D¢â‚¬â„¢nims : Peluang Usaha Baru Produk Kreatif Pelengkap ......

download D¢â‚¬â„¢nims : Peluang Usaha Baru Produk Kreatif Pelengkap ... 1.3 Tujuan Membuka peluang usaha kreatif

of 8

  • date post

    28-Dec-2019
  • Category

    Documents

  • view

    8
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of D¢â‚¬â„¢nims : Peluang Usaha Baru Produk Kreatif Pelengkap ......

  • Seminar Nasional Seni dan Desain: “Membangun Tradisi Inovasi Melalui Riset Berbasis Praktik Seni dan Desain” FBS Unesa, 28 Oktober 2017

    320 Produk Kreatif Berbahan Dasar Sisa dan Bekas Kain Denim

    D’nims : Peluang Usaha Baru Produk Kreatif Pelengkap Fashion dan Elemen Interior Berbahan Dasar Sisa dan Bekas Kain Denim

    Felycia Santoso, Florentina Tamariska Wijaya, Stefanie Ibrahim

    Universitas Kristen Petra, Surabaya m41414020@john.petra.ac.id

    Abstrak Berdasarkan hasil survei lapangan, di Surabaya banyak sisa dan bekas kain denim yang seringkali dibuang, ditumpuk dan dibakar. Sisa dan bekas kain denim tersebut dihasilkan dari usaha konveksi berbahan kain denim, jasa permak jeans, maupun celana jeans bekas konsumsi perorangan yang seringkali dibuang karena sudah lama atau usang. Masyarakat seringkali enggan untuk mengelola kembali sisa kain denim maupun jeans bekas menjadi barang yang lebih berdaya guna dan lebih memilih untuk membuang dan membakarnya karena alasan kurangnya waktu dan kreativitas. Padahal apabila sisa dan bekas kain tersebut dimanfaatkan kembali, selain untuk mengurangi jumlah sampah yang beredar, produk yang dihasilkan dapat menjadi sebuah usaha yang bisa mendatangkan keuntungan materi bagi pengelolahnya. Metode berpikir yang dipakai dalam ide pengelolaan sisa dan bekas kain denim, yaitu metode Design Thinking, dengan mengadopsi lima tahapan antara lain, empathize, define, ideate, prototype, dan test. Dari penerapan metode tersebut, produk yang dihasilkan dari pengolahan sisa dan bekas kain denim berupa beberapa jenis tas seperti sling-bag, clutch serta sarung bantal dengan branding produk bernama D’nims. Produk D’nims sudah dipasarkan melalui media sosial dan acara bazaar, dan berhasil menarik minat masyarakat, yang mana membutikan bahwa produk ini layak untuk dijual dan melalui penjualannya memperoleh keuntungan. Katakunci: sisa kain denim, bekas kain denim, usaha, kreativitas, design thinking, tas, media sosial

    1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Denim merupakan kain yang populer digunakan sejak dulu hingga sekarang. Majalah American fabrics menyebutkan, “Denim adalah salah satu bahan tertua didunia, dan hingga saat ini pun bahan tersebut masih dikenal semua orang”. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh GT- NEXUS bahwa sebanyak 2.7 juta meter kain denim digunakan pertahun cukup untuk membungkus bumi 67 kali. Selain itu, sebanyak 1 miliar lebih jeans terjual setiap tahunnya, dengan konsumsi di Amerika Utara sebanyak 39%, Eropa Barat 20%, Jepang dan Korea 10%, dan sisanya termasuk negara Indonesia sebanyak 31%. Indonesia tidak hanya sebagai pengguna produk denim, namun juga sebagai salah satu negara pengekspor produk denim khususnya celana wanita. Trend fashion masyarakat Indonesia seringkali mengacu pada penggunaan produk kain denim sejak dulu hingga sekarang. Kain denim biasa diaplikasikan di banyak elemen fashion seperti jaket, celana, dress, rok, tas dan sebagainya. Banyaknya pengguna produk denim di

    Indonesia menghasilkan sisa dan bekas kain denim yang seringkali dibuang, ditumpuk dan dibakar. Sisa kain denim dihasilkan dari usaha konveksi berbahan kain denim, jasa permak jeans, maupun celana jeans bekas konsumsi perorangan yang dibuang karena usang. Dari wawancara yang dilakukan, didapati bahwa pihak-pihak yang disebutkan diatas dengan segala kemampuan dan pengetahuan (pengolahan bahan, menjahit) enggan untuk mengelola kembali sisa dan bekas kain denim menjadi barang yang lebih berdaya guna dan memilih untuk membuang dan membakarnya karena alasan kurangnya waktu dan kreativitas pihak yang bersangkutan. Kebiasaan membuang dan membakar sisa kain membuat semakin banyaknya sampah dan limbah kain yang beredar dan polusi udara yang disebabkan dari asap efek pembakaran kain. Dari fenomena tersebut, penulis melihat adanya peluang usaha ekonomi kreatif pada produk pelengkapan fashion dan elemen interior dengan mengaplikasikan bahan sisa dan bekas kain demin.

  • Seminar Nasional Seni dan Desain: “Membangun Tradisi Inovasi Melalui Riset Berbasis Praktik Seni dan Desain” FBS Unesa, 28 Oktober 2017

    Felycia Santoso, dkk (Universitas Kristen Petra, Surabaya) 321

    Oleh karena itu, D’nims hadir dengan membuka peluang usaha yang bebahan dasar sisa dan bekas kain denim menjadi barang yang lebih berdaya guna untuk meresponi masalah sirkulasi sampah dengan memanfaatkan sisa dan bekas kain denim yang berada di lingkungan sekitar (4R: Reuse, Recycle, Recovery, Revalue). Bahan denim yang awet dan kuat sangat cocok untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan wadah. Pemanfaatan produk kain denim semisal celana jeans yang dimanfaatkan seluruh bagiannya seperti saku depan, saku belakang, dan sebagainya, yang di kelola menjadi produk clutch, mini-sling bag, cushion cover. Bentuk produk didesain untuk mewadahi kebutuhan anak muda yakni kebutuhan akan tampil casual dan fashionable sekaligus membantu mengurangi peredaran sampah khususnya sisa kain denim. 1.2 Permasalahan a. Produk apa saja yang bisa dihasilkan dari

    pemanfaatan sisa dan bekas kain denim yang melimpah, dapat ditemui pada tukang permak, usaha garmen/konveksi berbahan kain denim, serta celana jeans bekas konsumsi perorangan?

    b. Bagaimana upaya branding produk agar dapat dikenal masyarakat luas?

    c. Bagaimana cara pemasaran dan promosi produk?

    d. Bagaimana analisis ekonomi tentang perhitungan penjualan produk?

    1.3 Tujuan Membuka peluang usaha kreatif dan menciptakan branding produk baru yang menarik minat pasar dengan mengelolah dan mengkreasikan sisa kain denim hasil produksi garmen/konveksi maupun permak jeans, serta celana jeans bekas konsumsi menjadi produk baru berdaya guna. 2. Metode Metode yang digunakan dalam proses pembuatan produk adalah metode Design Thinking dari buku “Design Thingking for Educator”, IDEO dengan urutan sebagai berikut: 2.1 Empathize Pada tahap ini penulis mengamati isu, permasalahan atau perilaku sosial pada masyarakat. Pengamatan dilakukan dengan cara melakukan observasi terhadap aktivitas yang dilakukan masyarakat. Dari hasil pengamatan ditemukan beberapa permasalahan yang muncul

    untuk kemudian dipilah, dan permasalahan yang terpilih dikaji dan dikembangkan lebih jauh. 2.2 Define Banyaknya sisa dan bekas kain denim di berbagai wilayah di Surabaya merupakan masalah berdasarkan pengamatan yang sudah dilakukan. Namun berdasarkan pada prinsip 4R (Reuse, Recycle, Recovery, Revalue), maka sisa dan bekas kain ini dapat diolah dan dimanfaatkan kembali. 2.3 Ideate Dari hasil pengamatan, sisa dan bekas kain denim memiliki variasi bentuk dan ukuran, sehingga dalam merancang produk perlu memanfaatkan sisa dan bekas kain berbahan denim dengan maksimal. 2.4 Prototype Prototype pertama di asistensikan kepada pembimbing untuk kemudian dievaluasi oleh tutor dan responden. Kemudian produk prototype melalui proses pengembangan agar lebih ergonomis dan layak untuk dijual. Prototype kedua kemudian dipresentasikan di dalam kelas untuk dinilai oleh mahasiswa dan dosen. Setelah prototype kedua sudah dianggap layak dipasarkan, produk kemudian dikembangkan dari sisi bentuk, jenis warna, motif dan aksesoris pelengkap produk. 2.5 Test Produk yang sudah dikembangkan kemudian dipasarkan secara online melalu media sosial, serta acara bazaar dalam kampus. 3. Kajian Pustaka 3.1 Prinsip 4R (Reuse, Recycle, Recovery, Revalue) Prinsip 3R (Reuse, Reduse, Recycle) yang umum diketahui sekarang ini mulai berkembang hingga menjadi 5R (Reuse, Reduce, Recycle, Recovery, Revalue). Pada prinsip 5R terdapat penambahan prinsip Revalue dan Recovery. Berikut ini penjelasan setiap prinsip 5R. Reuse yaitu dengan upaya pemanfaatan kembali limbah maupun material bekas secara langsung, baik untuk fungsi yang sama maupun fungsi lain. Reduce merupakan prinsip mengurangi penggunaan produk yang dapat menyebabkan meningkatnya limbah maupun material bekas. Recycle artinya mengupayakan agar limbah maupun material bekas dapat digunakan kembali dengan cara mendaur ulang limbah dan material bekas yang

  • Seminar Nasional Seni dan Desain: “Membangun Tradisi Inovasi Melalui Riset Berbasis Praktik Seni dan Desain” FBS Unesa, 28 Oktober 2017

    322 Produk Kreatif Berbahan Dasar Sisa dan Bekas Kain Denim

    sekiranya dapat di daur ulang, sebab tidak semua limbah dan material bekas dapat di daur ulang. Limbah dan material bekas yang dapat di daur ulang, bisa diolah menjadi produk baru yang melewati tahapan proses pengolahan agar menghasilkan produk baru. Recovery adalah mengubah limbah dan material bekas yang ada menjadi sebuah produk baru yang lebih bermanfaat. Dan Revalue yaitu memberi nilai maupun meningkatkan nilai dari barang limbah maupun material bekas agar dapat dijual menjadi produk baru yang layak pakai, serta dapat memberikan wawasan mengenai pemanfaatan barang bekas maupun limbah menjadi barang yang lebih berdaya guna. Pada pengolahan sisa dan bekas kain denim menjadi produk berdaya guna, penulis hanya memakai prinsip 4R (Reuse, Recycle, Recovery, Revalue). 3.2 Karakteristik Denim Denim pertama kali digunakan sebagai celana oleh kaum pelaut dan penambang emas karena karakter bahannya yang kuat, tahan lama dan tidak mudah sobek. Adapun karakteristik lain dari denim yaitu merupakan jenis kain yang pada umumnya ditenun dengan serat cotton biru pada pakan dan serat cotton putih pada lungsi – inilah sebabnya kenapa warna kain jeans terlihat putih di bagian dalamnya. Kain denim dibuat dengan twill weave (jenis tenun silang kepar), sehingga menghasilkan garis-garis diagonal sebagai salah satu karakteristik dari kain tersebut