Eklampsia Pada Gemeli

download Eklampsia Pada Gemeli

of 21

  • date post

    18-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    159
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Eklampsia Pada Gemeli

PENYAJIAN KASUS

IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Agama Suku Pekerjaan Status Alamat Tanggal masuk Waktu Masuk : Ny. M : 22 th : Perempuan : Islam : Madura : Ibu rumah tangga : kawin : Parit Gado : 5 Maret 2010 : 23.00 WIB

ANAMNESIS Keluhan utama ari-ari dan bayi kedua belum lahir Riwayat Penyakit Sekarang Pasien hamil kembar, telah melahirkan bayi pertama pukul 19.00 dengan dukun. Pasien datang ke RS karena ari-ari belum lahir, dan bayi kedua belum lahir. Tali pusat tampak pada jalan lahir pasien, kemaluan terlihat bengkak, serta keluar darah dari jalan lahir. Pasien merasa masih ada gerakan di dalam perutnya, namun pasien tidak merasa mules, sehingga pasien ke RSDS. Kaki pasien bengkak sejak usia kehamilan 9 bulan. Penderita tidak mengeluhkan pusing, mual/ muntah (-), nyeri epigastrium (-), pandangan kabur (-) Riwayat obstetri Kehamilan ke 1, gemeli, bayi pertama telah lahir dengan dukun pukul 19.00 HPHT tanggal 20 Mei 2009

1

Taksiran Persalinan tanggal 27 Februari 2009 Usia kehamilan 41 minggu Total periksa kehamilan : 1x pada bidan

Pemeriksaan fisik (6 Maret 2010 pukul 23.30) Status generalis Berat Badan Tinggi Badan Keadaan Umum Kesadaran Gizi Tekanan Darah Nadi RR Temperatur Mata THT Leher Jantung Paru Status lokalis Pemeriksaan luar TFU DJJ His TBJJ : : 24 cm (4 jari bawah procesus xifoideus) : 146x/menit : 3x/10 menit, lamanya 30 detik : 2015 gram : 70 kg : 155 cm : tampak lemah : Compos mentis : baik : 150/120 : 81 x/menit : 21 x/menit : 38,1 derajat Celcius : konjungtiva anemis (-), ikterik (-) : tidak tampak kelainan : tidak tampak kelainan : tidak tampak kelainan : tidak tampak kelainan

2

Pemeriksaan dalam Portio Pembukaan Penurunan Ketuban Terbawah Pemeriksaan Laboratorium Hb : 11,4 g% Leukosit : 11.000/mm3 Trombosit : 234.000/mm3 Hematokrit : 36,8 Urin : Protein (+++)

: : lunak : 7 cm : H II : (+) : Kepala dan tangan

Diagnosis (6 Maret 2010 pukul 23.30) Preeklampsia berat pada primigravida hamil posterm dengan gemeli retensi janin kedua, dalam persalinan kala 1 fase aktif Planning : Pemberian MgSO4 40 % 4gr bolus Pemberian drip MgSO4 6 gr dalam RL 500 ml, 20 tetes per menit Pemberian Oksigen 4 L / menit Rencana persalinan pervaginam dengan vakum ekstraksi

Jam 00.10 Subjektif :

Pasien kejang, dimulai dari wajah, menjalar ke tangan dan kaki, kemudian kejang seluruh tubuh

Objektif

:

TD: 150/110 mmHg, N: 92 x/menit, RR: 20 x/menit

3

Assesment

:

Eklampsia pada primigravida hamil posterm dengan gemeli retensi janin kedua, dalam persalinan kala 1 fase aktif

Planning

:

Bebaskan jalan napas Oksigen 4-6 liter/menit Fiksasi pasien Injeksi MGSO4 40 % 2 gr dalam 10 menit

Laporan partus ( 7 Maret 2010 pukul 00:30 ) Subjektif : Ibu merasa mules, ingin mengedan

Objektif : TD: 140/100 mmHg, N: 88 x/menit, RR: 19 x/menit his 4 kali dalam 10 menit, >40 detik DJJ 168x/menit, teratur Pemeriksaan dalam : Pembukaan terbawah kepala dan tangan Assesment : Eklampsia pada primigravida hamil posterm dengan gemeli retensi janin kedua, dalam persalinan kala II Planning : Reposisi tangan janin, persalinan pervaginam dengan vakum ekstraksi a/i eklampsia Ibu ingin mengedan, posisi litotomi Vulva dibersihkan dengan betadin Dilakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan kepala janin dan posisinya Mangkok vakum dimasukkan ke dalam vagina lengkap, Penurunan H III, Ketuban (-),

4

Mangkok dipasang pada kepala janin dengan titik tengah mangkok pada sutura sagitalis 1 cm anterior dari ubun ubun kecil Dengan satu atau dua jari diperiksa di sekitar mangkok apakah ada jaringan serviks atau vagina terjepit, bila ada lepaskan. Pompa hingga tekanan skala 10 (silastik) atau negatif 0,2 kg /cm2 dan periksa aplikasi mangkok Setelah 2 menit naikkan hingga skala 60 (silastik) atau negatif 0,6 kg / cm2 periksa aplikasi mangkok, tunggu 2 menit lagi Setelah mencapai tekanan negatif yang maksimal, lakukan traksi searah dengan sumbu panggul dan tegak lurus pada mangkok Tarikan definitif dilakukan apabila sudah dicapai tekanan 0,6 atau 0,7 kg per cm persegi Arah tarikan sesuai dengan turunnya kepala dan tegak lurus dengan mangkok Pada saat penarikan minta pasien meneran. Posisi tangan : tangan luar menarik pengait, ibu jari tangan dalam pada mangkok, telunjuk dan jari tengah pada kulit kepala bayi.

Tarikan bisa diulangi sampai 3 kali Saat suboksiput sudah berada di bawah simfisis, arahkan tarikan ke atas hingga lahirlah berturut-turut dahi, muka, dagu. Segera lepaskan mangkok vakum dengan membuka tekanan negatif

Mangkok dilepas dari kepala janin. Dilakukan traksi ke bawah, sehingga bahu anterior dapat dilahirkan Dilakukan penarikan kepala bayi ke atas untuk melahirkan bahu posterior Bahu posterior dilahirkan Dilakukan sangga susur

Jam 00.40 Bayi lahir, laki-laki, BB 2000 gr, PB= 43 cm Apgar Score 2/3 Diberikan drip oksitosin 10 iu Disuntikkan oksitosin 10 IU per IM Diberikan methergin bolus IV Dilakukan penarikan tali pusat terpimpin Plasenta belum lahir, perdarahan dalam jumlah banyak5

Dilakukan manual plasenta : Monoplasenta, biamnion, ke dua tali pusat terletak di bagian tengah plasenta, kembar monozigot/dizigot Perineum ruptur 2 cm jahit jelujur Terapi oral o Amoxicillin 3x500mg, 3 hari o Asam Mefenamat 3x500mg, 3 hari o B Komplex 3x1 tab, 3 hari

Follow up tanggal 7 maret 2010 pukul 06.00 Subjektif : pusing (-), perdarahan sedikit, mules (+)

Objektif : KU baik, CM TD130/90 mmHg, N84x/menit, RR16x/menit, T36,8oC TFU : setinggi umbilikus Kontraksi uterus : baik Luka jahitan : baik

Assesment Post partum spontan dengan vakum ekstraksi a/i eklampsia pada primigravida dengan gemeli hari ke-1 Planning : Amoxicillin 3x500mg, 3 hari Asam Mefenamat 3x500mg, 3 hari B Komplex 3x1 tab, 3 hari

6

Follow up 8 Maret 2010, pukul 06.00 Subjektif : mules (+), perdarahan sedikit, pusing (-)

Objektif : KU baik, komposmentis TD130/90 mmHg, N88x/menit, RR18x/menit, T37oC TFU 2 jari dibawah umbilikus Kontraksi baik Luka jahitan baik

Assesment : Post partus spontan dengan vakum ekstraksi a/I eklampsia pada primigravida dengan gemeli hari ke-2 Planning: Amoxicillin 3x500mg, 3 hari Asam Mefenamat 3x500mg, 3 hari B Komplex 3x1 tab, 3 hari

TINJAUAN PUSTAKA I. KEHAMILAN KEMBAR Kehamilan kembar ialah kehamilan dengan dua janin atau lebih.1 b. Frekuensi Insiden kehamilan multipel di Amerika Serikat sebesar 3 % dari semua kehamilan.2 Greulich (1930) melaporkan frekuensi kehamilan kembar pada 121 juta persalinan sebagai berikut : Gemeli 1: 85, triplet 1 : 7.629, kuadruplet 1 : 670.743. Prawirohardjo (1948) mengumumkan di antara 16.288 persalinan terdapat 197 persalinan gemeli dan 6 persalinan triplet. Frekuensi kehamilan

a. Definisi

7

kembar meningkat dengan paritas ibu. Dari angka 9,8 per 1000 persalinan untuk primipara sampai 18,9 per 1000 untuk oktipara.1 c. Etiologi Bangsa, hereditas, umur, dan paritas hanya mempunyai pengaruh terhadap kehamilan kembar yang berasal dari 2 telur.1 Umur ibu yang meningkat dan multiparitas meningkatkan insiden kehamilan kembar.3 Sedangkan pada kembar yang berasal dari satu telur, dipengaruhi oleh faktor penghambat pada masa pertumbuhan dini hasil konsepsi. Faktor penghambat mempengaruhi segmentasi sebelum blastula terbentuk, meghasilkan kehamilan kembar dengan 2 amnion, 2 korion, dan 2 plasenta. 1 d. Jenis 1. Kembar Monozigotik Kembar monozigotik atau identik, muncul dari suatu ovum tunggal yang dibuahi yang kemudian membagi menjadi dua struktur yang sama, masingmasing dengan potensi untuk berkembang menjadi suatu individu yang terpisah. Hasil akhir dari proses pengembaran monozigotik tergantung pada kapan pembelahan terjadi, dengan uraian sebagai berikut : 1 Apabila pembelahan terjadi didalam 72 jam pertama setelah pembuahan, maka dua embrio, dua amnion serta dua korion akan terjadi dan kehamilan diamnionik dan dikorionik. Kemungkinan terdapat dua plasenta yang berbeda atau suatu plasenta tunggal yang menyatu. 1 Apabila pembelahan terjadi antara hari ke-4 dan ke-8 maka dua embrio akan terjadi, masing-masing dalam kantong yang terpisah, dengan korion bersama, dengan demikian menimbulkan kehamilan kembar diamnionik, monokorionik. 1 Apabila terjadi sekitar 8 hari setelah pembuahan dimana amnion telah terbentuk, maka pembelahan akan menimbulkan dua embrio dengan kantong amnion bersama, atau kehamilan embar monoamnionik, monokorionik. 1 Apabila pembuahan terjadi lebih belakang lagi, yaitu setelah lempeng embrionik terbentuk, maka pembelahannya tidak lengkap dan terbentuk kembar yang menyatu. 18

2. Kembar Dizigot Dizigotik, atau fraternal, kembar yang ditimbulkan dari dua ovum yang terpisah. Kembar dizigotik terjadi dua kali lebih sering daripada kembar monozigotik dan insidennya dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain yaitu ras, riwayat keluarga, usia maternal, paritas, nutrisi dan terapi infertilitas. 1 e. Diagnosis Untuk menegakkan diagnosis, perlu dilakukan : 1 Anamnesis Anamnesis yang dibutuhkan dalam menegakkan diagnosis kehamilan kembar adalah riwayat adanya keturunan kembar dalam keluarga, telah mendapat pengobatan infertilitas, adanya uterus yang cepat membesar: fundus uteri > 4 cm dari amenorea, gerakan anak yang terlalu banyak dan adanya penambahan berat badan ibu menyolok yang tidak disebabkan obesitas atau edema. 1 Pemeriksaan Fisik Adanya cairan amnion yang berlebihan dan regangan dinding perut menyebabkan diagnosis dengan palpasi menjadi sukar. Lebih kurang 50 % diagnosis kehamilan ganda dibuat secara tepat jika berat satu janin kurang dari 2500 gram, dan 75 % jika berat badan satu janin lebih dari 2500 gram. 1 Harus dipikirkan kemungkinan kehamilan kembar bila didapatkan halhal berikut : 1 1. Besarnya uterus melebihi lamanya amenorea 2. Uter