Daun Belimbing Asam Tugas Bu Ari

of 46/46
MALAKAH FARMAKOGNOSI DAUN BELIMBING ASAM (Averrhoa belimbi ) D I S U S U N OLEH: REGIA HUTAPEA AKADEMIK FARMASI MAHADHIKA
  • date post

    30-Oct-2014
  • Category

    Documents

  • view

    99
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of Daun Belimbing Asam Tugas Bu Ari

MALAKAH FARMAKOGNOSIDAUN BELIMBING ASAM(Averrhoa belimbi )

D I S U S U N

OLEH: REGIA HUTAPEA

AKADEMIK FARMASI MAHADHIKAJL. RAYA INPRES No.47 Kp TENGAH KRAMAT JATI JATIM 13750 TELP .8400742 Website : www.mahadhika.or.id Email : [email protected]

PENDAHULUAN Hipertensi merupakan penyakit yang sering dijumpai di masyarakat maju, baik pria ataupun wanita, tua ataupun muda bisa terserang penyakit ini, dan gejalanya tidak terasa. Penyakit ini disebut sebagai silent diseases dan merupakan faktor risiko utama dari perkembangan/ penyebab penyakit jantung dan stroke; bila tidak terkontrol akan menyebabkan kerusakan pada organ tubuh lainnya, seperti otak, ginjal, mata dan kelumpuhan organ-organ gerak (Purwati et al., 2005). Menurut definisi, hipertensi adalah bila tekanan darah sistolik melebihi 140 mmHg dan tekanan darah diastolik 90 mmHg (Anonymous, 2009). Bila tekanan darah antara 120-139 mmHg pada sistolik dan 80- 89 mmHg pada diastolik dapat dikatakan sudah mengalami prehipertensi. Pemilihan obatobatan antihipertensi saat ini telah banyak mengalami perubahan, karena perlu mempertimbangkan efikasi, efek samping yang ditimbulkan, pemakaian jangka panjang dan nilai ekonomisnya. Penggunaan herbal dan bahan alami untuk mengobati dan mengontrol penyakit sudah banyak dilakukan oleh masyarakat dunia (Rapavi et al., 2000; Aceves-Avila et al., 2001). Bahkan akhir-akhir ini terjadi peningkatan penelitian terhadap herbal dan bahan alami untuk mengobati berbagai penyakit (Navarro et al., 1996; Okeke et al., 2001). ndustri farmasi juga berusaha mencari peluang pemanfaatan bahan alam dan turunannya sebagai bahan untuk obat (Van Elswijk dan Irth, 2002). Selain itu, potensi pasar juga perlu dipertimbangkan dalam upaya menemukan obat baru yang dapat menurunkan tekanan darah secara signifikan (Xavier et al., 2001). Pengaruh pemberian ekstrak belimbing wuluh terhadap tekanan darah hewan uji 55

DAUN BELIMBING ASAM (Averrhoa bilimbi L.)

Daun belimbing asam adalah anak daun Averrhoa billimbi L.suku oxalidaceae. Pemerian Bau aromatic rasa agak pahit . Makroskopik permukaan atas anak daun berwarna hijau muda.hijau sampai hijau kecoklatan,permukaan bawah berwarna lebih muda.bentuk bundar panjang sampai jorong ,panjang 2 cm samapi 10 cm ,lebar 0,7 cm samapi 3 cm . ujung daun runcing .pangkal daun membundar ,pinggir daun merata.Tanggkai daun 1 mm sampai 2 mm ,tulang daun ,terutama tulang daun utama menonjol pada permukaan

bawah ,pemukaan bawah berambut lebih banyak dari pada permukaan atas,jika di raba terasa halus . Mikroskopik pada penampang melintang melalui tulang daun tampak epidermis atas terdiri dari 1 lapis sel besar berbentuk segi empat sampai segi empat memanjang ,kutikula tipis ,rambut penutup terdiri dari 1 sel berbentuk kerucut panjang lurus atau bengkok ,ujung runcing ,dinding tebal tidak berlignin epidermis bawah terdiri dari 1 lapisan sel yang lebih kecil dari pada epidermis atas,bentuk membulat. I. Sifat Organoleptik Sifat mutu organoleptik adalah sifat mutu produk yang hanya dapat diukur atau dinilai dengan uji atau penilaian organoleptik.

Sifat organoleptik merupakan hasil reaksi fisiopsikologis berupa tanggapan atau kesan pribadi seorang atau penguji mutu (Soekarto, 1985). Tujuan dari pengenalan sifat organoleptik pangan ini adalah mengenal sifat-sifat organoleptik beberapa produk yang berperan dalam analisis bahan dan melatih pancaindra untuk mengenali jenis-jenis rangsangan (Rahayu, 1997). Buah belimbing wuluh mempunyai potensi yang baik untuk dijadikan produk makanan olahan, salah satunya adalah manisan kering. Keuntungan manisan kering diantaranya awet, volume dan bobotnya menjadi lebih kecil sehingga mempermudah dan menghemat ruang pengepakan. Manisan buah belimbing wuluh kering yang baik adalah yang memiliki rasa manis, teksturnya kering ,

warna menarik dan masih ada aroma dari buah Belimbing Wuluh karena itu merupakan ciri khas dari manisan buah belimbing wuluh (Satuhu, 1994). Uji organoleptik adalah pengujian sel subyektif yaitu penerimaan selera makanan yang didasarkan atas uji kegemaran dan analisa perbedaan.

Penerimaan atas pengujian secara organoleptik diperlukan beberapa syarat antara lain :suasana tenang, :bersih, :peralatan yang digunakan bebas bau, bahan contoh yang tepat standart dan panelis agak terlatih dengan demikian dapat diketahui produksi yang diuji (Soewarno, 1985).

II .Botani Belimbing Wuluh Tanaman belimbing wuluh mempunyai sosok tanaman yang memanjang keatas bisa mencapai 12 meter tingginya, miskin akan cabang sehinggatanamannya agak langsing. Daun belimbing wuluh berbentuk lonjong bulat telur yang letaknya di ujung cabang atau ranting. Buah belimbing wuluh berbentuk lonjong berwarna hijau pekat semasa muda dan berubah kekuningan setelah masak, besarnya seukuran telur puyuh yang muncul bergelantungan pada dahannya (Satuhu, 1994).

Dari batang dan cabang tanaman belimbing wuluh keluar bunga yang berwarna merah muda atau ungu yang berbentuk bintang. Belimbing wuluh.tumbuh baik pada dataran rendah juga dapat tumbuh di daerah pegunungan

sampai ketinggian 750 meter di atas permukaan laut. Tanaman belimbing wuluh umumnya tumbuh subur pada daerah yang beriklim kering dan cukup mendapat sinar matahari (Pinus Lingga, 1985).Warna daging buah buahan yang dikupas pada umumnya cepat menjadi coklat. Hal ini disebabkan terjadinya reaksi browning, baik yang enzimatis maupun yang non enzimatis. Warna-warna buah yang menjadi coklat ini tidak disukai.

Dengan adanya air garam disekeliling buah, maka reaksi browning dapat dicegah.Agar belimbing wuluh yang dibuat manisan bermutu bagus maka sebelumnya perlu diberikan perlakuan pendahuluan dengan cara

direndam,perebusan, dan pengeringan.Hal ini dimaksudkan agar manisan buah yang dihasilkan mempunyai rasa, warna dan tekstur yang bagus dan tidak banyak vitamin C yang hilang.Pada proses pembuatan manisan belimbing wuluh ada fase dimana bahan dasar harus dikeringkan yang fungsinya untuk mengurangi kasar air agar daya simpan produk lebih lama. Proses pengeringan tersebut juga sangat bervariasi, dapat secara langsung, dijemur dibawah matahari atau dengan bantuan alat (lemari pengering).Karena sifat vitamin C yang tidak tahan terhadap panas, maka kemungkinan kadar vitamin C pada manisan belimbing wuluh pada proses pengeringan yang berbeda dapat berbeda, serta hasil akhir.

produkpun dapat berbeda pula seperti kenampakannya, tekstur, rasa dan lainlain. Oleh karena itu, peneliti ingin meneliti apakah lama pengeringan berpengaruh pada kadar vitamin C, pH dan sifat organoleptik pada pembuatan manisan belimbing wuluh (Satuhu, 1994).

TABEL I KANDUNGAN ZAT GIZI BELIMBING WULUH TIAP 100 GRAM

Komponen J u m l a h Energi Karbohidrat Protein0. Vitamin C Calsiumb Phospor Zat Besi 4 (gr) 52 (mg) 10 (mg) 10 (mg) 1,0 (mg) 32 (cal) 7 (gr)

Sumber : Pinus Lingga, 1985 Belimbing wuluh memang bukan buah yang bisa disantap sebagai buah.segar apalagi sampai dipajang di meja makan.

Namun demikian, manfaatnya juga banyak. mulai dari bumbu sayur,penghapus noda pakaian, obat-obatan tradisional sampai pada manisan.

A. Manisan

1. Manisan buah Manisan adalah sejenis makanan ringan yang terbuat dari buah yang diawetkan terutama dengan menggunakan gula. Dipasaran ada empat jenis

manisan yang dijual, yaitu : Manisan basah dengan larutan gula encer. Biasanya buah : mangga, salak, jambu biji, kedondong, pepaya Manisan basah dengan larutan gula kental, misal: buah pala,ceremai, belimbing. Manisan kering bertabur gula kasar, misal: buah asam, pala, kedondong. Manisan kering asin, rasa asam, asin manis dan relatif digemari (Apriantono, 1984). Buah Belimbing wuluh potensi yang baik untuk diolah dan dalam bentuk manisan kering

Produk ini mempunyai beberapa Keuntungan: lebih awet, volume serta bobotnya menjadi lebih kecil sehingga mempermudah dan menghemat ruang pengepakan dan pengangkutan. Proses pengolahan, pertama Belimbing wuluh disortasi dulu sampai bersih, selanjutnya buah yang telah dicuci dengan air mengalir digilas dengan parut untuk mengurangi kadar airnya. Lalu direndam dalam larutan kapur 10 % selama 2 hari. Setelah direndam dalam larutan kapur dengan konsentrasi 10 % kemudian diangkat dan dilanjutkan dengan perendaman dalam larutan garam dengan konsentrasi 10 %. Kemudian dilakukan pencucian dengan air kemudian ditiriskan. Setelah ditiriskan kemudian direbus dalam larutan gula dengan kadar 65 % selama 15 menit. Kemudian dilanjutkan dengan perendaman dalam larutan gula sisa perebusan selama 24 jam. Tahap akhir, diangkat, kemudian ditiriskan dan dikeringkan (Pinus Lingga, 1985). Manisan buah kering produk olahan buah segar yang menggunakan pemanis gula sebagai pengawet utama dan pemberi rasa (Apriantono, 1989). Jika

konsistensi gula dalam bahan cukup tinggi maka gula berperan sebagai pengawet, karena dapat menurunkan Aw (Water activiti) dari bahan makanan sampai suatu keadaan dimana pertumbuhan mikroorganisme tidak memungkinkan lagi, prinsip bekerjanya gula sebagai pengawet ialah gula dengan konsentrasi 65% bersifat menghambat pertumbuhan bakteri, khamir dan kapang.

Belimbing wuluh mempunyai rasa masam sehingga untuk menghilangkan perlu direndam dalam larutan kapur. Fungsi dari larutan kapur Ca(OH)2 untuk mengurangi dan menghilangkan rasa masam dan lender yang terdapat dalam buah belimbing wuluh, selain itu juga untuk memperbaiki tekstur dari buah supaya menjadi renyah. Kerenyahan terjadi karena kalsium dari larutan kapur yang berpenetrasi ke dalam jaringan buah menjadi lebih kompak dengan terbentuknya ikatan baru antara kalsium dengan senyawa yang terdapat dalam jaringan buah. Yaitu antara air kapur yang bereaksi dengan pektik membentuk kalsium (Pinus Lingga, 1985) Garam merupakan racun dari jasad renik. Mikroba perusak yang terdapat pada buah menjadi mati bila ditambahkan garam. Jika dikombinasikan dengan asam daya bunuhnya terhadap jasat renik menjadi lebih kuat. Pemakaian garam dapat dengan cara perendaman dalam larutan garam, pemberian langsung lantas diaduk atau dengan pelumuran. Mekanisme pengawetan dengan pemberian garam dapatlah dijelaskan sebagai berikut, garam mempunyai tekanan osmotik yang tinggi sehingga dapat mengakibatkan terjadinya plasmolisa pada sel mikroorganisme, garam bersifat higroskopik sehingga dapat menyerap air dari bahan makanan, dengan

demikian Aw makanan menjadi rendah dan dapat meracuni mikroorganisme peka terhadap karbondioksida, garam merintangi aksi enzim peoteolik. Pada proses penggaraman ada cara diantaranya adalah: penggaraman kering (dry salting), perendaman dalam larutan garam (brine) kombinasi dari penggaraman kering dan perendaman larutan dalam garam, infeksi dengan larutan garam. Faktor-faktor dari dalam juga mempengaruhi penetrasi garam terhadap jaringan segar baik hewani maupun nabati yaitu : tipe atau jenis dari bahan segar tersebut 1, kandungan lemak, 2,ukuran dan potongan bahan yang diolah. Sedangkan faktor-faktor dari luar yang mempengaruhi penetrasi garam yaitu : suhu larutan garam, volume larutan garam, kemurnian daripada garam, aktifitas jasad renik (Derajat, 1981).

B. Vitamin C (C6H8O6) 1. Sumber Vitamin C

Buah-buahan merupakan sumber vitamin C yang utama, karena itu buahbuahan merupakan bahan pelengkap makanan yang penting dalam kehidupan sehari-hari di dalam rumah tangga. Sayur-sayuran juga merupakan sumber vitamin C, tetapi tidak sekaya buah-buahan. Distribusi vitamin C dalam berbagai tumbuhan sangat bervariasi. Beberapa buah ada yang sebagian besar sumber vitamin C nya terdapat pada bagian kulit dibandingkan dengan bagian daging dan paling sedikit bagian biji. Adapula jenis buah-buahan yang kandungan vitamin C nya paling banyak pada dagingnya. Biasanya rasa daging buah itu asam-asam

manis karena vitamin C atau asam askorbat adalah sejenis gula yang mudah teroksiodasi, tetapi kegiatan koenzimnya ini memegang peranan penting dalam system pengoksidasian atau penyusutan faali. Kadar vitamin C sangat dipengaruhi oleh varietas, lingkungan, tempat tumbuh, pemakaian berbagai jenis pupuk, tingkat kematangan buah dan sebagainya, kemungkinan adanya variasi yang besar dalam kadar vitamin C harus selalu dipertimbangkan (Winarno,1980 2.Kerusakan Vitamin C pada proses pengolahan

Vitamin C sangat mudah rusak pada saat pemasakan, penyimpanan dan berbagai proses pengolahan pangan sehingga dalam hidangan vitamin C yang tertinggal jauh lebih kecil dibandingkan dengan kadarnya dalam makanan segar sebelum mengalami pemasakan dan penanganan lainnya. Sifat umum dari vitamin C dalam bentuk murni merupakan kristal putih, tidak berwarna, tidak berbau dan mencair pada suhu 190 - 192 C. Senyawa ini bersifat reduktor kuat dan mempunyai rasa asam, mudah larut dalam air dan tidak larut dalam bensin, eter, kloroform dan minyak. Sangat sensitif terhadap faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan terhadap suhu, udara, konsentrasi gula garam, pH, oksigen, enzim katalisator logam, konsentrasi awal baik dalam larutan maupun sistem model dan rasio antara asam askorbat dan dehidro asam askorbat Oleh karena itu dalam proses pengolahan terutama menggunakan suhu tinggi vitamin C banyak yang hilang serta dihindari pengirisan dan penghancuran yang berlebihan (Winarno, 1980). Pemasakan buah makanan dalam rumah tangga terdiri atas berbagai tahap yaitu menyiangi, mengiris-iris atau memotong-motong, mencuci dan mengolahnya dengan menggunakan panas. Pada pembersihan atau penyiangan

bahan makanan mentah, bagian yang rusak atau tidak dimakan dibuang, misalnya kulit dan biji. Pada dasarnya tidak banyak vitamin yang dibuang dari bahan makanan mentah ini. Sebagian besar vitamin dalam bahan makanan yang dibeli, masih tersimpan utuh dalam bagian yang akan dimakan. Pada pemotongan dan pengirisan buah atau sayur-sayuran mentah, sebagian sel-selnya rusak terpotong, sehingga isinya termasuk vitamin C menjadi keluar. Keadaan ini menyebabkan terbuka pengaruh udara yang mengandung oksigen dan pengaruh sinar matahari yang mengandung sinar ultraviolet. Mengiris-iris buah atau sayur menjadi potongan yang semakin halus menyebabkan kerusakan semakin berat bila sesudah dipotong-potong masih dibiarkan saja beberapa lama sebelum dimasak. Pengirisan buah atau sayur mentah sebaiknya dilakukan segera sebelum dimasak lebih lanjut. Kerusakan atau kehilangan dapat dihindari dengan cara mendidihkan dulu air perebus baru buah atau sayur dimasukkan ditutup rapat dan direbus tidak terlalu lama. Keadaan ini akan menyebabkan uap air akan mendesak keluar udara yang mengandung oksigen, sehingga dapat dihindarkan kerusakan vitamin C oleh pengaruh udara dalam zat asam tersebut. Selain itu ion-ion logam yang terlepas dari alat pemasak yang dibuat dari bahan logam akan memudahkan terjadinya kerusakan oleh oksidasi vitamin C. kerusakan vitamin C dapat dihindari dengan menggunakan alat pemasak berlapis email atau terbuat dari bahan stainless steel. Teknik pemasakan yang baik dapat menekan kerusakan vitamin C sehingga kadar vitamin C dalam bahan pangan masih dapat dipertahankan sekitar 50 % dari kadar semula. Teknik pengeringan buah-buahan dan sayuran menurut teknologi pangan dapat mempertahankan kadar asal vitamin C dalam prosentase yang cukup dan hanya sedikit yang hilang setelah menjadi makanan jadi (Sediaoetama, 1987 )

D. pH pH merupakan ukuran kekuatan suatu asam, pH suatu larutan dapat ditera dengan beberapa cara antara lain dengan jalan menitrasi larutan dengan asam basa dengan kertas indikator atau lebih teliti lagi dengan mengunakan pH Meter. Suatu asam kuat dalam larutan mengion sempurna menjadi ion ionnya. Makin rendah keasaman suatu larutan maka pH akan semakin besar pH suatu bahan pangan sangat mempengaruhi daya simpannya, karena mikroba dapat tumbuh baik pada batas pH tertentu. Bakteri dan ragi umumnya akan tumbuh pada pH yang lebih tinggi dibandingkan dengan kapang. Olehkarena itu semakin rendah kadar air pada suatu bahan pangan maka akan semakin tinggi nilai pH nya dan semakin banyak bakteri yang dapat hidup pada bahan makanan tersebut sehingga menyebabkan semakin cepat pula bahan pangan tersebut mengalami kerusakan

E. Pengeringan 1. Pengeringan Pengeringan merupakan salah satu cara pengawetan pangan yang paling lama. Cara ini merupakan suatu proses yang ditiru dari alam. Pengeringan merupakan metodepengawetan pangan yang paling luas digunakan (Desrosier,1988). Pengertian dari pengeringan adalah suatu metode untuk menghilangkan sebagian air dari bahan pangan dengan menguapkan (Winarno, 1993) Proses pengeringan dapat dilakukan secar 1.alamiah dengan menggunakan sinar matahari (sun drying). 2 Atau penjemuran, sedangkan pengeringan non alamiah (artifical drying) atau buatan menggunakan suatu

alat pengeringan. a.Pengeringan alamiah (sun drying) Pengeringan alamiah merupakan pengeringan yang lazim digunakan karena dilakukan dengan bantuan sinar matahari. Keuntungan menggunakan pengering alami : 1. murah, 2. tidak memerlukan keahlian khusus, 3. mudah dalam prosesnya.

Kekurangan dari metode ini antara lain : 1. tergantung dari cuaca, 2. sukar menentukan lama penjemuran karena kenaikan suhu tidak teratur, 3. kebersihan kurang terkendali. b. Pengeringan Non alamiah (artifical drying) Pengeringan buatan merupakan cara pengeringan yang menggunakan alat pengering. Pada proses ini udara yang dipanaskan disirkulasikan dengan alat penghembus. Keuntungan dari metode ini : 1. suhu dan aliran udara dapat diatur, 2. proses dapat dikontrol, 3. kebersihan dapat terjamin, 4. tidak memerlukan tempat yang luas, 5. penyusutan bahan tidak sebesar pengeringan alamiah (Marliyati, Sulaiman dan Anwar, 1992).

Mutu yang akan diperoleh dari suatu produk kurang khususnya tepung seperti tekstur, warna bisa dicapai bila suhu, waktu, bahan yang dipilih dan proses pengeringan terkendali dengan efektif dan efisien. Hal tersebut dapat dilakukan menggunakan pengeringan buatan. Untuk pengeringan suatu bahan pangan terdapat berbagai tipe pengering yang digunakan. Pemilihan tipe pengering tergantung pada bahan yang akan dikeringkan dan tujuan pengeringan. Dari berbagai tipe pengering yang sering digunakan untuk penelitian dehidrasi buah-buahan dan sayuran di laboratorium dalam sekala kecil adalah pengering kabinet. Hal yang menyebabkan penggunaan pengeringan ini adalah murah pembuatannya dan mudah dalam penggunaannya. Pengering ini terdiri dari suatu ruangan dimana rigen-rigen yang akan dikeringkan terdapat didalamnya. Udara dihembuskan dengan menggunakan kipas angin melalui suatu pemanas dan kemudian menembus rigen-rigen pengering berisi bahan yang akan dikeringkan (Desrosier, 1988). Untuk berhasilnya suatu usaha pengeringan ada beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu : 1. luas permukaan, 2. suhu pemanasan, 3. kecepatan aliran udara, 4. Tekanan udara. Pengeringan dapat berlangsung baik jika tidak terjadi case hardening.

Case hardening yaitu suatu keadaan dimana luas

permukaan bahan sudah kering tapi bagian dalam masih basah. Penyebab case hardening adalah suhu pemanasan yang terlalu tinggi. Suhu pengeringan untuk buah berkisar 55 -70 C. Pada umumnya pengeringan bahan pangan khususnya buah dapat mengubah warna menjadi coklat. Perubahan warna tersebut disebabkan reaksi enzimatis ataupun non enzimatis. Untuk mencegah reaksi browning bisa ditambahkan SO2, vitamin C atau dengan penambahan Bisulfit (Marliyati, Sulaiman dan Anwar, 1992) Pengaruh pengeringan terhadap kadar vitamin C Selama pengeringan, bahan pangan kehilangan kadar air yang menyebabkan naiknya kadar gizi di dalam massa yang tertinggal. Sebagian besar bahan pangan kering bila direkonstuksi atau rehidrasi tetap berbeda dengan bahan pangan yang segar. Bagaimanapun juga melalui cara pengawetan, kualitas bahan pangan yang diawetkan tidak pernah lebih tinggi dari bahan aslinya (Desrosier,1988) Dengan berkurangnya air dalam bahan pangan, kandungan senyawasenyawa seperti protein, karbohidrat, lemak dan mineral konsentrasinya akan meningkat tetapi vitamin dan zat warna pada umumnya rusak atau berkurang (Marliyati, Sulaiman dan Anwar, 1992).

IDENTIFIKASI 1. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes asam sulfat p,terjadi warna hitam. 2. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes asam klorida p,terjadi warna hijau muda.

3. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tees natrium hidroksida p 5 %b/v terjadi warna kuning kehijauan . 4. Timbang 500mg serbuk daun ,cmpur dengan 5 ml methanol p dan panaaskan diatas tangas air selama 2 menit dinginkan ,saring cuci endapan dengan methanol p,secukupnya hingga diperoleh 5 ml filtrate.Pada titik pertama lempeng KLTtutulkan 25 mikroliter filtrate pada titik kedua tutulkan 10 microliter zat warna II LP .eluasi dengan campuran etllasetat P metal keton P asam format P air (50 +30 +10 +10) dengan jarak rambat 15 cm . amati dengan sinar biasa dan dengan sinar ultraviuolet 366 nm .Semprot lempeng dengan aluminium klorida LP .Panaskan pada suhu 110 c selama 10 menit ,amat dengan sinar biasa dan dengan sinar ultraviolet 366 nm .Pada kromatogram tampak bercak dengan warna dan hR sebagai berikut NO hR x Dengan sinar biasa Dengan sinar UV 366 nm

1 2 3 4 5

22-32 61-74 109-120 121-142 158-170

-

-

Coklat Coklat -

Biru hijau Hijau kekuningan Hijau muda Hijau muda Biru hijau

Catatan :harga Rx dihitung terhadap bercak warna biru dengan kromatogram zat warna II LP hRf bercak warna biru = 35 .

BAHAN DAN METODE

A. Bahan dan Alat Bahan baku penelitian, yaitu daun belimbing wuluh yang berwarna hijau sampai hijau tua, diperoleh dari sekitar Bogor. Hewan uji kucing dengan berat sekitar 2 kg, pelarut alkohol, akuades, gliserin, heksan 80%. Alat yang digunakan antara lain, 1 set alat ekstraksi, evaporator, 1set alat bedah, alat suntik, dan kimografi.

b.Metode Penelitian

1. Pengeringan DaunDaun belimbing wuluh dikeringkan dengan oven pada suhu 40C. Daun yang telah kering digiling dengan ukuran partikel 40, 50 dan 60 mesh.

2. Analisis MutuAnalisis mutu daun belimbing wuluh meliputi penentuan kadar abu, kadar abu tidak larut asam, kadar sari larut air dan kadar sari larut alkohol sesuai persyaratan yang tertera dalam MMI/Materia Medika Indonesia (1989).

3. EkstraksiMetode ekstraksi yang digunakan adalah secara maserasi dengan perbandingan bahan dan pelarut (alkohol 70%) 5: 1. Setelah direndam selama semalam, dilakukan penyaringan, filtrat diuapkan dengan pengurangan tekanan sampai dihasilkan ekstrak kental dan disebut sebagai ekstrak kasar.

4. Pemurnian Ekstrak

Pemurnian ekstrak dilakukan dengan metode ekstraksi, menggunakan pelarut heksan konsentrasi 80 %.

5. Analisis GC MSAnalisis terhadap senyawa kimia yang terdapat dalam ekstrak daun belimbing wuluh dilakukan secara GC-MS dengan kondisi alat sebagai berikut : Tipe alat QP 2010 Shimadzu, jenis kolom DB-MSI, kapiler, panjang 60 m dan diameter 0,25 mm, suhu kolom terprogram, 50-230/ 5C/menit dan suhu injektor 225C. 6. Uji Anti Hipertensi Ada beberapa cara uji hipertensi yang dikenal salah satunya adalah metode berdarah pada hewan uji menurut Gilman et al., (1992), Djatmiko et al., (2001a) yang menggunakan kucing sebagai hewan uji. Hal ini dikarenakan tekanan darah kucing dapat dikatakan menyerupai tekanan darah pada manusia. Uji aktivitas antihipertensi menggunakan modifikasi metode Gilman et al., (1992) dan Djatmiko et al.,(2001a) dengan hewan uj i kucing dilakukan di Fakultas Kedokteran Hewan, IPB. Kucing yang digunakan berbobot Hernani, et al. 56 sekitar 2 kg, sebanyak enam ekor untuk dua perlakuan. Dosis yang digunakan adalah 4 taraf dosis, yaitu 8,3; 16,6; 25 dan 33 mg/kg bb dengan 3 ulangan. Persiapan larutan uji dengan membuat larutan sesuai pH darah kucing (5-7). Larutan dibuat isotonis dengan menambahkan gliserin sebagai emulsifier dengan konsentrasi larutan 40% (air sebagai pelarut). Campuran disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 121C selama 15 menit. Hewan uji (kucing) dianestesi menggunakan urethane 25 % dengan dosis 1,75g/kg bb, karena bobot kucing yang dipakai 2 kg, maka dipakai 14 cc. Setelah kucing pingsan lalu diletakkan di meja operasi. Pertama-tama bulu pada tempat yang akan digunakan untuk proses percobaan dibersihkan, kemudian vena femoralis pada paha untuk memasukkan kanula sebagai tempat memasukkan larutan uji. Arteri carotis pada leher dibuka, lalu dimasukkan trakhea tube yang disambungkan dengan larutan natrium sitrat dan manometer air raksa. Tekanan

darah kucing akan terbaca pada alat kimograf (Gambar 1). Kemudian disuntikkan heparin 0,1 % sebanyak 5 cc untuk mencegah pembekuan darah, penyuntikan larutan uji sesuai dosis dilakukan pada kanula . 6. Analisis GC MS Analisis terhadap senyawa kimia yang terdapat dalam ekstrak daun belimbing wuluh dilakukan secara GC-MS dengan kondisi alat sebagai berikut : Tipe alat QP 2010 Shimadzu, jenis kolom DB-MSI, kapiler, panjang 60 m dan diameter 0,25 mm, suhu kolom terprogram, 50-230/5C/ menit, suhu injektor 225C.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pembuatan Ekstrak Pada pembuatan ekstrak, ternyata ukuran partikel bahan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap rendemen ekstrak yang dihasilkan .Sesuai dengan penelitian Susanto et al., (1996) pada kunyit menunjukkan bahwa ukuran partikel 20 mesh akan menghasilkan rendemen yang lebih tinggi (23,47%) dibandingkan dengan ukuran partikel 40 dan 60 mesh (masing-masing 17,09 dan 21,43%), akan tetapi rendemen akan meningkat kembali pada ukuran partikel 80 mesh (24,18%). Proses ekstraksi bertujuan untuk menarik komponen kimia yang berada dalam bahan semaksimal mungkin (Farouq, 2003). Pada ukuran partikel yang lebih halus berarti luas permukaan semakin luas sehingga semakin besar terjadinya kontak antara bahan dan pelarut. Ukuran partikel juga mempengaruhi kandungan bahan aktif yang terekstrak. Pada ekstraksi daun Agrimonia eupatoria, ternyata daya antioksidan ekstrak meningkat dengan

meningkatnya waktu ekstraksi dan semakin kecilnya ukuran partikel. Hal ini karena lamanya waktu dan luas permukaan akan menyebabkan pemindahan molekul lebih Pengaruh pemberian ekstrak belimbing wuluh terhadap tekanan darah hewan uji 57 ektensif dari padatan ke larutan (Giao et al., 2009). Produk ekstrak mempunyai banyak keuntungan antara lain, semua kandungan bioaktif tanaman terdapat dalam bentuk konsentrat, dan masih dalam bentuk matrik alami. Semua individu senyawa tersebut ada dalam komposisi alami, sehingga risiko efek samping menjadi kecil, aksi total senyawa bioaktif tidak berubah, rekayasa konsentrasi relatif kandungan senyawa bioaktif dapat dikontrol lebih mudah dan standarisasi menjadi lebih mudah (Sinambela, 2003). Kualitas ekstrak yang dihasilkan mempunyai warna hijau, pH 5,90, berat jenis 1,175, total padatan terlarut 22% dan sisa pelarut 4%. Faktor yang berpengaruh dalam warna ekstrak yang dihasilkan adalah dari proses pengeringan, bila pemanasan terlalu tinggi maka ekstrak yang dihasilkan sedikit hitam (Harbourne et al., 2009). Daun willow yang dikeringkan pada suhu 60C dan 90C ternyata berubah warna menjadi kecoklatan karena adanya pembentukan kuinon dan dekomposisi dari fenolat (Julkunen-Tiitto dan Sarsa, 2001). B. Pemurnian Rendemen ekstrak yang dihasilkan dari proses pemurnian dengan pelarut heksan 80% adalah 70,50%, pH 4,08, berat jenis ekstrak 0,8999, total padatan terlarut 69,94%dan sisa pelarut 0,305. Pemurnian terhadap ekstrak dilakukan untuk menghilangkan senyawa-senyawa inert dengan cara penghilangan

lemak menggunakan pelarut heksan, karena heksan mempunyai toksisitas yang rendah, tidak reaktif dan inert (Anonymous, 2007). Pemurnian dilakukan setelah opembuatan ekstrak primer. Pemurnian terhadap ekstrak dapat

meningkatkan kandungan senyawa bioaktif menjadi lebih tinggi dibandingkan dalam bentuk ekstrak kasar (Gulfraz et al., 1999). Hal ini terlihat dalam penurunan tekanan darah pada kucing, dimana ekstrak murni menurunkan tekanan darah lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak kasar. Nilai pH yang dihasilkan dari ekstrak murni jauh lebih kecil dibandingkan dengan ekstrak kasar, yaitu 4,08. Nilai pH ekstrak sangat berpengaruh terhadap aktivitas ekstrak. Pada ekstrak daun belimbing wuluh, ternyata ada peningkatan senyawa phytol dari 12,64% menjadi 51,34% dan ini berpengaruh terhadap perubahan pHnya dari 5,08 menjadi 4,08. Perubahan pH akan menyebabkan perubahan stabilitas senyawa aktif, seperti kurkumin pada kunyit akan lebih stabil bila dalam larutan pH netral atau asam, dan kandungan asam malat dari daun anggrek akan berubah setelah terjadi perubahan pH . C. Senyawa Aktif Hasil identifikasi senyawa kimia secara GCMS menunjukkan bahwa ekstrak daun belimbing wuluh mengandung senyawa paling dominan adalah senyawa turunan asam dikarboksilat yaitu dietil phtalat (1). Asam karboksilat biasanya berasal dari lemak dan merupakan turunan dari asam-asam lemak. Senyawa lain yang teridentifikasi adalah senyawa phytol (2). Phytol merupakan senyawa alkohol diterpen asiklik, dan campuran dari bentuk cis dan trans dari 3, 7, 11, 15 tetrametil -2-heksadesen-1-ol (Anonymous. 2006). Senyawa ini bisa digunakan sebagai adjuvant yang cukup baik dan aman untuk memperbaharui komplemen antibody (Lim et al., 2006). Senyawa-senyawa lain yang teridentifikasi adalah asam ferulat (3), asam lemak seperti asam miristat (4), etil palmitat (5) dan 6, 10, 14 trimetil pentadekanon-2 (6) (Gambar 2). Menurut Pehowich et al., (2000), minyak kelapa yang mengandung asam lemak rantai

panjang dan digunakan secara moderate akan mengurangi risiko penyakit jantung salah satu efek dari hipertensi Dari ekstrak kasar, kandungan senyawa dietil phtalat dan phytol masing-masing 9,75 dan 12,64%, setelah pemurnian menjadi 4,80 dan 51,34%. Berarti dietil phatalat konsentrasinya turun, dan phytol meningkat. C. Uji Antihipertensi Daun Belimbing Wuluh Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua ekstrak memiliki efek hipotensif atau efek menurunkan tekanan darah pada kucing hipertensi (Tabel 3 dan Gambar 4). Perlakuan dosis ekstrak yang diuji ternyata secara statistic berbeda nyata. Adanya peningkatan dosis ekstrak yang disuntikkan ternyata akan terjadi juga peningkatan efek hipotensif. Hewan uji dibuat hipertensi dalam keadaan teranestesi, tujuannya untuk memberikan rangsangan pada system kardiovaskuler dengan pemberian suntikanepinephrine 0,2 ml (Djatmiko et al., 2001a). Akibat penyuntikan epinephrine maka tekanan darah hewan uji meningkat menjadi 177 mmHg (tekanan darah normal adalah 120 mmHg). Rangsangan pada system kardiovaskuler dengan epinephrine ini dilakukan sebelum penyuntikan larutan uji. Ekstrak kasar memiliki efek hipotensif yang signifikan lebih rendah dari pada ekstrak murni. Dosis dengan efek hipotensif tertinggi yaitu dosis 33 mg/kg bb. Pemberian ekstrak kasar belum mampu menurunkan tekanan darah hewan uji yang hipertensi ke tekanan darah normal, karena hanya mampu menurunkan tekanan darah 46,5 mmHg, sehingga tekanan darah hewan uji setelah diberikan ekstrak masih 130,5 mmHg. Pemberian ekstrak murni dengan dosis 33 mg/kg bb mampu menurunkan tekanan darah 54,5 mmHg. Hasil penelitian Bipat et al., (2008) pada babi yang telah disuntik dengan epinephrine menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun belimbing wuluh dengan konsentrasi 0,01 mg/ml dan 1 mg/ml menurunkan tekanan darah masing-masing menjadi 151 12 mmHg dan 127 23 mmHg dari tekanan semula 174 10 mmHg. Suatu produk biofarmaka yang mengandung campuran daun seledri dan tempuyung menunjukkan efek hipotensif dengan nilai D50 efek hipotensif kucing hipertensi adalah 16,37 1,08 mg/kg bb (Djatmiko et al., 2001a). Bila diekstrapolasi nilai dosis pada manusia dengan berat 50 kg adalah sekitar 249,05

mmHg. Penurunan tekanan darah terjadi karena efek diuretic dari produk tersebut (Djatmiko et al., 2001b) Ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi tekanan darah, antara lain kapasitas kerja jantung, elastisitas pembuluh darah dan faktor darah itu sendiri, misal viskositas dan volume darah (Djatmiko et al., 2001a). Setelah pemberian ekstrak ternyata telah terjadi penurunan tekanan darah, hal ini berarti bahwa ekstrak tersebut mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi. KESIMPULAN Ekstrak kasar dan ekstrak yang telah dimurnikan dari daunbelimbing wuluh mempunyai potensi untuk dikembangkanmenjadi obat anti hipertensi, karena memberikan efek penurunan tekanan darah secara signifikan terhadap hewan uji kucing. Dari pemberian ekstrak kasar dengan dosis 25 mg/kg bb bisa menurunkan tekanan darah sampai 41,25 mmHg, dan ekstrak yang telah dimurnikan mencapai 51,5 mmHg. Durasi penurunan tekanan darah untuk obat antihipertensi yang terbaik adalah yang tidak terlalu cepat dalam menurunkan tekanan darah setelah pemberiannya. Dari pemberian ekstrak kasar ternyata mempunyai durasi penurunan tekanan darah lebih cepat (0,99 menit)dibandingkan dengan ekstrak murni (1,43 menit

kegunaan lain belimbing wuluhMeramu belimbing wuluh Secara umum, belimbing wuluh dapat dimanfaatkan untuk berbagai ramuan pengobatan alami. Belimbing wuluh memang telanjur dikenal sebagai tanaman obat yang berguna untuk obat darah tinggi. Seseorang dikatakan menderita penyakit tekanan darah tinggi bila nilai tekanan darah sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastoliknya di atas 90 mmHG. Dalam kamus kedokteran, tekanan darah tinggi sering juga disebut hipertensi. Gejalan umum yang ditimbulkan akibat tekanan darah tinggi memang tidak sama pada setiap orang. Gejala yang sering dikeluhkan penderita tekanan darah tinggi antara lain sakit kepala berlebihan, rasa pegal dan tidak nyaman pada

tengku, pusing, berdebar atau detak jantung terasa cepat, serta telinga berdenging. Berikut adalah cara meramu belimbing wuluh seperti dijelaskan ahli tanaman obat, Dr Setiawan Dalimarta :

Obat Darah Tinggi Bahan yang dibutuhkan, 3 buah belimbing wuluh ukuran sedang. Cara meramu :

Buah belimbing wuluh dicuci dengan air bersih lalu dipotong-potong. Kemudian rebus dengan tiga gelas air sampai tersisa satu gelas. Setelah dingin, airnya disaring sebelum diminum setelah makan pagi. Siapkan tiga buah belimbing wuluh dan biji srigading 25 gr yang sudah dicuci bersih. Biji srigading ditumbuk halus. Masukkan ke dalam panci berisi empat gelas air dan rebuslah bersama belimbing wuluh. Dinginkan lalu saring sebelum diminum. Cukup diminum segelas sehari. Buah belimbing wuluh diparut, peras ambil airnya dan diminum sekali sehari.

Catatan: Penderita hipertensi yang air kencingnya mengandung kristal oksalat disarankan tidak menggunakan resep ini karena bahannya mengandung asam oksalat. Penderita hipertensi dengan gangguan lambung seperti maag juga tidak dianjurkan menggunakan resep ini karena rasanya yang asam. Anda dapat menganti belimbing wuluh dengan belimbing manis.

Blimbing Wuluh menyebuhkan Gusi berdarah

Mengkonsumsi buah belimbing wuluh baik segar maupun manisan secara rutin tiap hari Dua buah belimbing wuluh dimakan tiap hari

Blimbing Wuluh sebagai Obat Gondongan

1/2 genggam daun belimbing wuluh ditumbuk dgn 3 bawang putih. Kompreskan pada bagian yg gondongan. 10 ranting muda belimbing wuluh berikut daun dan 4 butir bawang merah setelah dicuci bersih lalu ditumbuk halus. Balurkan ketempat yg sakit.

Blimbing Wuluh sebagai Obat Rematik Segenggam daun belimbing wuluh dicuci tumbuk sampai halus tambahkan kapur sirih gosokkan ke bagian yg sakit.

100 gr daun muda belimbing wuluh 10 biji cengkeh dan 15 biji merica dicuci lalu digiling halus tambahkan cuka secukup sampai menjadi adonan seperti bubur. Oleskan adonan bubur tadi ketempat yg sakit. 5 buah belimbing wuluh 8 lembar daun kantil (Michelia champaca L.) 15 biji cengkeh 15 butir lada hitam dicuci lalu ditumbuk halus diremas dgn 2 sendok makan air jeruk nipis dan 1 sendok makan minyak kayu putih. Dipakai utk menggosok dan mengurut bagian tubuh yg sakit. Lakukan 2-3 kali sehari.

Blimbing Wuluh sebagai Obat Sariawan

10 kuntum bunga belimbing wuluh asam jawa gula aren direbus dgn 3 gelas air sampai air tinggal 3/4 saring minum 2 kali sehari. Segenggarn bunga belimbing wuluh gula jawa secukup dan 1 cangkir air direbus sampai kental. Setelah dingin disaring dipakai utk membersihkan mulut dan mengoles sariawan. 2/3 genggam bunga belimbing wuluh dicuci lalu direbus dgn 3 gelas air bersih sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin disaring lalu diminum sehari 3 kali 3/4 gelas. 3 buah belimbing wuluh 3 butir bawang merah 1 buah pala yg muda 10 lembar daun seriawan 3/4 sendok teh adas 3/4 jari pulosari dicuci lalu ditumbuk halus diremas dgn 3 sendok makan minyak

kelapa diperas lalu disaring. Dipakai utk mengoles luka-luka akibat sariawan 6-7 kali sehari. Untuk sariawan, segenggam bunga belimbing wuluh direbus dengan tiga gelas air hingga tersisa 2,5 gelas. Setelah dingin disaring lalu diminum tiga kali 3/4 gelas

Blimbing Wuluh sebagai Obat Sakit gigi

Lima buah belimbing wuluh setelah dicuci bersih dikunyah dgn garam. Ulangi beberapa kali sampai hilang rasa sakitnya.

Blimbing Wuluh sebagai Obat Pagel linu

Satu genggam daun belimbing wuluh yg masih muda 10 biji cengkeh 15 biji lada digiling halus lalu tambahkan cuka secukupnya. Lumurkan ketempat yg sakit

Blimbing Wuluh sebagai Obat Penghilang Panu

Sepuluh buah belimbing wuluh dicuci lalu digiling halus tambahkan kapur sirih sebesar biji asam diremas sampai rata. Ramuan ini dipakai utk menggosok kulit yg terserang panu. Lakukan 2 kali sehari

Blimbing Wuluh sebagai Obat Sakit Gigi Berlubang

5 buah belimbing wuluh dicuci bersih makan dgn sedikit garam kunyah ditempat gigi yg berlubang

Blimbing Wuluh sebagai Obat Penurun Tekanan Darah Tinggi

Siapkan 3 buah belimbing wuluh dan biji srigading 25 gr yg sudah dicuci bersih. Biji srigading ditumbuk halus. Masukkan ke dalam panci berisi 4 gelas air dan rebuslah bersama belimbing wuluh. Dinginkan lalu saring sebelum diminum. Cukup diminum 1 gelas sehari.

Buah yg besar dan berwarna hijau diparut ambil air dan diminum. 3 buah belimbing diparut peras air diminum sekali sehari. 3 buah belimbing wuluh dicuci lalu dipotong-potong seperlu direbus dgn 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring minum setelah makan pagi.

10 buah belimbing wuluh 1 jari rimpang kunyit 1/4 genggam daun meniran 3 jari labu air 3 jari gula enau dicuci dan dipotong-potong seperlu lalu direbus dgn 3 gelas air bersih sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin disaring minum. Sehari 3 x 3/4 gelas.

Blimbing Wuluh sebagai Obat Batuk

Daun bunga buah yg masing-masing sama banyak direbus dalam air yg mendidih selama 1/2 jam dan minum airnya.

Segenggam daun belimbing wuluh segenggam bunga dan 2 buah belimbing gula batu rebus dgn 2 gelas air sampai air tinggal setengah saring minum 2 kali sehari.

Segenggam bunga belimbing wuluh beberapa butir adas gula secukup dan air 1 cangkir ditim selama beberapa jam.

25 kuntum bunga belimbing wuluh 1 jari rimpang temu-giring 1 jari kulit kayu manis 1 jari rimpang kencur 2 butir bawang merah 1/4 genggam pegagan 1/4 genggam daun saga 1/4 genggam daun inggu 1/4 genggam daun sendok dicuci dan dipotong-potong seperlu direbus dgn 5 gelas air bersih sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin disaring diminum dgn madu seperlunya. Sehari 3 kali 3/4 gelas.

Buah belimbing wuluh dibuat manisan sehari makan 3 x 6-8 buah.

Untuk Mengatasi batuk rejan : Ambil sebanyak 10 buah belimbing wuluh dicuci bersih, remas dengan dua sendok air garam. Kemudian saring dan minum dua kali sehari.

Obat batuk pada anak : Segenggam bunga belimbing wuluh, beberapa butir adas, dan gula secukupnya ditambah satu cangkir air. Campuran ditim selama beberapa jam. Setelah dingin disaring dengan kain dan dibagi untuk dua kali minum, pagi dan malam saat perut masih kosong.

Blimbing Wuluh sebagai Obat Diabetes

Enam buah belimbing wuluh dilumatkan direbus dgn 1 gelas air sampai air tinggal setengah saring minum 2 kali sehari.

Blimbing Wuluh sebagai Obat Penghilang Jerawat

Siapkan 3 buah belimbing wuluh segar. Cuci hingga bersih. Buah diparut dan diberi sedikit garam. Tempelkan pada kulit yg berjerawat. Lakukan 2 kali sehari. Buah belimbing wuluh secukup dicuci lalu ditumbuk halus diremas dgn air garam seperlu utk menggosok muka yg berjerawat. Lakukan 3 kali sehari. 6 buah belimbing wuluh dan 1/2 sendok teh bubuk belerang digiling halus lalu diremas dgn 2 sendok makan air jeruk nipis. Ramuan ini dipakai utk menggosok dan melumas muka yg berjerawat. Lakukan 2-3 kali sehari.

TRIMAKASIH