Dinamika Persebaya Masa Kepemimpinan Poernomo Kasidi

Click here to load reader

  • date post

    23-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Dinamika Persebaya Masa Kepemimpinan Poernomo Kasidi

Microsoft Word - angga_eka_putra-skripsi-fakultas_ilmu_budaya-naskah_ringkas-2015-1.docxAngga Eka Putra, Muhammad Wasith Albar
Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Kampus UI Depok, Jawa Barat, 16424, Indonesia
E-mail: [email protected]
Persebaya merupakan salah satu klub sepak bola di Indonesia yang sarat dengan sejarah. Pada kurun waktu 1979-1986 Persebaya mengalami penurunan prestasi, bahkan hampir terdegradasi dari kompetisi Perserikatan. Munculnya Poernomo Kasidi sebagai Ketua Umum yang baru mampu membangkitkan kembali prestasi Persebaya yang sempat turun. Strategi utama dari Poernomo adalah pembenahan manajemen intern Persebaya. Hasilnya, pembentukan manajemen yang baik akan membawa prestasi yang baik pula, termasuk dalam bidang olahraga. Selama tujuh tahun kepengurusan Poernomo (1987-1994), Persebaya kembali bisa berprestasi yang ditunjang oleh manajemen yang baik.
Dinamika Persebaya Masa Kepemimpinan Poernomo Kasidi (1987-1994)
Abstract
Persebaya is one of Indonesian historical football club. During 1979 – 1986, Persebaya experienced a decline in achievement. Furthermore, it was almost eliminated from Perserikatan competition. The emergence of Poernomo Kasidi as the new chairman triggered the achievements of Persebaya that had been degraded. The main strategy of Poernomo was an internal management reform of Persebaya. The result of this research shows that a good management formation would affect on gaining achievements, including in sport. During the seven years of Poernomo’s leadership (1987 – 1994), Persebaya gained its achievements which is supported by a cooperative management.
Keyword:
Pendahuluan
tertentu karena sejak awal
perkembangannya tidak ditujukan secara
Melihat asal usul sepak bola di Indonesia
maka tidak terlepas dari kaitan historis
dengan masa penjajahan Belanda. Budaya
yang diperlihatkan bangsa Belanda
merupakan contoh budaya masyarakat
akan mengantarkan orang-orang pribumi
Dinamika persebaya masa ..., Angga Eka Putra, FIB UI, 2014
 
 
olahraga, khususnya sepak bola.
dapat didasarkan melalui dua faktor, yaitu
faktor formal dan informal. Jalur formal
erat kaitannya dengan sekolah-sekolah
kurikulum pendidikan, termasuk olahraga
bulutangkis. Bahkan pada peringatan
HBS dirayakan dengan pertandingan,
pertunjukan, pameran keterampilan dan
Eropa, termasuk sepak bola, setanden, dan
kasti.2 Sementara dari jalur informal,
persebaran sepak bola dilakukan melalui
visualisasi langsung masyarakat pribumi
rekreasi dan menjaga kebugaran.3
1893 dan Victoria tahun 1895. Sejak saat
itu banyak bond Belanda yang berdiri dan
membentuk bond induk di setiap daerah di
empat kota besar, Batavia, Surakarta,                                                                                                                           1 Denny Lombards. Nusa Jawa: Silang Budaya Batas-Batas Pembaratan. 2000. hlm. 220 2 R.N. Bayu Aji. Tionghoa Surabaya Dalam Sepak Bola. 2010. hlm. 7-8 3 Srie Agustina Palupi. Politik dan Sepak Bola di Jawa Tahun 1920-1942. 2004. hlm. 24
Bandung, dan Surabaya. Pada akhirnya
bond-bond Belanda bermuara pada
lahirnya NIVB (Nederlandsche Indische
Belanda.4
VIJ, BIVB, MVB, MIVB, dan PSM. SIVB
sebagai cikal bakal Persebaya memiliki
banyak peranan penting bagi
awal perkembangannya. Terdapat empat
salah satu klub besar yang sarat akan
sejarah dalam sepak bola Indonesia.
Pertama, Surabaya merupakan salah satu
kota yang pesat perkembangan sepak
bolanya. Hal ini ditandai dengan berdirinya
bond sepak bola pribumi yang pertama,
yaitu dibentuknya bond Patjarkeling pada
tahun 1902 oleh Mohammad Zen.
Kemudian disusul oleh klub-klub lain
seperti REGO, Tjahaja Laoet, Maoeto, dan
lain-lain hingga terbentuknya SIVB pada
tanggal 18 Juni 1927. Kedua, Persebaya
merupakan salah satu pionir berdirinya
PSSI sebagai induk sepak bola Indonesia
pada tanggal 19 April 1930 bersama klub-
klub seperti VVB, VIJ, MVB, BIVB,
                                                                                                                          4 Freek Colombijn. “The Politics of Indonesian Football”, Archipel, No. 59 (2000), hlm. 18
Dinamika persebaya masa ..., Angga Eka Putra, FIB UI, 2014
 
 
sumber daya manusia yang dimiliki dan
berkutat dalam kompetisi internal
pemain Persebaya yang dipanggil ke dalam
Tim Nasional Indonesia. Keempat,
sebagai daerah yang merepresentasikan
daerah.
tim tidak terlepas dari kepengurusan atau
manajemen yang baik dibalik keberhasilan
Persebaya. Kebangkitan Persebaya
sanggup memperoleh hasil juara satu kali
Perserikatan dan Piala Utama, namun
konsistensi Persebaya sebagai klub papan
atas nasional yang selalu menempati
peringkat tiga besar merupakan indikator
kebangkitan dan keberhasilan manajemen
dalam membangun Persebaya. Oleh
dinamika Persebaya dalam proses
1994.
metode heuristik, kritik, interpretasi, dan
historiografi serta melalui pendekatan
pengumpulan data, penulis memperoleh
Perpustakaan Universitas Indonesia,
Perpustakaan Nasional Republik
Wisma Persebaya, serta dokumen-
Surabaya. Tahap kedua ialah tahap kritik.
Penulis berusaha mengkaji dan mengkritik
bahan penulisan yang telah didapat dari
berbagai sumber. Bahan tersebut dikritik
dengan membandingkan kesesuaian fakta
tersebut dengan sumber data yang lain.
Setelah melalui tahap kritik, sumber data
tersebut diinterpretasikan, yaitu ditafsirkan
dipertanggungjawabkan terhadap fakta
Dinamika persebaya masa ..., Angga Eka Putra, FIB UI, 2014
 
 
Kelahiran dan Perkembangan Awal
Universitas Cambridge dengan tujuan
rugby. Kemudian peraturan yang jelas dan
tegas serta pemisahan rugby dari sepak
bola ditegaskan dengan dibentuknya FA
(Federation of Association) pada tahun
1872 dan menjadi kompetisi sepak bola
tertua di dunia yang berlangsung hingga
sekarang. Kedekatan letak geografis antara
Belanda dan Inggris memungkinkan
cepat, hal ini juga ditandai dengan
berdirinya KNVB (Koninklijke
1889 sebagai organisasi sepak bola ketiga
di Eropa setelah Inggris dan Perancis.
Proses penjajahan bangsa Belanda di
Hindia Belanda turut membawa sepak bola
sebagai salah satu aspek asimilasi budaya
yang terjadi antara kedua pihak.
Sudah dijelaskan sebelumnya
dan informal, faktor formal melalui
kebijakan Politik Etis di dalam sekolah-
sekolah yang memasukkan sepak bola
sebagai salah satu kurikulum sekolah.
Sementara faktor informal melalui
yang biasa memainkan sepak bola sebagai
sarana rekreasi. Proses asimilasi dan
persilangan budaya melalui olahraga lebih
mudah diterima oleh masyarakat karena
sifatnya yang lebih terbuka jika
dibandingkan dengan proses persilangan
umumnya, pesatnya perkembangan sepak
kota-kota besar, salah satunya adalah
Surabaya. Pasca kemunculan Rood-Wit di
Batavia muncul Victoria yang didirikan
oleh Edgar bersaudara pada tahun 1895.
Kemudian pendirian bond sepak bola
Belanda disusul dengan berdirinya Sparta
pada tahun 1896 yang didirikan oleh P.
Swens dan A. Mesrope. Kemunculan
kedua bond sepak bola tersebut
menghilhami munculnya bond-bond lain di
Surabaya, seperti SIOD (Scoren Is Ons
Doel), Rapiditas, ECA, THOR (Tot Heil
Onzer Ribben), HBS (Houd Braef Standt),
dan Exelcior.5 Banyaknya pengusaha
bola semakin menambah geliat
sepak bola Belanda di Surabaya
                                                                                                                          5 Bayu Aji. Op.Cit., 2010. hlm. 57
Dinamika persebaya masa ..., Angga Eka Putra, FIB UI, 2014
 
 
Surabaya yang dikenal SVB
(Soerabaiasche Voetbal Bond). SVB
kemudian mengatur pertandingan di
Ajax, Zeemact, RKS, Mena Moeria, HBS,
Annasher, dan Tionghoa Surabaya.6
Sementara dari kalangan pribumi
potensi pemuda-pemuda Surabaya dalam
memainkan sepak bola. Setelah
1902, kehadiran bond-bond pribumi
Surabaya diramaikan dengan berdirinya
REGO, Radio, dan PS Hizboel Wathan.7
Sarana sepak bola menjadi permasalahan
utama bond pribumi, banyak dari bond
pribumi yang belum memiliki lapangan
sehingga mereka memakai lapangan Pasar
Turi sebagai lapangan bersama secara
bergiliran. Hasil interaksi yang terjalin dari
pemakaian lapangan bersama menyatukan
guna menandingi SVB. Kemudian
dibentuklah komite Surabaya yang                                                                                                                           6 THOR, HBS, dan Annasher masih bertahan sampai sekarang dan tergabung ke dalam anggota internal Persebaya pada saat ini. Soepangat. Persebaya. Tp. Tt. hlm. 1 7 “Surabaya Didirikan oleh Klub, Bukan Perorangan”, Radar Surabaya. 18 Juni 2011. hlm. 22
bertugas untuk menyiapkan bond sepak
bola Surabaya dengan dipimpin oleh R.M.
Bintarti dan Dr. R. Soerjatin bersama
dengan tokoh lain seperti Paijo, M.
Pamoedji, R. Sanoesi, Sidik, Askaboel,
Radjiman Nasutian pada tanggal 18 Juni
1927 sepakat mempersatukan bond sepak
bola pribumi ke dalam satu wadah, yaitu
SIVB (Soerabaiasche Indonesische
sebagai bendaharanya.8 Kemudian bersama
salah satu bond yang mendirikan PSSI
pada 19 April 1930.
Masa pendudukan Jepang, segala
dalam masa kevakuman dan menjadi latar
belakang berdirinya Persebaya dengan
Persibaja pada tahun 1943 dan disepakati
tanggal 18 Juni 1927 sebagai hari lahir
klub. Kemudian pada tahun 1960 nama
klub disesuaikan dengan Bahasa Indonesia
yang telah disempurnakan menjadi
kandang bagi Persebaya.
                                                                                                                          8 Viky Nurisman A, Corry Liana. Avatara: Nasionalisme dalam Sepak Bola Surabaya. Vol. 1, No. 2. hlm. 10-20
Dinamika persebaya masa ..., Angga Eka Putra, FIB UI, 2014
 
 
Surabaya Terhadap Sepak Bola
Dalam kehidupan sosial masyarakat
industri yang besar dan sibuk membentuk
watak penduduknya. Bahasa jawa logat
Surabaya mempunyai nada yang khas,
cepat, dan datar. Terkadang, kata-kata
kasar yang telah diucapkan terus terang
memberi petunjuk bahwa lingkungan
kesibukan yang telah membentuknya.
kota Surabaya yang berada di pesisir
sungai Brantas dianggap sebagai pengaruh
alami kondisi sosial masyarakat Surabaya
yang dikenal keras sebagai ekologi budaya
Arek. Karakter yang keras khas pesisir
merupakan salah satu ciri budaya Arek
serta pembentukan karakter nekat juga
dianggap sebagai kebiasaan yang merebak
di kalangan arek Suroboyo. Barangkali
perilaku itu merupakan “warisan tempo
doeloe” yang hingga kini dilestarikan
dengan semboyan nek gak nekat dudu arek
Suroboyo.9 Namun, ditengah kesibukan
kota individualisme tidak berkembang
lembaga gotong royong yang disebut
sinoman dan arisan.10 Kondisi kota yang
sibuk menjadikan masyarakat Surabaya
                                                                                                                          9 M. Basofi Soedirman. Bonek: Berani Karena Bersama. 1997. hlm. 47 10 Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI. Pertempuran Surabaya. 1998. hlm. 4-5
memerlukan hiburan massif yang
menonton pertandingan Persebaya menjadi
Surabaya.
budaya khas Surabaya yang erat
solidaritasnya tercermin dalam antusiasme
kompetisi Perserikatan juga menjadi alasan
tingginya antusiasme penonton. Pada tahun
1980-an, media Jawa Pos melakukan
survey terhadap para penonton yang datang
ke stadion untuk menyaksikan
menyaksikan pertandingan Persebaya
Jawa Timur. Sisanya sebanyak 20% ingin
mengetahui teknik bermain sepak bola
yang benar, dan 7% lainnya beralasan
mendukung Persebaya karena ramai-ramai
kata keras khas Surabaya sering terdengar
di stadion ketika dilontarkan kata-kata
jancuk yang memang agak kasar bagi
Dinamika persebaya masa ..., Angga Eka Putra, FIB UI, 2014
 
 
masyarakat Surabaya.
memasuki tahun 1980-an, pertandingan
stadion dengan jumlah 60.000 penonton.11
Berdasarkan fakta yang ada, tingginya
antusiasme masyarakat Surabaya
jauh dari sifat individualisme dan juga
Persebaya merupakan wadah untuk
merepresentasikan budaya khas Surabaya
serta Persebaya seolah menjadi
1978 Persebaya mengalami kemunduran
sebagai dalang kemunduran Persebaya
                                                                                                                          11 Bonek Kampus ITS. Kumpulan Artikel: History of Persebaya. 2008. hlm. 22
karena dianggap kurang perhatian dengan
Persebaya. Setelah Djoko Soetopo
mengalami 3 kali pergantian ketua umum
hingga Poernomo Kasidi. Dari Kolonel
Maryakub dan Letkol. Soegardjito yang
memimpin Persebaya sejak 1982 sampai
1986 keadaan intern Persebaya tidak
banyak berubah. Banyak pengurus yang
hanya mementingkan diri sendiri dan klub
binaannya daripada kepentingan Persebaya
Letkol L. Soegardjito menyatakan
dengan terpuruknya Persebaya yang
menempati peringkat 9 dari 12 peserta.
Pada saat itu Persebaya memiliki potensi
dilirik sponsor, tetapi karena manajemen
Persebaya yang kurang kondusif sponsor
menjadi menarik minat mereka.
bentuk kepeduliannya sebagai Walikota
Surabaya ketika itu. Keberhasilannya
membenahi Surabaya membuat harapan
masyarakat akan Persebaya yang lebih baik
                                                                                                                          12 PWI Jatim. Persebaya Green Force III: Kami Haus Gol Kamu. 1991. hlm. 48
Dinamika persebaya masa ..., Angga Eka Putra, FIB UI, 2014
 
 
Kasidi. Langkah pertama Poernomo
Persebaya yaitu menugaskan Tubagus
melakukan gebrakan dengan menjadi
runner-up Perserikatan pada tahun
tersebut. Kejelian Poernomo mengangkat
Persebaya membuat para anggota
yang secara aklamasi memilikih
pendamping Kol. E.E. Mangindaan
Pemilihan Poernomo juga diharapkan
berbagai kemudahan yang didapat
Persebaya melalui kewenangannya sebagai
walikota. Poernomo kembali terpilih
pemilihan kedua tanggal 25 Agustus 1991
dengan pendamping Imam Oetomo sebagai
ketua harian.
sebanyak empat kali selama tujuh tahun
kepengurusannya. Sistem Liga
                                                                                                                          13 Ibid., hlm. 49
Akibatnya para pemain muda yang masuk
ke tim senior klub-klub Perserikatan lebih
banyak hanya menjadi pemain cadangan
bagi pemain-pemain yang memang sudah
berpengalaman. Dari 4 kali mengikuti Liga
Perserikatan di bawah kepemimpinan
kali juara, 1 kali runner up dan 2 kali
peringkat ketiga, serta 1 kali juara Piala
Utama. Juara Perserikatan diraih pada
tahun 1987/1988 dengan dimanajeri oleh
H. Agil Ali, trio pelatih Nino Sutrisno,
Kusmanhadi, dan M. Misbach, serta
pemain-pemain kenamaan seperti Putu
Arifin. Kompetisi selanjutnya tahun
1989/1990 Persebaya hanya menjadi
berbeda dengan musim sebelumnya. Tahun
1990 Persebaya menjadi pelopor
penggunaan pemain muda dengan
berhasil menjadi peringkat ketiga di akhir
                                                                                                                          14 “Dari Sidang Paripurna PSSI: Kompetisi Perserikatan Diperbaiki”, Kompas. 28 Maret 1988. hlm. 10
Dinamika persebaya masa ..., Angga Eka Putra, FIB UI, 2014
 
 
pelatih utama Rusdi Bahalwan dan
Subodro, dan memunculkan bintang masa
depan seperti Yusuf Ekodono, Putut
Wijanarko, Ibnu Grahan, Totok Andjik,
dan lain-lain. Pada kompetisi terakhir
Perserikatan pada 1993/1994 Persebaya
karena faktor non-teknis terkait
Faktor Pendorong dan Penghambat
nasional karena didukung oleh beberapa
faktor. Diantara beberapa faktor
pendukung bangkitnya Persebaya ialah
terjalinnya hubungan dengan pers,
munculnya Bonek sebagai organisasi
suporter, serta dukungan pemerintah
daerah Surabaya. Pertama, Persebaya
memanfaatkan keberadaan pers yang
memang berfungsi sebagai media
informasi untuk melambungkan namanya.
diperbincangkan lebih dalam.
Terjalinnya hubungan Persebaya
dalam AD/ART Persebaya yang
hubungan kemasyarakatan melalui media
komunikasi.15 Hubungan yang terjalin
menguntungkan salah satu pihak, tetapi
menjadi keuntungan bagi kedua pihak.
Jawa Pos misalnya, media cetak yang
dikepalai oleh Dahlan Iskan memang
menjadikan Persebaya sebagai komoditi
utama pemberitaan koran tersebut.
kompetisi antarklub sepak bola Indonesia
hingga 50 ribu eksemplar setiap harinya.
Sementara dari media elektronik, Radio
Gelora Surabaya (RGS) menjadi media
utama sebagai penyiar Persebaya karena
televisi pada saat itu masih belum
berkembang dan masih didominasi oleh
program TVRI. Baik Jawa Pos dan RGS
sama-sama menjalin hubungan dengan
dengan memfasilitasi suporter Persebaya
yang ingin menonton pertandingan
Jawa Pos mengkoordinir keberangkatan
warga Surabaya tahun 1987, baik penonton
yang naik kereta api maupun bus
                                                                                                                          15 Anggaran Dasar Persebaya. Bab II Umum Pasal 4 Ayat 3 tentang Kewajiban dan Usaha. 1992. hlm. 2
Dinamika persebaya masa ..., Angga Eka Putra, FIB UI, 2014
 
 
per orang pergi pulang.16 Begitu pula
dengan RGS yang bahkan menyiarkan
langsung pertandingan Persebaya melalui
Persebaya mendapatkan pengawalan dan
menemui kendala dalam perjalanan
sepak bola di Indonesia yang beralur
datang, duduk di dalam stadion, kemudian
mulai bersorak ketika tim yang
didukungnya melakukan serangan ke pihak
lawan. Bonek mengubah kebiasaan
memakai atribut sebagai identitas diri.
Atribut-atribut yang digunakan diantaranya
tak pernah dilupakan yaitu gerakan
tret...tret...tret yaitu mobilisasi suporter
                                                                                                                          16 “Komentar Dari Surabaya: Saatnya Persebaya Juara”, Kompas. 8 Maret 1987. hlm. 14
Persebaya secara tertib dari Surabaya ke
Jakarta yang dikoordinir oleh Jawa Pos
pada tahun 1986/1987. Dukungan moril
yang diberikan Bonek membuat para
pemain Persebaya seakan mendapatkan
sehingga senantiasa akan selalu
Surabaya.
materil dan moril. Sejak menjadi walikota,
Poernomo mendapatkan masukan jika
maka setidaknya harus melakukan tiga hal,
yaitu jangan ada banjir, jalan berlubang,
dan Persebaya harus juara.17 Untuk alasan
terakhir maka pemerintah daerah Surabaya
tidak sungkan membantu Persebaya.
persen untuk sewa lapangan dan pajak
terhadap Stadion Gelora 10 November.18
Selain itu biaya pemeliharaan stadion dan
wisma pemain juga masuk ke dalam
APBD pemerintah daerah Surabaya.19
Sementara dukungan moril ditunjukkan
                                                                                                                          17 Wawancara Dahlan Iskan melalui email tanggal 29 Oktober 2014 18 Duniabola. http://www.bola- indonesia.org/2012/04/cholid-pemkot-jadikan- persebaya-sapi_4.html diunduh pada 26 September 2014, Pkl. 09.33 WIB 19 Wawancara Dahlan Iskan melalui email tanggal 29 Oktober 2014
Dinamika persebaya masa ..., Angga Eka Putra, FIB UI, 2014
 
 
Persebaya H. Agil Ali, “Coba lihat, mulai
dari walikota Poernomo, sampai wagub
Trimarjono, pangdam Saiful Sulun telah
hadir di Jakarta, dan nanti gubernur
Wahono, ketua DPRD Blegoh Soemarto
juga bakal ke Jakarta. Ini kan dorongan
semangat yang luar biasa”.20 Dukungan
moril yang diberikan membuat Persebaya
menjadi sebuah sarana bagi aspek sosial
masyarakat Surabaya yang menyatukan
kalangan bawah hingga para pejabat
daerah Surabaya demi Persebaya yang
semakin besar.
gajah merupakan permainan yang
memberikan kemenangan pada pihak
mengatakan bahwa memberikan
bahwa daerah Indonesia Timur akan tanpa
                                                                                                                          20 Kompas. Loc. Cit.,8 Maret 1987. hlm. 14
wakil kalau Persipura tak diloloskan.
Kedua, PSIS adalah tim tangguh yang
tentunya akan lebih merepotkan”.21…