

    Tabir Sejarah Pertanian Awal Pulau Sulawesi

    Warisan Dunia yang Harus Kita Jaga

    Sikomande, Sarung Ikat Tertua di Dunia

    Dunia Akan Mengutuk Sulbar

    PERTAHANKAN LERE-LEREKANGLere-lerekang atau Lari-lariang?

    Pulau Lere-lerekang Bagian Kepulauan Bala-balakang?

    Mandar Itu Pelaut Ulung

    Mengungsi ke Pulau yang Mereka Kenal

    Hak Ulayat Laut

    Pulau Lere-lerekang dalam Bingkai Otoda

    Berlayar ke Garis Depan Sulawesi Barat

    Sesaat Sebelum Mendarat, Pistol Disiapkan

    Kondisi Lingkungan

    Jadikan Laboratorium Alam atau DPL!

    (Jika Betul) Pulau Lere-lerekang Lepas, Siapa Salah?

    Kepulauan Bala-balakang

  • vi Muhammad Ridwan AlimuddinSebab Database Kita Payah

    Mengapa Membicarakan Lere-lerekang?

    Kali Ini Bupati Ikut Berlayar

    Memperjuangkan Mempertahankan Lere-lerekang

    Lautnya Sulbar Ternyata Terbagi-bagi

    Menuju Kilang yang Diperebutkan

    GALUNG LOMBOKPanyapuang di Galung Lombok dan Westerling

    Hubungan Antara Peristiwa Taloloq dan Panyapuang

    Laporan Rahasia Belanda Tentang Peristiwa Galung Lombok

    Westerling, si Turki

    Westerling Bersekongkol dengan Darul Islam

    Westerling, Mati Karena Lalunya Diungkit-ungkit

    KEANGGUNAN BUNGGUTabuhan Musik Terpanjang Diiringi Ayunan Parang

    Masyarakatnya Tak Primitif Lagi

    Bunggu Itu Suku Kaili?

    Ngovi, Daerah Kesekian yang Diabaikan Sulbar!

    Mantap, Tari Dero Diiringi House Music

    The Rock yang Kebal

    Tikam Babi Hingga Potong Gigi

    Beristri Cantik, Jangan Cepat Tidur

    EKSPEDISI BUMI MANDAREkspedisi Keliling Mandar Ala Jurnalis Radar Sulbar

    Jam Tiga Sore Ekspedisi Dimulai

  • viiEkspedisi Bumi MandarTerima Kasih Kambossolnya

    Totolisi Selatan, Sentra Gamacca di Mandar

    Majene, Negeri Seribu Teluk

    Menyisir Pesisir Barat Tappalang

    Pulau Karampuang, Sempurna untuk Cross Country

    Sungai Kalukku, Seperti Sungai di Amerika

    Ekspedisi Ini Merekam Perubahan

    Topoyo, Riwayatmu Kini

    Paku Suremana Kampung Halamanku

    Diaspora Orang Mandar di Mandar

    Benu, Kaqdaro dan Bokaq

    Berniat Menghentikan Ekspedisi

    Suremana, Sureq Orang Mene

    PENULIS

  • viii

    PENGANTAR

    Buku ini adalah kumpulan tulisan (feature) saya yang dibuat berseri di harian Radar Sulbar pada sepanjangtahun 2012 hingga pertengahan 2013. Itu juga merupakan tahun pertama

    saya aktif secara resmi sebagai jurnalis di Radar Sulbar. Meski

    demikian, sejak tahun 2006 tulisan berseri saya telah dimuat

    Radar Sulbar (sebelumnya bernama Radar Mandar), khususnya

    tentang sandeq. Bukan hanya sandeq, kebudayaan Mandar secara

    umum juga. Seri-seri tulisan tersebut juga sudah terwujud dalam

    bentuk buku, yaitu Sandeq Perahu Tercepat Nusantara (2010),

    dan Mandar Nol Kilometer (2011). Bedanya, tulisan yang ada

    dalam buku ini, serinya tematik. Judul buku ini saya ambil dari seri

    tulisan terakhir, Ekspedisi Bumi Mandar, yang juga merupakan

    nama kegiatan saya sewaktu bersepeda sendirian dari Paku hingga

    Suremana atau dari ujung selatan batas Sulawesi Barat ke ujung

    utaranya.

    Dulu, saya membenci buku yang isinya hanya kompilasi atas

    tulisan di media massa. Seorang penulis mengumpulkan tulisan-

    tulisannya di media massa lalu mewujudkannya menjadi sebuah

    buku. Kelihatannya; seolah-olah menulis buku itu gampangan.

    Ketika ada banyak tulisan terserak di media massa, yang saya

    sendiri tidak memiliki klipping-nya, baru terasa dirasa perlu

  • ixEkspedisi Bumi Mandarmewujudkan tulisan-tulisan itu ke dalam satu buku. Agar bisa

    dibaca setiap saat.

    Manfaatnya jelas, memudahkan pencarian, memudahkan

    membaca. Bukan untuk saya, tapi orang lain juga. Jika ada bukunya,

    gampang sekali mencarinya; membacanya. Dan bagi yang mau file

    digitalnya atau pembaca lain yang tidak mendapatkan bukunya,

    tulisan-tulisan saya (sekitar 80% dari total tulisan yang pernah

    saya buat) dapat diakses di www.ridwanmandar.com. Artinya,

    antara dalam bentuk buku dengan yang berada di dunia maya saling melengkapi. Tujuannya jelas, memudahkan pembaca.

    Pun, saya tidak terlalu mengandalkan buku yang merupakan

    kompilasi saja. Beberapa buku saya yang lain adalah murni sebagai

    sebuah buku, misalnya Orang Mandar Orang Laut. Beberapa buku

    berikut, yang naskahnya teronggok sebagai file dalam hardisk,

    malah belum pernah saya publish ke publik. Yaitu tentang riset saya mengenai pemboman ikan di Selat Makassar.

    Buku ini terdiri dari lima tema: Kalumpang, Lerelerekang,

    Galung Lombok, Bunggu, dan hasil catatan lapangan saya sewaktu

    keliling Sulawesi Barat menggunakan sepeda. Total jenderal

    hampir 50 tulisan.

    Kalumpang, nama situs bersejarah di kawasan Asia. Termasuk

    situs neolitik terbesar di Asia. Ironisnya, situs tersebut akan

    dimusnahkan oleh proyek PLTA Karama. Tulisan dalam bab itu

    membahas tentang Kalumpang, mulai dari lingkungannya hingga

    kebudayaan yang tak ternilai di tempat itu.

    Lerelerekang, awalnya tak ada yang mengindahkannya. Termasuk

    pemerintah dan rakyat Sulawesi Barat sendiri. Tetapi ketika diketahui

    ada kandungan minyak dan gas dibawahnya, pulau kecil itu menjadi

  • x Muhammad Ridwan Alimuddinrebutan antara Kalimantan Selatan dengan Sulawesi Barat. Kabarnya,

    sampai titik darah penghabisan akan terus diperjuangkan agar tetap

    milik Sulawesi Barat. Saat tulisan pengantar ini saya buat (September

    2012), entah bagaimana kasusnya. Apakah ending-nya dimiliki oleh

    Sulawesi Barat ataukah Kalimantan Selatan?

    Galung Lombok, nama desa di Kecamatan Tinambung.

    Di sana ada pemakaman, korban pembantaian oleh Pasukan

    Westerling. Agar masyarakat Sulawesi Barat mendukung usaha

    advokasi agar korban dan ahli warisnya mendapat kehormatan

    dan keadilan atas penderitaan yang mereka alami, seri tulisan

    Galung Lombok dan Westerling saya buat. Khusus tulisan ini

    saya lebih banyak mengandalkan referensi tertulis, misalnya

    tulisan mengenai kejadian Korban 40.000 jiwa di Sulawesi Selatan

    dan tentang Westerling. Selebihnya mendapat di Arsip Nasional di

    Makassar dan wawancara. Jadi ada perbedaan dengan seri lain,

    yang semuanya pengamatan lapang.

    Bunggu, nama sub suku dari Suku Kaili. Tak adanya referensi

    ilmiah tentang masyarakat, yang oleh pemerintah disebut suku

    terasing, mendorong saya untuk melakukan liputan mengenai

    komunitas di pedalaman Sulawesi tersebut. Beberapa hari di tengah

    masyarakat Bunggu memperlihatkan bentuk-bentuk kebudayaan

    yang telah lama ditinggalkan masyarakat Sulawesi yang tinggal di

    pesisir. Yang unik, ada benang merah antara Lerelerekang dengan

    Bunggu. Yaitu sama-sama di daerah perbatasan provinsi; sama-

    sama tidak dipedulikan pemerintah Sulawesi Barat.

    Terakhir, Ekspedisi Bumi Mandar. Bukan perjalanan saya paling

    jauh dan paling lama bila dibanding beberapa ekspedisi pelayaran yang

    pernah saya lalui. Tapi merupakan ekspedisi terberat yang pernah saya

  • xiEkspedisi Bumi Mandarlakukan. Dan itu solo, seorang diri. Di bagian ini adalah tulisan yang saya

    buat di malam menjelang istirahat, yang saya buat di dalam kemah

    bulan berdiamater lebih semeter.

    Tulisan yang ada dalam buku ini terwujud berkat dukungan

    banyak pihak. Saya menyampaikan terima kasih kepada Bapak

    Naskah M. Nabhan (Direktur Radar Sulbar), Muhammad Ilham

    dan Sudirman Samual (keduanya wartawan senior di Radar Sulbar)

    yang telah memberi ruang atas tulisan-tulisan saya. Terkhusus

    pada saudara Mahbub Amiruddin, yang mengajak saya bergabung

    di Radar Sulbar, untuk kemudian mendorong dan membantu dalam pelaksanaan Ekspedisi Kalumpang, sebuah ekspedisi

    sederhana yang menyejarah bagi saya dan berdampak luas.

    Mandar, Agustus 2013

    Muhammad Ridwan Alimuddin

  • xii Muhammad Ridwan Alimuddin

  • 1SELAMATKAN KALUMPANG

    Peradaban Tertua Kita adalah Kalumpang

    Sulawesi Barat hanya memiliki satu situs peradaban tertua, yang oleh para arkeolog menjadi salah satu mata rantai di dalam mengetahui perkembangan manusia pra sejarah Nusantara,

    yang terentang 3.500 tahun lalu. Yaitu Kalumpang.

    Kalumpang tak begitu banyak diketahui, sehingga di situs

    ensiklopedia online, Wikipedia, hanya memiliki defenisi pendek

    tentang Kalumpang, sebuah kecamatan di Mamuju, Sulawesi

    Barat, Indonesia. Apalagi kita di Sulawesi Barat, mungkin hanya

    menganggap Kalumpang sebagai nama tempat, sebagaimana

    nama tempat-tempat lain di Sulawesi Barat.

    Kalumpang lebih dari itu. Jika ada pengelompokkan status

    sosial tempat-tempat di Sulawesi Barat berdasar kesejarahan,

    maka Kalumpang berada di kasta paling atas. Ya, kita lebih

    banyak mendengar nama-nama situs di provinsi kita ini, seperti

    Tammejarra, Luyo, Salabose, dan lain-lain. Tapi, tempat tersebut

    sebagai situs bersejarah, masih berumur anak bawang dibanding

    Kalumpang.

    Kalumpang hampir tak ada arti di mata pemerintah kita,

    apalagi para investor dari Cina, sehingga untuk membangun PLTA

  • 2 Muhammad Ridwan AlimuddinKarama, penduduk Kalumpang (dan Bonehau) tinggal direlokasi

    saja. Ya, tidak apa-apa kampung mereka (baca: Kalumpang)

    tenggelam.

    Kalumpang hampir tak ada pentingnya, sehingga pembangunan

    PLTA Karama butuh waktu 4-5 tahun saja. Sehingga tak butuh

    waktu lama untuk mikirkan dampaknya, membicarakannya dalam

    sebuah seminar. Ya, tak perlu dilindungi, tak perlu dilestarikan

    atau dijaga perabannya. Tidak apa-apa hilang dibawah genangan

    air dam PLTA Karama. Kan, mungkin sebagian orang berpikir, tak

    ada gunanya juga.

    Bila memang kita sepakat untuk itu (menenggelamkan

    Kalumpang demi sebuah proyek bernama PLTA Karama), terlalu

    kasar bila saya mengatakan, kita memang tidak beradab.

    Kalumpang atau Galumpang (setidaknya ada enam tempat

    bernama Kalumpang di kawasan Asia Tenggara) adalah salah

    satu wilayah atau kecamatan di Kabupaten Mamuju. Letaknya

    35 km dari pantai (persis sejajar Pelabuhan Belang-belang) atau

    sekitar 65 km dari kota Mamuju.

    Dalam dunia arkeologi Asia, Kalumpang sangat terkenal.

    Ekskavasi yang pernah dilaksanakan di wilayah Kalumpang secara

    ringkas digambarkan sebagai berikut. Mei 1933 penggalian

    percobaan dilakukan oleh A.A. Cense di lembah Sungai Karama.

    Ditemukan sejumlah alat-alat batu dan gerabah. Penggalian

    tersebut memberi arti penting dalam sejarah pertumbuhan

    kebudayaan prasejarah Indonesia.

    Kemudian pada 25 September sampai 17 Oktober 1933

    penggalian oleh P.V. Van Stein Callefels di sebelah timur bukit

    Kamassi. Dia mem peroleh temuan berbagai alat dari batu berupa

  • 3Ekspedisi Bumi Mandarpisau, kapak batu segi empat yang halus, pecahan-pecahan

    tembikar yang berdekorasi.

    Lalu pada 13 Agustus hingga September 1949 penggalian oleh

    Dr. H. R. Van Heekeren, di bagian selatan puncak bukit Kamassi 13

    meter di atas permukaan sungai. Ditemukan berbagai alat batu

    dan gerabah berhias. Alat-alat batu berupa kapak batu yang ada

    kesamaannya dengan alat neolithic seperti yang ditemukan Luzon,

    Filipina, di Manchuria, Mongolia, di Hongkong, dan lain-lainnya.

    Gerabah yang berhias dinilai oleh para ahli arkeologi

    mempunyai corak yang tinggi dan desain yang halus memberikan

    pertanda bahwa kebudayaan Kalumpang terlingkup satu wilayah

    sahuynh kalanay, desain yang meliputi wilayah Cina, Filipina dan

    Vietnam, malah diperkirakan mempengaruhi beberapa daerah

    Pasifik. Hipotesa itu dikemukakan oleh Solheim WG. Demikian

    dikemukakan Drs. Darmawan Masud dalam kertas ilmiah yang

    dipresentasikan pada saat Seminar Kebudayaan Mandar I di

    Majene pada 31 Juli s.d. 2 Agustus 1984.

    Menurut salah seorang sahabat saya, yang disiplin ilmunya

    arkeologi dan pernah membuat film dokumenter tentang

    Kalumpan, Asfriyanto, Untuk mencari bukti arkeologis mengenai

    pertanian orang Kalumpang purba, justru harus dicari di sekitar

    perbukitan yang secara spasial jauh dari tepian sungai saat ini.

    Tambahnya, Bukti arkeologis menunjukkan, temuan

    beliung berbahan batu yang banyak tersebar di perut Kalumpang

    mengindikasikan adanya ekploitasi orang Kalumpang purba

    pada bidang pertanian. Hal itu dikuatkan juga melalui banyaknya

    temuan yang masih utuh maupun pecahan periuk dan belanga

    dari bahan tanah liat merah.

  • 4 Muhammad Ridwan AlimuddinPara ahli arkeologi percaya bahwa penduduk Kalumpang purba

    merupakan satu suku dari ras Aus tronesia yang membawa tradisi

    pertanian dan gerabah (dua artefak masa lalu yang berasosasi

    dengan tradisi pertanian) dari daratan Asia yang bermigrasi ke

    daerah ini sekitar 3.500 tahun yang lalu.

    Menurut salah satu pendapat, kaki-kaki perbukitan Kalumpang

    telah dihuni oleh penduduk asli sebelum kedatangan orang-orang

    Proto Melayu pada 3600 SM. Kedatangan kaum Melayu Tua pun

    tak lepas dari sejarah pengusiran mereka dari kawasan pesisir

    pantai, akibat kedatangan peradaban baru yang dibawah oleh Deutero Melayu, yang tentu lebih hebat dari segi teknologi dan

    keterampilan.

    Mulanya mereka menghuni daerah Sipakko, sekitar 1,5

    kilometer dari pusat Kecamatan Kalumpang saat ini. Tapi, karena

    banjir besar akibat luapan sungai Karama sekitar seribu tahun

    yang lalu, warga pun terpencar- pencar. Banyak yang lari ke atas

    bukit karena trauma akan banjir yang telah meluluhlantakkan

    sawah dan pemukimannya.

    Tabir Sejarah Pertanian Awal Pulau Sulawesi

    Pada 1926, Zending Belanda mulai mendirikan Sekolah Rakyat

    (SR) di Tamalea untuk kelas satu hingga tiga. Setahun berikutnya,

    1927 didirikan lagi SR di Malolo, namun bukan di Kota Kalumpang.

    Tahun 1930 di Pulo Karama, lalu di Pabentengan berupa sekolah

    lanjutan untuk kelas empat hingga enam dengan sebutan Veer

    Volog School (VVS).

    Setelah perang dunia kedua, Universitas Sorbonne, Paris,

    melibatkan diri dalam penelitian situs Sampaga (kawasan dekat

  • 5Ekspedisi Bumi Mandarmuara Sungai Karama). Perhatian mereka terpusat pada relief pola

    desain tembikar yang ditemukan di Minanga Sipakko. Penelusuran

    situs sampai ke hulu Sungai Karama (yang biasa juga disebut

    Sungai Sampaga dalam beberapa tulisan) membawa mereka pada

    masyarakat Kalumpang.

    Kalumpang adalah situs yang oleh para arkeolog dianggap

    bisa membuka tabir sejarah pertanian awal orang-orang di

    Pulau Sulawesi. Menurut Asfriyanto, seorang arkeolog muda,

    Menariknya, daerah Kalumpang juga memiliki mitos suci tentang

    padi yang berbeda dengan mitos padi seperti yang termaktub

    dalam naskah La Galigo, naskah yang selama ini dipandang para

    ahli sebagai ingatan sejarah orang-orang Bugis yang paling purba.

    Tambahnya, Jika mitos orang Bugis mengatakan tanaman

    padi berasal dari badan Sangiang Seri, salah satu anak dari

    Patotoqe sang penguasa di Botting Langi, maka mitos padi orang

    Kalumpang justru berasal dari tumbuhan Dewa, yang muasal

    benihnya dari tanah dewa di seberang lautan yang kemudian

    dibawa oleh nenek moyang dengan perahu ke Kalumpang dan

    ditanam di atas batu di puncak gunung. Mitos tentang padi

    ditemukan dalam nyanyian maole atau nyanyian panjang orang

    Kalumpang yang menggunakan bahasa Kalumpang purba yang

    saat ini penuturnya tinggal dua orang tua berusia lanjut.

    Konon, benih padi itu masih ada di puncak gunung yang terletak

    tidak jauh dari kampung Kalumpang. Setiap tahun padi itu tetap

    tumbuh. Sampai tahun 1960-an orang-orang Kalumpang masih

    mengandalkan benih padi yang berasal dari puncak gunung itu.

    Padi yang tumbuh di puncak bukit batangnya lebih besar dari

    batang padi yang ada sekarang, bulir padinya lebih kecil, namun

  • 6 Muhammad Ridwan Alimuddinsangat rimbun. Selain dimanfaaatkan sebagi bibit, tumbuhnya

    batang padi di puncak bukit itu dijadikan penanda bagi orang

    Kalumpang untuk memulai menanam padi. Sayang, usia panennya

    mencapai enam bulan. Karena itu, dengan masuknya program

    intensifikasi pertanian oleh pemerintah diawal tahun 1970-an,

    bibit padi lokal tersebut diganti dengan bibit yang lebih bagus

    dengan masa panen tiga bulan sekali.

    Sejak proses pergantian varietas padi itulah orang-orang

    Kalumpang mulai mengenal hama padi dan insektisida. Asfriyanto

    mengutip pendapat pendeta Mardi Tamandalan, Masih ada

    penduduk yang menanam bibit padi gunung seperti itu, tapi

    letaknya di hulu sungai Karama. Padi gunung itu rasanya enak

    sekali. Saya dulu sering makan waktu masih kecil, tapi sekarang

    sudah susah dicari.

    Patung Sikendeng

    Sungai Karama menyimpan banyak misteri dan pernah

    menjadi saksi sejarah peradaban Nusantara. Di Sikendeng, sekitar

    10 km dari muara Sungai Karama, pernah ditemukan patung

    Buddha berbahan perunggu, yang kemudian diberi nama Patung

    Sikendeng, sebab ditemukan di Sikendeng.

    Situs bersejarah ini ditemukan oleh A. Maula, seorang penilik

    sekolah daerah setempat. Dan atas perintah Caron, gubernur

    waktu itu, patung dibawa ke Makassar. Untuk kemudian Dr. F.D.K.

    Bosch membandingkannya dengan patung-patung Buddha yang

    ada di Borobudur dan Palembang yang termasuk tradisi Hindu

    Jawa dan Hindu Sumatera.

    Dari hasil penelitian di simpulkan, gaya patung Sikendeng

    mempunyai ciri yang khas sebagaimana mantel biarawan Sanghati

  • 7Ekspedisi Bumi Mandaryang berlipat-lipat dilukiskan. lipatan-lipatan terjadi karena kain

    penutup bahu kiri ditarik keras, menyebabkan jalur-jalur dangkal

    pada kain tersebut. Di samping itu badan yang ramping seperti

    wanita, raut muka bulat, leher berisi, mulut kecil bibir tebal.

    Dibandingkan dengan gaya dan bentuk patung perunggu Buddha lainnya seperti dari Solok jambi, Kotabangun Kalimantan

    Barat dan patung dari Gunung Lawu Jawa Hindu kelihatannya

    tidak mempunyai kesamaan. Kelihatannya patung itu dipengaruhi

    oleh gaya Buddha Greeco yang terdapat di India Selatan.

    Di Amarawaty India Selatan pernah ada tradisi pembuatan

    patung yang mirip dengan gaya patung yang ditemukan di Sikendeng, terutama cara pemakaian dengan jalur-jalur yang

    dangkal dan cara menutup bahu dengan kain yang berlipat-lipat.

    Dr. Bosch akhirnya berkesimpulan bahwa patung Sikendeng

    dibawa langsung dari India Selatan dan mungkin dari Amarawaty.

    Masa penyebarannya mungkin terjadi antara abad ke-2 - 7 M.

    Penemuan tersebut mengisyaratkan, pernah terdapat kerajaan

    atau perkampungan tua, dan bahkan ada yang berpendapat bahwa kerajaan atau perkampungan di wilayah penemuan benda-

    benda atau alat-alat dari batu dan gerabah adalah kerajaan atau

    perkampungan tertua di Mandar atau Sulawesi Barat.

    Warisan Dunia yang Harus Kita Jaga

    Seusai penelitian yang dilakukan oleh Heekeren tersebut, Situs

    Minanga Sipakko menjadi salah satu situs terpenting di Indonesia

    yang kaya dengan tinggalan-tinggalan budaya prasejarahnya Hal

    yang tidak kalah pentingnya adalah upaya publikasi data temuan

  • 8 Muhammad Ridwan Alimuddinekskavasi yang terbaru mengingat keterancaman hilangnya Situs

    Minanga Sipakko di masa depan akibat erosi dan banjir karena

    letak situs yang berada di tepi Sungai Karama.

    Di atas adalah kutipan salah seorang mahasiswa Fakultas

    Ilmu Budaya dari Universitas Indonesia, Ricky Meinson Binsar

    Simanjuntak (2009) dalam bagian pengatar skripsinya tentang

    Kalumpang. Artinya, situs Kalumpang mau tidak mau harus dijaga,

    dilestarikan. Sebab, bila situs tersebut dimusnahkan dengan cara

    menenggelamkannya, maka, satu-satunya peradaban tertua yang

    pernah ditemukan di Sulawesi Barat hilang dalam hitungan hari.

    Agar kita, masyarakat Sulawesi Barat, lebih menyadari akan

    arti penting Kalumpang, edisi hari ini dan esok, isinya dalah saduran

    dari penelitian mahasiswa Universitas Indonesia di atas. Tujuannya,

    agar kita, khususnya warga Sulawesi Barat, sama-sama bertanggung

    jawab atas kelestarian situs Kalumpang. Jika situs itu tetap ada, itu

    karena kita; jika situs itu musnah, itu karena kita juga.

    Kalumpang pada awalnya merupakan sebuah nama yang

    ditujukan untuk menyebut Situs Kamassi, tempat P .V . van Stein-

    Callenfels melakukan penggalian pertama kalinya pada tahun

    1933. Van Stein-Callenfels memperkenalkan Situs Kamassi dengan

    nama Kalumpang berdasarkan keletakan desa Situs Kamassi

    berada, namun seiring dengan perkembangan penelitian yang

    dilakukan saat ini Kalumpang mengacu pada sebuah kawasan situs

    yang terdiri dari beberapa situs prasejarah termasuk Situs Kamassi

    dan Minanga Sipakko.

    Minanga Sipakko terletak di Kecamatan Kalumpang,

    Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, sekitar 3 km di sebelah barat

    Kalumpang. Menurut bahasa lokal, Minanga Sipakko memiliki arti

  • 9Ekspedisi Bumi Mandarcabang sungai (minanga atau binanga = sungai, sipakko atau

    sipakka = cabang).

    Minanga Sipakko muncul dalam dunia prasejarah Indonesia

    berkat penelitian yang dilakukan oleh Heekeren pada tahun 1949,

    berlatarbelakang pada serangkaian penemuan situs-situs Neolitik

    di tepi Sungai Karama. Awalnya Heekeren melakukan penggalian di

    Kamassi melanjutkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh

    van Stein-Callenfels, namun pada saat yang bersamaan ditemukan

    temuan yang sejenis di Minanga Sipakko yang terletak tidak jauh

    dari Kamassi sekitar 1 km ke arah barat.

    Penelitian yang dilakukan di Situs Minanga Sipakko terbilang

    jarang. Sepeninggal Heekeren tidak ada penelitian lebih lanjut

    di tempat ini, yang ada hanya sebatas survei permukaan dan

    peninjauan lapangan. Pada tahun 1994 dan 1995 Pusat Penelitian

    Arkeologi Nasional (sekarang Pusat Penelitian dan Pengembangan

    Arkeologi Nasional) yang bekerjasama dengan Balai Arkeologi

    Makassar melakukan ekskavasi dengan membuka kotak uji (test

    pit) di Situs Minanga Sipakko dan survei di Situs Kamassi.

    Baru pada tahun 2004, 2005, dan 2007 penelitian di Situs

    Minanga Sipakko mulai intensif dilakukan oleh Puslitbang Arkenas

    bersama Balar Makassar. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan

    bahwa Situs Minanga Sipakko merupakan situs Neolitik murni.

    Penelitian yang dilakukan di Situs Minanga Sipakko tersebut

    menemukan berbagai alat-alat litik, alat tulang, sisa fauna, sisa-

    sisa pembakaran, dan pecahan tembikar. Khususnya tembikar

    ditemukan dalam jumlah yang sangat banyak dan secara kuantitas

    maupun kualitas memperlihatkan keberagaman motif hias yang

    dihasilkan.

  • 10 Muhammad Ridwan AlimuddinPada tahun 1933 penelitian dilanjutkan oleh Stein-Callenfels

    di Situs Kamassi. Penggalian yang dilakukan berhasil menemukan

    alat-alat batu Hoabinhian, kapak, beliung, mata panah, dan

    tembikar.

    Hasil penelitian tersebut kemudian dipublikasikan oleh Stein-

    Callenfels pada Kongres Prasejarah Asia Timur di Manila tahun

    1951 yang menjadikan Kalumpang dikenal di dunia internasional.

    Sepeninggal Stein-Callenfels penelitian dilanjutkan oleh H.R.

    van Heekeren pada tahun 1949 di Situs Kamassi. Ketika melakukan

    penggalian, Heekeren mendapatkan laporan dari penduduk

    setempat yang menemukan temuan yang serupa di Minanga

    Sipakko. Kemudian pada saat perjalanan pulang ke Kalumpang,

    Heekeren mencoba melakukan peninjauan langsung ke Minanga

    Sipakko yang hanya sebatas survei permukaan. Hasilnya ditemukan

    pecahan- pecahan tembikar polos dan berhias, beliung persegi,

    kapak lonjong, mata tombak, mata panah, pahat batu, batu asah,

    batu pipisan, dan alat pemukul kulit kayu.

    Pada tahun 1969 R.P. Soejono dan D.J. Mulvaney mengadakan

    penelitian berupa peninjauan lapangan di gua-gua Maros di

    Sulawesi Selatan, tepatnya di Gua Batu Ejaya, Gua Ulu Leang 2, dan

    Gua Ulu Wao. Dari hasil peninjauan tersebut ditemukan beberapa

    pecahan tembikar yang jika dilihat dari motif dan teknik hiasnya

    memperlihatkan kesamaan dengan tembikar Kalumpang.

    Dari perbandingan tersebut disimpulkan bahwa tembikar

    dari situs-situs tersebut merupakan bagian dari perkembangan

    tembikar Kalumpang yang selanjutnya disebut sebagai kompleks

    tembikar Kalumpang.

  • 11Ekspedisi Bumi MandarPada tahun 1970 penelitian dilanjutkan oleh Uka

    Tjandrasasmita dan Abu Ridho yang menyatakan bahwa tembikar

    Kalumpang memiliki persebaran yang cukup luas di Sulawesi

    Selatan, yaitu hingga ke daerah Maros (Ulu Wae, Ulu Leang, Leang

    Burung, dan Batu Ejaya, dekat Bantaeng) dan juga ke arah selatan

    Makassar, tepatnya di Desa Takalar.

    Pada tahun 1981 pembahasan tembikar Kalumpang dilakukan

    oleh Nurhadi dalam skripsinya yang berjudul Gerabah Prasejarah

    Kalumpang. Dalam penelitiannya Nurhadi menggunakan data

    himpunan tembikar koleksi Museum Nasional yang merupakan

    hasil temuan ekskavasi Stein-Callenfels tahun 1933, Heekeren

    tahun 1949, dan himpunan tembikar dari pemerintah daerah

    setempat

    Secara keseluruhan total pecahan tembikar yang digunakan

    sebanyak 601 buah yang terdiri dari 351 tembikar berhias dan 250

    tembikar polos. Dari hasil penelitiannya tersebut, Nurhadi berhasil

    mengenali bentuk-bentuk tembikar Kalumpang yang terdiri

    dari jenis cawan, kendi, periuk, buyung, tempayan, buli- buli,

    jambangan, tutup, dan tungku. Nurhadi juga berpendapat bahwa

    tembikar Kalumpang tidak dibuat di Kalumpang dengan alasan

    tidak ditemukannya alat- alat pembuatan tembikar di Kalumpang.

    Pada tahun 1988 Tim Ikatan Mahasiswa Arkeologi Indonesia

    (IMAI) Universitas Hasanuddin melakukan survei di Kalumpang,

    disusul oleh R.P. Soejono dari Puslitbang Arkenas tahun 1990.

    Kemudian pada tahun 1993 Tim Ekspedisi Kalumpang II Universitas

    Hasanuddin melakukan survei lanjutan yang kedua di Situs Kamassi

    dan Minanga Sipakko.

  • 12 Muhammad Ridwan AlimuddinDi Situs Kamassi ditemukan kapak lonjong, batu pelontar, batu

    gandik, batu inti, batu asah, dan pecahan tembikar; sedangkan

    di Situs Minanga Sipakko ditemukan kapak lonjong, calon kapak

    lonjong (yang baru mengalami pengerjaan primer atau belum

    terupam), batu gandik, batu asah, batu inti, kapak persegi, beliung

    persegi, calon pahat, dan pecahan tembikar.

    Penelitian eksploratif di Kalumpang dimulai tahun 1994 dan

    1995 oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bersama-sama

    dengan Balai Arkeologi Makassar. Penelitian yang dilakukan

    bertujuan untuk mengetahui sebaran wilayah tinggalan arkeologis

    di Situs Kamassi dan Minanga Sipakko, baik secara kualitatif

    maupun kuantitatif, serta karakteristik kedua situs. Serangkaian

    penelitian tersebut menyimpulkan bahwa Kalumpang merupakan

    situs berciri Neolitik-Paleometalik dengan tinggalan pokok berupa

    pecahan tembikar, beliung persegi, kapak batu, sisa fauna, dan

    benda-benda yang terbuat dari logam.

    Pada tahun 1995 tembikar Kalumpang diteliti oleh St. Fatimah.

    Dalam penelitian skripsinya yang berjudul Unsur Tradisi Sahuynh-

    Kalanay Pada Tembikar di Kalumpang: Tinjauan Berdasarkan

    Analisis Teknologis Dan Tipologis Fatimah menggunakan data

    hasil ekspedisi Kalumpang II dan survei yang dilakukannya di

    Situs Kamassi dan Minanga Sipakko. Data tersebut terdiri dari 897

    tembikar polos dan 42 tembikar berhias.

    Hasil penelitiannya menyebutkan bentuk-bentuk tembikar

    dari Kalumpang adalah cawan, buli-buli, tempayan, kendi, pinggan,

    periuk, dupa, dan tutup. Bahan baku tembikar terbuat dari tanah

    liat (lempung) yang ditambahkan dengan bahan campuran

    (temper) dari pasir dan hancuran cangkang binatang laut. Hasil

  • 13Ekspedisi Bumi Mandarlainnya juga diketahui adanya penggunaan roda putar dan tatap

    pelandas pada pembuatan tembikar di Kalumpang, sedangkan jika

    dilihat dari motif dan pola hiasnya menunjukkan adanya kesamaan

    dengan tradisi Sahuynh-Kalanay.

    Pada tahun 1998 penelitian tentang tembikar Kalumpang juga

    dilakukan oleh Ning Suryati. Dalam skripsinya yang berjudul Tradisi

    Gerabah Sa Huynh- Kalanay Pada Gerabah Kalumpang, Sulawesi

    Selatan, Suryati memfokuskan pada komposisi kandungan mineral

    tembikar Kalumpang dan menjelaskan proses persebaran tradisi

    Sa Huynh-Kalanay di Kalumpang.

    Data yang digunakan adalah data yang sama dipakai

    oleh Fatimah pada tahun 1995. Berdasarkan hasil analisis

    laboratorium, diketahui bahwa komposisi bahan baku tembikar

    Kalumpang menunjukkan kesamaan dengan komposisi sedimen

    yang ditemukan di Kalumpang sehingga menurut Suryati tembikar

    Kalumpang dibuat di Kalumpang. Kemudian untuk proses

    persebaran tradisi Sa Huynh-Kalanay di Kalumpang disebabkan

    oleh proses stimulus diffusion, yaitu kebudayaan Sa Huynh-

    Kalanay yang dibawa ke dalam kebudayaan Kalumpang.

    Dari hasil penelitian mahasiswa UI tersebut, didapati

    bahwa keanekaragaman tinggalan arkeologis di Kalumpang

    menempatkan kawasan situs ini penting dalam pengkerangkaan

    kehidupan manusia prasejarah di Indonesia. Berbagai tinggalan

    arkeologis seperti alat-alat litik, alat tulang, sisa- sisa fauna, dan

    tembikar ditemukan di Kalumpang.

    Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa

    tembikar merupakan tinggalan budaya yang paling banyak

    ditemukan di Kalumpang. Tinggalan-tinggalan budaya di

  • 14 Muhammad Ridwan AlimuddinKalumpang secara umum mencerminkan budaya Neolitik yang

    terdapat di Sulawesi.

    Secara geografis Sulawesi merupakan salah satu pulau yang

    memegang peranan penting dalam persebaran manusia petutur

    Austronesia di Indonesia. Letaknya yang strategis di antara

    persilangan jalur pelayaran Asia bagian tenggara menjadikan

    Sulawesi sebagai titik terjadinya persilangan kebudayaan (melting

    pot) di Indonesia, baik dari arah barat maupun timur. Dari

    perspektif arkeologis keberadaan situs-situs Neolitik di Sulawesi

    adalah kunci untuk menjelaskan sifat alami penyebaran dan asal-

    usul penutur Austronesia di Indonesia.

    Tinggalan-tinggalan arkeologis di Minanga Sipakko merupakan

    bukti hadirnya budaya Neolitik di Sulawesi. Budaya Neolitik

    tersebut dibawa oleh petutur Austronesia hingga Indonesia

    bahkan lebih luas ke kawasan Asia Tenggara dan Pasifik. Salah satu

    artefak yang mencirikan budaya Neolitik Austronesia tersebut

    adalah tembikar. Ditinjau dari aspek motif hiasnya, tembikar

    Minanga Sipakko memperlihatkan kemiripan dengan tembikar tradisi Sa Huynh- Kalanay. Menurut Solheim II tembikar tradisi Sa

    Huynh-Kalanay dapat dijumpai pada tembikar-tembikar di situs-

    situs Neolitik di Indonesia, termasuk di Situs Minanga Sipakko.

    Kehadiran tembikar di Situs Minanga Sipakko menarik untuk

    diamati sebagai suatu usaha untuk mengungkapkan salah satu

    aspek kehidupan yang berlangsung di situs tersebut. Pengamatan

    terhadap motif hias menjadi penting dengan pertimbangan bahwa

    dari segi inilah dapat diungkapkan salah satu aspek teknologi

    pembuatan tembikar di samping adanya unsur-unsur kesamaan

    dengan motif dan teknik hias tembikar dari situs-situs lainnya di

  • 15Ekspedisi Bumi MandarIndonesia maupun luar Indonesia.

    Dari serangkaian penelitian yang dilakukan oleh Pusat

    Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang

    Arkenas) di Situs Minanga Sipakko tahun 2004, 2005, dan 2007

    menghasilkan banyak temuan tembikar. Temuan tersebut saat ini

    disimpan di Puslitbang Arkenas, Jakarta dan belum dianalisis lebih

    lanjut.

    Berdasarkan hal-hal yang telah dijelaskan di atas, oleh

    penelitia mengajukan pertanyaan, motif dan teknik apa saja yang

    digunakan untuk menghias tembikar Minanga Sipakko? Motif

    hias tembikar Minanga Sipakko apa saja yang memperlihatkan

    kemiripan dengan motif hias tembikar tradisi Sa Huynh-Kalanay?

    Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tersebut

    dapat dijelaskan berbagai jenis motif hias yang diterapkan di Situs

    Minanga Sipakko serta bagaimana teknik pembuatannya. Selain

    itu juga dapat diketahui motif-motif apa saja di Situs Minanga

    Sipakko yang juga dihasilkan oleh tembikar tradisi Sa Huynh-

    Kalanay. Tujuan lainnya dari penelitian tersebut adalah untuk

    melengkapi informasi dari hasil penelitian sebelumnya sehingga

    dapat menambah pengetahuan tentang masa prasejarah di Situs

    Minanga Sipakko dan Indonesia umumnya.

    Sebab, Minanga Sipakko merupakan salah satu situs prasejarah

    yang sangat penting di Indonesia. Berdasarkan laporan dari banyak

    penelitian, dalam konteks mikro Situs Minanga Sipakko merupakan

    bukti adanya hunian manusia masa lalu dengan rentang waktu

    3.600-2.500 BP, yang dicirikan oleh pengembangan teknologi

    tembikar; beliung dan kapak batu serta adanya eksploitasi sumber

    daya fauna dan flora.

  • 16 Muhammad Ridwan AlimuddinDalam konteks makro, Sungai Karama menjadi jalur lalu lintas

    perdagangan antar komunitas hulu dan hilir, bahkan dengan

    dunia luar. Secara geografis ada dua hal yang menonjol berkaitan

    dengan kehidupan manusia yang berlangsung di tempat ini, yaitu

    keterisolasian di pedalaman dengan lingkungan yang bergunung-

    gunung dan keberadaan Sungai Karama sebagai pembuka

    keterisolasian. Faktor geografis tersebut merupakan faktor yang

    berperan penting dalam memberi kekhasan pada kehidupan dan

    kebudayaan yang berlangsung di Situs Minanga Sipakko.

    Dalam periode tertentu sejak situs Minanga Sipakko dihuni

    hingga kondisi situs saat ini Sungai Karama telah mengalami

    perubahan aliran sungai. Perubahan tersebut erat kaitannya

    dengan keletakan Situs Minanga Sipakko yang saat ini berada

    dalam kondisi yang terancam longsor dan hilangnya situs

    Minanga Sipakko di masa depan, apalagi dengan adanya rencana

    pembangunan PLTA Karama.

    Sikomande, Sarung Ikat Tertua di Dunia

    Mengapa rencana pembangunan PLTA Karama harus di

    kawasan Batu Menggaragaji? Dugaan saya, salah satu penyebabnya

    sebab kawasan itu adalah DAS (daerah aliran sungai) yang

    sumberdaya airnya paling tidak berasal dari dua sungai utama,

    Sungai Bonehau dan Sungai Karama.

    Dalam hitung-hitungan teknis, bisnis, dan tingkat daya/

    energi yang akan dihasilkan nanti, alasan tersebut amat masuk

    akal. Malah dianjurkan. Akan beda debit air bila PLTA dibangun

    sebelum kawasan pertemuan dua sungai tersebut, misalnya di

    Sungai Karama saja atau Sungai Bonehau saja.

  • 17Ekspedisi Bumi MandarSebelum lanjut, saya ingin menjelaskan sedikit tentang kata

    bonehau. Sebenarnya antara bone dengan hau itu terpisah.

    Tapi karena lama-lama menjadi nama sebuah tempat, akhirnya

    disatukan, menjadi Bonehau. Jadi bila konsisten, Karama juga

    dipasangi bone didepannya, menjadi Bonekarama.

    Kata bone kemungkinan besar nama kuno dari sungai

    besar dalam cabang-cabang bahasa Austronesia. Ada beberapa

    varian dari penyebutan sungai dalam bahasa daerah di Sulawesi

    Barat, seperti salu (mungkin berarti sungai yang lebih kecil dari

    ukuran bone), binanga (misal Binanga Karaeng di perbatasan

    Mandar Bugis), lembang (seperti Lembang Matama di Alu,

    dan wai, tapi kata ini lebih dimaknai sebagai air.

    Hal di atas masih hipotesa saya pribadi, baik berdasarkan saya

    sebagai pengguna bahasa Mandar maupun atas analisis peta yang

    mana ada saat simbol aliran sungai disebut bone (untuk sungai

    yang besar), ada saat ditulis kata salu untuk cabang-cabang

    sungai yang lebih kecil. Masih perlu penelitian lebih mendalam,

    khususnya oleh para ahli bahasa.

    Artinya, situs Kalumpang dan kampung-kampung sekitarnya

    masih memendam harta karun akan akar kebudayaan kita

    yang belum digali sepenuhnya. Sejauh pengataman saya dari

    beberapa referensi ilmiah, situs Kalumpang masih diteliti sebatas

    peninggalan-peninggalan budaya bendawinya, misalnya tembikar.

    Sedang bentuk kebudayaan lainnya, belum pernah saya temukan

    (mungkin sudah ada tapi belum saya lihat/baca).

    Dan ketika Bonehau, Kalumpang, Tamaletua, Sumuak,

    Pabettenagan, Tollondok, Tammalea, dan kampung lain (akan)

    ditenggelamkan, maka upaya penggalian bentuk-bentuk

  • 18 Muhammad Ridwan Alimuddinkebudayaan Kalumpang akan semakin sulit dilakukan. Alasannya

    jelas, sebab para penutur atau pewaris bentuk-bentuk kebudayaan

    Kalumpang akan terdiaspora ke berbagai tempat, berpindah dari

    lingkungan yang mempengaruhi kebudayaannya.

    Bentuk-bentuk budaya Kalumpang masih belum

    terdokumentasi dengan baik sehingga sangat menyedihkan bila

    peradaban tertua kita itu harus dilenyapkan dalam hitungan hari.

    Saat pintu dam PLTA Karama mulai ditutup, ketika air mulai naik di

    sisi timur dam.

    Bila memang menenggelamkan Kalumpang menjadi pilihan,

    sebelumnya harus ada upaya atau kerja keras untuk merekam

    apa saja bentuk-bentuk kebudayaan Kalumpang, mulai dari

    bahasa-bahasanya, teknologinya, pranata sosialnya, hingga ilmu

    pengetahuan yang mereka miliki. Setelah itu, dibuatkan museum

    Kalumpang. Dan itu tak akan bisa selesai 4-5 tahun, sebagaimana

    target Anwar Adnan Shaleh selesainya PLTA Karama.

    Para ahli etnografi mengategorikan orang Kalumpang ke

    dalam rumpun budaya Toraja. Hal itu tidak sepenuhnya salah,

    sebab saat ini, beberapa ragam budaya orang Kalumpang semisal

    penguburan di liang dan tebing batu, kain tenun, juga bahasa

    mirip dengan budaya orang Toraja.

    Bahasa juga demikian. Kalumpang satu kelompok dengan

    Mamasa, Rongkong, Toraja Sadan (Makale, Rantepao atau Kesu

    dan Toraja Barat atau Mappa Pana) dan Toala (Toala dan Palili),

    yaitu Sub-famili Toraja Sadan.

    Jadi, meskipun secara geografis Kalumpang masuk wilayah

    Mamuju atau Sulawesi Barat (Mandar), dari segi budaya,

    Kalumpang agak berbeda dengan kebudayaan Mandar atau

  • 19Ekspedisi Bumi Mandarkebudayaan Mamuju secara umum.

    Berdasarkan penelitian terbaru terutama berdasarkan tradisi

    lisan dan bukti arkeologis, kebudayaan orang Kalumpang justru

    lebih tua dan ada kemungkinan budaya Toraja justru berakar dari

    kebudayaan orang Kalumpang purba.

    Salah satu bentuk kebudayaan Kalumpang yang harus

    dilestarikan adalah teknik pembuatan dan corak sikomande. Corak

    sikomande tidak hanya terdapat di sarung, tapi juga tembikar.

    Sebagaimana hasil penelitian tim dari Universitas Sorbonne,

    Prancis.

    Dalam bahasa tradisional setempat, sarung sikomande

    diistilahkan baba deata. Dari hasil penelitian ilmiah, corak

    sikomande sering dinyatakan sebagai pola desain tenunan ikat

    tertua di dunia. Pola desainnya sendiri disebut Sah Hyun Kalanay,

    yang mulai tersebar ke seluruh Asia dan Oceania sejak abad

    pertama masehi.

    Corak atau teknik pembuatan sarung sikomande ada

    kemiripan dengan teknik pembuatan sarung ikat di beberapa pulau

    di Nusa Tengga Timur (Flores). Sewaktu saya melakukan penelitian

    tentang kebudayaan pemburu ikan paus di Lamalera (Larantuka),

    dalam cerita rakyat disebutkan bahwa moyang mereka berasal

    dari pantai timur Pulau Sulawesi, yaitu daerah Luwuk sekarang ini.

    Adapun jalur migrasinya dari Pulau Sulawesi hingga sampai ke

    Flores melalui Kep. Sula, P. Buru, P. Seram hingga Kep. Kei, ke Kep.

    Tanimbar, sampai memutar kembali ke arah barat, menuju P. Leti,

    P. Wetar, P. Flores, dan sekitarnya.

    Dengan kata lain, dugaan yang mengatakan bahwa teknik dan corak sarung sikomande sebagai yang tertua di dunia amat masuk

  • 20 Muhammad Ridwan Alimuddinakal, sekaitan dengan pola migrasi di atas. Sebab, dari Kalumpang

    ke Toraja hingga Luwuk ada jalur purba. Artinya, teknik-corak

    sikomande jauh lebih tua dibanding yang ada di pulau-pulau Nusa

    Tenggara sekarang ini.

    Sayangnya, orang Sulawesi Barat sendiri (baca: pemerintah

    kita) amat bersemangat untuk meluluhlantakkan warisan dunia

    yang dipercayakan ke Sulawesi Barat itu atas nama membangun

    PLTA. Kita jangan menyalahkan orang Cina yang ingin berinvestasi,

    tapi harus kita tuntut orang-orang kita (yang menentukan sebab

    mereka pengambil kebijakan) untuk tidak menenggelamkan satu-

    satunya peradaban tertua yang kita miliki.

    Wajar masyarakat di bantaran Sungai Karama dan Sungai

    Bonehau menolak pembangunan PLTA Karama, sebab bila betul

    terjadi, bukan hanya kebudayaan mereka yang akan rusak, tapi

    kenangan masa lalu akan sirna. Makam orangtua kita saja bila mau

    dipindah atau dihilangkan sudah terasa berat, apalagi kalau itu

    makam nenek moyang dan peradaban. Pasti amat menyakitkan

    bila itu musnah.

    Dunia Akan Mengutuk Sulbar

    Dunia akan menuntut Sulawesi Barat bila Situs Kalumpang

    dan kawasan disekitarnya ditenggelamkan! Ya, sebab apa yang

    ada di tempat itu bukan semata-mata benda fisik saja, tapi lebih

    dari itu. Ada hal-hal tertentu yang masih berbingkai misteri, yang

    merupakan akar kebudayaan kita ribuan tahun lalu.

    Memang bila dinilai dengan uang itu hampir tak bernilai, tapi penghancurannya akan memberi kita kerugian tak ternilai

  • 21Ekspedisi Bumi Mandarharganya. Jauh melampaui sebuah unit PLTA yang hanya bernilai

    12 triliun rupiah. Sebuah PLTA bisa dibangung lima tahun saja, tapi

    peradaban, seperti peradaban Kalumpang, tak akan bisa dibangun

    meski dengan biaya 1000 triliun rupiah pun.

    Saya pribadi tak menolak pembangunan PLTA, sejauh dia

    tidak berdampak negatif ke situs kebudayaan Kalumpang. PLTA

    bukan satu-satunya pembangkit listrik, masih ada sumber energi

    alternatif lain, semisal angin dan panas matahari.

    Ada banyak kasus, pembangunan PLTA di Indonesia ternyata

    tidak berdampak signifikan ke penduduk setempat, sebagaimana

    yang terjadi di Sumatera. PLTA Siguragura, PLTA Tangga, dan

    Peleburan Aluminium Kuala Tanjung adalah milik perusahaan

    patungan Indonesia dengan 12 perusahaan Jepang, PT Indonesia

    Asahan Aluminium (Inalum).

    Perbandingan saham antara Pemerintah Indonesia dan 12

    perusahaan Jepang bersama pemerintahan Jepan didirikan adalah

    10%:90 %. Oktober 1978 perbandingannya menjadi 25%:75% dan

    1987 menjadi 41,13 %:58,87 %. Sejak 10 Februari 1998 menjadi

    41,12 %:58,88 %. Proyek kerja sama ini akan berakhir 2013.

    Ternyata ada motif pihak Jepang membantu pembagunan

    PLTA Siguragura dan PLTA Tangga. Yaitu sebagai sumber energi

    untuk industri peleburan aluminium, yang juga ada di Sumatera

    Utara, yang keuntungannya lebih banyak mengalir ke Jepang.

    Menurut harian Kompas, sejak pertama kali beroperasi tahun

    1983, listrik dari PLTA Siguragura dan PLTA Tangga tak perna benar

    bisa dinikmati rakyat. Selama kurun waktu 2002-2007, masyarakat

    Sumut justru mengalami krisis listrik Siguragura dan PLTA Tangga

    tidak banyak membantu.

  • 22 Muhammad Ridwan AlimuddinKapasitas pembangkit yang dimiliki PLN di Sumut pun hanya

    900-1.000 MW. Kebutuhan listrik saat beban (pukul 18.00-

    23.00) mencapai 1.200 MW. Tak heran, masyarakat Sumut

    selalu mengalami pemadaman list Kondisi itu berdampak pada

    ekonomi karena banyak pabrik yang tutup atau mengurangi jam

    produksinya. rumah tangga juga mengeluh karena peralatan

    elektroniknya cepat rusak akibat listrik sering mati tiba-tiba.

    Saat krisis itulah rakyat Sumut ngiler melihat besarnya

    listrik yang dihasilkan PLTA Siguragura dan PLTA Tangga hanya

    untuk menghidupi pabrik peleburan aluminium. Hasil produksi

    aluminium pun 60 % diekspor ke luar negeri dan hanya 40 %

    untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

    Menurut Sekretaris Daerah Provinsi Sumut RE Nainggolan,

    selama ini pemda hanya menikmati annual fee dari Inalum Rp

    74 miliar per tahun. Jumlah ini tak sebanding seandainya Proyek

    Asahan dikuasai Pemerintah Indonesia kemudian listrik PLTA

    Siguragura dan PLTA Tangga dijual ke PT PLN.

    Bisa saja muncul pertanyaan, mengapa investor dari Cina

    begitu bersemangat membantu pembangunan PLTA Karama?

    Dari hitung-hitungan bisnis, pasti ada motif di balik itu. Pertama

    adalah pembagian keuntungan dari hasil penjualan listik. Pasti

    lebih banyak mengalir ke mereka, bukan hanya sampai di BEP

    (break event point), tapi beberapa tahun setelah itu. Sehingga

    yang diperoleh pemerintah Sulawesi Barat tak seberapa.

    Saya pribadi tak terlalu percaya statemen yang dikemukakan

    pemimpin provinsi ini. Anwar Adnan Saleh mengatakan (dimuat di

    Radar Sulbar beberapa waktu lalu) bahwa Imbal beli dari potensi

    Sumber Daya Alam (SDA) wilayah Sulbar merupakan nilai tawar

  • 23Ekspedisi Bumi Mandardalam pembangunan tersebut. Potensi itu diantaranya kakao, hasil

    laut, serta persawahan. China ingin berinvestasi sebab merupakan

    konsumen coklat yang besar dan mereka butuh suplai dari kita.

    Begitu pun dengan ikan segar karena mereka sangat gemar ikan.

    Imbal beli ini akan menjadi dasar untuk pembangunan proyek itu.

    Bila hanya mengandalkan coklat sama ikan, Cina tak akan

    bersemangat seperti sekarang. Pasti lebih dari itu. Coklat sama ikan

    itu mainan bisnis seujung kuku. Tak sebanding untuk berinvestasi

    triliunan rupiah.

    Saya lebih cenderung pada motif kedua. Yaitu, ada

    kemungkinan kasus yang terjadi di Sumatera Utara bisa juga

    terjadi di Sulawesi Barat. Memang saat ini belum ada industri

    pertambangan yang membutuhkan energi listrik super besar.

    Tapi ke depan, akan ada kegiatan itu. Mamuju memiliki potensi

    tambang yang hanya diketahui segelintir negara-negara maju atau

    perusahaan multinasional.

    Wajar sumber energi dibangun dulu, industrinya belakangan.

    Itu alasan sangat masuk akal. Masalahnya, pihak investor (dan

    mungkin juga pemerintah) tidak transparan dalam hal ini.

    Pemerintah hanya mendengun-dengunkan dampak positif, bla

    blabla

    Saya kembali mengutip dalih pak gubernur Sulawesi Barat

    mengapa PLTA perlu dibangun di DAS Sungai Karama, katanya,

    Megaproyek pembangunan PLTA ini diyakini dapat mendatangkan efek lain yang juga sangat menguntungkan masyarakat. Efek

    tersebut diantaranya pengairan persawahan, penyediaan

    air bersih masyarakat, penyerapan tenaga kerja lokal, serta

    dapat difungsikan sebagai pusat wisata baru. Sehingga, dapat

  • 24 Muhammad Ridwan Alimuddinmeningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta peningkatan

    ekonomi masyarakat sekitar.

    Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh juga memberikan

    jaminan kepada seluruh masyarakat, khususnya di Kecamatan

    Sampaga Mamuju bahwa tidak akan ada dampak negatif dari

    pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di daerah

    tersebut. Dia menambahkan jaminan tempat tinggal baru yang

    bakal dibangun oleh investor sebagai tempat relokasi warga akan

    lebih baik dari sebelumnya. Selain konsekuensi relokasi, Anwar

    yakin tidak akan ada hal lain.

    Tapi apakah betul itu yang akan terjadi? Ya, kita berpikir positif

    saja bahwa keuntungan di atas yang akan terjadi. Tapi, jangan

    sampai Situs Kalumpang dikorbankan! Bila itu yang terjadi, dunia

    akan mengutuk Sulawesi Barat.

    Masyarakat internasional, khususnya yang memberi perhatian

    pada pelestarian budaya tradisional, mulai dari komunitas

    arkeologi hingga badan dunia di PBB yang mengurusi kebudayaan

    (UNESCO) akan mengecam habis-habisan Sulawesi Barat.

    Kita jangan mencontoh habis-habis Cina, demi bendungan

    Tiga Raksasa, mereka rela menenggelamnkan ratusan kampung,

    memindahkan jutaan penduduk, dan beberapa situs bersejarah

    mereka.

    Pertama, Cina negara industri. Kebutuhan energi sangat

    mendesak. Kedua, mereka negara militer yang bisa memaksakan

    kehendak. Ketiga, mereka memiliki banyak situs bersejarah. Hilang

    satu dua tidak apa-apa, masih ada puluhan (sedang kita, di Sulbar

    hanya ada satu). Keempat, DAM yang dibangun bisa mencegah

    banjir rutin yang terjadi di Sungai Kuning. Dan kelima, Cina tidak

  • 25Ekspedisi Bumi Mandarperlu mengutang duit untuk membangunnya.

    Kesimpulannya, jika memang gubernur kita seorang yang

    kreatif, visioner, dan seorang bapak pembangunan yang beradab,

    maka dia akan bisa membangun PLTA Karama dengan tetap

    melestarikan situs Kalumpang.

    Tetapi jika hanya berhasil membangun PLTA Karama

    dengan menjadikan situs Kalumpang sebagai tumbal, entah apa

    gelarannya.

    Semoga saudara-saudara kita di Kalumpang bisa

    mempertahankan hak kebudayaan dan warisan leluhurnya, walau

    berhadapan kekuatan maha dahsyat. Kami di Balanipa, akan

    mendukungmu.

    Ekspedisi Ini Nyawa Taruhannya

    Saya seperti seorang navigator di atas mobil dalam sebuah

    lomba rally car dengan rute punggung bukit berbatas jurang,

    jalan terjal tak beraspal, melintas anak sungai berbatu cadas,

    dan jalan sempit. Sabuk pengaman kupasang, sebab bila mobil

    menghantam sesuatu, saya pasti terlempar keluar. Kecepatan

    mobil tak wajar di jalur berbahaya. Digas terus, padahal kami

    sedang tidak balapan. Beberapa kali kepala saya julurkan ke luar

    jendela sebab mual. Seakan mau muntah.

    Ide awalnya, Ekspedisi Save Our Kalumpang akan saya

    laksanakan sendiri. Ide ini saya sampaikan ke beberapa pihak/

    individu dan mendapat respon yang sangat baik. Ada yang

    memberi dukungan moril ada dalam bentuk materi, khususnya

    Harian Radar Sulbar. Singkat kata, berkat adanya bantuan dari

  • 26 Muhammad Ridwan Alimuddinbanyak pihak, persiapan ekspedisi dapat saya matangkan dan

    pelaksanaannya pun dapat segera dilakukan.

    Sebelum masuk Kalumpang, saudara Muhammad Ilham,

    Direktur Sulbar Ekspres, mengantar ke rumah pak Kalvin Kalambo.

    Di situ saya pertama kali melihat langsung dan berkenalan pak

    Kalvin. Selama ini hanya lewat media. Demikian juga sebaliknya,

    beliau kepada saya.

    Ternyata saudara Ilham meminta kesediaan pak Kalvin

    menemani saya ke Kalumpang. Pertimbangannya, saya ini pertama

    kali ke Kalumpang. Bila tak ada teman, bisa repot di dalam. Padahal

    sih saya sudah siap untuk sendiri, sebagaimana riset-riset saya di

    daerah lain.

    Rencana awal juga berubah. Selain rencana sendiri saja,

    sebelumnya saya ingin ke Kalumpang menggunakan moda

    transportasi umum, yakni mobil india, demikian istilah saudara

    Ilham. Disebut demikian, sebab modifikasi mobil mirip-mirip di

    film-film India, yakni openkap lalu dibagian terbuka tersebut

    dipasangi kerangka besi. Tapi saudara Ilham mau mengantar

    dengan menggunakan mobil kantor (Sulbar Ekspress), setidaknya

    sampai ke Bonehau.

    Sebab saudara Ilham ingin melibatkan bapak Kalvin Kalambo

    (putra Kalumpang yang juga anggota DPRD Sulbar), dan saudara

    Ilham belum begitu terbiasa mengemudikan mobil jalur Kalukku

    Kalumpang, dia mengajak serta iparnya. Maka jadilah kami

    berempat menuju Kalumpang. Jauh berbeda rencana awal, yaitu

    ekspedisi solo atau sendiri.

    Bagi saya pribadi, ada untung-rugi berombongan. Untungnya,

    bisa lancar ke dalam, demikian juga saat di lapangan. Mudah

  • 27Ekspedisi Bumi Mandarmenjalin jaringan dengan masyarakat setempat, demikian pula

    informasi yang dibutuhkan. Ruginya, ada hal-hal yang tidak bisa

    saya rasakan langsung, misalnya nuansa saat menggunakan mobil

    india ke Kalumpang. Tapi tak apa, yang penting tujuan bisa

    tercapai nantinya.

    Berangkatlah kami berempat ke Kalumpang, 13 Januari 2012,

    sekitar jam lima sore meninggalkan kota Mamuju. Saya duduk

    di depan, di samping sopir, di kursi tengah saudara Ilham dan

    bapak Kalvin Kalambo. Sebelum masuk Kalumpang, kami singgah

    bermalam di Talondo, Bonehau. Nanti esoknya terus ke Kalumpang.

    Tujuan Ekspedisi

    Ekspedisi yang dilakukan oleh perusahaan media massa

    (cetak) jarang dilakukan. Yang rutin melaksanakan ekspedisi,

    setahu saya, hanya harian nomor satu di Indonesia, Kompas.

    Ekspedisi yang telah dilakukan, seperti Ekspedisi Bengawan

    Solo, Ekspedisi Papua, dan sekarang ini, Ekspedisi Cincin Api.

    Semua hasil ekspedisi mereka dibukukan, yang isinya artikel dan

    laporan-laporan berkaitan ekspedisi yang dimuat di media mereka

    (Kompas).

    Ekspedisi oleh media bertujuan mendapatkan hasil liputan

    lebih mendalam, sebab berbasis riset (ilmiah), dilakukan dalam

    waktu lama, dan biasanya dalam bentuk tim. Menjadikan hasil

    liputan lebih berkualitas dibanding strike news.

    Jurnalis melakukan ekspedisi hal yang amat penting, sebab

    bisa memberi wawasan baru bagi seorang jurnalis. Bukan hanya

    itu, dengan penggunaan kaidah-kaidah ilmiah, informasi yang

    diperoleh jurnalis lebih kuat. Tak mudah dipatahkan oleh argumen

    ngomong saja.

  • 28 Muhammad Ridwan AlimuddinNah, itulah yang ingin dicapai dari Ekspedisi Save Our

    Kalumpang. Radar Sulbar sebagai harian terkemuka dan

    berpengaruh di Sulawesi Barat, tidak ingin memberitakan

    persoalan Kalumpang dengan informasi ala kadarnya, yang

    tak berbasis riset. Bagaimana pun, persoalan Kalumpang amat

    kompleks, yang berpihak pada kepentingan semua pihak. Baik

    masyarakat Kalumpang, lingkungan, kebudayaan, dan sejarah,

    maupun pemerintah.

    Tujuan Ekspedisi Save Our Kalumpang antara lain adalah

    mendapat informasi data ketinggian kampung-kampung yang

    kemungkinan akan tenggelam bila betul PLTA Karama jadi

    dibangun sebagaimana kontruksi yang direncanakan, pendapat

    masyarakat Kalumpang, data ketinggian lokasi pembangunan PLTA

    Karama, mengamati keseharian penduduk di perkampungan DAS

    (daerah aliran sungai) Karama, mendokumentasikan dalam bentuk

    film dan foto DAS Karama dari Karama hingga Tarailu, melihat

    langsung situs-situs budaya yang telah diteliti (Minanga Sipakko

    dan Kamassi), mendokumentasikan bentuk-bentuk kebudayaan di

    Kalumpang, dan melihat langsung kondisi geografis Kalumpang,

    khususnya DAS.

    Sebelum melaksanakan ekspedisi, telah dilakukan riset

    pustaka. Sebagaimana yang dimuat di harian Radar Sulbar, alam

    tulisan berseri Selamatkan Kalumpang beberapa waktu lalu.

    Agar bisa memperoleh data yang dibutuhkan, dalam ekspedisi

    tim, yang langsung ke lapangan, menggunakan beberapa peralatan

    khususnya GPS dan kamera digital yang dilengkapi fasilitas

    GPS built in. Dengan digunakannya dua alat tersebut, hasil

    dokumentasi foto dan koordinat setiap tempat dapat diperoleh

  • 29Ekspedisi Bumi Mandardalam waktu singkat dan akurat. Bukan hanya angka-angka,

    tetapi setiap foto yang diambil di semua tempat yang didatangi di

    Kalumpang terekam data koordinatnya. Jadi datanya bukan hanya

    tanggal, waktu kapan foto diambil (dipotret), tapi lokasinya juga.

    Artinya, Ekspedisi Save Our Kalumpang adalah kegiatan

    serius sebab berbasis riset dan pengumpulan data langsung dari

    lapangan. Hingga nyawa pun dipertaruhkan, sebab berhadapan

    lingkungan Sungai Karama yang ganas.

    Perahu Kuno dan Serakan Tulang Manusia di Tallondok

    Hari pertama ekspedisi dimulai di Tallondok, masuk Kecamatan

    Bonehau. Transit di situ sebelum ke Kalumpang. Tallondok terletak

    di persis bagian barat daerah aliran Sungai Bonehau. Berdasar

    GPS, tempat ini berada di ketinggian sekitar 85 meter dpl (di atas

    permukaan laut). Bila turun ke Sungai Bonehau, ketinggiannya

    lebih rendah lima meter, sekitar 79 dpl.

    Data ketinggian penting diketahui, sebab bisa dijadikan dasar

    apakah tempat tersebut tenggelam atau tidak. Tallondok letaknya

    sekitar 17 km dari Tomatua, tempat yang rencananya di situ akan

    dibangun dam PLTA Karama. Dengan asumsi tinggi dam nantinya

    100 meter, Tallondok bisa tenggelam.

    Yang menarik saya lihat di Sungai Tallondok adalah sampan.

    Sekilas sampannya biasa-biasa saja. Hanya berupa batang kayu

    yang dikeruk tengahnya dengan palatto di sisi kiri-kanan. Tapi bila

    dicermati dari kacamata teknik pembuatan perahu tradisional

    Mandar dan jejak-jejak teknik kuno, sampan atau lepalepa di

  • 30 Muhammad Ridwan AlimuddinTallondok cukup menarik. Di bagian dalam ada bagian yang timbul.

    Dalam bahasa Mandar disebut tambuku.

    Tambuku adalah bagian kayu, berbentuk segiempat dengan

    dimensi sekitar 10x10x10cm yang sengaja dibuat ada (tidak ikut

    dikeruk) agar ada bagian tempat mengait tali pengikat, baik ketika

    menyusum papan lambung (tobo atau tombo) maupun ketika

    mengikat baratang (cadik). Nah, menurut penelitian ilmiah,

    teknik demikian adalah teknik sangat kuno, mulai digunakan

    ribuan tahun lalu. Khas Austronesia.

    Tambuku yang sebenarnya hampir tak ditemukan lagi

    di perahu-perahu jenis baru, semisal sandeq atau kapal motor.

    Alasannya, sekarang digunakan paku atau pasak untuk menyusun

    papan. Sebelum ada teknologi bor (untuk membuat lubang masuk

    di sisi papan), maka tekniknya adalah menyusun papan dengan

    cara mengikatnya. Yaitu papan atas dan papan dibawahnya ada

    tambuku yang timbul keluar. Nah, disitu tali (biasanya rotan

    atau ijuk) dikaitkan. Agar lebih kuat, biasa digunakan kayu yang

    melintang di dalam lambung perahu.

    Desain lepalepa juga unik, ramping dan panjang. Bentuk

    demikian perlu agar gaya geseknya dengan arus air tidak begitu

    besar. Jadi manuver di alur deras lebih mudah, dan bisa gampang

    melawan arus. Kekurangannya, daya muatnya sedikit. Bisa

    dibayangkan orang-orang dulu, mattokong (mendayung dengan

    menggunakan galah bambu) dari Sampaga hingga kawasan hulu.

    Berhari-hari baru tiba.

    Sepertinya bentuk atau desain perahu kulubelang yang

    digunakan di Mamuju terinspirasi dari perahu yang ada di kawasan

    Kalumpang.Ada juga kemungkinan teknik maupun desain sampan-

  • 31Ekspedisi Bumi Mandarsampan yang digunakan di muara Sungai Mandar (Teluk Mandar)

    awalnya dikembangan di kawasan Kalumpang. Dengan kata lain,

    diwarisi dari nenek moyang kita di sana.

    Menuju goa

    Salah seorang penduduk Tallondok mengatakan, di sana dia

    pernah melihat tulang-tulang yang berserakan di dalam gua. Di

    sana juga ditemukan patung kecil. Penasaran dengan informasi

    tersebut, sekitar jam 9 pagi, 14 Januari 2012, tim Ekspedisi Save

    Our Kalumpang (saya, bapak Kalvin Kalambo dan Muhammad

    Ilham) menuju goa diantar beberapa lelaki di Tallondok.

    Seakan diri seperti bintanna dalam film Mummy, yaitu

    petualang yang tertarik pada situs-situs bersejarah dan benda-

    benda kuno. Ya, bila betul apa yang diinformasikan tersebut, ada

    kemungkinan goa tersebut pernah dihuni manusia pra sejarah.

    Setidaknya sebagai tempat menyimpan mayat atau tulang-

    belulang jenazah.

    Kira-kira jaraknya satu kilometer, menurut penduduk yang

    mengantar kami. Agar tak kecele, sebab biasanya bila orang

    gunung menginformasikan jarak biasanya tidak sesuai realitas

    atau lebih jauh, saya menganggap jaraknya 2km atau 3km.

    Berjalan melintasi kebun coklat yang buahnya hitam-kering,

    pohon langsat, enau, bambu, dan menyusuri sungai kecil berbatu.

    Hati-hati juga berjalan di batu-batu sungai, bila terpeleset, resiko

    biasanya ada dua, terantuk ke batu atau kaki masuk lobang

    mengakibatkan translokasi.

    Yang menjadi pionir sesekali tebas kanan-kiri membuka jalan.

    Beberapa bagian jalan di sisi sungai tersembul dari dalam tanah

  • 32 Muhammad Ridwan Alimuddinpipa paralong. Ternyata penduduk di perkampungan mengambil

    air minum dari sungai ini. Ya, meski tak menggunakan mesin,

    sebab sungainya berada di ketinggian, bisa mengalir lancar ke

    rumah-rumah.

    Di dekat hulu sungai kecil, ada bak penampung air. Ukurannya

    sekitar 2x2x2 meter. Darinya keluar beberapa pipa berdiameter

    sebesar paha orang dewasa. Saat tiba di situ, yang mengantar

    kami berkata sambil menunjuk, Itu di atas goa-nya. Melihat ke

    atas, ada tumpukan batu terlindung rimbun semak.

    Mendaki naik, agak susah sebab becek apalagi ke atas saya

    meng-on-kan terus kamera video. Sekitar 10an meter dari lokasi

    bak, terdapat goa kecil. Tidak begitu dalam, hanya 2-3 meter. Di

    dalam ada beberapa tumpukan batu besar, khususnya yang ada di

    sisi lain. Batu besar tersebut dengan bagian rendahnya diantarai

    lubang. Jadi bila mau ke sana, baiknya pasang kayu sebagai tempat

    meniti. Atau kalau tidak, bisa memanjat dari sisi lainnya.

    Setelah bersusah payah memanjat, bukan karena tinggi, tapi

    karena saya membawa peralatan yang rentan pecah (kamera),

    akhirnya tiba di atas batu besar. Tulang-tulang manusia berserakan

    di atas. Kelihatan sebagai tulang manusia sebab ukurannya besar.

    Semakin ditelisik, tulangnya bisa ditebak. Ada tempurung kelapa,

    ada juga gigi dengan rahangnya. Bila ada wujud tengkorak utuh,

    mungkin suasananya menyeramkan.

    Bersama tulang-belulang, ditemukan serpihan-serpihan

    tembikar. Sepertinya tembikar itu wadah penyimpanan tulang.

    Ternyata di beberapa bagian goa ada banyak tumpukan tulang.

    Selain di atas, juga ada di bawah. Saudara Ilham sempat menggali-

    gali tempatnya berdiri, juga ada tulang. Tapi karena kami bukan

  • 33Ekspedisi Bumi Mandarpeneliti yang menfokuskan pada goa, untuk eskavasi besar-

    besaran tidak kami lakukan. Itu nantinya dilakukan arkeolog asli.

    Yang saya cari-cari di dalam goa adalah lukisan dinding.

    Biasanya begitu di goa-goa purbakala. Seperti yang terdapat di

    Maros, di Kalimantan Timur, dan Papua. Apalagi kalau ada gambar

    perahu, akan lebih menarik. Oh sepertinya itu lukisan, ucap saya

    kepada saudara Ilham. Tapi saya agak ragu juga sebab gambarnya

    tidak jelas dan tak berwarna (misalnya warna merah), hanya

    gores-goresan.

    Setelah puas mendokumentasikan, kami meninggalkan goa.

    Saya minta pak Kalvin membawa contoh-contoh tulang yang bisa

    dikirim ke Jakarta. Bila dilakukan uji karbon C14, umur tulang bisa

    diketahui dengan tepat.

    Tiba di Tallondok, kami menuju rumah pemuka masyarakat

    yang mana anaknyalah, bernama Guntur, pertama kali menemukan

    tulang belulang di dalam goa sekitar dua tahun lalu. Saat itu dia

    mencari sarang burung walet.

    Sewaktu menemukan tulang pertama kali, di sana juga

    ada patung kecil dan gelang terbuat dari perunggu. Nah benda

    itu dia simpan. Saat kami kerumahnya, benda-benda tersebut

    diperlihatkan. Betul, memang ada patung dan gelang. Bentuk

    patungnya sangat kuno, berbentuk manusia. Tapi kaki dan tangan

    tak ada lagi. Diameternya sebesar ibujari kaki. Saat melihatnya,

    saya langsung ingat bentuk patung-patung pra sejarah.

    Dalam ilmu arkeologi, penyimpanan tulang belulang di dalam tempayangtanah liat jamak terjadi pada masa awal tahap logam,

    yaitu 200 sebelum masehi sampai 1000 M. Adapun fungsi gelang

    dan patung adalah bekal si mayat di alam baka. Memang begitu

  • 34 Muhammad Ridwan Alimuddinkepercayaan nenek moyang kita dulu.

    Adanya bukti-bukti peninggalan arkeologis kembali bisa

    menjadi bukti sah, bahwa kawasan Kalumpang dan Bonehau

    adalah tempat awal berkembangnya peradaban nenek moyang kita, baik orang Mandar (Sulawesi Barat) maupun orang-orang di

    Pulau Sulawesi dan Indonesia bagian tengah. Sayangnya, masih

    banyak situs yang belum diteliti.

    Lombeng Susu dan Banua Batang

    Legenda Tokombong di Bura Tobisse di Tallang ternyata juga

    ada di Bonehau dan Kalumpang. Informasi ini diceritakan salah

    seorang tokoh masyarakat di Talondok, sesaat setelah balik dari

    goa Talondok. Menarik, sebab legenda tersebut juga menjadi

    cerita turun temurun di Mandar pesisir. Dengan kata lain, ada

    hubungan sejarah antara Kalumpang di pedalaman dengan pantai.

    Bukan hanya itu, tentang Lombeng Susu, yang juga berkaitan

    dengan cerita Tokombong di Bura Tobisse di Tallang dalam cerita

    lisan di Kalumpang, adalah orang tua yang anak-anaknya tersebar

    di seantero Mandar. Kesebelas anaknya dan tujuan mereka adalah

    Daeng Matama ke Mambi, Dettu Manang ke Aralle, Tahalima

    ke Tabang, Daeng Kamahu ke Taramanuk, Daeng Mailullung ke

    Balanipa, Taayoang ke Matangnga, Bitti Padang ke Rante Bulahan,

    Makke Daeng ke Mamuju, Tammi ke Bambang, Talabinna ke Loe,

    dan Tambuli Bassi ke Tappalang.

    Masih ada legenda lain, misalnya lima bersaudara yang berpisah

    untuk kemudian tersebar ke beberapa tempat. Mereka adalah

    Pong Lalong ke Rongkong, Pong Lewong ke Sabbang, Toketara ke Tabulahan, Talabinna ke Karataun, dan Taura-ura ke Mandar.

  • 35Ekspedisi Bumi MandarBersama bukti-bukti fisik (peninggalan arkeologi) dan bahasa,

    cerita di atas menjadi bukti sahih bahwa nenek moyang orang

    Mandar di pesisir berasal dari Kalumpang.Jadi tak salah, bila ada

    hubungan emosional antara pedalaman dengan Mandar pesisir.

    Menjelang tengah hari 14 Januari 2012, tim Ekspedisi Save

    Our Kalumpang melanjutkan perjalanan, menuju Kalumpang.

    Untuk bapak Kalvin Kalambo ikut. Saya dan Ilham dibawa ke

    kampung halamannya, yang mana di situ ada peninggalan rumah

    tua khas Kalumpang milik neneknya. Rumah adat Kalumpang

    disebut banua batang.

    Banua batang cukup menarik. Pertama dari penggunaan

    istilah, yaitu adanya kata banua. Pemahaman kita selama ini

    banua atau wanua berarti kampung atau perkampungan.

    Ternyata, di Kalumpang banua itu berarti rumah. Tesis saya, akar

    kata banua sebagai kampung adalah banua sebagai rumah.

    Alasannya, dulu rumah di Kalumpang diisi oleh puluhan

    kepala keluarga. Bisa sampai 60 kepala keluarga atau 100 jiwa di

    atas satu rumah. Artinya, rumah itu tak lain adalah kampung.

    Banua batang di Kalumpang sama dengan tradisi rumah

    panjang di Kalimantan, dalam tradisi Suku Dayak. Yaitu rumah yang

    sengaja dibuat besar agar diatasnya bisa hidup beberapa kepala

    kelaurga. Alasan ini juga bisa menjadi dasar bila ada pendapat

    yang mengatakan hubungan budaya antara Kalumpang dengan

    Dayak amat sangat dekat.

    Hal menarik lain, bila selama ini Kalumpang diidentikkan

    dengan Toraja (menjadi bagian dari budaya Toraja), berdasar

    bahasa dan arsitektur rumah, banua batang sangat berbeda

    jauh dengan rumah tongkonan Toraja.

  • 36 Muhammad Ridwan AlimuddinKhusus rumah, tak ada kemiripan. Demikian juga dengan

    rumah khas Mamasa. Yang mana, kedua tempat tersebut (Toraja

    dan Mamasa) bentuk atap rumahnya seperti perahu atau tanduk

    kerbau. Sedang di Kalumpang atapnya biasa saja, layaknya rumah-

    rumah panggung di Mandar.

    Keunikan banua batang yang lain adalah, ukurannya sangat

    besar, bisa sampai 60 meter panjang dengan lebar lima meter.

    Bagian tiang dan kayu di struktur di bawah lantai, terbuat dari

    batang-batang kayu yang masih bulat, tidak ada penggunaan pasak

    atau paku, dan desain bagian bawah rumah seperti bangunan

    tahan gempa. Agak mirip-mirip dengan rumah panggung di Nias.

    Apakah kawasan Kalumpang dulunya adalah kawasan gempa

    sehingga kakek-nenek kita mendesain rumah yang tahan gempa?

    Jika betul demikian, jika betul ada dam PLTA Karama, ada bahaya

    terpendam!

    Pembangunan banua batang cukup rumit dan memakan

    waktu lama, bisa sampai tahunan. Sebab, kayu-kayu besar harus

    didatangkan dari dalam hutan. Membawa kayu dari dalam hutan

    pekerjaan yang sangat repot, melelahkan, dan melibatkan puluhan

    orang. Inilah sebab hampir tak ada lagi banua batang dibangun

    setelah tahun 70an.

    Dalam pembuatan banua batang, juga ada aturan-aturan.

    Antara lain, ujung-ujung kayu tidak boleh saling bersentuhan

    (sidollik). Maknanya, agar penghuni rumah tidak saling

    menularkan penyakit. Persentuhan itu juga dianggap menghalangi

    pertumbuhan.

    Banua batang dibangun berorientasi ke gunung. Bila ada

    gunung besar di selatan, maka orientasi bangunannya melintang

  • 37Ekspedisi Bumi Mandarutara-selatan. Yang cukup menarik, di banua batang juga

    ada possiq atau tiang agung. Yang letaknya persis di tengah.

    Perbedaan possiq dengan tiang lain, possiq ukurannya pendek,

    tidak menembus naik ke atas. Namun yang perlu saya tekankan

    di sini adalah, kepercayaan possiq juga ada di Mandar pesisir.

    Artinya, sekali lagi, ada hubungan kebudayaan yang erat antara

    pedalaman dan pesisir.

    Dulu, sewaktu masih sekampung tinggal di dalam banua

    batang, setiap KK mempunyai kamar dan dapur sendiri. Tapi

    ada juga bangunan umum, seperti ruangan di depan tangga yang

    disebut babana. Babana memisahkan kamar pada satu bagian

    sisi dengan kamar di sisi yang lain.

    Dalam setiap rumah juga menyiapkan tempat tidur bagi para

    tamu. Para tamu yang berkeluarga ditempatkan pada tando-

    tando. Rata-rata banua batang memiliki 1-3 tando-tando.

    Sedang tamu yang masih bujang, ditempatkan di babana.

    Saat ini di Kalumpang dan Bonehau, sepertinya jumlah banua

    batang bisa dihitung dengan jari alias jarang ditemukan apalagi

    yang bagian-bagiannya lengkap. Beberapa rumah yang sempat

    disinggahi tim ekspedisi hanya bisa memperlihatkan keaslian

    struktur bagian bawah atau tiangnya. Sedang bagian tengah,

    sudah menggunakan struktur modern.

    Tenun Ikat Sekomandi

    Selesai menjelaskan bagian-bagian banua batang, R. E.

    Sipayo, seorang Tobara di Kalumpang, dengan rasa antusias yang

    terus membara, menjelaskan kapada tim Ekspedisi Save Our

  • 38 Muhammad Ridwan AlimuddinKalumpang salah satu keterampilan khas Kalumpang. Tenun ikat.

    Pemahaman selama ini, penyebutan nama sarung ikat dari

    Kalumpang disebut sekomandi, sebagaimana menyebut lipaq

    saqbe untuk tenunan sutra dari Mandar. Ternyata, sekomandi

    itu hanya salah satu jenis sarung ikat di Kalumpang. Adapun jenis

    yang lain adalah rundun lolo dan marilotong.

    Sekarang di rumah saya ada sekomandi dan rundun lolo,

    marilotong sudah saya pesan ke penenun. Nanti kita ke sana lihat

    cara membuatnya, ungkap R. E. Sipayo sambil masuk kamar

    mengambil koleksi tenun ikatnya. Kainnya kelihatan tua, warna

    buram.

    Penamaan tenun ikat berdasar pada coraknya. Marilotong

    itu berwarna hitam dan polos. Sedang sekomandi dan rundun

    lolo ada motifnya. Yang membedakan, rundun lolo motif atau

    coraknya garis panjang. Memang sekilas mirip, tapi rundun lolo

    lebih dominan garis-garis panjangnya.

    Setelah mendokumentasikan koleksi tenun ikat Kalumpang,

    tim ekspedisi diajak R. E. Sipayo ke penenun. Kami berjalan sekitar

    100 meter, melalui lapangan Kalumpang. Dari jauh, tampak

    seorang wanita muda menghadap ke dinding, mengikat-ikat

    bentangan lilitan benang.

    Oh, ternyata itu alasannya mengapa disebut tenun ikat,

    guman saya dalam hati. Mengikat kumpulan benang adalah salah

    satu teknik sebelum mewarnai benang yang akan ditenun.

    Prosedur lengkap pembuatannya sebagai berikut. Dalam

    pembuatan tenunikat digunakan beberapa alat, yaitu apiq atau

    alat pengikat pinggang penenun (topaq tannun); talekoq atau

  • 39Ekspedisi Bumi Mandaralat menahan benang yang berada di belakang penenun; balo

    atau alat menahan benang yang dipasang di perut penenun;

    tittiq atau alat mengangkat/mengatur benang yang digerakkan

    secara bergantian dengan baloq; balido atau alat untuk

    merapatkan benang; dan kalimuran atau laso katadan atau

    alat untuk menahan benang pada saat diikat agar motif tertata

    rapi dan menjadi tempat mengukir motif.

    Tahapan pembuatan terbagi atas tiga, yakni pemintalan,

    pewarnaan benang, dan penenunan. Proses tersebut bisa

    memakan waktu enam sampai dua belas bulan. Itulah alasan, saat

    ini, sarung ikat Kalumpang amat mahal harganya.

    Dulu, sarung ikat menggunakan kapas yang ditanam sendiri

    oleh masyarakat Kalumpang. Tapi sekarang, benang didatangkan

    dari luar. Sewaktu masih menggunakan kapas produk sendiri, untuk

    pengolahannya sebagai berikut. Kapas dijemur sampai kering lalu

    dibuat menjadi benang dengan menggunakan unuran. Benang

    yang dihasilkan kemudian digulung ke balekoan.

    Berikutnya adalah tahap pewarnaan. Tahap pertama adalah

    pemberian bahan perekat warna. Bahannya berupa campuran

    cabe (marisa atau pendawa), kemiri, lengkuas, dan kaju

    pallin. Bahan-bahan tersebut ditumbuk sampai halus lalu

    dimasak.

    Di wadah lain, dibuat rendaman abu yang terbuat dari kayu bakkudu. Air rendaman abu, hanya diambil bagian atas yang

    agak jernih setelah terjadi pengendapan. Air rendaman dan bahan

    campuran perekat warna selanjutnya dipoles ke benang sampai

    meresap. Setelah itu, dijemur selama 30 hari terus menerus agar

    warna yang diberi kuat dan tidak luntur.

  • 40 Muhammad Ridwan AlimuddinBenang yang sudah diberi warna dasar, yang terlihat

    kekuning-kuningan, dimasukkan ke dalam kalimuran. Bentuknya

    segiempat, kira-kira panjangnya hampir dua meter dan lebar

    sekitar 60cm. Benang direntang. Nah, rentangan benang diikat per

    kelompok, kira-kira terdiri dari 10 helai benang. Susunan benang

    yang diikat itulah yang akan membentuk motif atau corak kain.

    Dulu, digunakan kulit batang pisang (kuli puttiq)tapi saat ini

    digunakan tali rafiah. Alasannya, lebih praktis. Kalau kulit batang

    pisang, harus diolah. Itu memakan waktu lama.

    Pada pengikatan pertama, warna yang diberikan adalah warna dasar yaitu merah (bakkudu, sebab bahannya akar pohon

    mengkudu) dan biru (tarun, digunakan daun tarun). Daun tarun

    juga digunakan orang Kajang, Bulukumba dalam membuat sarung.

    Bahasa Inggris warna yang dihasilkan tarun adalah indigo.

    Warna tidak diberikan langsung ke benang yang berada di

    kalimuran, melainkan direbus. Bahan, seperti bakkudu diiris

    tipis dulu kemudian ditumbuk halus. Direbus bersama benang

    sekiatar 12 jam.

    Setelah proses tersebut, kembali diulang proses memasang

    benang ke kalimuran untuk kembali diukir (baca: diikat) dengan

    tali rafiah.Fungsi ikatan adalah untuk menutupi (melindungi) warna

    merah yang tercipta berkat direbus bersama bakkudu.Adapun

    yang tidak diikat, akan berubah warnanya bila direbus dengan bahan

    lain, misalnya tarun untuk warna biru. Jadi, disitulah tercipta

    motif-motifnya. Makin unik motifnya, makin rumit ikatannya.

    Yang menarik, untuk membuat motif, tidak digunak sketsa atau

    menggambarkan ke benang yang ada di kalimuran. Tetapi berada

    di imajinasi penenun. Ada banyak motif di kain Kalumpang, seperti

  • 41Ekspedisi Bumi Mandarmotif ulu karua kaselle, ulu karua barinni, toboalang, rundung

    lolo, leleq sepu, dan lain-lain. Motif tersebut memiliki makna.

    Misalnya motif ulu karua kasella bermakna bahwa di

    Kalumpang terdapat delapan dewan adat sebagai pilar, yaitu

    Tobarak Pondan, Tobarak Timba, Tobarak Lolo, Topakkalo, Tomaq

    Dewata, Totumado, dan Tomakaka.

    Berikutnya adalah tahap terakhir, yaitu penenunan. Benang

    yang telah direbus bersama bahan pewarna dibuka tali pengikatnya.

    Agar susunan benang tidak rusak (susunan warna tidak bergeser),

    benang diangkat satu per satu dengan hati-hati untuk selanjutnya

    dipasang ke alat tenun. Sebelumnya, benang terlebih dahulu diitto

    yaitu menganyam dengan menggunakan lidi.

    Dulu, selain digunakan sendiri (hanya dipakai dalam upacara

    atau pakaian adat, tikar untuk tamu terhormat), tenun ikat

    dijadikan sebagai alat penukaran (barter) dengan kerbau atau

    babi. Sebab memang tenun ikat amat mahal harganya.

    Saat ini pengerajin tenun ikat sangat sedikit. Di Desa

    Kalumpang saja, menurut R. E. Sipayo mungkin hanya dua orang

    saja. Selain di Desa Kalumpang, juga ada di Malolo dan Kampung

    Batuisi. Gabungan atas keduanya kira-kira ada 30 pengerajin.

    Ironis memang, padahal motif tenun ikat dari Kalumpang dikenal

    sebagai salah satu motif tertua di dunia.

    Katinting Super Penguasa Sungai Karama

    Satu dekade saya mempelajari kebudayaan maritim nusantara,

    yang mana salah satunya tentang perahu, di Kalumpang-lah

    saya pertama kali melihat perahu kecil yang menggunakan lima

  • 42 Muhammad Ridwan Alimuddinmesin sekaligus. Itulah katinting, si penguasa Sungai Karama.Bila

    di tempat lain katintingnya biasa-biasa saja, di Sungai Karama,

    katintingnya super.

    Sejatinya, pengaruh kebudayaan bahari di Kalumpang telah

    ada ribuan tahun lalu, seiring datangnya migrasi orang Austronesia

    di muara Sungai Karama (Sampaga). Teknologi pelayaran (perahu)

    mereka gunakan masuk ke pedalaman, hingga ke hulu Sungai

    Karama. Teknologinya amat sederhana, hanya berupa batang kayu

    yang dikeruk tengahnya dan atau rakit bambu.

    Teknologi demikian terus bertahan sampai saat ini. Sampan

    tak mengalami perubahan bentuk. Palingan teknik pembuatan,

    yang mungkin dulunya dikeruk dengan menggunakan kulit kerang atau batu untuk kemudian besi. Dulunya perkakas mereka masih

    sangat kasar, seiring pengaruh dari luar, benda-benda tajam yang

    lebih keras digunakan. Seperti parang, kapak dan ketam.

    Hingga kemudian pada tahun 70-an, mesin mulai

    diperkenalkan. Perlahan, perahu yang menggunakan mesin mulai

    menggantikan sampan kecil. Saat ini sampan kecil digunakan

    untuk menyebrang saja. Bila ada yang menggunakan melakukan

    perjalanan dari Kalumpang ke Tarailu atau sebaliknya, mungkin

    dianggap gila saat ini.

    Penggunaan mesin mengakibatkan waktu tiba ke kawasan

    hulu menjadi lebih singkat dengan kapasitas bawaan lebih banyak.

    Dulu, saat masih sampan, perjalanan dari Sampaga ke Kalumpang

    bisa memakan waktu satu minggu. Saat mesin digunakan, satu-

    dua hari saja. Bila mesinnya banyak, bisa sehari saja.

    Perahu yang dipakaikan mesin disebut katinting. Kentara

    jenis perahu tersebut introduksi dari luar, sebab istilah katinting

  • 43Ekspedisi Bumi Mandaradalah istilah Bugis. Yang mana istilah terserbut muncul ketika

    perahu mulai menggunakan mesin.

    Secara umum, kantinting adalah perahu kecil, bercadik dan

    menggunakan mesin. Bentuk perahu katinting di Sungai Karama

    dan sungai-sungai sekitarnya amat sederhana. Terdiri dari

    balakang (kayu utuh yang dikeruk) untuk kemudian ditambahi

    papan tobo, biasanya satu atau dua.

    Panjang katinting berkisar enam sampai delapan meter. Di

    kiri kanan ada palatto. Istilahnya sama dengan Mandar pesisir,

    seperti baratang untuk cadik, palatto untuk katir, dan tadiq

    untuk kayu berbentuk huruf L yang menghubungkan cadik

    dengan katir. Dilihat dari teknik mengikat cadik,paling tidak ada

    dua dugaan: pengaruh dari pelaut Mandar atau memang demikian

    teknik ikat dulu (amat kuno) yang dibawa oleh orang Austronesia.

    Teknik mengikat cadik di perahu Mandar amat khas. Sejauh

    pengamatan saya di beberapa tempat di Nusantara, tak ada yang

    menggunakan teknik demikian selain pelaut Mandar (belakangan

    saya lihat juga di perahu orang Kalumpang). Lilitan talinya saling-

    silang dan posisi tadiq yang saling berhadapan.

    Keunikan perahu atau katinting di Kalumpang adalah jumlah

    mesin yang digunakan. Bila di pesisir Mandar paling banter satu

    (saya tidak pernah lihat menggunakan dua unit mesin), maka di

    Sungai Kalumpang minimal menggunakan tiga, rata-rata empat,

    beberapa lima.Itu merupakan proses adaptasi agar bisa melawan

    arus Sungai Karama yang deras.

    Mesin dipasang persis di atas baratang yang menembus

    bagian atas lambung perahu, kiri-kanan; baik baratang depan

    maupun belakang. Bila menggunakan lima mesin, dipasang di

  • 44 Muhammad Ridwan Alimuddintengah, di sisi kanan. Di situ dibuatkan tempat agar tak berada di

    tengah lambung perahu.

    Agar semburan air dari baling-baling tidak mengenai

    penumpang perahu, di bagian atas baling-baling dipasangi karung

    karoroq. Fungsinya mirip pelindung di atas ban motor atau

    sepeda, agar lumpur yang dilemparkan roda tidak mengotori.

    Sebab ukuran katinting kecil, otomatis suara mesin

    memekakkan telinga. Tidak seperti mesin kapal kayu, yang berada

    di bagian bawah lantai. Kalau katinting, bisa persis di samping,

    depan, belakang penumpang. Entah berapa desibel keras suara

    yang dihasilkan. Telinga saya sampai ngiiiiiing dalam waktu

    lama sewaktu menyelesaikan perjalanan dari Kalumpang ke

    Karama. Hampir tiga jam saya duduk berdampingan mesin yang

    kerasnya melebihi keras musik cadas. Saat perjalanan, tangan saya

    tempelken ke telinga. Khawatir gendang telinga rusak.

    Keunikan lain di katinting Sungai Karama adalah kemudi

    (guling) yang pendek. Katinting di pesisir (laut) ukuran terpendek

    lebih semeter. Pada sandeq, bisa sampai 2,5 meter. Tapi pada

    katinting Sungai Karama, panjangnya tak sampai semeter. Ya,

    wajar pendek. Sebab bila panjang, bisa dipastikan terkait ke dasar

    sungai. Dasarnya bukan pasir, tapi batu cadas. Sekali terantuk

    keras, pasti patah.

    Memang pelaut-pelaut Mandar, khususnya passandeq, jago

    mengemudikan sandeq. Tapi motoris (ini istilah saudara M.

    Ilham untuk menyebut pengemudi katinting) punya keahlian dan

    keberanian yang berbeda. Sebagian besar alur yang dilalui ada

    bahayanya, mulai dari batu besar, dasar sungai yang dangkal, alur

    sempit, golakan air, air deras, hingga perputaran arus. Adapun di

  • 45Ekspedisi Bumi Mandarlaut, bahaya sesekali saja ada. Malah biasa tidak ada.

    Di laut salah satu bahaya yang paling ditakuti pelaut adalah

    kala-kala, yaitu air yang bergolak sebab ada pertemuan arus. Tapi

    di Sungai Karama, hampir tia seratusan meter ada kala-kalanya.

    Dan itu bisa dilalui dengan lembut oleh para pengemudi katinting.

    Pengemudi katinting minimal dua orang. Nakhoda duduk di

    buritan, mengendalikan kemudi. Dia mengontrol mesin yang ada

    di bagian belakang. Sedang pembantunya mesin bagian tengah

    atau depan. Pembantu juga mengawasi haluan perahu. Memberi

    peringatan bila ada bahaya di depan. Salah satu tugas pembantu

    adalah menaik-turunkan gas mesin. Bila arus deras, gas dinaikkan,

    bila tidak gas diturunkan.

    Sewaktu dalam perjalanan dari Kalumpang ke Karama,

    yang jaraknya sekitar 25km dengan menggunakan lima mesin

    berkekuatan 11 PK, kecepatan katinting rata-rata 20 km/jam

    (kadang 16 km/jam, kadang 25 km/jam, tergantung deras arus

    yang dilalui) waktu tempuhnya sekitar tiga jam.

    Katinting adalah sarana transportasi utama di Sungai Karama,

    khususnya di bagian hulu (antara Desa Kalumpang dan Desa

    Karama). Untuk membawa komoditas hasil perkebunan, misalnya

    coklat dan kopi, atau bahan-bahan bangunan serta transportasi

    manusia, katinting amat berperan. Memang ada motor (ojek), tapi

    hanya bisa membawa satu orang atau barang yang terbatas.

    Menggunakan katinting siap-siap merogoh kantong dalam-

    dalam. Perjalanan dari Desa Kalumpang ke Karama bayarannya

    lebih 100 ribu per orang. Padahal jaraknya cuma 25 km. Bila

    menggunakan pete-pete, misalnya dari Majene ke Campalagian,

    bayarannya paling 7 ribu. Sewaktu saya dan pak Kalvin Kalambo

  • 46 Muhammad Ridwan Alimuddinmencarter katinting dari Kalumpang hingga ke Tarailu, bayarannya

    Rp 800.000. Itu untuk turun, bila naik (dari Tarailu ke Kalumpang)

    bisa dua kali lipat.

    Penyebab mahal, pertama adalah harga bahan bakar. Bensin

    1 botol di Kalumpang Rp 15.000. Makin ke arah hulu makin mahal.

    Kedua, bila melawan arus, jelas lebih banyak bahan bakar yang

    digunakan. Beda bila menurun, dua mesin cukup. Kalau naik,

    setidaknya empat mesin.

    Ya, begitulah cerita tenta