Draft Modul Pelatihan APN
-
Author
fredy-menunggu-jawaban -
Category
Documents
-
view
231 -
download
0
Embed Size (px)
Transcript of Draft Modul Pelatihan APN
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
1/44
PR
BUKU MODUL PELATIHAN
ASUHAN PERSALINAN NORMAL
Untuk Bidan Desa
Oleh:
SHERLY NIDYA FITRIANI
NIM I1A12018
GRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
NIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
2/44
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................ .... ii
BAGIAN I ASUHAN PERSALINAN NORMAL ........................................ 1
BAGIAN II KOMUNIKASI DAN KONSELING .......................................... 2
BAGIAN III LIMA BENANG MERAH APN ................................................ 5
BAGIAN IV TATALAKSANA KALA I, II,III, DAN IV .................................. 21BABGIAN V PENGENALAN DINI DAN PENANGANAN AWAL
KOMPLIKASI PERSALINAN .................................................. 34
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
3/44
BAGIAN 1.
ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN)
Asuhan Persalinan Normal (APN) adalah persalinan yang bersih dan
aman serta mencegah terjadinya komplikasi. Persalinan yang bersih dan aman
serta pencegahan komplikasi selama dan pascapersalinan terbukti mampu
mengurangi kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir. APN bertujuan
untuk menjaga kelangsungan hidup dan memberikan derajat kesehatan yang
tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui upaya yang terintegrasi dan lengkap tetapi
dengan intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan
kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang diinginkan (Depkes, 2008).
Setiap intervensi yang akan diaplikasikan dalam APN harus mempunyai
alasan dan bukti yang ilmiah yang kuat tentang manfaat intervensi tersebut
bagi kemajuan dan keberhasilan proses persalinan. Keterampilan yang
diajarkan dalam pelatihan APN harus ditetapkan sesuai dengan standar asuhan
bagi semua ibu bersalin di setiap tahap persalinan oleh setiap penolong
persalinan dimanapun hal tersebut terjadi. Salah satu tujuan pelatihan APN
adalah memberikan pengetahuan & ketrampilanpelayanan persalinan normal
& penanganan awal penyulit beserta rujukan yang berkualitas & sesuai dengan
prosedur standar, jika semua tenaga penolongpersalinan dilatih agar mampu
untuk mencegah atau deteksi dini komplikasi yang mungkin terjadi,
menerapkan asuhan persalinan secara tepat guna dan waktu, baik sebelum
atau saat masalah terjadi, dan segera melakukan rujukan saat kondisi ibu
masih optimal, maka para ibudan bayi baru lahir akan terhindar dari ancaman
kesakitan dan kematian. Manfaat Asuhan Persalinan Normal (APN) dalammencegah komplikasi persalinan dan nifas yang mungkin dapat membantu
dalam upaya memahami proses persalinan agar menghindari intervensi yang
tidak tepat dan komplikasi yang tidak perlu terjadi, karena jelas bahwa
kehadiran tenaga terlatih saat persalinan akan mengurangi kemungkinan
komplikasi dan kejadian fatal.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
4/44
BAGIAN 2.
KOMUNIKASI DAN KONSELING
1.
Keterampilan Komunikasi
a. Komunikasi dua arah
Ketika tenaga kesehatan ingin agar sebuah informasi diterapkan
oleh ibu atau keluarganya, proses konseling dan komunikasi dua arah
harus berjalan. Misalnya, ketika menentukan di mana ibu harus bersalin
dan bagaimana ibu bisa mencapai fasilitas kesehatan tersebut.
b. Membina suasana yang baik
Tenaga kesehatan dapat membangun kepercayaan dan suasana
yang baik dengan ibu misalnya dengan cara menemukan kesamaan-
kesamaan dengan ibu dalam hal usia, paritas, daerah asal, atau hal-hal
kesukaan.
c. Mendengar dengan aktif
Ketika ibu berbicara, tenaga kesehatan perlu memperhatikan
informasi yang diberikan dan menunjukkan bahwa informasi tersebut
sudah dimengerti. Tanyakan pertanyaan yang berhubungan dengan
informasi yang ibu berikan untuk mengklarifikasi pemahaman bersama.
Ulangi informasi yang ibu sampaikan dalam kalimat yang berbeda untuk
mengkonfirmasi dan rangkum butir-butir utama yang dihasilkan dari
percakapan.
d. Fasilitasi
Penting diingat bahwa konselor tidak boleh memaksa ibu untuk
mengatasi masalahnya dengan solusi yang tidak sesuai dengan kebutuhanibu. Bimbinglah ibu dan keluarganya untuk menganalisa kelebihan dan
kekurangan dari setiap pilihan yang mereka miliki dan memutuskan sendiri
pilihannya.
Dalam berkomunikasi dengan ibu, tenaga kesehatan perlu memegang
prinsip prinsip berikut ini:
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
5/44
a. Buat ibu merasa nyaman dan diterima dengan baik.
b. Bersikap ramah, senantiasa menghargai, dan tidak menghakimi.
c. Gunakan bahasa yang mudah dimengerti dan sederhana.
d. Setiap kali hendak melakukan pemeriksaan atau prosedur/tindakan klinis,
minta persetujuan dari ibu dan jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
e. Rangkum informasi-informasi yang penting termasuk informasi mengenai
hasil pemeriksaan laboratorium rutin dan pengobatan. Pastikan ibu
mengerti tanda-tanda bahaya/kegawatdaruratan, instruksi pengobatan,
dan kapan ia harus kembali berobat atau memeriksakan diri.
f. Minta ibu mengulangi informasi tersebut, atau mendemonstrasikan
instruksi pengobatan.
g. Lakukan konseling, anamnesis, maupun pemeriksaan di ruang yang pribadi
dan tertutup dari pandangan orang lain. Pastikan bahwa ketika berbicara
mengenai hal yang sensitif/pribadi, tidak ada orang lain yang dapat
mendengar pembicaraan tersebut.
h. Minta persetujuan ibu sebelum berbicara dengan keluarganya. Jangan
membahas rahasia ibu dengan rekan kerja ataupun pihak lain. Pastikan
semua catatan sudah dilengkapi dan tersimpan dengan rapi serta terjaga
kerahasiaannya. Batasi akses ke dokumen-dokumen yang memuat
informasi terkait ibu hanya kepada tenaga kesehatan yang
berkepentingan.
Konseling merupakan proses interaktif antara tenaga kesehatan dan
ibu serta keluarganya. Selama proses tersebut, tenaga kesehatan mendorong
ibu untuk saling bertukar informasi dan memberikan dukungan dalamperencanaan atau pengambilan keputusan serta tindakan yang dapat
meningkatkan kesehatan ibu. Berikut langkah-langkah konseling
1) Ajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengerti situasi ibu dan latar
belakangnya. Lakukan klarifikasi bila diperlukan dan jangan menghakimi.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
6/44
2) Identifikasi kebutuhan ibu, masalah ibu, dan informasi yang belum
diketahui ibu. Pelajari setiap masalah yang ada serta dampaknya terhadap
berbagai pihak (ibu, suami, keluarga, komunitas, tenaga kesehatan, dan
sebagainya).
3) Tanyakan pendapat ibu mengenai solusi alternatif apa yang dapat
dilakukan untuk meyelesaikan masalah yang ia hadapi.
4) Identifikasi kebutuhan ibu terhadap informasi, sumber daya, atau
dukungan lain untuk memecahkan masalahnya.
5) Susun prioritas solusi dengan membahas keuntungan dan kerugian dari
berbagai alternatif pemecahan masalah bersama ibu.
6) Minta ibu untuk menentukan solusi apa yang paling memungkinkan untuk
mengatasi masalahnya.
7) Buatlah rencana tindak lanjut bersama.
8) Evaluasi pelaksanaan rencana tindak lanjut tersebut pada pertemuan
konseling berikutnya.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
7/44
BAGIAN 3.
LIMA BENANG MERAH ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN)
Dalam asuhan persalinan dan kelahiran bayi ada yang disebut lima
benang merah, yaitu:
1. Membuat Keputusan Klinik
Membuat keputusan klinik adalah proses pemecahan masalah yang
akan digunakan untuk merencanakan asuhan bagi ibu dan bayi baru lahir. Hal
ini merupakan suatu proses yang sistematik dalam mengumpulkan dan analisis
informasi, membuat diagnosis kerja, membuat rencana tindakan yang sesuai
dengan diagnosis, melaksanakan rencana tindakan dan akhirnya mengevaluasi
hasil asuhan atau tindakan yang telah diberikan kepada ibu dan bayi lahir.
Membuat keputusan klinik adalah proses pemecahan masalah yang akan
digunakan untuk merencanakan asuhan bagi ibu dan bayi baru lahir. Hal ini
merupakan suatu proses sistematik dalam mengumpulkan dan analisis
informasi, membuat diagnosis kerja (menentukan kondisi yang dikaji adalah
normal atau bermasalah), membuat rencana tindakan yang sesuai dengan
diagnosis, melaksanakan rencana tindakan dan akhirnya mengevaluasi hasil
asuhan atau tindakan yang telah diberikan kepada ibu dan/atau bayi baru lahir.
Ada empat langkah proses pengambilan keputusan klinik, yaitu:
1) Pengumpulan data
Data dapat dikumpulkan melalui kunjungan antenatal yang. teratur.
Sayangnya, sebagian besar ibu melakukan kunjungan ke penolong
persalinan bila merasa mempunyai suatu masalah, inisalnya: mengalaini
perdarahan, merasa nyeri bila berkeinih, atau merasa bahwa janinnya tidakbergerak. Bila ibu datang untuk mendapatkan pertolongan, kumpulkan
data dan informasi untuk membuat diagnosis secara tepat dan
menerapkan tindakan yang sesuai. Yang dikumpulkan adalah data subjektif
dan data objektif. Data subjektif adalah informasi yang diceritakan ibu
tentang apa yang dirasakannya, apa yang sedang dialaininya dan apa yang
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
8/44
telah dialaininya. Data subjektif juga meliputi informasi tambahan yang
diceritakan oleh anggota keluarga tentang status ibu, terutama jika thu
merasa sangat nyeri atau sangat sakit.Data objektifadalah informasi yang
dikumpulkan berdasarkan pemeriksaan/pengamatan terhadap ibu atau
bayi baru lahir. Kelengkapan dan ketelitian dalam proses pengumpulan
data adalah sangat penting. Kumpulkan data dengan cara:
a) Berbicara dengan ibu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai
kondisi ibu dan riwayat perjalanan penyakit.
b) Mengamati tingkah laku ibu dan apakah ibu terlihat sehat atau sakit,
nyaman atau terganggu (kesakitan).
c) Melakukan pemeriksaan fisik.
d) Melakukan pemeriksaan tambahan lainnya bila perlu, inisalnya
pemeriksaan laboratorium (konsentrasi Hb, uji fungsi hati atau ginjal).
2) Diagnosis
Setelah data dikumpulkan, penolong persalinan dapat melakukan
analisis data dan segera membuat diagnosis secara tepat. Pencarian dan
pengumpulan data untuk diagnosis, bukanlah proses linier (berada pada
suatu garis lurus) melainkan proses sirkuler (melingkar) yang berlangsung
secara terus-menerus. Suatu diagnosis kerja diuji dan dipertegas atau dikaji
ulang berdasarkan pengamatan dan temuan yang diperoleh secara terus-
menerus. Informasi yang terkumpul akan memperkuat atau memperlemah
diagnosis yang telah dibuat. Jika dukungan terhadap diagnosis kerja
sangat lemah, diperlukan data dan bukti baru sehingga dihasilkan
diagnosis definitif. Setelah ini barulah bidan tersebut dapat merencanakanpenatalaksanaan kasus secara tepat. Untuk membuat diagnosis:
b) Pastikan bahwa data-data yang ada dapat mendukung diagnosis.
c) Antisipasi masalah atau penyulityang mungkin terjadi setelah diagnosis
definitif dibuat.
http://www.garnierindonesia.com/fb/index.php/arsip/ecard_detail/1699http://www.garnierindonesia.com/fb/index.php/arsip/ecard_detail/1699http://www.garnierindonesia.com/fb/index.php/arsip/ecard_detail/1699http://www.garnierindonesia.com/fb/index.php/arsip/ecard_detail/1699http://www.garnierindonesia.com/fb/index.php/arsip/ecard_detail/1699http://www.garnierindonesia.com/fb/index.php/arsip/ecard_detail/1699http://www.garnierindonesia.com/fb/index.php/arsip/ecard_detail/1699http://www.garnierindonesia.com/fb/index.php/arsip/ecard_detail/1699 -
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
9/44
d) Perhatikan bahwa mungkin terdapat sejumlah diagnosis banding atau
diagnosis ganda.
3) Penatalaksanaan asuhan atau perawatan
Berdasarkan data yang terkumpul dan diagnosis definitif, susun
rencana penatalaksanaan sebagai elemen asuhan atau perawatan yang
memadai bagi ibu dan/atau bayi baru lahir. Mungkin terdapat beberapa
pilihan intervensi efektif; diskusikan dengan ibu dan keluar ganya untuk
meinilih cara pengobatan yang paling sesuai dan efektif. Pilihan ini akan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk:
Bukti-bukti klinik (pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dll).
Keinginan-keinginan dan kepercayaan ibu.
Tempat di mana asuhan diberikan (di rumah, rumah sakit, puskesmas,
dli) dan waktu di mana asuhan diperlukan (slang atau malam).
Perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obatan yang tersedia.
Biaya yang diperlukan.
Tingkat keterampilan dan pengalaman penolong persalinan.
Akses ke tempat rujukan, transportasi yang tersedia dan jarak ke
tempat rujukan.
Sistem dan surnberdaya yang dapat memberikan dukungan bagi ibu
(suaini, anggota keluarga dan sahabat).
Setelah membuat rencana asuhan, laksanakanrencana tersebut
secara tepat waktu dan mengacu pada keselamatan kiien. Hal ini
penting untuk menghindarkan timbulnya penyuiit dan memastikan
bahwa ibu dan/atau bayi baru lahir akan menerima asuhan atauperawatan yang mereka butuhkan.
4) Evaluasi
Penatalaksanaan yang telah dikerjakan harus dievaluasi untuk
menilai tingkat efektivitasnya. Tentukan apakah perlu dikaji ulang atau
diteruskan sesuai dengan kebutuhan saat itu atau kemajuan pengobatan.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
10/44
Proses pengumpulan data, membuat diagnosis, penatalaksanaan
intervensi atau tindakan, dan evaluasi adalah proses sirkuler (melingkar).
Lanjutkan evaluasi asuhan yang telah diberikan kepada ibu dan bayi baru
lahir. Jika pada saat evaluasi ditemukan bahwa status ibu atau bayi baru
lahir menunjukkan adanya perubahan, sesuaikan asuhan lanjutan untuk
memenuhi perubahan kebutuhan tersebut.
Membuat keputusan klinik adalah komponen esensial dalam asuhan
bersih dan aman kepada ibu selama persalinan, kelahiran dan masa nifas, dan
bayi baru lahir. Proses membuat suatu keputusan klinik memungkinkan
dihasilkannya keputusan-keputusan yang benar dan tepat waktu bagi asuhan
spesifik yang diperlukan seorang ibu atau bayi baru lahir. Proses ini mencegah
terjadinya penyulit dan memungkinkan pengenalan dini tanda -tanda atau
gejala-gejala adanya penyulit. Dalam bab-bab berikutnya akan dibahas
pendekatanpendekatan baru, termasuk penatalaksanaan kala tiga
persalinan, penatalaksanaan atonia uteri, dan asuhan bayi baru lahir. Proses
membuat keputusan klinik harus diterapkan dalam pelaksanaan asuhan ini,
baik asuhan yang sedang dijalankan maupun yang terdahulu.
2. Asuhan Sayang Ibu dan Sayang Bayi
Asuhan sayang ibu adalah asuhan dengan prinsip saling menghargai
budaya kepercayaan dan keinginan sang ibu. Salah satu prinsip dasar asuhan
sayang ibu adalah dengan mengikutsertakan suami dan keluarga selama
proses persalinan dan kelahiran bayi. Cara yang paling mudah untuk
membayangkan asuhan sayang ibu adalah dengan menanyakan pada diri kita
sendiri, Seperti inikah asuhan yang ingin saya dapatkan? atau Apakahasuhan seperti ini, yang saya inginkan untuk keluarga saya yang sedang hamil
Asuhan sayang ibu dalam proses persalinan:
a) Panggil ibu sesuai namanya, hargai dan perlakukan ibu sesuai martabatnya.
b) Jelaskan asuhan dan perawatan yang akan diberikan pada ibu sebelum
memulai asuhan tersebut.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
11/44
c) Jelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarganya.
d) Anjurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan rasa takut atau khawatir.
e) Dengarkan dan tanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu.
f) Berikan dukungan, besarkan hatinya dan tenteramkan perasaan ibu
beserta anggota keluarga yang lain.
g) Anjurkan ibu untuk ditemani suami dan/atau anggota keluarga yang lain
selama persalinan dan kelahiran bayinya.
h) Ajarkan suami dan anggota-anggota keluarga mengenai cara-cara
bagaimana mereka dapat memperhatikan dan mendukung ibu selama
persalinan dan kelahiran bayinya.
i) Lakukan praktek-praktek pencegahan infeksi yang baik secara konsisten.
j) Hargai privasi ibu.
k) Anjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi selama persalinan dan
kelahiran bayi.
l) Anjurkan ibu untuk ininum cairan dan makan makanan ringan bila ia
menginginkannya.
m)Hargai dan perbolehkan praktek-praktek tradisional yang tidak memberi
pengaruh yang merugikan.
n) Hindari tindakan berlebihan dan mungkin membahayakan seperti
episiotoini, pencukuran dan klisma.
o) Anjurkan ibu untuk memeluk bayinya segera setelah lahir.
p) Membantu memulai pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah
kelahiran bayi.
q)
Siapkan rencana rujukan (bila diperlukan).r) Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik dan bahan-
bahan, perleng kapan dan obat-obatan yang diperlukan. Siap untuk
melakukan resusitasi bayi baru lahir pada setiap kelahiran bayi.
Asuhan sayang ibu pada masa postpartum, yaitu:
a) Anjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya (rawat gabung).
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
12/44
b) Bantu ibu untuk mulai membiasakan rnenyusui dan anjurkan pemberian
ASI sesuai perinintaan.
c) Ajarkan ibu dan keluarganya mengenai nutrisi dan istirahat yang cukup
setelah melahirkan.
d) Anjurkan suaini dan anggota-anggota keluarga untuk memeluk bayi dan
rnensyukuri kelahiran bayi.
e) Ajarkan ibu dan anggota-anggota keluarganya tentang bahaya dan tanda-
tanda bahaya yang dapat diamati dan anjurkan mereka untuk mencari
pertolongan jika terdapat masalah atau kekhawatiran.
Salah satu prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan
mengikutsertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran
bayi, jika para ibu diperhatikan dan diberi dukungan selama persalinan dan
kelahiran bayi serta mengetahui dengan baik mengenai proses persalinan dan
asuhan yang akan mereka terima, mereka akan mendapatkan rasa aman dan
keluaran yang lebih baik. Antara lain, juga disebutkan bahwa asuhan tersebut
dapat mengurangi jumlah persalinan dengan tindakan seperti inisalnya
ekstraksi vakum, cunam, dan seksio sesar. Persalinan juga akan berlangsung
lebih cepat.
3. Pencegahan Infeksi
Tindakan pencegahan infeksi tidak terpisahkan dari asuhan selama
persalinan dan kelahiran bayi. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan
tenaga kesehatan untuk mencegah penularan penyakit dari atau kepada
pasien di fasilitas kesehatan.
1)
Menjaga kebersihan tanganJaga agar kuku jari-jari tangan tetap pendek. Tutup luka di tangan
dengan bahan kedap air. Selalu bersihkan tangan pada situasi-situasi berikut
ini:
a) Sebelum dan sesudah menyentuh pasien.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
13/44
b) Sebelum memegang alat/instrument invasif, baik ketika mengenakan
sarung tangan maupun tidak.
c) Setelah kontak dengan cairan tubuh atau ekskresi, membran mukosa, kulit
yang tidak intak, atau kasa penutup luka.
d) Ketika berpindah dari satu bagian tubuh yang terkontaminasi kebagian
tubuh lain dari pasien yang sama.
e) Setelah kontak dengan permukaan objek yang bersentuhan dengan
pasien (termasuk peralatan medis).
f) Setelah melepas sarung tangan (steril maupun non-steril).
Jika tangan tidak terlihat kotor, gunakan pembersih tangan berbahan
dasar alkohol (alcohol-based handrub). Jika tangan tidak terlihat kotor namun
pembersih tangan berbahan dasar alkohol tidak tersedia, cucilah tangan
dengan sabun dan air bersih mengalir. Jika tangan terlihat kotor, atau bila
terkena darah/cairan tubuh, atau setelah menggunakan toilet, cuci tangan
dengan sabun dan air bersih mengalir. Cuci tangan juga dianjurkan bila
dicurigai ada paparan terhadap patogen berspora, misalnya pada wabah
Clostridium difficile. Lakukan teknik mencuci tangan sesuai BAGAN 1 selama
40-60 detik. Sebelum menangani obat-obatan atau menyiapkan makanan,
bersihkan tangan dengan pembersih tangan berbahan dasar alkohol atau cuci
tangan dengan sabun dan air bersih mengalir. Bila di fasilitas kesehatan tidak
tersedia keran dengan air bersih mengalir, letakkan ember berisi air bersih di
tempat yang cukup tinggi dan berikan keran di dasar ember sehingga air bisa
mengalir keluar untuk cuci tangan.
2)
Mengenakan sarung tangana) Gunakan sarung tangan steril atau yang sudah didisinfeksi tingkat
tinggi (DTT) ketika melakukan prosedur bedah, menolong persalinan,
memotong tali pusat, menjahit luka episiotomi, dan menjahit robekan
perineum.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
14/44
b) Gunakan sarung tangan steril yang panjang (sampai menutupi siku)
ketika melakukan plasenta manual atau kompresi bimanual interna.
c) Gunakan sarung tangan pemeriksaan (non-steril) untuk melakukan
pemeriksaan vagina, memasang infus, memberikan obat injeksi, dan
mengambil darah.
d) Gunakan sarung tangan rumah tangga saat:
Membersihkan alat dan tempat tidur
Mengelola bahan yang terkontaminasi, sampah dan
limbah
Membersihkan darah dan cairan tubuh yang berceceran
3) Melindungi diri dari darah dan cairan tubuh
a) Gunakan sarung tangan sesuai petunjuk di atas.
b) Tutup semua bagian kulit yang tidak intak/utuh dengan bahan tahan
air.
c) Berhati-hati dalam mengelola sampah dan alat/benda tajam.
d) Kenakan apron panjang yang terbuat dari plastik atau bahan tahan air,
serta sepatu bot karet ketika menolong persalinan.
e) Lindungi mata dengan mengenakan kacamata atau perlengkapan lain.
f) Gunakan masker dan topi atau tutup kepala
4) Membuang sampah tajam dengan benar
Siapkan tempat penampungan sampah tajam yang tidak dapat
ditembus oleh jarum. Pastikan semua jarum dan spuit digunakan hanya satu
kali. Jangan menutup kembali, membengkokkan, ataupun merusak jarum yang
telah digunakan. Langsung buang semua jarum yang telah digunakan ketempat penampungan sampah tajam tanpa memberikannya ke orang lain.
Ketika tempat penampungan sudah tiga perempat penuh, tutup, sumbat,
atau plester wadah tersebut dengan rapat lalu bakar.
5) Membuang samapah dan limbah secara aman
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
15/44
a) Buang plasenta, darah, cairan tubuh, dan benda-benda yang
terkontaminasi ke wadah anti bocor.
b) Kubur atau bakar segera sampah padat yang terkontaminasi.
c) Buang limbah cair ke saluran khusus.
d) Cuci tangan, sarung tangan, dan tempat penampungan setelah
membuang sampah atau limbah yang infeksius.
6) Mengelolah pakaian dan kain yang terkontaminasi.
a) Petugas yang menangani linen harus menggunakan alat pelindung diri
berupa sarung tangan rumah tangga, sepatu tertutup kedap air, apron,
dan kacamata pelindung.
b) Kumpulkan dan pisahkan semua pakaian dan kain yang terkontaminasi
darah atau cairan tubuh di kantong plastik khusus.
c) Bilas darah maupun cairan tubuh lain dengan air sebelum mencucinya
dengan sabun.
7) Pemrosesan instrument
Untuk instrumen yang dipakai ulang, lakukan 3 langkah pokok yaitu:
a) Dekontaminasi
Rendam instrumen bekas pakai di dalam larutan klorin 0,5%
selama 10 menit.
b) Pencucian dan pembilasan
Cuci alat dengan menggunakan air, kemudian cuci lagi dengan
deterjen dan air bersih mengalir.
c) Sterilisasi atau disinfeksi tingkat tinggi (DTT)
Sterilisasi:Masukkan alat ke dalam otoklaf selama 20 menit (bila tidakdibungkus) atau 30 menit (bila dibungkus) dalam tekanan 106 kPa dan
suhu 1210C. Bila menggunakan metode panas kering, lakukan steriliasi
dengan oven selama 60 menit pada suhu 1700C atau selama 120 menit
pada suhu 1600C.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
16/44
DTT:Rebus alat dalam panci tertutup (semua alat terendam 2,5 cm di
bawah permukaan air) selama 20 menit, terhitung sejak air mendidih.
Sebagai alternatif, rendam dalam larutan klorin 0,5% atau glutaraldehid
2-4% selama 20 menit lalu bilas dengan air DTT dan biarkan kering
sebelum digunakan.
Saat mencuci alat, kenakan sarung tangan tebal/sarung tangan
rumah tangga dan berhati-hatilah jangan sampai tertusuk instrumen
tajam. Jika tidak segera dipakai, instrumen yang sudah disterilisasi
harus dijaga agar tidak terkontaminasi
Pencegahan infeksi yang efektif didasarkan pada prinsip-prinsip
berikut :
b) Setiap orang (ibu, bayi baru lahir, penolong persalinan) harus
dianggap dapat menu larkan penyakit karena infeksi yang tcrjadi
bersifat asimptomatik (tanpa gejala).
c) Setiap orang harus dianggap berisiko terkena infeksi.
d) Permukaan tempat pemeriksaan, peralatan dan benda-benda lain
yang akan dan telah bersentuhan dengan kulit tak utuh/selaput
mukosa atau darah, harus dianggap terkon taininasi sehingga
setelah selesai digunakan harus dilakukan proses pencegahan
infeksi secara benar.
e) Jika tidak diketahui apakah permukaan, peralatan atau benda
lainnya telah diproses dengan benar, harus dianggap telah
terkontaininasi.
f)
Risiko infeksi tidak bisa dihilangkan secara total, tapi dapatdikurangi hingga sekecil mungkin dengan menerapkan tindakan-
tindakan pencegahan infeksi yang benar dan konsisten.
4. Pencatatan (Dokumentasi)
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
17/44
Pencatatan rutin adalah alat bantu yang sangat penting untuk
membuat keputusan klinik dan mengevaluasi apakah asuhan yang diberikan
sudah sesuai dan efektif.
Catat semua asuhan yang telah diberikan kepada ibu dan/atau bayinya.
Jika asuhan tidak dicatat, dapat dianggap bahwa tidak pernah dilakukan
asuhan yang dimaksud. Pencatatan adalah bagian penting dari proses
membuat keputusan klinik karena memungkinkan penolong persalinan untuk
terus menerus memperhatikan asuhan yang diberikan selama proses
persalinan dan kelahiran bayi. Mengkaji ulang catatan memungkinkan untuk
menganalisis data yang telah dikumpu dan dapat lebih efektif dalam
merumuskan suatu diagnosis serta membuat rencana asuhan atau perawatan
bagi ibu atau bayinya. Partograf adalah bagian terpenting dan proses
pencatatan selama persalinan. Lihat bagian mengenai Partograf di Bab 2 untuk
penjelasan lengkap mengenai partograf. Pencatatan rutin adalah penting
karena:
a) Dapat digunakan sebagai alat bantu untuk membuat keputusan klinik dan
mengevaluasi apakah asuhan atau perawatan sudah sesuai dan efektif,
untuk mengidentirikasi kesenjangan pada asuhan yang diberikan dan
untuk membuat perubahan dan peningkatan rencana asuhan atau
perawatan.
b) Dapat digunakan untuk tolok ukur keberhasilan dalam proses membuat
keputusan klinik; sedangkan sebagai metode keperawatan, informasi ini
harus dapat dibagikan atau diteruskan kepada tenaga kesehatan lainnya.
c)
Merupakan catatan permanen tentang asuhan, perawatan dan obat yangdiberikan.
d) Dapat dibagikan di antara para penolong persalinan. Hal ini penting jika
memerlukan rujukan di mana lebih dan satu penolong persalinan
memberikan asuhan pada ibu atau bayi baru lahir.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
18/44
e) Dapat mempermudah kelangsungan asuhan dan saw kunjungan ke
kunjungan berikutnya, dan satu penolong persalinan kepada penolong
persalinan Iainnya, atau dan seorang penolong persalinan ke fasilitas
kesehatan lainnya. Melalui pencatatan rutin, penolong persalinan
rnendapatkan informasi yang relevan dan setiap ibu atau bayi baru lahir
yang diasuhnya.
f) Dapat digunakan untuk penelitian atau studi kasus.
g) Diperlukan untuk memberi masukan data statistik sebagai catatan nasional
dan daerah, termasuk catatan kematian dan kesakitan ibu/bayi baru lahir.
Adapun aspek-aspek penting dalam pencatatan adalah :
a) Tanggal dan waktu asuhan tersebut diberikan.
b) Identifikasi penolong persalinan.
c) Paraf atau tanda tangan (dan penolong persalinan) pada semua
catatan.
d) Mencakup informasi yang berkaitan secara tepat, dicatat dengan jelas,
dan dapat dibaca.
e) Ketersediaan sistem penyimpanan catatan atau data pasien.
f) Kerahasiaan dokumen-dokurnen medis.
g) Ibu harus diberikan salinan catatan medik (catatan klinik antenatal,
dokumen dokumen rujukan, dll) beserta panduan yang jelas mengenai
maksud dan dokumen-dokumen tersebut, kapan harus dibawa, kepada
siapa harus diberikan, bagaimana cara penyimpanan yang aman di
rumah atau selama perjalanan ke tempat rujukan.
5.
Sistem RujukanRujukan dalam kondisi yang optimal dan tepat waktu ke fasilitas
kesehatan yang memiliki sarana lebih lengkap diharapkan mampu
menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir. Rujukan ibu hamil dan
neonatus yang berisiko tinggi merupakan komponenyang penting dalam
sistem pelayanan kesehatan maternal. Dengan memahami sistem dan cara
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
19/44
rujukan yang baik, tenaga kesehatan diharapkan dapat memperbaiki kualitas
pelayanan pasien.
Secara umum, rujukan dilakukan apabila tenaga dan perlengkapan di
suatu fasilitas kesehatan tidak mampu menatalaksana komplikasi yang
mungkin terjadi. Dalam pelayanan kesehatan maternal dan pernatal, terdapat
dua alasan untuk merujuk ibu hamil, yaitu ibu dan/atau janin yang
dikandungnya. Berdasarkan sifatnya, rujukan ibu hamil dibedakan menjadi
dua, yaitu:
1) Rujukan kegawatdaruratan
Rujukan kegawatdaruratan adalah rujukan yang dilakukan sesegera
mungkin karena berhubungan dengan kondisi kegawatdaruratan yang
mendesak.
2) Rujukan berencana
Rujukan berencana adalah rujukan yang dilakukan dengan persiapan
yang lebih panjang ketika keadaan umum ibu masih relatif lebih baik, misalnya
di masa antenatal atau awal persalinan ketika didapati kemungkinan risiko
komplikasi. Karena tidak dilakukan dalam kondisi gawat darurat, rujukan ini
dapat dilakukan dengan pilihan modalitas transportasi yang lebih beragam,
nyaman, dan aman bagi pasien.
Adapun rujukan sebaiknya tidak dilakukan bila:
a) Kondisi ibu tidak stabil untuk dipindahkan.
b) Kondisi janin tidak stabil dan terancam untuk terus memburuk.
c) Persalinan sudah akan terjadi.
d)
Tidak ada tenaga kesehatan terampil yang dapat menemani.e) Kondisi cuaca atau modalitas transportasi membahayakan.
Adapun perencanaan rujukan, yaitu:
a) Komunikasikan rencana merujuk dengan ibu dan keluarganya, karena
rujukan harus medapatkan pesetujuan dari ibu dan/atau keluarganya.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
20/44
b) Tenaga kesehatan perlu memberikan kesempatan, apabila situasi
memungkinkan, untuk menjawab pertimbangan dan pertanyaan ibu serta
keluarganya. Beberapa hal yang disampaikan sebaiknya meliputi:
1) Diagnosis dan tindakan medis yang diperlukan
2) Alasan untuk merujuk ibu.
3) Risiko yang dapat timbul bila rujukan tidak dilakukan.
4) Risiko yang dapat timbul selama rujukan dilakukan.
5) Waktu yang tepat untuk merujuk dan durasi yang dibutuhkan untuk
merujuk.
6) Tujuan rujukan.
7) Modalitas dan cara transportasi yang digunakan.
8) Nama tenaga kesehatan yang akan menemani ibu.
9) Jam operasional dan nomer telepon rumah sakit/pusat layanan
kesehatan yang dituju.
10)Perkiraan lamanya waktu perawatan.
11)Perkiraan biaya dan system pembiayaan (termasuk dokumen
kelengkapan untuk Jampersal, Jamkesmas, atau asuransi kesehatan)
12)Petunjuk arah dan cara menuju tujuan rujukan dengan menggunakan
modalitas transportasi lain.
13)Pilihan akomodasi untuk keluarga.
c) Hubungi pusat layanan kesehatan yang menjadi tujuan rujukan dan
sampaikan kepada tenaga kesehatan yang akan menerima pasien hal-hal
berikut ini:
1)
Indikasi rujukan.2) Kondisi ibu dan janin.
3) Rencana terkait prosedur teknis rujukan (termasuk kondisi lingkungan
dan cuaca menuju tujuan rujukan).
4) Kesiapan sarana dan prasarana ditujuan rujukan.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
21/44
5) Penatalaksanaan yang sebaiknya dilakukan selama dan sebelum
transportasi, berdasarkan pengalaman-pengalaman rujukan
sebelumnya.
d) Saat berkomunikasi lewat telepon, pastikan hal-hal tersebut telah dicatat
dan diketahui oleh tenaga kesehatan di pusat layanan kesehatan yang
akan menerima pasien.
e) Lengkapi dan kirimlah berkas-berkas berikut ini (secara langsung ataupun
melalui faksimili) sesegera mungkin:
1) Formulir rujukan pasien (minimal berisi identitas ibu, hasil
pemeriksaan, diagnosis kerja, terapi yang telah diberikan, tujuan
rujukan, serta nama dan tanda tangan tenaga kesehatan yang member
pelayanan)
2) Fotokopi rekam medis kunjungan antenatal.
3) Fotokopi rekam medis yang berkaitan dengan kondisi saat ini.
4) Hasil pemeriksaan penunjang.
5) Berkas-berkas lain untuk pembiayaan menggunakan jaminan
kesehatan
f) Pastikan ibu yang dirujuk telah mengenakan gelang identifikasi.
g) Bila terdapat indikasi, pasien dapat dipasang jalur intravena dengan kanul
berukuran 16 atau 18.
h) Mulai penatalaksanaan dan pemberian obat-obatan sesuai indikasi segera
setelah berdiskusi dengan tenaga kesehatan di tujuan rujukan.
i) Semua resusitasi, penanganan kegawatdaruratan dilakukan sebelum
memindahkan pasien.j) Periksa kelengkapan alat dan perlengkapan yang akan digunakan untuk
merujuk, dengan mempertimbangkan juga kemungkinan yang dapat
terjadi selama transportasi.
k) Selalu siap sedia untuk kemungkinan terburuk.
l) Nilai kembali kondisi pasien sebelum merujuk, meliputi:
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
22/44
1) Keadaan umum pasien.
2) Tanda vital (Nadi, Tekanan darah, Suhu, Pernafasan)
3) Denyut jantung janin.
4) Presentasi
5) Dilatasi serviks.
6) Letak janin
7) Kondisi ketuban
8) Kontraksi uterus: kekuatan, frekuensi, durasi
m)Catat dengan jelas semua hasil pemeriksaan berikut nama tenaga
kesehatan dan jam pemeriksaan terakhir.
Untuk memudahkan dan meminimalkan resiko dalam perjalanan
rujukan, keperluan untuk merujuk ibu dapat diringkas menjadi BAKSOKU
(bidan, Alat, Keluarga, Surat, Obat, Kendaraan, dan uang).
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
23/44
BAGIAN 4.
Tatalaksana kala I, II, III, dan IV
1.
Tatalaksana Kala I
Adapun tatalaksana pada kala I, yaitu:
a. Beri dukungan dan dengarkan keluhan ibu.
b. Jika ibu tampak gelisah/kesakitan:
1) Biarkan ia berganti posisi sesuai keinginan, tapi jika di tempat tidur
sarankan untuk miring kiri.
2) Biarkan ia berjalan atau beraktivitas ringan sesuai
kesanggupannya.
3) Anjurkan suami atau keluarga memjiat punggung atau membasuh
muka ibu.
4) Ajari teknik bernapas.
c. Jaga privasi ibu, gunakan tirai penutup dan tidak menghadirkan orang
lain tanpa seizin ibu.
d. Izinkan ibu untuk mandi atau membasuh kemaluannya setelah buang
air kecil/besar
e. aga kondisi ruangan sejuk. Untuk mencegah kehilangan panas pada
bayi baru lahir, suhu ruangan minimal 250C dan semua pintu serta
jendela harus tertutup.
f. Beri minum yang cukup untuk menghindari dehidrasi.
g. Sarankan ibu berkemih sesering mungkin.
h. Pantau parameter berikut secara rutin dengan menggunakan
partograf.i. Pasang infus intravena untuk pasien dengan:
1) Kehamilan lebih dari 5.
2) Hemoglobin =9 g/dl atau hematokrit =27%.
3) Riwayat gangguan perdarahan.
4) Sungsang
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
24/44
5) Kehamilan ganda.
6) Hipertensi
7) Persalinan lama
j. Isi dan letakkan partograf di samping tempat tidur atau di dekat
pasien.
k. Lakukan pemeriksaan kardiotokografi jika memungkinkan.
l. Persiapkan rujukan jika terjadi komplikasi.
Yang harus diperhatikan dalam persalinan kala I, yaitu:
1) Kemajuan persalinan, tanda dan gejala: kontraksi tidak progresif
teratur, kecepatan pembukaan serviks 1cm/jam, serviks tidak
dipenuhi bagian bawah janin. Diperlukan tatalaksanan persalinan lama.
2) Kemajuan kondisi ibu, tanda dan gejala: denyut nadi meningkat,
tekanan darah turun, terdapat aseton urin. Kemungkinan dehidrasi
atau kesakitan, nilai adakah perdarahan, curiga asupan nutrisi kurang
beri dektrosa IV bila perlu.
3) Kemajuan kondisi bayi, tanda dan gejala: Denyut jantung 180/menit, Posisi selain oksiput anterior dengan fleksi sempurna.
Curiga kemungkinan gawat janin,perlu tatalaksana
malposisi/malpresentasi.
Tabel Penilaian dan intervensi selama kala I
Parameter Frekuensi pada kala Ilaten
Frekuensi pada kala Iaktif
Tekanan darah Tiap 4 jam Tiap 4 jamSuhu Tiap 4 jam Tiap 2 jam
Nadi Tiap 30-60 menit Tiap 30-60 menit
Denyut jantung janin Tiap 1 jam Tiap 30 menit
Kontraksi Tiap 1 jam Tiap 30 menit
Pembukaan serviks Tiap 4 jam* Tiap 4 jam*
Warna cairan amnion Tiap 4 jam* Tiap 4 jam*Penurunan kepala Tiap 4 jam* Tiap 4 jam*
*Dinilai pada setiap pemeriksaan dalam
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
25/44
Ada beberapa tindakan yang sering dilakukan namun sebenarnya
tidak banyak membawa manfaat bahkan justru merugikan, sehingga tidak
dianjurkan melakukan hal-hal berikut:
1) Kateterisasi kandung kemih rutin: dapat meningkatkan
risiko infeksi saluran kemih. Lakukan hanya jika ada indikasi.
2) Posisi terlentang: dapat mengurangi detak jantung dan penurunan
aliran darah uterus sehingga kontraksi melemah.
3) Mendorong abdomen: menyakitkan bagi ibu, meningkatkan risiko
rupture uteri.
4) Mengedan sebelum pembukaan serviks lengkap: dapat menyebabkan
edema dan/atau laserasi serviks.
5) Enema
6) Pencukuran rambut pubis.
7) Membersihkan vagina dengan antiseptic selama persalinan.
2. Tatalaksana Kala II, III, IV
Tatalaksana pada kala II, III, dan IV tergabung dalam 58 langkah
APN yaitu:
a. Mengenali tanda dan gejala kala dua
1) Memeriksa tanda berikut:
a) Ibu mempunyai keinginan untuk meneran.
b) Ibu merasa tekanan yang semakin meningkat pada rectum dan/atau
vaginanya.
c) Perineum menonjol dan menipis.
d)
Vulva-vagina dan sfingter ani membuka.b. Menyiapkan pertolongan persalinan
2) Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial.
a) Klem, gunting, benang tali pusat, penghisap lender steril / DTT siap
dalam wadahnya.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
26/44
b) Semua pakaian, handuk, selimut dan kain untuk bayi dalam
kondisi bersih dan hangat.
c) Timbangan, pita ukur, stetoskop bayi, dan termometer dalam
kondisi baik dan bersih.
d) Patahkan ampul oksitosin 10 unit dan tempatkan spuit steril
sekali pakai di dalam partus set/wadah DTT.
e) Untuk resusitasi: tempat datar, rata, bersih, kering dan hangat,3
handuk atau kain bersih dan kering, alat penghisap lendir, lampu
sorot 60 watt dengan jarak 60 cm diatas tubuh bayi.
f) Persiapan bila terjadi kegawatdaruratan pada ibu: cairan
kristaloid, set infuse.
3) Kenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih, sepatu
tertutup kedap air, tutup kepala, masker, dan kacamata.
4) Lepas semua perhiasan pada lengan dan tangan lalu cuci kedua tangan
dengan sabun dan air bersih kemudian keringkan dengan handuk atau
tisu bersih.
5) Pakai sarung tangan steril/DTT untuk pemeriksaan dalam.
6) Ambil spuit dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan
oksitosin 10 unit dan letakkan kembali spuit tersebut di partus set/
wadah DTT atau steril tanpa mengontaminasi spuit.
c. Memastikan pembukaan lengkap dan keadaan Janin baik
7) Bersihkan vulva dan perineum, dari depan ke belakang dengan kapas
atau kasa yang dibasahi air DTT.
8)
Lakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan bahwa pembukaanserviks sudah lengkap. Lakukan amniotomi bila selaput ketuban belum
pecah, dengan syarat: kepala sudah masuk ke dalam panggul dan tali
pusat tidak teraba.
9) Dekontaminasi sarung tangan dengan mencelupkan tangan yang masih
memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, kemudian
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
27/44
lepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan rendam dalam
larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Cuci kedua tangan setelahnya.
10)Periksa denyut jantung janin (DJJ) segera setelah kontraksi berakhir
untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (120 160
kali/menit). Ambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal.
d. Menyiapkan ibu dan keluarga untuk Membantu proses bimbingan
Meneran
11)Beritahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik.
12)Minta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran.
Bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan dia merasa
nyaman. Anjurkan ibu untuk cukup minum.
13)Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang
kuat untuk meneran. Perbaiki cara meneran apabila caranya tidak
sesuai. Nilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai.
14)Anjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang
nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60
menit.
e. Mempersiapkan pertolongan kelahiran bayi
15)Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm,
letakkan handuk bersih di atas perut ibu untuk mengeringkan bayi.
16)Letakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian di bawah bokong ibu.
17)Buka tutup partus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan
bahan.
18)Pakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.
f. Membantu lahirnya kepala
19)Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum
dengan satu tangan yang dilapisi kain bersih dan kering, sementara
tangan yang lain menahan kepala bayi untuk menahan posisi defleksi
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
28/44
dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan ibu meneran sambil bernapas
cepat dan dangkal.
20)Periksa lilitan tali pusat dan lakukan tindakan yang sesuai jika hal itu
terjadi. Jika lilitan tali pusat di leher bayi masih longgar,
selipkan tali pusat lewat kepala bayi. Jika lilitan tali pusat terlalu ketat,
klem tali pusat di dua titik lalu gunting di antaranya. Jangan lupa untuk
tetap lindungi leher bayi.
21)Tunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara
spontan
g.
Membantu lahirnya bahu
22)Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara
biparental. Anjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut
gerakkan kepala ke arah bawah dan distal hingga bahu depan muncul
di bawah arkus pubis seperti gerakkan arah atas dan distal untuk
melahirkan bahu belakang.
h. Membantu lahirnya badan dan Tungkai
23)Setelah kedua bahu lahir, geser tangan yang berada di bawah ke arah
perineum ibu untuk menyangga kepala, lengan dan siku sebelah
bawah. Gunakan tangan yang berada di atas untuk menelusuri dan
memegang lengan dan siku sebelah atas.
24)Setelah tubuh dan lengan bayi lahir, lanjutkan penelusuran tangan yang
berada di atas ke punggung, bokong, tungkai dan kaki bayi. Pegang
kedua mata kaki (masukkan telunjuk di antara kaki
dan pegang masing-masing mata kaki dengan ibu jari dan jari-jarilainnya).
i. Penanganan bayi baru lahir
25)Lakukan penilaian selintas dan jawablah tiga pertanyaan berikut untuk
menilai apakah ada asfiksia bayi:
a) Apakah kehamilan cukup bulan?
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
29/44
b) Apakah bayi menangis atau bernapas/tidak megap-megap?
c) Apakah tonus otot bayi baik/bayi bergerak aktif?
26) Bila tidak ada tanda asfiksia, lanjutkan manajemen bayi baru lahir
normal. Keringkan dan posisikan tubuh bayi di atas perut ibu.
Keringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh
lainnya.
27) Periksa kembali perut ibu untuk memastikan tidak ada bayi lain dalam
uterus (hamil tunggal).
3. Manajemen Aktif Kala III
28)Beritahukan kepada ibu bahwa penolong akan menyuntikkan oksitosin
untuk membantu uterus berkontraksi baik.
29)Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, berikan suntikan oksitosin 10
unit IM di sepertiga paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi
sebelum menyuntikkan oksitosin).
30)Dengan menggunakan klem, 2 menit setelah bayi lahir, jepit tali pusat
pada sekitar 3 cm dari pusat (umbilikus) bayi (kecuali pada asfiksia
neonatus, lakukan sesegera mungkin). Dari sisi luar klem penjepit,
dorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan lakukan penjepitan kedua
pada 2 cm distal dari klem pertama.
31)Potong dan ikat tali pusat. Dengan satu tangan, angkat tali pusat
yang telah dijepit kemudian gunting tali pusat di antara 2 klem
tersebut (sambil lindungi perut bayi).Ikat tali pusat dengan benang
DTT/steril pada satu sisi kemudian lingkarkan kembali benang ke sisi
berlawanan dan lakukan ikatan kedua menggunakan simpul kunci.Lepaskan klem dan masukkan dalam larutan klorin 0,5%.
32)Tempatkan bayi untuk melakukan kontak kulit ibu ke kulit bayi.
Letakkan bayi dengan posisi tengkurap di dada ibu. Luruskan bahu bayi
sehingga bayi menempel dengan baik di dinding dada-perut ibu.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
30/44
Usahakan kepala bayi berada di antara payudara ibu dengan posisi
lebih rendah dari puting payudara ibu.
33)Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan kering dan pasang topi
pada kepala bayi.
34)Pindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva
35)Letakkan satu tangan di atas kain yang ada di perut ibu, tepat di tepi
atas simfisis dan tegangkan tali pusat dan klem dengan tangan yang
lain.
36)Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat ke arah bawah sambil
tangan yang lain mendorong uterus ke arah dorso-kranial secara hati-
hati untuk mencegah terjadinya inversio uteri. Jika uterus tidak segera
berkontraksi, minta ibu, suami atau anggota keluarga untuk
menstimulasi putting susu.
37)Lakukan penegangan dan dorongan dorso-kranial hingga plasenta
terlepas, lalu minta ibu meneran sambil menarik tali pusat dengan arah
sejajar lantai dan kemudian ke arah atas, mengikuti poros jalan lahir
dengan tetap melakukan tekanan dorso-kranial. Jika tali pusat
bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak sekitar 5-10 cm
dari vulva dan lahirkan plasenta. Jika plasenta tidak lepas setelah
15 menit menegangkan tali pusat:
- Beri dosis ulangan oksitosin 10 unit IM.
- Lakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh.
- Minta keluarga untuk menyiapkan rujukan.
- Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya.- Segera rujuk jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi lahir.
- Bila terjadi perdarahan, lakukan plasenta manual.
38)Saat plasenta terlihat di introitus vagina, lanjutkan kelahiran plasenta
dengan menggunakan kedua tangan. Jika selaput ketuban robek,
pakai sarung tangan DTT atau steril untuk melakukan eksplorasi sisa
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
31/44
selaput kemudian gunakan jarijari tangan atau klem DTT atau steril
untuk mengeluarkan bagian selaput yang tertinggal.
39)Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan masase
uterus dengan meletakkan telapak tangan di fundus dan lakukan
masase dengan gerakan melingkar secara lembut hingga uterus
berkontraksi (fundus teraba keras). Lakukan tindakan yang diperlukan
jika uterus tidak berkontraksi setelah 15 detik melakukan rangsangan
taktil/ masase.
j. Menilai perdarahan
40)Periksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu maupun janin
dan pastikan bahwa selaputnya lengkap dan utuh.
41)Evaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan lakukan
penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan aktif.
Tabel Derajat robekan/laserasi perineum
Derajat Penjelasan
1 Laserasi epitel vagina atau laserasi pada kulit perineum saja
2 Melibatkan kerusakan pada otot-otot perineum, tetapi
tidak melibatkankerusakan sfingter ani
3 Kerusakan pada otot sfingter ani
3a: robekan 50% sfingter ani ekterna
3c: robekan juga meliputi sfingter ani interna
4 Robekan stadium tiga disertai robekan epitil anus
4. Melakukan Asuhan pasca persalinan (kala IV)
42)Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan
pervaginam.
43)Mulai IMD dengan memberi cukup waktu untuk melakukan kontak kulit
ibu-bayi (di dada ibu minimal 1 jam). Biarkan bayi mencari dan
menemukan putting dan mulai menyusu.
44)Setelah kontak kulit ibu-bayi dan IMD selesai:
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
32/44
- Timbang dan ukur bayi.
- Beri bayi salep atau tetes mata antibiotika profilaksis (tetrasiklin 1%
atau antibiotika lain).
- Suntikkan vitamin K1 1mg (0,5 mL untuk sediaan 2 mg/mL) IM di
paha kirianterolateral bayi. Pastikan suhu tubuh bayi normal
(36,537,5oC).
- Berikan gelang pengenal pada bayi yang berisi informasi
nama ayah, ibu, waktu lahir, jenis kelamin, dan tanda lahir jika ada.
- Lakukan pemeriksaan untuk melihat adanya cacat bawaan
(bibir sumbing/langitan sumbing, atresia ani, defek dinding perut)
dan tanda-tanda bahaya pada bayi.
45)Satu jam setelah pemberian vitamin K1, berikan suntikan imunisasi
hepatitis B di paha kanananterolateral bayi.
46)Lanjutkan pemantauan kontraksi dan pecegahan perdarahan
pervaginam:
- Setiap 2-3 kali dalam 15 menit pertama pascasalin.
- Setiap 15 menit pada 1 jam pertam pascasalin.
- Setiap 20-30 menit pada jam kedua pascasalin.
- Lakukan asuhan yang sesuai untuk menatalaksana
atonia uteri jika uterus tidak berkontraksi dengan baik.
47)Ajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai
kontraksi, mewaspadai tanda bahaya pada ibu, serta kapan harus
memanggil bantuan medis.
48)Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
49)Periksa tekanan darah, nadi, dan keadaan kandung kemih ibu setiap 15
menit selama 1 jam pertama pascasalin dan setiap 30 menit selama jam
kedua pascasalin. Periksa temperatur ibu sekali setiap jam
selama 2 jam pertama pascasalin. Lakukan tindakan yang sesuai untuk
temuan yang tidak normal.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
33/44
50)Periksa kembali kondisi bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas
dengan baik (40-60 kali/menit) serta suhu tubuh normal (36,5 37,50C).
Tunda proses memandikan bayi yang baru saja lahir hingga
minimal 24 jam setelah suhu stabil.
51)Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5%
untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah
didekontaminasi.
52)Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang
sesuai.
53)Bersihkan badan ibu menggunakan air DTT. Bersihkan sisa cairan
ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai pakaian yang bersih dan
kering.
54)Pastikan ibu merasa nyaman. Bantu ibu memberikan ASI.
Anjurkan keluarga untuk member ibu minuman dan makanan
yang diinginkannya.
55)Tekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%.
56)Celupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%, balikkan
bagian dalam keluar dan rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10
menit.
57)Cuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian
keringkan dengan tisu atau handuk yang kering dan bersih.
58)Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda vital
dan asuhan kala IV.
Catatan: Pastikan ibu sudah bisa buang air kecil setelah asuhan persalinanselesai.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
34/44
BAGIAN 5.
PENANGANAN DINI DAN PENANGANAN KOMPIKASI PERSALINAN
Deteksi dini dalam pelayanan antenatal adalah mengarah pada
penemuan ibu hamil beresiko agar dapat ditangani secara memadai sehingga
kesakitan atau kematian dapat dicegah. Untuk pengenalan tanda-tanda
kehamilan yang memiliki tanda bahaya dan komplikasi kehamilan. Deteksi dini
kehamilan dengan faktor risiko adalah kegiatan yang dilakukan untuk
menemukan ibu hamil yang mempunyai faktor risiko dan komplikasi
kebidanan. Kehamilan merupakan proses reproduksi yang normal , tetapi
tetap mempunyai risiko untuk terjadinya komplikasi. Oleh karenanya deteksi
dini oleh tenaga kesehatan dan masyarakat tentang adanya faktor risiko dan
komplikasi, serta penanganan yang adekuat sedini mungkin, merupakan kunci
keberhasilan dalam penurunan angka kematian ibu dan bayi yang
dilahirkannya. Faktor risiko pada ibu hamil adalah:
1. Primigravida kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
2. Anak lebih dari 4.
3. Jarak persalinan terakhir dan kehamilan sekarang kurang dari 2 tahun.
4. Kurang Energi Kronis (KEK) dengan lingkar lengan atas kurang dari 23,5
cm, atau penambahan berat badan < 9 kg selama masa kehamilan.
5. Anemia dengan dari Hemoglobin < 11 g/dl.
6. Tinggi badan kurang dari 145 cm, atau dengan kelainan bentuk panggul
dan tulang belakang.
7. Riwayat hipertensi pada kehamilan sebelumnya atau sebelum kehamilan
ini.8. Sedang/pernah menderita penyakit kronis, antara lain : tuberkulosis,
kelainan jantungginjal-hati, psikosis, kelainan endokrin (Diabetes Mellitus,
Sistemik Lupus Eritematosus, dll), tumor dan keganasan.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
35/44
9. Riwayat kehamilan buruk: keguguran berulang, kehamilan ektopik
terganggu, mola hidatidosa, ketuban pecah dini, bayi dengan cacat
congenital
10.Riwayat persalinan dengan komplikasi : persalinan dengan seksio sesarea,
ekstraksivakum/ forseps.
11. Riwayat nifas dengan komplikasi : perdarahan paska persalinan, Infeksi
masa nifas, psikosis post partum (post partum blues).
12.Riwayat keluarga menderita penyakit kencing manis, hipertensi dan
riwayat cacat kongenital.
13.Kelainan jumlah janin : kehamilan ganda, janin dampit, monster.
14. Kelainan besar janin : pertumbuhan janin terhambat, Janin besar.
15.Kelainan letak dan posisi janin: lintang/oblique, sungsang pada usia
kehamilan lebih dari 32 minggu.
A. Tanda dini bahaya/komplikasi dan penanganannya
Deteksi dini untuk komplikasi pada Neonatus dengan melihat tanda-
tanda atau gejala-gejala sebagai berikut
1. Ketuban pecah dini
Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum
persalinan atau dimulainya tanda inpartu. Diagnosis Diagnosis ketuban pecah
dini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan inspekulo. Dari
anamnesis didapatkan penderita merasa keluar cairan yang banyak secara
tiba-tiba. Kemudian lakukan satu kali pemeriksaan inspekulo dengan spekulum
steril untuk melihat adanya cairan yang keluar dari serviks atau menggenang
diforniks posterior. Jika tidak ada, gerakkan sedikit bagian terbawah janin,atau minta ibu untuk mengedan/batuk. Pastikan bahwa cairan tersebut
adalah cairan amnion dengan memperhatikan:
- Bau cairan ketuban yang khas
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
36/44
- Tes Nitrazin: lihat apakah kertas lakmus berubah dari merah menjadi biru.
Harap diingat bahwa darah, semen, dan infeksi dapat menyebabkan hasil
positif palsu.
- Gambaran pakis yang terlihat di mikroskop ketika mengamati secret
servikovaginal yang mongering. Untuk memastikan tidak ada tanda-tanda
in partu Setelah menentukan diagnosis ketuban pecah dini, perhatikan
tanda-tanda korioamnionitis.
a. Tatalaksana Umum
1) Berikan eritromisin 4x250 mg selama 10 hari.
2) Rujuk ke fasilitas yang memadai.
3) Konfirmasi usia kehamilan, kalau ada dengan USG.
4) Dilakukan pemeriksaan inspekulo (dengan speculum DTT) untuk
menilai cairan yang keluar (jumlah, warna,bau) dan membedakan
dengan urin.
5) Jika ibu mengeluh perdarahan akhir kehamilan (setelah 22 minggu),
jangan lakukan, pemeriksaan dalam secara digital.
6) Mengobservasi tidak ada infeksi.
7) Mengobservasi tanda tanda inpartu.
8) Jika terdapat his dan darah lendir, kemungkinan terjadi persalinan
preter
b. Tatalaksana Khusus
1) Lakukan tatalaksana sesuai dengan usia kehamilan: >34 minggu:
Lakukan induksi persalinan dengan oksitosin bila tidak ada
kontraindikasi. 24-33 minggu: Bila terdapat amnionitis, abrupsioplasenta, dan kematian janin, lakukan persalinan segera.
2) Berikan deksametason 6 mg IM tiap 12 jam selama 48 jam atau
betametason 12 mg IM tiap 24 jam selama 48 jam.
3) Lakukan pemeriksaan serial untuk menilai kondisi ibu dan janin. o Bayi
dilahirkan di usia kehamilan 34 minggu, atau di usia kehamilan 32-33
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
37/44
minggu, bila dapat dilakukan pemeriksaan kematangan paru dan hasil
menunjukkan bahwa paru sudah matang (komunikasikan dan
sesuaikan dengan fasilitas perawatan bayi preterm).
4) 380C dengan 2 atau lebih tanda berikut ini:
1. Leukositosis >15.000 sel/mm3.
2. denyut jantung janin >160 kali/menit.
3. frekuensi nadi ibu >100 kali/menit.
4. nyeri tekan fundus saat tidak berkontraksi.
5. Cairan amnion berbau.
6. Persalinan premature.
7. Persalinan lama.
8. Ketuban pecah lama.
9. Pemeriksaan dalam yang dilakukan berulang-ulang.
10.Adanya bakteri pathogen pada traktus genitalia (IMS, BV) Tatalaksana
Tatalaksana umum rujuk pasien ke rumah sakit, beri antibiotika
kombinasi: ampisilin 2g IV tiap 6 jam ditambah gentamisin 5 mg/kgBB IV
setiap 24 jam. Untuk erminasi kehamilan, nilai serviks untuk menentukan cara
persalinan. Jika serviks matang: lakukan induksi persalinan denganoksitosin, jika serviks belum matang: matangkan dengan prostaglandin
dan infus oksitosin, atau lakukan seksio sesarea. Jika persalinan dilakukan
pervaginam, hentikan antibiotika setelah persalinan. Jika persalinan
dilakukan dengan seksio sesarea, lanjutkan antibiotika dan tambahkan
metronidazol 500 mg IV tiap 8jam sampai bebas demam selama 48 jam.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
38/44
Tatalaksana Khusus, jika terdapat metritis (demam, cairan vagina
berbau), berikan antibiotika. Jika bayi mengalami sepsis, lakukan
pemeriksaan kultur darah dan beri antibiotika yang sesuai selama 7-10 hari.
2. Perdarahan pascasalin
Perdarahan pascasalin primer terjadi dalam 24 jam pertama setelah
persalinan, sementara perdarahan pascasalin sekunder adalah perdarahan
pervaginam yang lebih banyak dari normal antara 24 jam hingga 12 minggu
setelah persalinan. Tanda dan gejala perdarahan pascasalin diagnosisnya
yaitu atonia uteri, robekan jalan lahir, retensio plasenta, sisa plasenta,
inversion uteri, rupture uteri, dan gangguan pembekuan darah.
Perdarahan pascasalin adalah perdarahan >500 ml setelah bayi lahir atau
yang berpotensi mempengaruhi hemodinamik ibu. Adapun faktornya,
yaitu:
a. Kelainan implantasi dan pembentukan plasenta: plasenta previa,
solutio plasenta, plasenta akreta/inkreta/perkreta, kehamilan ektopik,
mola hidatidosa.
b. Trauma saat kehamilan dan persalinan: episiotomi, persalinan per
vaginam dengan instrumen (forsep di dasar panggul atau bagian
tengah panggul), bekas SC atau histerektomi.
c. Volume darah ibu yang minimal, terutama pada ibu berat badan
kurang, preeklamsia berat/eklamsia, sepsis, atau gagal ginjal.
d. Gangguan koagulasi.
e. Pada atonia uteri, penyebabnya antara lain uterus overdistensi
(makrosomia, kehamilan kembar, hidramnion atau bekuan darah),induksi persalinan, penggunaan agen anestetik (agen halogen atau
anastesia dengan hipotensi), persalinan lama, korioamnionitis,
persalinan terlalu cepat dan riwayat atonia uteri sebelumnya.
Tatalaksana umum:
a. Panggil bantuan tim untuk tatalaksana secara simultan.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
39/44
b. Nilai sirkulasi, jalan napas, dan pernapasan pasien.
c. Berikan oksigen.
d. Pasang infuse intravena dengan kanul berukuran besar (16 atau 18)
danmulai pemberian cairan kristaloid (NaCl 0,9% atau
Ringer Laktat atau Ringer Asetat) sesuai dengan kondisi ibu. Pada saat
memasang infus, lakukan juga pengambilan sampel darah untuk
pemeriksaan.
e. Lakukan pengawasan tekanan darah, nadi, dan pernapasan ibu.
f. Periksa kondisi abdomen: kontraksi uterus, nyeri tekan, parut luka, dan
tinggi fundus uteri.
g. Periksa jalan lahir dan area perineum untuk melihat perdarahan dan
laserasi (jika ada, misal: robekan serviks atau robekan vagina).
h. Periksa kelengkapan plasenta dan selaput ketuban.
i. Pasang kateter Folley untuk memantau volume urin dibandingkan
dengan jumlah cairan yang masuk. (CATATAN: produksi urin
normal 0.5-1 ml/kgBB/jam atau sekitar 30 ml/jam).
j. Siapkan transfusi darah jika kadar Hb < 8 g/dL
atau secara klinis ditemukan keadaan anemia berat. 1 unit whole
blood(WB) atau packed red cells(PRC) dapat menaikkan
hemoglobin 1 g/dl atau hematokrit sebesar 3% pada dewasa normal.
Mulai lakukan transfusi darah, setelah informed
consentditandatangani untuk persetujuan transfuse.
Tatalaksana khusus:
a.
Lakukan pemijatan uterus.b. Pastikan plasenta lahir lengkap.
c. Berikan 20-40 unitoksitosin dalam 1000 ml larutan NaCl
0,9%/Ringer Laktat dengan kecepatan 60 tetes/menit dan 10 unitIM.
Lanjutkan infuse oksitosin 20 unitdalam 1000ml larutan NaCl
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
40/44
0,9%/Ringer Laktat dengan kecepatan 40 tetes/menit hingga
perdarahan berhenti.
d. Bila tidak tersedia oksitosin atau bila perdarahan tidak berhenti,
berikan ergometrin 0,2 mg IM atau IV (lambat), dapat diikuti
pemberian 0,2 mg IM setelah 15 menit, dan pemberian 0,2
mg IM/IV (lambat) setiap 4 jam bila diperlukan. JANGAN BERIKAN
LEBIH DARI 5 DOSIS (1mg)
e. Jika perdarahan berlanjut, berikan 1g asam traneksamat IV (boluss
selama 1 menit, dapat diulang setelah 30 menit).
f. Siapkan tindakan rujukan ke fasilitas yang lebih memadai sebagai
antisipasi bila perdarahan tidak berhenti.
3. Solusio plasenta
Solusio plasenta yaitu terlepasnya plasenta dari tempat
implantasinya. Adapun diagnosisnya:
a. Perdarahan dengan nyeri intermiten atau menetap.
b. Warna darah kehitaman dan cair, tetapi mungkin ada bekuan jika
solusio relatif baru.
c. Syok tidak sesuai dengan jumlah darah keluar (tersembunyi).
d. Anemia berat.
e. Gawat janin atau hilangnya denyut jantung janin.
f. Uterus tegang terus menerus dan nyeri
Tatalaksana umum:
a. Kasus ini tidak boleh ditatalaksana pada fasilitas kesehatan dasar, harus
dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Tatalaksana berikutini hanya boleh dilakukan di fasilitas kesehatan yang lengkap.
b. Jika terjadi perdarahan hebat (nyata atau tersembunyi) dengan
tandatanda awal syok pada ibu, lakukan persalinan segera: ika
pembukaan serviks lengkap, lakukanpersalinan dengan ekstraksi
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
41/44
vakum. Jika pembukaan serviks belum lengkap, lakukan persalinan
dengan seksio sesarea.
c. Waspadalah terhadap kemungkinan perdarahan pascasalin.
d. Jika perdarahan ringan atau sedang dan belum terdapat tanda-tanda
syok, tindakan bergantung pada denyut jantung janin (DJJ):
4. Distosia: Persalinan macet, persalinan tak maju, persalinan lama
Waktu persalinan yang memanjang karena kemajuan persalinan
yang terhambat. Persalinan lama memiliki definisi berbeda sesuai fase
kehamilan, seperti klasifikasi berikut ini:
a. Distosia pada kala I fase aktif: grafik pembukaan serviks pada
partograf berada di antara garis waspada dan garis bertindak, atau
sudah memotong garis bertindak.
b. Fase ekspulsi (kala II) memanjang: tidak ada kemajuan penurunan
bagian terendah janin pada persalinan kala II. Dengan batasan waktu
maksimal 2 jam untuk nulipara dan 1 jam untuk multipara atau
maksimal 3 jam untuk nulipara dan 2 jam untuk multipara bila pasien
menggunakan analgesia epidural
Tatalaksana umum yaitu Segera rujuk ibu ke rumah sakit yang
memiliki pelayanan seksio sesarea. Tatalaksana khusus, yaitu:
a. Tentukan penyebab persalinan lama.
b. Power: His tidak adekuat (his dengan frekuensi
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
42/44
f. Lakukan tindakan operatif (forsep, vakum, atau
seksio sesarea) untuk gangguan Passenger dan/atau Passage,
serta untuk gangguan Power yang tidak dapat diatasi oleh augmentasi
persalinan.
g. Jika ditemukan obstruksi atau CPD, tatalaksananya
adalah seksio sesarea.
5. Persalinan lewat waktu
Tatalaksana persalinan lewat waktu, yaitu:
a. Sedapat mungkin rujuk pasien ke rumah sakit.
b. Apabila memungkinkan, tawarkan pilihan membrane sweeping antara
usia kehamilan 38-41 minggu setelah berdiskusi
mengenai risiko dan keuntungannya.
c. Tawaran induksi persalinan mulai dari usia kehamilan 41 minggu
d. Pemeriksaan antenatal untuk mengawasi kehamilan usia 41-42 minggu
sebaiknya meliputi non-stress test dan pemeriksaan volume cairan
amnion.
e. Bila usia kehamilan telah mencapai 42 minggu, lahirkan bayi.
6. Hipertensi dalam kehamilan, preeclampsia, dam eklampsia
Hipertensi adalah tekanan darah sekurang-kurangnya 140 mmHg
sistolik atau 90 mmHg diastolic pada dua kali pemeriksaan berjarak 4-6
jam pada wanita yang sebelumnya normotensi. Bila ditemukan tekanan
darah tinggi (=140/90 mmHg) pada ibu hamil, lakukan pemeriksaan
kadar protein urin dengan tes celup urin atau protein urin 24 jam dan
tentukan diagnosis. Adapun diagnosisnya:a. Preeklampsia Ringan
1) Tekanan darah =140/90 mmHg pada usia kehamilan >20
minggu.
2) Tes celup urin menunjukkan proteinuria 1+ atau pemeriksaan protein
kuantitatif menunjukkan hasil >300 mg/24 jam
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
43/44
b. Preeklampsia Berat
1) Tekanan darah >160/110 mmHg pada usia kehamilan >20 minggu.
2) Tes celup urin menunjukkan proteinuria =2+ atau pemeriksaan protein
kuantitatif menunjukkan hasil >5 g/24 jam.
3) Atau disertai keterlibatan organ lain:
a) Trombositopenia (1,2 mg/dl
c. Eklampsia
1) Kejang umum dan/atau koma.
2) Ada tanda dan gejala preeclampsia.
3) Tidak ada kemungkinan penyebab lain (misalnya epilepsi, perdarahan
subarakhnoid, dan meningitis)
Adapun tatalaksana kasus, yaitu
1) Ibu hamil dengan preeklamsia harus segera dirujuk ke rumah sakit.
2) Pencegahan dan tatalaksana kejang.
a) Bila terjadi kejang, perhatikan jalan napas, pernapasan (oksigen),
dan sirkulasi (cairan intravena).
b) MgSO4 diberikan secara intravena kepada ibu
dengan eklampsia (sebagai tatalaksana kejang) danpreeklampsia berat (sebagai pencegahan kejang). Pada kondisi
di mana MgSO4 tidak dapat diberikan seluruhnya,
berikan dosis awal (loading dose) lalu rujuk ibu segera ke fasilitas
kesehatan yang memadai.
-
7/25/2019 Draft Modul Pelatihan APN
44/44
c) Lakukan intubasi jika terjadi kejang berulang dan segera kirim ibu ke
ruang ICU (bila tersedia) yang sudah siap dengan fasilitas
ventilator tekanan positif.