Dinamika jurnalistik televisi - ebook.repo.mercubuana...

of 19/19
1 Dinamika jurnalistik televisi ARSWENDO ATMOWILOTO Budayawan HARI Pers Nasional (HPN) selalu dirayakan dengan meriah tapi tak menimbulkan gairah. Para insan pers, termasuk penerbit media, hanya memanfaatkan kala memperoleh hadiah jurnalistik. Berita kemenangan sendiri di medianya sendiri. Padahal HPN punya jejak sejarah karya dan pemikiran tentang dunia jurnalisme. Tulisan ini mencoba mengingatkan bahkan masih ada dinamika besar yang bisa diberi bentuk perwujudan—kecuali kalau maunya berhenti di basa-basi. Nama Djamaluddin Gelar Datuk Marajo Sutan, segera dikenali jika ditambahkan nama pena, Adinegoro. Nama Adinegoro menemukan bentuk konkret dalam gelaran Anugerah Jurnalistik Adinegoro, yang berupa trofi, piagam, dan sejumlah uang yang diberikan kepada hasil jurnalistik terbaik sepanjang tahun. Tadinya hanya diberikan kepada penulis—bukan hanya wartawan yang tergabung dalam organisasi wartawan, pada media cetak. Kini juga diberikan untuk media televisi, juga media cyber. Terjadi transformasi besar yang tidak disadari sepenuhnya, meskipun dirayakan secara nasional dan resmi setiap memperingati Hari Pers Nasional. Tim Adinegoro, meninggal di usia 63 tahun pada tahun1967, barang kali tidak menduga namanya juga diabadikan untuk penghargaan jurnalistik televisi— media yang belum berkembang saat itu. Wartawan yang gigih, pembuat peta, juga menulis novel, perokok yang disesali anak-anaknya, adalah nama besar dan mendasar dalam dunia jurnalistik. Rumusan tentang hubungan pers-pemerintahmasyarakat masih menjadi acuan hingga kini. Meskipun kini unsur pasar juga menakar dunia media kita. Hingga layak dan pantaslah namanya menjadi inspirasi lewat trofi dalam penulisan tajuk rencana, berita berkedalaman, depth news, kemudian juga karikatur— beliau juga suka menggambar sketsa dan fotografi. Kemudian kategori jurnalistik radio dan jurnalistik televisi. Sebelum kemudian juga dikaitkan penghargaan khusus untuk kategori hiburan dan jurnalistik cyber. Khusus untuk kategori jurnalistik televisi, sangat menarik dicermati. Terutama dari segi proses kreatif berbeda sekali dengan yang terjadi pada media cetak. Pada karya televisi tidak mungkin dilahirkan dari satu atau dua atau tiga atau empat individu. Karena, sejak menentukan ”film statement”, ide dasar, sampai pembuatan skrip melibatkan banyak orang, demikian pula saat berproduksi, dan pascaproduksi berupa editing atau mixing. Dinamika kerja keroyokan atau tim dalam kerja sama mempunyai peran yang sangat besar. Alasan kedua, kategori jurnalistik televisi bisa menjadi acuan, perbandingan dalam membuat program acara yang mendidik, menarik dan melirik ke-Indonesiaan. Mengingat perkembangan acara televisi–yang jumlahnya lebih dari 1.400 nama program dalam sebulan, banyak menimbulkan keluhan, pertanyaan, atau gugatan. Setidaknya 50 karya yang dilombakan tahun ini menepis anggapan bahwa acara di televisi hanya soal nyanyi bersama, menjadi banci, menyihir, dan mencari jodoh semata.
  • date post

    06-Feb-2018
  • Category

    Documents

  • view

    221
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of Dinamika jurnalistik televisi - ebook.repo.mercubuana...

  • 1

    Dinamika jurnalistik televisi ARSWENDO ATMOWILOTO Budayawan HARI Pers Nasional (HPN) selalu dirayakan dengan meriah tapi tak menimbulkan gairah. Para insan pers, termasuk penerbit media, hanya memanfaatkan kala memperoleh hadiah jurnalistik. Berita kemenangan sendiri di medianya sendiri. Padahal HPN punya jejak sejarah karya dan pemikiran tentang dunia jurnalisme. Tulisan ini mencoba mengingatkan bahkan masih ada dinamika besar yang bisa diberi bentuk perwujudankecuali kalau maunya berhenti di basa-basi. Nama Djamaluddin Gelar Datuk Marajo Sutan, segera dikenali jika ditambahkan nama pena, Adinegoro. Nama Adinegoro menemukan bentuk konkret dalam gelaran Anugerah Jurnalistik Adinegoro, yang berupa trofi, piagam, dan sejumlah uang yang diberikan kepada hasil jurnalistik terbaik sepanjang tahun. Tadinya hanya diberikan kepada penulisbukan hanya wartawan yang tergabung dalam organisasi wartawan, pada media cetak. Kini juga diberikan untuk media televisi, juga media cyber. Terjadi transformasi besar yang tidak disadari sepenuhnya, meskipun dirayakan secara nasional dan resmi setiap memperingati Hari Pers Nasional. Tim Adinegoro, meninggal di usia 63 tahun pada tahun1967, barang kali tidak menduga namanya juga diabadikan untuk penghargaan jurnalistik televisi media yang belum berkembang saat itu. Wartawan yang gigih, pembuat peta, juga menulis novel, perokok yang disesali anak-anaknya, adalah nama besar dan mendasar dalam dunia jurnalistik. Rumusan tentang hubungan pers-pemerintahmasyarakat masih menjadi acuan hingga kini. Meskipun kini unsur pasar juga menakar dunia media kita. Hingga layak dan pantaslah namanya menjadi inspirasi lewat trofi dalam penulisan tajuk rencana, berita berkedalaman, depth news, kemudian juga karikatur beliau juga suka menggambar sketsa dan fotografi. Kemudian kategori jurnalistik radio dan jurnalistik televisi. Sebelum kemudian juga dikaitkan penghargaan khusus untuk kategori hiburan dan jurnalistik cyber. Khusus untuk kategori jurnalistik televisi, sangat menarik dicermati. Terutama dari segi proses kreatif berbeda sekali dengan yang terjadi pada media cetak. Pada karya televisi tidak mungkin dilahirkan dari satu atau dua atau tiga atau empat individu. Karena, sejak menentukan film statement, ide dasar, sampai pembuatan skrip melibatkan banyak orang, demikian pula saat berproduksi, dan pascaproduksi berupa editing atau mixing. Dinamika kerja keroyokan atau tim dalam kerja sama mempunyai peran yang sangat besar. Alasan kedua, kategori jurnalistik televisi bisa menjadi acuan, perbandingan dalam membuat program acara yang mendidik, menarik dan melirik ke-Indonesiaan. Mengingat perkembangan acara televisiyang jumlahnya lebih dari 1.400 nama program dalam sebulan, banyak menimbulkan keluhan, pertanyaan, atau gugatan. Setidaknya 50 karya yang dilombakan tahun ini menepis anggapan bahwa acara di televisi hanya soal nyanyi bersama, menjadi banci, menyihir, dan mencari jodoh semata.

  • 2

    Ternyata, banyak program yang senonoh, bagus, kokoh, dan terutama membicarakandalam istilah sayadua dari tiga kerisauan masyarakat. Baik kurangnya air, kurangnya bidan, masalah di daerah perbatasan, curanmor, hutan yang menjadi kebun kelapa sawit, yang disajikan secara cerdas, bernas, dan menyodorkan gagas jalan keluar. Show Justru karena pentingnya penghargaan untuk menjadi pembanding, untuk melihat rel yang benar, satu Adinegoro setahun tidak mencukupi. Perlu trofi lain, apakah Piala Ishadi SKatau Andy Noya, atau Karni Ilyas, apakah Najwa Shihab atau nama-nama yang mewarnai dunia pertelevisian di negeri yang perkembangannya tak ada kontrol sama sekali. Nama-nama yang mempunyai pengaruh dalam program, yang barang kali tak terwadahi dengan nama Adinegoro. Apa yang disajikan Andy Noya melalui Kick Andy sungguh menggugah perhatian. Kepiawaian menangkap aktualitas secara cerdas muncul dalam sajian Mata Najwa. Program yang disajikan seminggu sekali kadang dengan reruns, putar ulang, memberikan informasi sekaligus informasi. Mewarnai dan membuktikan bahwa masyarakat kita cukup cerdas dan menjadi lebih cerdas, tanpa melalui hantu yang begitu mudah hidup lagi, wajah ibu yang memaksa menantu menggugurkan kandungan, atau jenis ibumu, babuku juga, sekaligus simpanan suamiku, atau model YKS dan variannya. Lebih dari itu semua, namanama keren itu membuktikan programnya tak kalah diminati dalam hitungan rating/sharing, pembagian penonton yang menonton acara tersebut dibandingkan yang menonton acara lain pada jam yang sama. Pendekatan ini sekaligus menyadarkan bahwa mekanisme dinamis antara media cetak dan media televisi sangat berbeda. Pada media televisi, unsurshow, unsur pamer, unsur memikat, melekat untuk diperhitungkan setiap detik atau menitnya. Bahkan, dari nama acaranya menggunakan unsur kata show, bukan wawancara biasa melainkan talk show, bukan bisnis biasa melainkan bisnis show, bukan berita biasa melainkan news show, bukan menggambarkan realitas biasa melainkan reality show. Di mana unsur penyangatan, penajaman, dragging, menjadi penting. Ini yang membedakan era di mana Adinegoro melakukan tugas jurnalistiknya dengan era di mana Tuty Adhitama berada atau era Najwa sebagai acuan eksplorasi berikutnya. Rasa-rasanya Dewan Pers dan lembaga terkait tidak rugi memberi apresiasi tinggi pada nama-nama yang berpengaruh yang tak mungkin mendapatkan dengan bentuk program yang sekarang ini, dan atau menjadikan nama penghargaan. Setidaknya dibandingkan nama Piala Vidia piala tertinggi untuk sinetron, yang diberikan bersamaan dengan Festival Film Indonesia, yang tak jelas arti namanya selain nama yang dipakai seorang pramusaji di sebuah bar. Memaknai Piala Adinegoro untuk televisi saat ini adalah menghimpun dan memberikan contoh bagaimana kerja jurnalistik televisi telah melangkah jauhtanpa meninggalkan unsur jurnalistiknya, dan berada dalam situasi yang berbeda.

  • 3

    Menjadikan karya-karya mereka sebagai tanda pencapaian, adalah memberi arahan perkembangan pertelevisian yang baik, benar dan boleh dilaksanakan. Mereka yang telah membuktikan komitmen besar ini rasa-rasanya perlu mendapat apresiasi lebih, justru karena dinamika yang dilahirkan melampaui batasan-batasan bentuk penghargaan yang dimuliakan, Adinegoro.

  • 1

    Wartawan, Berita, Feature dan Kode Etik Jurnalistik*) Sebuah Profesi: Wartawan Wartawan adalah sebuah profesi. Dengan kata lain, wartawan adalah seorang profesional, seperti halnya dokter, bidan, guru, atau pengacara. Sebuah pekerjaan bisa disebut sebagai profesi jika memiliki empat hal berikut, 1. Harus terdapat kebebasan dalam pekerjaan tadi. 2. Harus ada panggilan dan keterikatan dengan pekerjaan itu. 3. Harus ada keahlian (expertise). 4. Harus ada tanggung jawab yang terikat pada kode etik pekerjaan. (Assegaf, 1987). Para Pendiri Bangsa adalah Para Waratwan: Kelahiran pers di Indonesia tidak lepas dari semangat perjaungan untuk membebaskannegeri ini dari penjajahan, karena itu para pejunagn dan intelektual ketika itu adalah juga para wartawan dan penulis: Suryopranoto, Tjokroaminoto, Abdole Moeis, Haji Agoes Salim Soekarno, Hatta WR Soepratman, Adinegoro Adam Malik dan tokoh-tokoh pasca kemerdekaan Jurnalistik atau kewartawanan Sebagai ilmu, jurnalistik adalah bidang kajian mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi (peristiwa, opini, pemikiran, ide) melalui media massa. Jurnalistik termasuk ilmu terapan (applied science) yang dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan dinamika masyarakat itu sendiri. Sebaga ilmu, jurnalistik termasuk dalam bidang kajian ilmu komunikasi, yakni ilmu yang mengkaji proses penyampaian pesan, gagasan, pemikiran, atau informasi kepada orang lain dengan maksud memberitahu, mempengaruhi, atau memberikan kejelasan. Secara praktis, jurnalistik adalah proses pembuatan informasi atau berita (news processing) dan penyebarluasannya melalui media massa. Dari pengertian kedua ini, kita dapat melihat adanya empat komponen dalam dunia jurnalistik: informasi, penyusunan informasi, penyebarluasan informasi, dan media massa. Media Massa Media Massa (Mass Media) adalah sarana komunikasi massa (channel of mass communication). Komunikasi massa sendiri artinya proses penyampaian pesan, gagasan, atau informasi kepada orang banyak (publik) secara serentak. Ciri-ciri (karakteristik) medi massa adalah disebarluaskan kepada khalayak luas (publisitas), pesan atau isinya bersifat umum (universalitas), tetap atau berkala (periodisitas), berkesinambungan (kontinuitas), dan berisi hal-hal baru (aktualitas). Jenis-jenis media massa adalah Media Massa Cetak (Printed Media), Media Massa Elektronik (Electronic Media), dan Media Online (Cybermedia). Yang termasuk media elektronik adalah radio, televisi, dan film. Sedangkan media cetak berdasarkan formatnya terdiri dari koran atau suratkabar, tabloid, newsletter, majalah, buletin, dan buku. Media Online adalah website internet yang berisikan informasi- aktual layaknya media massa cetak Apa yang Akan Ditulis? Dalam ilmu jurnalistik, tidak semua berita bisa diliput dan dimuat di media massa. Berita yang bisa dimuat adalah berita yang memiliki nilai berita atau news value.

  • 2

    Nilai berita ini menentukan kriteria layak tidaknya berita ini dimuat. Beberapa nilai berita diantaranya significance (penting) timeliness (waktu) proximity (kedekatan), prominence (keterkenalan), human interest (manusiawi), conflict (konflik) Misalnya, berita kenaikan bahan bakar minyak (BBM), berita pernikahan anak Sultan Hamengkubuwono X , penanganan banjirdan kemacetan di Ibukota. Informasi : News & Views Informasi adalah pesan, ide, laporan, keterangan, atau pemikiran. Dalam dunia jurnalistik, informasi dimaksud adalah news (berita) dan views (opini). Berita adalah laporan peristiwa yang bernilai jurnalistik atau memiliki nilai berita (news values) aktual, faktual, penting, dan menarik. Berita disebut juga informasi terbaru. Jenis-jenis berita a.l. berita langsung (straight news), berita opini (opinion news), berita investigasi (investigative news), dan sebagainya. Views adalah pandangan atau pendapat mengenai suatu masalah atau peristiwa. Jenis informasi ini a.l. kolom, tajukrencana, artikel, surat pembaca, karikatur, pojok, dan esai. Ada juga tulisan yang tidak termasuk berita juga tidak bisa disebut opini, yakni feature, yang merupakan perpaduan antara news dan views. Jenis feature yang paling populer adalah feature tips (how to do it feature), feature biografi, feature catatan perjalanan/petualangan, dan feature human interest. Lima syarat menulis berita, yaitu:

    1. Kejujuran: apa yang dimuat dalam berita harus merupakan fakta yang benar-benar terjadi. Wartawan tidak boleh memasukkan fiksi ke dalam berita.

    2. Kecermatan: berita harus benar-benar seperti kenyataannya dan ditulis dengan tepat. Seluruh pernyataan tentang fakta maupun opini harus disebutkan sumbernya.

    3. Keseimbangan: Agar berita seimbang harus diperhatikan:

    1. tampilkan fakta dari masalah pokok 2. jangan memuat informasi yang tidak relevan 3. jangan menyesatkan atau menipu khalayak 4. jangan memasukkan emosi atau pendapat ke dalam berita tetapi ditulis seakan-akan

    sebagai fakta 5. tampilkan semua sudut pandang yang relevan dari masalah yang diberitakan 6. jangan gunakan pendapat editorial

    4. Kelengkapan dan kejelasan: Berita yang lengkap adalah berita yang memuat jawaban atas pertanyaan who, what, why, when, where, dan how.

    5. Keringkasan: Tulisan harus ringkas namun tetap jelas yaitu memuat semua informasi penting.

  • 3

    Struktur Berita dan Induk Berita Judul berita sangat penting untuk mengantarkan pembaca masuk ke dalam berita. Ia digunakan untuk merangkum isi berita kepada pembaca mengenai isi berita. Karenanya, penulisan judul berita hendaknya dibuat dengan mengikuti kaidah penulisan judul berita Judul berita memiliki beberapa fungsi, yakni untuk menarik minat pembaca; merangkum isi berita; melukiskan suasana berita; menserasikan perwajahan surat kabar. Judul berita sebaiknya sesuai dengan teras berita. Artinya, tidak ada pertentangan antara keduanya. Judul juga sebaiknya memakai kalimat positif serta diusahakan senetral mungkin. Prinsip cover both side (menampilkan dua sisi dalam pemberitaan) diimplementasikan salah satunya dalam penulisan judul berita. Selain itu judul berita juga sebaiknya dibuat dengan menggunakan kata-kata yang sederhana dan sejelas mungkin. Teknik Menulis Teras Berita Teras berita adalah modal utama seorang reporter untuk menarik minat pembaca sehingga pembaca akan terus tertarik untuk membaca sampai selesai berita yang ditulisnya. Teras berita yang baik menyampaikan secara ringkas intisari persoalan yang diberitakan. Intisari persoalan adalah fakta yang paling penting dari seluruh fakta dari persoalan itu. Menentukan fakta yang penting adalah sama halnya dengan menentukan nilai berita itu (news value). Pada umumnya sesuatu yang penting itu sekaligus sesuatu yang menarik. Dengan demikian jika penulis telah menemukan fakta terpenting untuk ditampilkan dalam lead, ia tinggal menulis lead itu dengan menarik. Pedoman untuk menulis teras berita adalah: singkat, spesifik, identifikasi dengan jelas, hindari bentuk pertanyaan atau kutipan, beri keterangan waktu dengan tepat dan keterangan dengan tepat. Adapun jenis-jenis berita adalah: ringkas, kutipan, teras berita menunjuk, pertanyaan, deskripsi, latar belakang, kontras, lead memukul, dan lead aneh. Teknik Menulis Tubuh Berita Tubuh berita (news body) merupakan tempat di mana berita terletak. Dalam tubuh beritalah pembaca dapat mengetahui berita yang sesungguhnya, dalam arti bukan rangkuman. Karena tubuh berita menyimpan informasi yang penting, tubuh berita hendaknya ditulis semenarik mungkin, sehingga mampu membuat pembaca terus membaca berita tersebut, namun dengan tetap menjaga keringkasan berita (karena ruang yang terbatas dalam surat kabar). Tubuh berita dapat disusun dengan susunan piramida terbalik, dengan susunan kronologis, maupun dengan susunan di mana informasi penting diletakkan di belakang. Selain teknik penyusunan tubuh berita, membuat berita yang baik juga dapat dilaksanakan dengan memperhatikan kesatuan tubuh berita. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengulangi kata-kata kunci; memakai kata maupun frase transisi yang tepat serta menyusun struktur berita dengan benar dan mengalir. Di samping itu kekuatan tubuh berita dapat pula dibangun dengan menyertakan kutipan, baik langsung maupun tidak langsung, dari sumber berita; menyertakan nama/jabatan sumber berita (attribution); memberi identifikasi yang jelas tentang siapa sumber berita serta menyertakan latar belakang berita. *** II Feature Feature merupakan bentuk tulisan yang dalam dan enak untuk disimak. Kisahnya deskriptif, memaparkan peristiwa secara objektif, sehingga bisa membangkitkan bayangan-bayangan kejadian yang sesungguhnya kepada pembaca.

  • 4

    Redaktur Senior Majalah Gatra, Yudhistira ANM Massardi, mengatakan, Feature bukan karya fiksi, tapi karya jusnalistik. Karenanya, Featur harus memiliki satu makna, satu arti, tidak seperti karya sastra yang banyak arti tergantung si pembacanya. Feature juga disebut karya sastra jurnalistik karena sangat bertumpu pada kekuatan deskripsi yakni mampu mengambarkan situasi dan suasana secara rinci, hidup, berkeringat (basah), beraroma, membuka pintu akal, membetot perhatian, meremas perasaan, sehingga imajinasi pembaca terbawa ke tempat peristiwa. Jadi, Jika dalam penulisan berita yang diutamakan ialah pengaturan fakta-fakta, maka dalam penulisan feature kita dapat memakai teknik mengisahkan sebuah cerita. Itulah kunci perbedaan antara berita keras (spot news) dan feature. Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah. Penulis melukis gambar dengan kata-kata: ia menghidupkan imajinasi pembaca; ia menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita itu dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama. Penulis feature untuk sebagian besar tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu. Batasan feature macam-macam. Umumnya orang mengartikannya sebagai : karangan khas. Rasanya, pengertian itu belum menjelaskan apa-apa. Deskripsi feature yang agak jelas barangkali yang ini, cerita feature adalah artikel yang kreatif, kadang-kadang subjektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan member informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan, atau aspek kehidupan. ( seandainya saya wartawan tempo : 9). Asep Syamsul M. Romli, penulis buku jurnalistik, praktisi media dan dosen di sejumlah perguruan tinggi, menjelaskan bahwa dari sejumlah pengertian feature yang ada, dapat ditemukan beberapa ciri khas tulisan feature, antara lain: 1. Mengandung segi human interest Tulisan feature memberikan penekanan pada fakta-fakta yang dianggap mampu menggugah emosimenghibur, memunculkan empati dan keharuan. Dengan kata lain, sebuah feature juga harus mengandung segi human interest atau human touchmenyentuh rasa manusiawi. Karenanya, feature termasuk kategori soft news (berita ringan) yang pemahamannya lebih menggunakan emosi. Berbeda dengan hard news (berita keras), yang isinya mengacu kepada dan pemahamannya lebih banyak menggunakan pemikiran. 2. Mengandung unsur sastra Satu hal penting dalam sebuah feature adalah ia harus mengandung unsur sastra. Feature ditulis dengan cara atau gaya menulis fiksi. Karenanya, tulisan feature mirip dengan sebuah cerpen atau novelbacaan ringan dan menyenangkannamun tetap informatif dan faktual. Karenanya pula, seorang penulis feature pada prinsipnya adalah seorang yang sedang bercerita. Jadi, feature adalah jenis berita yang sifatnya ringan dan menghibur. Ia menjadi bagian dari pemenuhan fungsi menghibur (entertainment) sebuah surat kabar. Fungsi Feature Dengan kedudukan yang sangat penting dan tak tergantikan tersebut, maka fungsi feature mencakup lima hal :

    1. Sebagai pelengkap sekaligus variasi sajian berita langsung (straight news) 2. Pemberi informasi tentang situasi, keadaan, atau peristiwa yang terjadi 3. Penghibur atau sarana rekreasi dan pengembangan imajinasi yang menyenangkan 4. Wahana pemberi nilai dan makna terhadap suatu keadaan atau peristiwa

    Sarana ekspresi yang paling efektif dalam mempengaruhi khalayak Karakteristik Feature

  • 5

    1. Kreatif Memungkinkan penulis mencipta sebuah cerita (dengan teknik berkisah), namun bukan cerita fiktif. Laporan feature harus mengkreasikan sudut pandang penulis berdasarkan riset terhadap fakta-fakta yang telah ditelusuri. 2. Subjektif Dengan penggunaan model aku, memungkinkan penulis memasukkan emosi dan pikirannya. Sangat mungkin menggunakan sudut pandang orang pertama, atau saya dengan emosi campur nalar, sebagai cara mendapatkan fakta-fakta. 3. Informatif Feature memang terkadang tidak memiliki nilai berita. Ia justeru cenderung memberi nilai informasi mengenai situasi/aspek kehidupan. Materi laporan tentang hal yang ringan, namun berguna bagi masyarakat. Seperti situasi saat peristiwa terjadi dan tidak diliput media lain. 4. Menghibur Bahan feature dengan sengaja dicarikan dari cerita yang ekslusif dan ditulis secara mendalam (indepth), termasuk aspek humor yang menyertainya. Laporan harus berwarna-warni terhadap berita-berita rutin seperti pembunuhan, selingkuh, bencana alam dll, sehingga pembaca larut dalam kesedihan atau malah tertawa terbahak-bahak. 5. Awet / Tidak Dibatasi Waktu (unperishable) Berita bisa basi dalam 24 jam, tapi feature tak akan pernah basi bahwa feature tidak lapuk dimakan deadline, karena topiknya dibahas secara mendalam. Jenis-jenis Feature a. Feature Berita Yaitu suatu feature yang lebih banyak mengandung unsur beritanya, dan berhubungan dengan peristiwa aktual yang menarik perhatian khalayak. Feature ini biasanya adalah merupakan pengembangan dan pendalaman (News analisys) dari sebuah Straight News atau issue yang masih menjadi perhatian publik. b. Feature Opini Feature jenis inipun biasanya terkait secara langsung atau tidak langsung dengan isu-isu yang masih aktual tentang sebuah peristiwa, sebuah ide/gagasan, atau sebuah statemen (pernyataan) orang penting, dan lain-lain. Bisa juga termasuk ke dalam jenis ini adalah artikel tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, fenomena kehidupan sosial-ekonomi, politik, kebudayaan, kesusteraan, dan lain-lain. c. Feature Human Interest Yaitu Feature yang muatan isinya langsung dapat menyentuh rasa perikemanusiaan pembaca, seperti kegembiraan, kejengkelan, bahkan kebenciannya. Misalnya, cerita tentang penjaga mayat di rumah sakit, kehidupan seorang petugas kebersihan di jalanan, liku-liku kehidupan seorang guru di daerah terpencil, suka-duka menjadi dai di wilayah pedalaman, atau kisah seorang penjahat yang dapat menimbulkan kejengkelan. d. Feature Profil Tokoh (biografi) Featur biografi atau tentang riwayat perjalanan hidup seseorang, terutama kalangan tokoh seperti pemimpin pemerintahan dan masyarakat, public figure, atau mereka yang selalu mengabdikan

  • 6

    hidupnya untuk negara, bangsa, atau sesuatu yang bermanfaat bagi peradaban umat manusia, senantiasa mendapat tempat yag terhormat di berbagai perpustakaan kampus dan sekolah di seluruh dunia. Misalnya, riwayat hidup seorang tokoh yang meninggal, tentang seorang yang berprestasi, atau seseorang yang memiliki keunikan sehingga bernilai berita tinggi. Itu sebabnya, kita bisa menuliskan tentang profil para pemimpin Islam di masa lalu, misalnya. Atau kita juga bisa cerita tentang kisahnya al-Khawarizmi, ilmuwan muslim yang menemukan angka nol. e. Feature Perjalanan/Petualangan Feature ini biasanya ditulis oleh pelaku perjalanan atau petualangan secara langsung atau tak langsung. Tulisan ini mengungkap laporan kisah perjalanan, fakta-fakta yang ditemui, dan kesan-kesan yang dirasakan selama perjalanan itu. Feature yang mengajak pembaca, pendengar, atau pemirsa untuk mengenali lebih dekat tentang suatu kegiatan atau tempat-tempat yang di nilai memiliki daya tarik tertentu. Dalam Feature jenis ini, subjektifitas penulis sangat menonjol dengan sudut pandang aku atau kami. Misalnya, tentang perjalanan menunaikan ibadah haji. f. Feature Sejarah Feature ini bercerita tentang fakta-fakta sejarah peristiwa dan tokoh masa lampau di suatu daerah atau tempat. Berbagai tempat dan peninggalan bersejarah, sejak ribuan tahun silam hingga satu abad terakhir, baik dalam lingkup internasional dan nasional maupun dalam lingkup regional dan local, senantiasa menjadi objek cerita feature yang amat menarik. contohnya tentang peristiwa proklamasi kemerdekaan RI, peristiwa Keruntuhan Khilafah Islamiyah, sejarah tentang Istana al-Hamra dan benteng Granada. Melongok kejayaan Islam di masa lalu. Sejarah tentang kekejaman tentara Salib saat membantai kaum muslimin, sejarah pertama kali Islam masuk ke Indonesia dan sebagainya.Feature sejarah yang baik, mampu membawa pembacanya ke masa silam. Seolah para pembaca ikut masuk ke dalam peristiwa sejarah yang dibacanya. g. Feature Tips Feature ini dikenal juga dengan informasi how to do it. Misalnya tentang memasak, merangkai bunga, membangun rumah, seni mendidik anak, panduan memilih perguruan tinggi, cara mengendarai bajaj, teknik beternak bebek, seni melobi calon mertua dan sebagainya. Syarat menjadi penulis feature

    1. Memiliki imajinasi yang kuat dalam membaca masalah ataupun peristiwa yang memungkinkan dia menemukan kisah yang mengena dihati publik

    2. Punya keteraturan dalam berpikir 3. Punya kemampuan untuk research 4. Memiliki keterampilan (cerdik) dalam menentukan polatulisan atau struktur sehingga

    laporan itu jelas dan memikat 5. Pandai berbahasa baik dan benar, serta kreatif menggunakan katadan menyusun kalimat 6. Memiliki kemampuan observasi yang tajam 7. Punya pengetahuan umum yang luas 8. Memerlukan dukungan perpustakaan dan dokumentasi yangbaik(lengkap) 9. Jujur.

    III Tentang Kode Etik Jurnalistik (Pasal 7 ayat (2) UU No. 40/1999 tentang Pers). Wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik:

  • 7

    Pasal 1 Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. Pasal 2 Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Pasal 3 Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah. Pasal 4 Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul. Pasal 5 Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan. Pasal 6 Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. *** Perkembangan pers yang pesat pascareformasi tidak disertai dengan ketersediaan sumberdaya wartawan profesional dan perangkat manajemen pers yang berkualitas. Seolah yang dianut adalah prinsip: yang penting terbit atau tayang, urusan kualitas dan profesionalisme belakangan . Di antara berbagai persoalan internal pers saat ini, salah satu yang mencolok adalah penegakan etika jurnalistik. Salah satu problem atau kerumitan masalah kode etik jurnalistik (KEJ) atau etika pers adalah kemungkinannya untuk ditafsirkan dari beberapa sisi. Bahkan sebuah penelitian mengungkapkan, hanya sebagian kecil wartawan Indonesia (sekitar 17 persen) yang membaca Kode Etik Jurnalistik, apalagi hukum pers. Demikian benang merah yang terungkap dalam lokakarya yang digelar Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS), Jakarta, Selasa (21/7) di Gedung Dewan Pers, Jakarta Atmakusumah mengatakan, walaupun kode etik jurnalistik ada kemungkinan ditafsirkan dari beberapa sisi , hanya penafsiran yang masuk akal atau rasional yang lazimnya dapat diterima oleh para pengamat dan praktisi media pers pada umumnya. Atmakusumah sempat membeberkan contoh berita-berita yang ada masalah dengan kode etik jurnalistik, seperti berita yang menyinggung masalah privasi atau kehidupan pribadi, informasi yang tidak lengkap dan bias, dan ada pula berita yang tak masuk akal. "Berita yang disajikan tidak lengkap atau tidak lebih dari satu sisi, sehingga informasi yang disajikan menjadi parsial dan bias, dapat dipandang melanggar etika jurnalistik. Karena dengan demikian, berita menjadi tidak obyektif," katanya. Atmakusumah Astraatmadja (mantan Direktur Eksekutif LPDS) . Ada empat kode etik yang sanksi moralnya bersifat absolute, yaitu bahwa wartawan harus serta merta meninggalkan profesi jurnalistik untuk selama-lamanya atau seumur hidup, apabila melanggar salah satu kode etik berikut: Pertama, membuat berita dengan informasi yang sejak semula diketahui bohong, tetapi dipublikasikan seolah-olah mengandung kebenaran.

  • 8

    Kedua, menerima suap yang menyebabkan nya mempublikasikan, atau sebaliknya tidak mempublikasikan sesuatu informasi. Ketiga, melakukan plagiarisme, dengan mengutip karya jurnalistik orang lain yang diakuinya sebagai karyanya sendiri. Keempat, mengungkapkan identitas narasumber anonym, konfidensial, atau rahasia, yang menyebabkan narasumber yang dijanjikan akan dirahasiakan itu serta anggota keluarganya mengalami ancaman jiwa. Budiman Tanuredjo (Redaktur Pelaksana Harian Kompas) Yang mengutip hasil penelitian AJI mengatakan, persoalan real wartawan Indonesia adalah minimnya membaca kode etik jurnalistik (angkanya sekitar 17 persen) dan hukum pers. Kode etik jurnalistik di kalangan wartawan belum sampai pada perdebatan etis, karena minim dibaca.. Namun juga diakui, kode etik jurnalistik dan hukum pers ketika diaplikasikan tidak sederhana. Ini yang menjadi masalah selama ini. Karena itu, profesionalisme wartawan di era yang terus berubah, sangat ditantang. Upaya menjadi profesionalisme adalah terus belajar. Wartawan muda cenderung berpuas diri. Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers Agus Sudibyo, Maret 2013. Jumlah pengaduan terkait pers dari seluruh Indonesia yang masuk ke Dewan Pers sepanjang 2012 mencapai lebih dari 500 kasus. Dari jumlah itu, 328 di antaranya merupakan kasus dari media cetak dan 98 pengaduan terkait media online alias media siber. Dari pengaduan yang terkait media online, 76 persen adalah pelanggaran kode etik jurnalistik Ada enam jenis pelanggaran kode etik jurnalistik yang dilakukan oleh media siber yang diadukan ke Dewan Pers. Diantaranya, media siber tidak menguji informasi atau melakukan konfirmasi sebanyak 30 kasus. Pelanggaran ini terjadi karena media siber mengutamakan kecepatan tanpa dibarengi dengan verifikasi. Dilema kecepatan menimbulkan kesalahan pemberitaan. *** *) Oleh Suradi, Msi (Asisten Redaktur Pelaksana Koran Jakarta) Disarikan dari berbagai sumber sebagai bahan pelatihan dan diskusi mahasiswa PTS, Puncak, Senin, 18 November 2013

  • DESAKAN JURNALISME BARU DAN TANTANGAN MEDIA CETAK Erik Purnama Putra

    176

    Judul Buku : Jurnalisme Masa Kini

    Penulis : Nurudin

    Tahun Terbit : Juni 2009

    Penerbit : PT RajaGrafindo Persada

    Tebal : 350 + xvi halaman

    Peresensi : Erik Purnama Putra

    Desakan Jurnalisme Baru dan Tantangan Media Cetak

    PERKEMBANGAN ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang luar biasa cepatnya

    harus diakui membawa dampak positif luar biasa besar dalam bidang komunikasi masyarakat.

    Sekarang, pola komunikasi dan penyampaian informasi setiap orang bisa dilakukan di mana

    saja tanpa takut terhalang jarak maupun waktu. Kondisi itu berkat ditemukannya alat

    komunikasi -- seperti handphone maupun internet -- yang membuat setiap orang semakin

    praktis dalam berinteraksi maupun berkomunikasi dengan orang lain, meski berbeda kota,

    pulau, maupun negara sekalipun.

    Dengan munculnya teknologi informasi yang sedemikian canggih tersebut, juga turut

    berimbas pada penyampain berita yang dimiliki media massa (cetak maupun elektronik)

    kepada masyarakat. Jika dulu koran, radio, dan televisi, selalu berpatok pada aturan baku

    yang membuat informasi disampaikan secara kaku mengikuti kaidah manual yang sudah

    berjalan apa adanya seperti itu, maka kini hal itu tak bisa terus diterapkan.

    Mengingat saat ini, selain media cetak dan elektronik, juga muncul media online yang

    keberadaannya memanfaatkan fasilitas internet sebagai sarana merebut pangsa pasar media

    massa yang sudah lebih dulu eksis. Keberadaan media online yang dapat sewaktu-waktu

    menyajikan berita secara cepat dan tepat tanpa terkendala waktu inilah yang dikhawatirkan

    akan mampu membunuh keberadaan media massa, terutama cetak.

    Ilustrasinya begini, jika ada sebuah pertandingan sepakbola yang dilangsungkan dini

    hari, maka selesai pertandingan itu juga media online mampu memunculkan berita agar dapat

    diakses masyarakat. Berbeda dengan televisi yang masih membutuhkan waktu puluham menit

  • DESAKAN JURNALISME BARU DAN TANTANGAN MEDIA CETAK Erik Purnama Putra

    177

    hingga hitungan jam untuk bisa disiarkan menjadi berita kepada masyarakat. Bahkan, koran

    perlu waktu hampir satu hari untuk menyampaikan hasil pertandingan sepakbola sebab

    menunggu terbitnya edisi esok hari.

    Sehingga jelas rentangan perbedaan waktu yang mencolok antara media online dengan

    televisi. Bahkan koran membuat jeda yang cukup lama tersebut akan menggiring masyarakat

    untuk melirik media informasi internet yang menyajikan beragam berita secara cepat, yang

    diiringi fenomena pembaca koran mau tak mau harus berpindah memanfaatkan intenert biar

    terus up date informasi.

    Karena itu, jika tak mengikuti arus modernisasi yang mengarah pada revolusi model

    penyampaian informasi, media cetak akan tergilas dengan penetrasi internet yang semakin

    masif hingga terjangkau semua penduduk. Sebab, keunggulan internet terletak pada

    keberadaannya yang tak terikat waktu maupun deadline, yang efek baiknya setiap orang bisa

    mengakses sepanjang waktu untuk mendapatkan sajian informasi terkini dan terhangat.

    Menyikapi itu, media cetak perlu untuk berbenah diri menyesuaikan mainstream (arus

    besar) yang memaksa setiap media massa melakukan revolusi besar-besaran agar tak

    ketinggalan zaman dan menjadi bagian sejarah peradaban manusia. Karena jika tidak, pakar

    komunikasi terkenal Philip Meyer, menyebut koran pada 2040 akan berhenti cetak, bisa jadi

    kenyataan kalau tak ada inovasi baru dari pimpinan koran untuk menyikapi perkembangan

    yang ada. Ramalan itu bukan mengada-ngada dan dapat saja benar adanya jika pihak media

    massa tak mengantisipasi segala perubahan yang terjadi di dunia kewartawanan.

    Berangkat dari fenomena itu buku Jurnalisme Masa Kini memberikan gambaran

    strategi yang mesti diterapkan media massa, khususnya koran guna menghadapi era baru di

    mana jurnalisme kontemporer sedang melaju sedemikian derasnya di dunia ini. Karena jika

    tidak mengikuti jurnalisme baru, keberadaan media posisinya akan semakin tergencet di

    tengah laju internet yang semakin familiar di masyarakat.

    Buku pemenang hibah buku teks DIKTI 2008 ini berupaya membedah banyak hal

    seputar perubahan media cetak, hingga tuntutan terhadap wartawan yang melakukan reportase

    lapangan untuk mengikuti perubahan secara total. Tujuannya tak lain supaya para pemimpin

    media, calon jurnalis (reporter) dan peminat kajian komunikasi sejak saat ini siap dapat

  • DESAKAN JURNALISME BARU DAN TANTANGAN MEDIA CETAK Erik Purnama Putra

    178

    memprediksi era komunikasi massa baru yang akan berkembang sangat dahsyat di masa

    datang.

    Tak hanya mengulas perkembangan dinamika trend jurnalisme kontemporer yang tak

    bisa ditawar lagi untuk diterapkan media cetak, penulis juga menyajikan perkembangan pers

    dan jurnalisme di Indonesia, permasalahan mutakhir praktik jurnalisme di negeri ini, misalnya

    kasus seputar dampak pemberitaan media yang mempengaruhi opini publik, hingga persoalan

    tarik ulur kepentingan atas keberadaan UU Pokok Pers terkait pemberitaan media massa, yang

    kadang dipermasalahkan pihak narasumber hingga berlanjut ke pengadilan.

    Untuk diketahui, sebelum internet berkembang sedemikian cepat seperti saat ini,

    tuntutan agar media cetak berbenah diri mengikuti arus zaman sebenarnya tidak muncul

    begitu saja sebagai respon reaktif semata. Melainkan sudah disuarakan beberapa puluh tahun

    lalu ketika internet belum digunakan masyarakat. Adalah Tom Wolf yang mulai

    memperkenalkan istilah new journalism (jurnalisme baru) sebagai sarana menyajikan berita

    model baru melalui teknik peliputan sekaligu penulisan yang menjadi gaya baru dalam profesi

    kewartawanan.

    Tom Wolf yang meraih gelar doktor di bidang American Studies dari Universitas

    Yale, mulai menerapkan genre jurnalisme baru saat bekerja sebagai wartawan di New York

    Herald Tribune pada 1962. Melalui penulisan beberapa bukunya pada periode 1960-1970-an,

    dia mulai menyebarkan ajaran aliran jurnalisme baru, yang merupakan bentuk antithesis

    jurnalisme yang selama ini berkembang di dunia kewartawanan.

    Tentu, ide segar dan pembuatan wacana melalui propaganda tulisan yang dibuat Tom

    Wolf untuk memperkenalkan aliran jurnalisme baru menyulut kontroversi di kalangan

    penggiat media cetak pada masa itu. Alhasil, gagasan modern tersebut tak langsung diterima

    begitu saja mengingat sebagian besar praktisi media menilai tulisan yang tak terstruktur dan

    menabrak pola pakem 5W+1H, melalui teknik penulisan yang tak lazim dinilai konyol dan

    menyalahi aturan. Sehingga tak begitu saja model baru itu diterima mayoritas media cetak,

    bahkan ada yang menolaknya mentah-mentah.

    Namun kini, apa yang dirintis Tom Wolf sepertinya menjadi sebuah keharusan yang

    mesti diaplikasikan setiap pimpinan media cetak. Betapa tidak, arus informasi yang

    mengutamakan kecepatan informasi memaksa setiap orang berpikir dua kali untuk membeli

  • DESAKAN JURNALISME BARU DAN TANTANGAN MEDIA CETAK Erik Purnama Putra

    179

    koran jika ternyata berita yang disajikan sudah ada di media online, yakni internet. Maka tak

    heran kalau dulu model jurnalisme baru dianggap tak relevan, sekarang berbalik karena

    semua koran di Tanah Air berlomba melakukan inovasi sedemikian rupa agar keberadaannya

    tetap dilirik masyarakat.

    Untuk itu, Nurudin yang juga dosen Ilmu Komunikasi UMM ini, menyarankan media

    cetak agar mengaplikasikan prinsip-prinsip jurnalisme baru sebagai sarana supaya

    eksistensinya di masyarakat memiliki kekhasan dan keunggulan tersendiri yang tak dipunyai

    media online. Salah satu yang paling mencolok adalah tuntutan diadakannya rubrik citizen

    journalism (jurnalisme warga negara), yang bertujuan memberikan wadah bagi pembaca

    untuk memunculkan rasa kedekatan dengan pihak media cetak.

    Jika selama ini pihak pihak media cetak (pemimpin redaksi hingga wartawan) hanya

    menyajikan berita yang rutin diterbitkan setiap hari dan menganggap pembaca sebagai

    konsumen. Maka dengan adanya rubrik citizen journalism, pembaca bisa menjadi wartawan

    dengan melakukan liputan langsung setiap peristiwa yang memiliki kandungan berita menarik

    yang layak diinformasikan. Maksudnya, pembaca dapat menulis dan melaporkan beragam

    peristiwa unik yang terjadi disekitarnya untuk dikirim ke koran. Asalkan memenuhi unsur

    minimal aturan baku sebuah berita, pasti pihak redaksi tak akan segan-segan memuat tulisan

    berita yang ditulis pembaca.

    Hal itu jelas merupakan sebuah inovasi baru guna menghadapi tuntutan zaman agar

    keberadaan koran tak ditinggalkan masyarakat. Karena di samping pihak media cetak

    diuntungkan dengan berita unik yang sempat lolos dari liputan wartawannya. Di sisi lain,

    pengirim berita juga akan senang sebab tulisannya dimuat dan dibaca banyak orang, yang

    secara tak langsung menimbulkan dampak psikologis berupa kedekatan konsumen dengan

    media cetak. Sehingga terjadi simbiosis mutualisme, di mana kedua pihak akhirnya merasa

    diuntungkan. Dan jalinan rasa pertalian hubungan tak terlihat tersebut akan membuat berita

    yang disajikan koran akan tetap selalu dirindukan dan tak tergantikan di hati masyarakat,

    walaupun sajian berita di media online terus berjalan.

    Aplikasi Jurnalisme Masa Kini

  • DESAKAN JURNALISME BARU DAN TANTANGAN MEDIA CETAK Erik Purnama Putra

    180

    Di provinsi Jawa Timur, dari berbagai media cetak yang terbit setiap hari, baru dua

    koran yang sudah membuka rubrik citizen journalism, yakni Surya dan Surabaya Post, yang

    keduanya terbit di kota Surabaya. Faktanya, masyarakat sangat apresiatif dengan dibukanya

    rubrik citizen journalism itu. Kondisi itu dapat dilihat dari banyaknya penulis pemula yang

    muncul dengan beragam peristiwa yang dilaporkannya. Hasilnya, rubrik tersebut disebut-

    sebut sebagai yang paling favorit sebab banyak pembaca berebut menulis hingga harus

    dilakukan proses seleksi ketat oleh redaksi koran tulisan mana saja yang layak dimuat. Dan

    jika keadaan itu terus berlanjut bukan tak mungkin media cetak lainnya bakal mengikuti

    membuka ruang citizen journalism. Sebenarnya bukan itu yang menjadi titik perhatian yang

    menjadi ulasan, melainkan lebih pada upaya media cetak tampil beda supaya keberadaannya

    tetap diterima masyarakat di tengah perkembangan media online yang tak terbendung.

    Di samping memberikan sarana edukasi bagi masyarakat sebagai sarana belajar

    menulis, pembukaan rubrik baru tersebut meruntuhkan mitos bahwa hanya kelompok tertentu

    yang bisa menjadi wartawan. Meskipun juga tak bisa menyandingkan hasil tulisan berita dari

    masyarakat dengan wartawan profesional.. Berpatokan dari itu, secara keseluruhan terbukti,

    media cetak yang mulai mengembangkan aliran new journalism eksistensinya tak tergerus

    internet dan tetap dibutuhkan pembaca.

    Memang tak mudah menerapkan aliran jurnalisme kontemporer dalam media cetak

    mengingat ada hambatan tertentu yang wajib di atasi sehingga tak semua pihak media cetak

    mengaplikasiannya. Di samping terhalang kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) wartawan,

    juga tak adanya kemauan pimpinan media cetak itu sendiri dalam mengantisipasi perubahan

    jurnalisme yang menjadi trend global. Tak heran, pada akhirnya beberapa media cetak

    semakin ditinggal pembaca dan mengalami kebangkrutan sebab tak ada lagi pembacanya.

    Meskipun banyak kelebihan di sana-sini, kehadiran jurnalisme baru turut serta

    membawa kekurangan yang mengundang kritik dari berbagai pengamat maupun praktisi

    media. Keadaan itu wajar saja mengingat jurnalisme baru dapat dikatakan merupakan

    tantangan bagi wartawan, yang membuat tak selamanya yang baru selalu sempurna dan tanpa

    kekurangan.

    Karenanya, buku karya penulis yang telah mempublikasikan puluhan ini

    mengungkapkan, kritik yang muncul disebabkan; pertama, jurnalisme baru membutuhkan

  • DESAKAN JURNALISME BARU DAN TANTANGAN MEDIA CETAK Erik Purnama Putra

    181

    keberanian dalam memberitakan peristiwa yang menghebohkan, misal perlu investigasi guna

    menggambarkan fakta secara detail agar berita lebih hidup ketika dibaca. Yang skill itu tentu

    tak dibutuhkan gaya jurnalisme lama yang menyajikan berita secara datar dan kaku.

    Kedua, dibutuhkannya keahlian menulis. Maksudnya, wartawan harus memiliki

    keahlian menulis yang merupakan kunci utama guna menggambarkan fakta, mulai

    mendeskripsikan obyek maupun karakter yang ditemui di lapangan, sisi lain yang layak

    dikupas, hingga gaya penulisan yang memberikan perspektif baru bagi pembaca. Semua itu

    tak bisa dilakukan kalau wartawan tak terlatih dan memiliki kemampuan menulis standart.

    Ketiga, jurnalisme baru tulisannya sangat panjang. Hal itu disebabkan untuk mengajak

    pembaca supaya melihat detail kejadian berita secara beragam dan di luar banyak hal yang

    selama ini ditulis wartawan pada umumnya. Dari sudut di luar baku itulah dan penjabaran

    rangkaian fakta menjadi enak dibaca akan menabrak kaidah jurnalisme kuno yang biasanya

    menurunkan berita secara singkat dan padat dengan alasan keterbatasan space koran.

    Keempat, penulisan berita harus mendalam. Wartawan tak bisa tidak untuk menulis

    fakta di lapangan dengan meminjam istilah Linda Christianty secara panjang, dalam, dan

    terasa. Sehinga tak permukaan saja yang ditulis, melainkan di balik itu semua yang membuat

    peristiwa menarik akan diberitakan perlu diulas secara menyeluruh dengan cara menyajikan

    melalui tulisan mendalam melalui hasil olah fakta di lapangan ditambah bantuan kepekaan

    panca indera yang berhasil dirasa, didengar, dan dilihat.

    Kelima, jurnalisme lama masih dibutuhkan masyarakat. Aneh tapi nyata, fakta

    membuktikan meskipun banyak koran sudah mengedepankan model jurnalisme baru, tetap

    saja koran yang menerapkan jurnalisme kuno masih diminati sebagai kalangan. Sehingga tak

    mutlak jurnalisme baru pasti lebih baik jika ukurannya itu.

    Pada bagian lain, alumnus pascasarjana Riset dan Pengembangan Teori Komunikasi

    UNS Surakarta ini mengupas pentingnya kompetensi wartawan sebagai ujung tombak media

    cetak dalam mencari dan menyajikan berita. Karena sebagai mata dan telinga masyarakat,

    tugas wartawan menjadi lebih berat dalam menyusun rangkaian kata-kata untuk diberitakan

    berdasarkan hasil terjun di lapangan jika berpatokan pada jurnalisme baru.

    Pasalnya, jika masih berpatokan jurnalisme lama, wartawan akan cenderung setuju

    dengan ungkapan yang dipopulerkan Carles A Dana, When a dog bites a man that is no

  • DESAKAN JURNALISME BARU DAN TANTANGAN MEDIA CETAK Erik Purnama Putra

    182

    news, but a man bites a dog that is a news. Namun, ketika sudah mulai mengaplikasikan

    prinsip jurnalisme baru, wartawan akan mendapatkan banyak hal jika pernyataan di atas

    benar-benar terjadi di masyarakat. Bagaimana tidak, jika yang menginggit adalah publik figur,

    sementara yang digigit anjing hanya seorang gelandangan, pasti kita akan sepakat bahwa

    orang terkenal yang mempunyai nilai berita lebih tinggi. Karena pasti segala hal terkait publik

    figur bisa diberitakan, apalagi jika sampai melakukan tindakan tak biasa sampai menggigit

    anjing, tentu memiliki nilai berita tinggi asalkan ditulis dari sudut tertentu dan di luar

    ketentuan baku, asal tak mengesampingkan fakta.

    Maka itu, istilah Good news is no news, bad news is good news sudah tak relevan

    lagi dipercayai sebagai patokan untuk menilai sebuah peristiwa yang layak dijadikan berita

    oleh wartawan. Misal, ada seseorang yang mendapatkan hadiah uang Rp 1 milyar setelah

    dinyatakan sebagai pemenang dalam undian belanja. Mengingat jika teliti, wartawan akan

    bisa mengungkap banyak informasi di balik munculnya berita baik tersebut, seperti

    bagaimana perasaannya menjadi kaya mendadak, mau diapakan uanganya, atau adakah

    munculnya firasat sebelum mendapat rejeki nomplok? Itu semua jelas bisa dijadikan berita

    yang layak disajikan kepada masyarakar, sebab peristiwa itu unik, jarang terjadi, dan tak

    semua orang mengalaminya. Sehingga tak ada alasan tidak untuk tak menulisnya menjadi

    berita yang memiliki kadar informasi tinggi..

    Jika sudah begitu, di tengah kekurangannya, jurnalisme baru banyak menawarkan

    berbagai kelebihannya yang sangat sayang jika tak diterapkan oleh wartawan maupun

    pimpinam media cetak. Pasalnya, persaingan koran yang semakin ketat menuntut setiap

    media cetak untuk menyajikan berita yang lain daripada berita yang diturunkan

    kompetitornya, apabila tak ingin kehilangan pembaca yang berdampak pada turunnya oplah

    koran.

    Tak salah jika saya sebut himpitan akan hadirnya media online berbasis internet

    dengan keunggulan up date dari segi informasinya layak dijadikan sebagai tantangan agar

    media cetak lebih kreatif dalam menghadapi tuntutan zaman, bukannya itu dianggap sebagai

    ancaman. Karena keberadaan koran akan tetap dibutuhkan masyarakat sepanjang mampu

    memberikan informasi yang tak mampu diberikan media online yang juga memiliki

    keterbatasan.

  • DESAKAN JURNALISME BARU DAN TANTANGAN MEDIA CETAK Erik Purnama Putra

    183

    Berpatokan itu, buku ini layak dikoleksi para calon jurnalis, pimpinan media cetak,

    dosen komunikasi, dan masyarakat umum peminat kajian jurnalisme. Tak lain supaya semua

    pihak yang bersentuhan langsung dengan dunia kewartawanan dapat segera mengantisipasi

    perubahan besar yang tak bisa dihentikan, yakni revolusi pentingnya jurnalisme baru

    diaplikasikan dalam media massa, khususnya media cetak.

    Dinamika jurnalistik televisiDinamika jurnalistik televisi

    Bahan-pelatihan-dan-diskusi-JurnalistikDesakan jurnalisme baru