DENGUE SYOK SINDROM - simdos.unud.ac.id

of 38 /38
1 DENGUE SYOK SINDROM Oleh : Shobana Raveendran dr. I Gede Budiarta,SpAn.KMN BAGIAN/SMF ILMU ANESTESI DAN REANIMASI FK UNUD/RSUP SANGLAH

Embed Size (px)

Transcript of DENGUE SYOK SINDROM - simdos.unud.ac.id

FK UNUD/RSUP SANGLAH
2.1 Definisi .................................................................................................. 2
2.2 Etiologi ................................................................................................... 3
2.4 Epidemiologi ......................................................................................... 5
3.1 Identitas ................................................................................................. 15
3.2 Heteroanamnesis ..................................................................................... 16
PENDAHULUAN
Dengue Fever (DF) adalah penyakit demam akut selama 2-7 hari dengan dua atau lebih
manifestasi berikut: nyeri kepala, nyeri perut, mual, muntah, nyeri retro orbital, myalgia, atralgia,
ruam kulit, hepatomegali, manifestasi perdarahan, dan lekopenia.
Dengue Hemoragik Fever (DHF) adalah kasusu demam dengue dengan kecenderungan
perdarahan dan manifestasi kebocoran plasm. Demam berdarah dengue atau Dengue Hemorrhagic
Fever (DHF) adalah demam dengue yang disertai dengan pembesara hati dan manifestasi
perdarahan. Demam Berdarah Dengue (BDB) atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah
suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Family Flaviviride, dengan genusnya adalah
Flavivirus. Virus mempunyai empat serotype yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan
DEN-4. Selama ini secara klinik mempunyai tingkatan manifestasi yang berbeda-beda tergantung
dari sterotipe virus dengue. Mordibitas penyakit DBD menyebar di negara-negara tropis dan sub
tropis. Di setiap Negara penyakit DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda.
Dengue Shock Syndrome (SSD)/ Dengue Syok Sindrom (DSS) adalah kasus deman
berdarah dengue disertai dengan manifestasi kegagalan sirkulasi/ syok/ renjatan. Dengue Shok
Syndrome (DSS) adalah sindroma syok yang terjadi pada penderita Dengue Hemorrhagic Fever
(DHF) atau Demam Berdarah Dengue (DBD) menyebar dengan luas dan tiba-tiba, tetapi juga
merupakan permasalahan klinis. Karena 30 – 50% penderita demam berdarah dengue akan
mengalami renjatan dan berakhir dengan suatu kematian terutama bila tidak ditangani secara dini
dan adekuat.
Penanganan renjatan pada DBD merupakan suatu masalah yang sangat penting diperhatikan, oleh
karena angka kematian akan meninggi bila renjatan tidak ditanggulangi secara dini dan adekuat.
Dasar penangani renjatan DBD ialah volume replacement atau penggantian cairan intravascular
yang hilang, sebagai akibat dari kerusakan dinding kapiler yang menimbulkan peninggian
permeabilitas sehingga mengakibatkan plasma leakage.
6
Kematian dijumpai pada waktu ada pendarahan yang berat, shock yang tidak teratasi, efusi pleura
dan asites yang berat dan kejang. Tidak ada vaksin yang tersedia secara komersial untuk flavivirus
demam berdarah.Oleh itu, pencegahan utama demam berdarah terletak pada menghapuskan atau
mengurangi vector nyamuk demam berdarah.
7
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti, yang ditandai dengan demam mendadak
dua sampai tujuh hari tanpa penyebab yang jelas, lemah/lesu, gelisah, nyeri hulu hati. Demam
Dengue berdarah adalah penyakit yang bermanifestasi perdarahan dikulit berupa petechie,
purpura, echymosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, melena, hepatomegali,
trombositopeni.Dengue Syok Sindrom adalah penyakit DHF yang mengalami kesadaran menurun
atau renjatan.
2.1.1 Agent Infeksius
Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue. Virus ini termasuk dalam grup B Antropod
Borne Virus (Arboviroses) kelompok flavivirus dari family flaviviridae, yang terdiri dari empat
serotipe, yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3, DEN 4. Masingmasing saling berkaitan sifat antigennya
dan dapat menyebabkan sakit pada manusia. Keempat tipe virus ini telah ditemukan di berbagai
daerah di Indonesia. DEN 3 merupakan serotipe yang paling sering ditemui selama terjadinya KLB
di Indonesia diikuti DEN 2, DEN 1, dan DEN 4. DEN 3 juga merupakan serotipe yang paling
dominan yang berhubungan dengan tingkat keparahan penyakit yang menyebabkan gejala klinis
yang berat dan penderita banyak yang meninggal.10 2.1.3 Vektor Penular Nyamuk Aedes aegypti
maupun Aedes albopictus merupakan vektor penularan virus dengue dari penderita kepada orang
lain melalui gigitannya. Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor penting di daerah perkotaan
(daerah urban) sedangkan daerah pedesaan (daerah rural) kedua spesies nyamuk tersebut berperan
dalam penularan.
2.2. Etiology
2.2.1. Mekanisme Penularan
Demam berdarah dengue tidak menular melalui kontak manusia dengan manusia. Virus
dengue sebagai penyebab demam berdarah hanya dapat ditularkan melalui nyamuk. Oleh karena
itu, penyakit ini termasuk kedalam kelompok arthropod borne diseases. Virus dengue berukuran
8
35-45 nm. Virus ini dapat terus tumbuh dan berkembang dalam tubuh manusia dan nyamuk.
Terdapat tiga faktor yang memegang peran pada penularan infeksi dengue, yaitu manusia, virus,
dan vektor perantara. Virus dengue masuk ke dalam tubuh nyamuk pada saat menggigit manusia
yang sedang mengalami viremia, kemudian virus dengue ditularkan kepada manusia melalui
gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang infeksius. Seseorang yang di dalam
darahnya memiliki virus dengue (infektif) merupakan sumber penular DBD. Virus dengue berada
dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam (masa inkubasi instrinsik). Bila
penderita DBD digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terhisap masuk ke dalam
lambung nyamuk. Selanjutnya virus akan berkembangbiak dan menyebar ke seluruh bagian tubuh
nyamuk, dan juga dalam kelenjar saliva. Kira-kira satu minggu setelah menghisap darah penderita
(masa inkubasi ekstrinsik), nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain. Virus ini
akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu nyamuk Aedes
aegypti yang telah menghisap virus dengue menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya.
Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menggigit (menusuk), sebelum menghisap darah
akan mengeluarkan air liur melalui saluran alat tusuknya (probosis), agar darah yang dihisap tidak
membeku. Bersama air liur inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain. Hanya
nyamuk Aedes aegypti betina yang dapat menularkan virus dengue. Nyamuk betina sangat
menyukai darah manusia (anthropophilic) dari pada darah binatang. Kebiasaan menghisap darah
terutama pada pagi hari jam 08.00-10.00 dan sore hari jam 16.00-18.00. Nyamuk betina
mempunyai kebiasaan menghisap darah berpindah-pindah berkali-kali dari satu individu ke
individu lain (multiple biter). Hal ini disebabkan karena pada siang hari manusia yang menjadi
sumber makanan darah utamanya dalam keadaan aktif bekerja/bergerak sehingga nyamuk tidak
bisa menghisap darah dengan tenang sampai kenyang pada satu individu. Keadaan inilah yang
menyebabkan penularan penyakit DBD menjadi lebih mudah terjadi.
2.2.2. Tempat Potensial Bagi Penularan Penyakit DBD
Penularan penyakit DBD dapat terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk penularnya.
Tempat-tempat potensial untuk terjadinya penularan DBD adalah :
a. Wilayah yang banyak kasus DBD (rawan/endemis)
9
b. Tempat-tempat umum merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang datang dari
berbagai wilayah sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus dengue cukup
besar. Tempat-tempat umum itu antara lain :
i. Sekolah Anak murid sekolah berasal dari berbagai wilayah, merupakan kelompok
umur yang paling rentan untuk terserang penyakit DBD.
ii. Rumah Sakit/Puskesmas dan sarana pelayanan kesehatan lainnya : Orang datang
dari berbagai wilayah dan kemungkinan diantaranya adalah penderita DBD, demam
dengue atau carier virus dengue.
iii. Tempat umum lainnya seperti : Hotel, pertokoan, pasar, restoran, tempat-tempat
ibadah dan lain-lain.
c. Pemukiman baru di pinggiran kota karena di lokasi ini, penduduk umumnya berasal dari
berbagai wilayah, maka kemungkinan diantaranya terdapat penderita atau carier yang membawa
tipe virus dengue yang berlainan dari masing-masing lokasi awal.
2.3. Nyamuk Penular DBD
Morfologi Nyamuk Aedes aegypti mempunyai morfologi sebagai berikut :
a. Nyamuk dewasa Nyamuk dewasa berukuran lebih kecil, jika dibandingkan dengan rata-rata
nyamuk yang lain. Mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian badan
dan kaki.
b. Pupa (Kepompong) Pupa atau kepompong berbentuk seperti “Koma”. Bentuknya lebih besar
namun lebih ramping dibandingkan larva (jentik)nya. Pupa nyamuk Aedes aegypti berukuran lebih
kecil, jika dibandingkan dengan rata-rata pupa nyamuk lain.
c. Larva (jentik) Ada 4 tingkat (instar) larva sesuai dengan pertumbuhan larva
i. Larva instar I berukuran paling kecil, yaitu 1-2 mm.
ii. Larva instar II berukuran 2,5-3,8 mm.
iii. Larva instar III berukuran lebih besar sedikit dari larva instar II.
10
iv. Larva instar IV berukuran paling besar 5mm.
Larva dan pupa hidup pada air yang jernih pada wadah atau tempat air buatan seperti pada
potongan bambu, dilubang-lubang pohon, pelepah daun, kaleng kosong, pot bunga, botol pecah,
tangki air, talang atap, tempolong atau bokor, kolam air mancur, tempat minum kuda, ban bekas,
serta barang-barang lainnya yang berisi air yang tidak berhubungan langsung dengan tanah. Larva
sering berada di dasar container, posisi istirahat pada permukaan air membentuk sudut 45 derajat,
sedangkan posisi kepala berada di bawah.
d. Telur Telur berwarna hitam dengan ukuran lebih 0,80 mm. Telur berbentuk oval yang
mengapung satu persatu pda permukaan air yang jernih, atau menempel pada dinding
penampungan air, Aedes aegypti betina bertelur diatas permukaan air pada dinding vertikal bagian
dalam pada tempat-tempat yang berair sedikit, jernih, terlindung dari sinar matahari langsung, dan
biasanya berada di dalam dan dekat rumah. Telur tersebut diletakkan satu persatu atau berderet
pada dinding tempat air, di atas permukaan air, pada waktu istirahat membentuk sudut dengan
permukaan air.
Nyamuk Aedes aegypti seperti nyamuk lainnya mengalami metamorfosis sempurna yaitu
telur – jentik – kepompong – nyamuk. Stadium telur, jentik dan kepompong hidup di dalam air.
Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu kurang lebih 2 hari setelah telur
terendam air. Telur dapat bertahan hingga kurang lebih selama 2-3 bulan apabila tidak terendam
air, dan apabila musim penghujan tiba dan kontainer menampung air, maka telur akan terendam
kembali dan akan menetas menjadi jentik. Stadium jentik biasanya berlangsung 6-8 hari, dan
stadium pupa (kepompong) berlangsung antara 2-4 hari. Pertumbuhan dari telur menjadi dewasa
9-10 hari. Umur nyamuk betina dapat mencapai 2-3 bulan.Pergerakan nyamuk dari tempat
perindukan ke tempat mencari mangsa dan ke tempat istirahat ditentukan oleh kemampuan
terbang. Jarak terbang nyamuk betina biasanya 40-100 meter. Namun secara pasif misalnya angin
atau terbawa kendaraan maka nyamuk ini dapat berpindah lebih jauh.
2.3.3. Variasi Musiman
Pada musim hujan tempat perkembang biakan Aedes aegypti yang pada musim kemarau
tidak terisi air, mulai terisi air. Telur-telur yang tadinya belum sempat menetas akan menetas.
11
Selain itu pada musim hujan semakin banyak tempat penampungan air alamiah yang terisi air
hujan dan dapat digunakan sebagai tempat berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti. Oleh
karena itu pada musim hujan populasi nyamuk Aedes aegypti terus meningkat. Bertambahnya
populasi nyamuk ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan peningkatan penularan
penyakit dengue.
Tempat perkembangbiakan utama nyamuk Aedes aegypti ialah pada tempat-tempat
penampungan air berupa genangan air yang tertampung di suatu tempat atau bejana di dalam atau
sekitar rumah atau tempat-tempat umum, biasanya tidak melebihi jarak 500 meter dari rumah.
Nyamuk ini biasanya tidak dapat berkembangbiak di genangan air yang langsung berhubungan
dengan tanah. Jenis tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dapat dikelompokkan
sebagai berikut :
a. Tempat Penampungan Air (TPA), yaitu tempat-tempat untuk menampung air guna
keperluan sehari-hari, seperti: tempayan, bak mandi, ember, dan lain-lain.
b. Bukan tempat penampungan air (non TPA), yaitu tempat-tempat yang biasa menampung
air tetapi bukan untuk keperluan sehari-hari, seperti : tempat minum hewan peliharaan (ayam,
burung, dan lain-lain), barang bekas (kaleng,botol, ban,pecahan gelas, dan lain-lain), vas
bunga,perangkap semut, penampung air dispenser, dan lain-lain.
c. Tempat penampungan air alami, seperti : Lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung
kelapa, kulit kerang, pangkal pohon pisang, potongan bambu, dan lain-lain .
2.4. Epidemiologi
2.4.1. Distribusi Penyakit
Menurut Orang DBD dapat diderita oleh semua golongan umur, walaupun saat ini DBD lebih
banyak pada anak-anak, tetapi dalam dekade terakhir ini DBD terlihat kecenderungan kenaikan
proporsi pada kelompok dewasa, karena pada kelompok umur ini mempunyai mobilitas yang
tinggi dan sejalan dengan perkembangan transportasi yang lancar, sehingga memungkinkan untuk
tertularnya virus dengue lebih besar, dan juga karena adanya infeksi virus dengue jenis baru yaitu
DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4 yang sebelumya belum pernah ada pada suatu daerah. Pada
12
awal terjadinya wabah di suatu negara, distribusi umur memperlihatkan jumlah penderita
terbanyak dari golongan anak berumur kurang dari 15 tahun (86-95%). Namun pada wabah-wabah
selanjutnya jumlah penderita yang digolongkan dalam usia dewasa muda meningkat. Di Indonesia
penderita DBD terbanyak pada golongan anak berumur 5-11 tahun, proporsi penderita yang
berumur lebih dari 15 tahun meningkat sejak tahun 1984.Menurut Tempat Penyakit DBD dapat
menyebar pada semua tempat kecuali tempat-tempat dengan ketinggian 1000 meter dari
permukaan laut karena pada tempat yang tinggi dengan suhu yang rendah perkembangbiakan
Aedes aegypti tidak sempurna.Dalam kurun waktu 30 tahun sejak ditemukan virus dengue di
Surabaya dan Jakarta tahun 1968 angka kejadian sakit infeksi virus dengue meningkat dari 0,05
per 100.000 penduduk menjadi 35,19 per 100.000 penduduk tahun 1998. Sampai saat ini DBD
telah ditemukan diseluruh propinsi di Indonesia.14 Universitas Sumatera Utara Meningkatnya
kasus serta bertambahnya wilayah yang terjangkit disebabkan karena semakin baiknya sarana
transportasi penduduk, adanya pemukiman baru, dan terdapatnya vektor nyamuk hampir di seluruh
pelosok tanah air serta adanya empat tipe virus yang menyebar sepanjang tahun.14,19 2.4.3.
Distribusi Penyakit DBD Menurut Waktu Pola berjangkitnya infeksi virus dengue dipengaruhi
oleh iklim dan kelembaban udara. Pada suhu yang panas (28-320 C) dengan kelembaban yang
tinggi, nyamuk Aedes aegypti akan tetap bertahan hidup untuk jangka waktu lama. Di Indonesia
karena suhu udara dan kelembaban tidak sama di setiap tempat maka pola terjadinya penyakit agak
berbeda untuk setiap tempat. Di pulau Jawa pada umumnya infeksi virus dengue terjadi mulai awal
Januari, meningkat terus sehingga kasus terbanyak terdapat pada sekitar bulan April-Mei setiap
tahun.
Penularan penyakit DBD dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu agent (virus), host (pejamu), dan
lingkungan, yaitu :
1. Agent (penyebab penyakit) adalah semua unsur atau elemen hidup atau mati yang
kehadirannya, apabila diikuti dengan kontak yang efektif dengan manusia rentan dalam keadaan
yang memungkinkan akan menjadi stimuli untuk mengisi dan memudahkan terjadinya suatu
proses penyakit. Dalam hal ini yang menjadi agent dalam penyebaran DBD adalah virus dengue.19
2. Karakteristik host (pejamu) adalah manusia yang kemungkinan terjangkit penyakit DBD.
Faktor-faktor yang terkait dalam penularan DBD pada manusia yaitu :
13
i. Mobilitas penduduk akan memudahkan penularan dari suatu tempat ke tempat yang
lainnya. Hasil penelitian Fathi (2004) di kota Mataram mobilitas penduduk tidak ikut berperan
dalam terjadinya KLB penyakit DBD di kota Mataram, hal ini dapat dikaitkan dengan mobilitas
penduduk di kota Mataram yang relatif rendah yaitu sebagian besar adalah petani.Hasil penelitian
Arsunan dan Wahiduddin (2003) di kota Makassar mobilitas penduduk berperan dalam
penyebaran DBD, hal ini disebabkan mobilitas penduduk di kota Makassar yang relatif tinggi.Hal
ini sesuai dengan Sumarmo bahwa penyakit biasanya menjalar dimulai dari suatu pusat sumber
penularan (kota besar), kemudian mengikuti lalu-lintas (mobilitas) penduduk. Semakin tinggi
mobilitas makin besar kemungkinan penyebaran penyakit.
ii. Pendidikan akan mempengaruhi cara berpikir dalam penerimaan penyuluhan dan cara
pemberantasan yang dilakukan, hal ini berkaitan dengan pengetahuan. Hasil penelitian Nicolas
Duma (2007) di kecamatan Baruga kota Kendari ada hubungan yang sangat signifikan antara
pengetahuan dengan kejadian DBD. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian Arsunan dan
Wahiduddin (2003) di kota Makassar yang mendapatkan adanya hubungan yang bermakna antara
pengetahuan dengan kejadian DBD. Hasil penelitian Kasnodiharjo (1997) di Subang Jawa Barat
menyatakan bahwa seseorang yang mempunyai latar belakang pendidikan atau buta huruf , pada
umumnya akan mengalami kesulitan untuk menyerap ide-ide baru dan membuat mereka
konservatif karena tidak mengenal alternatif yang lebih baik.
iii. Kelompok umur akan mempengaruhi peluang terjadinya penularan penyakit DBD.
Hasil penelitian Soegeng Soegijanto (2000) di Jawa Timur dari tahun 1996 sampai dengan tahun
2000 proporsi kasus DBD terbanyak adalah pada kelompok umur 5-9 tahun. Tetapi pada tahun
1998 dan 2000 proporsi kasus pada kelompok umur 15-44 tahun meningkat, keadaan tersebut perlu
diwaspadai bahwa DBD cenderung meningkat pada kelompok umur remaja dan dewasa.4 Hal ini
sesuai dengan Suroso bahwa di Indonesia pada tahun 1995-1997 proporsi kasus DBD telah
bergeser ke usia ≥ 15 tahun.5 Hasil penelitian Fitri (2005) di Pekanbaru proporsi penderita
terbanyak lebih sering pada kelompok umur ≥ 15 tahun.
iv. Jenis kelamin, berdasarkan penelitian Widyana (1998) di Bantul pada tahun 1997 menemukan
bahwa proporsi penderita perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki yaitu sebesar 52,6 %.23 Hasil
serupa juga di peroleh oleh Enny dkk (2003) di Jakarta pada tahun 2000 sebagian besar penderita
adalah perempuan (58,2%).25 Namun secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan antara jenis
14
kelamin penderita DBD dan sampai sekarang tidak ada keterangan yang dapat memberikan
jawaban dengan tuntas mengenai perbedaan jenis kelamin pada penderita DBD.13 Hal ini juga
didukung oleh penelitian yang dilakukan Djelantik di RSCM Jakarta (1998) menyatakan bahwa
tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara angka insiden laki-laki dan perempuan.
3. Lingkungan, lingkungan yang terkait dalam penularan penyakit DBD adalah :
i. Tempat penampungan air / keberadaan kontainer, sebagai tempat perindukan nyamuk
Aedes aegypti. Hasil penelitian Yukresna (2003) dengan desain penelitian case control di kota
Medan mendapatkan kondisi tempat penampungan air mempunyai hubungan dengan kejadian
DBD dengan OR 5,706 (CI 95% 1,59 – 20,39).
ii. Ketinggian tempat suatu daerah mempunyai pengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk dan
virus DBD. Di wilayah dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter diatas permukaan laut tidak
ditemukan nyamuk Aedes aegypti.
iii. Curah hujan, pada musim hujan (curah hujan diatas normal) tempat perkembangbiakan
nyamuk Aedes aegypti yang pada musim kemarau tidak terisi air, mulai terisi air. Telur-telur yang
belum sempat menetas, dalam tempo singkat akan menetas, dan kelembaban udara juga akan
meningkat yang akan berpengaruh bagi kelangsungan hidup nyamuk dewasa dimana selama
musim hujan jangka waktu hidup nyamuk lebih lama dan berisiko penularan virus lebih
besar.11,15,19 Dari hasil pengamatan penderita DBD yang selama ini dilaporkan di Indonesia
bahwa musim penularan DBD pada umumnya terjadi pada musim hujan yaitu awal dan akhir
tahun.4 Hasil penelitian Fitri (2005) kasus penyakit DBD di kota Pekanbaru akan lebih tinggi pada
saat curah hujan tinggi yaitu diatas 300 mm.
iv. Kebersihan lingkungan / sanitasi lingkungan, dari penelitian Yukresna (2003) di kota
Medan dengan desain penelitian case control yang mendapatkan bahwa kebersihan lingkungan
mempunyai hubungan dengan kejadian DBD dengan OR 2,90 (CI 95% 1,63-5,15). Penelitian
tersebut sesuai dengan pernyataan Seogeng, S (2004) yang menyatakan bahwa kondisi sanitasi
lingkungan berperan besar dalam perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
15
Patofisiologi yang utama pada dengue shock syndrome ialah reaksi antigen-antibodi dalam
sirkulasi yang mengakibatkan aktifnya system komplemen C3 dan C5 yang melepaskan C3a dan
C5a dimana 2 peptida tersebut sebagai histamine tubuh yang merupakan mediator kuat terjadinya
peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah yang mendadak sebagai akiba terjadinya
perembesan plasma dan elektrolit melalui endotel dinding pembuluh darah dan masuk ke dalam
ruang interstitial sehingga menyebabkan hipotensi,peningkatan hemokonsentrasi,hipoproteinemia
dan efusi cairan pada rongga serosa.
Pada penderita dengan renjatan/shock berat maka volume plasma dapat berkurang sampai
kurang lebih 30% dan berlangsung selama 24 – 48 jam. Renjatan hipovolemia ini bila tidak
ditangani segera akan berakibat anoksia jaringan,asidosis metabolic sehingga terjadi pergeseran
ion kalsium dari intraseluler ke extraseluler. Mekanisme ini diikuti oleh penurunan kontraksi otot
jantung dan venous pooling sehingga lebih memperberat kondisi renjatan/shock.
Selain itu kematian penderita DSS ialah perdarahan hebat saluran pencernaan yang biasanya
timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak diatasi secara adekuat.
Terjadinya perdarahan ini disebabkan oleh:
- Trombositopenia hebat,dimana trombosit mulai menurun pada masa demam dna mencapai nilai
terendah pada masa renjatan.
sebagian besar penderita didapatkan masa thrombin normal,beberapa factor pembekuan menurun
termasuk factor ,V,VII,IX,X,dan fibrinogen.
-DIC /Desiminata Intravakuler Coagulasi
Pada masa dini DBD peranan DIC tidak terlalu menonjol dibandingkan dengan
perembesan plasma,namun apabila penyakit memburuk sehingga terjadi renjatan dan asidosis
metabolic maka renjatan akan mempercepat kejadian DIC sehingga peranannya akan menonjol.
Renjatan dan DIC salig mempengaruhi sehingga kejadian renjatan yang irreversible yang disertai
perdarahan hebat disemua organ vital dan berakhir dengan kematian.
16
Infeksi oleh virus dengue dapat bersifat asimtomatik maupun simtomatik yang meliputi
demam biasa (sindrom virus), demam dengue, atau demam berdarah dengue termasuk sindrom
syok dengue (DSS). Penyakit demam dengue biasanya tidak menyebabkan kematian, penderita
sembuh tanpa gejala sisa. Sebaliknya, DHF merupakan penyakit demam akut yang mempunyai
ciri-ciri demam, manifestasi perdarahan, dan berpotensi mengakibatkan renjatan yang dapat
menyebabkan kematian. Gambaran klinis bergantung pada usia, status imun penjamu, dan strain
virus. Berikut ini adalah bagan manifestasi infeksi virus dengue: Infeksi virus dengue Asimtomatik
Simtomatik Demam yang tak Demam dengue Demam berdarah jelas penyebabnya dengue
(sindrom virus) (kebocoran plasma) Tanpa Dengan Perdarahan perdarahan DBD tanpa DBD
dengan syok syok (SSD) Demam dengue Demam Berdarah.
2.7 Diagnosis
Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis menurut WHO tahun 1997
terdiri dari kriteria klinis dan laboratorium.
1. Kriteria Klinis
a. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus selama 2-
7 hari.
echymosis, purpura, perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan malena.
Uji tourniquet dilakukan dengan terlebih dahulu menetapkan tekanan darah. Selanjutnya diberikan
tekanan di antara sistolik dan diastolik pada alat pengukur yang dipasang pada lengan di atas siku;
tekanan ini diusahakan menetap selama percobaan. Setelah dilakukan tekanan selama 5 menit,
diperhatikan timbulnya petekia pada kulit di lengan bawah bagian medial pada sepertiga bagian
proksimal. Uji dinyatakan positif apabila pada 1 inchi persegi (2,8 x 2,8 cm) didapat lebih dari 20
petekia.
c. Pembesaran hati (hepatomegali).
d. Syok (renjatan), ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi, hipotensi,
kaki dan tangan dingin, kulit lembab, dan gelisah. Universitas Sumatera Utara
17
a. Trombositopeni ( < 100.000 sel/ml) b. Hemokonsentrasi, dapat dilihat dari peningkatan
hematokrit 20% atau lebih. 3. Derajat Penyakit DBD, menurut WHO tahun 1997 4,5 Derajat
penyakit DBD diklasifikasikan dalam 4 derajat, yaitu :
a. Derajat I Demam disertai dengan gejala umum nonspesifik, satu-satunya manifestasi
perdarahan ditunjukkan melalui uji tourniquet yang positif.
b. Derajat II Selain manifestasi yang dialami pasien derajat I, perdarahan spontan juga
terjadi, biasanya dalam bentuk perdarahan kulit dan atau perdarahan lainnya.
c. Derajat III Demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai hepatomegali dan
ditemukan gejala-gejala kegagalan sirkulasi meliputi nadi yang cepat dan lemah, tekanan nadi
menurun ( < 20 mmHg) atau hipotensi disertai kulit lembab dan dingin serta gelisah.
d. Derajat IV Demam, perdarahan spontan, disertai atau tidak disertai hepatomegali dan
ditemukan gejala syok (renjatan) yang sangat berat dengan tekanan darah dan denyut nadi yang
tidak terdeteksi.
meliputi :
1. Pengumpulan Spesimen Salah satu aspek yang esensial untuk diagnosis laboratorium
adalah pengumpulan, pegolahan, penyimpanan, dan pengantaran spesimen. Persyaratan
dari jenis spesimen, cara penyimpanan dan pengiriman dapat dilihat pada tabel berikut ini:
2. Jenis spesimen
3. Waktu pengambilan
4. Penyimpanan
5. Pengiriman
Spesimen darah Akut (S1) 0-5 hari setelah onset -700 C dry-ice Spesimen darah Konvelesen
(S2 & S3) 2-3 minggu setelah awitan -200 C beku/es Jaringan Secepatnya setelah meninggal -700
18
C dry-ice Spesimen S1 adalah sampel darah yang diambil pada stadium akut atau secepatnya
setelah onset penyakit atau segera setelah masuk rumah sakit. Spesimen S2 adalah sampel darah
yang diambil pada waktu penderita akan meninggalkan rumah sakit atau secepatnya sebelum
meninggal. Spesimen S3 adalah sampel darah yang diambil 2-3 minggu setelah spesimen akut.
Waktu antara yang paling baik untuk pengambilan spesimen akut dan kovalesen adalah 10 hari.
Untuk pemeriksaan serologi pengumpulan spesimen darah dapat dilakukan dengan 2 cara :
a. dengan menggunakan kertas saring (filter paper khusus). Darah diteteskan pada kertas
saring sampai jenuh, bolak-balik sehingga seluruh permukaan filter paper terisi darah rata. Darah
dapat dari pembuluh vena dapat pula darah dari ujung jari (ujung jari ditusuk). Kertas saring yang
berisi darah dibiarkan kering pada temperatur kamar. Jangan dikeringkan dengan panas sinar
matahari atau yang lainnya. Kertas saring yang berisi darah yang telah kering disimpan dalam
tempat yang kering pada suhu kamar tidak lebih dari 3 bulan. Kirimkan dalam amplop atau kantong
plastik ke laboratorium secepatnya sebelum waktu 3 bulan tersebut.
b. dengan serum darah diambil secara asepsis dengan menggunakan semprit. Serum
dipisahkan dengan diputar 1500-2000 putaran sekitar 10-15 menit. Serum yang terpisah
dipindahkan dalam botol kecil dengan menggunakan pipet Pasteur. Serum tersebut disimpan pada
suhu -200 C sebelum dikirim ke laboratorium.
2. Isolasi Virus Isolasi sebagian besar strain virus dengue dari spesimen klinis dapat
dilakukan pada sebagian besar kasus asalkan sampel diambil dalam beberapa hari pertama sakit
dan langsung diproses tanpa penundaan. Spesimen yang mungkin sesuai untuk isolasi virus
diantaranya serum fase akut dari pasien, autopsi jaringan dari kasus fatal, terutama dari hati, limpa,
nodus limfe.
3. Uji Serologis Uji hemaglutinasi inhibisi (uji HI) merupakan salah satu pemeriksaaan
serologi untuk penderita DBD dan telah ditetapkan oleh WHO sebagai standar pada Universitas
Sumatera Utara pemeriksaan serologi penderita DBD dibandingkan pemeriksaan serologi lainnya
seperti ELISA, uji komplemen fikasi, uji netralisasi, dan sebagainya. Apapun jenis uji yang
dilakukan, konfirmasi serologis sudah pasti bergantung pada kenaikan yang signifikan (4 kali lipat
atau lebih) pada antibodi spesifik dalam sampel serum diantara fase akut dan fase pemulihan.
Kumpulan antigen untuk sebagian besar uji serologis ini harus mencakup keempat serotipe dengue.
19
Pencegahan penyakit DBD dapat dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu pencegahan primer,
pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier. Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya
untuk mempertahankan orang yang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi
sakit.
kepadatan populasi, habitat utama larva, faktor resiko berdasarkan waktu dan tempat yang
berkaitan dengan penyebaran dengue, dan tingkat kerentanan atau kekebalan insektisida yang
dipakai, untuk memprioritaskan wilayah dan musim untuk pelaksanaan pengendalian vektor. Data
tersebut akan memudahkan pemilihan dan penggunaan sebagian besar peralatan pengendalian
vektor, dan dapat dipakai untuk memantau keefektifannya. Salah satu kegiatan yang dilakukan
adalah survei jentik. Survei jentik dilakukan dengan cara melihat atau memeriksa semua tempat
atau bejana yang dapat menjadi tempat berkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dengan mata
telanjang untuk mengetahui ada tidaknya jentik,yaitu dengan cara visual. Cara ini cukup dilakukan
dengan melihat ada tidaknya jentik disetiap tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya.
Ukuran-ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes aegypti adalah :
a. House Indeks (HI), yaitu persentase rumah yang terjangkit larva dan atau pupa. HI =
Jumlah Rumah Yang Terdapat Jentik x 100% Jumlah Rumah yang Diperiksa
b. Container Indeks (CI), yaitu persentase container yang terjangkit larva atau pupa. CI =
Jumlah Container Yang Terdapat Jentik x 100% Jumlah Container Yang Diperiksa
c. Breteau Indeks (BI), yaitu jumlah container yang positif per-100 rumah yang diperiksa.
BI = Jumlah Container Yang Terdapat Jentik x 100 rumah Jumlah Rumah Yang Diperiksa Dari
ukuran di atas dapat diketahui persentase Angka Bebas Jentik (ABJ), yaitu jumlah rumah yang tidak
ditemukan jentik per jumlah rumah yang diperiksa. ABJ = Jumlah Rumah Yang Tidak Ditemukan
Jentik x 100% Jumlah Rumah Yang Diperiksa Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) merupakan bentuk
evaluasi hasil kegiatan yang dilakukan tiap 3 bulan sekali disetiap desa/kelurahan endemis pada
20
100 rumah/bangunan yang dipilih secara acak (random sampling). Angka Bebas Jentik dan House
Indeks lebih menggambarkan luasnya penyebaran nyamuk disuatu wilayah.
2. Pengendalian Vektor
Pengendalian vektor adalah upaya untuk menurunkan kepadatan populasi nyamuk Aedes aegypti.
Secara garis besar ada 3 Cara pengendalian vektor yaitu:
a. Pengendalian Cara Kimiawi Pada pengendalian kimiawi digunakan insektisida yang
ditujukan pada nyamuk dewasa atau larva. Insektisida yang dapat digunakan adalah dari golongan
organoklorin, organofosfor, karbamat, dan pyrethoid. Bahan-bahan insektisida dapat diaplikasikan
dalam bentuk penyemprotan (spray) terhadap rumah-rumah penduduk. Insektisida yang dapat
digunakan terhadap larva Aedes aegypti yaitu dari golongan organofosfor (Temephos) dalam
bentuk sand granules yang larut dalam air di tempat perindukan nyamuk atau sering disebut dengan
abatisasi.
b. Pengendalian Hayati / Biologik Pengendalian hayati atau sering disebut dengan
pengendalian biologis dilakukan dengan menggunakan kelompok hidup, baik dari golongan
mikroorganisme hewan invertebrate atau vertebrata. Sebagai pengendalian hayati dapat berperan
sebagai patogen, parasit dan pemangsa. Beberapa jenis ikan kepala timah (Panchaxpanchax), ikan
gabus (Gambusia affinis) adalah pemangsa yang cocok untuk larva nyamuk. Beberapa jenis
golongan cacing nematoda seperti Romanomarmis iyengari dan Romanomarmis culiforax
merupakan parasit yang cocok untuk larva nyamuk.
c. Pengendalian Lingkungan Pengendalian lingkungan dapat digunakan beberapa cara
antara lain dengan mencegah nyamuk kontak dengan manusia yaitu memasang kawat kasa pada
pintu, lubang jendela, dan ventilasi di seluruh bagian rumah. Hindari menggantung pakaian di
kamar mandi, di kamar tidur, atau di tempat yang tidak terjangkau sinar matahari..
21
3.Surveilans Kasus
Surveilans kasus DBD dapat dilakukan dengan surveilans aktif maupun pasif. Di beberapa
negara pada umumnya dilakukan surveilans pasif. Meskipun sistem surveilans pasif tidak sensitif
dan memiliki spesifisitas yang rendah, namun sistem inin berguna untuk memantau kecenderungan
penyabaran dengue jangka panjang. Pada surveilans pasif setiap unit pelayanan kesehatan ( rumah
sakit, Puskesmas, poliklinik, balai pengobatan, dokter praktek swasta, dll) diwajibkan melaporkan
setiap penderita termasuk tersangka DBD ke dinas kesehatan selambat-lambatnya dalam waktu 24
jam. Surveilans aktif adalah yang bertujuan memantau penyebaran dengue di dalam masyarakat
sehingga mampu mengatakan kejadian, dimana berlangsung penyebaran kelompok serotipe virus
yang bersirkulasi, untuk mencapai tujuan tersebut sistem ini harus mendapat dukungan
laboratorium diagnostik yang baik. Surveilans seperti ini pasti dapat memberikan peringatan dini
atau memiliki kemampuan prediktif terhadap penyebaran epidemi penyakit DBD.
4. Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk
Gerakan PSN adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dan
pemerintah untuk mencegah penyakit DBD yang disertai pemantauan hasilhasilnya secara terus
menerus. Gerakan PSN DBD merupakan bagian terpenting dari keseluruhan upaya pemberantasan
penyakit DBD, dan merupakan bagian dari upaya mewujudkan kebersihan lingkungan serta
prilaku sehat dalam rangka mencapai masyarakat dan keluarga sejahtera. Dalam membasmi jentik
nyamuk penularan DBD dengan cara yang dikenal dengan istilah 3M, yaitu
1. Menguras bak mandi, bak penampungan air, tempat minum hewan peliharaan minimal
sekali dalam seminggu.
2. Menutup rapat tempat penampungan air sedemikian rupa sehingga tidak dapat diterobos
oleh nyamuk dewasa.
3. Mengubur barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai, yang semuanya dapat
menampung air hujan sebagai tempat berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti.
22
Penemuan, pertolongan, dan pelaporan penderita DBD dilaksanakan oleh petugas kesehatan dan
masyarakat dengan cara :
1. Bila dalam keluarga ada yang menunjukkan gejala penyakit DBD, berikan pertolongan
pertama dengan banyak minum, kompres dingin dan berikan obat penurun panas yang tidak
mengandung asam salisilat serta segera bawa ke dokter atau unit pelayanan kesehatan.
2. Dokter atau unit kesehatan setelah melakukan pemeriksaan/diagnosa dan pengobatan
segaera melaporkan penemuan penderita atau tersangka DBD tersebut kepada Puskesmas,
kemudian pihak Puskesmas yang menerima laporan segera melakukan penyelidikan epidemiologi
dan pengamatan penyakit dilokasi penderita dan rumah disekitarnya untuk mencegah
kemungkinan adanya penularan lebih lanjut. Universitas Sumatera Utara
3. Kepala Puskesmas melaporkan hasil penyelidikan epidemiologi dan kejadian luar biasa
(KLB) kepada Camat, dan Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten, disertai dengan cara
penanggulangan seperlunya.
2.9 Penatalaksaan
Penanganan penderita DBD pada dasarnya bersifat simptomatik dan suportif yaitu
pemberian cairan oral untuk mencegah dehidrasi.
1. Penatalaksanaan DBD tanpa komplikasi :
a. Istirahat total di tempat tidur.
b. Diberi minum 1,5-2 liter dalam 24 jam (susu, air dengan gula atau air ditambah
garam/oralit). Bila cairan oral tidak dapat diberikan oleh karena tidak mau minum, muntah atau
nyeri perut berlebihan, maka cairan inravena harus diberikan.
c. Berikan makanan lunak
asetosal karena dapat menyebabkan perdarahan.
23
2. Penatalaksanaan pada pasien syok :
a. Pemasangan infus yang diberikan dengan diguyur, seperti NaCl, ringer laktat dan
dipertahankan selama 12-48 jam setelah syok diatasi.
b. Observasi keadaan umum, nadi, tekanan darah, suhu, dan pernapasan tiap jam, serta
Hemoglobin (Hb) dan Hematokrit (Ht) tiap 4-6 jam pada hari pertama selanjutnya tiap 24 jam.
Nilai normal Hemoglobin : Anak-anak : 11,5 – 12,5 gr/100 ml darah Laki-laki dewasa : 13 – 16
gr/100 ml darah Wanita dewasa : 12 – 14 gr/100 ml darah Nilai normal Hematokrit : Anak-anak :
33 – 38 vol % Laki-laki dewasa : 40 – 48 vol % Wanita dewasa : 37 – 43 vol % c. Bila pada
pemeriksaan darah didapatkan penurunan kadar Hb dan Ht maka diberi transfusi darah.
c.Terapi oksigen harus selalu diberikan pada semua pasien syok.Dianjurkan pemberian
oksigen dengan menggunakan masker.
syok,terutama pada syok yang berkepanjangan (prolonged shock).Tranfusi darah diberikan pada
keadaan manifestasi pendarahan ynag nyata.Penurunan hematocrit tanpa perbaikan klinis
walaupun telah diberikan darah segar adalah untuk meningkatkan konsentrasi sel darah
merah.Palsma segar adalah untuk meningkat konsentrasi sel darah merah.Plasma segar atau
suspense thrombosit berguna untuk pasien dengan DIC yang menimbulkan pendarahan
massif.Pemeriksaan hematologi seperti PT,PTT, dan FDP berguna untuk menentukan berat
ringannya DIC.
e.Pemantauan tanda vital dan kadar hematocrit harus dimonitor dan dievaluasi secra teratur
untuk menilai hasil pengobatan.Hal-hal yang harus diperhatikan pada pemantaun adalah:
i.Nadi,tekanan darah,respirasi dan temperature harus dicatat setiap 15-30 menit atau lebih
sering sampai syok teratasi.
ii.Kadar hematocrit harus diperiksa tiap 4-6 jam sampai klinis pasien stabil.
24
tetesan,untuk menentukan apakah cairan sudah mencukupi.
iv. Jumlah dan frekuensi diuresis (normal diuresis 2-3 ml/kg/BB/jam).
2.10 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi berupa syok berulang, kegagalan pernafasan akibat edema
paru atau kolaps paru, efusi pleura, acssites, ensefalopati dengue, kegagalan jantung dan sepsis.
2.11 Prognosis
beberapa faktor seperti lama dan beratnya renjatan, waktu, metode, adekuat tidaknya penanganan,
ada tidaknya syok yang terjadi terutama dalam 6 jam pertama pemberian infus dimulai, panas
selama renjatan dan tanda-tanda serebral.
25
Jenis Kelamin : Perempuan
3.2 Heteroanamnesis
Keluhan Utama:
Riwayat penyakit sekarang:
Pasien dibawa ke Instalasi Rawat Darurat Anak dengan keluhan tangan dan kaki terasa
dingin.Sebelumnya pasien dikatakan,demam syok,sore sekitar jam 15:00 WITA dengan suhu 37ºC
dan pasien telah diberikan obat penurun panas.Pasien dikatakan berasa lemas dan sejak 2 hari
lalu.Keluhan gusi berdarah mulai muncul sejak 2 hari yang lalu.Pasien dikatakan kurang
mengkonsumsi air sejak sakit.
Riwayat Pengobatan :
Sebelum dibawa ke RSUP Sanglah, pasien sempat masuk rumah sakit di RS Kasih Ibu Tabanan
sejak tanggal 23 Augustus 2016 pagi dengan demam dan diberikan obat penurun panas. Pada
tanggal 23 Agustus 2016 sore, jam 15:00 WITA pasien dibawa ke RS Bhakti Rahayu dikatakan
tangan dan kakinya dingin dan lemas dan diberikan cairan RL 150 cc.
26
keluhan yang sama sebelumnya.
mellitus disangkal.
Pasien merupakan anak pertama dari 2 bersaudara. Adik pasien dikatakan sehat.Tetangga pasien
dikatakan ada yang terkena demam berdarah dan dirawat di ruangan intensif.
Riwayat Persalinan:
Pasien lahir dengan normal dibantu oleh bidan dengan berat badan lahir 3300 gram dan panjanng
badan lahir dikatakan lupa. Lingkar kepala dikatakan lupa. Pada saat lahir pasien tidak segera
menangis.
Riwayat Perkembangan:
Membalik badan : sejak 5 bulan
Duduk : 24 bulan
Merangkak : 12 bulan
BCG : 1 kali
Polio : 4 kali
Kesadaran : menurun E4V4M3
Laju napas : normal
Wajah : wajah dismorfik (-)
Mata : pucat -/-, ikterus -/- ,
Tenggorok : faring (sulit dievalusasi), T1/ T1 hiperemis (-),
Bibir : sianosis (+)
Thoraks : simetris (+), retraksi (-)
Paru-paru
Palpasi : nyeri tekan (+)
Hepar : teraba 3cm di bawah arc costa dextra dan 3cm dibawah proscecus
xyphoideus, tepi rata, tajam, kenyal
Lien : tidak teraba pembesaran
2.Pemeriksaan Kimia Klinik (24 Agustus 2016)
Pemeriksaan Hasil Satuan Normal Remarks
pH 07.50
pO2 145.60 mmHg 80.00 - 100.00 Tinggu
Beecf 1.4 mmol/L -2 – 2
HCO3- 18.3 mmol/L 22.00 – 26.00
SO2c 99.1 % 95% - 100%
Pemeriksaan Hasil Satuan Normal Remarks
#BASO 0.28 103µL 0,00-0,10 Tinggi
RBC 5.39 106µL 4,10 – 5,30 Tinggi
Hemoglobin 14.77 g/dL 12,00-16,00
MCV 77.2 fL 78,00-102,00
MCH 25.05 Pg 25,00-35,00
MCHC 32.07 g/dL 31,00-36,00
RDW 22.05 % 11,60-18,70 Tinggi
Pemeriksaan Hasil Satuan Normal Remarks
Natrium 07.50 mEq/L 135-145 Rendah
Kalium
Calcium
Chlorida
24.00
6,51
100,1
mEq/L
mg/dl
mEq/L
3,6-5,8
9-11.5
98-110
Tinggi
3.6 Diagnosis Gizi
1 Dengue Syok Sindrom
kurang dari 4
- Ventilator tekanan positif
- Kebutuhan cairan 1150 milimeter per hari
- Infus HES 10ml/kgBB/jam
- Paracetamol 10ml/kg/BB/jam
3.9 KIE
- Menjelaskan kepada ibu saat ini kondisi anak demam dengan suhu yang tinggi dan tidak
stabil sewaktu-waktu dapat terjadi perburukan bahkan menyebabkan kematian
- Akan dilakukan pemasangan infus yang membantu mengembalikan cairan yang hilang
- Direncanakan pemeriksaan darah dan pemeriksaan lainnya.
- Rencana anak akan dirawat diruang intensif untuk perawatan dan pengawasan ketat
32
merupakan pasien rujukan dari luar Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah.
Berdasarkan hasil anamnesis didapatkan pasien dengan keluhan demam sejak 5 hari yang
lalu dengan suhu tinggi 36-38.5 Cº dengan badannya terasa lemas bersamaan keluhan tangan dan
kakinya terasa dingin sejak. Konsumsi air pasien menurun sejak mengalami sakit tersebut.
Sebelum masuk RSUP Sanglah, pasien sempat MRS di RS kasih ibu Tabanan sejak 22 Agustus
2016 dan RS Bhakti Rahayu pada 23 Agustus 2016 dan telah diberikan obat penurun panas dan
diberikan cairan RL 150 cc.. Menurut teori, pasien dengan demam berdarah dengue tidak akan
akan menunjukkan gejala, atau hanya menunjukkan gejala ringan (seperti demam biasa), dan
setelah beberapa hari akan menimbulkan gejala seperti sakit kepala (biasanya di belakang mata);
ruam; nyeri otot dan nyeri sendi, perdarahan ringan membran mukus mulut dan
hidung.[5][7] Demam itu sendiri cenderung akan berhenti (pulih) kemudian terjadi lagi selama satu
atau dua hari yang ditemukan dalam pasien ini. Pasien di kategorikan dalam dengue syok sindrom
karena sesuai dengan kriteria WHO, dimana yang ditemukan pada anamnesis pasien yang sesuai
dengan kriteria dengue syok syndrome atau diklasifikasikan sebagai demam dengue berdarah
derajat IV apabila mengalami renjatan yang sangat parah sehingga tekanan darah dan detak
jantungnya tidak dapat dirasakan.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan, didapatkan keadaan umum tampak sakit berat dengan
kesadaran menurun, , suhu pasien 37oC dan saturasi oksigen 93%. Dari pemeriksaan status general
didapatkan napas normal, auskultasi paru ditemukan suata bronkovesikular, rhonki ada dan
wheezing tidak ada,ditemukan gusi berdarah, ditemukan distensi abdomen, nyeri
tekan,hepatomegali dan ascites. Adapun hasil pemeriksaan fisik yang telah dilakukan dan sesuai
dengan teori yang telah dibahas dalam tinjauan pustaka dalam mendukung diagnosis demam
dengue berdarah adalah ditemukannya demam dengan suhu tinggi yang hilang timbul, sakit kepala
(biasanya di belakang mata); ruam; nyeri otot dan sendi, perdarahan ringan membran mukus mulut
dan hidung. Sedangkan hasil pemeriksaan fisik yang mendukung dalam penegakkan diagnosis
33
demam dengue berdarah derajat IV menurut WHO adalah adanya demam tinggi, hasil tourniquet
positif serta mual muntah dan dari hasil pemeriksaan palpasi,percusi,auskultasi didapatkan nyeri
tekan pada abdomen dan hepatomegali.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan berupa pemeriksaan laboratorium dan
pemeriksaan tourniquet. Hasil pemeriksaan laboratorium yang diperoleh adalah leukopenia (WBC
< 5000 cells/mm3) dengan lymphocytosis, sel darah merah yang sedikit meningkat disertai dengan
sedikit peningkatan hematokrit, dan paltelet berkurang. Berdasarkan teori, adapun hasil
pemeriksaan penunjang pada pasien yang diperoleh sesuai dengan pada umumnya adalah
ditemukannya leukopenia (WBC < 5000 cells/mm3) dengan lymphocytosis, dengan peningkatan
hemotocrit (> 20%). Sehingga dari hasil pemeriksaan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang yang telah dilakukan sangat mendukung diagnosis demam dengue syok
syndrome sesuai dengan kriteria WHO.
Pada pasien ini, terjadi tangan dan kaki terasa dingin yang ditandai dengan demam selam
5 hari dan nyeri badan pada pasien. Hal ini sangat mungkin terjadi pada pasien dengan dengue syo
syndrome, terutama dengan karakteristik dengue syok syndrome. Keadaan ini telah dijelaskan
dalam tinjauan pustaka bagian komplikasi dari dengue syok syndrome. Permeabilitas pembuluh
darah yang menurun dan hipovolumia memburuk akan mengakibatkan syok.Ini biasanya menjasi
pada hari ke 4 dan hari ke 5 penyakit,didahului dengan tanda-tanda peringatan.Selama syok tahap
awal,mekanisme kompensasi yang mempertahankan tekanan darah sistolik dan mengakibatkan
tarkikardia dan vasokonstriksi perifer pengurangan perfusi kulit seperti ektremitas yang dingin dan
dan waktu pengisisan kapiler yang lambat.Tekanan diastolik biasanya akan naik mendekati
tekanan sistolik dan tekanan nadi menyempit sebagai akibat peningkatan resistensi vaskular
perifer.Pasien dengan syok dengue umumnya tetap sadar.syok hipotensi berkepanjangan dan
hipoksia dapat menyebabkan kegagalan multi organ pada akhirnya dapat menyebabkan kematian
pasien.
Pasien dengue syok syndrome membutuhkan penanganan darurat dan akses ke perawatan
intensif.Sesuai dengan ini,pasien ini telah dirawat di instalasi rawat darurat anak.Menurut
teori,penanganan pasien dengan syok dimulai dengan cairan intravena dengan larutan kristaloid
isotonik 5-10mg/kg/jam selama satu jam dan pasien ini telah diberikan koloid HES 10ml/kg/jam
setara 130 ml/jam supaya syok dapt diatasi dengan secepat mungkin.Selain itu,pemberian
34
antipiretik 10mg/kg/jam juga disarankan untuk mengatasi gejala demam dan sesuai dengan
ini,pasien telah diberikan 130 mg supaya demam dapat teratasi kurang dari 4 jam.
35
BAGIAN/SMF ILMU ANESTESI DAN REANIMASI
FK UNUD/RSUP SANGLAH
Pada pemeriksaan anamnesis akan nampak gejala demam,lemas,gusi berdarah.Pemeriksaan fisik
yang ditemukan keadaan umum tampak sakit berat dengan kesadaran menurun, suhu pasien 37oC
dan saturasi oksigen 93%. Dari pemeriksaan status general didapatkan napas normal, auskultasi
paru ditemukan suata bronkovesikular, rhonki ascites,demam tinggi, hepatomegali, acsites, , suara
bronkovesikular, rhonki dan. Untuk pemeriksaan penunjang yang kerap dilakukan berupa
pemeriksaan laboratorium darah lengkap, pemeriksaan kimia elektrolit dan albumin. Pada
umumnya pada pemeriksaan laboratorium diperoleh adalah leukopenia (WBC < 5000 cells/mm3)
dengan lymphocytosis, sel darah merah yang sedikit meningkat disertai dengan peningkatan
hematokrit, dan paltelet berkurang. WHO menggunakan kriteria gejala klinis berupa demam
dengue diikuti lebih dari 2 gejala iaitu nyeri kepala,muntah,nyeri perut,nyeri otot,rash mungkin
disertai dengan menisfestasi pendarah berupa ujian torniquet positif atau pendarahan spontan,
sedangkan demam berdarah dengue gejala klinis harus disertai dengan manifestasi pendarahan
baik dengan uji tourniquet positif dan atau pendarahn spontan,terbukti terjadinya peningkatan
permeabilitas kapiler dengan nilai hematokrit maksimal> 44% hiyung trombosit minimal
≤100,000mm³.Dengue syok sndrome pula demam harus berlangsung selama beberapa hari
keadaan umum tiba-tiba memburuk,hal ini biasanya terjadi pada saat atau setelah demam
menurun,yaitu pada hari sakit ke 3-7.Biasanya ditemukan kegagalan perederan darah,kullit terasa
dingintampak lesu,gelisah,sianosis sekitar mulutnadi menjadi cepat.Pasien juga akan mengeluh
nyeri di perut sesaat sebelum syok seringkli karena pendarahan gastrointestinal.Disamping
kegagalan sirkulasi syok ditandai oleh nadi lembut,cepat,kecil sampai tidak dapt diraba.Tekanan
nadi menurun sampai 20mmHg atau kurang dan tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau
lebih rendah.Secara umumnya, dengue syok sindrom ini dapat membahayakan keadaan pasien
sehingga membutuhkan perotolongan emergensi. Oleh karena itu, penyakit dengue syok sindrom
dipandang remeh dan tidak bisa besikap lalai dalam memgambil langkah-langkah pencegahan.
38
1. Ahmadi,U.F., 2001. Perubahan Ekologi dan Aspek Perilaku Vektor, Direktorat Jenderal
Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan RI.
Anies. 2006.
2. http://www.litbang.depkes.go.id/maskes/052004/demamberdarah1.htm
Menular. Jakarta: Alex Media Komputindo. Ansyari. 2004. Faktor Resiko Kejadian
Filariasis di Desa Tanjung Bayur Pontianak. Asri Maharani, Bagus Febrianto, Sapto P,
Widiarti., 2006.
4. Prober.Charles G.Ilmu Kesehatan Anak NELLSON jilid 2,edisi bahasa Indonesia edisi
15,Jakarta 2000
5. Studi Faktor Resiko Filariasis Di Desa Sambirejo Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan
Jawa Tengah, Rinbinkes. BPVRP. Salatiga, Chahaya, I. 2003. Pemberantasan Vektor
Demam Berdarah di Indonesia, Digitized by USU Gigital Library. Medan Darmadi, I.
2007.
FKUI.Halamn 16-17
7. Strategi Penanggulangan Penyakit Malaria Dengan Pendekatan Faktor Resiko di Daerah
Endemis Kabupaten Aceh Utara. Tesis S2. Universitas Sumatera Utara. Medan Depkes
R.I., 2007. Ekologi dan Aspek Perilaku Vektor, DIT. JEN. PP & PL. Jakarta 2006.
8. Pedoman Promosi Kesehatan Dalam Eliminasi Filariasis, DitJen PP&PL. Jakarta 2005.
9. Pedoman Penentuan Dan Evaluasi Daerah Endemis Filariasis. DitJen PP&PL. Jakarta
2003.
10. Modul Pemberantasan Vektor, DitJen PPM&PL. Jakarta 2002. Penilaian Teknis Penilaian
Rumah Sehat. Jakarta. Pedoman Ekologi dan Aspek Perilaku Vektor.
11. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan .1999.
12. Profil Kesehatan Labuhan Batu Selatan. Sumatera Utara Dinkes SUMUT, 2011. Profil
Kesehatan Propinsi Sumatera Utara 2010. Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara
2010.