Deteksi Menggunakan Ultrasound Pada Polip Kolon (Terjemahan)

Click here to load reader

download Deteksi Menggunakan Ultrasound Pada Polip Kolon (Terjemahan)

of 18

  • date post

    10-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    116
  • download

    6

Embed Size (px)

Transcript of Deteksi Menggunakan Ultrasound Pada Polip Kolon (Terjemahan)

DETEKSI MENGGUNAKAN ULTRASOUND PADA POLIP KOLON1,2

S KUZMICH, MD, 1C J HARVEY, FRCR, 3T KUZMICH, MD dan 2K L TAN, FRCR

1

Imaging Departemen, Hammersmith Hospital, London, UK, 2Radiology Departemen, Newham

University Hospital, London, UK, and 3Radiology Departemen, North Middlesex University Hospital, London, UK.

Abstrak Kanker kolorektal dapat dicegah jika prekursor adenoma terdeteksi dan dihilangkan. Meskipun USG bukan salah satu teknik skrining yang diterima secara luas, kemampuannya yang non-invasif dan bebas radiasi, dapat mendeteksi polip kolon, baik benigna maupun maligna. Seringnya lesi kolon ini ditemukan secara tidak sengaja pada saat sonografi abdomen. Ditemukannya polip kolon ini berperan penting dalam mengurangi angka kejadian kanker, sehingga polip maligna yang ditemukan pada tahap awal dapat di intervensi secara kuratif. Beberapa gambar berikut merupakan hasil deteksi sonografi polip kolon pada pasien berusia 43 tahun yang ditemukan pada dua lembaga kami lebih dari 2 tahun periode. 4 dari 50 polip yang ditemukan cenderung menjadi lesi maligna, 3 polip yang hiperplastik, 1 polip hamartomous dan sisanya adalah adenoma benigna. Polip terkecil berdiameter 1,3 cm, dan yang terbesar berdiameter 4,0 cm (rata-rata 1,7 cm, 1,6 cm median). Polip biasanya ditemukan saat pemeriksaan rutin abdomen atau pelvis, terutama ketika scanning ini dilengkapi dengan pemeriksaan sonografi yang difokuskan ke kolon dengan transduser linear 6-10 MHz-. Dalam artikel ini, kami memberikan gambaran sonografi dari berbagai jenis polip kolon yang biasa ditemui agar lesi ini dapat terdeteksi lebih dini, yang mungkin dengan gambaran lesi yang lebih halus. Kanker usus besar merupakan penyebab kematian akibat kanker kedua terbanyak di Amerika Utara dan Eropa Barat.1 Setiap individu diperkirakan memiliki kemungkinan 6% untuk menderita kanker kolorektal, namun hal ini dapat dicegah pada sebagian besar individu jika prekursor adenoma terdeteksi dan dihilangkan.2-5 Meskipun teknik beberapa screening yang telah ada dengan kemampuan yang berbeda-beda dan bersifat invasif, namun sebagian besar1

penduduk masih tidak terdeteksi, terutama pada pasien degan pendapatan rendah untuk menjalani screening kolorektal rutin.6 USG merupakan teknik screening yang belum diterima secara luas untuk mendeteksi polip kolon. Namun, USG transabdominal telah terbukti dapat menunjukan polip kolon benigna dengan ukuran yang signifikan pada anak-anak dan orang dewasa, dengan sensitivitas 28,6% dan spesifisitas 99,4% untuk mendeteksi polip yang berdiameter lebih besar dari 10 mm pada populasi orang dewasa.7,8 Dengan menggunakan sonografi hydrocolonic, seperti yang dijelaskan oleh Limberg, USG mempunyai nilai akurasi 91% untuk mendeteksi polip usus besar yang berdiameter lebih besar dari 7 mm.9 Sebagai alat screening, baik USG konvensional maupun hydrocolonic telah diterima secara luas dalam klinis. Beberapa gambar berikut kami dapatkan menggunakan sonografi dari 50 polip kolon di 43 pasien dewasa ditemui di dua lembaga kami selama 2 tahun periode (Juni 2009 Juni 2011). Semua polip kemudian dikonfirmasi oleh endoskopi dan pemeriksaan histologis. 4 dari 50 polip yang ditemukan cenderung menjadi lesi maligna, 3 polip yang hiperplastik, 1 polip adalah polip hamartomous dan sisanya adalah adenoma benigna. Polip berukuran paling kecil berdiameter adalah 1,3 cm dan yang terbesar berdiameter 4,0 cm (rata-rata 1,7 cm, 1,6 cm median). Polip biasanya ditemukan saat pemeriksaan abdomen atau pelvis secara rutin, dilengkapi dengan pemeriksaan sonografi 2-3-min difokuskan pada kolon dengan transduser linear 6-10 MHz-. Semua polip ditemukan secara tidak sengaja ketika kolon dievaluasi menggunakan USG. Penelitian ini tidak dilakukan dengan tujuan mengevaluasi kinerja USG rutin dalam hal deteksi polip kolon dan pemeriksaan dengan endoskopi yang tidak dapat mengkonfirmasi keadaan normal. Tujuan kami adalah untuk mencoba dan memaksimalkan kegunaan sonografi konvensional. Seperti peneliti lain, polip kolon dengan diameter lebih besar dari 1,0 cm dapat ditemukan pada USG konvensional. Kami tidak menggunakan

hydrosonography atau persiapan khusus sebelum USG. Menurut pengalaman kami, bagian proksimal sigmoid dan kolon descending distal merupakan daerah yang sering terdeteksi terdapat polip melalui sonography, karena bagian kolon ini2

dapat dengan mudah di akses menggunakan USG tanpa persiapan khusus. Namun, kami juga menemukan bahwa setidaknya setengah dari pasien kami tidak dapat tervisualisasi seluruh kolonnya karena keterbatasan USG konvensional. Daerah pada kolon yang paling sering tidak dapat divisualisasikan menggunakan USG yaitu rectosigmoid, limpa, dan flexura hepatis, terutama karena daerahdaerah tersebut terisi feses sehingga tidak dapat menerima gelombang transduser karena terkompresi posisi anatomi mereka. Namun, deteksi polip pada kolon sangat penting, bila lesi polypoid ditemukan, harus diketahui dengan jelas lokasi lesi menggunakan endoskopi dan penghilangan lesi pada saat pemeriksaan histologis berikutnya. Pada lesi polypoid dengan gambaran keganasaan juga dapat di evaluasi derajat keganasannya melalui CT. Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran khas berbagai tipe polip yang sering ditemukan melalui pemeriksaan menggunakan sonografi dan untuk menunjukan peran potensial dari USG konvensional dalam deteksi polip kolon.

Morfologi Sebuah polip terlihat sebagai tumor makroskopik berbatas tegas atau elevasi mukosa terlihat dikelilingi permukaan dengan sel epitel pipih. Meskipun sering disebut adenoma, istilah ini tidak memiliki implikasi histologis yang spesifik. Polip berdiameter lebih kecil dari 5 mm merupakan lesi yang sering mengalami inflamasi atau lesi metaplastic tidak memiliki potensi untuk menjadi maligna. Lesi polipoid berdiameter sedang (6-9 mm) dan besar (10 mm dan lebih) sering menjadi polip neoplastik, dan yang paling banyak adalah adenoma. Polip non-neoplastik terjadi di usus besar adalah polip hamartomous. Polip Juvenile bisa tunggal atau multipel, yang dapat ditemukan pada anak-anak dan orang dewasa.

3

(a)

(b)

(c)

(d) Gambar 1. Gambaran normal kolon desendens dan sigmoid. (a) Warna dari gambaran Doppler pada fosa iliaka kiri menunjukkan kolon desendens bagian distal kosong dengan udara minimal pada lumen. Tiga lapisan sonografi, dari luar ke dalam yaitu propria muskularis (1), submukosa (2) dan mukosa (3). Taenia coli terlihat sebagai penebalan pada muskularis propria. (b) Kolon desendens bagian distal setengah penuh, menggambarkan dinding anterior, sedangkan dinding posterior tidak jelas terlihat. (c) Fosa iliaka kiri menunjukkan kolon sigmoid yang bersifat echogenic tetapi residu pada dinding posterior terlihat. (d) Dari potongan coronal fosa iliaka kiri dibawah panggul menunjukkan kelanjutan dari kolon desendens bagian distal sampai sigmoid..

4

(a)

(b)

(c)Gambar 2. Gambaran normal dari caecum dan kolon ascendens. (a) Caecum terisi residu udara pada dinding anterior; dinding posterior tidak terlihat jelas. Normal appendix ditunjjukan tanda panah. (b) Fosa iliaka kanan terlihat dengan kompresi menggunakan transduser dekat caecum. Taeniae coli terlihat sebagai penebalan fokal pada muskularis propria. (c) Pada panggul kanan terlihat kolon ascendens terisi residu gas. Haustra terlihat sebagai bayangan echogenic.

5

Gambar 3. Pria berusia 70-tahun dengan diverticulosis kolon. Sonogram pada fosa iliaka kiri menunjukkan gambaran dari kolon sigmoid dengan dinding hypoechoic tebal dan divertikulum.

Polip hamartomatous ditemukan pada pasien dengan sindrom PeutzJeghers dan polip inflamasi pada pasien dengan sindrom Cronkhite-Canada. Polip adenomatosa asimtomatik ditemukan pada pasien berusia lebih dari 40 tahun dengan prevalensi 5-10%.3,4 Risiko keganasan meningkat seiring dengan peningkatan ukuran polip, advanced adenoma merupakan istilah yang sekarang digunakan untuk polip yang berdiameter lebih dari 10 mm, sedangkan polip kecil (10 mm) sering dianggap tidak penting.5,10-11 Polip adenomatosa berbatas tegas, lesi sessile atau pedunkulata yang cenderung muncul lebih sering di rectosigmoid dengan distribusi yang sama dengan karsinoma.12

Teknik Sonografi dan Gambaran Normal Sebagian besar kolon dapat dilihat dengan USG konvensional.13 Transduser linear 5-10-MHz lebih disukai karena dapat ditekan dengan kedalaman maksimum, bagian usus menjadi lebih fokus dan menggeser residu feses dari daerah tertentu. Kolon desendens bagian distal mudah dikenali karena posisinya tetap dalam fosa iliaka kiri tepat di atas pembuluh iliaka. Kemudian ditelusuri ke bawah6

dan menuju kolon sigmoid masuk kedalam atau menjauh dari pelvis, tergantung pada konfigurasi sigmoid. Dinding kolon desendens lalu ditelusuri ke atas ke flexura limpa, lalu menelusuri kolon transversal dan ascending, hingga usus buntu. Ketebalan dinding kolon normal biasanya 3-4 mm. Gambaran dari lima lapisan dinding dapat dicapai dalam kondisi scanning yang optimal, meskipun tiga lapisan utama mukosa, submukosa dan propria muskularis biasanya terlihat (Gambar 1a).14 Penebalan fokal longitudinal pada muskularis propria, biasanya terdapat 3 yang menandakan taeniae coli (Gambar 1).

(a)

(b)

Gambar 4. Penampilan dari dua polip adenomatosa sigmoid dengan grade tinggi displasia terbukti secara histologis. (a) Warna Doppler terlihat dari fosa iliaka kiri pada laki-laki 61 tahun yang menunjukkan penampang dari kolon sigmoid (panah) dan 18 mm polip (panah melengkung). (b) Penampang pandangan kolon sigmoid dalam 60 tahun laki-laki dengan polip (panah melengkung) dengan garis permukaan yang berbelit-belit dengan ukuran 15 mm.

Terlihatnya pembesaran usus besar tergantung pada fisiologis dari usus tersebut. Ketika kosong, seluruh dinding kolon dapat dilihat secara rinci (Gambar 1). Di dalam kolon yang terisi seteng