DAMPAK PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI DAS GUNG ...

of 130/130
DAMPAK PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI DAS GUNG HULU TERHADAP DEBIT SUNGAI GUNG KABUPATEN TEGAL SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Pada Universitas Negeri Semarang Oleh Khamid Wijaya NIM 3250404038 JURUSAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2011
  • date post

    21-Jan-2017
  • Category

    Documents

  • view

    223
  • download

    6

Embed Size (px)

Transcript of DAMPAK PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI DAS GUNG ...

  • DAMPAK PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN

    DI DAS GUNG HULU TERHADAP DEBIT

    SUNGAI GUNG KABUPATEN TEGAL

    SKRIPSI

    Untuk memperoleh gelar Sarjana Sains

    Pada Universitas Negeri Semarang

    Oleh

    Khamid Wijaya

    NIM 3250404038

    JURUSAN GEOGRAFI

    FAKULTAS ILMU SOSIAL

    UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

    2011

  • 2

    PERSETUJUAN PEMBIMBING

    Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian

    skripsi pada:

    Hari : Senin

    Tanggal : 23 Mei 2011

    Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

    Drs. Purwadi Suhandini, SU. Rahma Hayati, S.Si, M.Si.

    NIP. 194711031975011001 NIP. 197206241998032003

    Mengetahui:

    Ketua Jurusan Geografi

    Drs. Apik Budi Santoso, M.Si.

    NIP. 196209041989011001

    ii

  • 3

    PENGESAHAN KELULUSAN

    Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas

    Ilmu Sosial , Universitas Negeri Semarang pada:

    Hari : Senin

    Tanggal : 30 Mei 2011

    Penguji Skripsi

    Dr. Dewi Liesnoor, M.Si.

    NIP. 196208111988032001

    Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

    Drs. Purwadi Suhandini, SU. Rahma Hayati, S.Si, M.Si.

    NIP. 194711031975011001 NIP.197206241998032003

    Mengetahui:

    Dekan Fakultas Ilmu Sosial

    Drs. Subagyo, M.Pd.

    NIP. 195108081980031003

    iii

  • 4

    PERNYATAAN

    Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya

    sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya.

    Pendapat atau orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk

    berdasarkan kode etik ilmiah.

    Semarang , 23 Mei 2011

    Khamid Wijaya

    NIM. 3250404038

    iv

  • 5

    MOTTO DAN PERSEMBAHAN

    MOTTO:

    "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.

    Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling

    menasihati supaya menaati kebenaran dan menetapi kesabaran" (Q.S. Al Ashr).

    Saya belajar selama saya hidup. Batu nisan akan menjadi ijazah saya. I am

    learning all the time. The tombstone will be my diploma (Eartha Kitt).

    PERSEMBAHAN

    1. Emak dan Bapak yang selalu mendidik dan

    mendoakanku.

    2. Adik-adikku yang selalu mendukungku dan

    selalu kurindukan.

    3. Semua teman yang telah membantuku.

    4. Sahabat-sahabat di Geo 2004 dan UNNES.

    5. Guru-guruku.

    v

  • 6

    PRAKATA

    Segala Puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam atas segala rahmat dan

    hidayah-Nya yang begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

    yang berjudul DAMPAK PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI DAS

    GUNG HULU TERHADAP DEBIT SUNGAI GUNG KABUPATEN

    TEGAL.

    Penulis sangat menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak akan

    dapat terselesaikan tanpa ada bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu dengan

    segenap kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada :

    1. Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si., Rektor Universitas Negeri

    Semarang.

    2. Drs. Subagyo, M.Pd., Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri

    Semarang.

    3. Drs. Purwadi Suhandini, SU., Dosen pembimbing I yang dengan penuh

    tanggung jawab dan kesabaran memberikan arahan dan bimbingannya.

    4. Rahma Hayati, S.Si, M.Si., Dosen pembimbing II yang dengan penuh

    tanggung jawab dan kesabaran memberikan arahan dan bimbingannya.

    5. Dr. Dewi Liesnoor, M.Si., Dosen Penguji Skripsi, terimakasih atas arahan dan

    bimbingannya.

    6. Drs. Apik Budi Santoso, M.Si., Ketua Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial

    Universitas Negeri Semarang yang penuh perhatian memberikan motivasi dan

    semangat.

    vi

  • 7

    7. Staf pengajar di Jurusan Geografi, terimakasih atas ilmu yang telah diberikan

    selama ini.

    8. Karyawan dan Staf Tata Usaha Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial

    Universitas Negeri Semarang, terimakasih atas kerjasamanya.

    9. BAPPEDA Kabupaten Tegal, terimakasih atas bantuan dan kerjasamanya.

    10. Teman-teman Jurusan Geografi angkatan 2004

    11. Semua pihak yang tidak bisa penulis sampaikan satu per satu, terimakasih

    atas bantuan dan dukungannya.

    Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari masih banyak

    kelemahan dan kekurangan, walaupun demikian penulis berharap kritik dan saran,

    agar hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi masyarakat.

    Semarang, 23 Mei 2011

    Penulis

    vii

  • 8

    SARI

    Wijaya, Khamid. 2011. Dampak Perubahan Penggunaan Lahan di DAS Gung

    Hulu Terhadap Debit Sungai Gung Kabupaten Tegal. Skipsi, Jurusan Geografi,

    Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang.

    Kata Kunci : dampak perubahan penggunaan lahan, debit aliran.

    DAS Gung Hulu merupakan bagian dari DAS Gung, DAS terbesar di

    Kabupaten Tegal. DAS Gung Hulu memiliki luas 119,82 km2. Areal lahan di

    DAS Gung Hulu memiliki peranan yang sangat besar terhadap sistem tata air

    untuk keperluan hidup masyarakat yang ada di wilayah Kabupaten Tegal. Lokasi

    penelitian berada di daerah aliran sungai Gung Hulu. Obyek penelitian berupa

    Daerah Aliran Sungai (DAS), dimana kajian meliputi penggunaan lahan yang

    menjadi salah satu parameter penentu keberadaan rasio debit pada DAS Gung

    Hulu. Berdasarkan sudut pandang hidrologi, perubahan penggunaan dapat

    mempengaruhi debit suatu sungai. Kegiatan tata guna lahan yang bersifat

    merubah tipe atau jenis penutup lahan dalam suatu DAS sering kali dapat

    memperbesar atau memperkecil hasil air (water yield). Data debit atau aliran

    sungai merupakan informasi yang paling penting bagi pengelolaan sumber daya

    air. Debit rata-rata tahunan dapat memberikan gambaran potensi sumber daya air

    yang dapat dimanfaatkan dari suatu daerah aliran sungai.

    Berdasarkan permasalahan di atas, permasalahan dalam penelitian ini

    adalah berapa besar pengaruh perubahan penggunaan lahan (vegetasi alami dan

    buatan menjadi terbangun) di DAS Gung Hulu terhadap debit Sungai Gung di

    Kabupaten Tegal selama 11 tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk

    mengetahui luas perubahan penggunaan lahan kawasan vegetasi menjadi kawasan

    terbangun di DAS Gung Hulu, perubahan rasio debit yang terjadi pada DAS Gung

    Hulu, dan dampak antara perubahan penggunaan lahan dengan debit Sungai

    Gung. Variabel dalam penelitian ini adalah luas penggunaan lahan, dengan

    indikator luas penggunaan lahan tahun 1996 dan luas penggunaan lahan tahun

    2007, debit aliran sungai, variabel dampak ditambah variabel curah hujan. Metode

    yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu metode dokumentasi, metode

    observasi, metode wawancara. Metode untuk menganalisis menggunakan metode

    analisa SIG dengan menggunakan teknik tumpang susun (overley) peta, dan

    metode rasio debit.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa, penggunaan lahan DAS Gung hulu

    tahun 1996 dan 2007 mengalami alih fungsi lahan sebanyak 38 macam dengan

    luas mencapai 2528,118 Ha atau 25,28 Km2

    (21,10 %) dari total luas DAS. Jenis

    penggunaan lahan yang mengalami perubahan terbesar adalah sawah, berkurang

    viii

  • 9

    449,688 Ha. Sedangkan untuk perubahan penggunaan lahan kawasan vegetasi

    menjadi terbangun, terjadi perubahan sebesar 351,547 Ha atau 3,51 Km, bentuk

    perubahan sawah menjadi pemukiman merupakan perubahan yang paling besar,

    mencapai 168,705 Ha. Dari hasil analisis rasio debit, nilai KRS berfluktuasi antara

    4,75 sampai 39,18 termasuk dalam keadaan baik. Dalam 11 tahun nilai KRS

    sebesar 47,71 menandakan mendekati angka kritis.

    Simpulan yang didapat adalah luas perubahan penggunaan lahan kawasan vegetasi menjadi kawasan terbangun atau pemukiman di DAS Gung Hulu mencapai 351,547 Ha atau 3,51 Km (13,91 %) dari total luas perubahan penggunaan lahan DAS Gung Hulu. Rasio debit tiap tahun berfluktuasai, nilai KRS antara 4,75 sampai 39,18. Secara hidrologis DAS gung Hulu masih dalam keadaan baik, tetapi statusnya mendekati tingkat kritis. Perubahan penggunaan lahan tidak menyebabkan peningkatan debit sungai, dampak perubahan penggunaan lahan terhadap debit tidak terlalu signifikan. Saran yang dikemukakan adalah perlunya merapatkan jumlah vegetasi di sekitar permukiman penduduk, meningkatkan fungsi lahan kosong dan lahan miring sebagai kawasan konservasi dengan menambah jumlah vegetasi di DAS Gung Hulu, peningkatan perhatian dari pemda maupun dinas terkait yang berkaitan dengan bidang hidrologi, perlunya penelitian lebih lanjut tentang pengelolaan DAS.

    ix

  • 10

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ...........................................................................................i

    PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................................................ii

    HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................iii

    HALAMAN PERNYATAAN. ...........................................................................iv

    MOTO DAN PERSEMBAHAN ........................................................................v

    PRAKATA. .........................................................................................................vi

    SARI ....................................................................................................................viii

    DAFTAR ISI .......................................................................................................x

    DAFTAR TABEL ...............................................................................................xiii

    DAFTAR GAMBAR. .........................................................................................xiv

    DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................xv

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang ........................................................................................1

    B. Rumusan Masalah ...................................................................................5

    C. Penegasan Istilah .....................................................................................5

    D. Tujuan Penelitian ....................................................................................9

    E. Manfaat Penelitian ..................................................................................9

    F. Sitematika Skripsi ...................................................................................9

    BAB II. LANDASAN TEORI

    A. Ekosistem DAS .......................................................................................11

    B. Daur Hidrologi ........................................................................................13

    x

  • 11

    C. Penggunaan Lahan ..................................................................................16

    D. Debit Aliran .............................................................................................18

    BAB III. METODE PENELITIAN

    A. Obyek Penelitian. ....................................................................................21

    B. Variabel Penelitian. .................................................................................21

    C. Jenis-jenis Data .......................................................................................22

    D. Metode Pengumpulan Data .....................................................................23

    E. Alat dan Bahan. .......................................................................................24

    F. Teknik Analisis Data. ..............................................................................25

    G. Langkah-langkah Penelitian. ...................................................................27

    BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Hasil Penelitian .......................................................................................31

    1. Kondisi Umum Daerah Penelitian. .....................................................31

    a. Letak dan Luas Daerah DAS Gung Hulu. .....................................31

    b. Hidrologi . ......................................................................................33

    c. Topografi. ......................................................................................36

    d. Tanah. ............................................................................................38

    e. Iklim. ..............................................................................................46

    f. Geomorfologi. ................................................................................51

    g. Kondisi Penduduk. .........................................................................58

    2. Perubahan Penggunaan Lahan ............................................................60

    a. Penggunaan Lahan DAS Gung Hulu Tahun 1996 .........................60

    b. Penggunaan Lahan DAS gung Hulu Tahun 2007 ..........................64

    c. Perubahan Penggunaan Lahan DAS Gung Hulu ...........................68

    3. Rasio Debit .........................................................................................75

    4. Dampak Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Debit ...............77

    B. Pembahasan ............................................................................................79

    xi

  • 12

    BAB V. PENUTUP

    A. Simpulan. ................................................................................................83

    B. Saran. .......................................................................................................83

    DAFTAR PUSTAKA. ........................................................................................85

    LAMPIRAN ....................................................................................................... 87

    xii

  • 13

    DAFTAR TABEL

    3.1. Klasifikasi Nilai KRS..................................................................................26

    4.1. Penentuan Tipe Iklim Indonesia Berdasarkan Klasifikasi Schmidt dan

    Ferguson ...................................................................................................... 46

    4.2. Curah Hujan Stasiun Kemaron DAS Gung Hulu 1996 - 2007 .................... 47

    4.3. Curah Hujan Stasiun Bumijawa DAS Gung Hulu 1996 2007 .................. 48

    4.4. Curah Hujan Stasiun Bojong DAS Gung Hulu 1996 2007.. .................... 48

    4.5. Curah Hujan Stasiun Danawarih DAS Gung Hulu 1996 2007................. 49

    4.6. Rata-rata Curah Hujan Wilayah DAS Gung Hulu Tahun 19962007 ........ 49

    4.7. Jumlah Penduduk di DAS Gung Hulu Tahun 1996 dan 2007 ..................... 58

    4.8. Kepadatan Penduduk DAS Gung Hulu Tahun 1996 dan 2007.. ................. 59

    4.9. Penggunaan Lahan DAS Gung Hulu Tahun 1996............ ........................... 60

    4.10. Penggunaan Lahan DAS Gung Hulu Tahun 2007 ....................................... 68

    4.11. Perubahan Penggunaan Lahan DAS Gung Hulu Tahun 1996 dan 2007 ..... 69

    4.12. Bentuk Perubahan Penggunaan Lahan DAS Gung Hulu Tahun 1996 dan

    2007 ............................................................................................................. 72

    4.13. Klasifikasi Nilai KRS ................................................................................... 75

    4.14. Nilai KRS Sungai Gung Hulu tahun 1994 2008....................................... 76

    xiii

  • 14

    DAFTAR GAMBAR

    2.1. Daur Hidrologi ............................................................................................. 14

    3.1. Diagram Alir Penelitian ............................................................................... 30

    4.1. Peta Administrasi DAS Gung Hulu Kabupaten Tegal ................................ 32

    4.2 Peta Pola Aliran DAS Gung Hulu Kabupaten Tegal ................................... 35

    4.3. Peta Kemiringan Lereng DAS Gung Hulu Kabupaten Tegal ...................... 37

    4.4. Peta Jenis Tanah DAS Gung Hulu Kabupaten Tegal .................................. 41

    4.5 Peta Polygon Thiesen DAS Gung Hulu Kabupaten Tegal. ......................... 50

    4.6. Peta Geomorfologi DAS Gung Hulu Kabupaten Tegal .............................. 56

    4.7. Peta Penggunaan Lahan DAS Gung Hulu Tahun 1996.. ............................. 61

    4.8. Peta Penggunaan Lahan DAS Gung Hulu Tahun 2007 ............................... 67

    4.9. Peta Perubahan Penggunaan Lahan DAS Gung Hulu ................................. 73

    xiv

  • 15

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1. Data Debit Bendung Danawarih Tahun 1996 - 2007......................88

    Lampiran 2. Perhitungan Nilai Q Rata-rata pada 4 Stasiun Hujan .....................100

    Lampiran 3. Uji Ketelitian Interpretasi Penggunaan Lahan................................101

    Lampiran 4. Foto-foto Daerah Penelitian............................................................105

    Lampiran 5. Rasio Debit Sungai Gung Hulu tahun 1990 - 2008........................110

    Lampiran 6. Analisis Regresi Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Rasio

    Debit dengan Metode Enter Program SPSS for Windows Version

    16.0..................................................................................................111

    xv

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Dalam melangsungkan kegiatan kehidupan dan penghidupannya,

    manusia pada hakekatnya merupakan bagian dari alam. Manusia tidak dapat

    melepaskan diri dari alam dan akan selalu tergantung pada lingkungan

    alamnya. Dengan dasar pembangunan mandiri dan keterbatasan sumber dana

    dari pusat, maka setiap kabupaten atau kota akan berusaha untuk menaikkan

    PADnya, dengan memanfaatkan sumber daya alamnya. Dari fakta yang ada,

    tampak sumber daya air masih belum mendapat perlindungan yang maksimal

    untuk menghindari terjadinya kekurangan air. Terjadinya pencemaran

    beberapa sumber air, penggundulan yang menyebabkan erosi tanah, banjir

    serta terganggunya fungsi penyerapan air, kegiatan pertanian yang

    mengabaikan kelestarian lingkungan, berubahnya fungsi tangkapan air, serta

    distribusi air yang tidak merata menunjukkan bahwa perhatian terhadap

    pelestarian sumber daya ini perlu secara total ditingkatkan (Kodoatie dan

    Sugiyanto, 2002:50).

    Kegiatan tata guna lahan yang bersifat merubah tipe atau jenis

    penutup lahan dalam suatu DAS sering kali dapat memperbesar atau

    memperkecil hasil air (water yield). Pada batas-batas tertentu, kegiatan ini

    juga dapat mempengaruhi status kualitas air. Perubahan dari satu jenis

    vegetasi ke jenis vegetasi yang lain adalah umum dalam pengelolaan DAS

    1

  • 2

    atau pengelolaan sumber daya alam. Terjadinya perubahan tata guna lahan

    dan jenis vegetasi tersebut, dalam skala besar dan bersifat permanen, dapat

    mempengaruhi besar kecilnya hasil air (Asdak, 2002:429). Data debit atau

    aliran sungai merupakan informasi yang paling penting bagi pengelolaan

    sumber daya air. Debit puncak (banjir) diperlukan untuk merancang

    bangunan pengendali banjir. Sementara data debit aliran kecil diperlukan

    untuk perencanaan alokasi (pemanfaatan) air untuk berbagai macam

    keperluan, terutama pada musim kemarau panjang. Debit rata-rata tahunan

    dapat memberikan gambaran potensi sumber daya air yang dapat

    dimanfaatkan dari suatu daerah aliran sungai (Asdak, 2002:190).

    Kabupaten Tegal dalam bidang ekonomi mengandalkan tiga sektor

    untuk meningkatkan PAD, yaitu PERTIWI (pertanian, industri dan

    pariwisata). Sektor pertanian, terutama padi maupun kebun sayur dan buah

    terpusat di Kecamatan Bojong dan Bumijawa, yang merupakan bagian dari

    DAS Gung Hulu. Obyek Wisata Guci, merupakan obyek wisata di Kabupaten

    Tegal yang paling ramai di kunjungi wisatawan juga terdapat di wilayah DAS

    Gung Hulu. Dengan semakin bertambahnya jumlah hasil pertanian dan

    semakin meningkatnya jumlah kunjungan wisata di OW Guci, akan diikuti

    dengan berubahnya fungsi lahan di daerah tersebut untuk pengembangan.

    Dari lima sungai besar di Kabupaten Tegal yakni Gung, Pah,

    Maribaya, Pekijingan dan Rambut, dua diantaranya di kategorikan berbahaya.

    Karena DASnya kritis dan rawan luapan. Dua sungai itu adalah Sungai Gung

    dan Rambut. Sungai Gung misalnya, DAS antara Desa Kajen, Kecamatan

  • 3

    Lebaksiu hingga Kelurahan Procot, Kecamatan Slawi dimasukkan sebagai

    daerah bergaris merah oleh DLHKP. Artinya kerusakan akibat arusnya sudah

    sangat parah. Sungai Gung paling rawan banjir karena daerah alirannya cukup

    panjang dan lebar serta kedalaman diatas sungai yang lain (Radar Tegal, 28

    Februari 2008). DAS Gung Hulu termasuk bagian dari DAS Gung yang

    merupakan DAS terluas di Kabupaten Tegal, dengan luas wilayah 119,82

    Km2. Areal lahan di DAS Gung Hulu memiliki peranan yang sangat besar

    terhadap sistem tata air yang ada, yang mana sistem tata air ini memegang

    peranan vital bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya. DAS Gung Hulu

    secara administratif berada di wilayah Kabupaten Tegal. Desa yang masuk

    dalam wilayah DAS Gung Hulu sebanyak 29 desa di 4 kecamatan. Jumlah

    penduduk yang bermukim di daerah aliran sungai Gung Hulu selama tahun

    1996 2007 mengalami peningkatan sebanyak 18.461 jiwa.

    Keadaan fisik maupun sosial DAS juga berpengaruh terhadap

    kuantitas dan kualitas air sungai. Pengaruh fisik DAS adalah pengaruh antara

    faktor penutup lahan, jenis tanah, kemiringan lereng dan bentuk DAS.

    Pengaruh sosial dalam hal ini adalah kondisi penduduk. Kondisi penduduk

    merupakan salah satu faktor yang ikut memegang peranan terhadap kondisi

    suatu DAS. Tekanan penduduk memberikan pengaruh terhadap lahan,

    terutama didalam hal jenis-jenis penutup lahan didaerah tersebut seiring

    dengan semakin meningkatnya kebutuhan penduduk. Kondisi ini pada

    gilirannya akan turut mempengaruhi kondisi hidrologis di suatu daerah aliran

    sungai (Widianto, 1999:4).

  • 4

    Akhir-akhir ini pemukiman dan penggundulan hutan makin meluas.

    Pengembangan perumahan terjadi di Desa Bojong dan Desa Bumijawa yang

    merupakan ibu kota kecamatan. Pengermbangan sektor wisata juga

    meningkat, terutama di kawasan objek wisata Guci. Banyak villa baru

    didirikan, hotel melati maupun penginapan bertambah. Bahkan pada tahun

    2008 sudah didirikan wahana outbond, yang tentunya telah mengorbankan

    lahan bervegetasi. Penggundulan hutan terjadi di Desa Guci Kecamatan

    Bumijawa dan Desa Cikura Kecamatan Bojong, Kecamatan Jatinegara juga

    tak luput dari praktek penggundulan hutan.

    Fungsi suatu DAS merupakan fungsi gabungan yang dilakukan oleh

    seluruh faktor yang ada pada DAS tersebut, yaitu vegetasi, bentuk wilayah

    (topografi), tanah dan manusia. Apabila fungsi dari suatu DAS terganggu,

    maka sistem hidrologis akan terganggu, penangkapan curah hujan, resapan

    dan penyimpanan airnya menjadi sangat berkurang atau sistem penyalurannya

    menjadi boros. Kejadian tersebut akan menyebabkan melimpahnya air pada

    musim hujan dan sebaliknya sangat minimumnya air pada musim kemarau.

    Hal ini membuat fluktuasi debit sungai antara musim kemarau dan musim

    hujan berbeda tajam. Jadi jika fluktuasi debit sungai sangat tajam, berarti

    bahwa fungsi DAS tidak bekeja dengan baik, apabila hal ini terjadi berarti

    bahwa kualitas DAS tersebut adalah rendah (Suripin, 2004:186).

    Berdasarkan uraian tersebut maka penelitian ini diberi judul

    Dampak Perubahan Penggunaan Lahan di DAS Gung Hulu Terhadap

    Debit Sungai Gung Kabupaten Tegal dengan alasan perlunya informasi

  • 5

    tentang dampak berubahnya penggunaan lahan terhadap perubahan debit

    aliran di DAS Gung Hulu.

    B. Perumusan Masalah

    Permasalahan dalam penelitian ini adalah Berapa besar dampak

    perubahan penggunaan lahan (vegetasi alami dan buatan menjadi terbangun)

    di DAS Gung Hulu terhadap debit aliran Sungai Gung di Kabupaten Tegal

    selama 11 tahun?.

    C. Penegasan Istilah

    1. Dampak

    Dampak adalah pengaruh kuat yang mendatangkan akibat, baik

    positif maupun negatif (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2007:234). Arti

    dampak dalam penelitian ini adalah akibat yang di timbulkan dari bentuk

    perubahan penggunaan lahan terhadap debit sungai di DAS Gung Hulu.

    2. Perubahan

    Perubahan adalah proses transformasi suatu benda, wilayah atau

    sesuatu hal yang diakibatkan oleh sesuatu hal (Poerwadarminta,

    1991:116). Perubahan dalam penelitian ini adalah perubahan debit Sungai

    Gung oleh karena perubahan penggunaan lahan di DAS Gung Hulu.

    3. Penggunaan Lahan

    Lahan diartikan sebagai lingkungan fisik yang terdiri atas iklim,

    relief, tanah, air, flora, fauna dan bentukan-bentukan hasil budaya

  • 6

    manusia. Dalam hal ini lahan mempunyai arti ruang atau tempat (Jamulya

    dan Sunarto dalam Purnomo, 2000:1)

    Penggunaan lahan (land use) diartikan sebagai setiap bentuk

    intervensi (campur tangan) manusia terhadap lahan dalam rangka

    memenuhi kebutuhan hidupnya baik materiil maupun spiritual.

    Penggunaan lahan dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan besar

    yaitu penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan bukan pertanian

    (Arsyad,1989:207).

    Perubahan penggunaan lahan merupakan proses berubahnya

    penggunaan lahan dari pertanian ke penggunaan lahan non pertanian atau

    perkotaan. Perubahan penggunaan lahan dapat bersifat sementara. Jika

    lahan sawah beririgasi teknis berubah menjadi kawasan permukiman atau

    industri, maka perubahan penggunaan ini bersifat permanen. Akan tetapi,

    jika sawah tersebut berubah menjadi perkebunan tebu, maka perubahan

    penggunaan lahan tersebut bersifat sementara, karena pada tahun-tahun

    berikutnya dapat dijadikan sawah kembali. Perubahan penggunaan lahan

    permanen biasanya lebih besar dampaknya dari pada perubahan

    penggunaan lahan sementara (Zilkifli dalam Anam, 2008:5).

    4. Daerah Aliran Sungai

    Daerah aliran sungai (DAS) adalah daerah yang dibatasi

    punggung-punggung gunung dimana air hujan yang jatuh pada daerah

  • 7

    tersebut akan ditampung oleh punggung gunung tersebut dan dialirkan

    melalui sungai-sungai kecil (Asdak, 1995:4).

    Menurut kamus Webster, DAS adalah suatu daerah yang dibatasi

    oleh pemisah topografi, yang menerima hujan, menampung, menyimpan

    dan mengalirkan ke sungai dan seterusnya ke danau atau ke laut. DAS

    merupakan suatu ekosistem dimana didalamnya terjadi suatu proses

    interaksi antara faktor-faktor biotik, non biotik dan manusia. Sebagai suatu

    ekosistem, maka setiap ada masukan (input) ke dalamnya, proses yang

    terjadi dan berlangsung didalamnya dapat di evaluasi berdasarkan keluaran

    (output) dari ekosistem tersebut. Komponen masukan dalam ekosistem

    DAS adalah curah hujan, sedangkan keluaran terdiri dari debit air, muatan

    sedimen dan unsur hara. Komponen-komponen DAS yang berupa

    vegetasi, tanah dan saluran/sungai dalam hal ini bertindak sebagai

    prosessor (Supirin, 2004:183).

    5. Debit

    Debit adalah volume air yang mengalir lewat suatu penampang

    melintang dalam alur (channel), pipa, akuifer, ambang dan sebagainya, per

    satuan waktu (Soemarto, 1999:51). Jenis debit sangat beragam, diantara

    pengertian debit yang lain, yaitu: Debit puncak atau debit banjir (qp,

    Qmaks) adalah besarnya volume air maksimum yang mengalir melalui

    suatu penampang melintang suatu sungai per satuan waktu, dalam satuan

    m/detik. Debit minimum (Qmin) adalah besarnya volume air minimum

    yang mengalir melalui suatu penampang melintang suatu sungai per satuan

  • 8

    waktu, dalam satuan m/detik (Dephut, 2009:4). Rasio debit merupakan

    perbandingan antara debit maksimum dan minimum atau dikenal dengan

    (KRS) koefisien regim sungai (Dephut, 2009:17). Pengertian debit juga

    dapat dibagi menjadi debit harian, debit bulanan dan debit tahunan. Debit

    tahunan adalah suatu angka yang menunjukkan rata-rata debit suatu sungai

    dalam jangka waktu satu tahun dalam satuan (m/dt) (Asdak, 2002:195),

    begitu juga dengan pengertian debit bulanan dan debit tahunan. Dalam

    penelitian ini debit yang dihitung adalah rasio debit.

    6. Sungai

    Sungai adalah air yang besar, buatan alam, bermuara ke laut atau

    danau dan biasanya anak-anak sungai bermuara di sepanjang alirannya.

    Ada 3 tipe sungai berdasarkan konstansi alirannya :

    a. Mengalir sepanjang waktu (perennial).

    b. Mengalir hampir sepanjang waktu, kecuali pada musim kering luar

    biasa, penguapan/peresapan melampaui aliran yang diperlukan

    (intermitten, terputus-putus).

    c. Mengalir dalam waktu singkat, yakni hanya pada waktu turun hujan

    atau periode hancur salju (ephemeral). (Mustofa dan Sektiyawan, 2007

    : 426)

    Dalam penelitian ini sungai yang dimaksud adalah Sungai Gung

    dan berdasarkan konstansinya termasuk sungai yang mengalir sepanjang

    waktu atau perennial.

  • 9

    D. Tujuan Penelitian

    Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah untuk mengetahui :

    1. Perubahan penggunaan lahan kawasan vegetasi menjadi kawasan

    terbangun di DAS Gung Hulu dari tahun 1996 sampai 2007.

    2. Rasio debit Sungai Gung tahun 1996 sampai 2007 pada DAS Gung Hulu.

    3. Dampak perubahan penggunaan lahan terhadap debit Sungai Gung.

    E. Manfaat Penelitian

    Manfaat dari penelitian ini adalah :

    1. Untuk perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang Hidrologi dan

    Konservasi Tanah dan Air.

    2. Sebagai pertimbangan pemerintah daerah, khususnya Kabupaten Tegal

    dalam kebijakan penentuan arah pembangunan daerah.

    F. Sistematika Skripsi

    Hasil penelitian ini disusun dengan menggunakan sistematika skripsi

    yang terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian awal skripsi, bagian isi skripsi dan

    bagian akhir skripsi.

    Bagian awal skripsi, meliputi sampul, lembar judul, lembar

    persetujuan pembimbing, lembar pengesahan penguji, lembar pernyataan,

    lembar motto dan persembahan, sari, prakata, daftar isi, daftar tabel, daftar

    gambar, dan daftar lampiran.

  • 10

    Bagian isi skripsi terdiri atas lima bagian yang dapat diperinci

    sebagai berikut :

    BAB I. PENDAHULUAN. Berisi latar belakang, rumusan masalah,

    penegasan istilah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika

    skripsi.

    BAB II. LANDASAN TEORI. Berisi kajian secara teoritis mengenai masalah

    yang dibahas dalam penelitian meliputi pengertian ekosistem DAS, daur

    hidrologi, penggunaan lahan, dan debit aliran.

    BAB III. METODE PENELITIAN. Memuat metode dalam penelitian,

    meliputi; obyek penelitian, variabel penelitian, jenis-jenis data, metode, alat

    dan bahan, teknik analisis data serta langkah-langkah penelitian.

    BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Memuat penjelasan

    mengenai kondisi umum daerah penelitian, meliputi; letak dan luas, hidrologi,

    topografi, tanah, iklim, geomorfologi, penduduk. Penggunaan lahan, meliputi;

    penggunaan lahan tahun 1996, penggunaan lahan tahun 2007 dan perubahan

    penggunaan lahan. Rasio debit dan dampak antara perubahan penggunaan

    lahan terhadap debit serta pembahasannya.

    BAB V. SIMPULAN DAN SARAN, berisi tentang simpulan dan saran dari

    hasil penelitian.

    Bagian akhir skripsi, meliputi daftar pustaka dan lampiran-lampiran.

  • 11

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Ekosistem DAS

    Ekosistem DAS merupakan bagian yang penting karena mempunyai

    fungsi perlindungan terhadap DAS. Aktifitas dalam DAS yang menyebabkan

    perubahan ekosistem, misalnya perubahan tata guna lahan, khususnya di

    daerah hulu dapat memberikan dampak pada daerah hilir berupa perubahan

    fluktuasi debit air dan kandungan sedimen serta material terlarut lainnya.

    Adanya keterkaitan antara masukan dan keluaran pada suatu DAS ini dapat

    dijadikan sebagai dasar untuk menganalisis dampak suatu tindakan atau

    aktifitas pembangunan di dalam DAS terhadap lingkungannya, khususnya

    hidrologi.

    Nilai tingkat kualitas suatu DAS atau sub-DAS, dapat diukur dari

    dua parameter yang secara teoritis dan praktis dapat dianalisa untuk

    digunakan. Parameter tersebut adalah tingkat erosi yang alami, dalam hal ini

    sedimen, dan fluktuasi debit sungai yang mengalir dalam beberapa kodisi

    curah hujan yang berbeda. Kedua perameter diatas, merupakan gambaran dari

    ekosistem dan karakteristik suatu DAS. Ekosistem dalam hal ini adalah suatu

    interaksi antara faktor-faktor sumber daya biotik, nonbiotik dan sumber daya

    manusia dalam DAS (Suripin, 2004:185).

    Suatu DAS adalah daerah yang dianggap sebagai wilayah dari suatu

    titik tertentu pada suatu sungai dan dipisahkan dari DAS-DAS di sebelahnya

    11

  • 12

    oleh pembagi (divide) atau punggung bukit/gunung dapat di telusuri pada peta

    topografi (Linsley dan Franzini, 1994:10).

    Manusia adalah salah satu komponen yang penting. Sebagai

    komponen yang dinamis, manusia dalam menjalankan aktifitasnya seringkali

    mengabaikan dampak pada salah satu komponen lingkungannya dan dengan

    demikian, mempengaruhi ekosistem secara keseluruhan.

    Dalam mempelajari ekosistem DAS, daerah aliran sungai biasanya di

    bagi menjadi daerah hulu, tengah dan hilir. Secara biogeofisik, daerah hulu

    DAS dicirikan oleh hal-hal sebagai berikut; merupakan daerah konservasi,

    mempunyai kerapatan drainase lebih tinggi, merupakan daerah dengan

    kemiringan lereng besar (lebih besar dari 15%), bukan merupakan daerah

    banjir, pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola drainase, dan jenis

    vegetasi umumnya merupakan tegakan hutan. Ekosistem DAS hulu

    merupakan bagian yang penting karena mempunyai fungsi perlindungan

    terhadap seluruh bagian DAS. Perlindungan ini antara lain dari segi tata air.

    Perubahan lanskap termasuk perubahan tata guna lahan dan/atau

    pembuatan bangunan konservasi yang dilaksanakan di daerah hulu DAS tidak

    hanya akan memberikan dampak di daerah dimana kegiatan tersebut

    berlangsung (hulu DAS), tetapi juga akan menimbulkan dampak didaerah

    hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit dan transpor sedimen serta

    material terlarut dalam sistem aliran air lainnya (Asdak, 2002:12).

  • 13

    B. Daur Hidrologi

    Secara keseluruhan jumlah air di planet bumi ini relatif tetap dari

    masa ke masa. Air di bumi mengalami suatu siklus melalui serangkaian

    peristiwa yang berlangsung terus-menerus, dimana kita tidak tahu kapan dan

    dari mana berawalnya dan kapan pula akan berakhir. Serangkaian peristiwa

    tersebut dinamakan siklus hidrologi (hydrolic cycle) (Supirin, 2004:134).

    Persediaan air segar dunia hampir seluruhnya didapatkan dalam

    bentuk hujan sebagai hasil dari penguapan air laut. Proses-proses yang

    tercakup dalam peralihan uap lengas dari laut ke daratan dan kembali ke laut

    lagi membentuk apa yang dinamakan daur hidrologi (Linsley dan Franzini,

    1994:9). Daur atau siklus hidrologi adalah gerakan air ke udara, kemudian

    jatuh kepermukaan tanah, dan akhirnya mengalir ke laut kembali (Soemarto,

    1999:2).

    Daur hidrologi secara alamiah dapat di tunjukkan seperti terlihat

    pada gambar 2.1, yaitu menunjukkan gerakan air dipermukaan bumi. Selama

    berlangsungnya daur hidrologi, yaitu perjalanan air dari permukaan laut ke

    atmosfer kemudian ke permukaan tanah dan kembali lagi ke laut yang tidak

    pernah berhenti tersebut, air tersebut akan tertahan (sementara) di sungai,

    danau/waduk dan dalam tanah sehingga dapat dimanfaatkan oleh manusia

    atau makhluk hidup lainnya.

    Dalam daur hidrologi, energi panas matahari dan faktor-faktor iklim

    lainnya menyebabkan terjadinya proses evaporasi pada permukaan vegetasi

    dan tanah, di laut atau badan-badan air lainnya. Uap air sebagai hasil proses

  • 14

    evaporasi akan terbawa oleh angin melintasi daratan yang bergunung maupun

    datar dan apabila keadaan atmosfer memungkinkan, sebagian dari uap air

    tersebut akan terkondensasi dan turun sebagai hujan.

    Gambar 2.1. Daur Hidrologi (Sumber: Asdak, 2002:9)

    Sebelum mencapai permukaan tanah air hujan tersebut akan tertahan

    oleh tajuk vegetasi. Sebagian dari air hujan tersebut akan tersimpan di

    permukaan tajuk/daun selama proses pembasahan tajuk, dan sebagian lainnya

    akan jatuh ke atas permukaan tanah melalui sela-sela daun (troughfall) atau

    mengalir ke bawah permukaan batang pohon (stemflow). Sebagian air hujan

    tidak akan pernah sampai dipermukaan tanah, melainkan terevaporasi

    kembali ke atmosfer (dari tajuk dan batang) selama dan setelah

    berlangsungnya hujan (interception loss).

    Air hujan yang dapat mencapai permukaan tanah, sebagian akan

    masuk (terserap) kedalam tanah (infiltration). Sedangkan air hujan yang tidak

    terserap kedalam tanah akan tertampung sementara dalam cekungan-

  • 15

    cekungan permukaan tanah (surface detention) untuk kemudian mengalir

    diatas permukaan tanah ketempat yang lebih rendah (run off), untuk

    selanjutnya masuk kedalam sungai. Air infiltrasi akan tertahan didalam tanah

    oleh gaya kapiler yang selanjutnya akan membentuk kelembaban tanah.

    Apabila tingkat kelembaban air tanah telah cukup jenuh maka air hujan yang

    baru masuk ke dalam tanah akan bergerak vertikal ke tanah yang lebih dalam

    dan menjadi bagian dari air tanah (ground water). Air tanah tersebut,

    terutama pada musim kemarau, akan mengalir pelan-pelan ke sungai, danau

    atau tempat penampungan air alamiah lainnya (baseflow).

    Tidak semua air infiltrasi (air tanah) mengalir ke sungai atau

    tampungan air lainnya, melainkan ada sebagian air infiltrasi yang tetap

    tinggal dalam lapisan tanah bagian atas (top soil) untuk kemudian diuapkan

    kembali ke atmosfer melalui permukaan tanah (soil evaporation) dan melalui

    permukaan tajuk vegetasi (transpiration).

    Dengan menelaah konsep daur hidrologi secara lebih luas, maka

    pengertian istilah daur lalu dapat digunakan sebagai konsep kerja untuk

    analisis dari berbagai permasalahan, misalnya dalam perencanaan dan

    evaluasi pengelolaan DAS.

    Gabungan evaporasi uap air hasil proses transpirasi dan intersepsi

    dinamakan evapotranspirasi. Sedang air larian dan air infiltrasi akan mengalir

    ke sungai sebagai debit aliran (discharge) (Asdak, 2002:191).

  • 16

    C. Penggunaan Lahan

    Lahan menurut FAO diartikan sebagai suatu wilayah permukaan

    bumi yang mempunyai sifat-sifat biosfer secara vertikal diatas maupun di

    bawah wilayah tersebut termasuk atmosfer, tanah, geologi, geomorfologi,

    hidrologi, vegetasi, dan binatang, serta hasil aktifitas manusia dimasa lampau

    maupun masa sekarang dan perluasan sifat-sifatnya tersebut mempunyai

    pengaruh terhadap penggunaan lahan oleh manusia disaat sekarang maupun

    dimasa yang akan datang (Arsyad, 1989:207).

    Lahan adalah suatu daerah di permukaan bumi dengan sifat-sifat

    tertentu seperti iklim, struktur batuan, bentuk-bentuk lahan, proses

    pembentukkan lahan, tanah, air, vegetasi dan penggunaan lahan

    (Mangunsukarjo dalam Purnomo, 2000:1). Penggunaan lahan (land use)

    diartikan sebagai setiap bentuk intervensi (campur tangan) manusia terhadap

    lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik materil maupun

    spiritual (Arsyad, 1989:207).

    Penggunaan lahan merupakan elemen daerah aliran sungai (DAS)

    yang sangat menentukan besar aliran dari curah hujan yang menyebabkan

    banjir. Kondisi penggunaan lahan dalam daerah pengaliran akan

    mempengaruhi hidrograf sungainya. Daerah hutan yang ditutupi hutan lebat

    sulit menghasilkan limpasan permukaan karena kemampuan infiltrasinya

    sangat besar. Jika daerah hutan ini dijadikan kawasan pembangunan dan

    dikosongkan terlebih dahulu dengan menebang hutan, maka kapasitas

    infiltrasi akan turun disebabkan kemampatan tanah pada permukaan tanah.

  • 17

    Dengan demikian aliran hujan akan mudah terkumpul kehilir sungai-sungai

    yang akhirnya dapat menyebabkan banjir yang tidak terjadi pada keadaan

    sebelumnya (Liesnoor, 1995:25).

    Penggunaan lahan menurut Arsyad, dapat dikelompokkan ke dalam

    dua golongan besar yaitu penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan

    bukan pertanian. Penggunaan lahan pertanian dibedakan dalam garis besar

    kedalam macam penggunaan lahan berdasarkan atas penyediaan air dan

    komoditi yang diusahakan, dimanfaatkan atau yang terdapat di atas lahan

    tersebut. Berdasarkan hal ini dikenal macam penggunaan lahan seperti

    tegalan, sawah, perkebunan, padang rumput, hutan produksi, hutan lindung,

    padang alang-alang, dan sebagainya. Sedangkan penggunaan lahan non

    pertanian dapat dibedakan ke dalam penggunaan kota atau desa

    (permukiman), industri, rekreasi, pertambangan dan sebagainya (Arsyad,

    1989:207).

    Badan Pusat Statistik menggolongkan penggunaan lahan yaitu:

    sawah, pemukiman, tegalan, perkebunan, hutan dan lain-lain (BPS dalam

    Sinukaban, 2005:2). Sedangkan penggolongan penggunaan lahan menurut

    Mallingreau terdiri dari: tanah terbuka, semak, jalan aspal/jalan tanah/jalan

    batu/jalan tegalan tanpa teras, tegalan dengan teras, sawah tadah hujan, kebun

    campuran, belukar, sawah irigasi, permukiman, hutan, perkebunan.

    Pengenalan penggunaan lahan dilakukan atas dasar penggolongan jenis

    penggunaan lahan tertentu seperti uraian diatas, dalam hal ini digunakan

    penggolongan penggunaan lahan dari Mallingreau terdiri dari 7 golongan,

  • 18

    yaitu: tanah terbuka, semak dan belukar, tegalan tanpa teras dan tegalan

    dengan teras, sawah tadah hujan dan sawah irigasi, permukiman dan jalan

    aspal/jalan tanah/jalan batu/jalan, hutan, perkebunan dan kebun campuran.

    Memahami hubungan antara penggunaan lahan dan aliran air ke

    daerah hilir memiliki arti yang sangat penting karena permintaan air bagi

    produksi pertanian, industri dan kebutuhan domestik terus meningkat,

    sementara suplai tetap. Dalam banyak kasus, kekhawatiran akan dampak

    penggundulan hutan pada kualitas, kuantitas dan keteraturan aliran air dari

    hulu, merupakan dasar diterapkannya aturan penggunaan lahan. Suatu aturan

    penggunaan lahan seringkali mengakibatkan makin terbatasnya kesempatan

    masyarakat hulu untuk hidup sesuai dengan cara yang mereka inginkan atau

    anggap cocok.

    D. Debit Aliran

    Debit aliran adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang

    melewati suatu penampang melintang sungai per satuan waktu. Dalam sistem

    satuan SI besarnya debit dinyatakan dalam satuan meter kubik perdetik

    (m/dt). Dalam laporan-laporan teknis debit aliran biasanya ditunjukkan

    dalam bentuk hidrograf aliran. Hidrograf aliran adalah suatu perilaku debit

    sebagai respon adanya perubahan karakteristik perubahan biogeofisik yang

    berlangsung dalam suatu DAS (oleh adanya kegiatan pengelolaan DAS) dan

    atau adanya perubahan (fluktuasi musiman atau tahunan) iklim lokal (Asdak,

    2002:191).

  • 19

    Debit sungai akan selalu berubah setiap saat sehingga untuk

    mengkuantitatifkannya diperlukan angka tertentu. Angka debit sekian

    m/detik menunjukkan debit sesaat pada suatu pos pengukur debit. Angka

    yang bervariasi tersebut dapat di sajikan secara grafik yang disebut

    hidrograf. Hidrograf adalah penyajian secara grafik variasi atau keragaman

    debit menurut waktu. Dari hidrograf tersebut kita dapat mengetahui berapa

    besar volume air yang melalui pos pengukur debit dalam satuan waktu

    tertentu (Soemarto, 1999:52).

    Debit tahunan adalah suatu angka yang menunjukkan rata-rata debit

    suatu sungai dalam jangka waktu satu tahun dalam satuan (m/dt). Nilai ini

    diperoleh dari hasil bagi antara debit bulanan dalam waktu satu tahun di bagi

    jumlah bulan dalam satu tahun. Faktor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi

    jumlah debit dalam satu tahun selama jangka waktu yang lama sangat

    beragam. Diantaranya; curah hujan, perubahan tata guna lahan dan penutup

    lahan di DAS yang bersangkutan, faktor fisik tanah dan batuan disekitar

    sungai, banyaknya vegetasi penutup terutama hutan, bentuk dan kemiringan

    DAS, panjang sungai, luasan DAS, serta yang tidak kalah penting adalah

    faktor manusia dan aktivitasnya di DAS tersebut. Semuanya ini sangat

    berpengaruh dalam ekosistem DAS.

    Teknik pengukuran debit aliran langsung dilapangan pada dasarnya

    dapat dilakukan melalui empat kategori (Gordon et al., 1992):

  • 20

    1) Pengukuran volume air sungai.

    2) Pengukuran debit dengan cara mengukur kecepatan aliran dan menentukan

    luas penampang melintang sungai.

    3) Pengukuran debit dengan menggunakan bahan kimia (pewarna) yang

    dialirkan dalam aliran sungai (substance tracing method).

    4) Pengukuran debit dengan membuat bangunan pengukur debit seperti weir

    (aliran air lambat) atau flume (aliran air cepat).

    Pengukuran debit yang umum dan paling banyak dipraktekkan pada

    aliran sungai menggunakan kategori kedua, yaitu dengan bantuan current

    meter atau sering dikenal sebagai pengukuran debit melalui pendekatan

    velocity-area method. Besarnya debit dihitung dengan menggunakan

    persamaan :

    Q = A.V

    Keterangan

    Q = Debit aliran

    A = Luas penampang melintang (m)

    V = Kecepatan aliran (m/dt)

    Hal yang agak memerlukan perhatian adalah menentukan angka

    kecepatan aliran sungai rata-rata. Lebar sungai, kedalaman, kemiringan dan

    geseran tepi dan dasar sungai adalah faktor-faktor yang perlu

    dipertimbangkan. Geseran tepi dan dasar sungai akan menurunkan kecepatan

    aliran terbesar pada bagian tengah dan terkecil pada bagian dasar sungai

    (Asdak, 2002:195).

  • 21

    BAB III

    METODE PENELITIAN

    A. Obyek Penelitian

    Obyek penelitian berupa Daerah Aliran Sungai (DAS), dimana

    kajian meliputi kondisi penggunaan lahan yang menjadi parameter fluktuasi

    debit aliran sungai pada DAS Gung Hulu.

    B. Variabel Penelitian

    Variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:

    1. Perubahan penggunaan lahan, yaitu penggunaan lahan tahun 1996 dan

    tahun 2007. Pengelompokan unit-unit penggunaan lahan yang digunakan

    disini adalah dari Mallingreau dan Rosalia yang terdiri dari; laut, danau,

    tambak, sungai, irigasi, pertanian, hutan, perkebunan, semak, lahan kritis,

    lahan pantai, singkapan batuan, lava lahar, gosong pantai,

    permukiman/kota,kampung/desa,bandara,jaringantransportasi/komunikasi,

    rekreasi. Dalam penelitian ini lebih di persempit lagi menjadi tujuh jenis

    penggunaan lahan, yaitu: hutan, kebun campuran, sawah, tegalan, tanah

    kosong, semak/belukar dan permukiman. Untuk menentukan jenis-jenis

    penggunaan lahan ditentukan dengan cara interpretasi citra melalui unsur-

    unsur interpretasi citra. Penggunaan lahan didapat dengan cara interpretasi

    dan digitasi citra Landsat TM 7, citra Quickbird serta peta Rupa Bumi

    Indonesia.

    21

  • 22

    2. Debit, dalam penelitian ini ditekankan pada nilai rasio debit maksimum

    dan minimum dalam satu tahun (KRS). Dalam penelitian ini debit yang

    dianalisis adalah debit selama 11 tahun, dari tahun 1996 sampai 2007.

    3. Curah hujan, curah hujan yang dimaksud adalah rata-rata curah hujan

    tahunan di empat stasiun hujan. Empat curah hujan tersebut yaitu:

    Danawarih, Bojong, Bumijawa dan Kemaron. Dalam penelitian ini curah

    hujan yang dianalisis adalah curah hujan selama 11 tahun.

    4. Dampak, adalah akibat yang ditimbulkan dari suatu kegiatan atau

    peristiwa. Dampak perubahan penggunaan lahan dalam penelitian ini

    antara lain terhadap debit aliran sungai maupun faktor lain yang berkaitan

    dengan ekosistem DAS.

    C. Jenis-jenis Data

    1. Data Primer

    Data primer terdiri dari data penggunaan lahan diperoleh dari

    interpretasi citra meliputi data macam-macam penggunaan lahan.

    2. Data Sekunder

    Data sekunder terdiri dari data debit maksimum dan minimum

    tahunan dari catatan AWLR di Bendung Danawarih yang diperoleh dari

    PSDA Pemali-Comal, data rata-rata curah hujan tahunan masing-masing

    stasiun yang terdapat di DAS Gung dari DPU Kabupaten Tegal bagian

    hidrologi, data fisik DAS, meliputi; bentuk DAS, luasan (Km) dan

    panjang sungai utama dari PSDA Jawa Tengah bagian Hidrologi. Juga

  • 23

    data penduduk di DAS Gung Hulu dari BPS, peta rupa bumi Indonesia,

    meliputi lembar; Bumijawa, Sirampog, Balapulang dan Lebaksiu skala 1 :

    25.000 dari outlet Bakosurtanal serta citra satelit dari LAPAN.

    D. Metode Pengumpulan Data

    Dalam memperoleh informasi untuk mengorientasi dan

    menganalisis data, penelitian ini memakai tiga jenis metode, yaitu:

    1. Metode Dokumentasi

    Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data sekunder

    yang berupa catatan resmi dari suatu instansi-instansi tertentu yang

    dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu: BPS untuk mencari data

    kependudukan dan administrasi wilayah, BAPPEDA untuk izin penelitian,

    DPU Bagian Pengairan untuk mencari data curah hujan, PSDA untuk

    mencari data debit maksimum dan minimum tahun 1996 2007. Peta rupa

    bumi Indonesia lembar Bumijawa, Sirampog, Balapulang dan Lebaksiu

    tahun 2001 skala 1 : 25.000 digunakan sebagai acuan dalam penentuan

    lokasi obyek dan pembuatan peta penggunaan lahan, Citra Landsat TM 7

    tahun 1996 dan Quickbird tahun 2007 digunakan untuk pembuatan peta

    perubahan penggunaan lahan.

    2. Metode Observasi

    Dalam penelitian ini metode observasi yang digunakan adalah

    observasi tidak langsung. Observasi adalah cara dan teknik pengumpulan

    data dengan melakukan pencatatan secara sistematis terhadap gejala atau

  • 24

    fenomena yang ada pada objek penelitian. Sedangkan observasi tidak

    langsung adalah pengamatan yang dilakukan tidak pada saat

    berlangsungnya peristiwa yang akan diselidiki atau obyek yang diteliti

    (Tika, 2005:45). Waktu observasi dalam penelitian ini, awal tahun 2009

    dengan kajian selama 11 tahun, antara tahun 1996 sampai dengan tahun

    2007. Semua data diperoleh melalui kajian pustaka, pengamatan langsung

    di lapangan, data dari instansi terkait dan tidak dilakukan eksperimen

    secara langsung.

    3. Metode Wawancara

    Wawancara (interview) adalah salah satu bentuk komunikasi

    antara dua orang atau lebih. Wawancara merupakan metode pengumpulan

    data dengan cara tanya jawab yang dikerjakan dengan sistematis dan

    berlandaskan pada tujuan penelitian pada umumnya. Informasi tentang

    dampak perubahan penggunaan lahan terhadap debit juga diperoleh

    dengan metode ini. Informan atau narasumber diambil dari orang-orang

    yang berkaitan langsung dengan keberadaan DAS Gung Hulu, baik dari

    instansi pemerintah maupun dari penduduk sekitar.

    E. Alat dan Bahan

    Alat yang digunakan untuk pengumpulan data:

    1. Seperangkat alat komputer dan perangkat lunak SIG untuk pengolahan,

    manipulasi, tumpangsusun, klasifikasi, analisis serta penampilan data dan

    informasi. Berupa software ER Mapper 7.0 dan Arc View 3.3.

  • 25

    2. Alat tulis dan gambar

    3. Kamera untuk keperluan dokumentasi.

    Bahan yang digunakan untuk pengumpulan data meliputi:

    1. Data rekaman hujan daerah penelitian tahun 1996 2007.

    2. Data rekaman debit maksimum dan minimum Sungai Gung tahun 1996

    2007.

    3. Citra Landsat TM 7 tahun 1996 dan Citra Quickbird tahun 2007.

    4. Peta rupa bumi Indonesia lembar Bumijawa, Sirampog, Balapulang dan

    Lebaksiu skala 1 : 25.000.

    F. Teknik Analisis Data

    1. Analisis SIG

    Analis SIG dalam penelitian ini menggunakan teknik overlay, jenis

    peta yang di overlay adalah peta penggunaan lahan tahun 1996 dan peta

    penggunaan lahan tahun 2007 yang kemudian diperoleh peta perubahan

    penggunaan lahan.

    Langkah awal dalam pembuatan peta adalah persiapkan peta yang

    diperlukan yaitu peta penggunaan lahan tahun 1996 dan tahun 2007 yang

    didapat dari citra Landsat TM 7 tahun 1996 dan citra Quickbird tahun

    2007, setelah peta yang diperlukan siap kemudian panggil program

    ArcView dengan cara pilih start menu, buat theme baru, kemudian

    masukkan koordinat peta yang akan didigitasi, langkah berikutnya adalah

    melakukan digitasi. Setelah langkah digitasi selesai selanjutnya peta

  • 26

    penggunaan lahan tahun 1996 dan tahun 2007 tersebut di overlay, hasil

    dari overlay digunakan untuk memperoleh data perubahan penggunaan

    lahan yang terjadi antara tahun 1996 sampai tahun 2007.

    2. Analisis Rasio Debit

    Kondisi DAS dapat dievaluasi secara makro dengan nisbah debit

    maksimum-minimum (Qmax/Qmin) atau yang lebih dikenal dengan Rasio

    Debit. Rasio debit merupakan perbandingan antara debit maksimum dan

    minimum (KRS). DAS dengan kondisi baik bila rasio debitnya kecil,

    artinya rasio antara debit di musim hujan dengan di musim kemarau kecil.

    Tabel 3.1. Klasifikasi Nilai KRS

    No Nilai KRS Kelas Skor

    1 < 50 Baik 1

    2 50 120 Sedang 3

    3 > 120 Jelek 5

    Sumber: Pedoman Monitoring dan Evaluasi DAS Dephut, 2009

    Apabila rasio debit DAS besar, bisa dikatakan DAS tersebut kritis.

    DAS dikatakan baik bila nilai KRS (Koefisien Regim Sungai) kurang dari

    50, antara 50 sampai 120 DAS dalam keadaan kritis, lebih dari 120 DAS

    tergolong sangat kritis. Hal ini disebabakan pada saat musim hujan, air

    hujan yang jatuh ke bumi sedikit sekali yang masuk ke tanah atau

    terinfiltrasi, langsung menjadi aliran air permukaan, sehingga cadangan air

    tanah berkurang dan debit sungai menjadi besar. Sebaliknya, pada saat

    musim kemarau, debit sungai kecil. Karena sedikit sekali air yang

  • 27

    mengalir melalui tubuh sungai baik dari hujan, mata air maupun limpasan

    dari air tanah.

    3. Analisis Deskriptif

    Analisis data secara deskriptif penting untuk menjelaskan data

    yang bersifat kualitatif, baik dalam bidang Geografi Sosial maupun

    Geografi Fisik. Penggambaran tentang suatu dampak alih fungsi lahan

    dimaksudkan untuk mengetahui implikasi perubahan penggunaan lahan di

    DAS Gung Hulu terhadap jumlah debit sungai, fluktuasi debit, rasio debit

    tiap tahun, maupun dampak sosialnya.

    G. Langkah-langkah Penelitian

    1. Langkah Pertama

    a. Studi kepustakaan tentang literatur-literatur, buku-buku, surat

    kabar/majalah/buletin serta dari jurnal dan internet yang ada kaitannya

    dengan obyek dan daerah penelitian.

    b. Menyiapkan surat-surat perijinan untuk penelitian.

    c. Menyiapkan data acuan yang berupa peta-peta yang dipergunakan

    sebagai acuan.

    d. Penyiapan data peta dasar dan citra penginderaan jauh, berupa citra

    Landsat TM 7 tahun 1996 dan Quickbird 2007 lokasi penelitian.

    e. Penyiapan peralatan yang digunakan untuk pemrosesan data dan

    analisis yang meliputi hardware dan software, yaitu seperangkat

    komputer dan program Arc View 3.3 dan ER Mapper 7.0.

  • 28

    2. Langkah Kedua

    a. Membuat peta dasar berdasarkan peta rupa bumi Indonesia lembar

    Bumijawa, Sirampog, Balapulang dan Lebaksiu Skala 1 : 25.000.

    b. Interpretasi citra Landsat TM 7 Tahun 1996.

    Sebelum interpretasi dilakukan, untuk citra Landsat TM 7 dilakukan

    beberapa prosedur, yaitu.

    1) Koreksi Geometrik

    Langkah ini bertujuan untuk perbaikan geometrik citra yang belum

    terkoreksi yang sudah memiliki titik-titik referensi (rektifikasi) citra

    agar koordinat citra sesuai dengan koordinat geografis.

    2) Cropping Data (Pemotongan Citra)

    Langkah ini dilakukan untuk membatasi daerah mana yang akan

    dipetakan tidak mengalami pergeseran saat dilakukan digitasi.

    3) Penajaman Citra

    Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kontras warna dan

    cahaya dari suatu citra sehingga memudahkan untuk interpretasi

    dengan menggunakan RGB.

    Kemudian, interpretasi citra Landsat TM 7 dapat dilakukan

    dengan memperhatikan unsur-unsur interpretasi yaitu rona dan warna,

    bentuk, ukuran, tekstur, pola, bayangan, situ serta asosiasi. Dari hasil

    interpretasi citra Landsat TM 7 diperoleh peta penggunaan lahan tahun

    1996 DAS Gung Hulu.

  • 29

    c. Interpretasi citra Quickbird tahun 2007

    Langkah awal yang dilakukan dalam interpretasi citra

    Quickbird tahun 2007 adalah pemotongan citra (Cropping Data),

    dengan tujuan untuk membatasi daerah yang akan dipetakan. Langkah

    selanjutnya sama seperti langkah citra Landsat TM 7 Hasil dari

    interpretasi ini adalah peta penggunaan lahan 2007 DAS Gung Hulu.

    3. Langkah Ketiga

    a. Cek lapangan untuk mengetahui macam-macam penggunaan lahan

    b. Uji ketelitian interpretasi peta awal dengan menggunakan data yang

    diperoleh dari cek lapangan

    4. Langkah Keempat

    a. Overlay peta penggunaan lahan tahun 1996 dan tahun 2007 yang

    menghasilkan peta penggunaan lahan tahun 1996 dan 2007.

    b. Pengolahan data debit Sungai Gung tahun 1996 dan 2007.

    5. Langkah Kelima

    Langkah kelima adalah analisis dari data peta perubahan

    penggunaan lahan vegetasi menjadi kawasan terbangun dan data

    perubahan debit aliran Sungai Gung untuk mencari hubungannya dengan

    memakai program SPSS serta mengecek silang data curah hujan.

    6. Langkah Keenam

    Langkah keenam adalah penyajian hasil penelitian.

  • 30

    Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian

    Citra

    Quickbird

    2007

    Citra

    Landsat TM

    7 1996

    Peta Rupa Bumi Indonesia,

    Peta Kemiringan Lereng, Peta

    Tanah, Peta Geomorfologi

    Data Debit

    Sungai Tahun

    Digitasi Interpretasi Interpretasi

    Peta Administrasi DAS Gung

    Hulu, Peta Pola aliran DAS,

    Peta Kemiringan Lereng, Peta

    Jenis Tanah, Peta Polygon

    Thiesen, Peta Geomorfologi

    Peta

    Penggunaan

    Lahan

    Tahun 1996

    Peta

    Penggunaan

    Lahan

    Tahun 2007

    Cek Lapangan

    Rasio debit

    Overlay

    Peta Perubahan Penggunaan

    Lahan Tahun 1996-2007

    Perubahan Debit Aliran

    Tahun 1996-2007

    Analisis

    Dampak Perubahan Penggunaan Lahan

    Terhadap

  • 31

    BAB IV

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Hasil Penelitian

    Hasil dalam kegiatan penelitian ini meliputi keadaan umum daerah

    penelitian, yaitu fisik (letak dan luas DAS Gung Hulu, topografi, tanah,

    geomorfologi, iklim, hidrologi) dan sosial (jumlah penduduk dan kepadatan

    penduduk), penggunaan lahan tahun 1996, penggunaan lahan tahun 2007,

    perubahan penggunaan lahan lahan antara tahun 1996 sampai tahun 2007, dan

    perubahan debit Sungai Gung Hulu.

    1. Kondisi Umum Daerah Penelitian

    a. Letak dan Luas DAS Gung Hulu.

    Letak DAS Gung Hulu secara administratif berada di

    Kabupaten Tegal meliputi Kecamatan Bumijawa, Kecamatan Bojong,

    Kecamatan Jatinegara, Kecamatan Balapulang. DAS Gung Hulu bagian

    dari wilayah DAS Gung di Jawa Tengah, merupakan DAS terbesar di

    Kabupaten Tegal.

    Secara geografis DAS Gung Hulu dibatasi oleh;

    1) Utara : DAS Gung hilir, DAS Cacaban

    2) Barat : DAS Pemali,

    3) Selatan : DAS Serayu,

    4) Timur : DAS Rambut, DAS Comal.

    31

  • 32

    Gambar 4.1. Peta Administrasi DAS Gung Hulu Kabupaten Tegal

  • 33

    Berdasarkan Peta Rupa Bumi Indonesia lembar Balapulang,

    Lebaksiu, Sirampog dan Bumijawa Skala 1 : 25.000, secara astronomis

    DAS Gung Hulu terletak antara 1090705 BT - 1091248 BT dan

    070402 LS - 071459 LS. Terletak di lereng utara Gunung Slamet

    dengan luas 11.982,559 ha atau 119,82 km2 dari total luas DAS Gung

    sebesar 139,90 km2. DAS Gung hulu melintasi 29 desa di 4 kecamatan,

    antara lain Kecamatan Balapulang (Karangjambu, Cilongok,

    Tembongwah, Danareja, Sangkanjaya, Kalibakung, Pagerwangi, dan

    Danawarih), Kecamatan Jatinegara (Mokaha, Kedungwungu,

    Penyalahan dan Argatawang), Kecamatan Bojong (Tuwel, Rembul,

    Dukuhtengah, Kedawung, Suniarsih, Bojong, Lengkong, Batunyana,

    Karangmulya, Buniwah, Danasari dan Cikura) serta Kecamatan

    Bumijawa (Guci, Bumijawa, Sokatengah, Sokasari dan Sumbaga).

    b. Hidrologi

    Kegiatan erosi dan tektonik menghasilkan bentuk-bentuk

    lembah sebagai tempat pengaliran air, selanjutnya akan membentuk

    pola-pola tertentu yang disebut sebagai pola aliran. Pola aliran ini

    sangat berhubungan dengan jenis batuan, struktur geologi kondisi erosi

    dan sejarah bentuk bumi. Sistem pengaliran yang berkembang pada

    permukaan bumi secara regional dikontrol oleh kemiringan lereng, jenis

    dan ketebalan lapisan batuan, struktur geologi, jenis dan kerapatan

    vegetasi serta kondisi iklim.

  • 34

    Pola pengaliran sangat mudah dikenal dari peta topografi atau

    foto udara, terutama pada skala yang besar. Percabangan-percabangan

    erosi yang kecil pada permukaan bumi akan tampak dengan jelas,

    sedangkan pada skala menengah akan menunjukkan pola yang

    menyeluruh sebagai cerminan jenis batuan, struktur geologi dan erosi.

    Pola pengaliran pada batuan yang berlapis sangat tergantung pada jenis,

    sebaran, ketebalan dan bidang perlapisan batuan serta geologi struktur

    seperti sesar, kekar, arah dan bentuk perlipatan.

    Secara fisik DAS Gung Hulu merupakan bagian wilayah DAS

    Gung. Panjang dari sungai utamanya adalah 72,57 km, sedangkan

    panjang Sungai Gung Hulu 24,591 km. Secara umum pola aliran DAS

    Gung Hulu adalah Pararel, degan bentuk modifikasi Pinnate. Pada

    umumnya menunjukkan daerah yang berlereng sedang sampai agak

    curam dan dapat ditemukan pula pada daerah bentuk lahan perbukitan

    yang memanjang. Sering terjadi pola peralihan antara pola dendritik

    dengan pola paralel atau trellis. Bentuk lahan perbukitan yang

    memanjang dengan pola pengaliran paralel mencerminkan perbukitan

    tersebut dipengaruhi oleh perlipatan.yang biasanya di temui pada

    daerah dengan kemiringan lereng curam pada daerah pegunungan.

    Bentuk DAS Gung Hulu memanjang dengan luas daerah pengaliran

    119,82 km2, hal ini menyebabkan debit sungai menjadi kecil dan

    menunjukkan jika turun hujan, air hujan untuk terkumpul dalam sistem

    sungainya diperlukan waktu yang agak lama, demikian juga waktu yang

  • 35

    Gambar 4.2. Peta Pola Aliran DAS Gung Hulu Kabupaten Tegal

  • 36

    dibutuhkan air untuk dapat mencapai outlet DAS relatif lama

    dibandingkan dengan DAS yang berbentuk bulat. Anak-anak Sungai

    Gung antara lain Sungai Erang, Sungai Blembeng, Sungai Longkrang,

    Sungai Ontong, Sungai Luwu, Sungai Wuluh, Sungai Lumpang, Sungai

    Blombong dan Sungai Ranggem.

    c. Topografi

    DAS Gung Hulu mempunyai kenampakan topografi yang

    bervariasi dari lereng datar, landai, miring, terjal hingga sangat terjal.

    Topografi datar berada di ujung bagian utara atau di outlet DAS,

    topografi landai berada di bagian utara dan tengah, topografi miring

    berada di barat dan timur DAS, topografi terjal terdapat merata di

    lereng gunung maupun bukit dan sangat terjal berada di sebelah selatan.

    Dalam penelitian ini kemiringan lereng dibagi menjadi 5 kelas

    kemiringan lereng, yaitu: datar (0 2%), landai (3 5%), miring (6

    10%), terjal (11 30%) dan sangat terjal (31 45%).

    Berdasarkan pembagian kelas kemiringan lereng diketahui

    bahwa lereng datar (0 2 %) yang ketinggiannya 250 350 meter dari

    permukaan air laut berada di Kecamatan Balapulang (Pagerwangi,

    Danawarih, Kalibakung, Sangkanjaya, Cilongok, Karangjambu).

    Lereng landai (3 5%), berketinggian 250 1050 meter tersebar di

    Kecamatan Jatinegara (Mokaha, Kedungwungu, Penyalahan dan

    Argatawang), Kecamatan Balapulang (Cilongok, Karangjambu,

    Kalibakung), Kecamatan Bojong (Tuwel, Rembul, Bojong, Lengkong,

  • 37

    Gambar 4.3. Peta Kemiringan Lereng DAS Gung Hulu Kabupaten Tegal

  • 38

    Karangmulya, Batunyana, Buniwah). Miring (6 10%), dengan tinggi

    350 sampai 1150 meter menempati wilayah Kecamatan Balapulang

    (Tembongwah, Cilongok, Karangjambu, Kalibakung), serta Kecamatan

    Bojong (Buniwah, Bojong, Batunyana, Lengkong, Karangmulya,

    Suniarsih, Danasari, Cikura, Tuwel, Rembul, Dukuhtengah,

    Kedawung), Kecamatan Bumijawa (Sokasari, Sokatengah, Sumbaga,

    Bumijawa, Guci). Terjal (11 30%) dengan tinggi 450 1650 meter

    terdapat di Kecamatan Balapulang (Kalibakung, Karangjambu,

    Pagerwangi, Danareja), Kecamatan Jatinegara (Kedungwungu,

    Argatawang), Kecamatan Bojong (Batunyana, Tembongwah, Danasari,

    Rembul) serta Bumijawa (Guci, Sokasari, Sokatengah). Sangat terjal

    (31 45%) dan tingginya dari 500 3400 meter berada di Kecamatan

    Balapulang (Danareja), Kecamatan Jatinegara (Kedungwungu,

    Argatawang), Kecamatan Bumijawa (Bumijawa, Guci) dan Kecamatan

    Bojong (Tuwel, Rembul, Dukuhtengah, Kedawung).

    d. Tanah

    Jenis tanah di daerah penelitian terdiri dari atas 10 jenis tanah

    yaitu: Typic Distrudepts, Aquic Hapludands, Typic Udorthents, Typic

    Epiaquepts, Oxiaquic Eutrudepts, Chromic Hapluderts, Typic

    Eutrudepts, Vertic Eutrudept, Lhitic Dystrudepts dan Typic

    Hapludands. Berikut penjelasannya:

  • 39

    1) Typic Distrudepts

    Typic distrudepts merupakan tanah dengan golongan (ordo)

    inceptisol. Typic distrudepts adalah tanah permulaan yang tidak

    mempunyai bahan sulfidik pada kedalaman kurang dari 50 cm dari

    permukaan tanah mineral dan pada salah satu subhorison atau lebih.

    Terletak pada kedalaman antara 20 dan 50 cm dari permukaan tanah

    mineral, mempunyai nilai N 0,7 atau kurang. Mengandung liat

    kurang dari 8% pada salah satu sub horison dan mempunyai salah

    satu atau lebih sifat-sifat tidak subur, kejenuhan basa rendah dan

    terdapat di daerah lembab. Tanah ini mempunyai kedalaman tanah

    yang sangat dalam, drainase baik, tekstur tanah halus, struktur tanah

    gumpal, dengan pH masam (

  • 40

    3) Typic Udorthents

    Typic Udorthents merupakan subgroup tanah yang terdiri

    dari great group Udhorthent, sub ordo Orthent, dan ordo Entisol.

    Typic Udhorthents adalah tanah mineral yang tidak mempunyai

    horizon pedogen yang jelas di dalam satu meter permukaan tanah.

    Tanah ini juga merupakan tanah yang baru berkembang, walaupun

    demikian tanah ini tidak hanya berupa bahan asal atau bahan induk

    tanah saja, tetapi sudah terjadi proses pembentukan tanah yang

    menghasilkan epipedon okhrik. Akumulasi garam, besi oksida dan

    lain lain, tapi pada kedalaman lebih dari satu meter. Pada tanah ini

    juga ditemukan epipedon antropik, horizon albik dan agrik. Tanah

    ini merupakan tanah yang bertekstur lebih halus dari pasir halus

    berlempung, sruktur tanah gumpal dengan drainase lebih baik dari

    Aquent, bahan organik menurun teratur dengan kedalaman. Tanah

    ini terdapat didaerah humid atau lembab dan kondisinya aquik,

    dengan regim kedalaman udik.

    Terdapat bahan sulfidik sampai kedalaman mencapai 50 cm

    dari permukaan tanah mineral, selalu jenuh air dan matriksnya

    tereduksi pada semua horison di kedalaman 25 cm dari permukaan

    mineral. Memiliki kedalaman tanah yang dangkal, drainase

    terhambat, pH alkalis (7,5 - U8,5).

  • 41

    Gambar 4.4. Peta Jenis Tanah DAS Gung Hulu Kabupaten Tegal

  • 42

    4) Typic Epiaquepts

    Tanah dengan orde Inceptisol yaitu golongan tanah yang

    baru berkembang dan belum matang dengan perkembangan profil

    tanah yang masih lemah dibandingkan tanah yang matang,

    mempunyai kelembapan aquik. Serta memiliki sifat-sifat tanah yang

    masih seperti pada bahan induknya seperti sifat berikut: epipedon

    histik, horison sulfirik yang batas atasnya pada kedalaman 50 cm

    dari permukaan tanah mineral. Terdapat epipedon okrik dan

    epipedon umbrik atau molik yang terletak langsung diatas suatu

    horison (atau suatu horison tersebut terletak pada kedalaman kurang

    dari 50 cm dari permukaan tanah) di dominasi oleh warna lembab

    dan sedikit bercak. Tanah ini mempunyai kedalaman sangat dalam,

    darainase terhambat, tekstur agak halus, struktur tanah granuler

    dengan gumpalan-gumpalan, pH tanah masam (

  • 43

    6) Chromic Hapluderts

    Tanah dengan golongan (ordo) Vertisol. Vertisol

    merupakan tanah lempungan yang berat dengan kadar lempung

    diatas 30% disemua horison, ditandai dengan adanya jenis

    montmorilonit dan smektite. Adanya mineral lempung menyebabkan

    tanah memiliki daya kembang kerut yang kuat sesuai dengan kondisi

    kadar air atau menuruti keadaan basah kering. Pada kondisi basah

    bersifat sangat liat dan lekat, sedang pada kondisi kering bersifat

    sangat keras dan retak-retak, bahkan dapat membuat retakan sedalam

    0 50 cm. Chromic Hapludetrs mempunyai kedalaman tanah yang

    sangat dalam, drainase sedang, teksturnya halus, struktur gumpal,

    dangan pH tanah netral (6,5 7,5).

    7) Typic Eutrudepts

    Typic Eutrudepts merupakan sub group tanah yang terdiri

    dari great group Eutrudepts, sub group udets dan ordo inseptisol.

    Typic eutrudepts adalah tanah sangat dalam yang tidak memiliki

    bahan sulfidik pada kedalaman kurang dari 50 cm dari permukaan

    tanah mineral dan pada salah satu sub horizon atau lebih terletak

    pada kedalaman antara 20 cm dan 50 cm dari permukaan tanah

    mineral, mempunyai nilai N 0,7 atau kurang, mengandung liat

    kurang dari 8% pada satu sub horizon dan mempunyai salah satu

    atau lebih sifat: epipedon umbrik, mollik, histik atau plaggen,

    horizon kambik, mempunyai fragipan. Tanah ini mempunyai sifat

  • 44

    hummid (lembab) karena terdapat di daerah lembab dan juga eutr,

    yang menunjukkan bahwa tanah ini subur dan kejenuhan basa tinggi.

    Tanah ini mempunyai drainase baik, tekstur tanah halus, struktur

    tanah granuler, dengan pH agak masam (5,5 6,5).

    8) Vertic Eutrudepts

    Vertic Eutrudepts merupakan sub group tanah yang terdiri

    dari great group Eutrudepts, sub group udets dan ordo inseptisol.

    Tanah yang baru berkembang ini adalah tanah permulaan yang tidak

    mempunyai bahan sulfidik pada kedalaman kurang dari 50 cm dari

    permukaan tanah mineral dan pada salah satu subhorison atau lebih.

    Mempunyai regim temperatur tanah termik, mesik atau frigid,

    mempunyai retakanretakan yang terbuka dan sedikit bercak.

    Mengandung liat kurang dari 8% pada salah satu sub horison dan

    mempunyai salah satu atau lebih sifat-sifat tidak subur, kejenuhan

    basa rendah dan terdapat di daerah lembab. Tanah ini mempunyai

    kedalaman tanah yang sangat dalam, drainase baik tekstur tanah

    halus, struktur tanah gumpal, dengan pH masam (

  • 45

    6,25 cm/jam. Tanah ini menempati bagian dari pinggir daerah plato

    yang umumnya telah tererosi dengan bentuk wilayah bergelombang

    dan terbentuk dari breksi dan batu pasir kandungan unsur haranya

    cukup baik. Aquic Hapludands berstruktur halus, tanah agak dalam

    dengan tekstur liat, drainase sedang, warna kecoklatan, pHnya netral.

    Tanah ini berkembang pada daerah tropis dengan rezim temperatur

    (isohipertermik) perbedaan suhu antara musim kemarau dan musim

    penghujan kurang dari 5C.

    10) Lhitic Dystrudepts

    Lhitic Dystrudepts merupakan sub group tanah yang terdiri

    dari great group Dystrudepts, sub group udepts dan ordo inseptisol.

    Lhitic Dystrudepts merupakan jenis tanah dengan golongan yang

    baru berkembang dan belum matang dengan perkembangan profil

    tanah yang masih lemah dibanding tanah yang matang, serta

    memiliki sifat-sifat tanah yang masih seperti bahan induknya. Lhitic

    Dystrudepts memiliki ketebalan solum yang tebal dan kedalaman

    tanah yang dalam yaitu lebih dari 90 cm, drainase baik,

    permeabilitas sedang berkisar 2,0 6,25 cm/jam, warna kecoklatan,

    dan cukup masam. Bahan induknya dari abu dan tuf vulkan, tekstur

    lempung berdebu, struktur halus sampai gumpal agak bersudut,

    dengan konsistensi agak lekat dan agak plastis.

  • 46

    e. Iklim

    Secara umum kondisi iklim di daerah penelitian beriklim tropis

    dengan dua musim bergantian sepanjang tahun yaitu penghujan dan

    kemarau. Temperatur udara rata-rata pada satu bulan, minimum terjadi

    pada bulan Agustus yaitu 14,3C dan maksimum pada bulan Mei yaitu

    32,5C.

    Tipe iklim DAS Gung Hulu ditentukan dengan metode

    Schmidt dan Ferguson, yaitu berdasarkan pada tipe curah hujan di

    daerah penelitian serta membandingkan variasi jumlah bulan kering

    (BK) dengan jumlah bulan basah (BB), yang dinyatakan dalam Q dan

    dihitung dengan menggunakan formula sebagai berikut.

    Q = BasahBulan Jumlah

    KeringBulan Jumlah

    Berdasarkan nilai Q, Schmidt dan Ferguson menentukan iklim

    di Indonesia menjadi delapan tipe/golongan iklim sebagai berikut.

    Tabel 4.1. Penentuan Tipe Iklim Indonesia Berdasarkan Klasifikasi

    Schmidt dan Ferguson

    Klasifikasi Nilai Q Tipe Iklim

    A 0 Q U 0,143 Sangat Basah

    B 0,143 Q < 0,333 Basah

    C 0,333 Q < 0,600 Agak Basah

    D 0,600 Q < 1,000 Sedang

    E 1,000 Q < 1,670 Agak Kering

    F 1,670 Q < 3,000 Kering

    G 3,000 Q < 7,000 Sangat Kering

    H 7,000 Q Luar Biasa Kering

    Sumber : Schmidt dan Ferguson dalam Anam, 2008: 38

    Makin kecil nilai Q makin basah suatu tempat dan makin besar nilai Q

    maka makin kering suatu tempat. Perhitungan bulan basah (BB), serta

  • 47

    bulan lembab (BL) dan bulan kering (BK) dapat dilihat pada lampiran.

    Dalam penentuan bulan basah (BB) dan bulan kering (BK) Schmidt dan

    Ferguson menggunakan dasar karakteristik dari Mohr yaitu:

    1) Bulan basah (BB) adalah bulan yang memiliki curah hujan lebih dari

    100 mm.

    2) Bulan kering (BK) adalah bulan yang memiliki curah hujan kurang

    dari 60 mm.

    3) Bulan lembab (BL) adalah bulan yang memiliki curah hujan antara

    60 100 mm.

    Data pada stasiun hujan di DAS Gung Hulu adalah sebagai berikut:

    Tabel 4.2. Curah Hujan Stasiun Kemaron DAS Gung Hulu 1996 2007

    Stasiun : Kemaron (dalam mm)

    Sumber: DPU Bid. Pengairan Kab. Tegal, 1996 2007.

    Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des Jumlah

    hujan

    tahunan 1996 1015 816 1314 457 126 41 47 139 60 555 1259 609 6438 1997 1241 438 230 1196 196 47 3 0 0 3 76 369 3799 1998 282 278 290 257 34 66 211 59 65 230 333 262 2367 1999 649 631 260 91 547 78 44 30 11 45 833 721 3940 2000 921 525 346 597 190 91 8 8 26 259 444 165 3579 2001 290 772 668 677 203 464 53 0 224 415 890 92 4748 2002 517 1307 654 111 122 20 0 0 26 67 464 731 4019 2003 702 1537 1267 408 362 31 0 2 0 10 406 671 5394 2004 858 1078 584 326 377 43 143 0 23 171 729 1060 5392 2005 963 530 916 430 110 247 279 18 227 534 443 487 5184 2006 715 447 323 320 312 7 4 0 0 11 245 1102 3486 2007 211 621 457 519 249 106 21 7 3 34 157 426 2811 Rata-

    rata 697 748 609 449 236 103 68 22 55 195 523 558 4263

  • 48

    Tabel 4.3. Curah Hujan Stasiun Bumijawa DAS Gung Hulu 1996 2007

    Stasiun : Bumijawa (dalam mm)

    Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des Jumlah hujan

    tahunan 1996 807 886 985 532 113 107 111 187 43 400 385 398 4954 1997 1327 843 405 608 302 18 6 0 0 44 155 543 4251 1998 646 816 674 488 217 149 267 141 140 464 241 206 4449 1999 698 1163 398 223 280 65 11 69 22 495 295 467 4286 2000 660 868 660 358 277 112 21 57 98 168 531 152 3962 2001 570 327 661 399 145 318 82 0 222 398 546 150 3818 2002 342 772 739 310 152 29 0 0 42 125 430 584 3525 2003 808 589 731 317 187 21 9 0 0 83 409 433 3587 2004 589 453 463 218 194 15 173 0 176 156 358 617 3412 2005 520 640 555 244 109 114 95 62 140 220 322 342 3363 2006 898 646 423 549 267 20 6 0 0 56 330 526 3721 2007 287 1229 374 462 289 160 37 14 4 121 332 699 4008 Rata-

    rata 679 769 589 392 211 94 68 44 74 228 361 426 3945

    Sumber: DPU Bid. Pengairan Kab. Tegal, 1996 2007.

    Tabel 4.4. Curah Hujan Stasiun Bojong DAS Gung Hulu 1996 2007

    Stasiun : Bojong (dalam mm)

    Sumber: DPU Bid. Pengairan Kab. Tegal, 1996 2007.

    Keterangan: XX = Alat rusak

    Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des Jumlah hujan

    tahunan 1996 932 981 902 385 117 33 47 139 72 410 629 369 5017 1997 814 249 214 690 160 49 0 0 0 15 73 364 2628 1998 285 246 259 265 XX XX 204 45 68 213 373 257 2215 1999 634 597 251 79 251 55 29 21 44 87 546 664 3258 2000 959 308 654 242 131 137 51 46 81 279 428 168 3482 2001 290 239 536 240 103 201 122 0 105 411 516 100 2863 2002 604 953 280 198 43 36 0 0 43 73 291 587 3108 2003 730 695 907 311 255 70 6 0 0 5 52 340 3371 2004 700 344 216 115 262 65 127 0 36 108 698 1046 3712 2005 724 428 776 332 73 213 251 14 185 501 404 440 4341 2006 836 616 424 441 257 0 5 0 0 0 256 1068 3903 2007 392 593 427 337 192 128 113 4 0 123 141 587 3037 Rata-

    rata 658 521 487 303 154 82 80 22 53 185 367 499 3411

  • 49

    Tabel 4.5. Curah Hujan Stasiun Danawarih DAS Gung Hulu 1996 2007

    Stasiun : Danawarih (dalam mm)

    Sumber: DPU Bidang Pengairan Kab. Tegal, 1996 2007.

    Data rata-rata curah hujan selama 12 tahun sejak tahun 1996

    sampai 2007 pada tiap-tiap stasiun hujan bisa dilihat pada Tabel 4.6.

    Tabel 4.6. Rata-rata Curah Hujan Wilayah DAS Gung Hulu Tahun 1996 2007(mm)

    Bulan Tahun

    Jumlah Rerata 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

    Jan 852 994 434 673 774 420 462 714 696 654 802 265 7740 645

    Feb 881 471 455 762 626 398 962 752 563 500 560 782 7712 642,66

    Mar 894 338 438 285 551 573 547 817 433 687 395 399 6357 529,75

    Apr 415 728 320 124 355 367 199 358 249 354 392 424 4285 357,08

    Mei 104 227 186 375 209 148 119 248 243 106 266 246 2477 206,41

    Jun 64 46 105 62 141 295 26 35 39 152 9 146 1120 93,33

    Jul 96 4 199 42 35 85 0 8 133 185 4 64 855 71,25

    Agu 156 0 87 42 35 0 0 4 0 33 0 6 363 30,25

    Sep 44 0 95 398 54 174 32 0 79 152 0 2 1030 85,83

    Okt 398 26 294 251 229 350 102 35 116 331 17 89 2238 186,5

    Nop 634 114 300 487 417 593 337 259 548 308 272 205 4474 372,83

    Des 442 394 239 557 194 118 542 430 803 408 768 520 5415 451,25

    BB 9 7 10 9 9 10 8 7 9 11 7 8 104 8,67

    BK 1 5 - 2 3 1 4 5 2 1 5 2 31 2,58

    BL 2 - 2 1 - 1 - - 1 - - 2 9 0.75

    Sumber: Hasil pengolahan data DPU Bid. Pengairan Kab. Tegal, 1996 2007.

    Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des Jumlah hujan

    tahunan 1996 656 841 376 287 59 75 180 160 0 229 263 391 3517 1997 595 354 503 417 249 48 6 0 0 41 154 302 2669 1998 522 482 531 269 307 99 114 104 109 268 253 233 3291 1999 711 659 233 103 421 49 86 48 35 191 276 378 3190 2000 438 802 543 224 238 226 59 28 11 210 265 293 3337 2001 532 254 428 223 143 199 84 0 145 175 421 131 2735 2002 386 817 516 177 158 21 0 1 17 142 163 267 2665 2003 651 187 362 397 188 17 19 13 0 41 169 276 2320 2004 639 377 471 336 138 32 89 0 83 30 409 488 3092 2005 408 403 500 410 131 176 116 37 58 70 63 362 2734 2006 758 533 411 257 228 10 0 0 0 0 258 378 2833 2007 171 686 338 378 256 189 86 0 0 79 192 370 2745 Rata-

    rata 539 533 434 290 210 95 70 33 38 123 240 322 2927

  • 50

    Gambar 4.5. Peta Polygon Thiesen DAS Gung Hulu Kabupaten Tegal

  • 51

    Hasil perhitungan bulan basah, bulan kering dan bulan lembab

    (Tabel 4.2, 4.3, 4.4 dan 4.5) digunakan untuk menentukan nilai Q,

    dengan menggunakan rumus diatas.

    Pada Tabel 4.6 dapat diketahui bahwa hujan bulanan rata-rata

    Daerah Aliran Sungai Gung Hulu yang terbesar terjadi pada bulan

    Januari sebesar 645 mm dan yang paling kecil terjadi pada bulan

    Agustus sebesar 30,25 mm. Rata-rata curah hujan bulanan di DAS

    Gung Hulu selama 11 tahun (1996 2007) yaitu jumlah total rerata

    curah hujan bulanan 2848,06 di bagi 12 adalah sebesar 237,34 mm.

    Data dari 4 stasiun hujan yaitu: Stasiun Danawarih, Bojong, Bumijawa

    dan Kemaron tahun 1996 2007, pada DAS Gung Hulu rata-rata

    jumlah Bulan Kering (BK) sebesar 31 dan rata-rata jumlah Bulan Basah

    (BB) sebesar 104. Berdasarkan perhitungan rumus Q, maka jumlah

    bulan kering yaitu 31 dibagi jumlah bulan basah yaitu 104 hasilnya

    terdapat nilai Q sebesar 0,298. Dengan demikian berdasarkan

    klasifikasi Schmidt dan Ferguson, maka tipe iklim di DAS Gung Hulu

    mempunyai tipe iklim B yaitu tipe iklim basah dimana jumlah curah

    hujan melampaui penguapan.

    f. Geomorfologi

    DAS Gung Hulu dapat dibedakan menjadi 11 satuan bentuk

    lahan yaitu aliran lava, dataran vulkan, lereng vulkan, perbukitan

    vulkan, kipas aluvial vulkan, bagian atas kipas aluvial vulkan, dataran

  • 52

    aluvial, dataran banjir sungai braiding, dataran banjir sungai meander,

    dataran struktural dan perbukitan struktural.

    1. Aliran lava (V1)

    Bentuk lahan ini termasuk bentukan asal vulkanis, yang

    terjadi akibat keluarnya magma dan secara gravitasi turun kebawah

    membentuk aliran lava. Material atau batuan penyusunnya berupa

    batuan vulkanis jenis andesit. Karakteristik dari bentuk lahan ini

    adalah memiliki relief berbukit dan bergelombang. Kemiringan

    lereng terjal (>15%) dengan ketinggian lebih dari 1000 mdpl.

    Bentuk lahan ini berda pada Kecamatan Bojong dan Bumijawa.

    2. Dataran Vulkan (V2)

    Bentuk lahan ini termasuk bentukan asal vulkanis.

    Material atau batuan penyusunnya berupa batuan breksi,

    karakteristik dari bentuk lahan ini memiliki relief berombak dan

    bergelombang, kemiringan lereng miring (8 15%) dengan

    ketinggian tempat antara 300 700 mdpl. Bentuk lahan ini tersebar

    pada Kecamatan Jatinegara, Kecamatan Balapulang dan

    Kecamatan Bojong.

    3. Lungur Vulkan (V3)

    Bentuk lahan ini termasuk bentukan asal vulkanik.

    Merupakan lereng pada gunung api yang tersusun atas lapisan-

    lapisan endapan lahar. Karakteristik dari bentuk lahan ini adalah

    memiliki relief bergelombang, kemiringan lereng landai (3 8%)

  • 53

    dengan ketinggian antara 800 1000 mdpl. Bentuk lahan ini

    tersebar di Kecamatan Bojong, Bumijawa dan Jatinegara.

    4. Perbukitan Vulkan (V4)

    Bentuk lahan ini termasuk bentukan asal proses Vulkanis.

    Material atau batuan penyusunnya berupa batuan breksi.

    Karakteristik lahan ini memiliki relief berbukit, kemiringan lereng

    terjal (15 45%) dengan ketinggian 300 700 mdpl. Bentuk lahan

    ini terdapat di Kecamatan Balapulang dan Bumijawa.

    5. Kipas Aluvial Vulkan (V6)

    Merupakan kipas aluvial yang terjadi pada kaki-kaki

    gunung api dengan kenampakan berbentuk khas seperti kerucut

    rendah dari akumulasi sedimen berukuran bongkah (terbentuk

    seperti kipas dari endapan aluvial) pada suatu mulut lembah

    didaerah pegunungan yang penyebarannya memasuki wilayah

    daratan. Dari mulut suatu lembah tersebut endapan kemudian

    menyebar luas dengan sudut kemiringan landai. Karakteristik dari

    bentuk lahan ini memiliki relief datar, kemiringan lereng landai (3

    8%) dengan ketinggian 250 400 mdpl.

    6. Bagian Atas Kipas Aluvial Vulkan (V7)

    Bentuk lahan ini termasuk bentukan asal vulkanik.

    Material atau batuan penyusunnya yaitu aluvio-kolovium.

    Karakteristik bentuk lahan ini memiliki relief agak datar dengan

  • 54

    kemiringan lereng datar (

  • 55

    (sedimentasi), berupa sungai bermeander yang mengalir diatas

    bentuk dataran banjir yang rata dan lebar dari sungai peringkat

    dewasa. Karakteristik bentuk lahan ini yaitu memiliki relief agak

    datar, dengan kemiringan lereng datar, dan ketinggian 250 400

    mdpl. Bentuk lahan ini tersebar di Kecamatan Balapulang dan

    Kecamatan Jatinegara.

    10. Perbukitan Struktural (S1)

    Merupakan bentuk lahan asal struktural yaitu bentuk lahan

    yang terbentuk karena adanya proses endogen (tenaganya berasal

    dari dalam bumi). Bentuk lahan ini merupakan perkembangan dari

    deformasi perlapisan sedimen. Material penyusunnya berupa

    batuan napal (batu pasir). Karakteristik bentuk lahan ini

    mempunyai relief berbukit, kemiringan lereng terjal (25 40%),

    dengan ketinggian 300 600 mdpl. Bentuk lahan ini tersebar di

    Kecamatan Balapulang, Kecamatan Bojong, dan Kecamatan

    Jatinegara.

    11. Dataran Struktural (S3)

    Dataran struktural merupakan bentuk lahan proses asal

    struktural, material penyusunnya berupa batu pasir, karakteristik

    bentuk lahan ini memiliki relief berombak dan bergelombang

    dengan kemiringan lereng miring (8 15%) dan ke