DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM - Home - .Pd T-02-2004-A 2 dari 26 3.8 Durasi kekeringan terpanjang dengan

download DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM - Home - .Pd T-02-2004-A 2 dari 26 3.8 Durasi kekeringan terpanjang dengan

of 31

  • date post

    18-Apr-2019
  • Category

    Documents

  • view

    218
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM - Home - .Pd T-02-2004-A 2 dari 26 3.8 Durasi kekeringan terpanjang dengan

Pd T-02-2004-A

Konstruksi dan Bangunan Sipil

Perhitungan indeks kekeringan menggunakan teori run

Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor : 360/KPTS/M/2004 Tanggal : 1 Oktober 2004

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

Pd T-02-2004-A

i

Prakata

Perhitungan indeks kekeringan menggunakan teori run ini dibahas dalam Gugus Kerja Hidrologi, Hidraulika, Lingkungan, Air Tanah dan Air Baku yang termasuk pada Sub Panitia Teknik Sumber Daya Air, yang berada di bawah Panitia Teknik Konstruksi dan Bangunan, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah.

Penulisan pedoman ini mengacu kepada Pedoman BSN No.8 Tahun 2000 dan telah mendapat masukkan dan koreksi dari ahli bahasa.

Perumusan pedoman ini dilakukan melalui proses pembahasan pada Gugus Kerja, Prakonsensus dan Konsensus pada tanggal 29 Juli 2003 di Pusat Litbang Sumber Daya Air Bandung serta proses penetapan pada Panitia Teknik yang melibatkan para narasumber dan pakar dari berbagai instansi terkait.

Pedoman ini dapat digunakan sebagai acuan untuk melakukan perhitungan indeks kekeringan dengan menggunakan teori Run dalam rangka meningkatkan kualitas perencanaan yang memperhitungkan faktor kekeringan. Pedoman ini juga menguraikan langkah-langkah pengerjaan perhitungan indeks kekeringan menggunakan teori Run.

Pd T-02-2004-A

ii

Daftar isi

Prakata ............................................................................................................. i

Daftar isi ............................................................................................................ ii

Pendahuluan ..................................................................................................... iii

1. Ruang lingkup ............................................................................................. 1

2. Acuan normatif ............................................................................................ 1

3. Istilah dan definisi ....................................................................................... 1

4. Persyaratan ................................................................................................ 2

5. Analisis kekeringan menggunakan Teori Run ............................................ 2

5.1 Teori Run ........................................................................................... 2

5.2 Tingkat keparahan kekeringan ........................................................... 3

6. Langkah perhitungan .................................................................................. 4

7. Keterbatasan penerapan teori Run ............................................................. 4

7.1 Kondisi data hujan bulanan ................................................................ 4

7.2 Pembangkitan data hujan .................................................................. 5

7.3 Data hujan yang digunakan untuk model simulasi hujan-limpasan .. 5

7.4 Data yang berurutan .......................................................................... 5

Lampiran A Gambar ......................................................................................... 6

Gambar A.1 Isohit durasi kekeringan (Ln) terpanjang (dalam bulan) dengan

periode ulang 10 tahun wilayah Pekalongan dan Semarang...... 6

Gambar A.2 Isohit Jumlah kekeringan (Dn) terpanjang (dalam mm) dengan

periode ulang 10 tahun wilayah Pekalongan dan Semarang...... 6

Lampiran B Tabel ............................................................................................. 7

Tabel B.1 Data hujan bulanan hasil pengamatan (mm) ......................... 7

Tabel B.2 Nilai surplus dan defisit dari Run (mm) .................................. 9

Tabel B.3 Durasi kekeringan kumulatif (bulan) ....................................... 11

Tabel B.4 Durasi kekeringan (Ln) ........................................................... 13

Tabel B.5 Durasi kekeringan terpanjang (bulan) .................................... 15

Tabel B.6 Jumlah kekeringan kumulatif (mm) ........................................ 17

Tabel B.7 Jumlah kekeringan (Dn) .......................................................... 19

Tabel B.8 Jumlah kekeringan terpanjang (mm) ...................................... 21

Pd T-02-2004-A

iii

Lampiran C Indeks kekeringan ......................................................................... 23

Lampiran D Contoh perhitungan indeks kekeringan .......................................... 24

Lampiran E Daftar nama dan lembaga ............................................................. 25

Bibliografi .......................................................................................................... 26

Pd T-02-2004-A

iv

Pendahuluan

Pedoman ini dimaksudkan untuk melakukan penghitungan indeks kekeringan berupa durasi kekeringan terpanjang dan jumlah kekeringan terbesar dengan periode ulang tertentu di lokasi pos hujan yang tersebar di suatu wilayah.

Indeks kekeringan tersebut dapat digunakan untuk mengindikasikan tingkat keparahan kekeringan yang terkandung dalam seri data hujan. Tingkat keparahan kekeringan digambarkan oleh periode ulang.

Makin tinggi tingkat keparahan kekeringan makin besar durasi dan jumlah kekeringannya. Kandungan keparahan kekeringan dalam deret data hujan ditentukan oleh besaran periode ulang, yang dengan sendirinya mencerminkan tingkat kekeringan dari debit aliran masuk. Indeks kekeringan perlu diketahui agar supaya perencanaan waduk tidak mengalami overdesign (jika periode ulang kekeringan terlalu tinggi) atau sebaliknya. Dengan demikian pada waktu kekeringan terjadi, air di waduk masih dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air pada tingkat tertentu. Pada akhirnya, penentuan periode ulang yang paling tepat hanya dapat dicapai melalui analisa risiko yang melibatkan Benefit-Cost

Pd T-02-2004-A

1 dari 26

Perhitungan indeks kekeringan menggunakan teori run

1 Ruang lingkup Pedoman ini membahas tata cara perhitungan indeks kekeringan menggunakan teori Run. Indeks kekeringan yang dihasilkan mencakup durasi kekeringan dan jumlah kekeringan dengan berbagai periode ulang, digunakan untuk mengetahui tingkat keparahan kekeringan dalam suatu seri data hujan dan untuk kapasitas bendung.

Pedoman ini hanya membahas indeks kekeringan titik pada setiap pos hujan, bukan kekeringan wilayah (regional drought). 2 Acuan normatif Acuan normatif belum ada

3 Istilah dan definisi 3.1 Nilai hujan normal adalah nilai rata-rata hujan setiap bulan dihitung dari satu seri data pengamatan. 3.2 Kekeringan adalah kekurangan curah hujan dari biasanya atau kondisi normal yang terjadi berkepanjangan sampai mencapai satu musim atau lebih yang akan mengakibatkan ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan air yang dicanangkan. 3.3 Indeks kekeringan adalah nilai tunggal yang menggambarkan tingkat keparahan kekeringan, berupa durasi kekeringan terpanjang dan jumlah kekeringan terbesar, masing-masing dengan periode ulang tertentu. 3.4 Pemepatan, truncation Y (m) adalah nilai normal seri data (rata-rata atau median) atau dapat berupa nilai yang mewakili kebutuhan air seperti kemungkinan 10 % atau 20 % tidak terlampaui. Untuk pertanian diambil pemepatan pada tingkat kemungkinan 20% tidak terlampaui. 3.5 Run adalah deret yang berada di atas atau di bawah nilai pemepatan, hitungan dibuat berdasarkan jumlah deret yang berada di atas A (surplus) atau di bawah A (defisit) dari seri data alami, lihat Gambar 1. 3.6 Durasi kekeringan (Ln) adalah lamanya curah hujan bulanan mengalami defisit (berada di bawah) terhadap nilai pemepatan yang dipilih seperti rata-rata, median atau besaran hujan dengan kemungkinan lainnya. 3.7 Durasi kekeringan terpanjang adalah durasi kekeringan maksimum (dalam bulan) selama T tahun ( menggambarkan waktu pengulangan seperti 5; 10; 20 tahun) pertama, kedua dan seterusnya.

Pd T-02-2004-A

2 dari 26

3.8 Durasi kekeringan terpanjang dengan periode ulang T tahun (LnT) adalah durasi kekeringan terpanjang rata-rata selama n x T tahun, yang dianggap mewakili populasinya; Jadi, panjang data hujan yang digunakan n x T tahun. 3.9 Jumlah kekeringan (Dn) adalah jumlah defisit (hujan dikurangi nilai pemepatan) selama durasi kekeringannya, bernilai negatif dengan satuan mm. 3.10 Jumlah kekeringan terbesar adalah jumlah defisit maksimum selama kurun waktu T tahun, pertama, kedua, dan seterusnya. 3.11 Jumlah kekeringan terbesar periode ulang T tahun (DnT) adalah jumlah kekeringan terbesar rata-rata selama n x T tahun. 4 Persyaratan Persyaratan yang diperlukan untuk menerapkan tata cara ini, adalah sebagai berikut.

a) Seri data hujan bulanan dengan panjang minimal 50 tahun, bilamana perlu dapat digunakan interval mingguan atau tengah bulanan.

b) Seri data hujan disaring secara :

1) manual:

(a) pemeriksaan secara visual: nilai curah hujan bulanan, tahunan dan maksimum; ketiga jenis nilai tersebut harus sesuai satu dengan yang lain;

(b) data kosong lamanya satu bulan atau lebih sepanjang tahun, tidak dapat digunakan.

2) statistik meliputi uji:

(a) stasionaritas

(b) homogenitas

(c) keacakan. 5 Analisis kekeringan menggunakan teori run 5.1 Teori run Prinsip perhitungan teori run mengikuti proses peubah tunggal (univariate).