Eksistensi Pengadilan Niaga-Editan Baru

download Eksistensi Pengadilan Niaga-Editan Baru

If you can't read please download the document

  • date post

    03-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    969
  • download

    34

Embed Size (px)

Transcript of Eksistensi Pengadilan Niaga-Editan Baru

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH Reformasi Undang-Undang Kepailitan Indonesia yang terjadi pada tahun 1998 merupakan suatu keputusan bersifat darurat (emergency) yang harus dilakukan oleh Pemerintah, sebagai upaya untuk mengembalikan kepercayaan para pelaku pasar, baik nasional maupun internasional, dalam upaya penyelesaian sengketa utang-piutang yang meningkat pesat sebagai akibat dari krisis ekonomi yang melanda Indonesia ketika itu. Peraturan Kepailitan peninggalan Belanda, yakni Failisement Verordering Stb. 1905:207 juncto Stb. 1906:348, yang telah lama dijadikan acuan, dinyatakan tidak lagi mampu mengikuti perkembangan yang ada, sehingga tidak layak lagi digunakan sebagai perangkat hukum yang mampu menyelesaikan konflik utang-piutang tersebut secara adil, cepat, terbuka, dan efektif. Beberapa perubahan penting yang dilakukan dalam upaya mewujudkan kehadiran Undang-Undang Kepailitan yang adil, cepat, terbuka, dan efektif tersebut, antara lain dengan cara: 1. Melakukan perubahan terhadap persyaratan untuk dapat dipailitkannya seorang debitor; dari keharusan untuk lebih dulu membuktikan bahwa seorang debitor telah dalam keadaan berhenti membayar utang-utangnya (insolvency test) seperti yang diatur dalam pasal 1 ayat 1 Failisement Verordering 1905, berubah menjadi keharusan untuk hanya membuktikan bahwa seorang debitor telah tidak melunasi paling sedikit satu utang yang telah jatuh tempo (due date and payable debt) dan memiliki minimum dua kreditor. 1

2. Melakukan perubahan tentang penggunaan waktu dalam memeriksa dan memutuskan permohonan pailit, dari ketentuan beracara yang sebelumnya diatur dalam hukum acara perdata HIR (Het Herziene Indonesisch Reglement Staatblaad 1926:559 juncto Staatsblad 1941:44) yang pada umumnya membutuhkan waktu 5 (lima) sampai dengan 7 (tujuh) tahun hingga pada putusan Peninjauan Kembali (PK), berubah secara drastis melalui hukum acara yang juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 menjadi sekitar 225 hari sampai pada putusan PK oleh Mahkamah Agung. 3. Mendirikan sebuah Pengadilan Khusus untuk memeriksa dan memutuskan permohonan pailit dan permohonan PKPU, yang disebut dengan Pengadilan Niaga, walaupun pengadilan tersebut masih tetap berada dalam wilayah Peradilan Umum yang letaknya masih dalam Pengadilan Negeri. Pengadilan Niaga tersebut dijalankan oleh Hakim-Hakim Niaga yang (secara teori seharusnya) merupakan hakim-hakim yang terpilih karena berkemampuan dan bereputasi baik, yang mempunyai kewenangan khusus dalam memeriksa dan memutuskan permohonan pailit dan PKPU. 4. Memperkenalkan Profesi Kurator dan Pengurus dari kalangan Profesional Swasta, dimana berdasarkan Failisement Verordening 1906 kewenangannya untuk melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit sebelumnya dilakukan oleh Balai Harta Peninggalan (BHP). Tetapi dari beberapa perubahan penting tersebut diatas, terlihat meskipun telah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 sebagai penyempurna Failisement Verordering, dapat dikatakan masih banyak terdapat berbagai macam kontroversi yang muncul, misalnya mengenai saat jatuh tempo dari suatu hutang, mengenai penilaian kreditur kedua, mengenai keberadaan klausula arbitrase dalam perjanjian pokok yang menjadi dasar timbulnya utang yang telah jatuh tempo, dan hal prinsip lain yang belum memberikan titik temu terbaik.

2

Undang-Undang Kepailitan hasil revisi tersebut belum membedakan subyek hukum dalam kepailitan (debitur pailit) dengan segala akibat hukumnya secara riil. Peraturan perundangan tersebut belum mengatur mengenai kelanjutan atau eksistensi dari suatu subyek hukum yang dinyatakan pailit dengan konkret dan tegas, sehingga masih terbuka kemungkinan untuk diselewengkan dalam prakteknya di lapangan. Untuk itu, belakangan pihak legislatif mengusulkan dibentuknya aturan legislasi mengenai Pengadilan Niaga, terpisah dari Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), guna memberikan legitimasi badan peradilan dan menjamin asas kepastian hukum.

B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka dapat diambil beberapa rumusan masalah, diantaranya yaitu : 1. Bagaimana Tugas dan Wewenang Pengadilan Niaga setelah

diundangkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 jo. UndangUndang Nomor 37 Tahun 2004? 2. Bagaimana Eksistensi Pengadilan Niaga ditinjau dari cara penyelesaian perkara, perspektif kuantitatif perkara yang ditangani, perspektif

kelembagaan, dan kewenangan Kurator dalam melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit?

3

BAB II PEMBAHASAN A. TINJAUAN KEWENANGAN PENGADILAN NIAGA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 4 TAHUN 1998 Jo. UNDANG-UNDANG NOMOR 37 TAHUN 2004 Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 menambah satu bab baru yaitu Bab Ketiga mengenai Pengadilan Niaga. Pembentukan peradilan khusus ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah kepailitan secara cepat dan efektif. Pengadilan Niaga merupakan diferensiasi atas peradilan umum yang dimungkinkan pembentukanya berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 1970 Jo. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Jo. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 yang merupakan pembaharuan dari Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998, tidak mengatur Pengadilan Niaga pada bab tersendiri, akan tetapi masuk pada Bab V tentang Ketentuan Lainlain mulai dari Pasal 299 sampai dengan Pasal 303. Demikian juga dalam penyebutannya pada setiap pasal cukup dengan menyebutkan kata

Pengadilan tanpa ada kata Niaga karena merujuk pada Bab I tentang Ketentuan Umum, Pasal 1 angka 7 bahwa Pengadilan adalah Pengadilan Niaga dalam Lingkungan peradilan umum. Mengenai tugas dan wewenang Pengadilan Niaga ini pada UndangUndang Nomor 4 Tahun 1998 diatur dalam Pasal 280, sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 diatur pada Pasal 300. Pengadilan Niaga merupakan lembaga peradilan yang berada di bawah lingkungan Peradilan Umum yang mempunyai tugas sebagai berikut: 1) Memeriksa dan memutuskan permohonan pernyataan pailit; 2) Memeriksa dan memutus permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang; 3) Memeriksa perkara lain di bidang perniagaan yang penetapannya ditetapkan dengan undang-undang, misalnya sengketa di bidang HaKI. 4

Sementara itu, dalam Pasal 303 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 menentukan bahwa Pengadilan Niaga tetap berwenang memeriksa dan menyelesaikan permohonan pernyataan pailit dari pihak yang terikat perjanjian yang memuat klausula arbitrase sepanjang utang yang menjadi dasar permohonan pernyataan pailit telah memenuhi ketentuan dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU tentang syaratsyarat kepailitan. Oleh karena itu, Pengadilan Niaga memiliki yurisdiksi substansif eksklusif yang dapat mengesampingkan kewenangan absolut dari arbitrase sebagai pelaksanaan prinsip pacta sunt servanda yang digariskan dalam Pasal 1338 KUHPerdata yang telah memberikan pengakuan extra judicial atas klausula arbitrase untuk menyelesaikan sengketa para pihak sebagaimana yang telah diperjanjikan. Dalam hal ini juga berlaku asas lex posteori yaitu Pasal 303 UndangUndang Nomor 37 Tahun 2004 terhadap Pasal 11 Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 sebagai lex priori. Terdapatnya karakteristik tersendiri dalam perkara kepailitan antara lain dari sisi kewenangan absolut dan relatif Pengadilan Niaga yang berwenang memeriksa dan memutus perkara pailit, hukum acara yang digunakan, dan syarat adanya utang yang dapat ditagih serta eksistensi adanya 2 kreditor atau lebih. Sehingga jelaslah bahwa sengketa utang piutang yang dapat diselesaikan melalui forum arbitrase sangat berbeda dengan perkara utang piutang yang penyelesaiannya melalui permohonan pailit di Pengadilan Niaga. Kompetensi relatif yang dimiliki oleh Pengadilan Niaga adalah berdasarkan pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 dimana putusan atas permohonan pernyataan pailit dan hal -hal lain yang berkaitan dan/atau diatur dalam Undang-undang ini, diputuskan oleh Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi daerah tempat kedudukan hukum debitor. Artinya dari lima Pengadilan Niaga sampai saat ini maka hanya Pengadilan Niaga pada wilayah hukumnya masing-masing yang berwenang memeriksa dan memutus perkara. Sedangkan pengecualian terhadap kompetensi relatif 5

tersebut terdapat dalam pasal 3 ayat (2) sampai (5) Undang-Undang No. 37 Tahun 2004. Kemudian kompetensi absolut yang berkaitan dengan masalah

kewenangan mengadili antara berbagai macam pengadilan, maka pengaturan tentang kompetensi absolut Pengadilan Niaga adalah pada pasal 300 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 dimana Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini, selain memeriksa dan memutus permohonan pernyataan pailit dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, berwenang pula memeriksa dan memutus perkara lain di bidang perniagaan yang penetapannya dilakukan dengan undang -undang. Hukum acara yang berlaku dan diterapkan pula di Pengadilan Niaga adalah Hukum Acara Perdata kecuali ditentukan lain dengan undang-undang. Dari ketentuan hukum acara yang berlaku tersebut terlihat bahwa pengakuan atas keberadaan dan eksistensi Pengadilan Niaga dalam U ndang-Undang No. 37 Tahun 2004 belum bersifat integratif dan koordinatif karena dalam pemeriksaan perkara kepailitan masih menggunakan ketentuan Herziene Indonesisch Reglement/Rechstsreglement Buitengewesten (HIR/Rbg). Permohonan pailit menurut pasal 8 ayat (4) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 yaitu permohonan penyataan pailit harus dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana bahwa persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1). Pembuktian secara sederhana ini maksudnya adalah bahwa dalam sidang pengadilan tidak lagi dibuktikan apakah debitor mempunyai utang atau tidak karena pada dasarnya kedua belah pihak telah mengakui adanya utang piutang. Oleh karena itu yang dipermasalahkan dal