Document 2

Click here to load reader

  • date post

    28-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    267
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of Document 2

Definisi | Pengertian | Arti dan IstilahKumpulan Definisi, Pengertian, Arti, Istilah, Definisi Menurut Para Ahli, Pengertian Menurut Pakar, Yang bersumber dari Buku, Majalah, Koran dan Internet. Home Pengertian Agama Pengertian Belajar Pengertian Data Pengertian Kurikulum Pengertian Ilmu Pengertian Pendidikan

Browse Home Pengertian Menulis Pengertian Menulis

Sunday, April 4, 2010

Pengertian Menulis

Definisi dan Pengertian Menulis Menulis merupakan sebuah proses kreatif menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis untuk tujuan, misalnya memberi tahu, meyakinkan, atau menghibur. Hasil dari proses kreatif ini biasa disebut dengan istilah karangan atau tulisan. Kedua istilah tersebut mengacu pada hasil yang sama meskipun ada pendapat mengatakan kedua istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Istilah menulis sering melekatkan pada proses kreatif yang berjenis ilmiah. mengarang sering dilekatkan pada proses kreatif yang berjenis nonilmiah. Sementara istilah

Menulis dan mengarang sebenarnya dua kegiatan yang sama karena menulis berarti mengarang (baca: menyusun atau marangkai bukan menghayal) kata menjadi kalimat, menyusun kalimat menjadi paragraf, menyusun paragraf menjadi tulisan kompleks yang mengusung pokok persoalan.

Pokok persoalan di dalam tulisan disebut gagasan atau pikiran. Gagasan tersebut menjadi dasar bagi berkembangnya tulisan tersebut. Gagasan pada sebuah tulisan bisa bermacam-macam, bergantung pada keinginan penulis penulis. Melalui tulisannya, penulis bisa mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan, pendapat, kehendak dan pengalaman. Menulis sebagai keterampilan adalah kemampuan seseorang dalam mengemukakan gagasanpikirannya kepada orang atau pihak lain dengan dengan media tulisan. Setiap penulis pasti memiliki tujuan dengan tulisannya antara lain mengajak, menginformasikan, meyakinkan, atau menghibu pembaca.

Referensi: Buku Penuntun Perkuliahan Bahasa Indonesia Karangan Daeng Nurjamal, S.Pd dan Warta Sumirat, M.Pd halaman 68. TAGS: Pengertian menulis, Definisi menulis, Istilah menulis

http://definisi-pengertian.blogspot.com/2010/04/pengertian-menulis.html

idayati, Lilik. 2010. Peningkatan Kemampuan Menulis Kalimat Sederhana Melalui Media Kartu Kata Pada Siswa Kelas II SDI Daarul Fikri Dau Malang. Skripsi S1 PGSD, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing I : Drs. M. Thoha AR, S.Pd, M.Pd. Pembimbing II: Drs. Rumidjan, M.Pd.

Kata Kunci: Kemampuan Menulis , Kalimat Sederhana, Media Kartu Kata

Sesuai dengan kompetensi dasar menulis dan kompetensi dasar kalimat, siswa kelas II SD diharapkan sudah mampu membuat kalimat dengan baik dan benar baik secara lisan maupun tulisan. Siswa diharapkan mampu mengungkapkan pikiran dan perasaannya dalam bentuk kalimat sederhana. Namun di SDI Daarul Fikri Dau Malang siswa kelas II seringkali mengalami kesulitan dalam membuat kalimat, terutama dalam bentuk tulisan. Jika diminta menulis kalimat, siswa kesulitan untuk menuangkan gagasan dalam pikirannya menjadi sebuah kalimat. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimanakah penggunaan media kartu kata untuk meningkatkan kemampuan menulis kalimat sederhana pada siswa kelas II SDI Daarul Fikri Dau Malang?, dan (2) apakah penggunaan media kartu kata dapat meningkatkan kemampuan menulis kalimat sederhana siswa kelas II SDI Daarul Fikri Dau Malang? Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penggunaan media kartu kata untuk meningkatkan kemampuan menulis kalimat sederhana pada siswa kelas II SDI Daarul Fikri Dau Malang, dan (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis kalimat sederhana siswa kelas II SDI Daarul Fikri Dau Malang. Data dari penelitian ini diperoleh melalui observasi , wawancara, dokumentasi dan tes. Teknik observasi digunakan untuk mengamati gejala-gejala yang tampak dalam proses pembelajaran tentang

keaktifan siswa, keberanian siswa dan kerjasama siswa dalam proses pembelajaran. Teknik wawancara digunakan untuk mengetahui kesan-kesan dan perasaan siswa ketika belajar menulis kalimat sederhana menggunakan media kartu kata. Teknik dokumentasi digunakan untuk mendokumentasikan data tentang proses pembelajaran yang menggambarkan langkah-langkah kongkrit yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran. Sedangkan tes digunakan untuk mengumpulkan data tentang kemampuan siswa mengerjakan soal evaluasi yang berhubungan dengan menulis kalimat sederhana. Berdasarkan hasil penelitian, Penggunaan media kartu kata dapat meningkatkan kemampuan menulis kalimat sederhana pada siswa kelas II SDI Daarul Fikri Dau Malang. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan yang terjadi setelah diberi tindakan pada siklus I dan siklus II, yaitu peningkatan aktifitas belajar siswa sebesar 15,17 (9,75 %) dan peningkatan hasil belajar siswa sebesar 8,77 (5,56 %). Disarankan pada guru kelas II agar lebih meningkatkan kreatifitasnya dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya materi menulis kalimat sederhana. Misalnya dengan memanfaatkan media kartu kata, karena media kartu kata terbukti dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa dalam menulis kalimat sederhana.

MAKALAH KEMAMPUAN SISWA SD DALAM MEMAHAMI NARASI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sala satu pembelajaran yang diharapkan dapat dikuasai oleh murid sekolah dasar murid sekolah dasar, yaitu pembelajaran memahami cerita (narasi). Cerita merupakan karya sastra berbentuk prosa singkat padat dan unsur ceritanya berpusat pada satu peristiwa pokok sehingga jumlah tokoh dan pengembangan perilaku terbatas pada keseluruhan cerita, serta memberikan kesan tunggsl. Memahami cerita atau narasi merupakan salasatu kompetensi di bidang kesastraan yang harus dikuasai oleh murid. Cerita atau narasi merupakan salah satu karya sastra yang banyak diminati dikalangan murid, khususnya murid sekolah dasar karena karya estetis yang bermakna. Keestetisannya itulah sehingga perlu diajarkan dan diatanamkan agar murid mampu menafsirkan dan memahami melalui kegiatan kegiatan apresiasi. Memahami cerita/narasi merupakan kegiatan apersepsi yang bertujuan

mengauli cerita sehingga rasa peka terhadap karya sastra, khususnya cerita. Hal ini diharpkan agar siswa mampu memahami dan memberi makna terhadap cerita. Sebuah cerita atau narasi didalamnya terdapat misi yang diemban oleh penulis, yaitu pesaan moral yang ingin disampaikan kepada pembaca. Pesan-pesan itu banya berkaitan dengan perilaku dan tatanan kehidupan masyarakat, khususnya murid yang harus dibentuk perilakunya kearah yang lebih positif . untuk mencapai hal tersebut dapat dilakukan dengan melalui pembelajaran narasi disekolah dasar. Fenomena yang terlihat saat ini yaitu murid mempelajari cerita guna memahami tujuan pembelajaran. Dampaknya adalah murid tidak dapat menikmati nilai-nilai estetis yang terkandung dalam cerita. Padahal, cerita merupakan salah satu bentuk proses yang sering diajarkan di sekolah dasar. Akan tetapi, kemampuan murid mengapresiasi cerita masih minim. Hal ini dapat diamati melalui hasil penelitian Ramli (2006) yang menunjukkan bahwa hasil belajar siswa, khususnya memahami cerita masih kurang. Hal ini disebabkan oleh pembelajaran cerita saat ini sarat dibekali teori, tetapi bimbingan apresiasi dan menggaulnya masih kurang. Akhirnya, ketika murid diminta mengapresiasi dan menginterpretasi sebuah cerita untuk menemukan pesan yang terdapat di dalam tindak sesuai dengan harapan.

Berdasrkan uraian tersebut, kegiatan apresiasi cerita sangant penting disosialisasikan pada lingkungan pembelajaran sastra yang menggunaka bahasa sebagai medianya. Pembelajaran cerita dikelas menurut guru untuk selalu memancing dan memekarkan asosiasi setiap murid yang terlibat dalam proses apresiasi sehingga dapat berkembang dan mencapai hasil yang diinginkan. Keberlangsungan kegiatan memahami cerita di sekolah ditentukan oleh pengajar dan murid itu sendiri. Guru sebagai pembelajar harus mampu memberikan pemahaman kepada murid agar mudah memahami proses belajar di lingkungan sekolah dan di luar sekolah, utamanya pada kegiatan memahami cerita itu sendiri sebagai modal awal dalam kegiatan mengembangkan kemampuan siswa di bidang sastra. Adanya kesulitan-keulitan yang diaalami oleh murid dalam memahami cerita tersebut diduga sebagai akibat pelaksanaan pembelajaran yang masih terikat dengan pengunaan strategi konvensional dalam pembelajaran. Dalam strategi itu, murid diperlakukan secara klasikal pada saat pembelajaran berlangsung. Akibatnya, murid tidak mengetahui

keterbatasan kemampuanya dalam setiap sajian materi pembelajaran. Selain itu, murid tidak mendapat kesempatan untuk saling berbagi pengalaman dan kemampuan antar sesama dalam proses pembelajaran.

Faktor lain yang diduga menjadi penyebab rendahnya pemahaman murid adalah guru tidak sepenuhnya melakukan kegiatan yang

mendukung proses pembelajaran pada saat pembelajaran

berlangsung.

Dalam hal ini, ketergantungan guru terhadap penilaian hasil belajar masih tinggi . Sementara itu, penilaian proses belajar belum dilembagakan secara maksimal padahal, idealnya adalah ada keseimbangan antara penilaian proses dan penilaian hasil dalam pembelajaran. Faktor-faktor diatas menuntut guru untuk melakukan inovasi dalam pembelajaran memahami cerita. Dalam hal ini, diperlukan teknik yang tepat digunakan dalam pembelajaran murid pada aspek tersebut. Teknik pembelajaran yang memberi harapan bagi pemecahan masalah tersebut adalah teknik yang memiliki ciri adanya interaksi kelas dalam pembelajaran, baik interaksi antar siswa, maupun antara dan siswa. Hal tersebut sejalan dengan pendapat bahwa kegagalan

pengajaran bahasa dan sastra Indonesia dapat dilihat dari beberapa komponen pengajaran, seperti guru, murid, kurikulum, teknik mengajar

dan bahan pengajaran (Hastuti 2000:1) dengan demikian seorang guru yang terampil tentu