Drazin 1985 IND

download Drazin 1985 IND

of 25

  • date post

    29-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    15
  • download

    0

Embed Size (px)

description

Jurnal Akuntansi Manajemen

Transcript of Drazin 1985 IND

Alternative Forms of Fit in Contingency TheoryMakalah ini membahas pendekatan seleksi, interaksi, dan sistem agar fit atau sesuai dengan teori kontingensi struktural. Hal ini secara empiris diuji terkait dengan teori kontingensi dalam pekerjaan, desain unit dalam 629 unit keamanan kerja di California dan Wisconsin. Dalam data ini, ditemukan bukti yang mendukung pendekatan seleksi dan sistem tetapi tidak pada pendekatan interaksi. Generalisasi temuan ini dibahas dalam hal penggunaan pendekatan alternatif agar sesuai untuk menjelaskan hubungan konteks-struktur-kinerja dalam teori kontingensi.Teori kontingensi struktural telah mendominasi studi tentang desain dan kinerja organisasi selama dua puluh tahun terakhir. Namun, di samping statusnya yang menguntungkan, teori kontingensi terus-menerus dipertanyakan karena ketidakmampuan untuk mengatasi masalah teoritis dan empiris yang persisten. Komentar-komentar baru pada teori kontingensi (Schoonhoven, 1981; Mohr, 1982; Tosi dan Slocum, 1984; Fry dan Schellenberg, 1984; Van de Ven dan Drazin, 1985) semua menunjukkan bahwa diperlukan perubahan mendasar dalam teori dan metodologi.Ironisnya, peneliti manajemen baru-baru ini mengusulkan teori-teori yang, pada intinya, lebih kompleks dan merupakan sistem yang belum terselesaikan dari proposisi kontingensi; misalnya, McKinsey 7-S framework (Pascale dan Athos, 1981), Theory Z (Ouchi, 1981), delapan karakteristik yang sesuai satu sama lain dalam perusahaan yang sangat baik (Peters dan Waterman, 1982), dan ekspansi dari Leavitt's diamond model untuk merancang organisasi inovatif dan untuk mengatur tahap pertumbuhan usaha baru (Galbraith, 1982).Semua model ini berbagi kesamaan premis dasar bahwa konteks dan struktur harus fit atau sesuai satu sama lain jika organisasi tampak berkinerja baik. Terlepas dari peran penting yang dimainkan konsep fit ini, beberapa studi telah meneliti dengan cermat implikasinya (Schoonhoven, 1981; Fry dan Schellenberg, 1984; Van de Ven dan Drazin, 1985). Sebaliknya, tampak bahwa konsep fit kami sesuai diambil dari kumpulan asumsi domain dan konvensi metodologis umum dan implisit. Sebagaimana Dubin (1976) menyatakan, setiap teori adalah teori kontingensi, karena untuk untuk menjelaskan proposisi atau "hukum interaksi", asumsi harus dibuat tentang keadaan awal bangunan, batas-batas, dan sistem. Kondisi batas menentukan rentang di mana hubungan diharapkan untuk bertahan, dan keadaan sistem menentukan periode temporal dan kondisi lain di mana hubungan yang dihipotesiskan oleh teori diekspektasi akan terjadi.Sebuah teori kontingensi berbeda dari teori-teori lain dalam bentuk tertentu dari proposisi. Perbedaan antara proposisi kongruen dan kontingen yang dibuat oleh Fry dan Schellenberg (1984) menjelaskan perbedaan ini. Dalam proposisi kongruen asosiasi tanpa syarat sederhana dihipotesiskan ada di antara variabel dalam model; misalnya, semakin besar ketidakpastian tugas, maka semakin kompleks struktur. Sebuah proposisi kontingen lebih kompleks, karena hubungan bersyarat dua atau lebih variabel independen dengan hasil dependen dihipotesiskan dan langsung dilakukan uji empiris; misalnya, ketidakpastian tugas berinteraksi dengan kompleksitas struktural untuk mempengaruhi kinerja. Pusat teori kontingensi struktural adalah proposisi bahwa struktur dan proses organisasi harus sesuai konteksnya (karakteristik budaya organisasi, lingkungan, teknologi, ukuran, atau tugas), jika ingin bertahan atau menjadi efektif. Dalam istilah Dubin, "hukum interaksi" dalam teori kontingensi adalah ketika kinerja organisasi tergantung pada kesesuaian antara konteks, struktur, dan proses organisasi - mengingat bahwa asumsi normal mencakup keadaan tempat, batas-batas, dan sistem bersumber dari teori.Konsep kunci dalam proposisi kontingen adalah fit, dan definisi fit yang diadopsi merupakan pusat pengembangan teori, untuk pengumpulan data, dan analisis statistik proposisi. Van de Ven dan Drazin (1985) menunjukkan bahwa dalam pengembangan teori kontingensi, setidaknya tiga pendekatan konseptual yang berbeda untuk kesesuaian telah muncul - pendekatan seleksi, interaksi, dan sistem (Tabel 1) - dan masing-masing secara signifikan mengubah arti penting dari teori kontingensi dan hasil empiris yang diharapkan. Ketiga pendekatan yang berbeda untuk fit disajikan dan kemudian diperiksa secara empiris dalam makalah ini. Kami percaya bahwa mereka memperjelas banyak kebingungan dalam literatur tentang teori kontingensi struktural dan memberikan arah alternatif untuk mendorong pengembangan dari teori kontingensi pada umumnya.Interpretasi Fit dalam Pendekatan Seleksi, Interaksi, dan Sistem pada Struktural Kontingensi Teori

Pandangan, definisi, dan metode pengujianSeleksiInteraksiSistem

Pandangan AwalDefinisiAsumsi: Fit diasumsikan premis yang mendasari kesesuaian antara konteks dan strukturBivariat interaksi: Fit adalah interaksi pasangan faktor konteks-struktur organisasional; itu mempengaruhi kinerja.Analisis Kontingensi: Fit adalah konsistensi internal dalam kontingensi multipel dan karakteristik struktural multipel; itu mempengaruhi karakteristik kinerja

Metode PengujianKorelasi atau regresi koefisien konteks (misalnya, lingkungan, teknologi, atau ukuran) terhadap struktur (misalnya, konfigurasi, formalisasi, sentralisasi) harus signifikan.Dari segi interaksi konteks-struktur dalam MANOVA atau persamaan regresi terhadap kinerja harus signifikan.Penyimpangan dari desain tipe ideal akan menghasilkan kinerja yang lebih rendah. Sumber penyimpangan (dalam kontingensi) berasal dari kontingensi bertentangan.

Pandangan Saat Ini-Masa DepanDefinisi

Seleksi makro: Fit pada level mikro adalah dengan seleksi alamiah atau manajerial dari organisasi level makro.

Analisis residual: Fit adalah kesesuaian terhadap hubungan linear dari konteks dan desain. Kinerja yang rendah adalah hasil dari penyimpangan dari hubungan ini.

Equifinality: Fit adalah set yang layak dari pola yang konsisten secara internal dan setara efektifnya dari konteks organisasi dan struktur.

Metode PengujianVariabel tunduk pada aturan peralihan universal seharusnya sangat berkorelasi dengan konteks. Variabel partikularistik akan menunjukkan korelasi yang lebih rendahResidual dari hubungan konteks struktur yang diregresi pada kinerja harus signifikan.Hubungan antar konteks laten, struktur, dan kinerja konstruk harus signifikan, sementara karakteristik manifestasi yang diamati tidak harus signifikan.

PENDEKATAN SELEKSI, INTERAKSI, DAN SISTEM UNTUK FITPendekatan SeleksiBanyak teori kontingensi struktural awal yang sebenarnya adalah teori keselarasan (congruence theory) karena mereka hanya membuat hipotesis bahwa konteks organisasi (baik lingkungan, teknologi, atau ukuran) berkaitan dengan struktur (sentralisasi, formalisasi, kompleksitas) tanpa memeriksa apakah ini hubungan konteks-struktur mempengaruhi kinerja. Misalnya, menggunakan berbagai dimensi teknologi, banyak peneliti telah memperkirakan dan menemukan hubungan yang kuat antara teknologi dan struktur (1) pada tingkat organisasi (Perrow, 1967; Hage dan Aiken, 1969; Freeman, 1973; Dewar dan Hage, 1978) , (2) di tingkat kerja unit (Hall, 1962; Fullan, 1970; Van de Ven dan Delbecq, 1974; Tushman, 1977; Marsh dan Mannari, 1981), dan (3) di tingkat analisis organisasi (Comstock dan Scott, 1977; Nightingale dan Toulouse, 1977; Pierce, Dunham, dan Blackburn, 1979; Fry, 1982). Banyak dari studi ini memiliki tanggapan logis implisit yang mendasari alasan mengenai hubungan antara konteks dan struktur. Namun, tidak satupun dari studi ini yang membahas atau menyajikan bukti mengenai pengaruh kongruensi/kesesuaian antara teknologi dan struktur pada kinerja organisasi.Ketidakjelasan untuk menyimpulkan bahwa penelitian ini tidak membahas teori kontingensi atau untuk menyimpulkan bahwa teori kontingensi dioperasikan sebagai asumsi yang belum diuji merupakan hal yang mendasari penelitian konteks-struktur organisasi ini. Sebagai contoh, sebagian besar peneliti teknologi pada tahun 1960 dan 1970-an menggunakan logika teori kontingensi yang mirip dengan Woodward (1965) dan Perrow (1967), tetapi mereka tidak menguji hubungan dengan kinerja, entah karena mereka tidak mengumpulkan ukuran kinerja atau karena mereka tidak tertarik di bagian kunci dari teori.Baru-baru ini, bagaimanapun, perspektif seleksi alam (natural selection) dan seleksi manajerial telah muncul dan memberikan beberapa justifikasi untuk melihat fit sebagai asumsi dasar yang mendasari proposisi kesesuaian (kongruensi)antara konteks, struktur, dan proses organisasi. Dalam argumen natural selection, fit adalah hasil dari proses evolusi dari adaptasi yang memastikan bahwa hanya organisasi yang berkinerja terbaik dapat bertahan hidup (Hannan dan Freeman, 1977; Aldrich, 1979; Comstock dan Schroger, 1979; McKel-vey, 1982). Keseimbangan antara lingkungan dan organisasi diasumsikan ada, setidaknya selama jangka waktu yang lama, dan hanya hubungan konteks struktur yang perlu diperiksa untuk menilai fit (Fennell, 1980), karena identitas, atau hubungan isomorfik, antara konteks dan struktur, dianggap ada untuk organisasi yang masih hidup (DiMaggio dan Powell, 1983).Argumen seleksi manajerial memperluas pendekatan ini dan memperhitungkan desain organisasi tingkat makro dan mikro (Van de Ven dan Drazin, 1985). Sebagian besar organisasi (atau sub unit) dibatasi dalam memilih atau mengadopsi pola struktural yang mencerminkan keadaan khusus mereka. Tidak peduli tingkat organisasi apa yang diperiksa, biasanya pada tingkat makro lebih menekankan, setidaknya sebagian, praktek keseragaman dan preskripsi pada tingkat mikro (DiMaggio dan Powell, 1983). Misalnya, badan legislatif pemerintah mengatur industri, industri memiliki kode yang membatasi bisnis, dan organisasi memiliki kebijakan yang memaksakan keseragaman pada departemen, divisi, dan unit kerja.Aturan makro cenderung dikenakan pada unit mikro dalam dua cara: (1) secara seragam tanpa