Disintegrasi Timor Leste dan Sudan Selatan

of 22

  • date post

    19-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    866
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of Disintegrasi Timor Leste dan Sudan Selatan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Disintegrasi berasal dari kata dis yang berarti tidak dan integrasi yang berarti menyatu. Sementara itu, fenomena disintegrasi merupakan pecahnya atau lepasnya suatu bagian negara atau wilayah dari suatu negara dan kemudian berdiri sendiri menjadi sebuah negara yang merdeka. Disintegrasi, secara harfiah, dipahami sebagai perpecahan suatu bangsa menjadi bagian-bagian yang terpisah1. Baru-baru ini, terjadi peristiwa disintegrasi Sudan Selatan dari Sudan Utara. Hampir 100 persen warga Sudan Selatan memilih untuk berdisintegrasi dan mendirikan negara baru untuk mengakhiri konflik sipil yang berlangsung selama puluhan tahun. Daerah ini berpenduduk mayoritas etnis Afrika hitam (Nubia) dengan agama Kristen, berbeda dengan Sudan Utara yang berada di sub-Sahara bagian utara yang bercorak gurun sahara serta berpenduduk etnis Arab-Islam. Karakteristik geografis dan iklim yang kontras antara Sudan Selatan dan dunia Arab itu, ditambah lagi dengan perbedaan agama, etnis, bahasa, budaya, dan latar belakang sejarah, membuat dua wilayah di Sudan ini tak pernah merasa dekat. Sudan Selatan cenderung lebih dekat dengan Afrika ketimbang dunia Arab (Timur Tengah)2. Usaha pemisahan sudah dirintis sejak 50 tahun lalu melalui berbagai cara bahkan perang saudara. Sudan Selatan telah mengorbankan jutaan penduduknya termasuk yang tewas dan luka-luka dalam peperangan. Pada 9 Juli 2011, Sudan Selatan resmi menjadi negara Afrika ke-54, setelah referendum digelar dalam kerangka kesepakatan damai, dan 95% memilih untuk merdeka3. Peristiwa ini merupakan puncak dari penyelesaian konflik dan perang sipil yang terjadi di tubuh Sudan. Tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Sudan tahun 2011 lalu, pada tahun 1998 Indonesia juga mengalami hal yang serupa pada Timor Timur (atau disebut juga dengan nama Timor Lorosae, dan sekarang disebut dengan nama Timor Leste). Dahulunya, Timor Timur merupakan kepemilikan dari Portugal, dan kerap kali disebut sebagai "Propinsi Seberang Lautan" oleh Portugal4. Pada tubuh Portugal tahun 1960-an terjadi pergantian kekuasaan, yang berarti juga pergantian ideologi yang dianut. Diktator Salazar jatuh dan digantikan oleh Marcello Gaetano menyebabkan munculnya ide-ide mengenai liberalisasi dan diizinkannya Portugal untuk mengikuti organisasi1

2

3

4

G.R. Sumantri, Disintegrasi Bangsa, 29 Desember 2009, , diakses pada 30 November 2011 Majalah Berita Indonesia, Demi Ketentraman Sudan, 06 Februari 2011, , diakses pada 30 November 2011 BBC Indonesia, Sudan Selatan Resmi Merdeka, 9 Juli 2011, , diakses pada tanggal 30 November 2011 E.M. Tomodok, Hari-Hari Akhir Timor Portugis, Pustaka Jaya, Jakarta, 1994, p. 10

1

organisasi politik di luar pemerintahan. Ini juga memberikan tempat bagi Propinsi Seberang Lautan untuk turut berkontribusi; sebagai contoh diberikannya dua buah jatah kursi di Dewan Perwakilan Rakyat di Lisboa5. Namun, kontradiksi di dalam masyarakat akibat cengkeraman empat abad penjajahan Portugal mewarnai kehidupan sehari-hari yang mencerminkan perbedaan pandangan dan kepentingan politik. Pada gilirannya, hal tersebut mengakibatkan terbentuknya kelompok politik yang ragu akan masa depan Timor Portugis. Pada akhirnya, terdapat tiga buah sikap pada tubuh masyarakat Timor Portugis: tetap menginginkan Timor sebagai propinsi milik Portugal, menginginkan kemerdekaan Timor (Xavier Amaral dan Ramos Horta, yang kemudian membentuk Fretilin yang berhaluan komunis), serta masyarakat yang berkeinginan untuk berintegrasi dengan Indonesia (terkenal dengan karena pemberontakan Viqueque 1955, yang tergabung dalam Partai Apodeti)6. Pada 30 November 1975, Deklarasi Balibo menyatakan bahwa seluruh wilayah bekas koloni Timor Portugis berintegrasi dengan bangsa Indonesia, dan dengannya resmi menjadi propinsi Indonesia yang kedua puluh tujuh. Tetapi sayangnya, semenjak tanggal 30 Agustus 1999, bendera merah putih tak lagi dikibarkan di Bumi Lorosae. Timor Timur lepas, berdisintegrasi dari Indonesia setelah jajak pendapat (referendum) yang diadakan PBB menyatakan bahwa 78,5% masyarakat Timor Timur menginginkan kemerdekaan dalam menentukan nasib sendiri7. Baik Timor Leste maupun Sudan Selatan, pada akhirnya berhasil menuntaskan masalah disintegrasi mereka dengan jalan keluar referendum. Lebih dari itu, terdapat juga berbagai bentuk intervensi asing dalam kepentingan disintegrasi kedua negara; seperti peran Australia dan Amerika Serikat dalam upaya mereka mendesak Presiden B.J. Habibie sehubungan dengan Timor Timur dan peran PBB dan Uni Afrika dalam perdamaian Sudan. Dalam paper ini, penulis ingin berfokus terhadap upaya disintegrasi secara historis; pada Timor Leste dalam rentang integrasi ke Indonesia hingga perolehan kemerdekaan mereka sementara pada Sudan Selatan fokus dimulai saat awal mula konflik dengan Sudan Utara hingga perolehan kemerdekaan mereka, intervensi asing, serta penyelesaian masalah disintegrasi kedua negara.

5 6

E.M. Tomodok, Hari-Hari Akhir Timor Portugis, Pustaka Jaya, Jakarta, 1994, p. 12 E.M. Tomodok, Hari-Hari Akhir Timor Portugis, Pustaka Jaya, Jakarta, 1994, p. 88 7 Liputan6.com, Keluar Juga Kerikil Dalam Sepatu Itu, 30 Agustus 2009, , diakses pada tanggal 30 November 2011

2

B. Rumusan Masalah 1. Apa faktor pendukung disintegrasi Timor Timur dari Indonesia dan Sudan Selatan dari Sudan Utara? 2. Apa bentuk upaya intervensi asing dalam disintegrasi kedua negara dan seberapa pentingnyakah upaya-upaya tersebut? 3. Kepentingan apa yang berhasil dicapai oleh kedua negara setelah disintegrasi tersebut? C. Landasan Konseptual 1) Tinjauan Hukum Internasional: Secession Konflik-konflik internal yang terjadi di suatu negara dapat berakibat lepasnya suatu wilayah negara (secession) atau bahkan malah berujung pada pembubaran negara. Konsep negara-bangsa sebagai suatu unit politik akan menjadi goyah akibat munculnya dorongan bagi kelompokkelompok etnik untuk melepaskan diri dari negara induknya; yang merupakan kecenderungan "micro nationalism" dan kontradiktif dengan konsep negara-bangsa. Secession ini bukan merupakan hak namun cenderung kepada sesuatu yang dapat dijadikan bahan perjanjian8. 2) Prinsip Hak Menentukan Nasib Sendiri (Self Determination) Prinsip ini bukanlah untuk dimaksudkan sebagai "hak untuk merdeka" melainkan sebagai selfrule, semacam otonomi sehingga kemerdekaan hanya dimungkinkan atas persetujuan negara penjajah. 3) Garis Arbitrari (Arbitrary Boundaries) Wilayah jajahan kolonial dibagi atas kehendak kolonial, bukannya ketertarikan atau kepentingan bangsa yang dijajah, sehingga kerap kali menyisakan perselisihan, menjadikan etnis-etnis yang bermukim di wilayah tersebut secara tidak natural harus bersatu, atau justru malah memisahkan etnis yang bersifat homogen9. D. Hipotesis 1. Disintegrasi kedua negara berasal dari faktor perbedaan; yakni didominasi oleh faktor perbedaan etnisitas dan agama. 2. Intervensi asing hadir dalam bentuk pendanaan, dan pemberian fasilitas berupa konferensi, pembicaraan agenda mengenai pendisintegrasian berupa referendum mengenai kemerdekaan8

S. Hadi, Disintegrasi Pasca Orde Baru: Negara, Konflik Lokal, dan Dinamika Internasional,Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2007, hal. 241 9 A. Thomson, An Introduction to African Politics, Routledge, New York, 2005, hal. 13

3

mereka 3. Setelah pada akhirnya kedua negara tersebut berhasil berdisintegrasi, kedua negara jelas mendapatkan hak untuk merdeka atau menentukan nasib sendiri. Selain itu, kedua negara dapat memiliki aset-aset seperti pertambangan dan sebagainya; aset tersebut tidak lagi dikuasai oleh negara induk melainkan dimiliki dan diolah sendiri.

4

BAB II PEMBAHASAN A. Disintegrasi Timor Leste dan Sudan Selatan 1. Timor Leste Sebelum berintegrasi dengan Indonesia pada tahun 1976, selama lebih dari empat abad Timor Leste merupakan jajahan Portugal. Revolusi Anyelir di Portugal menyebabkan tergulingnya rezim pemerintahan disana, dan disisi lain, membuka era baru untuk koloni-koloni Portugal; termasuk dalam hal ini Timor Leste10. Walaupun Timor Leste berbatasan langsung dengan Indonesia, tidak pernah sekalipun ia menuntut apapun terhadap wilayah ini, hingga kemudian dihimpit oleh situasi pada tahun 1970an ketika Portugal mengumandangkan seruan dekolonisasi bagi daerah-daerah kolonialisme Portugal di seberang samudera. Kepemerintahan Portugal memang tidak mengubah standar kehidupan orang-orang pribumi di Timor. Mayoritas penduduk pribumi hidup dalam kondisi paling buruk: miskin, kesehatan tidak terjamin, serta rendahnya tingkat pendidikan yang mereka kenyam. Selama empat abad menjajah, pemerintah Portugal tidak ambil andil dalam pengembangan pendidikan di Timor. Rendahnya standar hidup juga mengakibatkan kekurangan daya tahan bagi tubuh kaum pribumi, dan juga rentan penyakit, sementara tenaga medis yang tersedia sangatlah minim. Terlebih, kaum pribumi yang miskin dan tidak berpendidikan itu diharuskan pula membayar pajak yang luar biasa berat. Salah satu jenis pajak tersebut adalah pajak berdiam, atau disebut juga dengan "pajak kepala". Menurut undang-undang yang berlaku, warga negara yang berumur 18 tahun ke atas dikenakan pajak kepala, terlepas apakah objek pajak tersebut bekerja atau tidak11. Pajak kepala tersebut merupakan sumber pendapatan pemerintah yang terbesar. Pemungutan pajaknya dilakukan oleh raja-raja, kepala-kepala suku, atau kepala-kepala kampung. Tidak mampu membayar pajak kepala maka hukuman penjara dua bulan, atau kerja rodi hingga pajak tersebut dianggap lunas. Keluh kesah masyarakat Timor Portugis tidak pernah terdengar oleh dunia luar karena isolasi politik yang dijalankan oleh Timor Portugis; bahkan di Indonesia pun masalah pajak ini tidak terdengar. Kebebasan bersuara atau kebebasan menyatakan pendapat tidak ada di Timor Portugis. Setiap penerbitan apapun diharuskan melewati sensor. Bila tidak disetujui, maka tidak akan diterbitkan. Begitu juga dengan film i