DRAFT TANGGAPAN APPSI TERHADAP RUU REVISI .Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum &...

download DRAFT TANGGAPAN APPSI TERHADAP RUU REVISI .Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan

of 124

  • date post

    07-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    214
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of DRAFT TANGGAPAN APPSI TERHADAP RUU REVISI .Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum &...

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

DRAFT TANGGAPAN APPSI TERHADAP RUU REVISI UNDANG-UNDANG NO. 22 TAHUN 1999

TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH Rapat Dengar Pendapat Dengan Pansus DPR RI

Tentang Revisi UU No. 22 Tahun 1999 Jakarta, 2 Juni 2004

ASOSIASI PEMERINTAH PROVINSI SELURUH INDONESIA Association for Provincial Government of Indonesia

Sekretariat : Balaikota DKI Jakarta Blok B LT. 3

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

JI. Medan Merdeka Selatan No. 8 - 9 Jakarta Pusat Telp. (021) 351 7970 Fax. (021) 351 7953

PENGANTAR KETUA UMUM APPSI PADA RAPAT DENGAR PENDAPAT DENGAN PANITIA KHUSUS DPR-RI

TENTANG REVISI UU 22/1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

Yth. Ketua Panitia Khusus dan Para Anggota DPR-RI tentang revisi UU Nomor 22/1999. Yth. Ketua Komisi II DPR-RI dan Para Anggota Yth. Para Gubernur anggota APPSI Hadirin sekalian. AssalamuaLaikum Wr. Wb.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkat rahmat dan karunia-Nya kita dapat berkumpul bersama pada hari ini bersama Panitia Khusus dan Komisi II DPR-RI yang membahas revisi UU Nomor 22/1999 dalam suasana penuh kekeluargaan.

Selanjutnya perlu saya jelaskan gambaran singkat tentang APPSI. APPSI merupakan asosiasi para Gubernur seluruh Indonesia yang dibentuk

pada tahun 2001 sesuai ketentuan pasal 115 UU No.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan duduk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD).

Maksud dan tujuan pendirian APPSI adalah sebagai wadah kerja sama, forum tukar menukar pengalaman dan wadah penyaluran aspirasi bagi

para Gubernur seluruh Indonesia dalam berbagai aspek penyelenggaraan otonomi daerah, khususnya penyelenggaraan otonomi daerah propinsi.

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

Sejak berdiri APPSI telah menyelenggarakan beberapa kali Musyawarah Nasional dan Rapat Kerja yang menghasilkan beberapa rekomendasi

dalam menyikapi berbagai aspek yang terkait dengan dinamika penyelenggaraan otonomi daerah di Indonesia. Pimpinan Pansus dan Komisi II DPR RI dan Para Anggota yang saya hormati,

Saya terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Pengurus APPSI pada Musyawarah Nasional Tahun 2003 di Bandung untuk masa kepengurusan

2003-2007. Sejak saya menjabat sebagai Ketua Umum APPSI telah diselenggarakan dua kati Rapat Kerja APPSI yaitu di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada bulan September 2003 dan di Propinsi Maluku pada bulan Maret 2004. Pada Rapat Kerja tersebut, juga telah dihasilkan sejumlah rekomendasi yang telah kami laporkan kepada Presiden Republik Indonesia.

Pada siang hari ini, saya bertindak dalam kapasitas sebagai Ketua Umum Dewan Pengurus APPSI yang berkepentingan dalam menyikapi

revisi UU Nomor 22 Tahun 1999 yang telah cukup lama terkatung-katung. Masukan-masukan yang ingin kami sampaikan pada hari ini adalah sebagai masukan bersama seluruh anggota APPSI yang telah mengadakan rapat pada tanggal 19 dan 28 Mei 2004 di Jakarta dan Bogor.

Pimpinan Pansus dan Komisi II DPR RI dan Para Anggota yang saya hormati,

Berdasarkan hasil penelaahan kami atas draft RUU Revisi UU 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, maka dapat kami sampaikan

pandangan kami sebagai berikut : 1. Pada dasarnya RUU tersebut telah sesuai dengan aspirasi yang berkembang selama ini di kalangan anggota APPSI dan telah sesuai dengan

manajemen pemerintahan daerah, terutama yang berkaitan dengan adanya kejelasan mengenai hubungan antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota dan khususnya solusi atas persoalan hirarkhis yang selama ini banyak menimbulkan permasalahan dalam pelaksanaan otonomi daerah.

2. Adanya kriteria distribusi kewenangan sebagaimana diatur dalam RUU tersebut diharapkan dapat menciptakan kejelasan kewenangan dalam

setiap urusan pemerintahan antara Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. Adanya kewenangan yang jelas dari masing-masing tingkatan pemerintahan diharapkan dapat mengurangi tumpang tindih dan kecenderungan tarik menarik kewenangan antar tingkatan pemerintahan.

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

3. Bahwa dalam RUU telah pula diatur secara jelas mengenai posisi dan kewenangan Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerah. Dengan adanya kejelasan dan pengaturan secara eksplisit mengenai kewenangan Gubernur tersebut diharapkan akan dapat menghilangkan berbagai interpretasi yang timbul selama ini terutama yang berkaitan dengan hubungan Gubernur selaku Wakil Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Kabupaten/Kota yang ada di wilayah kerjanya.

4. Namun demikian berdasarkan analisis yang mendalam masih kami temukan beberapa hal yang masih memerlukan penyempurnaan atas draft

yang diajukan oleh Pemerintah sebagaimana terurai berikut ini. a. Mengenai pemilihan Kepala Daerah langsung, sebaiknya panitia pemilihan sepenuhnya diberikan ke KPUD. Adalah akan sulit menentukan

siapa yang akan mewakili pihak DPRD kalau mereka diikutkan dalam panitia pemilihan. Hal ini juga untuk mendukung netralitas dalam proses pemilihan Kepala daerah secara langsung. Demikian juga untuk pengawasannya diserahkan kepada Panwaslu yang sudah ada di daerah selama ini. Sedikitnya baik KPUD dan Panwaslu Daerah sudah menimba pengalaman dari pelaksanaan Pemilu dan Pilpres.

b. Dalam hal pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya di wilayah taut hendaknya ditegaskan bahwa Daerah diberi

kewenangan" dan bukan bersifat "dapat diberi". Dengan demikian sifatnya lebih .affirmative dan bukan fakultatif dan memberikan kejelasan kewenangan Daerah mengingat banyak Daerah yang kegiatan ekonominya berbasis dilaut khususnya daerah-daerah kepulauan.

c. Adanya kegiatan evaluasi terhadap RAPBD oleh Pemerintah kurang kondusif untuk memberdayakan otonomi daerah. Kami menyetujui

adanya pengawasan preventif terhadap raperda ,Pajak dan Retribusi Daerah dan raperda Tata Ruang untuk mencegah pungutan-pungutan Yang distortif terhadap iklim perekonomian dan investasi di daerah. Namun untuk evaluasi terhadap RAPBD bagi kami terasa, excessive (berlebihan) karena penyusunan RAPBD sudah melalui berbagai proses Rakorbang dari tingkat Desa sampai nasional. Kalaupun evaluasi tersebut dimaksudkan untuk menciptakan sinerji kegiatan pembangunan antar pemerintahan yang bermuara dalam RAPBD, kegiatan tersebut sudah dilakukan melalui proses konsultasi pembangunan . Evaluasi kalaupun dilakukan akan cenderung bersifat formalitas karena Daerah yang lebih tahu bagaimana masalah dan prioritas daerah yang memerlukan pembiayaan. Pengawasan dan evaluasi dapat dilakukan oleh masyarakat melalui mekanisme "social control".

d. Dalam hal pemberhentian Kepala Daerah, perlu diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah, mengingat terdapat berbagai alternative

yang mungkin terjadi yang tidak mungkin dijelaskan satu persatu dalam UU Pemerintahan Daerah.

e. Untuk pembentukan kawasan khusus nasional di daerah, maka konsultasi dan pertimbangan dari daerah sangat diperlukan untuk menciptakan akseptasi Daerah. Hal ini belum nampak dalam RUU Revisi.

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

f. Perlunya dipertimbangkan untuk adanya Polisi Daerah untuk meningkatkan efektifitas penegakan hukum khususnya Peraturan Daerah.

Selama ini terasa penegakan Perda sering kurang efektip karena Polisi Pamong Praja ataupun Petugas Tramtib kurang diberi kewenangan untuk penegakan hukum. Sedangkan banyak peraturan daerah yang memuat sanksi pidana yang menjadi domain polisi untuk pengusutannya. Polisi Daerah tersebut bukan untuk menyaingi polisi nasional tapi system rekrutmen dan pembinaannya secara tehnis kepolisian dilakukan oleh Polisi Nasional (Polri), hanya pemanfaatannya dibawah kendali Kepala daerah.

g. Perlunya ketegasan mengenai konstruksi lembaga pemerintah daerah. Rakyat memberikan mandat kepada Kepala Daerah dan DPRD

untuk menyelenggarakan pemerintahan daerah. Kepala Daerah berperan sebagai eksekutif daerah sedangkan DPRD berperan sebagai legislative daerah. Jadi pemerintah daerah terdiri dari Kepala Daerah dan DPRD. Dalam melaksanakan tugasnya Kepala Daerah dan DPRD dibantu oleh perangkat daerah (Sekda bagi Kepala Daerah dan Sekwan bagi DPRD). Dengan demikian akan mencegah kerancuan dalam mempergunakan istilah pemerintahan daerah. Pemerintahan daerah adalah kegiatan yang dilakukan oleh Kepala Daerah dan DPRD serta dibantu oleh perangkat daerah. Dengan cara demikian akan terdapat kejelasan kelompok pejabat politik (Kepala Daerah dan DPRD) dan kelompok pejabat karir (perangkat daerah).

Demikianlah beberapa masukan yang ingin saya sampaikan kepada Panitia Khusus revisi UU Nomor 22 Tahun 1999 dan kepada Komisi II

DPR RI, dengan harapan bahwa masukan kami dapat diakomodir dalam pembahasan RUU tersebut. Secara lebih rinci terlampir kami sampaikan matriks dari usulan APPSI yang dalam perumusannya dibantu oleh Dewan Pakar APPSI yang diketuai oleh Prof. DR. Ryaas Rasyid. Terima kasih. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Ketua Umum Dewan Pengurus APPSI

SUTIYOSO

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di www.parlemen.net

www.parlemen.net

Draf Usul dan Saran APPSI Terhadap Revis