Diana Noor Fatmawati

of 109/109
KARYA TULIS ILMIAH TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG KAPSUL VITAMIN A DI BIDAN PRAKTEK SWASTA NY. SOEHARTI INTIASIH LUMAJANG Oleh : DIANA NOOR FATMAWATI
  • date post

    07-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    11
  • download

    0

Embed Size (px)

description

rgawtgwa

Transcript of Diana Noor Fatmawati

LEMBAR PENGESAHAN

KARYA TULIS ILMIAH

TINGKAT PENGETAHUAN

IBU NIFAS TENTANG KAPSUL VITAMIN A

DI BIDAN PRAKTEK SWASTA NY. SOEHARTI INTIASIH

LUMAJANG

Oleh :

DIANA NOOR FATMAWATIAKADEMI KEBIDANAN WIDYAGAMA HUSADA-MALANG

MALANG

2006KARYA TULIS ILMIAH

TINGKAT PENGETAHUAN

IBU NIFAS TENTANG KAPSUL VITAMIN A

DI BIDAN PRAKTEK SWASTA NY. SOEHARTI INTIASIH

LUMAJANG

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan

Pendidikan Tinggi Diploma III Kebidanan

Oleh :

DIANA NOOR FATMAWATINIM : 0302.09

AKADEMI KEBIDANAN WIDYAGAMA HUSADA MALANG

MALANG

2006LEMBAR PENGESAHANKarya Tulis Ilmiah ini disetujui untuk dipertahankan di hadapan

Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan Widyagama Husada Malang

Pada tanggal 27 September 2006

Mengesahkan

Akademi Kebidanan

Widyagama Husada-Malang

Jiarti Kusbandiyah, S.SiT

27 September 2006( )

Penguji I

Patemah, S.SiT

27 September 2006( )

Penguji II

Isman Amin, S.KM

27 September 2006( )

Penguji III

Mengetahui

Direktur Akademi Kebidanan

Widyagama Husada-Malang

(Yuliyanik, S.KM) LEMBAR PERSETUJUAN

Karya Tulis Ilmiah ini disetujui untuk dipertahankan di hadapan

Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan Widyagama Husada Malang

Malang, 27 September 2006

Menyetujui,

Pembimbing IPembimbing II

(Patemah, S.SiT)(Isman Amin, S.KM)

PERSEMBAHANKU

Ibu, Ayah

Jika temaram senja kembali turun menapaki perjalananku di hari-hari kemarin

Jika tembang yang kugemakan sudah sampai saatnya pada bait yang terakhir,

Jika pada akhir perjalanan ini aku tertunduk, mengurai kenang, melacak dan menapaki bayang-bayangku kembali, maka sesungguhnya hari ini kumencoba tuk mengumpulkan, merangkai, merakit rasa terima kasihku padamu

Ibu, Ayah

Andaikan engkau tahu, mendengar dan merasakan.

Betapa dadaku terasa sesak, dicekam haru menatap sesungging senyum tulus kasihmu,

Betapa merindingnya tubuhku ketika ku dengar lantunan tembang doamu di malam yang berselimut kesunyian,

Tak sanggup aku membendung air mata & mendekap keharuan yang begitu dalam

Hingga wajah dan mataku mulai merebak menahannya

Ibu, ayah

Pernahkah kau membayangkan betapa bangga dan bahagianya aku yang beruntung telah kau belai dengan tangan lembut dan kasihmu yang tanpa pamrih

Ingin kudekap kebahagiaan yang telah kau berikan, ingin kubawa sampai puncak cita-citaku

Ibu, Ayah,

Maafkanlah kesalahanku, sambutlah uluran rasa terima kasihku

Berikanlah restumu untukku, lantunkanlah tembang doamu untukku disetiap hari, setiap waktu, setiap saat

Aku tahu, doamu adalah sinar yang menerangi setiap langkahku

Sementara jauh di dasar hatimu, kau tak pernah berfikir, betapa tiada terbilang kau telah membiaskan sinar kasih sayangmu pada setiap jiwaku dan setiap desah nafasku

N tuk Adikku Rizka

Thanks to support & bantuanmu selama iniNtuk Sahabatku:

Heni, Ita, Tanty, Vivi, Yulia, Novita, Yenik, Eva, Mbk Nur, Mbk Kris, Ayun, Ary, Noviyang telah banyak membantuku, mendorongku, memberi dukungan & semangat untukku di dalam sedih maupun bahagia hingga menuju saat ini

YOUR FRIENDLY AFFECTION

IS A BRIGHT LIGHT IN MY LIFE

ILLUMINATING MY SOUL AND

ADDING RADIANCE TO MY LIFE

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat, taufiq, hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Kapsul Vitamin A sebagai salah satu persyaratan akademis dalam rangka menyelesaikan kuliah di Akademi Kebidanan Widyagama Husada Malang.

Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, penulis telah mendapat bimbingan, arahan dan bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada :

1. Yuliyanik, S.KM, selaku Direktur Akademi Kebidanan Widyagama Husada Malang

2. Jiarti Kusbandiyah, S.SiT, selaku dosen penguji I yang telah mengarahkan dan membimbing dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini

3. Patemah, S.SiT, selaku dosen penguji II yang telah mengarahkan dan membimbing dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini

4. Isman Amin, S.KM, selaku dosen penguji III yang telah mengarahkan dan membimbing dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini

5. Soeharti Intiasih, selaku BPS yang telah memberikan kesempatan, bimbingan dan ijin untuk melaksanakan penelitian

6. Bapak dan ibu yang telah memberikan dukungan moril, materiil dan doa yang tulus selama ini

7. Teman-teman satu angkatan atas bantuan dan kerjasamanya selama ini

Penulis menyadari bahwa dalam teknik pembuatan Karya Tulis Ilmiah dan penulisannya masih ada yang tidak sempurna, oleh karena itu saran yang membangun sangat diharapkan oleh penulis. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini berguna bagi diri kami sendiri maupun pihak lain yang memanfaatkannya.

Penulis

ABSTRACTNoor Fatmawati, Diana. 2006. The Degree of Knowledge of the Mother In Childbirth About Vitamin A Capsules at Private Practice Midwifery Mrs. Soeharti Intiasih Lumajang. Science Thesis, Midwifery Academic of Widyagama Husada-Malang. Advisor : (1) Patemah, S.SiT, (2) Isman Amin, S.KM.

Vitamin A is one of the most important nutrients for human being that cannot be produced by our body so that we have to fulfill from out side. In the childbirth, the need of Vitamin A goes increasingly but the fact shows that the consumption of this vitamin is still low which is caused by the lack of knowledge of the mother in childbirth. Based on the pre study from April 1st up to 10th April 2006 by distributing questionnaire to 20 mothers in childbirth at Private Practice Midwifery Mrs. Soeharti Intiasih, we can say that 45 % (9 respondents) have a good knowledge, 50 % (10 respondents) have lack of knowledge and 5 % (1 respondent) has bad knowledge. From this research above can be presented that the child bed mothers do not understand about vitamin A capsules.

This study uses descriptive method which aims at finding the degree of mother in childbirth at Private Practice Midwifery Mrs. Soeharti Intiasih Lumajang and the researcher only concern on the degree of know and understand. The population of this study are all mothers have given birth of babies at Private Practice Midwifery Mrs. Soeharti Intiasih Lumajang. The sample of the research is the total population that is the degree of mothers in childbirth on the first and second days in Private Practice Midwifery from July 23rd up to 21st of August 2006 as much as 47 peoples. The variable of this study is the knowledge degree of mothers in childbirth about vitamin A capsules and is divided into two sub variables which we call know and understand.

The data collection is done by distributing questionnaire and the data is then tested in percentage formula using SPSS 11. The result of the study shows that the degree of know 46,8 % respondents know well and only 6,4 % is bad of knowledge. On the other side, the degree of understand results 31,9 % have lack of knowledge and 12,8 % have bad knowledge. In other words, we can say that the degree of knowledge of mothers in childbirth about vitamin A capsules at Private Practice Midwifery Mrs. Soeharti Intiasih Lumajang on the degree of know is better compared with the degree of understand.

From the research results, the writer suggests that research place private practice midwifery Mrs. Soeharti Intiasih is to give more extension about the important of vitamin A capsules in such a way that the mothers in childbirth are able to understand easily.

Bibliographies:24 references (in 1997-2006)

Key words:The degree of knowledge, mothers in childbirth, vitamin A capsules

ABSTRAK

Noor Fatmawati, Diana. 2006. Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Kapsul Vitamin A di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih Lumajang. Karya Tulis Ilmiah, Akademi Kebidanan Widyagama Husada-Malang. Pembimbing : (1) Patemah, S.SiT, (2) Isman Amin, S.KM.

Vitamin A adalah salah satu zat gizi penting bagi manusia yang tidak dapat dibuat oleh tubuh sehingga harus dipenuhi dari luar. Pada masa nifas, kebutuhan vitamin A meningkat tetapi kenyataannya konsumsi vitamin A justru sangat rendah pada ibu nifas yang disebabkan karena pengetahuan ibu tentang vitamin A yang masih rendah. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan tanggal 1 - 10 April 2006 dengan membagikan kuesioner terhadap 20 ibu nifas di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih dapat diketahui bahwa 45 % (9 orang) tingkat pengetahuan cukup baik, 50 % (10 orang) tingkat pengetahuan kurang baik dan 5 % (1 orang) tingkat pengetahuan tidak baik. Dari hasil yang didapatkan diatas dapat diketahui bahwa masih banyak ibu nifas yang belum mengetahui tentang kapsul vitamin A

Desain penelitian ini adalah deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A di BPS Ny. Soeharti Intiasih Lumajang pada tingkat tahu dan paham. Populasi penelitian ini adalah semua ibu nifas di BPS Ny Soeharti Intiasih Lumajang. Sampel yang digunakan adalah total populasi yaitu ibu nifas hari ke 1 dan 2 yang berada di BPS tersebut mulai tanggal 23 Juli 21 Agustus 2006 yang berjumlah 47 orang. Variabel penelitian ini adalah tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A yang terbagi menjadi 2 sub variabel yaitu tahu dan paham.

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah quesioner, sedangkan pengolahan data menggunakan rumus prosentase dan diuji dengan SPSS 11. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa pada tingkat tahu 46,8 % berpengetahuan baik dan sebagian kecil yaitu 6,4 % pengetahuannya tidak baik. Sedangkan tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A pada tingkat paham adalah hampir separuh yaitu 31,9 % berpengetahuan kurang baik dan 12,8 % pengetahuannya tidak baik. Maka secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A di Bidan Praktek Swasta Ny Soeharti Intiasih Lumajang pada tingkat tahu lebih baik bila dibandingkan dengan tingkat paham.

Saran yang dapat diberikan yaitu setelah mengetahui hasil penelitian ini diharapkan tempat penelitian yaitu BPS Ny. Soeharti Intiasih untuk bisa meningkatkan penyuluhan tentang kapsul vitamin A agar mudah dimengerti ibu nifas.

Kepustakaan:24 kepustakaan (1997-2006)

Kata kunci:Tingkat pengetahuan, ibu nifas, kapsul vitamin A

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN PENGESAHAN

ii

HALAMAN PERSETUJUANiii

HALAMAN PERSEMBAHANiv

KATA PENGANTAR

vi

ABSTRACT

vii

ABSTRAK

viii

DAFTAR ISI

ix

DAFTAR TABEL

xiDAFTAR GAMBAR

xiiDAFTAR LAMPIRAN

xiiiBAB 1PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Rumusan Masalah

3

1.3 Tujuan Penelitian

3

1.3.1 Tujuan Umum

3

1.3.2 Tujuan Khusus

3

1.4 Manfaat Penelitian

3

BAB 2TINJAUAN PUSTAKA

5

2.1 Konsep Pengetahuan

5

2.1.1 Pengertian

5

2.1.2 Proses Adopsi Perilaku

5

2.1.3 Tingkat Pengetahuan

6

2.1.4 Cara memperoleh Pengetahuan

7

2.1.5 Cara Mengukur Tingkat Pengetahuan

9

2.1.6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

9

2.2 Konsep Ibu Nifas

11

2.3 Konsep Kapsul Vitamin A

11

2.3.1 Pengertian Kapsul Vitamin A

11

2.3.2 Manfaat Vitamin A Secara Umum

11

2.3.3 Manfaat Kapsul Vitamin A bagi Ibu Nifas dan Bayi

15

2.3.4 Angka Kecukupan Gizi Vitamin A

15

2.3.5 Sumber Vitamin A16

2.3.6 Sasaran, Dosis Pemberian Kapsul Vitamin A17

2.3.7 Waktu Pemberian Kapsul Vitamin A18

2.3.8 Defisiensi Vitamin A20

2.3.9 Tanda dan Gejala Kurang Vitamin A20

2.3.10 Hipervitaminosis Vitamin A21

2.3.11 Tempat Pelayanan Kapsul Vitamin A bagi Ibu Nifas22

BAB 3METODE PENELITIAN24

3.1 Desain Penelitian24

3.2 Kerangka Konsep24

3.3 Populasi, Sampling dan Sampel25

3.3.1 Populasi 25

3.3.2 Sampel26

3.3.3 Sampling26

3.4 Kriteria Inklusi Dan Eksklusi26

3.4.1 Kriteria Inklusi26

3.4.2 Kriteria Eksklusi27

3.5 Variabel Penelitian27

3.6 Definisi Konseptual27

3.7 Definisi Operasional28

3.8 Tempat Dan Waktu Penelitian28

3.9 Teknik Pengumpulan Data29

3.10 Teknik Pengolahan Dan Analisa Data29

3.11 Etika Penelitian31

BAB 4HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN32

4.1Hasil Penelitian32

4.1.1 Gambaran Umum BPS Ny. Soeharti Intiasih32

4.1.2 Karakteristik Responden33

4.1.3Gambaran Tingkat Pengetahuan Responden37

4.2Pembahasan

39

4.3Keterbatasan Penelitian43

BAB 5PENUTUP44

5.1Kesimpulan44

5.2Saran44

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

NomorJudul TabelHalaman

2.1Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan untuk vitamin A16

3.1Definisi Operasional28

DAFTAR GAMBAR

NomorJudul GambarHalaman

2.1Peranan vitamin A dalam penyesuaian cahaya remang12

3.1Bagan skematik kerangka konsep penelitian25

4.1Distribusi frekuensi ibu nifas berdasarkan umur di BPS

33

Ny Soeharti Intiasih tanggal 23 Juli 2006 - 21 Agustus 2006

4.2Distribusi frekuensi ibu nifas berdasarkan pendidikan di BPS 34

Ny Soeharti Intiasih tanggal 23 Juli 2006 - 21 Agustus 2006

4.3 Distribusi frekuensi ibu nifas berdasarkan pekerjaan di BPS 34

Ny Soeharti Intiasih tanggal 23 Juli 2006 - 21 Agustus 2006

4.4 Distribusi frekuensi ibu nifas berdasarkan jumlah anak 35

di BPS Ny. Soeharti Intiasih tanggal 23 Juli 2006 - 21 Agustus 2006

4.5 Distribusi frekuensi ibu nifas berdasarkan informasi tentang36

kapsul vitamin A

4.6 Distribusi frekuensi ibu nifas berdasarkan sumber informasi 37

yang didapat

4.7 Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan ibu nifas tentang 38

kapsul vitamin A di BPS Ny Soeharti Intiasih pada tingkat

tahu

4.8 Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan ibu nifas tentang 39

kapsul vitamin A di BPS Ny Soeharti Intiasih pada tingkat

paham

DAFTAR LAMPIRAN

NomorJudul LampiranHalaman

1Jadwal Karya Tulis Ilmiah48

2Surat Ijin Penelitian49

3Surat Tembusan Ijin Penelitian50

4Permohonan Kesediaan Menjadi Responden51

5Kisi-Kisi Kuesioner53

6Kunci Jawaban Kuesioner54

7Kuesioner Penelitian55

8Master Sheet62

9Tabel Telly64

10Tabel Frekuensi65

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Vitamin A merupakan salah satu zat gizi penting bagi manusia, karena zat gizi ini tidak dapat dibuat oleh tubuh, sehingga harus dipenuhi dari luar (Depkes RI, 2000). Kebutuhan vitamin A ini akan meningkat salah satunya pada ibu nifas karena pada masa itu ibu beresiko tinggi mengalami kekurangan vitamin A.

Namun, tidak semua perempuan Indonesia menyadari kekurangan itu. Hasil penelitian yang dilakukan Helen Keller Internasional menunjukkan bahwa asupan vitamin A perempuan Indonesia sangat rendah yaitu hanya 1/3 dari jumlah yang dianjurkan sebesar 500 RE (Hanoman, 2006). Oleh sebab itu, pemerintah mengeluarkan program suplementasi kapsul vitamin A dosis tinggi untuk memenuhi kebutuhan vitamin tersebut.

Pemberian kapsul vitamin A bagi ibu nifas sangat penting tidak saja bagi ibu tetapi juga untuk bayinya. Tambahan vitamin A melalui suplemen dapat meningkatkan kualitas ASI, meningkatkan daya tahan tubuh dan meningkatkan kelangsungan hidup anak (Keller, 2005). Selain itu, pemberian vitamin A pada ibu nifas dapat meningkatkan cadangan vitamin A pada bayi baru lahir hingga enam bulan pertama kehidupannya yang merupakan masa rawan. Walaupun bayi dilahirkan dari ibu berstatus gizi baik, tetapi mereka hanya memiliki cadangan vitamin A yang terbatas dalam tubuh dan hanya cukup memenuhi kebutuhan bayi sekitar dua minggu (Niz, 2003). Sehingga diperlukan ASI dengan kandungan vitamin A tinggi dari ibu nifas yang mengkonsumsi vitamin A.

Dalam program suplementasi vitamin A ini banyak kendala yang menyertainya salah satunya adalah masih banyak ibu nifas yang belum mengetahui seberapa pentingnya kapsul vitamin A ini bagi dirinya maupun bayinya karena pengetahuannya yang masih kurang akibat sosialisasi kapsul vitamin A yang masih terbatas pada ibu nifas. Untuk masalah ini bila tidak segera ditangani maka akan menyebabkan terjadinya gangguan pada ibu nifas yang dapat menimbulkan komplikasi pada bayi (Nainggolan, 2004).

Masih rendahnya cakupan vitamin A bagi ibu nifas ini terbukti yaitu berdasarkan laporan tahun 1998/ 1999 cakupan pemberian kapsul vitamin A pada ibu nifas sekitar 40 % (Depkes RI, 2000). Sedangkan target cakupan pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi paling sedikit 80 % dari seluruh sasaran (Depkes RI, 2000). Angka cakupan vitamin A ibu nifas di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih Lumajang mulai bulan januari hingga mei 2006 adalah 58,76 % (114 orang) dari 194 ibu nifas.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan mulai tanggal 1 sampai dengan 10 April 2006 dengan cara membagikan kuesioner terhadap 20 ibu nifas yang berada di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih Lumajang dapat diketahui bahwa 45 % (9 orang) tingkat pengetahuan cukup baik, 50 % (10 orang) tingkat pengetahuan kurang baik dan 5 % (1 orang) tingkat pengetahuan tidak baik. Dari hasil yang didapatkan diatas dapat diketahui bahwa masih banyak ibu nifas yang belum mengetahui tentang kapsul vitamin A

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, peneliti tertarik untuk meneliti tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih Lumajang. Dengan harapan penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A.

1.2 Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu : Bagaimana tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih Lumajang ?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan umum

Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih Lumajang.

1.3.2 Tujuan khusus1. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih Lumajang pada tingkat tahu.

2. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih Lumajang pada tingkat paham.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi peneliti

1. Menambah pengetahuan peneliti tentang kapsul vitamin A

2. Untuk mendapatkan gambaran tentang tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A

3. Menambah pengalaman baru dalam penelitian bidang kesehatan.

1.4.2 Bagi tempat penelitian

Sebagai dasar masukan atau informasi bagi bidan di tempat penelitian tentang tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A sehingga dapat menentukan kebijakan lebih lanjut

1.4.3 Bagi masyarakat

Memberi gambaran atau informasi pengetahuan masyarakat tentang kapsul vitamin A di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih Lumajang, sehingga diharapkan bisa meningkatkan pengetahuan tentang kapsul vitamin A untuk ibu nifas.

1.4.4 Bagi pembaca

1. Penulis berharap hasil penelitian dapat menambah pengetahuan bagi pembaca terutama mengenai tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A.

2. Sebagai data awal yang dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya mengenai tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A.

1.4.5 Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai bahan bacaan dan referensi tentang kapsul vitamin A ibu nifas

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Pengetahuan

2.1.1 PengertianPengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior) (Notoatmodjo, 2003).

Pengetahuan adalah kesan dalam pemikiran manusia sebagai hasil penggunaan pancaindranya yang berbeda sekali dengan kepercayaan, takhayul dan penerangan-penerangan yang keliru (Ahmadi, 1997).

2.1.2 Proses Adopsi PerilakuDari pengalaman penelitian terbukti bahwa prilaku yang didasari oleh pengetahuan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (1974) dalam Notoatmodjo (2003) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan, yakni:

1. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu

2. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus

3. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.

4. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru

5. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus

2.1.3 Tingkat PengetahuanMenurut Notoatmodjo (2003) mengemukakan bahwa pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yakni :

1. Tahu (know)

Artinya kemampuan untuk mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang telah dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan.

2. Memahami (comprehension)

Artinya suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan terhadap objek yang dipelajari.

3. Aplikasi (aplication)

Artinya kemampuan untuk menggunakan materi yang dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya yaitu dengan penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya.

4. Analisis (analysis)

Artinya adalah kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5. Sintesis (synthesis)

Artinya kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

6. Evaluasi (evaluation)

Artinya kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada

2.1.4 Cara Memperoleh Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2005) cara memperoleh pengetahuan ada 2 yaitu :

1. Cara Kuno (Tradisional) Atau Non Ilmiah

a). Cara coba-salah (trial and error)

Cara ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut berhasil dipecahkan.

b). Cara kekuasaan atau otoritas

Yaitu kebiasaan dan tradisi-tradisi yang dilakukan oleh orang, tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan itu sudah baik atau tidak. Kebiasaan ini biasanya diwariskan turun-menurun dari generasi ke generasi berikutnya.

c). Berdasarkan pengalaman pribadi

Cara ini dilakukan dengan mengulang kembali pengalaman yang pernah diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu.

d). Melalui jalan pikiran

Cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pernyataan-pernyataan yang dikemukakan kemudian dicari hubungan sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan.

2. Cara Modern Atau Cara Ilmiah Disebut Juga Metode Penelitian Ilmiah

Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan lebih sistematis, logis dan ilmiah.

2.1.5 Cara Mengukur Tingkat PengetahuanCara mengukur tingkat pengetahuan dapat dilakukan dengan skoring, yaitu :

1. Tingkat pengetahuan baik bila didapatkan hasil 76-100%

2. Tingkat pengetahuan cukup bila didapatkan hasil 56-75 %

3. Tingkat pengetahuan kurang bila didapatkan hasil 40-55 %

4. Tingkat pengetahuan rendah bila didapatkan hasil kurang dari 40 %

2.1.6 Faktor- faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Terdapat 6 faktor yang mempengaruhi diperolehnya pengetahuan yaitu :

1. Pendidikan

Pendidikan seseorang mempengaruhi cara pandangnya terhadap diri dan lingkungannya. Sehingga akan berbeda sikap orang yang berpendidikan tinggi dan yang berpendidikan rendah. Dengan tingginya pendidikan yang ditempuh diharapkan tingkat pengetahuan seseorang bertambah sehingga memudahkan dalam menerima atau mengadopsi perilaku yang positif (Latipun, 2005).

2. Usia

Menurut Notoatmodjo (2002), Usia juga mempengaruhi pengetahuan seseorang karena dengan bertambahnya usia biasanya akan lebih dewasa pula intelektualnya. Sedangkan menurut Latipun (2005) usia dapat mempengaruhi pengetahuan. Dimana responden yang berusia lebih dewasa dimungkinkan lebih sulit dalam menerima informasi baru dibandingkan dengan responden yang lebih muda, karena berhubungan dengan fleksibelitas kepribadiannya. Artinya pada usia yang lebih muda akan lebih fleksibel dalam penerimaan informasi yang kemudian digunakan untuk mengubah sikap dan tingkah lakunya dibandingkan orang yang lebih dewasa.

3. Pengalaman

Pengalaman merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi di masa lalu (Notoatmodjo, 2005).

4. Penyuluhan

Meningkatkan pengetahuan masyarakat juga dapat melalui metode penyuluhan yang dilakukan dengan menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan sehingga orang yang diberi penyuluhan akan sadar, tahu, mengerti dan yang terpenting mereka juga bisa merubah perilakunya (Effendy, 1998).

5. Media masa

Dengan masuknya teknologi akan tersedia pula bermacam-macam media masa. Media masa tersebut merupakan alat saluran (channel) untuk menyampaikan sejumlah informasi sehingga bisa mempermudah masyarakat menerima pesan. Dengan demikian akan mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru (Notoatmodjo, 2003).

6. Sosial budaya

Kebudayaan berpindah dari setiap generasi manusia. Setiap generasi selalu melanjutkan apa yang telah mereka pelajari dan juga apa yang mereka sendiri tambahkan dalam budaya tersebut. Kebudayaan juga sebagai jalan arah di dalam bertindak dan berfikir sesuai dengan pengalaman yang sudah dimilikinya. Dengan demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya (Ahmadi, 1997).

2.2 Konsep Ibu Nifas

Ibu nifas adalah ibu yang baru melahirkan bayinya yang dilaksanakan di rumah dan atau rumah bersalin dengan pertolongan dukun bayi dan atau tenaga kesehatan (Dinkes Jateng, 2006).

2.3 Konsep Kapsul Vitamin A

a Pengertian

Kapsul merupakan struktur suatu benda yang dibungkus seperti suatu container dari bahan yang sesuai, keras atau lunak dan dapat larut untuk membungkus sejumlah dosis obat (Dorland, 2002).

Vitamin A adalah salah satu dari beberapa senyawa yang larut dalam lemak yang mempunyai aktivitas biologis. Vitamin bekerja dalam sejumlah kapasitas, terutama pada fungsi retina, pertumbuhan dan diferensiasi jaringan epitel, pertumbuhan tulang dan respon imun (Dorland, 2002).

Jadi berdasarkan pengertian diatas dapat diambil kesimpulan kapsul vitamin A adalah senyawa yang larut dalam lemak yang dibungkus seperti suatu kontainer dari bahan yang keras atau lunak dan dapat larut

b Manfaat Vitamin A Secara Umum

Secara umum manfaat vitamin A di dalam tubuh adalah

1. Proses Penglihatan

Vitamin A berfungsi dalam penglihatan normal pada cahaya remang. Di dalam mata, retinol yang merupakan bentuk vitamin A yang didapat dari darah, dioksidasi menjadi retinal. Retinal kemudian mengikat protein opsin dan membentuk pigmen visual merah-ungu (visual purple) atau rodopsin. Rodopsin ada di dalam sel khusus dalam retina mata yang dinamakan rod. Bila cahaya mengenai retina, pigmen visual merah-ungu ini berubah menjadi kuning dan retinal dipisahkan dari opsin. Pada saat itu terjadi rangsangan elektrokimia yang merambat sepanjang syaraf mata ke otak yang menyebabkan terjadinya suatu bayangan visual.

Dikeluarkan dalam

Jumlah kecil

O2

Gambar 2.1 Peranan vitamin A dalam penyesuaian cahaya remang. Sumber: Guthrie, H.A. Introductory NutritionSelama proses ini, sebagian dari vitamin A dipisahkan dari protein dan diubah menjadi retinol. Sebagian besar retinol ini diubah menjadi retinal, yang kemudian mengikat opsin lagi untuk membentuk rodopsin. Sebagian kecil retinol hilang selama proses ini dan harus diganti oleh retinol dalam darah. Jumlah retinol yang tersedia dalam darah menentukan kecepatan pembentukan kembali rodopsin yang kemudian bertindak kembali sebagai bahan reseptor di dalam retina. Penglihatan dengan cahaya samara-samar/ buram baru bisa terjadi bila seluruh siklus ini selesai

Keterangan :

Tiap molekul pigmen visual rodopsin yang ada dalam sel retina mata (rod) mengandung retinal (bentuk aktif vitamin A) dan protein opsin (Almatsier, 2001).

2. Kekebalan

Vitamin A berpengaruh terhadap fungsi kekebalan tubuh pada manusia dan hewan. Mekanisme sebenarnya belum diketahui secara pasti. Retinol tampaknya berpengaruh pada pertumbuhan dan diferensiasi limfosit B (leukosit yang berperan dalam proses kekebalan humoral). Di samping itu kekurangan vitamin A menurunkan respon antibodi yang bergantung pada sel-T ( limfosit yang berperan pada kekebalan selular) (Almatsier, 2001).

3. Pertumbuhan

Dasar hambatan pertumbuhan adalah akibat terjadinya hambatan dalam sintesa protein. Sedangkan dalam sintesa protein membutuhkan kehadiran vitamin A. Sehingga pada defisiensi vitamin ini terjadi hambatan sintesa protein yang pada gilirannya akan menghambat pertumbuhan sel (Sediaoetama, 2000).

4. Pertumbuhan gigi.

Ameloblast yang membentuk email sangat dipengaruhi oleh vitamin A. pada kondisi kekurangan vitamin A ketika bakal gigi sedang dibentuk, terjadi hambatan pada fungsi ameloblast, sehingga terbentuklah email gigi yang sensitif terhadap serangan karies gigi (Sediaoetama, 2000).

5. Diferensiasi sel

Diferensiasi sel terjadi bila sel-sel tubuh mengalami perubahan dalam sifat atau fungsi semulanya. Perubahan sifat dan fungsi sel ini adalah salah satu karakteristik dari kekurangan vitamin A yang dapat terjadi pada tiap tahap perkembangan tubuh. Sel yang paling nyata mengalami deferensiasi ini adalah sel goblet, yaitu sel kelenjar yang mensintesis dan mengeluarkan mukus atau lendir. Mukus melindungi sel epithel dari masuknya mikroorganisme atau partikel lain yang berbahaya. Lapisan mukus pada dinding lambung juga melindungi sel-sel lambung dari cairan lambung. Di bagian atas saluran pernafasan sel-sel epithel secara terus-menerus menyapu mukus keluar, sehingga benda-benda asing yang masuk akan terbawa keluar. Bila terjadi infeksi, maka sel-sel goblet akan mengeluarkan lebih banyak mukus yang akan mempercepat pengeluaran mikroorganisme tersebut. Kekurangan vitamin A menghalangi fungsi sel-sel kelenjar yang mengeluarkan mukus dan digantikan oleh sel-sel epithel bersisik dan kering. Kulit menjadi kering dan kasar dan luka sukar sembuh. Membran mukosa tidak dapat mengeluarkan cairan mukus yang sempurna sehingga mudah terserang bakteri (infeksi) (Almatsier, 2001).

6. Reproduksi

Pada hasil percobaan, vitamin A dalam bentuk retinol dan retinal berfungsi dalam reproduksi pada tikus. Pembentukan sperma pada hewan jantan dan pembentukan sel telur dan perkembangan janin dalam kandungan membutuhkan vitamin A dalam bentuk retinol. Hewan betina dengan status vitamin A rendah mampu hamil akan tetapi mengalami keguguran atau kesukaran dalam melahirkan. Kebutuhan vitamin A selama hamil akan meningkat untuk memenuhi kebutuhan janin dan persiapan induk untuk menyusui (Almatsier, 2001).

c Manfaat Kapsul Vitamin A Bagi Ibu Nifas Dan Bayinya

Manfaat vitamin A untuk ibu nifas dan bayinya adalah :

1. Ibu cepat pulih

2. Meningkatkan kandungan vitamin A dalam Air Susu Ibu

3. Bayi lebih kebal, jarang terkena penyakit seperti diare

4. Bayi lebih kuat melawan penyakit dan infeksi seperti campak

(Keller, 2005)

d Angka Kecukupan Gizi Vitamin A

Angka Kecukupan Gizi (AKG) vitamin A yang dianjurkan untuk berbagai golongan umur dan jenis kelamin untuk Indonesia

Tabel 2.1 Angka kecukupan gizi yang dianjurkan untuk vitamin A

Golongan umur AKG* (RE)Golongan umurAKG* (RE)

0-6 bl

7-12 bl

1-3 th

4-6 th

7-9 th

Pria :

10-12 th

13-15 th

16-19 th

20-45 th

46-59 th

60 th350

350

350

360

400

500

600

700

700

700

600Wanita :

10-12 th

13-15 th

16-19 th

20-45 th

46-59 th

60 th

Hamil :

Menyusui :

0-6 bl

7-12 bl500

500

500

500

500

500

+ 200

+ 350

+ 300

Sumber : Widyakarya Pangan dan Gizi, 1998.

* Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkane Sumber Vitamin A

Sumber sumber vitamin A terdiri dari

1. Sumber vitamin A alami

Sumber vitamin A alami berasal dari hewani, sayuran dan buah. Kandungan vitamin A dalam sayuran hijau pada umumnya jauh lebih tinggi daripada dalam buah-buahan.

1). Sayuran yang mengandung vitamin A adalah sayuran yang berwarna hijau tua seperti daun singkong, daun katuk, daun talas, daun so, bayam, kangkung, sawi hijau, daun bluntas, kacang panjang, kecipir. Selain itu sayuran berwarna kuning atau jingga yang mengandung vitamin A adalah wortel, labu kuning, ubi jalar merah, ubi jalar kuning, tomat.

2). Buah-buahan yang mengandung vitamin A adalah pisang raja, mangga dan papaya, nangka masak, apel.

3). Sumber vitamin A hewani diperoleh dari hati sapi dan kuning telur, daging ayam, hati ayam (Keller, 2005).

2. Suplementasi vitamin A secara langsung

Suplementasi vitamin A secara langsung melalui pemberian kapsul vitamin dosis tinggi

3. Suplementasi vitamin A secara tidak langsung

Suplementasi vitamin A dengan cara tidak langsung. Metode ini dikenal dengan istilah fortifikasi, yaitu suatu upaya peningkatan mutu gizi bahan makanan melalui penambahan satu atau lebih zat gizi. Sehingga vitamin yang terkandung dalam bahan makanan akan mencapai kadar yang lebih tinggi dari kadar alamiah atau bahkan menambahkan pada makanan yang keadaan aslinya tidak mengandung vitamin tersebut. Dewasa ini telah dikenal beberapa jenis bahan makanan sehari-hari yang telah difortifikasi dengan vitamin A, seperti margarin , susu, makanan ringan (snack).

(Bejo, 2004)

f Sasaran, Dosis Pemberian Kapsul Vitamin ADosis pemberian kapsul vitamin A berbeda sesuai dengan sasarannya. Berikut ini adalah pembagian dosis vitamin A sesuai dengan sasarannya

1. Bayi

Kapsul vitamin A 100.000 SI warna biru diberikan kepada semua anak bayi (umur 6-11 bulan) baik sehat maupun sakit (Depkes RI, 2000).2. Anak balita

Kapsul vitamin A 200.000 SI diberikan kepada semua anak balita (umur 1-5 tahun) baik sehat maupun sakit (Depkes RI, 2000).3. Ibu nifas

Pada bulan Desember 2002, The International Vitamin A Consultative Group (IVACG) mengeluarkan rekomendasi bahwa seluruh ibu nifas seharusnya menerima 400.000 SI atau dua kapsul dosis tinggi masing-masing 200.000 SI (Kellerg Waktu Pemberian Kapsul Vitamin A

Waktu pemberian kapsul vitamin A berbeda-beda sesuai klasifikasinya yaitu pada bayi, balita maupun ibu nifas. Di bawah ini merupakan waktu pemberian vitamin A berdasarkan klasifikasi di atas

1. Bayi

Satu kapsul vitamin A 100.000 SI tiap 6 bulan, diberikan secara serentak pada bulan Februari atau Agustus (Depkes RI, 2000)2. Anak balita

Satu kapsul vitamin A 200.000 SI tiap 6 bulan, diberikan secara serentak pada bulan Februari dan Agustus (Depkes RI, 2000)3. Ibu nifas

Pemberian kapsul pertama dilakukan segera setelah melahirkan dan kapsul kedua diberikan satu hari setelah pemberian kapsul pertama dan tidak lebih dari 6 minggu kemudian.

Sebagai tambahan atau sebagai alternatif, ibu pasca melahirkan dapat mengkonsumsi vitamin A dosis 10.000 SI setiap harinya atau 25.000 SI sekali seminggu selama 6 bulan pertama, guna meningkatkan status vitamin A dalam tubuhnya. Oleh karena itu, saat ini pemerintah sedang melaksanakan studi operasional untuk meningkatkan cakupan pemberian kapsul vitamin A dosis 2 X 200.000 SI pada ibu nifas (KellerCara lain dalam pemberian kapsul vitamin A pada ibu nifas :

1. Bila ibu melahirkan di unit pelayanan

Berikan kepada ibu satu kapsul merah segera setelah melahirkan. Kemudian berikan lagi kepada ibu satu kapsul merah untuk diminum keesokan harinya.

2. Kapsul vitamin A dapat juga diberikan kepada ibu saat bayinya berumur 0-7 hari untuk diimunisasi Hepatitis B.

3. Kapsul vitamin A dapat diberikan kepada ibu pada saat bidan mengunjungi bayi baru lahir / neonatus KN 1 (0-7 hari) atau KN 2 (8-28 hari).

4. Atau kapsul vitamin A dapat diberikan kepada ibu pada saat pemberian imunisasi BCG untuk bayinya apabila imunisasi tersebut dapat dilaksanakan dalam masa nifas (0-42 hari).

5. Sweeping

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pemberian kapsul vitamin A. Sweping dilakukan apabila berdasarkan data masih terdapat ibu nifas yang belum mendapatkan vitamin A pada hari yang telah ditentukan. Sweeping dapat dilakukan segera dalam bentuk kunjungan rumah. Untuk menghindari duplikasi pemberian kapsul vitamin A oleh petugas kepada ibu nifas, setiap petugas yang akan memberikan kapsul harus memberitahukan dan menanyakan kepada ibu nifas tentang pemberian kapsul vitamin A (Keller, 2005).

h Defisiensi vitamin A

Defisiensi atau kekurangan vitamin A adalah suatu keadaan dimana simpanan vitamin A dalam tubuh berkurang. Banyak ahli yang mengadakan penelitian kesehatan gizi vitamin A dan hasilnya kasus defisiensi vitamin A di Indonesia cukup banyak. Faktor-faktor penyebab defisiensi ini adalah

1. Defisiensi vitamin A primer disebabkan oleh kekurangan vitamin A tersebut

Kekurangan vitamin A ini akibat dari

1). Pendidikan yang rendah sehingga pengetahuan tentang gizi kurang sehingga berakibat pada kebiasaan makan yang salah

2). Pendapatan dari pekerjaan tidak mencukupi sehingga daya beli masyarakat menjadi rendah

2. Defisiensi vitamin A sekunder disebabkan karena absorbsinya yang terhambat, ini terjadi karena hidangan rata-rata rakyat umum Indonesia mengandung rendah lemak dan protein yang diperlukan dalam metabolisme vitamin A (Sediaoetama, 1999).i Tanda dan Gejala Kurang Vitamin A

Salah satu tanda dan gejala awal yang dapat dilihat dari kasus kurang vitamin A adalah

1. Buta senja, ini ditandai dengan kesulitan melihat dalam cahaya remang misalnya pada senja atau malam hari bahkan ada yang tidak dapat melihat sama sekali (Keller, 2005).

2. Terjadinya kelainan kulit yaitu ditandai dengan kulit tampak kering, bersisik seperti ikan terutama pada tungkai bawah bagian depan dan lengan atas bagian belakang (Keller, 2005).

3. Kelainan pada mata yang disebut xeroftalmia, yaitu terjadi kekeringan pada selaput lendir (konjungtiva) dan selaput bening (kornea) mata karena kelenjar air mata tidak mampu mengeluarkan air mata (Depkes RI, 2002).

4. Terjadi gangguan pertumbuhan sel-sel, termasuk sel-sel tulang. Fungsi sel-sel yang membentuk email pada gigi terganggu dan terjadi atrofi sel-sel dentin sehingga gigi mudah rusak (Almatsier, 2005)

5. Fungsi kekebalan tubuh menurun pada kekurangan vitamin A, sehingga tubuh mudah terserang infeksi

j Hipervitaminosis Vitamin A Hipervitaminosis vitamin A adalah suatu kondisi dimana kadar vitamin A dalam darah atau jaringan tubuh begitu tinggi sehingga menyebabkan timbulnya gejala-gejala yang tidak diinginkan. Kelebihan vitamin A hanya bisa terjadi bila memakan vitamin A sebagai suplemen dalam takaran tinggi yang berlebihan. Hipervitaminosis vitamin A dibagi menjadi 2, yaitu

1. Hipervitaminosis A akut

Disebabkan karena pemberian dosis tunggal vitamin A yang sangat besar, atau pemberian dosis tunggal yang lebih kecil tetapi masih termasuk dosis besar karena dikonsumsi dalam periode 1-2 hari

2. Hipervitaminosis A kronis

Disebabkan karena mengkonsumsi vitamin A dosis tinggi yang berulang ulang dalam waktu beberapa bulan atau beberapa tahun. Keadaan ini biasanya hanya terjadi pada orang dewasa yang mengatur pengobatannya sendiri

Gejala yang biasanya dialami adalah sakit kepala, pusing, rasa nek, rambut rontok, kulit mengering, tidak ada nafsu makan. Hal ini bisa terjadi karena absorbsi karoten menurun bila konsumsi tinggi. Di samping itu sebagian dari karoten yang diserap tidak diubah menjadi vitamin A, akan tetapi tetap disimpan dalam lemak. Bila lemak dibawah kulit mengandung banyak karoten, kulit akan terlihat kekuningan (Almatsier, 2005).

Gejala-gejala tersebut akan hilang dengan sendirinya setelah pemberian vitamin A dihentikan. Pada hipervitaminosis A akut gejala biasanya akan hilang dalam 2 hari sedangkan pada hipervitaminosis A kronis masalah ini akan hilang dalam waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan

k Tempat Pelayanan Kapsul Vitamin A Bagi Ibu Nifas

Ibu nifas dapat memperoleh kapsul vitamin A melalui :

1. Posyandu

2. Puskesmas

3. Polindes

4. Rumah Sakit

5. Rumah Sakit Bersalin

6. Tempat Praktek Swasta

7. Unit Pelayanan Kesehatan

(Keller, 2005)

BAB 3

METODE PENELITIAN3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian ini adalah deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2005). Informasi dikumpulkan berdasarkan pengetahuan seseorang. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A yang meliputi pengertian, kegunaan vitamin A secara umum, kegunaan bagi ibu nifas maupun bayinya, sumber-sumber vitamin A, sasaran, dosis dan waktu pemberian kapsul vitamin A, defisiensi vitamin A, hiperavitaminosis, tempat pelayanan kapsul vitamin A.

3.2 Kerangka konsep

Kerangka konsep penelitian adalah kerangka hubungan atau kaitan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2005). Tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A bervariasi tergantung dari pendidikan, usia, pengalaman, penyuluhan, media masa dan sosial budaya. Sedangkan tingkat pengetahuan sendiri terdiri dari 6 tingkatan yaitu tingkat tahu, paham, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Pada penelitian ini, peneliti hanya meneliti tingkat pengetahuan sampai pada tingkat tahu dan paham. Dimana pada tingkat tahu dan paham tersebut dapat dikategorikan menjadi empat yaitu baik, cukup baik, kurang baik dan tidak baik.

Keterangan :

= Tidak diteliti

= Diteliti

Gambar 3.1 Bagan Skematik Kerangka Konsep Penelitian

3.3 Populasi, Sampling Dan Sampel

3.3.1 PopulasiPopulasi menurut Notoatmodjo (2005) adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. Populasi penelitian ini adalah semua ibu nifas di BPS Ny. Soeharti Intiasih Lumajang pada tanggal 23 Juli 21 Agustus 2006 yang berjumlah 47 orang

3.3.2 Sampel

Sampel menurut Notoatmodjo (2005) adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Pada penelitian ini sampelnya adalah ibu nifas hari ke 1 dan 2 yang berada di BPS Ny. Soeharti Intiasih Lumajang pada tanggal 23 Juli 21 Agustus 2006. yang berjumlah 47 orang.

3.3.3 Sampling

Sampling menurut Nursalam (2003) adalah proses menyeleksi populasi yang dapat mewakili populasi yang ada. Pada penelitian ini menggunakan total populasi sampling yaitu dilakukan dengan mengambil semua responden yang ada selama penelitian berlangsung yaitu semua ibu nifas yang berada di BPS Ny. Soeharti Intiasih Lumajang pada tanggal 23 Juli 21 Agustus 2006 yang berjumlah 47 orang.

3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi

3.4.1 Kriteria InklusiKriteria Inklusi menurut Nursalam (2003) adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau yang akan diteliti. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :

1. Ibu nifas hari ke 1 dan 2 di BPS Ny. Soeharti Intiasih Lumajang

2. Ibu bersedia untuk menjadi responden penelitian

3. Ibu yang bisa membaca dan menulis

3.4.2 Kriteria Eksklusi

Kriteria eksklusi menurut Nursalam (2003) adalah menghilangkan atau mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria inklusi dari penelitian karena berbagai sebab. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah :

1. Ibu nifas yang lebih dari 2 hari

2. Ibu yang tidak bersedia menjadi responden penelitian

3. Ibu yang tidak bisa membaca dan menulis

3.5 Variabel Penelitian

Menurut Arikunto (2002) yang dimaksud variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Variabel dalam penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A.

3.6 Definisi Konseptual

Tingkat pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2003). Sub variabel dari tingkat pengetahuan ini adalah:

6. Tahu adalah kemampuan untuk mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk diantaranya mengingat kembali terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

7. Memahami adalah suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

3.7 Definisi OperasionalTabel 3.1 Definisi OperasionalVariabelSub VariabelDefinisi OperasionalSkala dataAlat ukurKategori

Tingkat pengetahua ibu nifas tentang kapsul vitamin A

Tahu

Paham

Suatu kemampuan yang dimiliki ibu nifas untuk menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan,dan menyatakan tentang kapsul vitamin A yang meliputi pengertian, kegunaan, sumber-sumber, sasaran, dosis,dan waktu pemberian,

defisiensi, hiperavitaminosis

Suatu kemampuan yang dimiliki ibu nifas untuk menjelaskan, menyebutkan contoh dan menyimpulkan tentang kapsul vitamin A yang meliputi pengertian, kegunaan, sumber-sumber, sasaran, dosis,dan waktu pemberian, defisiensi, hiperavitaminosis OrdinalOrdinalKuesioner Kuesioner Baik

76-100 %

Cukup baik

56-75 %

Kurang baik

40-55 %

Tidak baik

< 40 %Baik

76-100 %

Cukup baik

56-75 %

Kurang baik

40-55 %

Tidak baik

< 40 %

3.8 Tempat dan Waktu PenelitianTempat penelitian: Penelitian dilakukan di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih Lumajang

Waktu penelitian:Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 23 Juli sampai dengan 21 Agustus 2006

3.9 Teknik Pengumpulan DataPengumpulan data dilakukan dengan pengajuan surat permohonan izin pengambilan data pada BPS Soeharti Intiasih. Setelah surat permohonan disetujui oleh BPS yang bersangkutan, pengambilan data segera dilaksanakan. Dalam pengambilan data selain dengan menggunakan kuesioner dilakukan juga dengan cara wawancara kepada ibu nifas maupun bidan. Ibu nifas diberi informed consent tentang tujuan penelitian yang akan dilakukan. Ibu yang bersedia menjadi responden penelitian menandatangani surat pernyataan persetujuan menjadi responden. Kemudian kuesioner dibagikan pada ibu nifas untuk diisi. Setelah kuesioner terisi, kuesioner dikumpulkan kembali oleh peneliti untuk diolah lebih lanjut.

3.10 Teknik pengolahan data dan analisa data

1. Editing

Setelah kuesioner diisi oleh responden, data yang terkumpul tersebut diperiksa kembali untuk memastikan seluruh jawaban yang terisi sesuai dengan maksud pertanyaan. Bila jawaban yang diberikan responden tidak memenuhi syarat, maka kuesioner dikembalikan lagi pada responden yang sama untuk dilengkapi sehingga dapat memenuhi syarat.

2. Coding

Memberi tanda kode pada jawaban serta angka. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam melakukan tabulasi dan analisa.

3. Transfering

Memindahkan kode jawaban dalam media tertentu (master sheet) untuk memudahkan dalam analisa data

4. Tabulating

Menyusun data dalam bentuk tabel yaitu tabel telly dan tabel frekuensi.

5. Analisa data

Setelah data ditabulasikan maka dilakukan analisa data yaitu dengan cara memberi nilai jawaban kuesioner. Untuk jawaban yang benar diberi nilai 1 sedangkan untuk jawaban yang salah diberi nilai 0, kemudian jawaban dari masing-masing pertanyaan dijumlahkan dan dibandingkan dengan jumlah skor maksimal setelah itu dikalikan 100 %.

x

P = n x 100 %

Keterangan :P:Prosentase

x:Skor jawaban benar

n:Jumlah skor maksimal seluruh pertanyaan

Setelah diketahui persentasenya, maka dimasukkan dalam kriteria yang ada. kriteria yang digunakan adalah:

76-100%:Baik

56-75 %:Cukup baik

40-55 %:Kurang baik

< 40 %:Tidak baik

3.11 Etika penelitian

Penelitian ini menggunakan manusia sebagai subyek tidak boleh bertentangan dengan etika agar hak responden dapat terlindungi. Untuk itu perlu adanya izin dari institusi pendidikan. Setelah mendapat persetujuan, baru penelitian boleh dilakukan dengan menggunakan etika sebagai berikut :

1. Lembar persetujuan menjadi responden (inform consent)

Sebelum menjawab kuesioner, responden diberikan lembar persetujuan secara tertulis setelah diberi penjelasan (informed) tentang maksud, cara pelaksanaan dari penelitian tersebut

2. Tanpa nama (anonymity)

Pada lembar pengumpulan data, peneliti tidak mencantumkan nama responden tapi hanya memberikan kode.

3. Kerahasiaan (confidentiality)

Informasi atau keluhan yang disampaikan oleh semua responden dijamin akan terjaga kerahasiaannya oleh petugas kesehatan sehingga bisa memberikan rasa aman dan meningkatkan keabsahan data yang diberikan karena terbebas dari rasa takut atau malu bila identitas responden diketahui orang lain.

(Sofyan, 2003)

BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN4.1 Hasil Penelitian

Pada bab ini dipaparkan tentang hasil penelitian sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang ada pada bab pendahuluan. Secara jelas hasil penelitian ini disajikan mengenai hasil pengumpulan data dari lembar kuesioner yang telah dibagikan kepada ibu nifas hari ke 1 dan 2 di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih Lumajang.

Hasil penelitian ini meliputi Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas tentang Kapsul Vitamin A di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih Lumajang pada tingkat tahu dan paham. Adapun data yang disajikan terdiri dari 3 bagian yaitu gambaran umum Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih, karakteristik responden, dan gambaran tingkat pengetahuan responden.

Dari penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 23 Juli 2006 - 21 Agustus 2006 didapatkan responden 47 orang yang telah dikumpulkan, kemudian diolah.

4.1.1 Gambaran Umum Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti IntiasihBerdasarkan hasil wawancara didapatkan bahwa BPS Ny. Soeharti Intiasih didirikan sejak tahun 1978. Jenis pelayanan yang diberikan adalah pemeriksaan ibu hamil, persalinan, pemeriksaan ibu nifas, imunisasi, KB, pemeriksaan bayi dan anak sehat maupun sakit. Jumlah kunjungan dari setiap jenis pelayanan dari tahun ke tahun semakin meningkat, dengan jumlah rata-rata ibu nifas 38 orang tiap bulan. Jumlah tenaga kerja di bidan praktek swasta ini ada 2 orang yaitu 1 bidan dan 1 pembantu bidan.

4.1.2 Karakteristik Responden

4.1.2.1 Karakteristik responden berdasarkan usia

Karakteristik responden berdasarkan usia dapat dilihat dari gambar dibawah ini

Gambar 4.1Distribusi frekuensi ibu nifas berdasarkan umur di BPS Ny. Soeharti Intiasih tanggal 23 Juli 2006 - 21 Agustus 2006Gambar 4.1 menunjukkan bahwa di Bidan Praktek Swasta Ny Soeharti Intiasih sebagian besar ibu nifas berusia antara 21-25 tahun sebanyak 42,6 % (20 orang), dan terkecil berusia 36-40 tahun sebanyak 4,3 % (2 orang).

4.1.2.2 Karakteristik responden berdasarkan pendidikan

Karakteristik responden berdasarkan pendidikan dapat dilihat dari gambar dibawah ini

Gambar 4.2Distribusi frekuensi ibu nifas berdasarkan pendidikan di BPS Ny. Soeharti Intiasih tanggal 23 Juli 2006 - 21 Agustus 2006Gambar 4.2 menunjukkan bahwa di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih sebagian ibu nifas berpendidikan SMA sebanyak 46,8 % (22 orang) dan sebagian kecil tidak sekolah sebanyak 4,3 % (2 orang).

4.1.2.3 Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan

Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan dapat dilihat dari gambar dibawah ini

Gambar 4.3 Distribusi frekuensi ibu nifas berdasarkan pekerjaan di BPS Ny. Soeharti Intiasih tanggal 23 Juli 2006 - 21 Agustus 2006Gambar 4.3 menunjukkan bahwa di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih sebagian besar ibu nifas tidak bekerja, hanya menjadi ibu rumah tangga saja yaitu sebesar 74,5 % (35 orang) dan sebagian kecil bekerja sebagai PNS yaitu 2,1 % (1 orang).4.1.2.4 Karakteristik responden berdasarkan jumlah anak

Karakteristik responden berdasarkan jumlah anak dapat dilihat dari gambar dibawah ini

Gambar 4.4Distribusi frekuensi ibu nifas berdasarkan jumlah anak di BPS Ny. Soeharti Intiasih tanggal 23 Juli 2006 - 21 Agustus 2006Gambar 4.4 menunjukkan bahwa di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih sebagian besar ibu hanya memiliki 1 orang anak yaitu 57,4 % (27 orang). Dan sebagian kecil memiliki 4 orang anak sebesar 2,1 % (1 orang). 4.1.2.5 Karakteristik responden berdasarkan informasi tentang kapsul vitamin A untuk ibu nifas

Karakteristik responden berdasarkan informasi tentang kapsul vitamin A untuk ibu nifas dapat dilihat dari gambar dibawah ini

Gambar 4.5Distribusi frekuensi ibu nifas berdasarkan informasi tentang kapsul vitamin AGambar 4.5 menunjukkan bahwa di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih sebagian besar ibu nifas belum pernah mendapatkan informasi mengenai kapsul vitamin A yaitu sebesar 66 % (31 orang). Dan sebagian kecil yaitu 34 % (16 orang) sudah pernah mendapatkan informasi tentang kapsul vitamin A.4.1.2.6 Karakteristik responden berdasarkan sumber informasi yang didapat

Karakteristik responden berdasarkan sumber informasi yang didapat dapat dilihat dari gambar dibawah ini

Gambar 4.6 Distribusi frekuensi ibu nifas berdasarkan sumber informasi yang didapat

Gambar 4.6 menunjukkan bahwa di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih dari 16 orang yang sudah mendapat informasi kapsul vitamin A, 56,3 % (9 orang) mendapatkan informasi tentang vitamin A dari penyuluhan tenaga kesehatan. 25 % (4 orang) dari koran, majalah, poster maupun selebaran, dan 18,8% (3 orang) mendapatkan informasi dari tetangga yang sudah pernah melahirkan.4.1.3 Gambaran tingkat pengetahuan responden

4.1.3.1 Gambaran tingkat pengetahuan responden pada tingkat tahu

Gambaran tingkat pengetahuan responden pada tingkat tahu dapat dilihat dari gambar dibawah ini

Gambar 4.7Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A di BPS Ny. Soeharti Intiasih pada tingkat tahu

Gambar 4.7 menunjukkan bahwa dari 47 ibu nifas ternyata sebagian kecil 6,4 % (3 orang) tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A pada tingkat tahu adalah tidak baik dan hampir separuh ibu nifas 46,8 % (22 orang) berpengetahuan baik.

4.1.3.2 Gambaran tingkat pengetahuan responden pada tingkat paham

Gambaran tingkat pengetahuan responden pada tingkat paham dapat dilihat dari gambar dibawah ini

Gambar 4.8Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A di BPS Ny. Soeharti Intiasih pada tingkat paham

Gambar 4.8 menunjukkan bahwa di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih dari 47 ibu nifas pada tingkat paham yang mempunyai pengetahuan tentang kapsul vitamin A yang terbesar adalah pada tingkat pengetahuan kurang baik yaitu sebesar 31,9 % (15 orang) dan yang terkecil adalah pada tingkat pengetahuan tidak baik yaitu sebesar 12,8 % (6 orang).4.2 Pembahasan

4.2.1 Tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A pada tingkat tahu

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih Lumajang pada tingkat tahu dari 47 ibu nifas ternyata hampir separuh ibu nifas 46,8 % (22 orang) berpengetahuan baik dan sebagian kecil 6,4 % (3 orang) tingkat pengetahuan ibu nifas tidak baik. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengingat materi tentang kapsul vitamin A yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk diantaranya mengingat kembali seluruh bahan yang telah dipelajari atau rangsangan yang telah diterima pada sebagian besar responden sudah baik.

Tingkat pengetahuan sebagian besar responden yang sudah baik ini berhubungan dengan tingkat pendidikan yang telah ditempuh oleh responden itu sendiri. Dari hasil penelitian yang dilakukan di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih Lumajang didapatkan bahwa tingkat pendidikan ibu yang terbanyak adalah SMA yaitu sebesar 46,8 % (22 orang). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu nifas tersebut tingkat pendidikannya tergolong tinggi sehingga jika dihubungkan dengan pengetahuan maka akan mempunyai pengetahuan yang baik. Dan hal ini sesuai dengan pendapat Latipun (2005) yaitu dengan semakin tingginya pendidikan yang ditempuh, diharapkan tingkat pengetahuan seseorang bertambah sehingga memudahkan dalam menerima dan mengadopsi perilaku yang positif.

Apabila ditinjau dari segi usia responden, dapat diketahui bahwa karakteristik usia responden adalah sebagian besar (42,6 %) responden berusia 21-25 tahun dan sebagian kecil responden (4,2 %) berusia 36-40 tahun. Bila dikaitkan dengan tingkat pengetahuan ibu nifas yang baik, maka dengan usia yang masih muda dalam mempelajari dan menerima rangsangan akan lebih baik sehingga informasi yang terserap bisa lebih banyak. Hal ini sesuai dengan pendapat Latipun (2005) yaitu usia dapat mempengaruhi pengetahuan. Dimana responden yang berusia lebih dewasa dimungkinkan lebih sulit dalam menerima informasi baru dibandingkan dengan responden yang lebih muda, karena berhubungan dengan fleksibelitas kepribadiannya. Artinya pada usia yang lebih muda akan lebih fleksibel dalam penerimaan informasi yang kemudian digunakan untuk mengubah sikap dan tingkah lakunya dibandingkan orang yang lebih dewasa.

Selain itu pengalaman juga memiliki peran penting dalam menentukan tingkat pengetahuan seseorang. Pada penelitian ini kebanyakan responden berusia 21-25 tahun yang mana kebanyakan responden pada usia ini melahirkan anak pertamanya yaitu sebesar 57,4 % (27 orang), sehingga banyak yang tidak mengetahui tentang pemberian kapsul vitamin A untuk ibu nifas. Tetapi meskipun responden masih belum memiliki pengalaman, jika dilihat dari hasil tingkat pengetahuan responden dalam tingkat tahu, pengetahuan responden tergolong baik hal ini disebabkan karena responden tersebut memiliki rasa keingintahuan yang besar terhadap hal-hal yang menyangkut dirinya maupun bayinya bila dibandingkan dengan responden yang memiliki anak lebih dari satu. Sehingga responden pada usia ini akan lebih banyak menggali informasi yang bermanfaat baginya. Sedangkan untuk responden yang sudah pernah melahirkan, mereka ada yang sudah mengetahui tentang pemberian vitamin A dari pengalaman mereka sebelumnya.

4.2.2 Tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A pada tingkat paham

Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A di Bidan Praktek Swasta Ny Soeharti Intiasih Lumajang pada tingkat paham dari 47 ibu nifas yang mempunyai pengetahuan terbanyak adalah pada tingkat pengetahuan kurang baik yaitu sebesar 31,9 % (15 orang) dan yang terkecil adalah pada tingkat pengetahuan tidak baik yaitu sebesar 12,8 % (6 orang). Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak responden yang kurang mampu untuk menjelaskan dan menginterprestasikan materi tentang vitamin A. Ini disebabkan karena masih banyaknya responden yang belum pernah mendapatkan penyuluhan (informasi) tentang kapsul vitamin A itu untuk ibu nifas sebelumnya. Hanya 34 % (16 orang) dari seluruh ibu nifas (47 orang) yang menjadi responden yang sudah mendapatkan penyuluhan tentang kapsul vitamin A. Padahal dengan adanya penyuluhan maka masyarakat akan sadar, tahu dan mengerti dan yang terpenting mereka dapat merubah perilakunya (Effendy,1998). Dari permasalahan itu dapat disimpulkan bahwa penyuluhan yang diberikan ada hubungannya dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh ibu.

Selain itu peran serta media massa yang menjadi alat saluran (channel) untuk menyampaikan informasi tentang kapsul vitamin A bagi ibu nifas masih sangat kurang sehingga masyarakat kesulitan dalam menerima informasi terbaru. Informasi itu sendiri hanya didapat oleh sebagian besar ibu dari tenaga kesehatan (bidan) yaitu sebesar 56,3 % (9 orang) dari 16 responden yang sudah mendapatkan informasi tentang kapsul vitamin A. Ada juga yang memperoleh informasi dari koran 25 % (4 orang), dan sebagian kecil informasi diperoleh dari tetangga yang sudah pernah melahirkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2003) bahwa peran serta media massa sangat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru.

Maka secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A di Bidan Praktek Swasta Ny Soeharti Intiasih Lumajang pada tingkat tahu lebih baik bila dibandingkan dengan tingkat paham. Hal ini disebabkan karena ibu memperoleh pengetahuan yang didapat dengan melalui jalan pemikirannya sendiri karena responden sebelumnya tidak mengetahui materi yang akan diujikan sehingga mereka memikirkan jawaban setelah membaca pertanyaan dengan mengaitkan hubungan antara pertanyaan dan jawaban seperti yang diungkapkan Notoatmodjo (2005) bahwa cara memperoleh pengetahuan melalui jalan pemikiran secara tidak langsung melalui pernyataan-pernyataan yang dikemukakan kemudian dicari hubungan sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan.

4.3 Keterbatasan penelitian

Pada penelitian ini instrumen atau alat pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti yang masih pemula baru diujikan satu kali sehingga validitas maupun reabilitasnya masih perlu ditingkatkan lagi.

BAB 5

PENUTUP5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisa data yang telah dilakukan dan telah diuraikan pada bab sebelumnya, kesimpulan dari penelitian ini adalah :

1. Tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih Lumajang pada tingkat tahu adalah hampir separuh yaitu 46,8 % (22 orang) berpengetahuan baik, 23,4 % (11 orang) berpengetahuan cukup baik, 23,4 % (11 orang) berpengetahuan kurang baik, dan sebagian kecil 6,4 % (3 orang) pengetahuannya tidak baik.

2. Tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih Lumajang pada tingkat paham adalah 31,9 % (15 orang) berpengetahuan kurang baik, 27,7 % (13 orang) berpengetahuan cukup baik, 27,7 % (13 orang) berpengetahuan baik dan sebagian kecil 12,8% (6 orang) pengetahuannya tidak baik.

5.2 Saran

5.2.1 Bagi peneliti

Sebagai informasi tambahan bagi peneliti tentang kapsul vitamin A sehingga bisa memperluas wawasan dan pengetahuan peneliti

5.2.2 Bagi Tempat Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan tempat penelitian yaitu BPS Ny. Soeharti Intiasih untuk bisa meningkatkan penyuluhan yang lebih efektif tentang kapsul vitamin A sehingga mudah dimengerti, diingat dan dipahami ibu. Selain itu dalam pemberian penyuluhan kepada ibu nifas harus bisa mempertimbangkan tempat dan waktu pelaksanaan.

5.2.3 Bagi Masyarakat

Meningkatkan pengetahuan pada ibu nifas tentang kapsul vitamin A dengan memanfaatkan tenaga kesehatan dan media yang ada untuk menggali informasi sebanyak- banyaknya

5.2.4 Bagi pembaca

Bagi pembaca yang tertarik pada penelitian ini dapat mengembangkan penelitian tentang kapsul vitamin A ini dalam tingkat aplikasi, analisis, sintesis, evaluasi dengan jadwal penelitian yang lebih lama, responden yang lebih banyak dan ruang lingkup penelitian yang lebih luas.

5.2.5 Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai bahan bacaan dan referensi tentang kapsul vitamin A sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. (1997). Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Almatsier, Sunita. (2005). Prinsip Dasar Ilmu gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Arikunto, Suharsimi. (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta. Bejo. (2004). Sumber-Sumber Vitamin A. Retrieved at April 4, 2006. From www.indomedia.com.

Depkes RI. (2000). Pedoman Pemberian Kapsul Vitamin A Dosis Tinggi. Jakarta: Depkes RI.

Depkes RI. (2000). Pedoman Akselerasi Cakupan Kapsul Vitamin A. Jakarta: Depkes RI.

Depkes RI. (2002). Deteksi Dini Xeroftalmia. Jakarta: Depkes RI.

Dinkes Jawa Tengah. (2006). Standart Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kabupaten / Kota di Propinsi Jawa Tengah. Retrieved at 4, April, 2006. From www.jawa tengah.go.id/dinkes.

Dorland, Newman. (2002). Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta: EGC.

Effendi, Nasrul. (1998). Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC.

Hanoman. (2006). Vitamin A Ibu Nifas: Satu Langkah Dua Manfaat. Retrieved at March 18, 2006. From www.suarakarya. online.com.

Helen Keller Worldwide, Bakti Husada, Unicef, USAID. (2005). Apa Dan Mengapa Tentang Vitamin A Panduan Praktis Untuk Praktisi Kesehatan. Jakarta.

Keller, Helen. (2005). Pentingnya Vitamin A Bagi Ibu Nifas. Retrieved at February 7, 2005. From www.indosiar.com.

Latipun. (2005). Psikologi Konseling. Malang: UMM Press.

Naiggolan, Nancy. (2004). Ibu Dan Anak Sehat Berkat Vitamin A. Retrieved at March 18, 2006. From www.SuaraPembaruan.com.Niz. (2003). Penuhi Vitamin A Dari Makanan. Retrieved at March 18, 2006. From www.indomedia.com..

Notoatmodjo, Soekidjo. (2003). Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Notoatmodjo, Soekidjo. (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Notoatmodjo, Soekidjo. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Nursalam. (2003). Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Sediaoetama, Achmad Djaelani. (2000). Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa Dan Profesi Di Indonesia Jilid I. Jakarta: Dian Rakyat.

Sediaoetama, Achmad Djaelani. (1999). Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa Dan Profesi Di Indonesia Jilid II. Jakarta: Dian Rakyat.

Sofyan, Mustika. (2003). Bidan Menyongsong Masa Depan. Jakarta: PP IBI.

Lampiran 1JADWAL PELAKSANAAN KARYA TULIS ILMIAH

AKADEMI KEBIDANAN WIDYAGAMA HUSADA MALANG

2005-2006

Lampiran 2

SURAT IJIN PENELITIAN

Lampiran 3

SURAT TEMBUSAN IJIN PENELITIAN

Lampiran 4

PERMOHONAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN

Dengan Hormat,

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, mahasiswa Akademi Kebidanan Widyagama Husada Malang :

Nama : Diana Noor Fatmawati

Nim:0302.09

Bermaksud akan melakukan penelitian dengan judul Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Kapsul Vitamin A yang bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A.

Sehubungan dengan hal tersebut, saya meminta kesediaan ibu-ibu menjadi responden dengan mengisi kuesioner yang diberikan dengan benar dan sukarela dimana jawaban yang diberikan akan dirahasiakan.

Atas kesediaan dan bantuannya saya sampaikan terimakasih.

Hormat saya

(Diana Noor Fatmawati)

FORMULIR PERSETUJUAN

(Informed consent)Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama/ inisial:

Umur

:

Jumlah anak

:

Alamat

:

Menyatakan dengan sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun bersedia / tidak bersedia berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian yang dilakukan oleh Mahasiswa Akademi Kebidanan Widyagama Husada Malang yang berjudul Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Kapsul Vitamin A di Bidan Praktek Swasta Ny. Soeharti Intiasih Lumajang

Saya yakin bahwa penelitian ini tidak menimbulkan keraguan apapun pada saya dan keluarga. Dan saya telah mempertimbangkan serta memutuskan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini

Lumajang, 2006

Yang Menyetujui

Responden Penelitian

(.)

Lampiran 5

KISI-KISI KUESIONER

TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG KAPSUL VITAMIN ANoMateriNo soal

1

2

3

4

5

6

7

Pengertian

Sasaran, dosis, jumlah pemberian vitamin A

Kegunaan vitamin A

Defisiensi vitamin A

Hiperavitaminosis vitamin A

Manfaat vitamin A

Sumber vitamin A

1, 2

3, 4, 5, 6, 7

8

9, 19, 20

10

11, 12

13, 14, 15, 16, 17, 18

Tingkat Tahu :1-10

Tingkat Paham:11-20

Lampiran 6

KUNCI JAWABAN KUESIONER

TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG KAPSUL VITAMIN A

No soalJawabanNo soalJawaban

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10C

B

B

C

B

A

B

A

C

C11

12

13

14

15

16

17

18

19

20C

A

C

A

C

A

C

A

C

C

Lampiran 7KUESIONER PENELITIAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG KAPSUL VITAMIN A DI BIDAN PRAKTEK SWASTA

NY. SOEHARTI INTIASIH LUMAJANG

Kode

Responden

Petunjuk pengisian kuesioner

1.Jawablah semua pertanyaan dengan memberi tanda silang ( x ) pada salah satu jawaban yang ibu anggap benar pada pilihan jawaban yang tersedia dan tidak boleh lebih dari satu jawaban

2.Pertanyaan tentang data umum terdiri dari 11 soal

3.Pertanyaan tentang kapsul vitamin A terdiri dari 20 soal

4.Kode (kotak di sebelah kanan atas) diisi petugas

A. Data Umum

1. Pendidikan terakhir ibu.

a. Tidak sekolah

b. SD

c. SMP

d. SMAe. Perguruan Tinggi/ DIII2. Pekerjaan ibu.

a. Ibu Rumah Tangga

b. Tani

c. Swasta

d. Wiraswasta (punya toko/ perusahaan)

e. PNS

f. Lain-lain, sebutkan..

3. Apakah ibu sudah pernah mendapatkan informasi tentang kapsul vitamin A ibu nifas?

a. Sudah pernah

b. Belum pernah

4. Bila sudah pernah mendapatkan informasi tentang kapsul vitamin A, dari mana ibu mendapatkan informasinya.

a. Dari penyuluhan

b. Dari koran, majalah, poster, selebaran

c. Dari televisi, internet

d. Dari tenaga kesehatan (Bidan, dokter, perawat)

e. Dari tetangga

f. Lain-lain, sebutkan..

5. Saat ini, ibu melahirkan anak yang keberapa?

a. 1 (satu)

b. 2 (dua)

c. Lebih dari 2

6. Bila ibu sudah pernah melahirkan, apakah ibu sudah pernah mendapatkan kapsul vitamin A untuk ibu nifas pada saat melahirkan sebelumnya?

a. Sudah pernah

b. Belum pernah

7. Bila ibu sudah pernah melahirkan, dari mana ibu mendapatkan kapsul vitamin A untuk ibu nifas ?

a. Posyandu

b. Puskesmas, Polindes

c. Rumah Sakit

d. Tempat Praktek Swasta

e. Lain-lain, sebutkan ......

8. Apakah ibu pernah mengikuti penyuluhan tentang kapsul vitamin A untuk ibu nifas ?

a. Sudah pernah

b. Belum pernah

9. Bila ibu pernah mengikuti penyuluhan kapsul vitamin A untuk ibu nifas, di mana ibu mengikuti penyuluhan tersebut ?

a. Dinas kesehatan

b. Balai desa/ kantor kelurahan

c. Di tingkat RW

d. Bidan

e. Lain-lain, sebutkan..

10. Bila ibu sudah pernah mengikuti penyuluhan kapsul vitamin A untuk ibu nifas, berapa kali ibu mengikuti penyuluhan tersebut ?

a. 1 kali

b. lebih dari 1 kali

11. Bila ibu sudah pernah mengikuti penyuluhan kapsul vitamin A untuk ibu nifas, apakah ibu juga memberikan informasi tentang penyuluhan tersebut pada ibu nifas yang lain ?

a. Ya

b. Tidak

B. Kuesioner tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A1. Menurut ibu, apa yang dimaksud dengan masa nifas ?

a. Waktu setelah ibu melahirkan

b. Waktu sejak ibu melahirkan sampai 30 hari setelah kelahiran (1 bulan)

c. Waktu sejak ibu melahirkan sampai 6 minggu setelah kelahiran (0-42 hari)

2. Menurut ibu, apa yang dimaksud dengan vitamin A ?

a. Vitamin A adalah zat gizi yang larut dalam air dan disimpan di hati

b. Vitamin A adalah zat gizi yang larut dalam lemak dan disimpan di hati

c. Vitamin A adalah zat gizi yang tidak larut dalam lemak dan disimpan pada ginjal

3. Menurut ibu ada berapa macam warna kapsul vitamin A ?

a. 1 macam

b. 2 macam

c. 3 macam

4. Berapa jumlah kandungan vitamin A dalam kapsul warna merah ?

a. 20.000 IU

b. 100.000 IU

c. 200.000 IU

5. Berapa jumlah kandungan vitamin A dalam kapsul warna biru ?

a. 20.000 IU

b. 100.000 IU

c. 200.000 IU

6. Kapsul warna apa yang diberikan untuk ibu nifas ?

a. Merah

b. Merah dan ungu

c. Merah dan biru

7. Berapa jumlah kapsul vitamin A yang diberikan pada ibu nifas ?

a. I kapsul

b. 2 kapsul

c. 3 kapsul

8. Kegunaan vitamin A secara umum adalah.

a. Proses melihat

b. Pertumbuhan tulang

c. Proses mendengar

9. Berikut ini tanda dan gejala Kurang Vitamin A.

a. Sakit kepala

b. Rambut rapuh, mudah patah dan berwarna kusam c. Buta senja

10. Berikut ini adalah tanda kelebihan konsumsi kapsul vitamin A.

a. Kulit tampak kering dan bersisik sepereti ikan

b. Buta senja c. Sakit kepala, tidak nafsu makan

11. Berikut ini adalah manfaat pemberian vitamin A, kecuali.

a. Kandungan vitamin A dalam ASI akan meningkat

b. Bayi lebih kuat melawan penyakit, ibu lebih cepat pulih

c. Pada wanita usia subur (20-35 tahun) akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh

12. Menurut ibu, mengapa ibu nifas perlu mengkonsumsi kapsul vitamin A ?

a. Kandungan vitamin A dalam ASI akan meningkat

b. Bayi mudah mendapatkan vitamin A

c. Bayi tidak perlu lagi mengkonsumsi vitamin A

13. Berikut ini adalah sumber-sumber vitamin A bagi ibu nifas kecuali.

a. Pemberian kapsul vitamin A

b. Bahan makanan yang mengandung vitamin A

c. Vitamin A yang diproduksi oleh tubuh

14. Selain sumber diatas (nomer 13), vitamin A juga dapat diperoleh dari.

a. Penambahan makanan dengan vitamin A

b. Penambahan minuman dengan vitamin A

c. Pemanfaatan pekarangan sebagai sumber vitamin A

15. Berikut ini adalah sumber vitamin A alami, kecuali.

a. Sayuran

b. Buah-buahan

c. Bahan makanan yang telah ditambahkan vitamin A

16. Sumber vitamin A yang berasal dari sayuran ?

a. Labu kuning

b. Kubis

c. Tauge

17. Sumber vitamin A yang berasal dari buah-buahan ?

a. Leci

b. Strawberi

c. Pisang raja

18. Jenis makanan apa yang komposisinya sudah ditambah dengan vitamin A?

a. Margarin

b. Sosis

c. Tempe dan tahu

19. Berikut ini adalah golongan yang beresiko mengalami kurang vitamin A, kecuali ?

a. Ibu nifas

b. Anak yang kurang gizi

c. Bayi yang mendapat ASI eksklusif

20. Berikut ini cara pencegahan kurang vitamin A, kecuali.

a. Memberikan ASI eksklusif pada bayi

b. Mengkonsumsi makanan seimbang dan kaya vitamin A

c. Mengkonsumsi tablet tambah darah

Lampiran 8

MASTER SHEET

Lampiran 9

TABEL TELLY

Tabel 1. Tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A pada tingkat tahu

No Tingkat pengetahuan Telly Jumlah

1

2

3

4Baik

Cukup baik

Kurang baik

Tidak baik

22

11

11

3

Jumlah 47

Tabel 2. Tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A pada tingkat paham

No Tingkat pengetahuan Telly Jumlah

1

2

3

4Baik

Cukup baik

Kurang baik

Tidak baik

13

13

15

6

Jumlah 47

Lampiran 10

TABEL FREKUENSITabel 1. Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A pada tingkat tahu

No Tingkat pengetahuan Jumlah Prosentase (%)

1

2

3

4Baik

Cukup baik

Kurang baik

Tidak baik22

11

11

346,8

23,4

23,4

6,4

Jumlah 47100

Tabel 2. Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan ibu nifas tentang kapsul vitamin A pada tingkat paham

No Tingkat pengetahuan Jumlah Prosentase (%)

1

2

3

4Baik

Cukup baik

Kurang baik

Tidak baik13

13

15

627,7

27,7

31,9

12,8

Jumlah 47100

Retinol atau vit A alkohol (dalam darah)

Retinol

(dalam retina)

Retinalaldehida

Opsin

(protein)

Rodopsin

(pigmen dalam rod retina)

Kategoripenilaian

1.Baik

2.Cukup baik

3.Kurang baik

4.Tidak baik

Tingkat pengetahuan

( Tahu

( Paham

Pengetahuan tentang kapsul vitamin A

Ibu Nifas

( Aplikasi

( Analisis

( Sintesis

( Evaluasi

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan

( Pendidikan

( Usia

( Pengalaman

( Penyuluhan

( Media masa

( Sosial budaya