Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

of 106 /106
ERGONOMI Harpini

description

ppt

Transcript of Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Page 1: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

ERGONOMI

Harpini

Page 2: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

ERGONOMI

Apakah Ergonomi?

Asal kata Yunani:

Ergon (= kerja) & Nomos (=aturan/hukum)

jadi suatu aturan atau norma dalam sistem kerja

Page 3: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Ergonomi lNJT

• Mengapa Ergonomi? dari pengalaman setiap aktivitas / pekerjaan dilakukan bila tak secara ergonomis akan berakibat tak nyaman, biaya tinggi,kecelakaan dan PAK meningkat, performansi menurun penurunan efeisiensi & daya kerja

Page 4: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Ergonomi-2

• Dimana diterapkan? dimana saja, di rumah, perjalanan, lingkungan sosial, maupun tempat kerj

• Bila diterapkan? Kapan saja dalam 24 jam sehari semalam

Page 5: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

ERGONOMI LANJT

• Siapa yg harus menerapkan? Setiap komponen masyarakat, baik pekerja maupun masyarakat sosial perlu menerapkan ergonomi menciptakan kenyamanan, kesehatan, keselamatan dan produktivitas kerja setinggi-tingginya

• Bagaimana diterapkannya? Perlu mempelajari ergonomi secara detail.

Perlu rasa seni, agar dapat diterima oleh pemakainya dan memberi manfaat yg besar kepadanya

Page 6: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Definisi

• Ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yg digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik

Page 7: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Kualitas hidup pekerja (ILO)

1. Work should respect the workers ‘life and health

2. Work should leave the worker with free time for rest and leisure

3. Work should enable the worker to serve society and achieve self-fulfillment by developing his personal capacities

Page 8: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Ergonomi dalam sistem manajemen keselamatan kerja

Standar OHSAS-18001: salah satu persyaratan organisasi harus mengidentifikasi bahaya,

menilai resiko dari bahaya

menerapkan kontrol yang diperlukan.

Bahaya terkait ergonomisikap kerja.

Akibat yang mungkin muncul :

Gangguan muscoskeletal : pada otot, sendi, tendon, ligamen dan saraf.

Besarnya resiko bahaya tergantung pada :

• Berapa sering pekerjaan dilakukan dan

• Tingkat keparahan dari muscoloskeletal disorders.

Page 9: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Unsur ergonomi

• 1. Anatomi:

Antropometri (dimensi tubuh manusia) & biomekanik (aplikasi tenaga)

• 2. Fisiologi:

Fisiologi kerja: pengeluaran energi

Fisiologi lingkungan: efek lingkungan fisik

• 3. Psikologi:

Psikologi ketrampilan proses informasi & pembuatan keputusan

Psikologi kerja: training, usaha & perbedaan individu

Page 10: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Ilmu multi disiplin

Ergonomi

Ilmu Kesehatan & Biologi Ilmu Disain

Batasan & penjelasan Rancang tugas,tempat Kemampuan &

keterbatasan manusia kerja,sistim kerja

Page 11: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Antropometri

Ilmu mengenai pengukuran, massa, bentuk

dan keadaan inert tubuh

Antropometri merupakan data empiris

alamiah yang tergatung pada

metode/pengalaman mengukur berbagai

dimensi fisik dan kandungan lainnya pada

populasi yang spesifik

Page 12: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Penelitian-penelitian Ergonomi

• Biomekanik

• Antropometri

• Display

• Lingkungan kerja

Page 13: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Manfaat data antropometrik • Merupakan data statistik mengenai ukuran

manusia, massa dan bentuknya, yang dapat digunakan di tempat kerja, membuat tempat duduk, serta untuk keperluan desain peralatan kerja.

• Contoh ukuran penting: – tinggi badan

– jangkauan paling jauh

– duduk: lebar kursi,

tinggi lutut,

jarak lutut-bokong-meja

Page 14: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes
Page 15: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes
Page 16: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes
Page 17: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Ketinggian tempat kerja

• Upaya/aktivitas untuk pencapaian minimal , terutama beban otot statis pada gerakan tubuh saat bekerja, juga jangkauan penglihatan

• Kerja berat, terutama bila beban dibawah, diupayakan dibawah ketinggian siku

• Kerja yg perlu diskriminasi visual & koordinasi tangan/mata: perlu berada didekat daerah mata sedikit dibawah ketinggian bahu, untuk menstabilkan tangan diberi bantalan siku / pergelangan yg nyaman mengurangi beban otot bahu

Page 18: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Desain stasiun kerja

• Sikap kerja duduk: Keuntungan posisi duduk (Grandjean,1993): Pembebanan pd kaki, pemakaian energi & keperluan untuk

sirkulasi darah dapat dikurangi • Pekerjaan yg paling baik dilakukan dlm posisi duduk (Pulat,

1966): – Pekerjaan yg memerlukan kontrol dgn teliti pd kaki – Pekerjaan utama menulis/memerlukan ketelitian pd tangan – Tak perlu tenaga dorong yg besar – Obyek yg dipegang tak memerlukan tangan bekerja pd ketinggian

>15cm dari landasan kerja – Diperlukan kestabilan tubuh yg tinggi – Pekerjaan dilakukan dlm waktu lama – Seluruh obyek yg dikerjakan/disuplai masih dlm jangkauan dgn posisi

duduk

Page 19: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes
Page 20: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Ketinggian landasan kerja posisi duduk (Sanders

&Mc.Cormick,1987)

• Jika memungkinkan menyediakan meja yg dapat diatur turun & naik

• Landasan kerja harus memungkinkan lengan menggantung pd posisi rileks dari bahu, dgn lengan bawah mendekati posisi horizontal / sedikit menurun

• Ketinggian landasan kerja tak memerlukan fleksi tulang belakang yg berlebihan

Page 21: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Desain stasiun kerja sikap berdiri

• Pekerjaan yg paling baik dilakukan dgn posisi berdiri (Pulat,1992&Clark,1996):

– Tak tersedia tempat untuk kaki & lutut

– Harus memegang obyek yg berat (>4,5 kg)

– Sering menjangkau keatas, kebawah dan kesamping

– Sering melakukan pekerjaan menekan kebawah

– Diperlukan mobilitas tinggi

Page 22: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes
Page 23: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Desain stasiun kerja dgn sikap kerja dinamis

• Clark, 1996:

– Pekerjaan yg dilakukan dgn duduk suatu saat dan disaat lainnya berdiri saling bergantian

– Perlu menjangkau sesuatu >40 cm ke depan dan atau 15 cm diatas landasan kerja

– Tinggi landasan kerja dgn kisaran antar 90 cm- 120 cm, merupakan ketinggian yg paling tepat baik untuk posisi duduk maupun berdiri

Page 24: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes
Page 25: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Faktor resiko Ergonomi

sejumlah faktor resiko ergonomi yang erat

kaitannya dengan pembebanan fisik, yakni:

• Masalah postur kerja yang tidak normal

• Pekerjaan yang berulang (repetitif)

• Durasi kerja yang lama

• Pembebanan statis pada otot

• Tekanan kontak fisik

• Getaran

• Temperatur

Page 26: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

FAKT RESIKO…………

• Resiko-resiko di atas dapat menyebabkan terjadinya permasalahan ergonomi secara fisik, khususnya yang terkait dengan permasalahan sistema oto-rangka (muskuloskeletal disorder).

Page 27: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Faktor-faktor Risiko ergoomi

• Adalah unsur-unsur tempat kerja yang berhubungan dengan ketidaknyamanan dialami pekerja saat bekerja, dan jika diabaikan, lama-lama bisa menambah kerusakan pada tubuh pekerja diakibatkan kecelakaan. (UCLA-LOSH)

• Faktor resiko yang terpenting dari pengabaian faktor ergonomi dalam tempat kerja adalah MSDs (musculoskeletal disorders). MSDs ini memungkinkan timbul dalam waktu yang cukup lama (adanya kumulatif resiko).

Page 28: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Beberapa metode yang umum digunakan

Beberapa metode sudah banyak dikembangkan

untuk mengevaluasi faktor resiko tersebut yang

ada pada suatu pekerjaan.

• NIOSH Lifting Guide

• Rapid Upper Limb Assessment

• Rapid Entire Body Assessment

• Quick Expossure Checklist

• dan sebagainya.

Page 29: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

NIOSH Lifiting Guide

• Merupakan panduan dalam aktivitas penanganan material (material handling), khususnya yang berkaitan dengan aktivitas pengangkatan (lifting) dan penurunan (lowering)

• Beban maksimum yang dapat diangkat oleh seseorang pada kondisi “ideal” adalah sebesar 23 kg.

• Resiko cedera jika nilai Lifting Index (LI) > 1

Page 30: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Rapid Upper Limb Assessment (RULA) (Prof E.N. Corlett dan Dr L. McAtamney pada tahun 1993)

• Mengevaluasi postur kerja pembebanan fisik yang diterima oleh tubuh bagian atas (upper limb), meliputi leher, lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan, dan badan bagian atas (trunk).

• Banyak membutuhkan aktivitas pada tubuh bagian atas

• Contoh: pekerjaan merakit komponen elektronik, menjahit, merakit komponen manufaktur yang berukuran relatif kecil, inspeksi, dan sebagainya

Page 31: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Rapid Entire Body Assssment (REBA)

• Metode ini relatif sama dengan metode RULA, namun aspek tubuh yang dievaluasi oleh metode ini lebih pada seluruh tubuh.

• Metode ini dikembangkan oleh Sue Hignett dan Lynn Mc Atamney pada tahun 2000.

• Pekerjaan yang melibatkan aktivitas seluruh anggota badan bisa dievaluasi dengan menggunakan metode ini.

Page 32: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Quick Expossure Checklist (QEC)

• Metode ini selain melibatkan observer sebagai orang yang mengevaluasi pekerjaan, juga melibatkan pekerja yang dievaluasi untuk ikut mengevaluasi pekerjaannya.

• Evaluasi 2 arah ini selanjutnya akan memberikan hasil evaluasi terhadap suatu pekerjaan.

Page 33: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Kelainan trauma kumulatif (Cummulative trauma disorders/CTDs)

= “tekanan berulang” telah teridentifikasi berdasarkan keterangan-keterangan penyakit yang menggambarkan pekerjaan spesifik (Konz, 1990):

bahu tukang angkat batu bata, ibu jari pengawas binatang, pergelangan tangan tukang jahit, dan kram seorang telegrafis

Page 34: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Kondisi berhubungan gerak berulang (repetitive motion)

• Tunnel syndrome, syndrome, epicondylitis, DeQuervain’s syndrome, thoracic outlet, shoulder tendinitis, cubital tunnel, ganglion, tendinits, tendosynovitis, ulnar nerve entrapment, white finger, trigger finger, neck tension, pronator teres syndrome (Kroemer, 1997).

Page 35: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Permasalahan punggung

• Disinyalir berhubungan dengan pekerjaan dimana pekerjanya menangani beban yang berat dengan menggunakan cara yang buruk,

• Kelainan ekstremitas atas lebih sering dihubungkan dengan gerakan berulang (Graves, 1992). I

• Insiden kecelakaan punggung belakang dapat dikurangi dengan pekerjaan yang kembali didisain menurut ergonomic (Swartz, 1992).

Page 36: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Mana yang benar?

Page 37: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Posisi bekerja

Page 38: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

The US Bureau of Labor Statistics melaporkan pada tahun 1994

• Cumulative Trauma Disorders (CTDs) terhitung sebanyak 6.8% daripada kecelakaan biasa dan kesakitan di perusahaan-perusahaan di Amerika(Kohn, 1994)

Page 39: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

• Pabrik-pabrik peralatan, industry kendaraan, industry maskapai penerbangan, toko-toko sembako, industry pengepakan daging, dan pembuat pakaian pria dan wanita menyumbangkan jumlah tertinggi yang terkena injuri (Kinsella et al, 1995; Grant et al, 1993; Johansson et al, 1993; Orgel et al, 1992; Harber et al, 1992).

• The Department of Labor’s Bureau of Labor Statistics mencatat bahwa casus trauma berulang meningkat 13% selama 12 tahun terakhir (Kinsella et al, 1995).

Page 40: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

• Perawat dan asisten perawat memiliki insiden tinggi atas cedera punggung yang dihasilkan dari aktivitas mengurusi pasien (Garg & Owen, 1992; Chavalitsakulchai & Shahnavarez, 1991; Garg et al, 1992).

– LATIHAN dalam teknik mengangkat yang benar, penggunaan lift untuk pasien, dan mencegah tekanan serta postur abnormal bisa mnurunkan insiden cedera.

Page 41: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Siapa yang memiliki resiko ?

Karyawan kantor

Pekerja dengan aktivitas

berat

Ibu rumah tangga

Page 42: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Kegiatan yang beresiko

• Meliputi pekerjaan yang berulang, pergerakan yang cepat, pembebanan otot , dan penggunaan gaya berlebih pada frekuensi yang sedikit, getaran, serta postur yang tidak benar.

• Postur dan penggunaan gaya berlebih adalah faktor yang paling signifikan (Kroemer, 1993).

Page 43: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

UCLA-LOSH (bagian K3 UCLA), beberapa faktor risiko berhubungan dengan ergonomi

• Pengaturan kerja yang buruk (Poor Work Organization):

• Aspek-aspek dimana suatu pekerjaan diorganisasikan dengan buruk. (contoh tugas yang membosankan, pekerjaan menggunakan mesin, jeda kerja yang kurang, batas waktu yang banyak)

• Solusi: Beban kerja yang proporsional, jeda kerja yang cukup, penugasan yang bervariasi, otonomi individual. olusi

Page 44: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

• Pengulangan Berkelanjutan

(Continual Repetition)

• Melakukan gerakan yang sama secara terus menerus

• Solusi : Kurangi gaya dalam menyelesaikan pekerjaan, disain ulang pekerjaan, tambah pekerja, gunakan bantuan mesin

Page 45: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

• Postur Janggal

(Awkward Posture)

• Meperpanjang pencapaian dengan tangan, twisting, berlutut, jongkok. Postur janggal lawan dari posisi netral.

• Solusi: Disain pekerjaan dan peralatan yang dapat menjaga posisi netral. Posisi netral tidak semestinya memberikan tekanan pada otot, tulang sendi, maupun syaraf. lusi:

Page 46: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

• Tekanan Langsung Berlebih

(Excessive Direct Pressure)

• Tubuh kontak langsung dengan permukaan keras atau ujung benda, seperti ujung meja atau alat.

• Solusi: Hindari tubuh berpijak pada permukaan yang keras seperti meja dan kursi. Perbaharui peralatan atau sediakan bantalan; seperti pulpen ergonomis, keset untuk berdiri.

Page 47: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

• Pencahayaan yang inadekuat

(Inadequate Lighting)

• Sumber atau level dari pencahayaan yang terlalu terang atau gelap.

• Solusi: Setel pencahayaan yang pas, hindari pencahayaan langsung dan tak langsung yang dapat mengakibatkan kerusakan mata. Gunakan sekat cahaya silau, tirai untuk jendela.

Page 48: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

WHO, faktor-faktor risiko berhubungan dengan ergonomi kerap menimbulkan MSDs

(Musculoskeletal Disorders)

• Exertion of high-intensity force Keram otot cth: mengangkat, membawa, mendorong, menarik objek yang berat

• Solusi:

– Hindari penanganan manual atas objek yang berat

Page 49: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

• Handling heavy loads over long periods of time Penyakit degenerative khususnya pada lumbar tulang belakang

• Mengenakan alat-alat berat secara manual

• Solusi: Kurangi masa beban dan jumlah penanganan setiap harinya

Page 50: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

• Frequently repeated manipulation of object

Lelah dan perubahan struktur otot

• Mengetik terlalu lama

• Solusi: Kurangi frequensi pengulangan

Page 51: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

• Working in unfavorable posture

• Gangguan pada tulang dan unsure-unsur otot

• Bekerja sambil jongkok, atau tangan diatas bahu

• Solusi: Bekerja dengan tubuh yang tegak dan tangan dekat dengan tubuh

Page 52: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

• Static muscular load

• Aktivitas otot yang tiada jeda dan memungkinkan overload

• Bekerja di confined space

• Solusi :Relaksasi otot

Page 53: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

• Muscular inactivity

• Hilang kapasitas fungsional otot, tendon, tendon, dab tulang

• Duduk lama tanpa adanya pergerakan

• Solusi: Sesekali berdiri, peregangan otot, olahraga

Page 54: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

• Monotonous repetitive manipulations

• Keluhan tidak spesifik pada bagian ekstremitas atas

• Pekerjaan berulang pada otot yang sama tanpa adanya relaksasi

• Solusi:Jeda aktivitas dan kerja

Page 55: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

• Application of vibration

• Disfungsi sistem syaraf, menghambat aliran darah, penyakit degenerative

• Menggunakan hand-tool, duduk diatas kendaraan yang bergetar,

• Solusi: Gunakan alat serta tempat duduk yang meredam getaran

Page 56: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

• Physical environmental factor

• Interaksi dengan beban mesin serta penambahan resiko

• Mengangkat es batu dengan tangan terbuka

• Solusi: Gunakan sarung tangan

Page 57: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

• Psychosocial factors

• Peningkatan tegangan fisik, meningkat pada ketidakhadiran dalam bekerja

• Penentuan keputusan yang rendah dalam bekerja, dukungan sosial yang rendah

• Solusi: Rotasi kerja, motivasi kerja, pengurangan faktor negative dalam sosial

Page 58: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Evaluasi keperluan pekerjaan

• Analisa masalah

• Pengukuran apakah yg dikerjakan seseorang

• Pengukuran dan respons fisiologik serta psikofisikal pada evaluasi keperluan pekerjaan

Page 59: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

MASALAH

• Pekerjaan/tempat kerjakarakterisasi masalah & pemecahan

• Individucari hubungannya, disain ulang, bila perlu konsultasi individu

• Situasional:

supervisi

tekanan produksi

peraturan (mis. kemungkinan untuk pekerjaan yg setara)

edukasi setelah masalah teridentifikasi

Page 60: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Analisa mismatch/ kesesuaian ergonomi otomotive

Eko Nurmianto (2009) ERGONOMI OTOMOTIF : Konsep dasar, desain dan

aplikasinya

60

Page 61: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Analisa Faktor untuk penilaian beban kerja fisik

• Biomekanik jangkauan berat tenaga & tenaga putaran dimensi objek • Gerakan frekuensi derajat putaran durasi ketrampilan/keperluan koordinasi (kompleksitas)

Page 62: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Lanjutan analisa faktor

• Analisa waktu aktifitas

pola aktifitas pd shift

distribusi aktifitas fisik berat & ketat

waktu untuk melaksanakan tugas(untuk menilai tekanan waktu)

Frekuensi adanya kebutuhan aktivitas yg berlebihan

Page 63: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

• Back Injuries are the 2nd-most

common workplace problem

• A back injury costs an average of

$11,645 in medical claims and lost

time wages.

National Safety Council

• Most back injuries can be prevented

Page 64: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Lever effect -- can

magnify weight by factor

of up to 10 (40 lbs.)

(200 lbs.)

Maximum Safe Lifting

Weight = 51 lbs.

National Safety Council

10 lbs.

100 lbs.

Page 65: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Use Your Head and Save Your Back!

•STAND

close to

the load

•Bend

your

knees -

not

your back!

•Let

your

legs do

the lifting

Get Help

with

heavy or

awkward

loads!

Use

the

right

tools!

Means

using your

head!

Page 66: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes
Page 67: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Carrying the load…

• Hold the load close so you can see over it.

• Keep the load balanced.

• Avoid twisting the body

• Watch out for pinch points -- doorways, etc.

• Face the way you will be moving.

Page 68: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes
Page 69: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Mengangkat barang/beban

Page 70: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Benar atau salah?

Page 71: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Cara mendorong

Page 72: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Les meilleures photos de L'année 2005

D'après NBC

FAAL KERJA

Page 73: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Definisi

• Ilmu tentang fisiologi tubuh manusia saat

bekerja

• Bekerja merupakan hasil koordinasi dari kerja sama indera, otak, syaraf dan otot yang ditunjang oleh kerja jantung, paru, ginjal dan lain-lain

Page 74: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Aktifitas tubuh utama

* gerakkan tubuh/anggota tubuh

utk jalan/lari

* pindahkan/bawa obyek

* pertahankan sikap tubuh

Page 75: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Jenis gerakan tubuh

• Dinamik

otot memendek & memanjang, ritmik

(konsentrik) (eksentrik)

• Isometrik : panjang otot tetap

Isotonik : kekuatan otot tetap

Intermiten : kerja otot dinamik/statik satu periode tertentu, lalu istirahat, baru kerja lagi

Page 76: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Perbedaan Kerja otot statis dan dinamis

Statis Dinamis

• kontraksi tetap berirama

• aliran darah terhambat

dipompa

• energi >> energi<

Page 77: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes
Page 78: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes
Page 79: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Kriteria kerja statis

• kerja ringan selama 4 menit/ lebih

• kerja sedang selama 1 menit/ lebih

• kerja berat selama 10 detik atau lebih

Contoh :

• menggendong, menjinjing, membawa

dg lengan mendatar, berdiri satu

kaki, menekan pedal, mendorong,

menekan, menjangkau lama

Page 80: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Efek kerja statis

• tekanan kurang

dari 15 - 20 % ,

normal tanpa

keluhan

• tekanan 15 - 20 %,

keluhan nyeri

setelah beberapa

hari kerja

• tekanan 60 %,

aktivitas terganggu

Page 81: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

KERJA OTOT

• Organ utama kerja fisik • Kontraksi & relaksasi • Ditentukan oleh : jumlah serat,

daya kontraksi & kecepatan kontraksi

• Kerja statis & dinamis • Perlu Phospat Energi Tinggi

Berkas • Riwayat berkas • Pranala

Page 82: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes
Page 83: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Muscle tension varies with muscle length

Page 84: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Kontraksi otot

• Stimulasi otot untuk membangun tenaga merupakan proses elektrokimiawi (Layzer &Rowland,1971, Winter,1979)

• Aktivasi dilaksanakan oleh sinyal listrik dari CNS yaitu akson motor neuron, sehingga menimbulkan kontraksi otot

• Meski tidak ada hubungan fisik antara akson dan serabut otot, tetapi adanya transmiter kimiawi (asetilkoline) dapat mengaktifkan serabut otot pada motor end plate atau junction mioneural, kemudian terjadi kontraksi & tenaga, sehingga kerja dapat terealisasi

Page 85: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Gerakan otot Otot memegang beberapa peranan pd tubuh: • Otot pemicu tenaga primer untuk gerakan spesifik

disebut pemicu primer atau agonis, misal biseps brachii pemicu primer untuk gerakan fleksi siku

• Otot dapat juga berperan sebagai antagonis yg berkontraksi menimbulkan gerakan berlawanan dgn agonis, contoh otot triseps lengan atas antagonis biseps saat fleksi siku, sedangkan biseps antagonis triseps sewaktu ekstensi siku

• Otot dapat juga sebagi stabilisator memfiksasi tubuh atau mensuport tulang/tubuh, sehingga otot lain yg aktif dapat fiksasi menarik

• Otot bisa juga bersinergi, kerja bersama dgn otot lain untuk menimbulkan gerakan yg diinginkan

Page 86: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Kapasitas fisik

• kemampuan orang untuk menerima

beban fisik saat kerja

• dipengaruhi : somatik, pekerjaan,

psikis, lingkungan & adaptasi/ latihan

• parameter :

denyut jantung, tekanan darah, irama

pernapasan, suhu tubuh, kebutuhan

kalori, kebutuhan O2

Page 87: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes
Page 88: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

PRODUKTIVITAS KERJA

FISIOLOGI

TUBUH

PERFORMA TUBUH

LINGKUNGAN

BEBAN

KERJA

KAPASITAS

KERJA

FAKTOR

PSIKOLOGIS LATIHAN

Page 89: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

SISTEM SIRKULASI SAAT KERJA

• Kerja berakibat perubahan uptake oksigen oleh jantung dan paru.

• Kemampuan kerja terkuat dipengaruhi oleh jumlah maksimum oksigen.

Page 90: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes
Page 91: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Pengukuran kemampuan aerobik

Kemampuan kebugaran fisik terhadap kerja

dapat diukur dengan:

• Maximum aerobic power:

uptake O2 permenit (max.VO2), saat eksersise dinamik dgn kelompok otot besar

• Setelah mencapai aerobic power, maka diperlukan proses adaptasi sebelum siap untuk melakukan kerja

Page 92: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

VENTILASI PULMONAL SAAT KERJA

• Gerakan massa gas keluar masuk paru untuk mencukupi metabolisme

• Perkalian antara kecepatan pernapasan dengan nilai rata-rata tidal volume yang ekspirasikan

• Normal 10-20 x/menit • Dalam & kecepatan napas

seimbang (anak:dewasa ; latihan:tidak)

Page 93: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Pembatasan napas

Kebutuhan O2

• Istirahat : 0,5-1 ml O2/l ventilasi

• Naik 10 kali saat kerja

• Ventilasi pulmonal kerja sangat berat > ventilasi pembebanan maksimal

Page 94: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

GINJAL SAAT KERJA

• Dipengaruhi oleh aliran darah ke ginjal

• Penurunan berarti bila HR 135-140x/menit atau 50%

• Hypohydrasi kerja di lingkungan panas

• Komponen fungsi ginjal:

1. GFR

2. Volume urin

Page 95: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

GINJAL...............

3. Sekresi zat terlarut turun

4. Amonia meningkat hingga 30 menit kerja

selesai

5. Ph turun hingga 30 menit usai kerja

6. Protein

• Normal setelah 1 jam

Page 96: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

PENCERNAAN

• Saat kerja terjadi pengurangan gerakan & sekresi lambung bertambah sesuai kerja

• Disebabkan oleh aktivitas simpatik & parasimpatik

• Normal kembali setelah 1-2 jam kerja

Page 97: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Ritme biologik

Terdapat tiga tipe ritme biologik mayor:

• Ritme ultradian: dgn frekuensi<1 siklus/20 jam cth diantara interval 90 menit dari REM (rapid eye movement) pd saat tidur.

• Ritme infradian: periodenya >28jam, cth siklus menstruasi

• Ritme sirkadian (Halberg): ritme biologik yg berkisar pd frekuensi mendekati 24 jam/hari.

Page 98: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Ritme sirkadian

Berbagai parameter fisiologik, psikologik, dan

behavioral, mengikuti ritme sirkadian:

Suhu tubuh, serum dan kortikostreoid urine, elektrolit, fungsi kardiovaskuler, sekresi enzim gaster, hitungan lekosit, kekuatan otot, keadaan siaga, suasana hati, memori jangka pendek dan panjang

Page 99: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes
Page 100: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Fungsi fisiologik

Fungsi fisiologik manusia ritmik dlm periode 24 jam, disebut irama kesiagaan harian atau “ritme sirkadian”

Fase terendah: malam hari menjelang pagi (pk04.00), kemudian meningkat secara berangsur-angsur, dan

Mencapai puncaknya pada siang hari,

Lalu turun kembali perlahan-lahan

Page 101: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Fase tubuh manusia

Tubuh manusia selama 24 jam mempunyai 2 fase, yaitu:

• siang hari fase ergotropik dimana semua organ dan fungsi faali siap bekerja; dan

• Fase pemulihannya (tropotropik) pd malam hari

Page 102: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Variabel ukuran ritme sircadian

• Suhu tubuh

• Tekanan darah

• Produksi adrenalin

• Kecepatan denyut jantung

• Mental abilities

• Volume pernafasan

• Ekskresi 17 ketosteroid

• Kapasitas fisik

Page 103: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Kerja shift

• Jenis pekerjaan yg menuntut kontinuitas, memerlukan pekerja yg bekerja selama 24 jam terus menerus (diluar jam kerja normal) dan dibagi dlm beberapa shift kerja.

• Mungkin dapat berpengaruh terhadap ritme biologik endogen pekerja, dan mengacaukan sistem ritme sirkadian.

Page 104: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Aspek sosial kerja shift

• Shift berarti gangguan pd kehidupan berkeluarga, karena adanya perbedaan jadwal kerja sehingga sulit utk berkumpul dan melakukan kegiatan bersama,

• Juga berpengaruh pd pergaulan/kontak sosial dgn kawan, karena harus kerja saat liburan/akhir pekan.

Page 105: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Jam kerja

• Jam kerja harian yg melebihi 8 jam/hari, akan menurunkan hasil kerja setiap jamnya, dan meningkatkan angka abssensi sakit, serta kecelakaan.

• Dalam 1 minggu 40 jam kerja dapat selama 5 hari, sehingga ada waktu utk istirahat 2 hari.

Page 106: Dr. Harpini.ergoNOMI Hiperkes

Terimakasih